Pages

Nafas Merah Putih

 *“Nafas Merah Putih”*

Fabian Bima Attareza

Siswa MTsN 12 Banyuwangi




Di bawah bentang cakrawala

Kami menatap merah putih yang berkibar dengan gagah

Apakah itu hasil dari perjuanganmu? 

Atau hanya pengingat akan darah yang pernah tumpah?


Wahai pahlawan... 

Pantaskah kami disebut penerusmu? 

Sedangkan sering kali kami terlupa arti kata merdeka! 

Lalai membangun bangsa, namun sibuk dengan hal fana


Di tengah kobaran api dan dentuman perang

Kau berdiri menantang baja dengan semangat tak terguncang

Oh pahlawan... 

Sanggupkah kami meneruskan perjuangan yang telah engkau wariskan? 


Kini kami berdiri dibawah wajah semesta

Tempat nafasmu pernah menantang deru senjata

Kami bersumpah, wahai pahlawan bangsa

Bara perjuanganmu akan tetap menyala di tanah Nusantara

Ketika Pejuang Masa Kini

 Ketika Pejuang Masa Kini

Karya Herny Nilawati



Terima kasih para pejuang negeriku

Terima kasih para pahlawanku

Kami-kamilah penikmat sejati!

Hasil tumpah darahmu mempertahankan ibu pertiwi

Kami yang berdiri di sini

Mulai miris akan kondisi bumi

Kami anak-anak negeri 

bukanlah lalai bagaimana mengisi perjuangan 

Dengan dunia banyaknya tantangan

Yang bukan lagi dengan parang atau perang?

Tapi 

Kami bermusuh majunya zaman

Teknologi mengubah tradisi

Globalisasi melahirkan demontrasi

Korupsi ibarat makanan siap saji

Sabu-sabu rasa bubuk kopi

Hak asasi tak lagi termiliki

Beri  kami cara membuka peluang tuk berjuang?

Kami tahu bukan lagi bambu runcing dan parang

Beri cara kami harus lanjutkan

Kata mereka perjuangan harus dipertahankan dan diisi?

Berilah kami sebuah inspirasi

menjadi pahlawan-pahlawan masa kini!

Apa saatnya dedikasi dan integritas 

yang harus dijunjung tinggi 

dan menari-nari di bumi pertiwi

Saat ini!

                                                                                    Wongsorejo, 4 November 2024

Denyut Nadi Sang Pahlawan


 Denyut Nadi Sang Pahlawan.
Karya Lulu Anwariyah

Sejarah mencatat teriakan takbir di 10 November menggema
Di tengah kota pahlawan
Mengguncang bumi, mengguncang langit
Allahu Akbar
Bersenjata bambu runcing
Maju tak gentar melawan penjajah Negeri
Memekikkan suara takbir 
Membawa keyakinan tentang kemerdekaan
Siapa yang menghadang pasti kami lawan
Tetesan peluh keringat dan air mata
Boom, suara tembakan suara dentuman memporak porandakan Negeri
Teriakan Takbir terus menggema
Menyentuh arsy Tuhan
Dan ahirnya penjajahpun mundur meninggalkan kota pahlawan
Seketika takbir berkumandang Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Kota pahlawan menjadi saksi sejarah tentang arti perjuangan mengusir penjajah
Tak gentar tak ciut dengan tekad dan keyakinan meraih kemerdekaan
Kita hidup di zaman kemerdekaan 
Denyut nadi Sang pejuang seakan tak pernah berhenti
Terus berdetak dalam jantung kesatria para pejuang tantangan masa depan.
Untukmu Sang pahlawan teruslah ada pada jiwa- jiwa sang pejuang bangsa.

Banyuwangi, 09 November 2025.

Larung Secaji di Kampung Mandar: Ketika Laut Menjadi Doa yang Tak Pernah Usai

 Larung Secaji di Kampung Mandar: Ketika Laut Menjadi Doa yang Tak Pernah Usai

oleh: Syafaat

Malam ini angin dari Teluk Boom datang tanpa rencana, seperti seseorang yang lewat di depan rumah dan tiba-tiba ingin berhenti sebentar untuk mendengarkan apa yang sedang dibicarakan manusia. Angin itu duduk bersama kami, bersama para tetua Kampung Mandar yang berkumpul untuk selamatan kecil sebelum larung secaji besok pagi. Di bawah langit yang menggantungkan aroma garam, saya merasa laut di depan kami sedang mengingat sesuatu: mungkin luka lamanya sendiri, mungkin doa-doa yang pernah dititipkan orang-orang yang sudah lama pergi.

Di tengah percakapan para tetua, ada seorang remaja putri—wajahnya tenang, matanya jernih—ditunjuk ketua adat untuk menceritakan sejarah. Ia berbicara pelan, seperti berusaha tidak membangunkan sesuatu yang sedang tidur di balik masa lalu. Ada jarak tipis antara suaranya dan waktu yang ia ceritakan, jarak yang justru membuat kisah itu terasa lebih nyata.v


Ia bercerita tentang bagaimana leluhur Mandar datang ke Blambangan. Para pelaut yang singgah di Ulupampang—sekarang Muncar—lalu berpindah ke pesisir Boom ketika Belanda mulai mengotak-ngotakkan kampung seperti menata warna kuning dan biru di kain batik. Tentang Raja Blambangan yang mengundang mereka memperkuat armada laut, bukan karena membaca catatan sejarah, tetapi karena melihat keberanian yang tumbuh dari garam dan badai.

Cerita yang keluar dari mulut seorang remaja membuat sejarah itu seperti seseorang yang belum selesai berpamitan. Kita bisa merasakannya berjalan pelan di gang-gang Mandar; mungkin masih memegang kemudi perahu yang dulu dipakai mengusir kapal-kapal VOC.

Rumah-rumah panggung yang mereka bangun tampak seperti pengingat bahwa manusia harus bersiap untuk apa pun. Laut bisa jinak hari ini dan marah besok pagi. Rumah itu bukan bentuk ketakutan; lebih seperti cara halus untuk memberi tahu laut: Kami tahu siapa kamu, dan kami menghormatimu.

Di situlah letak religiositas orang Mandar yang paling awal—iman yang diam-diam, tidak perlu pengucapan, hanya perlu kecakapan membaca bahaya. Doa bisa lahir dari kemampuan manusia menjaga hidup yang dititipkan Tuhan kepadanya.

Mata pencaharian mereka adalah laut. Tetapi bagi orang Mandar, laut bukan tempat bekerja; laut adalah lawan bicara yang tidak bisa disuap. Mereka membuat dan menjual garek—umpan pancing—seperti menjual peluang kecil yang bisa mengubah hari seseorang. Dan di setiap kansen kecil itu, ada doa yang tidak pernah disebutkan dengan suara.

Tradisi mereka berjalan seperti air yang tidak pernah berhenti mencari jalannya sendiri. Saulak sebelum pernikahan. Petik Laut yang dilayarkan dalam bentuk kepala sapi. Keyakinan lama yang berdampingan dengan sholawat tanpa pernah saling berteriak. Laut dan Tuhan berdampingan seperti garis pantai dan ombak—tidak bersatu, tapi tidak mungkin dipisahkan.

Malam ini sholawat dibaca di tepi pantai. Suaranya terbang, dibawa angin ke arah gelap yang tidak terlihat. Mungkin begitulah cara Tuhan membiarkan manusia mengembalikan sunyi kepada-Nya: lewat ombak, lewat napas air asin.

Remaja putri itu menyebut nama Tuk Kapitan. Pemimpin komunitas Mandar pada masa kolonial. Saya membayangkan ia masih berdiri di langit-langit rumah panggung, masih mengawasi Teluk Boom yang dulu menjadi jalur penting antara Jawa dan Bali. Orang Mandar tidak hanya menjaga laut; mereka menjaga cerita agar Blambangan tetap punya tulang punggung.

Menarik melihat anak-anak muda Mandar hari ini menari Gandrung Sewu. Tarian Banyuwangi. Tarian yang tidak lahir dari kampung leluhur mereka. Tetapi mereka menari tanpa kehilangan Mandarnya. Mereka bisa menari apa saja, bisa ikut tradisi siapa saja, tetapi tetap berdiri di atas tanah yang masih dikenali oleh nenek moyang mereka. Tidak ada yang saling meniadakan. Tidak ada yang harus hilang untuk sesuatu yang lain bisa hidup.

Orang Mandar memang seperti pelaut: mereka membaca arus, lalu memilih arah yang paling selamat, bahkan ketika arah itu tampak mustahil.

Di tengah obrolan malam, saya menangkap satu pelajaran yang sesederhana cahaya lampu minyak: laut mendidik manusia menjadi rendah hati. Rezeki tidak akan habis selama manusia tidak serakah kepada sumbernya. Syukur tidak harus dikeraskan; cukup diturunkan dalam bentuk sesaji dan dibiarkan ombak mengantarkan sisanya.

Bagi orang Mandar, syukur kepada Tuhan tidak berhenti di masjid. Syukur harus sampai ke laut. Karena laut adalah tempat di mana mereka hidup, gagal, ditegur, dan dipelihara.

Saya melihat sholawat bercampur dengan aroma garam. Saya melihat tradisi Mandar berdiri berdampingan dengan tradisi Banyuwangi tanpa saling melukai. Saya melihat generasi muda yang menari dengan dua identitas yang tidak saling berebut. Dan saya melihat laut seperti ayat panjang yang tidak pernah selesai dibaca.

Malam ini bukan sekadar sajian makanan atau tarian khas Mandar yang ditampilkan. Ada keris-keris tua, senjata-senjata kuno yang dipamerkan seperti benda yang sedang menunggu seseorang mengingat namanya. Saya tidak tahu persis nama senjatanya, tapi saya tahu satu hal: benda-benda itu pernah menjadi saksi ketika penjajah mencoba menaklukkan kampung ini. Ia pernah berada di tangan seseorang yang mempertaruhkan hidupnya di gelombang yang tidak ramah.

Besok pagi, sesaji akan dilarungkan. Ombak akan menerimanya tanpa suara, seperti menerima rahasia yang sudah lama menunggu untuk kembali. Dan mungkin Tuhan mendengarnya, dengan cara yang tidak perlu dijelaskan. Karena doa-doa yang datang dari laut selalu menemukan jalan pulang.


Kampung Mandar Banyuwangi, 09–11–2025

Kejujuran sebagai Pondasi Karakter

 *Kejujuran sebagai Pondasi Karakter*

Oleh: Moh. Jali

Pagi itu, selepas salat Subuh, saya merenung lama. Kita sering memperingati hari-hari besar, menjalankan upacara, bahkan mengikuti berbagai kegiatan seremonial keagamaan. Namun saya teringat satu hal penting: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak membangun umat dengan upacara, melainkan dengan karakter. 

Karakter itulah yang hari ini sedang kita usahakan bersama—baik di sekolah, di rumah, maupun di tempat kerja. Saya percaya, pendidikan yang sejati bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai akademik atau seberapa banyak prestasi, tetapi tentang bagaimana kejujuran menjadi napas dalam setiap langkah hidup kita. Dulu, di sekolah dasar, guru agama saya sering bercerita bahwa Rasulullah memiliki empat sifat wajib: shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas). Dari semua sifat itu, yang paling melekat dan menjadi dasar adalah shiddiq—kejujuran. Karena jujur itulah, bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, beliau telah dikenal dengan gelar Al-Amin, orang yang terpercaya. Maka, jika kita mengaku sebagai umatnya, seharusnya kejujuran itu juga menjadi darah yang mengalir dalam diri kita.

Sekarang, kita hidup di masa serba digital. Segala sesuatu diatur sistem, bahkan kehadiran kita di kantor pun dipantau dengan aplikasi, pusaka atau fingerprint. Ada yang mengeluh, merasa diawasi, merasa tidak dipercaya. Tapi saya ingin melihatnya dari sisi lain: barangkali sistem itu adalah cara zaman ini memaksa kita untuk jujur. Dulu, kejujuran diuji dengan kata dan tindakan. Sekarang, diuji oleh data dan waktu. Namun hakikatnya tetap sama: apakah kita hadir sesuai kenyataan, atau hanya hadir di atas kertas?

Mungkin, inilah bentuk ujian kecil yang harus kita hadapi di tengah rutinitas. Karena sesungguhnya, Allah tidak menilai besar kecilnya tugas kita, tetapi seberapa jujur niat kita dalam menjalankannya. Rasulullah bersabda,

> “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan menuntun ke surga. Seseorang terus berlaku jujur hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah dusta, karena dusta membawa kepada kejahatan, dan kejahatan menuntun ke neraka. Seseorang terus berdusta hingga ia dicatat sebagai pendusta.”

(HR. Muslim)

Hadis itu sering kita dengar, tapi jarang kita renungkan dalam-dalam. Betapa ternyata jujur bukan sekadar soal berkata benar, melainkan soal membiasakan diri untuk lurus—meski dunia kadang membengkokkan kita.

Namun, saya juga paham bahwa kejujuran tidak selalu mudah. Ada saat-saat tertentu di mana berkata jujur bisa melukai, bisa menimbulkan fitnah, atau bahkan bahaya. Di sinilah Islam mengajarkan keseimbangan. Jujur tidak berarti sembrono. Ada kejujuran yang harus disampaikan dengan hikmah dan kebijaksanaan. Contohnya, ketika seseorang dikejar oleh orang jahat dan kita tahu tempat persembunyiannya, maka tidak pantas jika kita menyerahkannya hanya demi mengaku “jujur”. Itu bukan kejujuran yang membawa maslahat, tapi kejujuran yang menimbulkan mudarat.

Kejujuran harus tetap berjalan beriring dengan kasih sayang dan akal sehat.

Saya teringat cerita Sayyidina Abu Bakar dan putranya, Abdullah. Abdullah dikenal lembut, cerdas, dan penyayang. Namun karena cintanya yang besar kepada istrinya, ia sampai jarang keluar rumah untuk salat berjamaah di masjid. Abu Bakar pun menasihatinya dengan lembut, bahwa cinta yang benar adalah cinta yang tidak melalaikan kewajiban kepada Allah. Dari kisah itu, saya belajar bahwa jujur kepada diri sendiri adalah bentuk kejujuran tertinggi.

Berani mengakui bahwa kita masih lemah, masih sering kalah oleh nafsu, itulah awal dari perbaikan. Jujur kepada Tuhan berarti tidak menipu diri dengan dalih kebaikan.

Jujur kepada sesama berarti tidak menutup-nutupi kesalahan, tapi juga tidak membuka aib tanpa sebab. Jujur dalam pekerjaan berarti hadir, bekerja, dan berbuat sesuai kemampuan tanpa manipulasi. Membangun karakter bangsa tidak bisa dimulai dari slogan. Ia dimulai dari kebiasaan kecil: datang tepat waktu, mengembalikan barang pada tempatnya, menepati janji, dan berkata benar meski sederhana.

Kalau setiap guru, pegawai, dan orang tua menanamkan kejujuran dalam keseharian, maka kita tidak perlu terlalu banyak aturan untuk menegakkan kebaikan.

Karena sesungguhnya, sistem yang paling kuat bukan di komputer atau aplikasi, tapi di hati yang takut kepada Allah. Kita hidup dalam masa di mana banyak orang pandai berbicara, tapi sedikit yang jujur pada dirinya sendiri. Kita bisa membuat laporan indah, tetapi kalau nurani tidak tenang, semua itu kosong.

Maka, mulai sekarang, mari jadikan kejujuran sebagai kebiasaan, bukan beban. Karena kebiasaan jujur akan membentuk ketenangan jiwa, dan jiwa yang tenang itulah yang akan mengantarkan kita menuju kebahagiaan, di dunia dan akhirat.


Jika suatu hari ajal datang secara tiba-tiba—seperti yang sering terjadi tanpa kita duga—semoga kita sedang dalam keadaan jujur. Karena kebiasaan baik yang kita lakukan di dunia akan menuntun kita di alam selanjutnya. Rasulullah pernah bersabda bahwa seseorang akan mati sesuai kebiasaan hidupnya.

Maka, jika kita terbiasa jujur, insyaAllah kita pun akan wafat dalam kejujuran, dan dibangkitkan bersama orang-orang yang benar. Saya tahu, menjadi jujur di zaman ini tidak mudah. Tapi bukan berarti mustahil. Karena kejujuran bukan hanya warisan Nabi, melainkan tugas kemanusiaan yang membuat hidup kita lebih ringan, wajah kita lebih terang, dan langkah kita lebih tenang.

Mari mulai dari diri sendiri, dari hal kecil, dari sekarang. Karena bangsa yang besar tidak lahir dari gedung tinggi atau teknologi canggih, tapi dari manusia-manusia jujur yang menjaga amanah di mana pun mereka berada.

Dan semoga Allah mencatat kita termasuk di antaranya. Amin.

Literasi Finansial Keluarga Muda pada Gerakan Keluarga Maslahah

 Literasi Finansial Keluarga Muda pada Gerakan Keluarga Maslahah

Oleh : Syafaat

 

Ada dua bahasa yang mesti dikuasai agar rumah tangga berjalan tenang: bahasa cinta dan bahasa angka, bahasa cinta menjaga hati agar tidak retak, sementara bahasa angka menjaga dapur agar tetap berasap, dua bahasa ini tak lahir dari tempat yang sama, namun saling melengkapi seperti dua sisi doa, yang satu melembutkan rasa, yang lain menegakkan nalar. Bahasa cinta lahir dari kehangatan jiwa. Ia seperti cahaya senja yang menenangkan mata, mengajarkan pelukan saat gagal, doa ketika terdesak, dan pengertian di saat yang lain lelah. Ia membuat manusia kuat menghadapi kekurangan, menukar kemewahan dengan ketulusan.

Ada bahasa kedua, yang sering terlupakan: bahasa angka, bahasa yang tampak kaku, tapi justru menyelamatkan; terdengar dingin, tapi menjaga api dapur agar tetap hidup. Ia tak mengenal kata rindu, tapi paham arti menabung. Sebagian besar pasangan muda fasih dalam bahasa cinta, tapi gagap dalam bahasa angka. Mereka hafal tanggal ulang tahun, tapi lupa tanggal jatuh tempo listrik. Pandai mencintai, tapi belum tentu pandai menghitung. Cinta, pada awalnya, terasa seperti mata air yang tak akan kering. Pelukan dianggap lebih penting daripada perencanaan, tawa dianggap cukup menggantikan tabungan, dan keyakinan seolah bisa membayar semua tagihan. Tapi waktu, seperti guru yang sabar, mengajarkan bahwa listrik tak bisa dibayar dengan maaf, dan beras tak bisa dibeli dengan sabar. Cinta tanpa perhitungan akan kehilangan arah, seperti kapal tanpa kompas di tengah lautan kebutuhan.

Waktu tidak memusuhi cinta, hanya menuntut kedewasaan dalam mengelolanya, cinta yang benar bukan hanya tentang memberi bunga, tapi juga menyiapkan lahan untuk menanamnya. Bahasa cinta membuat kita bertahan, tapi bahasa angka membuat kita berdaya. Keduanya seperti dua sayap burung yang harus bergerak seirama agar bisa terbang tinggi, satu menjaga arah, satu menahan keseimbangan. Jika hanya cinta tanpa hitungan, rumah tangga akan melayang terlalu tinggi dan lupa tanah, jika hanya angka tanpa cinta, rumah akan dingin dan kehilangan jiwa. Dalam rumah tangga yang damai, keduanya bersahutan seperti zikir:
Cinta berkata, “aku bersamamu,” dan angka menjawab, “aku menyiapkan jalan agar kita tetap bersama.” 


Bahasa cinta menyalakan api, bahasa finansial menjaga agar api itu tidak membakar, keduanya, jika disatukan dalam iman, menjadi bahasa keberkahan,
bahasa yang membuat rumah sederhana terasa seperti surga kecil di bumi.
Sebab cinta yang berpadu dengan perhitungan akan melahirkan ketenangan,
dan ketenangan yang dijaga dengan iman akan tumbuh menjadi keluarga maslahah, tempat cinta bukan hanya hidup, tetapi menjadi ibadah yang terus bernapas di antara angka-angka kehidupan.

Gerakan Keluarga Maslahah lahir dari kesadaran yang perlahan tumbuh di antara kesibukan dunia: bahwa keluarga bukan sekadar tempat bernaung, melainkan ruang suci di mana cinta diuji dengan kenyataan, dan iman diuji oleh kebutuhan. Ia bukan program birokrasi, bukan pula proyek sesaat yang berhenti di spanduk dan laporan. Ia adalah panggilan halus, seperti bisikan subuh di hati mereka yang ingin menata ulang makna rumah tangga, menjadikan cinta sebagai ibadah, dan rezeki sebagai amanah.

Kementerian Agama menamai gerakan ini sebagai upaya membangun keluarga yang bahagia, sejahtera, dan taat agama. Kalimat itu sederhana, tapi di dalamnya terkandung cita-cita besar yang melampaui angka-angka APBN: cita-cita untuk membentuk keluarga utuh, yang tangannya bekerja di bumi, tapi hatinya tetap tertaut pada langit. Di bawah naungan program ini, ada banyak cabang kegiatan: bimbingan perkawinan yang mengajarkan cinta bukan hanya sebagai rasa, tapi sebagai tanggung jawab. Ada pelatihan parenting yang menuntun orang tua agar mendidik anak bukan hanya dengan kata, tapi dengan teladan. Ada intervensi stunting, agar tubuh anak-anak tumbuh sehat bersama dengan akal dan imannya. Ada pemberdayaan ekonomi, agar rezeki mengalir tanpa kehilangan keberkahan. Ada penguatan karakter, agar keluarga tetap tegak meski badai zaman datang berganti rupa, semua itu berpangkal pada satu hal: kesadaran bahwa keluarga adalah madrasah pertama tempat iman diuji dalam bentuk paling nyata, pengelolaan kehidupan sehari-hari.

Di sanalah semua teori agama menemukan wajah praktisnya, bagaimana suami menahan diri ketika rezeki menipis, bagaimana istri bersabar tanpa kehilangan harap,
bagaimana anak belajar arti syukur dari piring sederhana di meja makan. Setiap detik di rumah tangga adalah pelajaran tauhid: ketika seseorang menakar beras, menulis daftar belanja, membayar listrik, menabung sedikit demi sedikit, semuanya bisa menjadi dzikir jika dilakukan dengan kesadaran. Maka literasi keuangan keluarga bukan sekadar ajaran duniawi; ia adalah bentuk lain dari fikih kehidupan, sebab di balik hitungan angka, tersembunyi ujian hati.Seberapa ikhlas kita mengelola yang sedikit, seberapa amanah kita menjaga yang banyak.

Di luar negeri, harta bekerja untuk manusia, mereka membangun sistem agar uang berputar, menciptakan manfaat, menumbuhkan kesejahteraan Bersama, namun di negeri ini, sering kali manusia bekerja untuk menumpuk harta, seolah-olah harta itu jaminan keselamatan. Padahal, harta yang tidak bergerak untuk kebaikan, akan membatu di dalam dada seperti karat yang pelan-pelan merusak iman. Itulah mengapa gerakan ini penting, karena ia mengembalikan ruh ekonomi kepada nilai-nilai spiritualnya. Bahwa uang bukan tujuan, tapi titipan, bahwa kekayaan sejati bukan di rekening, tapi di keberkahan yang menenangkan batin. Seorang ulama pernah berkata, “Harta yang tak dizakati akan menjadi api yang membakar pemiliknya.” Maka, bagaimana mungkin kita merasa cukup hanya dengan mengumpulkannya, tanpa pernah menyalurkannya?

Gerakan Keluarga Maslahah mengajak kita menatap uang seperti kita menatap diri sendiri: rapuh tapi berharga, fana tapi bisa menjadi jalan menuju keabadian.
Ia bukan musuh yang harus dihindari, bukan pula tuan yang harus disembah. Ia hanyalah alat, jembatan menuju kemaslahatan, jika digunakan dengan hikmah. Bayangkan jika setiap rumah tangga Muslim di negeri ini paham bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan dengan niat baik bisa menjadi sedekah, bahkan ketika hanya untuk membeli susu anak atau membayar sekolah, jika setiap keluarga menulis rencana keuangannya dengan bismillah, bukan dengan ambisi, betapa tenteramnya negeri ini, karena kesejahteraan tak lagi diukur dari banyaknya harta, tapi dari tenangnya hati yang mengelolanya.

Gerakan Keluarga Maslahah bukan sekadar pelatihan keuangan, tapi gerakan menyucikan cara kita mencari dan membelanjakan rezeki. Ia mengingatkan kita bahwa tangan yang menulis anggaran rumah tangga seharusnya adalah tangan yang pernah berdoa di sepertiga malam, bahwa angka-angka di buku catatan seharusnya diimbangi dengan zikir di hati yang tak henti. Di setiap kolom pemasukan, ada doa agar rezeki datang dari jalan yang halal, di setiap kolom pengeluaran, ada harap agar tak satu pun keluar tanpa manfaat, dan di setiap rencana masa depan, ada sujud yang panjang agar semua itu diridai Allah.

Karena sejatinya, kesejahteraan bukanlah tentang berapa banyak yang kita miliki, melainkan tentang seberapa cukup hati kita dengan yang ada. Keluarga maslahah adalah keluarga yang belajar menyeimbangkan cinta dan angka, iman dan perhitungan, rasa syukur dan usaha. Mereka memahami bahwa cinta yang tak diatur dengan perencanaan bisa kehilangan arah, dan perencanaan yang tak disertai cinta hanya akan menjadi daftar kosong tanpa ruh, ketika cinta bersanding dengan iman, dan angka tunduk pada takwa,di sanalah lahir keluarga yang sejati,  keluarga yang tidak sekadar hidup dari harta,tetapi hidup untuk memberi makna pada harta. Keluarga yang tidak hanya mencari dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai ladang menuju akhirat, menjadikan rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat pulang bagi hati yang sedang belajar menjadi hamba.

Di sebuah ruang pelatihan sederhana, para pasangan muda duduk berdampingan, di atas meja, selembar kertas terbentang: tabel pemasukan, pengeluaran, aset, dan rencana, di mata sebagian orang, itu hanyalah angka. Tapi di mata mereka yang mulai belajar, itu adalah cermin kecil, tempat mereka melihat ulang diri sendiri. Ada yang menulis dengan cepat, ada yang menatap lama, seolah setiap kolom menyimpan pertanyaan yang lebih dalam: “Untuk apa sebenarnya kita bekerja?” Seorang perempuan muda berjilbab krem menatap kertasnya lama sebelum menulis: “Agar suami saya tidak khawatir besok makan apa.” Kalimat sederhana itu menyimpan keheningan panjang, lahir dari hidup yang dijalani dengan sabar. Di sudut lain, seorang lelaki mengaku pelan, “Saya tidak tahu ke mana gaji saya pergi setiap bulan.” Ucapan ringan, tapi terasa seperti pengakuan dosa kecil. Di situlah literasi keuangan bermula, bukan dari angka, melainkan dari kejujuran kepada diri sendiri, dari keberanian menyingkap kalimat “nanti juga cukup” yang sering kita jadikan tameng.

Fasilitator menyebutnya financial check-up, namun sejatinya itu muhasabah harta, sebuah zikir sunyi tentang asal dan arah rezeki, setiap catatan pengeluaran menjadi bentuk dzikrullah di antara tagihan dan kebutuhan. Di luar sana, dunia berputar cepat: diskon memanggil, media sosial memamerkan kebahagiaan palsu. Banyak yang hidup dari utang demi citra, padahal yang mereka cari hanyalah ketenangan yang beriman, rasa cukup yang tak lagi diukur dari kepemilikan, melainkan dari keikhlasan menerima, keberhasilan rumah tangga bukan diukur dari harta, tapi dari kemampuan menahan diri. Bukan meniru orang lain, tapi menemukan ritme rezeki sendiri, seorang pembicara berpesan lirih, “Jangan bekerja hanya untuk menumpuk aset, tapi tumbuhkan manfaat.” Harta, katanya, hanyalah amanah; dan amanah kelak akan ditagih.

Kini, banyak orang mengejar angka tanpa makna, penghasilan naik, tapi hati tetap resah. Tabungan penuh, tapi berkah menipis. Maka literasi keuangan keluarga sejatinya adalah pelajaran tauhid dalam bentuk paling praktis, bahwa setiap rupiah adalah ujian, dan setiap pengeluaran adalah kesaksian. Menghitung bukan berarti kikir, menahan bukan berarti miskin. Seperti cinta, uang pun harus diurus dengan iman. Sebab cinta tanpa perencanaan melahirkan kekacauan, sementara perencanaan tanpa cinta menimbulkan kekeringan, dan di antara keduanya, manusia belajar bahasa yang lebih tinggi: bahasa keberkahan. Bahasa yang tak terhitung oleh kalkulator, tapi terasa di hati yang tenang setelah memberi, tempat di mana cukup berarti kaya, dan kaya berarti sanggup bersyukur.

Penulis adalah ASN / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Literasi Keuangan Keluarga Didorong Lewat Gerakan Keluarga Maslahah

Banyuwangi  (Warta Blambangan) Kementerian Agama Dorong Keluarga Muda Melek Finansial Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi mendorong peningkatan literasi keuangan keluarga melalui kegiatan Gerakan Keluarga Maslahah yang digelar di aula bawah kantor setempat, Senin (4/11/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh pasangan keluarga muda—mereka yang usia pernikahannya di bawah lima tahun—serta para penyuluh agama Islam dari berbagai kecamatan. Program ini menjadi sarana edukasi finansial bagi keluarga Muslim agar mampu mengelola keuangan rumah tangga secara bijak dan berkelanjutan. 


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, dalam sambutannya menegaskan pentingnya perubahan pola pikir dalam pengelolaan aset dan perencanaan ekonomi keluarga.

Mainset dalam perencanaan perekonomian harus diubah. Aset masyarakat Indonesia umumnya masih tidur. Masyarakat kita bekerja untuk mengumpulkan aset, sementara di luar negeri, justru aset yang bekerja untuk mereka,” ujar Chaironi.

Menurutnya, pengelolaan keuangan rumah tangga perlu disusun berdasarkan skala prioritas agar pendapatan tidak sekadar habis untuk konsumsi, melainkan juga berfungsi produktif bagi masa depan keluarga.

Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Banyuwangi, H. Mastur, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan membangun ketahanan keluarga melalui pendekatan spiritual, sosial, dan ekonomi.

Program ini menghadirkan keluarga muda dan para penyuluh agama Islam agar pengetahuan keuangan keluarga dapat disebarluaskan melalui majelis taklim binaan,” ungkapnya.

Dua fasilitator utama, Imam Muklis, S.Ag. (Kepala KUA Kecamatan Glagah) dan Ahmad Sakur Isnaini, S.Ag. (Kepala KUA Kecamatan Sempu), menyampaikan materi interaktif seputar perencanaan keuangan keluarga berbasis nilai-nilai Islam. Di antaranya meliputi pentingnya menabung, berinvestasi secara halal, hingga mengelola hutang dengan cara yang sehat.

Melalui kegiatan ini, masyarakat Banyuwangi diharapkan semakin sadar akan pentingnya perencanaan ekonomi keluarga yang terukur dan berorientasi masa depan. Literasi keuangan keluarga juga diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menekan angka perceraian, terutama yang dipicu oleh persoalan ekonomi.

Dengan pemahaman yang baik tentang keuangan keluarga, semoga rumah tangga menjadi lebih harmonis, mandiri, dan berdaya,” tutup Dr. Chaironi Hidayat.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger