Pages

Home » » Setiap Kita adalah Guru dan Setiap Rumah adalah Madrasah,

Setiap Kita adalah Guru dan Setiap Rumah adalah Madrasah,

 Setiap Kita adalah Guru dan Setiap Rumah adalah Madrasah, 

Oleh: Syafaat


Ada kalimat yang tidak pernah selesai ditulis, bahkan oleh pena paling sabar: kalimat tentang guru. Kata-katanya seperti ayat-ayat langit yang turun perlahan, diperuntukkan bagi murid-murid yang masih belajar memahami tanda baca kehidupan. Tak ada jeda, tak ada paragraf terakhir. Guru bukan profesi yang dimulai pukul tujuh dan berhenti pukul dua siang. Guru adalah napas yang bertahan setelah bel usai berbunyi; ia hidup di antara harapan, luka, pengabdian, dan ikhtiar yang jarang dipahami orang-orang yang sibuk menilai.

Hari Guru Nasional memang ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Penanda administrasi itu menunjuk 25 November, bertepatan dengan lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia, organisasi yang berdiri dari bara perjuangan, dari keinginan menyatukan anak bangsa. Tetapi peringatan itu hanyalah kalender: pintu dengan nomor yang rapi. Guru sendiri telah ada jauh sebelum kebijakan itu; ia lahir pada saat manusia pertama menunjukkan cara menyalakan api kepada manusia lain. Di situlah madrasah pertama berdiri, di antara telapak tangan, hawa dingin, dan kebutuhan bertahan hidup. 


Jika api itu adalah pengetahuan, maka rumah-rumah kita adalah perapian tempat cahaya dilahirkan. Di sana, bara kecil menyala dari telapak tangan para penghuni yang penuh cinta. Seorang ayah mengajari anaknya mengikat tali sepatu, bukan sekadar keterampilan, tetapi pelajaran tentang kemandirian, tentang bagaimana manusia merapikan hidupnya sendiri. Seorang ibu memperkenalkan doa sebelum tidur, bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jembatan agar hati kecil tidak tersesat di kegelapan dunia.

Seorang kakak menjelaskan namanya pada adik kecil yang gemetar mengeja huruf. Ia tidak hanya mengajarkan cara membaca, melainkan cara berdiri di hadapan dunia: perlahan, gugup, namun penuh keberanian. Kita sering menyebut hal-hal itu sederhana, seakan tak berarti lebih dari rutinitas sehari-hari. Padahal di sana, peradaban sedang berlatih berdiri. Di sana, jiwa sedang dilatih untuk mengenal sabar, hormat, syukur, dan cinta, empat pilar yang akan menjadi benteng saat badai hidup datang.

Seorang ibu yang sabar mengajari anaknya menyebut nama Tuhan sebelum tidur adalah guru. Ia sedang menanam akar tauhid yang suatu hari akan menyelamatkan sang anak dari kesepian paling sunyi. Seorang ayah yang menggendong putranya setelah jatuh sambil berbisik, “bangkit lagi, Nak,” telah mendidik keberanian yang kelak membuatnya tetap tegak saat dunia tidak lagi ramah. Dan seorang kakak yang menuntun adiknya membaca huruf pertama dalam Al-Qur’an telah membuka pintu peradaban, pintu yang tak pernah ditutup oleh waktu, karena setiap huruf suci yang dipelajari akan menjadi saksi di hadapan langit.

Perjalanan hidup adalah kitab tafsir yang selalu kita baca dengan cara yang berbeda-beda. Tidak ada satu ayat pun yang turun sia-sia; setiap kejadian adalah referensi, petunjuk kecil yang kita kutip diam-diam tanpa menyadarinya. Kita belajar dari luka, dari kehilangan, dari tawa, dari keberhasilan yang sementara. Bahkan kegagalan pun menjadi guru yang mengajari kita cara bersujud lebih rendah, meminta lebih tulus, dan mencintai lebih lapang. Jika sekolah mengajarkan pengetahuan, maka rumah mengajarkan makna. Jika guru mengajarkan pelajaran, maka keluarga mengajarkan iman. Dan di antara keduanya, manusia tumbuh pelan-pelan, seperti doa yang tak pernah lelah mengetuk pintu langit.

Namun ada jenis guru yang berbeda, mereka yang memilih mengabdikan hampir seluruh hidupnya kepada anak-anak orang lain. Mereka bangun pukul lima, menyeruput kopi pahit yang tidak sempat dinikmati, menyusun rencana pembelajaran yang harus menjawab permasalahan dua puluh empat kepala yang berbeda. Mereka menghadap kelas dengan senyum yang tidak pernah dihitung dalam rupiah. Mereka meminta murid memahami bukan hanya apa, tapi mengapa? itu jauh lebih sulit daripada menghafalkan definisi.

Mungkin di malam hari seorang guru duduk menatap lembar-lembar ujian. Lampu redup, jam menunjukkan angka yang seharusnya milik keluarga, tapi tangan mereka masih bergerak. Dari halaman yang penuh coretan dan angka itu, mereka mendengar bisikan masyarakat: “Kenapa nilai anak saya rendah?” Pertanyaan yang datang seperti palu; tidak mengetuk pintu, tidak bertanya apakah ada luka, tidak peduli apakah sang murid pulang ke rumah yang sunyi. Angka tidak pernah mampu menampung air mata murid yang disembunyikan setelah jam pelajaran berakhir; ia tidak merekam otak yang pusing karena gawai, atau piring makan yang kosong.

Pendidikan bukan daftar nilai. Ia adalah perjalanan batin, pergulatan yang tak tercatat di rapor, yang tidak bisa dijelaskan oleh mekanisme kurikulum atau algoritma ranking nasional. Dan ironinya, orang tua yang pertama kali diminta Tuhan mendidik, justru paling mudah menyerahkan tanggung jawabnya. “Kami bayar sekolah,” kata mereka. “Bereskan anak kami.” Seolah pendidikan adalah bengkel, seolah anak adalah mesin. Mereka lupa bahwa anak membawa suara rumah ke ruang kelas: retakan keluarga, marah yang tak pernah selesai, kedewasaan yang dipaksa matang terlalu dini. Guru kemudian diminta menyembuhkan semuanya dengan modul yang dibuat di antara dua gelombang kantuk.

Inilah tragedi yang matang: guru disanjung dalam pidato, ditepuk di panggung, tetapi dicaci pada kolom komentar yang anonim. Dipanggil pahlawan nasional, tetapi ada yang dipaksa berurusan dengan aparat hanya karena menegur murid yang merokok. Dianggap penjaga moral, tetapi sering diperlakukan sebagai pegawai yang boleh dimaki tanpa konsekuensi. Diminta menjadi mercusuar di tengah hedonisme, padahal mercusuar pun membutuhkan dermaga dan batu fondasi.

Sebagian guru memikul beban yang tak terlihat mata: tekanan sosial, material, dan mental. Ada yang dibenturkan dengan LSM, organisasi massa, atau orang tua yang tak pernah hadir ketika anaknya pulang menangis. Pendidikan yang mestinya perjumpaan jiwa, seperti imam yang memimpin saf, bergeser menjadi administrasi konflik. Kita sibuk bertanya mengapa murid hilang hormat, padahal kitalah yang pertama mengajarkan cara merendahkan, guru membawa senyum seperti ibadah. Ia menenangkan anak yang hatinya retak, memeluk kegagalan yang tidak tercatat dalam rapor. Tidak ada modul yang mengajari cara menenangkan murid yang berduka, atau menuntun mereka yang gelap oleh gawai dan sunyi rumah. Guru menjadi tembok penahan badai sosial, sementara sebagian dari kita hanya menjadi penonton yang melemparkan batu.

Kita sering lupa: sabar bukan sekadar menahan marah. Sabar adalah dzikir yang menyembuhkan, ikatan luka dengan iman. Guru bukan malaikat tanpa lelah, melainkan manusia yang memilih berdiri di tengah malam dunia agar ada satu anak lagi yang percaya pada cahaya. Jika kita terus memperlakukan guru yang tidak mempunyai kesalahan sebagai objek yang boleh dicaci, jangan heran bila murid menirunya. Anak tidak lahir membawa nalar; mereka belajar dari contoh, dan kitalah contoh pertama.

Pada akhirnya, pendidikan bukan transaksi nilai. Ia adalah perjalanan spiritual, sebuah janji sunyi antara hati yang ingin dibimbing dan hati yang rela membimbing. Guru tidak meminta disembah; hanya ingin dihargai. Sebab masa depan bangsa ini tidak dibangun oleh suara paling keras, tetapi oleh mereka yang paling tekun menyalakan cahaya: satu anak, satu kelas, satu jiwa, tanpa pamrih.

Tugas guru, pada hakikatnya, profetik. Bukan karena mereka nabi, tetapi karena jejaknya seirama: mencerdaskan akal, membersihkan hati, menegakkan akhlak. Guru mengangkat mata murid yang redup; mereka menyalakan nalar yang tertidur; mereka mengajarkan kebaikan, bukan lembar jawaban pilihan ganda, betapa mudahnya kita lupa pada murid. Bahwa mereka bukan halaman kosong. Mereka adalah gelas cahaya yang retak. Mereka membawa luka-luka tak terlihat: kecanduan judi online yang sunyi, labilnya hormon yang bercampur gengsi, depresi yang disembunyikan dalam emoji, kemiskinan yang memalukan. 

Mereka selalu dinilai, tetapi jarang ditenangkan. Mereka adalah generasi yang tumbuh dengan suara keras dunia, tetapi jarang punya ruang untuk mendengar hatinya sendiri. Doa guru adalah pintu masa depan; pintu itu tidak dibuka dengan teriakan, melainkan dengan hormat. Ada kesalahan yang sering kita pelihara: bahwa guru adalah malaikat yang tidak pernah gagal. Padahal guru juga manusia, yang pulang dengan gaji pas-pasan, lalu tetap memikirkan murid yang tak bisa membayar uang sekolah; yang tersenyum meski hatinya patah; yang terus mengajar meski anaknya sendiri sedang demam.

Di era digital, guru bukan lagi sekadar pengajar, mereka adalah tembok penahan banjir informasi. Tetapi tembok pun retak. Tidak ada bangsa yang beradab jika menyandarkan seluruh masa depannya pada pundak yang gajinya tak cukup membeli buku yang diajarnya. Mengajar bukan hanya stamina intelektual, ia adalah stamina spiritual: keteguhan yang tumbuh dari kesadaran bahwa setiap kata yang diucapkan di kelas adalah doa yang terbang menuju langit.

Dalam kitab-kitab kuno, amal ilmu dicatat sebagai pahala yang tak pernah padam. Guru yang wafat tetap hidup dalam murid yang mengajar murid lainnya. Mereka hidup dalam kebajikan yang menyebar pelan, dalam peradaban yang terus berlanjut, tanpa nama mereka di monumen, tanpa potret dalam koridor kantor pemerintah.

Jika engkau pernah bertemu seorang guru yang menyelamatkanmu dari jurang, yang menyentuh bahumu saat dunia meninggalkanmu, maka engkau tahu Hari Guru tidak cukup satu hari. Sebab setiap rumah adalah madrasah. Setiap kita, entah sebagai orang tua atau tetangga, adalah guru dalam bentuk paling sederhana. Dan kehidupan, dengan segala putaran waktu dan robeknya perasaan, adalah referensi yang diam-diam menyusupkan hikmah pada luka, pada doa, pada keberanian.

Guru adalah doa yang berjalan. Kadang letih, kadang tersandung, kadang hampir hilang. Tetapi selalu bangkit, karena mereka tahu: masa depan bangsa tidak dibangun oleh mereka yang paling keras berteriak, melainkan oleh mereka yang paling sabar menyalakan cahaya. Satu anak. Satu kelas. Satu jiwa. Seumur hidup.

Penulis adalah ASN Kemenag / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Creating Website

1 komentar:

Anonim mengatakan...

penikmat baca bahasa sastra...

Plys nmbah ilmu..trims kk

Posting Komentar

Jaga kesopanan dalam komentar

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger