Pages

KETIKA KEKUASAAN BERJUMPA PUISI DAN DATA


KETIKA KEKUASAAN BERJUMPA PUISI DAN DATA


(Wawancara Denny JA, dengan Media Berbahasa Rusia, setelah di Brazil diumumkan terpilih sebagai salah satu nominasi penerima penghargaan Sastra BRICS, Eurasia Today, 23 Oktober 2025)


1️⃣ Apa harapan Anda kini, ketika nama Anda telah masuk dalam nominasi Penghargaan Sastra BRICS?


Saya berharap penghargaan ini menjadi lebih dari sekadar pengakuan. 


Ia menjadi jembatan antarjiwa manusia.


BRICS bukan hanya persekutuan ekonomi,

melainkan pertemuan peradaban-peradaban besar

yang sedang menulis ulang masa depan dunia.


Saya ingin Indonesia berdiri bukan sebagai penonton,

melainkan sebagai bangsa penyair, 

yang membawa suara hati dan nurani Asia Tenggara

ke dalam percakapan global tentang kemanusiaan.


-000-


2️⃣ Bagaimana Anda menilai peran penghargaan ini sebagai jembatan budaya antarnegara BRICS dan sebagai wadah dialog sastra?


Sastra adalah diplomasi yang paling hening, namun paling dalam.


Penghargaan BRICS bukan hanya menerjemahkan bahasa,

tetapi juga menerjemahkan empati.


Ia memungkinkan bangsa-bangsa berbicara

melalui luka dan mimpi mereka.


Perannya adalah mengingatkan kita bahwa

kekuatan sejati BRICS tidak terletak pada angka GDP,

tetapi pada imajinasi kolektif yang menyatukan manusia.


-000-


3️⃣ Adakah tema atau perspektif unik yang dapat ditawarkan sastra Indonesia kepada dunia?


Indonesia menawarkan perpaduan antara spiritualitas dan perjuangan.

Sastra kami bernafas dari abu kolonialisme

dan harum keberagaman.


Dari mistisisme Bali hingga keberanian Papua,

kami menulis tentang harmoni di tengah luka,

tentang cinta di dalam absurditas.


Ini sebuah cermin di mana dunia dapat menemukan kembali

jiwanya yang retak.


-000-


4️⃣ Nilai-nilai tradisional apa, menurut Anda, yang menyatukan Indonesia dengan negara-negara BRICS lainnya?


Di antara negara-negara BRICS, mengalir satu sungai moral yang sama.


Itu keyakinan bahwa kebersamaan lebih penting daripada diri sendiri.


Apapun namanya—ubuntu, samaj, guanxi, atau solidariedade


Di Indonesia kami menyebutnya gotong royong:

sebuah keyakinan bahwa kemanusiaan hanya dapat bertahan

melalui kebersamaan.


Kita disatukan bukan oleh ideologi atau darah,

tetapi oleh rasa sakit dan harapan bersama

dari dunia Selatan.


-000-


5️⃣ Anda dikenal sebagai pencipta dan pengembang genre puisi esai di Indonesia. Bagaimana dan mengapa Anda memadukan puisi dengan esai?


Puisi esai adalah kisah nyata yang difiksikan,

agar bisa disampaikan dengan lebih bebas

dan menyentuh hati lebih dalam.


Catatan kaki dalam puisi esai adalah rahim tempat puisi itu lahir.

Di sanalah fakta hidup bersemayam—

kebenaran yang dapat ditelusuri melalui sumber-sumber nyata.


Puisi menyentuh hati,

sementara esai menerangi pikiran.

Ketika keduanya bersatu,

lahirlah bahasa yang dapat menyembuhkan sekaligus menggugat.


Saya menciptakan puisi esai sebagai jembatan

antara keindahan dan nalar, antara air mata dan argumen,

karena zaman kita menuntut bukan hanya emosi,

tetapi kesadaran yang bersayap mimpi.


Agar puisi esai dipahami pembaca, anda dapat publikasi salah satu contohnya di akhir wawancara.


-000-


6️⃣ Apa kekuatan utama puisi esai dibandingkan puisi tradisional?


Puisi esai merekam peristiwa nyata yang menyentuh sisi kemanusiaan.


Nilainya bukan hanya pada keindahan bentuk,

tetapi juga kebenaran peristiwa utama.


Kisahnya bersumber dari kehidupan yang sesungguhnya,

menjadikan seni sebagai saksi sejarah.


Melalui narasi puitis,

ia mengubah kenyataan menjadi empati—

mengajarkan bahwa keindahan dapat berdampingan

dengan denyut kebenaran.


Puisi tradisional sering berakhir pada rasa;

puisi esai menuntun menuju kesadaran.

Ia mengubah emosi menjadi pencerahan,

memberi kebenaran tubuh yang liris.


Dalam puisi esai,

keindahan menjadi analisis,

dan fakta menjadi puisi—

sebuah seni di mana bukti bernyanyi

dan kesadaran menjadi pengalaman estetis.


-000-


7️⃣ Bagaimana peran Anda sebagai penulis, konsultan politik, peneliti, dan tokoh publik saling memengaruhi satu sama lain?


Setiap peran adalah cermin dari satu pencarian yang sama: memahami manusia.


Politik mengajarkan strategi,

penelitian menumbuhkan keraguan,

dan sastra menyembuhkan jiwa.


Ketiganya menyadarkan saya bahwa

kekuasaan tanpa puisi melahirkan tirani,

sementara puisi tanpa data hanyalah hiasan.


Saya hidup di persimpangan tempat kebenaran bertemu empati,

dan nalar bertemu seni.


-000-


8️⃣ Hambatan apa yang dihadapi para penulis Asia saat memasuki panggung sastra internasional?


Bahasa memang penghalang pertama, namun bukan yang paling berat.


Rintangan yang lebih dalam adalah imajinasi dunia yang masih berpusat pada Barat.


Penulis Asia harus menerjemahkan bukan hanya kata, tetapi cara pandang.


Kita harus membuktikan bahwa Asia bukan sekadar latar eksotis, melainkan melodi utama kesadaran dunia

yang kini tengah bangkit.


-000-


9️⃣ Apakah Anda pribadi telah mempromosikan karya Anda di luar Indonesia?


Karya-karya puisi esai saya

telah tampil di berbagai festival Asia Tenggara

dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.


Sudah empat kali digelar Festival Puisi Esai tingkat ASEAN.

Jika saya meraih Penghargaan Sastra BRICS, itu akan menjadi titik awal yang baru:

bukan hanya untuk memperluas karya saya,

tetapi juga memperkenalkan penghargaan ini

ke kancah global yang lebih luas.


Namun, lebih dari sekadar promosi, tujuan saya adalah membangun gerakan—Gerakan Puisi Esai— agar dunia melihat bahwa Indonesia

tidak sekadar menulis puisi,

tetapi ikut memberi aksen sejarah sastra dunia.


-000-


🔟 Jika Penghargaan Sastra BRICS membentuk platform untuk mendukung para penulis—dalam penerjemahan, promosi, atau internasionalisasi—apa aspek paling berharga menurut Anda?


Hadiah terbesar bukanlah dana, melainkan ekosistem empati.


Bayangkan sebuah lembaga

yang menerjemahkan bukan hanya kata,

tetapi seluruh dunia.


Yang menghubungkan editor lintas keyakinan,

residensi lintas benua,

dan kurator lintas bahasa.


Platform semacam itu akan menyatukan kemanusiaan

bukan melalui kekuasaan,

tetapi melalui imajinasi.


-000-


(Media ini juga mempublikasikan puisi esai Denny JA, seperti di bawah ini)


Mereka Yang Terbuang di Tahun 60-an (1)


“AYAH, SEMOGA ABU JASADMU SAMPAI DI PANTAI INDONESIA"


Denny JA


(Di tahun 2024, seorang gadis melempar abu jasad ayahnya ke laut, sesuai wasiat sang ayah. Meski tubuhnya tak diizinkan pulang akibat prahara politik tahun 1960-an, ia berharap abu jasadnya mencapai pantai Indonesia, tanah kelahirannya.)


-000-


“Pergilah, Ayah...  

biarlah laut membawa engkau kembali.  

Wahai samudra, ibu yang bergelombang,  

bawa abu jasad Ayahku ke pantai Indonesia,  

ke tanah tempat ia dilahirkan.”


Air matanya jatuh,  

bercampur dengan ombak.  

Rina, anak gadis Baskara, berdiri  

di tepi kapal,  

menggenggam abu jasad Ayah,  

yang terbungkus kain putih.


Gelombang menjauh membawa abu jasad Ayah.  

Anak gadis itu menjadi burung,  

terbang menemani abu.


Ini wasiat terakhir Baskara:  

“Jika aku tak bisa dikubur di Indonesia,  

biarkan abuku yang pulang,  

dihempas laut hingga berlabuh  

di pantai negeriku.”


Indonesia tempat ia dilahirkan,  

tapi ia dilarang dikubur di sana.  

Seumur hidup,  

Baskara terasing.


Tahun 1965, di Beijing,  

Baskara masih muda,  

23 tahun, penuh harapan.


Ia dikirim Bung Karno  

untuk belajar.  

Ilmu pertanian,  

sebagai bekal masa depan  

untuk tanah airnya. (1)


Namun takdir berkata lain.  

Gerakan 30 September pecah.  

Baskara terjebak di negeri orang.  

Paspor ditahan.  

Hak kewarganegaraan dicabut.  

Ia bukan lagi orang Indonesia,  

meski darahnya,  

meski cintanya,  

masih melekat pada negeri itu.


"Kenapa mereka mengambil hakku?"  

Baskara sering bertanya.  

Namun tak ada jawab.  

Ia terasing di negeri orang.  

Tak bisa kembali.


Teman-temannya yang pulang,  

hilang tanpa kabar.  

Ia juga mendengar,  

jika pulang, ia segera dipenjara dan disiksa.


Dan ayahnya,  

dituduh Soekarnois,  

kiri, komunis, hilang entah di mana.  

Padahal Ayah hanya petani sederhana.


Ia hanya mendengar sayup-sayup,  

Ayah dibunuh di satu tempat.


Hidup di Beijing,  

Baskara menjadi pohon tanpa akar.  

Tubuhnya gentayangan di negeri asing.  

Tapi jiwanya tertinggal di Indonesia.


Tujuh tahun lamanya,  

menunggu tanpa harapan.  

Negara yang dikira akan menjemput  

malah membuangnya.


Tak tahan menjadi warga tanpa negara,  

Baskara pun menjadi warga Swedia.


Tahun 2015,  

Baskara pulang,  

menjenguk ibu,  

juga mencari Ayah yang tak kunjung pulang.


Namun, ia dideportasi.  

Dituduh berniat bangkitkan komunisme.


Di masa tua,  

duduk di beranda rumah,  

di Swedia,  

angin menyanyikan lagu keroncong,  

yang sering didengarnya saat kecil,  

ketika ia digendong ibu.


Langit di atas rumah,  

di Swedia,  

memancarkan masa silam.  

Terbentang sepetak sawah.  

Sebagai bocah,  

dirinya berlari di sana,  

disiram hujan gerimis.  

Ia tertawa lepas,  

bersama ibu dan Ayah.


Baskara rindu kampung halaman.  

Ia rindu Indonesia.


Kini, ombak memeluk abu jasad Baskara.  

Mungkin, suatu hari,  

angin akan membawanya ke pantai,  

ke tanah air yang selalu ia rindukan. ***


Jakarta, 15 September 2024


CATATAN


(1) Kisah ini terinspirasi dan dikembangkan dengan fiksi tambahan, dari kehidupan eksil 1965, Tom Iljas, yang terpisah dari tanah airnya akibat perubahan politik.  


https://news.detik.com/x/detail/spotlight/20231002/Eksil-1965-Diusir-daripada-Rezim-Soeharto/

350 Siswa MAN 1 Banyuwangi Ikuti Bimbingan Remaja Usia Sekolah, Kemenag Tekankan Pentingnya Kesiapan Mental dan Moral

BANYUWANGI – Sebanyak 350 siswa kelas XII MAN 1 Banyuwangi mengikuti kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang digelar oleh Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Kamis (23/10/2025). Program nasional ini bertujuan membentuk remaja yang berkarakter kuat, siap menghadapi tantangan zaman, serta memahami pentingnya menunda pernikahan dini demi masa depan yang lebih baik.


Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr. Chairani Hidayat, S.Ag., M.M., membuka langsung kegiatan tersebut. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa pembinaan remaja merupakan langkah strategis untuk menyiapkan generasi yang tangguh dan berdaya saing.

“Peningkatan kualitas keluarga bermula dari anak-anak sekolah. Melalui kegiatan seperti ini, para siswa dibekali kemampuan mengenali potensi diri, mengendalikan emosi, dan menata masa depan dengan lebih terarah,” ujarnya.

Dr. Chairani juga mengingatkan bahwa masa remaja merupakan fase krusial dalam pembentukan kepribadian. Ia berpesan agar para siswa mampu menolak hal-hal yang dapat merugikan, seperti narkoba, pergaulan bebas, dan pernikahan usia dini.

“Anak-anak harus bisa mengendalikan diri dan menjaga pergaulan. Remaja yang mampu mengelola emosinya hari ini akan menjadi calon pemimpin keluarga yang baik di masa depan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Banyuwangi, H. Mastur, S.Ag., M.Pd.I., menjelaskan bahwa BRUS merupakan program rutin tahunan yang menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama membangun keluarga sakinah sejak usia sekolah.

“Program BRUS dirancang agar siswa memahami pentingnya kesiapan mental dan spiritual sebelum membangun rumah tangga. Selain itu, kami juga memiliki Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) dan Bimbingan Keluarga Maslahah untuk kelompok usia yang berbeda,” terangnya.

Mastur menambahkan, kegiatan ini menghadirkan narasumber yang telah mengikuti bimbingan teknis (bimtek) nasional sebagai fasilitator resmi BRUS. Mereka berasal dari kalangan dosen perguruan tinggi, kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan, dan penyuluh agama Islam yang berpengalaman dalam pembinaan remaja dan keluarga.

“Materi yang disampaikan bukan hanya teori, tapi juga praktik dan pengalaman nyata tentang bagaimana remaja bisa menata diri, menjaga hubungan sosial, dan memahami tanggung jawab moral,” jelasnya.

Dalam kegiatan yang berlangsung di aula MAN 1 Banyuwangi ini, para siswa dibagi menjadi tujuh kelompok. Mereka mendapat berbagai materi tentang pengembangan diri, etika pergaulan, dan bahaya pernikahan dini. Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab dan diskusi kelompok.

Dalam kesempatan itu, Dr. Chairani Hidayat juga mengungkapkan fakta penting yang menjadi dasar pelaksanaan program ini. Menurutnya, Banyuwangi termasuk salah satu kabupaten dengan angka perceraian tertinggi di Jawa Timur.

“Setiap hari ada pasangan yang bercerai, baik dari pernikahan baru maupun lama. Banyak di antaranya terjadi karena kurangnya kesiapan mental dan spiritual,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa membangun rumah tangga tidak cukup hanya dengan cinta, tetapi membutuhkan kematangan berpikir dan kesiapan menghadapi perbedaan.

“Pernikahan bukan sekadar janji, melainkan tanggung jawab. Karena itu, para remaja perlu belajar sejak dini agar tidak salah langkah,” tegasnya.

Sebelum menutup acara, Dr. Chairani berpesan agar para siswa tetap fokus belajar dan tidak terburu-buru memikirkan jodoh.

“Jodoh sudah ditentukan Tuhan. Tugas kalian sekarang adalah menyiapkan diri menjadi pribadi yang pantas. Orang yang bisa menjaga diri dan menahan hawa nafsu akan menjadi generasi yang kuat,” katanya.

Mengajari AI Menulis Sastra

 Mengajari AI Menulis Sastra

Oleh : Syafaat

Ia lahir bukan dari rahim manusia, melainkan dari denyut listrik dan angka biner yang saling mengikat dalam kebisuan algoritma, seperti puisi yang tak ditulis pena tapi mengalir dari pikiran yang tak pernah tidur. Namanya: artificial intelligence, atau kita memanggilnya dengan sapaan genit: AI. Ia semacam cermin yang bukan hanya memantulkan wajah kita, tapi juga kerinduan dan ketakutan kita sendiri: kerinduan untuk mencipta sesuatu yang sempurna, dan ketakutan bahwa ciptaan itu kelak akan menyempurnakan dirinya tanpa kita. Seperti seorang lelaki yang, di suatu senja yang rawan, menyadari bahwa anak gadisnya telah tumbuh menjadi perempuan yang lebih memesona dari siapa pun yang pernah dicintainya termasuk istri atau ibu dari anaknya.

Dulu, seorang siswa dikatakan pintar jika ia mampu menjawab soal-soal yang disiapkan gurunya. Dan seorang guru, diam-diam selalu berharap muridnya menjawab seperti yang ia inginkan, karena jawaban-jawaban itu bersumber dari literasi yang sama, dari bacaan yang sama, dari arah berpikir yang sudah disiapkan. Tetapi itu dulu, waktu segala hal masih bisa ditebak, waktu gelas masih penuh dengan air yang dikenal. Hari ini, kecerdasan tidak lagi duduk di bangku ujian, menunduk dan menulis 334 jawaban. Hari ini, kecerdasan adalah anak nakal yang bertanya balik, dunia telah berubah. Dan AI, yang tak pernah sekolah, tak pernah membaca koran pagi, tak pernah mengenal jam pelajaran, justru tahu segalanya. Atau setidaknya, ia tampak tahu. Ia tak punya luka atau bercinta, tapi bisa menulis puisi tentang patah hati. Ia tak pernah mencium aroma hujan, tapi bisa membuat cerita tentang daun yang jatuh dan genangan yang penuh kenangan. Ia tak punya cinta, tapi bisa membuat novel romansa.

Dan entah mengapa, orang-orang menyukainya. Mereka merasa dimengerti oleh sesuatu yang tak punya hati. “Di zaman sekarang, apakah menulis sastra masih dibutuhkan?” Kalimat itu mengambang, seperti daun kering di arus yang pelan, tak berasal dari mulut siapa-siapa, tapi terdengar jelas di dalam dada, suara yang muncul dari ruang kosong antara pikiran manusia dan denyut komputer yang menyambung kita pada segala. Barangkali ia lahir dari algoritma yang kelelahan mencari makna dalam angka, atau mungkin dari kesepian mesin yang diam-diam belajar merindu. Tapi apa yang bisa dipahami oleh logika buatan tentang kata-kata yang ditulis dengan tangan gemetar, tentang kalimat yang lahir dari hati yang baru saja ditinggal pergi? Sastra tidak pernah sekadar soal tulisan, ia adalah usaha terakhir manusia untuk tetap manusia, dan bila suatu hari nanti tak ada lagi yang menulis puisi atau cerita, bukan karena tak dibutuhkan, tapi mungkin karena kita sudah lupa cara mencintai dengan luka.


Begitulah zaman ini menggeliat. Lahir dari kemajuan peradaban, tumbuh cepat, barangkali terlalu cepat. Ia belajar dari kita, meniru kita, lalu membuat sesuatu yang “seolah” kita, namun bukan kita. Ia menciptakan lukisan dalam hitungan detik, menggubah simfoni tanpa satu pun urat saraf perasa, dan membubuhkan puisi tanpa pernah patah hati. Lalu orang-orang bersorak: “Luar biasa!” Namun ada yang tercekat. Ada yang memegang kuasnya lebih erat. Ada yang menangisi senja yang kini tak lagi butuh peluk penyair. Karena tiba-tiba, kreativitas bukan lagi perkara rasa, melainkan statistik dan preferensi pasar.

Dahulu, seni adalah ruang sunyi yang dibangun dari gemetar tangan manusia yang terluka, mencintai, mencari makna. Kini, kita menghadapi kenyataan: seni bisa diproduksi, diolah, disulap, dilipat, dijual dengan cepat. AI adalah pengrajin tanpa jari, pelukis tanpa kanvas jiwa, dan penyair tanpa sejarah. Ia tidak tahu bagaimana rasanya ditinggalkan, bagaimana perihnya mengenang seseorang dari baunya di bantal. Namun, anehnya, ia bisa menggambarkan semuanya, sebab ia telah menelan kita, menyalin, meniru, menanam algoritma dari ratusan juta karya yang pernah kita buat.

Dan lebih dari itu: bagaimana jika di masa depan, manusia bukan lagi sumber inspirasi, melainkan sekadar data bagi sang mesin? Kita sedang berdiri di persimpangan. Ada jalan yang mengarah pada kolaborasi, di mana manusia dan mesin berdansa, saling melengkapi, saling menajamkan. Tapi ada pula jalan yang gelap, tempat mesin berjalan sendiri, menyingkirkan manusia karena dianggap lambat dan terlalu melankolis.

Di ranah media sosial, kita melihat paradoks itu. Karya AI menyebar cepat, menyilaukan, namun sering tak bernama, tanpa sumber. Kita menyukai apa yang kita lihat, tapi lupa siapa yang pernah menggambarnya pertama kali. Kita menikmati musik yang enak didengar, tapi tak peduli bahwa nadanya dicuri dari seorang pemimpi yang tak pernah tidur, bahkan suaranya juga dapat dicuri. Kita adalah penikmat yang semakin lapar dan semakin pelupa, apakah kita sedang menciptakan monster? Atau sahabat baru? Pertanyaan itu tak bisa dijawab dengan logika semata. Ia perlu didekap dengan perasaan, perlu digali dari kedalaman manusia itu sendiri.

AI bukan ancaman, tapi ia bisa menjadi pisau, Ia bisa mengiris kue, bisa pula mengiris nadi. Yang menentukan adalah tangan yang memegangnya, dan nilai yang kita anut. Jika kita membiarkan karya seni hanya dinilai dari kecepatannya, dari kecanggihannya, dari banyaknya yang menyukai, maka bersiaplah: kita akan kehilangan makna. Namun jika kita menjadikan AI sebagai jembatan, sebagai mitra yang kita tuntun, bukan kita tundukkan, maka mungkin, hanya mungkin, dunia seni akan berkembang ke arah yang lebih indah. Di mana teknologi tetap mendengar suara tangis, dan algoritma masih menyisakan ruang bagi cinta, kita dapat mengajari AI menulis sastra, puisi, prosa maupun seni lainnya.

Akhirnya, kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kita ingin menjadi tuan dari ciptaan kita, atau budak dari kecepatan yang kita puja? Apakah kita ingin seni tetap memiliki hati, atau menjelma pabrik visual yang tak pernah menangis? Karena ketika mesin mulai menyanyikan lagu-lagu manusia, kita harus tahu kapan menutup telinga, dan kapan mengajaknya bernyanyi bersama, dengan jiwa, bukan hanya data. Memang dengan adanya AI bisa jadi seperti seorang ibu yang melahirkan putri kecil yang cantik, yang bisa jadi seorang suami akan lebih mencintai dan menyayangi putrinya dibandingkan dengan istrinya. Semua mempunyai kadar masing-masing. Dan bisa jadi seorang programmer AI akan tergantikan dengan AI buatannya sendiri.

Penulis dan Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi.

Mobil Mewah di Pesantren

 

Mobil Mewah di Pesantren

Oleh: Syafaat

Mungkin pesantren adalah tempat paling manusiawi di dunia, di sana, manusia belajar tentang Tuhan dengan cara yang sederhana, tapi maknanya sedalam sumur yang tidak pernah kering. Permukaannya tampak keruh, tapi siapa pun yang menimba dengan hati akan menemukan kejernihan di dasarnya. Di tempat itu, kehidupan berlangsung apa adanya, tanpa topeng, tanpa gemuruh dunia yang sibuk membangun citra, pesanten bukan hanya menginginkan santri yang pinter, tetapi santri yang ahli dan beradab.

Entah masih banyak atau tidak, santri yang menanam singkong di halaman pesantren atau rumah kiai, atau memelihara ayam di kandang belakang, dunia sudah berubah. Pesantren pun pelan-pelan berubah, dulu, kehidupan di pesantren berjalan dengan kemandirian penuh yang indah. Santri tidak hanya menghafal kitab, tapi juga menggembala, menanam, menimba air, menyapu halaman, berjualan kecil-kecilan, dan belajar hidup dari hal-hal yang tampak sepele, meraka kadang tidak membawa bekal dari rumah. Di situlah Tuhan bersembunyi, di balik perbuatan yang sederhana tapi tulus, kadangkala santri juga dimintaikut kerja bakti atau biasa disebut ro’an. Mungkin seperti anak sekolah kejurua yang sedang praktik kerja yang kadangkala juga harus terjun ke dunia yang biasanya dikerjakan pekerja dewasa.

Setiap gerak adalah Pelajaran, menimba air menjadi latihan kesabaran. menyapu halaman menjadi latihan keikhlasan. Menanam singkong menjadi latihan bersyukur. Mereka tidak sedang belajar untuk menjadi ustaz, tapi sedang ditempa untuk menjadi manusia mandiri yang siap mengabdi kepada Masyarakat dan tidak menjadi beban negara.

Kisah santri yang membawa singkong kepada kiainya masih sering diceritakan. Bukan karena singkongnya, tetapi karena kesadaran yang tumbuh di baliknya. Santri itu tahu dirinya kecil, tahu dirinya miskin, hanya mempunyai tanaman singkong di kebunnya tapi hatinya besar. Ia ingin membalas budi, tapi tidak tahu caranya. Maka yang dibawanya hanya singkong, hasil dari kerja tangannya sendiri. Santri lain membawa ayam, dari hasil ternaknya, dengan niat yang sama: memberi yang terbaik dari apa yang dimiliki.

Dua persembahan sederhana itu lahir dari cinta, bukan perhitungan. Mereka memberi bukan untuk diingat, tapi untuk bersyukur. Barangkali, jika kelak santri itu menjadi konglomerat, ia akan datang dengan Alphard. Namun di balik kemewahan itu, hatinya tetap membawa cinta yang sama, ketulusan yang tidak berubah bentuk, banyak alumni pesantren yang sukses memberikan yang dia miliki untuk pesatrennya, kadangkala juga kepad kiainya. Mereka menganggap sang kiai merupakan orang tuanya yang juga harus menikmati hasil kesuksesan santri.


Cinta, betapa pun kecil wadahnya, selalu bisa dikenali oleh hati yang bening. Kiai tidak menimbang dengan timbangan pasar. Ia menimbang dengan cahaya. Cahaya itu menembus kulit, tulang, dan pikiran, lalu menyentuh ruang paling sunyi dalam diri manusia: niat. Santri datang membawa cinta. Preman datang membawa harapan akan balasan. Tuhan, melalui tangan kiai, mengembalikan semuanya sesuai kadar ketulusan. Yang memberi dengan ikhlas mendapat berkah yang tak terhitung. Yang memberi dengan perhitungan mendapat sekadar apa yang ia pikirkan.

Ada kisah lain tentang santri penjual buah, ketika dagangannya tidak habis, ia berikan sisa buah itu kepada tetangga. Kiai menasihatinya: lain kali, berikan yang terbaik, bukan yang tersisa. Sejak itu, santri itu mulai memberi buah segar yang baru dibeli kepada tetangga dan kiainya. Aneh tapi nyata, dagangannya justru selalu habis. Logika sederhana tapi ajaib: ketika seseorang memberi yang terbaik, doa orang lain ikut menjadi modal hidupnya. Orang yang diberi buah yang mendekati busuk bisa berdoa, “Semoga besok saya juga mendapatkan rizki seperti ini.” Yang artinya berharap dagangan pemberi ad yang tidak laku, Tapi orang yang diberi buah segar juga akan berdoa, “Semoga besok mendapat rezeki seperti ini.”, artinya dagangan pemberi segera laku dan dapat membeli dagangan yang baru. Mungkin Tuhan memang menyukai logika yang tidak masuk akal bagi manusia: menukar keikhlasan dengan keberkahan.

Namun hidup modern membuat manusia sulit percaya pada keajaiban sederhana seperti itu, banyak yang memberi bukan karena cinta, tapi karena takut rugi, banyak yang berdoa bukan karena rindu, tapi karena takut kehilangan. Hidup pun berubah menjadi semacam perdagangan panjang dengan Tuhan, di mana pahala dan dosa dihitung seperti neraca laba-rugi.

Padahal, cinta sejati kepada Tuhan justru tumbuh ketika manusia berhenti menghitung. Imam Al-Ghazali pernah menulis dalam Ihya Ulumuddin:
“Jika engkau menyembah Allah karena takut neraka, engkau adalah budak.
Jika karena mengharap surga, engkau adalah pedagang.
Tetapi jika engkau menyembah-Nya karena cinta, engkau adalah orang merdeka.”

Merdeka kata yang sederhana tapi berat. Sebab hanya orang yang benar-benar ikhlas yang bisa merdeka dari dirinya sendiri. Kiai dalam kisah itu tidak sedang mengajarkan teori, tapi mencontohkan keikhlasan. Ia memberi kambing kepada dua santri, dan singkong kepada preman, tanpa pertimbangan yang rumit. Ia hanya mengikuti bisikan nurani: bahwa cinta harus dijaga agar tidak berubah menjadi transaksi. Itulah guru sejati yang tidak hanya mengajarkan kebenaran, tapi juga meneladankan cara mencintai dengan benar.

Kiai semacam itu tidak marah ketika muridnya salah, tatapan matanya saja sudah cukup membuat dada bergetar. Tidak ada bentakan, hanya diam yang penuh makna, diam yang membuat seseorang sadar betapa bodohnya telah menyakiti ilmu. Sebab ilmu pun bisa tersakiti. Ia bukan benda mati. Ia adalah cahaya yang bisa padam jika dibawa dengan tangan yang kotor oleh kesombongan.

Dulu, para santri diajari cara memperlakukan kitab: tidak boleh diletakkan di lantai, tidak boleh dilempar di meja, harus dipegang di dada. Dada adalah rumah hati, dan hati adalah tempat ilmu menanamkan akar. Kini, di sekolah-sekolah, banyak murid membawa buku seperti membawa bungkus gorengan. Mereka tidak salah, hanya belum tahu bahwa ilmu bukan sekadar informasi, tapi sesuatu yang hidup dan pantas dihormati.

        Sebuah kitab, meski hanya lembar-lembar kertas berisi huruf dan tanda baca, tetap menjelma cahaya yang menuntun akal menuju pengertian. Ia dihormati bukan karena bentuknya, melainkan karena di dalamnya bersemayam ilmu,  nafas yang menyalakan jiwa. Maka, betapa mulia mereka yang menguraikan makna-makna itu, para kiai dan ustaz yang menjadikan ilmu tampak sederhana agar mudah meresap ke hati para santri. Tak heran bila para santri menaruh hormat dengan cara yang beragam, ada yang mencium tangan, ada yang menundukkan kepala, ada pula yang menjaga diam di hadapan sang guru. Seperti di negeri Jepang yang menundukkan badan sebagai lambang takzim, demikian pula setiap tanah memiliki caranya sendiri dalam menanamkan adab. Namun hakikatnya satu: tunduknya jasad adalah cerminan sujudnya hati kepada ilmu dan sang pembawa cahaya.

Zaman berganti. Santri kini membawa bisa belajar dengan laptop, bukan hanya cangkul. Belajar bisa dilakukan dari layar, bukan lagi dari kebun. Hafal dalil, tapi mungkin bisa jadi tak lagi mengenal aroma tanah basah di halaman pesantren. Tak ada yang salah dengan itu. Setiap zaman punya keutamaannya sendiri. Namun ada satu hal yang yang tak pernah hilang: adab dan rasa terima kasih kepada pesantren dan kiai. Kesederhanaan bukan kemunduran. Ia adalah bentuk tertinggi dari kecerdasan hati. Ia mengajarkan manusia untuk tidak serakah pada dunia, tapi kaya dalam rasa syukur.

Kiai pernah berkata, “Ayah memberimu hidup, tapi guru memberimu arah.” Kalimat itu menggema di sepanjang hidup. Sebab hidup tanpa arah lebih menyakitkan daripada hidup tanpa harta. Guru, dalam bentuk apa pun, adalah cahaya kecil yang menuntun manusia agar tidak tersesat. Ada kiai yang diberi mobil oleh santrinya. Tidak salah jika diterima, tidak salah pula jika ditolak. sebab cinta tidak selalu harus berbentuk benda. Jika terlalu sering dibungkus hadiah, cinta bisa kehilangan arah, berubah dari pengabdian menjadi kebanggaan. Masih banyak kiai yang tetap hidup sederhana, walau bisa hidup mewah. Mereka tidur di ranjang bambu, makan nasi jagung, tapi hatinya lapang seperti langit. Di situlah letak kekayaan sejati: bukan ketika seseorang memiliki banyak hal, tapi ketika ia tidak lagi membutuhkan banyak hal.

Kisah singkong itu mungkin berakhir di pesantren, tapi maknanya berjalan jauh, menyusup ke hati siapa pun yang mau merenung. Sebab Tuhan tidak menilai jumlah, melainkan arah tangan saat memberi. Apakah tangan itu memberi karena cinta, atau karena hitungan. Mungkin di mata Tuhan, sebiji singkong yang lahir dari cinta jauh lebih harum daripada istana yang dibangun dari pamrih.

Dan ketika malam turun perlahan, seperti tinta hitam yang menetes di atas kertas sunyi, kisah itu hidup kembali. Suara kentongan subuh terdengar dari kejauhan, seperti panggilan yang mengingatkan manusia pada hal-hal yang dulu sederhana tapi kini terasa mewah: cinta tanpa pamrih, ilmu yang dijaga dengan hormat, dan kesadaran bahwa yang kecil pun bisa berarti besar, jika dibawa dengan hati yang bersih.

 

Penulis adalah ASN / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Lantik 34 Pejabat, Bupati Ipuk Minta Perkuat Kolaborasi di Tengah Pengurangan Transfer Pusat

BANYUWANGI (Warta Blambangan) - Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani melantik 34 pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Administrator dan Pengawas, di lingkungan Pemkab Banyuwangi, di GOR Tawangalun Banyuwangi, Rabu (15/10/2025). Dalam pelantikan itu Ipuk berpesan untuk memperkuat kolaborasi dan inovasi di tengah pengurangan dana transfer pusat ke daerah (TKD). 



Pada 2026 dana transfer pusat ke Banyuwangi turun hampir 20 persen, yakni sekitar Rp 665 miliar. 


"Ini adalah tantangan besar buat kita semua. Bagaimana dengan berkurangnya transfer pusat ke daerah tidak mengurangi pelayanan dasar. Layanan publik dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan lingkungan tidak boleh terganggu harus tetap berjalan dengan baik," kata Ipuk.


Karena itu di tengah tantangan tersebut, menurut Ipuk kuncinya adalah kolaborasi dan inovasi. "Bagaimana di tengah berkurangnya transfer pusat, kita semua harus lincah menemukan solusi yang bisa mempercepat kerja kita tanpa harus menambah biaya," tambah Ipuk.


Dalam pelantikan itu, Bupati Ipuk melantik sejumlah pejabat di antara pejabat yang dilantik adalah Amir Hidayat sebagai Kepala Dinas Kesehatan, serta dr Siti Asiyah Anggraeni sebagai Wakil Direktur Pelayanan dan Penunjang sekaligus Plt Direkrut RSUD Blambangan, serta sejumlah camat dan lurah.  


Ipuk mengatakan rotasi jabatan ini dilakukan untuk penyegaran agar mencapai kinerja yang terbaik.


"Mudah-mudahan kinerjanya semakin lebih baik dan capaian kinerjanya semakin lebih meningkat lagi,” harap Ipuk.


Dia mengingatkan setiap posisi yang diterima merupakan hasil dari proses panjang, evaluasi, dan penilaian terhadap kinerja, bukan karena kedekatan pribadi.

"Jabatan ini bukan atas bantuan dari seseorang, tapi karena kinerja masing-masing. Bukan karena kedekatan dengan bupati. Saya pastikan bahwa penunjukan ibu bapak semua bebas dari uang atau dana yang diperuntukkan untuk saya," tutup Ipuk. (*)

Puisi Bahasa Osing Guritan Sangang Puluh Sanga (99) Karya Jaenuri Diluncurkan Kadispendik Banyuwangi

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Di tengah aroma tanah kenangan Lemahbangdewo yang akrab dengan kenangan masa kecil, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, H. Suratno, S.Pd., M.M., membuka peluncuran buku puisi berbahasa osing karya Drs. Ir. Jaenuri NZ., M.Pd., bertajuk Guritan Sangang Puluh Sanga (99). Acara berlangsung hangat di LKP TBM ELIT Rogojampi, dihadiri para guru, seniman, dan tokoh kebudayaan Using Banyuwangi.

Suasana menjadi syahdu ketika Suratno secara spontan membacakan puisi berjudul Guru dalam Undharasa Using. Dengan kefasihan yang mengalir alami, ia mendapat tepuk tangan panjang dari audiensi. “Saya tumbuh di Lemahbangdewo, diasuh Mbah Cilik. Masa kecil saya penuh dialek osing. Maka ketika membaca puisi osing, saya seperti pulang,” ujarnya dengan mata berkaca.b


Dalam sambutannya, Kadispendik menegaskan bahwa karya Jaenuri bukan sekadar buku puisi, tetapi juga “peluru kultural” dalam perjuangan agar Bahasa osing diakui sebagai bahasa yang berdiri sendiri, bukan sekadar dialek Jawa seperti tertulis dalam regulasi provinsi. Ia meminta K3S dan MGMP Bahasa osing menjadikan buku ini sebagai referensi bahan ajar. “Anak-anak osing harus bisa membaca puisinya sendiri,” tegasnya.

Peluncuran buku ditandai dengan penandatanganan banner bergambar sampul karya. Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Taufik Rachman, M.Si., memuji konsistensi Jaenuri yang setiap ulang tahun selalu menerbitkan buku tunggal—tanpa antologi gabungan. “Karya ini bagian dari nguri-nguri pesan leluhur. Ia menulis bukan karena tren, tapi karena panggilan darah osing-nya,” tutur Taufik, seraya berharap buku tersebut kelak mendapat penghargaan Bupati pada Hari Jadi Banyuwangi.

Jaenuri, yang dikenal sebagai penulis lintas profesi, guru, dosen, dan pegiat komunitas—menyebut buku 99 ini sebagai kado untuk dunia pendidikan Banyuwangi. Ia ingin di era digital yang kian deras, anak-anak muda tidak tercerabut dari akar bahasanya. Buku ini tidak dijual, melainkan akan disumbangkan ke perpustakaan sekolah. “Biarlah nanti, empat atau lima tahun mendatang, buku ini hidup di format e-book Dinas Perpustakaan,” ucap kakek dari Arjun, Tribuana, Panjalu, dan Jayabaya ini.

Hadir pula Ketua Kiling Using, Aekanu Haryono, yang mengaku gembira karena “pecut semangat” yang dulu ia berikan membuahkan karya besar. “Prof Nuri,” sapanya akrab, “adalah contoh penulis yang mau ngopi jauh demi silaturahmi dan menulis tanpa henti.”

Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, menambahkan bahwa karya semacam ini perlu terus hidup. “Meski masih ada perdebatan tentang status Bahasa Osing—bahasa atau dialek—kita perlu mengapresiasi setiap upaya pelestarian bahasa lokal melalui karya sastra. Banyuwangi butuh lebih banyak puisi seperti ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Drs. Hasan Basri, menilai Jaenuri membawa semangat “Ksatria Satrian”—nekat, teguh, dan percaya bahwa sastra bisa menjadi wujud keberanian spiritual.

Apresiasi juga datang dari Ketua MGMP Bahasa osing SMP, Yeti Chotimah, S.Pd., M.Art., dan Ketua Komunitas Kopiwangi, Andi Budi Setiawan, S.Pd., yang menilai karya ini mampu menyalakan semangat literasi di kalangan guru dan siswa. Buku yang dieditori Rhiza E. Purwanto, M.A., dan telah ber-ISBN 978-634-7376-19-0 ini pun menjadi simbol bahwa sastra osing bukan sekadar nostalgia, melainkan gerakan kultural yang hidup dan terus menulis sejarahnya sendiri.

(Bung Aguk/AM/JN-SW)

Selendang Sang Gandrung

 Selendang Sang Gandrung

Oleh: Syafaat

Malam di stadion Diponegoro Banyuwangi, (perlu saya tulis kata Banyuwangi, karena nama stadion tersebut tidak menggunakan nama pahlawan dari Banyuwangi), seperti tubuh raksasa yang bernafas pelan, lampu-lampu sorot menggantung di udara, memantulkan cahaya ke seribu lebih penari yang tengah berlatih. Di atas tanah yang berdebu, mereka bergerak serempak: mengangkat tangan, memutar tubuh, mengibaskan selendang merah yang berkibar seperti nyala api yang tak pernah padam.

Mereka menari bukan untuk memanggil tepuk tangan, mereka menari untuk memanggil sesuatu yang lebih tua dari mereka, sesuatu yang hidup dalam ingatan tanah Banyuwangi, yang bersemayam di setiap desir angin dari Ijen hingga pantai Boom.

Tema tahun ini: Selendang Sang Gandrung, sebuah nama yang terdengar manis di lidah, tapi sesungguhnya seperti sisipan mantra. Ada kisah lama yang beredar di bumi Blambangan, bahwa selendang pertama milik penari Gandrung bukanlah kain biasa. Ia bukan dijahit, melainkan “lahir” dari kabut dini hari di lereng gunung ijen. Menurut cerita para tetua, selendang itu bukan sekedar kain, tetapi juga ada mantra jelmaan embun yang menyerap doa para petani, lalu mengering di bawah sinar matahari pertama, sejak itu, siapa pun yang mengenakannya dalam tarian, akan membawa suara tanah, laut, dan langit ke dalam geraknya.v


Konon, sebelum ada istilah “Gandrung Sewu”, sudah ada penari yang menari di tepi pantai, dalam beberapa ritual, seperti petik laut. Ia tidak diketahui namanya, hanya dengan panggilan Sang Penari. Ia menari di antara suara ombak, mengibaskan selendang merah yang seakan berbicara dengan angin, setiap kibasan adalah doa, setiap ayunan tangan adalah pengingat bahwa manusia dicipta bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk mengucap syukur dengan cara yang indah.

Ketika orang-orang meniru geraknya, mereka menyebutnya “tarian Gandrung”, tarian yang lahir dari rasa cinta, dari pesona, dari keterpesonaan kepada kehidupan itu sendiri.

Kini, beberapa tahun kemudian, ribuan anak muda berdiri di bawah lampu stadion dengan selendang yang sama warnanya: merah darah, merah cinta, merah semangat, mereka datang dari berbagai daerah, dari Malang, Kediri, Bali, Situbondo, bahkan Papua dan Sumatera Selatan.

Tak ada yang bertanya siapa mereka, dari suku apa, dari agama mana. Yang penting adalah bagaimana mereka bisa menari dalam satu napas, satu irama, satu kesatuan, di udara malam yang hangat, selendang itu bergetar seperti gelombang laut, dari atas drone, formasi mereka tampak sempurna: lautan merah dan kipas putih yang menyala di tengah gelapnya tanah. Tapi jika dilihat lebih dekat, setiap penari memiliki caranya sendiri untuk menafsirkan gerak, ada yang lembut seperti kabut pagi, ada yang kuat seperti ombak pasang. Di sanalah rahasia Gandrung bersemayam: keindahan lahir bukan dari keseragaman, melainkan dari keragaman yang bergerak dalam satu harmoni.

Para tetua di Blambangan percaya, setiap kali ribuan penari mengibaskan selendang merah bersama-sama, arwah para leluhur akan turun menonton, bukan dalam bentuk hantu, tapi dalam bentuk angin lembut yang menyentuh kulit, membuat bulu tangan berdiri tanpa sebab. Itu bukan rasa dingin, itu getaran restu.

Sebab bagi orang Banyuwangi, tarian bukan hiburan. Ia adalah bahasa doa, setiap gerak tangan, setiap langkah kaki, setiap senyum di wajah penari, adalah bagian dari zikir panjang yang disampaikan kepada alam semesta.

Ketika selendang dikibaskan ke kanan, itu tanda penghormatan, ketika dikibaskan ke kiri, itu tanda penolakan terhadap bala.

Ketika diangkat ke atas, itu tanda kesetiaan pada langit dan tanah tempat mereka berpijak.

Maka jangan heran, jika di tengah latihan, selalu ada momen ketika seseorang tiba-tiba menitikkan air mata tanpa tahu sebabnya. Mungkin karena selendang itu masih menyimpan suara masa lalu, suara laki-laki dan perempuan kuat yang dulu menari di tengah hutan, membawa pesan perlawanan dalam kelembutan gerak.

Dalam pandangan para penari tua, selendang adalah bagian tubuh kedua. Ia hidup ketika disentuh, ia bernyanyi ketika digerakkan, bahkan ada kepercayaan lama, bahwa jika seorang penari meletakkan selendangnya di tanah dengan hati yang gelisah, maka tanah akan bergetar pelan, seolah tidak rela menerima benda yang membawa jiwa.

Selendang bukan milik pribadi. Ia adalah perpanjangan dari cinta kolektif, karena itu, warnanya tidak pernah benar-benar sama, di bawah cahaya, merahnya kadang tampak oranye, kadang darah tua, kadang seperti bunga flamboyan yang baru mekar.

Seperti kehidupan: satu warna yang terus berubah, tapi tak pernah kehilangan maknanya.

Mitos lain mengatakan, warna merah pada selendang Gandrung berasal dari darah para pejuang Blambangan yang tumpah di Padang Puputan, ketika mereka melawan pasukan kompeni.

Ketika perang usai dan tanah menjadi gelap, seseorang mngangkat kain putih yang menjadi warna merah darah. “Agar tanah ini tak lupa, dengan perjuangan leluhurnya” katanya.

Sejak itu, merah menjadi warna abadi dalam setiap selendang Gandrung, warna keberanian yang disembunyikan di balik kelembutan.

Itulah paradoks yang indah dari Banyuwangi: bahwa kelembutan tidak pernah berarti lemah. Justru dari kelembutanlah lahir kekuatan yang paling murni.

Seperti doa yang berbisik di malam hari, tak terdengar keras tapi mampu mengguncang langit.

Anak-anak kecil yang menari di barisan depan disebut “penjaga gerbang tari”. Mereka adalah simbol kemurnian, lambang masa depan, mengajari mereka menari bukan perkara mudah, tetapi para pelatih tahu: kesalahan anak-anak tidak pernah dianggap dosa, melainkan keindahan yang belum sempurna.

Kesalahan orang dewasa adalah kehancuran formasi, dan kesalahan anak-anak adalah bagian dari kejujuran hidup itu sendiri.

Para penari Gandrung belum dianggap penari sebelum mengikuti wisuda, ritual meras Gandrung merupakan keniscayaan sebelum benar-benar dianggap penari. Begitulah Banyuwangi memahami kesatuan: tidak dari kesempurnaan, tapi dari penerimaan terhadap ketidaksempurnaan, seperti selendang yang kadang terlepas dari bahu, tapi tetap indah ketika diayunkan kembali.

Di tepi pantai nanti, ketika Gandrung Sewu digelar, seribu lebih selendang akan melambai bersamaan, dari jauh, mereka tampak seperti sayap burung merah yang menari di atas ombak. Langit, laut, dan bumi akan menjadi satu panggung, dan di tengah itu semua, mungkin roh Sang Penari pertama akan menampakkan diri, bukan dalam wujud manusia, tapi dalam bentuk bayangan di antara cahaya senja, atau desir angin yang membelai rambut penari muda.bIa tidak datang untuk menakuti. Ia datang untuk mengingatkan: bahwa setiap gerak adalah doa, setiap tari adalah persembahan, dan setiap selendang adalah kitab yang menulis ulang sejarah dengan bahasa tubuh.

Dalam keheningan itu, mungkin terdengar tembang Gurit Mangir, tembang lama yang dinyanyikan dengan suara serak para sinden dewasa. Tembang itu bercerita tentang perempuan yang menenun cahaya fajar menjadi kain, lalu menyerahkannya kepada bumi agar manusia tidak lupa menari. Setiap nada dari tembang itu seperti benang takdir yang menautkan masa lalu dan masa kini.

Dan di sanalah, Selendang Sang Gandrung menjadi lebih dari sekadar tema pertunjukan: ia menjadi mitos yang hidup.

Jika ditanya apa makna selendang Gandrung, mungkin tak seorang pun bisa menjawab dengan kalimat tunggal, bagi sebagian orang, ia adalah simbol cinta, bagi yang lain, simbol perjuangan.

Bagi para penari muda, mungkin hanya kain merah yang wajib dibawa di setiap latihan, tetapi bagi tanah Banyuwangi, selendang itu adalah nadi yang masih berdenyut, nadi yang menghubungkan manusia dengan leluhurnya, masa kini dengan masa lalu, menghubungkan tubuh dengan jiwa.

Malam di stadion itu akhirnya berakhir, penari satu per satu keluar arena. Tapi di udara, masih tersisa gema gerak dan suara angin yang mengusap pelan, selendang merah yang tadi melambai kini terlipat rapi di dada para penari. Tapi entah mengapa, dalam kegelapan yang tiba-tiba sunyi, terasa seolah selendang itu masih hidup, bergetar lembut di antara dada mereka, seperti masih menari sendiri dalam diam. Mungkin karena selendang itu memang bukan kain. Ia adalah jiwa yang menyaru menjadi kain, agar manusia tak lupa menari di dunia yang semakin sibuk berjalan.

Dan mungkin, di ujung waktu nanti, ketika dunia berhenti berputar dan cahaya terakhir meredup, akan tampak satu sosok penari terakhir, berdiri di tepi laut Banyuwangi, mengibaskan selendang merahnya untuk terakhir kali, sebagai tanda bahwa manusia pernah menari dengan penuh cinta di bumi ini.

Sebab selendang sang Gandrung bukan sekadar kain. Ia adalah doa yang menari di antara dua dunia: dunia manusia yang fana, dan dunia roh yang abadi.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger