Pages

Kasih Sayang Yang Menembus Batas

 

Kasih Sayang Yang Menembus Batas

Oleh : Chaironi Hidayat


Pagi selepas dhuha, masjid kecil di sudut kantor terasa teduh. Cahaya matahari menembus kisi-kisi rintik mendung, menimpa sajadah yang masih hangat oleh sujud duha. Udara di dalamnya hening, hanya suara detik jam dinding yang terdengar samar. Dalam keteduhan itu, sebuah kisah lama teringat dan tersampaikan kembali, kisah yang tak pernah usang, sebab diulang oleh hati setiap kali manusia merindukan teladan. Kisah tentang Nabi Muhammad Saw. 


Beliau, setiap pagi dan sore, datang membawa makanan untuk seorang pengemis buta beragama Yahudi. Dengan sabar dan lembut, beliau menyuapkan makanan ke mulut lelaki tua itu. Namun lidah si pengemis tak berhenti mencela. Ia menuduh Muhammad sebagai tukang sihir, pengadu domba, pembawa kerusakan. Ia bahkan melaknat nama yang justru setiap hari membawanya pada kenyang. Ia tidak tahu, orang yang selalu hadir dengan tangan penuh cinta adalah sosok yang ia hina. Tetapi Rasulullah tidak pernah marah. Tidak pernah berhenti datang. Tidak pernah berhenti memberi. Tidak pernah berhenti menyayangi.

Dari kisah itu, jelaslah: cinta Nabi melampaui sekat keyakinan, dinding prasangka, bahkan luka hati yang ditorehkan manusia kepadanya. Kasih sayang yang beliau hadirkan bukanlah kasih sayang bersyarat, bukan pula cinta yang menunggu balasan. Ia adalah mata air yang terus memancar, bahkan ketika batu menghantamnya. Semakin keras dunia mencoba melukai, semakin lembut pula beliau membalas dengan doa. Semakin dalam luka yang ditorehkan manusia, semakin luas pula samudra ampunannya membentang.

Dari kisah itu, teranglah sudah: cinta Nabi bukanlah cahaya yang dibatasi jendela sempit keyakinan, bukan pula api yang padam oleh tiupan prasangka. Ia menjelma pelukan luas yang merengkuh siapa saja, bahkan mereka yang pernah menaburkan garam di luka hatinya. Dalam kehangatan cinta itu, tidak ada wajah yang ditolak, tidak ada tangan yang dihindari. Semua disapa dengan kelembutan, semua direngkuh dengan rahmat. Kasih sayang beliau adalah angin yang berhembus tanpa memilih rumah mana yang akan disinggahi. Ia mengetuk hati yang keras, menyejukkan jiwa yang resah, dan menghidupkan kembali nurani yang nyaris padam. Seperti matahari yang menyinari tanpa membeda-bedakan, cinta Nabi hadir untuk semua, tak peduli apakah ia disambut dengan syukur atau ditanggapi dengan caci, kisah itu menjadi cermin bagi kita: betapa kecil cinta kita dibanding cinta beliau, betapa dangkal sabar kita dibanding sabar beliau. Sementara dunia mudah menumbuhkan dendam, beliau justru mengajarkan bahwa kasih yang sejati adalah kasih yang tetap mengalir, bahkan di tengah badai kebencian. Cinta Nabi adalah rahmat yang melintasi batas, pelajaran abadi bagi hati-hati yang ingin belajar menyalakan cahaya ketulusan.Saya teringat pula peristiwa hijrah. Kaum Anshar di Madinah menyambut para Muhajirin dengan dada terbuka. Mereka membagi rumah, tanah, pekerjaan, bahkan, dalam praktik zamannya, bersedia berbagi istri demi menjaga kelanjutan hidup saudaranya. Kini terdengar ekstrem, tetapi di sanalah saksi sejarah yang memperlihatkan betapa kasih sayang menyingkirkan rasa memiliki. Apa yang ada bukan lagi “milikku”, melainkan “milik kita.” Orang-orang luar Madinah yang menyaksikan kedekatan itu berkata lirih, penuh takjub: “Aku belum pernah melihat manusia mencintai orang lain sebagaimana sahabat Muhammad mencintai Muhammad.”

Cinta itu bukan sekadar penghormatan, bukan sekadar pengagungan. Ia adalah kerinduan yang tak ingin berpisah. Bahkan ada sahabat yang berucap: “Ya Rasul, aku ingin masuk surga hanya jika dapat bersamamu. Jika tidak, biarlah aku tidak masuk.”Beginilah cinta yang tak lagi mencari imbalan. Ia menjelma sebagai ikatan yang melampaui hidup dan mati, dunia dan akhirat.

Kemudian ingatan beralih kepada Umar bin Khattab, sahabat Nabi, sosok yang keras seperti baja yang ditempa api, seorang lelaki padang pasir yang disegani karena keberaniannya memburu singa di tengah sunyi gurun. Ketegasannya dahulu membuat namanya bergetar di telinga banyak orang. Namun lihatlah, ketika Islam mengetuk pintu hatinya, bara yang dahulu menyala sebagai amarah berubah menjadi cahaya yang teduh. Dari lelaki yang tegas, ia menjelma pemimpin yang lembut, seorang khalifah yang menundukkan kekuasaan di hadapan kasih. Ukurannya sederhana, namun menghunjam: jika seorang pejabat tak mampu menyayangi istri dan anak-anaknya, bagaimana mungkin ia bisa menyayangi rakyat? Umar menimbang kepemimpinan bukan dari jubah kebesaran, bukan dari gelar atau jabatan, melainkan dari cinta yang hidup di dalam rumah. Baginya, rumah adalah cermin kekuasaan: bila congkak dan angkuh di hadapan keluarga, bagaimana mungkin ia bisa adil dan rendah hati di hadapan rakyat? Karena itu, Umar tanpa ragu memecat pejabat yang gagal menanam kasih di rumahnya sendiri, sebab kepemimpinan sejati lahir dari kelembutan, bukan dari teriakan kuasa.

Dan demikianlah Umar bin Khattab berdiri sebagai teladan: keras pada kezaliman, namun lembut pada rakyatnya; tegas pada pengkhianatan, namun penuh kasih kepada yang lemah. Ia memahami bahwa seorang pemimpin bukanlah singa yang menerkam, melainkan pohon yang menaungi. Dari tangannya, lahir keadilan yang berakar pada cinta. Dari hatinya, mengalir kasih sayang yang menyejukkan negeri. Dalam dirinya, kekuatan dan kelembutan bersatu, menjadi pelajaran abadi bahwa kuasa tanpa kasih hanyalah tirani, sementara kasih tanpa kuasa hanyalah impian. Umar menghadirkan keduanya, dan dengan itu, sejarah mengenangnya sebagai pemimpin yang dibangun dari cinta yang kokoh.Ada paradoks yang indah: manusia yang dulu dikenal tegas dan garang justru menjadi lambang welas asih setelah mengenal Nabi. Kasih sayang mampu menundukkan kekerasan, sebagaimana air menundukkan api.

Semua kisah itu menyadarkan bahwa cinta dan kasih sayang bukan tambahan dalam kehidupan, melainkan inti. Kantor tanpa kasih hanyalah mesin berisik yang menggiling manusia. Ibadah tanpa kasih hanyalah gerakan tubuh tanpa jiwa. Hidup tanpa kasih hanyalah rutinitas yang perlahan melahirkan kehampaan.

Allah sendiri mengajarkan doa lembut di ujung surah Al-Baqarah:

*“Rabbana la tu’akhidzna in nasina aw akhta’na…”*

“Ya Allah, jika kami lupa atau salah, janganlah Engkau siksa kami.”

Doa itu sederhana, tetapi mengandung pengakuan paling jujur: bahwa manusia lemah, sering lalai, mudah keliru. Dan Allah, dengan kasih sayang-Nya, memilih untuk memaafkan. Rasulullah pun sangat menyukai doa itu, karena ia menggambarkan betapa Tuhan lebih memilih mengampuni daripada menghukum. Maka bukankah kita pun seharusnya demikian? Lebih memilih memaafkan daripada menyimpan dendam. Lebih memilih merangkul daripada menolak. Lebih memilih menyayangi daripada membenci.

Seandainya kasih sayang dijadikan pedoman, mungkin kita tak perlu banyak undang-undang, tak perlu aturan yang mengekang. Karena hati yang dipenuhi kasih akan lebih taat daripada sekian banyak pasal dan pasal. Ia akan menjaga tangan dari menyakiti, menjaga lidah dari menyakiti, menjaga langkah dari merugikan. Ia adalah pagar tak kasatmata yang lebih kokoh daripada tembok penjara. Maka tinggal kita, manusia-manusia hari ini, yang perlu menjawab: apakah mau melanjutkan teladan itu? Apakah kita rela menjadikan kasih sayang sebagai nafas yang mengiringi setiap detik kehidupan? Jika iya, dunia akan menjadi taman yang lebih hijau, hati akan menjadi telaga yang lebih jernih, dan jiwa-jiwa akan menemukan rumahnya dalam damai. Sebab kasih sayang adalah cermin dari rahmat Ilahi, yang diturunkan untuk meliputi seluruh alam.Pagi itu, di masjid kecil yang sederhana, saya merasa sedang belajar ulang menjadi manusia. Bukan manusia yang hanya pandai bekerja. Bukan manusia yang hanya rajin beribadah. Melainkan manusia yang tahu bagaimana caranya mencintai. Kasih sayang, ternyata, adalah jantung kehidupan. Ia bukan sekadar bunga di pinggir jalan yang mudah dipetik dan mudah layu. Ia adalah akar yang menancap dalam, memberi napas pada setiap helai daun kehidupan. Dan mungkin, pada akhirnya, hanya kasih sayanglah yang akan kita bawa pulang. Segala harta, kedudukan, ilmu, prestasi, semua akan ditinggal. Tetapi kasih sayang yang pernah kita taburkan, akan kembali kepada kita. Ia menjadi cahaya yang tidak padam, meski matahari dunia telah lama tenggelam.

Di masjid kecil sederhana, dengan dinding-dindingnya yang penuh bekas sujud dan udara harum oleh doa, saya merasa sedang belajar ulang menjadi manusia. Bukan manusia yang hanya pandai bekerja, mengejar angka dan prestasi, lalu pulang dengan dada kosong. Bukan pula manusia yang hanya rajin beribadah dengan bibir yang bergetar melafalkan doa, sementara hatinya masih beku dan keras. Tetapi manusia yang benar-benar mengerti bagaimana caranya mencintai—mencintai tanpa syarat, tanpa hitungan untung-rugi, mencintai dengan hati yang lapang seperti langit. Kasih sayang, ternyata, adalah jantung kehidupan. Ia bukan sekadar bunga di pinggir jalan yang mudah dipetik lalu mudah layu. Ia adalah akar yang menancap dalam, yang diam-diam memberi napas pada setiap helai daun kehidupan. Tanpa akar itu, pohon akan mati; tanpa kasih sayang, manusia hanya tinggal raga yang kering. Kasih sayanglah yang menjadikan rumah terasa rumah, pekerjaan terasa ibadah, dan ibadah terasa hidup.

Di bawah kubah masjid Kementerian Agama, kita memahami bahwa kasih sayang adalah perpanjangan tangan dari rahmat Allah. Ia mengalir melalui tatapan lembut seorang ibu, melalui genggaman tangan seorang sahabat, melalui maaf yang diberikan kepada orang yang pernah melukai. Ia adalah bahasa ilahi yang diturunkan agar manusia tak hidup sebagai serigala yang memangsa, tetapi sebagai saudara yang saling menguatkan. Kasih sayang juga adalah cermin dari ibadah sejati. Sujud tanpa kasih sayang hanya menyentuh lantai, bukan menyentuh langit. Zikir tanpa kasih sayang hanya bunyi bibir, bukan cahaya yang menenangkan. Ilmu tanpa kasih sayang hanyalah pedang yang tajam, bukan lentera yang menerangi. Maka, belajar mencintai sesama adalah bagian dari belajar mencintai Sang Pencipta.

Di masjid kecil itu, kita seakan diajak untuk menanam kembali akar-akar kasih sayang dalam hati sendiri. Agar doa-doa tak hanya melangit, tetapi juga menetes menjadi air sejuk bagi sesama. Agar kerja tak hanya menghasilkan harta, tetapi juga kebahagiaan bagi orang lain. Agar hidup tak hanya panjang diukur waktu, tetapi dalam diukur kasih. Sebab pada akhirnya, kasih sayang adalah detak yang membuat kehidupan terus berdiri dan tanpa kasih, hidup hanyalah bayangan yang kosong.

Kasih sayang adalah bahasa universal, yang dimengerti siapa saja tanpa perlu diterjemahkan. Ia merayap halus menembus batas agama, bangsa, dan pandangan hidup. Anak kecil merasakannya dari senyum ibunya. Seorang asing merasakannya dari uluran tangan yang tak ia duga. Bahkan musuh sekalipun dapat luluh ketika dihadapkan pada kasih sayang yang tulus. Nabi telah mencontohkan: beliau berdoa untuk mereka yang menyakitinya, beliau tersenyum kepada mereka yang memusuhinya. Para sahabat meneladani: Umar yang keras menjadi lembut, Abu Bakar yang penuh welas asih menjadi sandaran umat, Ali yang penuh hikmah menebarkan ilmu bersama kasih.


Duha pagi, 29 Agustus 2025

BCM Banyuwangi Creative Market Padukan Kreativitas, Semangat Kemerdekaan, dan Sosialisasi P4GN

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Suasana Taman Sritanjung dan Taman Blambangan Banyuwangi pada akhir pekan, Sabtu–Minggu (24–25/8/2025), bergelora dengan kehadiran Banyuwangi Creative Market (BCM). Ribuan warga memadati lokasi untuk menyaksikan perhelatan akbar yang kali ini tampil berbeda: memadukan kreativitas UMKM, semangat peringatan HUT RI ke-80, serta sosialisasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).v


Ketua BCM, Rahmat, menyebut kegiatan kali ini penuh energi dan sangat bermanfaat.

“Alhamdulillah, kegiatan luar biasa. Semangatnya meledak, apalagi dengan tambahan sosialisasi P4GN yang benar-benar membuka mata. Banyak informasi penting yang bermanfaat bagi para pelaku UMKM. Sosialisasi semacam ini harus terus digencarkan,” ujarnya penuh semangat.

Meskipun omzet pelaku UMKM pada Agustus sedikit menurun akibat masyarakat sibuk dengan euforia kemerdekaan, Rahmat memastikan kondisi usaha tetap tangguh. “Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, levelnya masih sama. Agustus biasanya turun, tapi semangat UMKM tidak pernah padam,” tambahnya.

Kemeriahan BCM semakin terasa karena para pedagang tampil dengan busana adat tradisional dan kostum pejuang kemerdekaan. Dari batik Jawa, udeng Bali, sarung Madura, hingga pakaian adat dari wilayah timur Indonesia, semuanya menyatu dalam lautan warna yang menegaskan kebhinekaan. Suasana perjuangan tempo dulu seakan hidup kembali, berpadu dengan kreativitas masa kini.

Tak sekadar transaksi jual beli, BCM juga menghadirkan ruang edukasi dan kampanye sosial. Melalui sosialisasi P4GN, para pelaku UMKM dibekali pemahaman tentang bahaya narkoba dan dampaknya terhadap generasi muda. Muhammad Hakim Said dari Yayasan Rumah Kebangsaan Banyuwangi menegaskan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam pencegahan narkoba.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi rakyat. Kalau mereka sehat dan bersih dari narkoba, otomatis masyarakat juga kuat. Kita tidak boleh lengah, karena narkoba bisa menyasar siapa saja, termasuk kalangan pelaku usaha,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kegiatan BCM menjadi momentum penting untuk menggabungkan promosi ekonomi kreatif dengan gerakan sosial. “Kami berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat sehingga Banyuwangi benar-benar bisa terbebas dari darurat narkoba,” tegas Hakim Said.

BCM pun kembali membuktikan dirinya sebagai motor penggerak UMKM sekaligus panggung perjuangan budaya dan sosial. Dengan dukungan penuh pemerintah daerah, Rahmat optimistis BCM akan terus melahirkan inspirasi dan membawa UMKM Banyuwangi naik kelas.

“Harapan ke depan tetap sama: pemerintah daerah terus mendukung. Karena dari sinilah UMKM kita akan semakin kuat,” pungkasnya.

Di tengah semarak peringatan 80 tahun kemerdekaan RI, BCM tampil bukan sekadar pasar kreatif, melainkan simbol perlawanan terhadap narkoba, wujud persatuan budaya, sekaligus kebangkitan ekonomi rakyat Banyuwangi.

FGD Kampung Moderasi Beragama Karangrejo Dorong Harmoni Tanpa Diskriminasi

Banyuwangi (Bimas Islam) Aula atas Hoo Tong Bio Karangrejo menjadi tempat terselenggaranya Focus Group Discussion (FGD) Kampung Moderasi Beragama yang digelar Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Jumat (22/08/2025). Kepala seksi bimbingan masyarakat Islam H Mastur menyampaikan bahwa Kegiatan ini bertujuan memperkuat harmoni dan meneguhkan ruang aman tanpa diskriminasi bagi seluruh pemeluk agama. 


Acara dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Subbagian Tata Usaha, H. Moh. Jali, M.Pd.I. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa semua umat beragama harus mendapat ruang aman dalam mengekspresikan identitasnya dengan nyaman. “Sebarkan harmoni untuk Indonesia. Menteri Agama telah menggagas kurikulum cinta, ukhuwah Islamiyah, serta membangun kebersamaan bangsa agar negeri ini selalu dipenuhi berkah,” ujarnya.

FGD menghadirkan beragam tokoh lintas agama. Dari Penyelenggara Hindu, Okson Wibawa menyampaikan bahwa Kampung Moderasi akan bermanfaat besar agar kerumunan konflik tidak muncul, bahkan bisa menjadi teladan bagi daerah lain. Ia menekankan ajaran Hindu “Kamu adalah aku dan aku adalah kamu” sebagai dasar persaudaraan.

Perwakilan Kristen, Pendeta Amati Zendrato, menuturkan bahwa pembangunan gereja di Kelurahan Karangrejo tidak menemui kendala meski masyarakat mayoritas beragama Islam. “Ini bukti nyata moderasi telah berjalan baik. Kami juga mengusulkan agar moderasi beragama diintegrasikan dalam pendidikan sekolah, agar tidak ada lagi  bullying kepada anak karena agama ” ujarnya.

Dari unsur Katolik, tokoh bernama Anies Komaireng memberikan masukan agar jabatan penyelenggara Katolik segera diisi pejabat definitif yang beragama Katolik. “Yang paling paham tentang Katolik tentu orang Katolik sendiri, sehingga pelayanan bisa lebih optimal,” katanya.

Sementara itu, penyuluh agama Buddha, Saryono, mengapresiasi tinggi kegiatan ini. Menurutnya, moderasi beragama merupakan wujud nyata persiapan umat manusia menuju harmoni. Ia menegaskan dalam ajaran Buddha ada larangan keras untuk membunuh makhluk hidup, yang sejalan dengan semangat perdamaian.

Camat Banyuwangi, H. Hartono, M.Si, berharap kegiatan serupa tidak hanya berhenti di Karangrejo, namun diperluas ke wilayah lain. “Moderasi harus menyentuh masyarakat lebih luas agar benar-benar menjadi budaya bersama,” ujarnya.

Dalam forum, Ketua Pulma, Samsul Huda, juga menyinggung soal penggunaan pengeras suara di masjid dan mushola. Ia mengingatkan agar peraturan Menteri Agama tentang tata cara penggunaan pengeras suara dipatuhi dengan bijak. “Pemerintah kecamatan juga diharapkan ikut mengawasi agar pelaksanaannya tidak menimbulkan gesekan,” katanya.

FGD ditutup dengan kesepahaman bahwa moderasi beragama adalah tanggung jawab bersama, lintas agama, dan lintas sektor. Dengan begitu, Karangrejo diharapkan menjadi contoh nyata harmoni kehidupan beragama yang aman, damai, dan penuh toleransi.

Halal Center UNIBA Siap Fasilitasi Sertifikasi Halal UMKM Banyuwangi

Banyuwangi –(Warna Blambangan) Halal Center Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA) menegaskan komitmennya dalam mendukung program pemerintah terkait percepatan sertifikasi halal bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ketua Halal Center UNIBA sekaligus Ketua Lembaga Pemeriksa Proses Produk Halal (LP3H), Dr. Novi Prayekti, menyatakan kesiapan lembaganya untuk memfasilitasi pengurusan sertifikat halal, khususnya melalui skema sertifikasi halal gratis (Sehati).


Hal ini disampaikan Novi saat menghadiri Temu Wicara Pengawasan Halal bersama pelaku usaha yang digelar di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Kamis (21/8/2025). Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota DPR RI Komisi VIII, Ina Ammania, dan diikuti jajaran pemerintah daerah, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, serta ratusan pelaku UMKM.

Dalam kesempatan itu, Novi didampingi oleh dua Pendamping Proses Produk Halal (P3H), yakni Syafaat yang sehari-hari bertugas di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, serta Dalilatus Saadah dari KUA Kecamatan Gambiran. Ia menekankan bahwa LP3H UNIBA bersama seluruh P3H yang bernaung di Halal Center siap melayani kebutuhan UMKM.

> “Kami mengajak para pelaku UMKM untuk segera mendaftarkan produknya. Tim pendamping halal akan turun langsung untuk memfasilitasi proses sertifikasi. Ini adalah kesempatan penting agar produk UMKM Banyuwangi memiliki nilai tambah di pasar nasional maupun global,” terang Novi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, dalam sambutannya menekankan dimensi keagamaan sekaligus kesehatan publik dari produk halal. Menurutnya, ajaran Nabi Muhammad SAW selaras dengan prinsip Islam tentang kehalalan yang membawa maslahat.

> “Halal bukan semata urusan syariat, melainkan juga upaya menyelamatkan masyarakat dari konsumsi yang meragukan. Semakin halal makanan kita, semakin sehat masyarakat kita, dan keberkahan hidup akan lebih mudah diraih,” jelas Chaironi.

Sementara itu, Ina Ammania menegaskan bahwa DPR RI melalui Komisi VIII berkomitmen untuk memperkuat implementasi Undang-Undang Jaminan Produk Halal. Selain mempercepat proses sertifikasi, DPR juga mendorong pengawasan yang akuntabel dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI).

> “Sertifikat halal bukan sekadar formalitas administratif, tetapi bentuk tanggung jawab moral pelaku usaha dalam menjaga kepercayaan konsumen,” tegasnya.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Banyuwangi, Drs. Dwiyanto, yang hadir mewakili Sekretaris Daerah, menambahkan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian daerah.

> “Dalam situasi krisis, termasuk pandemi, UMKM terbukti mampu bertahan. Karena itu tagline kita jelas: UMKM harus naik kelas,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari BPJPH Kementerian Agama RI. Deputi Bidang Pembinaan, Rofiqa Rosma, menegaskan pentingnya sinergi multipihak dalam membangun ekosistem halal. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi, dan UMKM akan mempercepat terwujudnya industri halal yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing.

Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak pelaku usaha yang sadar pentingnya standar halal dalam produk mereka. Dengan sertifikasi halal, UMKM Banyuwangi bukan hanya memperkuat kepercayaan konsumen lokal, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas di pasar nasional dan internasional.


150 Ribu Shalawat Nariyah Menggema dari Kementerian Agama Banyuwangi: Harmoni Spiritual, Energi Kebangsaan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Banyuwangi seakan berdenyut dalam satu tarikan napas doa, Selasa (19/8/2025). Masjid Ar Royyan di kompleks Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi menjadi episentrum gelombang spiritual yang kemudian menjalar ke madrasah dan seluruh Kantor Urusan Agama (KUA) di pelosok kecamatan. 


Sejak pagi, ribuan aparatur sipil negara (ASN), guru madrasah, dan para penghulu larut dalam shalat dhuha berjamaah, dzikir, dan pembacaan Shalawat Nariyah. Lantunan shalawat menggema bak resonansi ilmiah: getaran suara yang berulang-ulang membentuk harmoni, menyatukan detak hati para jamaah.

Tak sekadar ritual, momentum ini memecahkan rekor internal. Dari target 80 ribu kali bacaan, panitia mencatat lebih dari 150 ribu kali Shalawat Nariyah berhasil dilantunkan. Angka itu—jika dilihat secara ilmiah—berarti rata-rata setiap jamaah mengumandangkan ratusan shalawat, menciptakan “gelombang energi kolektif” yang diyakini para ulama sebagai doa paling mustajab.

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr Chaironi Hidayat, menegaskan pentingnya memandang shalawat bukan sekadar teks.

“Dari sisi linguistik, shalawat itu bukan berhenti pada bahasa, melainkan menjadi ikatan transendental antara kita dengan Rasulullah SAW. Shalawat adalah jembatan spiritual agar doa lebih mudah dikabulkan Allah SWT,” ujarnya penuh penekanan.

Ia juga menyinggung perdebatan klasik ulama tentang Shalawat Nariyah. Namun, bagi Chaironi, substansinya jelas: “Ketika kita tidak mampu langsung mendekat kepada Allah, maka kita bersandar melalui Rasulullah SAW. Semoga keluarga besar Kemenag, guru madrasah, dan masyarakat Banyuwangi senantiasa dalam penjagaan-Nya.”

Kepala Seksi Bimas Islam, Mastur, yang memandu jalannya pembacaan, menyebut shalawat sebagai “energi kebersamaan” sekaligus pengikat persaudaraan ASN. “Momentum ini menjadi bekal bagi kami untuk bekerja lebih tulus, memberi pelayanan terbaik, dan memperkuat semangat pengabdian,” katanya.

Kegiatan ini kian sarat makna karena diselaraskan dengan peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Bagi Chaironi, shalat dhuha dan shalawat berjamaah adalah bentuk ikhtiar religius untuk menjaga semangat kemerdekaan.

“Doa adalah senjata batin. Semoga barokah shalawat mengiringi langkah kita, menjaga bangsa, dan melapangkan jalan pengabdian,” pungkasnya.

Gelombang shalawat yang mengalun dari Banyuwangi pagi itu seolah menegaskan: kemerdekaan bukan hanya dirayakan dengan upacara bendera, tetapi juga dengan lantunan doa yang menembus langit.


“Di Balik Senyum Virtual, Ada Iblis yang Menunggu

 Tubuh Bisa Ditelanjangi, Jiwa Tak Boleh Dikalahkan

Oleh: Syafaat

Ada seorang guru. Seorang ASN yang hidupnya biasa saja. Pagi berangkat ke sekolah negeri, siang pulang dengan wajah lelah tapi tetap ramah. Murid-murid mengenalnya sebagai sosok yang sabar. Ia mengajarkan huruf, angka, doa, dan sedikit-sedikit tentang hidup. Tetapi di balik itu, ia menyimpan luka yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: luka yang datang bukan dari ruang kelas, bukan dari murid yang nakal, melainkan dari dunia maya yang tak berhenti menebarkan jebakan.

Ceritanya sederhana. Bermula dari sebuah sapaan di media sosial. Seseorang hadir dengan wajah tampan dan suara yang menenangkan. Mereka bercakap-cakap, lalu berlanjut ke panggilan video. Malam-malam panjang yang sepi tiba-tiba terasa hangat. Ada tawa, ada perhatian, ada janji-janji kecil yang membuat perempuan itu merasa dihargai. Sampai pada suatu malam, ia menyerahkan kepercayaannya. Ia menanggalkan busana di depan kamera, dengan keyakinan cinta sedang menyapanya. Ia tak tahu bahwa layar kecil itu sedang merekam, mengubah cintanya menjadi perangkap. Keesokan hari, ancaman datang. Uang atau aibmu akan disebarkan.



Dunia yang ia percaya runtuh seketika. Kejahatan digital memang licik. Teknologi yang katanya cerdas ternyata bisa menipu mata dengan begitu halus. Wajah bisa dipoles, suara bisa dimodifikasi, identitas bisa dipinjam dengan begitu meyakinkan. Seseorang bisa menyamar jadi siapa saja: duda mapan, ustaz alim, pejabat berwibawa, atau sekadar lelaki penuh kasih. Semua ilusi itu bersinar di layar, memikat hati, dan menjebak. Pertanyaannya: siapa yang sanggup membedakan cinta dari tipuan ketika layar begitu meyakinkan?

Seperti kisah lama: iblis menggoda Adam dengan buah khuldi. Bedanya, kini ia tak datang dengan buah, tapi dengan cahaya layar yang selalu menyala. Tipu daya tetap sama: merenggut manusia di titik paling rapuh, rasa ingin dicintai. Dan seorang guru pun bisa kalah. Bukan karena ia bodoh. Justru karena ia manusia.

Fenomena ini bukan hanya menimpa pribadi. Lembaga pendidikan pun sering jadi sasaran. Ada yang datang mengaku wartawan, membawa ancaman berita buruk. Ada pula yang mengaku LSM, menakut-nakuti dengan laporan hukum. Mereka mengetuk pintu sekolah dengan suara dingin: “Jika tak memberi uang, reputasimu akan kami hancurkan.” Kepala sekolah panik. Guru-guru resah. Mereka takut namanya rusak. Lalu mereka memilih jalan singkat: menyerahkan sejumlah uang, berharap teror itu berhenti. Padahal hukum punya mekanisme. Ada hak jawab. Ada inspektorat. Ada aturan yang bisa melindungi. Tapi ketakutan lebih besar daripada logika.

Begitulah negeri ini: ancaman lebih sering menang daripada kejujuran. Namun tidak adil bila dunia digital hanya dilihat sebagai kegelapan. Ada juga cahaya: ruang belajar, gerakan solidaritas, komunitas kreatif, kesempatan yang dulu mustahil kini terbuka lebar. Dunia maya melahirkan banyak kebaikan. Tetapi ia tetap hutan lebat: ada jalan terang, ada jalan gelap. Dan manusia berjalan di dalamnya, sering tanpa peta.

Di sinilah agama seharusnya menjadi kompas. Kitab suci berulang kali mengingatkan: fitnah akan gugur di hadapan kebenaran. Tapi kebenaran tidak jatuh dari langit begitu saja. Ia menuntut keberanian. Guru itu seharusnya melapor. Sekolah itu seharusnya berani menolak ancaman. Masyarakat seharusnya berdiri tegak, tak tunduk pada pemerasan. Sayangnya, manusia sering kalah sebelum bertanding. Rasa takut datang lebih dulu. Itulah penyakit paling berbahaya: ketakutan yang membuat seseorang menyerahkan harga diri dengan murah.

Kisah guru ASN yang diperas lewat video telanjang hanyalah potret kecil dari rapuhnya manusia di hadapan layar. Ia pahit, tetapi ia juga pelajaran. Bahwa cinta bisa disulap jadi jebakan. Bahwa manusia bisa runtuh hanya dengan cahaya di ujung jari. Tetapi pelajaran itu tidak boleh berhenti pada rasa malu. Ia harus berubah menjadi kekuatan: untuk berani melapor, untuk menegakkan hukum, untuk melawan pemerasan.

Begitu pula lembaga pendidikan. Jangan menyerah hanya karena ada ancaman. Jangan pasrah dengan bayang-bayang fitnah. Sebab setiap tuduhan ada jalannya. Dan setiap kebohongan bisa dipatahkan. Doa pun dibutuhkan. Doa agar manusia tetap waras di tengah banjir notifikasi. Doa agar tidak mudah panik saat difitnah. Doa agar guru, kepala sekolah, siapa saja yang bekerja dengan jujur, diberi keberanian berkata: “Sebarkanlah fitnahmu, kebenaran akan menjawabnya.”

Tubuh bisa dipermalukan. Tetapi jiwa jangan pernah kalah.

Di media sosial, kadang kita tergoda membela diri. Kita menulis bantahan panjang di kolom komentar. Tapi algoritma bekerja dengan cara yang aneh: semakin banyak komentar, semakin tinggi berita itu muncul. Yang palsu justru semakin terlihat nyata. Maka ada saatnya diam lebih bijak. Biarkan yang palsu tenggelam oleh waktunya sendiri. Yang penting bukan seberapa keras kita membantah, tetapi bagaimana kita membuktikan: kita tidak salah, kita tidak kalah.

Dan pada akhirnya, hanya keberanian nyata yang bisa menghentikan kejahatan maya.


80 Tahun Merdeka: Jejak Doa dan Darah

 80 Tahun Merdeka: Jejak Doa dan Darah

Kita memperingati 80 tahun Indonesia merdeka. Delapan puluh tahun bukan sekadar angka. Itu adalah jejak, tanda, dan doa yang menjadi nyata. Bangsa ini telah berani berkata: “Kami merdeka.” Tapi merdeka bukan hanya bendera yang dikibarkan, bukan hanya lagu yang dinyanyikan, bukan hanya seremonial yang hias hari-hari. Merdeka adalah darah yang tumpah, nyawa yang dipertaruhkan, iman yang diuji, dan hati yang tetap teguh.


Delapan puluh tahun yang lalu, para pemuda di negeri ini bergerak dengan mata terbuka lebar. Mereka tidak menunggu izin dari yang tua, meski menghormati mereka yang dianggap bijak—orang-orang seperti Soekarno, yang ketika itu ragu menyatakan kemerdekaan. Jepang, yang menaklukkan Indonesia setelah Belanda, belum menyerahkan apa pun. Jika Jepang memberi, itu berarti kembalinya Belanda. Maka para pemuda, cerdas dan penuh intuisi sejarah, bergerak. Mereka menculik Soekarno dan Hatta, mendesak mereka untuk membacakan teks proklamasi.

Ini yang penting. Proklamasi bukanlah inisiatif pribadi. Tidak lahir dari egosentrisme pemimpin atau ambisi golongan. Itu lahir dari kolektif, dari jiwa bangsa, dari keinginan rakyat yang tak sabar menunggu janji asing. Soekarno dan Hatta hanya menjadi medium. Mereka membacakan atas nama bangsa. Setiap kata, setiap kalimat, adalah doa yang terpatri dalam darah generasi 45. Bukan sekadar ritual, bukan sekadar teks sejarah. Itu adalah tindakan iman terhadap tanah, terhadap masa depan, terhadap Tuhan yang Maha Melihat.

Hari ini, 80 tahun kemudian, peringatan itu tidak hanya diwarnai lomba-lomba bernuansa nasional. Ada juga pertunjukan yang kadang jauh dari sejarah, dasar, atau fakta. Banyak yang muncul entah dari mana, tanpa referensi, tanpa rasa hormat pada akar. Tapi itulah kenyataan. Kemerdekaan bukan hanya tentang kesempurnaan. Ia hidup dalam pluralitas, dalam ketidaksempurnaan, dalam keragaman yang kadang menyakitkan mata nurani.

Bulan Agustus selalu membawa paradoks. Di satu sisi, kita merayakan, mengenang, menghormati. Di sisi lain, di beberapa tempat, ada yang turun ke jalan menuntut keadilan—naiknya pajak bumi dan bangunan, ketidakadilan ekonomi, suara rakyat yang tak terdengar. Tepat di bulan kemerdekaan, ketika kita seharusnya menengok sejarah, ada demonstrasi, ada protes, ada tanda bahwa merdeka itu bukan sekadar kata. Merdeka itu tanggung jawab, yang harus dipertahankan, dijaga, dan dihidupi.

Kita berbeda dari banyak negara tetangga. Di beberapa wilayah lain, kemerdekaan datang dari tangan mereka yang pernah menjajah, atau dari penduduk baru yang mengusir penduduk lama. Di Indonesia, merdeka datang dari perjuangan rakyat asli. Dari darah yang mengalir, dari nyawa yang jatuh, dari hati yang berani. Pahlawan-pahlawan kita, mereka yang mengusir penjajah, bukan orang yang hidup nyaman. Mereka buruh, petani, rakyat kecil, yang ekonominya pas-pasan. Mereka mempertaruhkan nyawa bukan demi nama, bukan demi pujian, bukan demi sejarah di buku-buku, tetapi demi iman bahwa tanah ini pantas untuk mereka, untuk anak cucu mereka, untuk bangsa yang kelak akan mengenang.

Dan kemudian muncul pertanyaan yang tak pernah lekang oleh waktu: apakah anak cucu para pejuang kini lebih makmur daripada mereka yang hidup menikmati kemerdekaan? Atau justru mereka yang merdeka lahir dari perjuangan, hidup sederhana, tapi jiwanya kaya akan doa, iman, dan kesadaran sejarah? Ketika Belanda kembali menguasai negeri ini, sebagian ikut Belanda. Ketika merdeka, mereka beramai-ramai mendukung. Berbeda dengan rakyat asli, yang hidup dan mati di sini, yang tumpah darahnya melekat di bumi ini, berakar dalam sejarah, dalam darah, dalam iman yang tak pernah luntur.

Merdeka bukan sekadar simbol. Ia adalah tanggung jawab. Ia adalah doa yang diwujudkan dalam tindakan. Ia adalah kesadaran bahwa tanah ini suci, bahwa hidup ini singkat, dan bahwa kita bagian dari sejarah yang lebih besar dari diri kita sendiri. 80 tahun merdeka adalah 80 tahun doa yang dijawab dengan pengorbanan.

Para pemuda 45 bergerak bukan karena ambisi politik semata. Mereka bergerak karena iman, karena keinginan untuk melihat bangsa merdeka. Mereka berani menantang waktu, menantang ketakutan, menantang orang tua, menantang sejarah. Mereka tahu: kemerdekaan tidak datang begitu saja. Ia harus diambil, diperjuangkan, dikawal dengan nyawa, hati, dan doa.

Hari ini, kita mengingat mereka. Kita menatap lomba, pertunjukan, dan demonstrasi dengan mata yang berbeda. Bukan untuk menghakimi, bukan untuk menilai, tapi untuk merenung. Kemerdekaan bukan hadiah. Ia bukan objek yang bisa dipamerkan. Ia adalah amanah, tanggung jawab, dan doa yang terus hidup dalam tiap jiwa.

Kita perlu menyadari: kemerdekaan itu bukan hanya soal politik, bukan hanya soal ekonomi, bukan hanya soal tanah dan bangunan. Merdeka adalah soal hati, soal iman, soal kesadaran akan asal-usul kita, soal pengorbanan yang pernah diberikan dan harus kita jaga. Dalam setiap lomba, dalam setiap upacara, dalam setiap protes, ada satu pertanyaan: apakah kita masih mampu menjaga doa yang 80 tahun lalu lahir dari darah dan nyawa?

Banyak orang lupa. Mereka melihat merdeka sebagai hak, sebagai fasilitas, sebagai kesempatan untuk mencari keuntungan semata. Tapi kemerdekaan itu lebih dari itu. Ia adalah tanggung jawab moral dan spiritual. Ia adalah kewajiban untuk hidup dalam kesadaran sejarah, untuk menghormati pengorbanan, untuk menumbuhkan keadilan, dan untuk membangun bangsa yang tak hanya merdeka secara politik tapi juga merdeka dalam hati dan iman.

Di antara paradoks dan pluralitas ini, ada hikmah yang tetap sama: generasi 45 tidak menunggu. Mereka bergerak, menculik Soekarno-Hatta, menulis teks proklamasi, membacakan kata demi kata atas nama bangsa. Mereka tahu, kemerdekaan itu tidak menunggu persetujuan penjajah, tidak menunggu pengakuan asing, tidak menunggu kemapanan. Kemerdekaan adalah tindakan iman, keberanian yang lahir dari hati, dan doa yang diwujudkan dalam darah.

Hari ini, generasi kita dihadapkan pada pertanyaan serupa. Bagaimana kita menjaga kemerdekaan? Apakah hanya dengan upacara dan lomba? Apakah dengan protes dan tuntutan saja? Atau dengan kesadaran bahwa merdeka berarti hidup dengan tanggung jawab, hidup dengan doa, hidup dengan iman bahwa tanah ini bukan sekadar milik kita, tetapi amanah yang diwariskan oleh darah, nyawa, dan doa para pejuang?

Maka bulan ini, ketika kita menatap lomba-lomba dan demonstrasi, biarlah kita merenung. Biarlah kita menatap sejarah dengan mata hati. 80 tahun merdeka adalah 80 tahun doa, 80 tahun pengorbanan, 80 tahun tanggung jawab yang harus kita jalani. Dan kita, generasi sekarang, adalah penjaga doa itu.

Kita merdeka bukan karena kita lebih kuat, bukan karena kita lebih kaya, bukan karena kita lebih pintar. Kita merdeka karena ada hati yang berani, iman yang teguh, dan doa yang dijawab dengan pengorbanan. Itulah yang harus kita ingat. Itulah yang harus kita jaga.

80 tahun merdeka adalah 80 tahun kesadaran bahwa kemerdekaan itu adalah amanah. Amanah untuk hidup dengan kesadaran sejarah, amanah untuk menghormati darah dan doa, amanah untuk membangun bangsa yang adil dan beriman. Generasi 45 telah menulis sejarah dengan darah dan nyawa mereka. Kita menulis sejarah dengan tindakan, dengan hati, dengan doa yang tidak kalah pentingnya.

Dan akhirnya, kemerdekaan adalah pengingat. Pengingat bahwa hidup ini singkat, tanah ini suci, dan doa itu nyata. Bahwa kita bagian dari sejarah yang lebih besar dari diri sendiri. Bahwa 80 tahun merdeka bukan sekadar perayaan, tetapi panggilan untuk tetap hidup dalam iman, dalam kesadaran, dan dalam tanggung jawab.

Maka, ketika kita mengibarkan bendera, ketika kita menyanyikan lagu kebangsaan, ketika kita menatap lomba, pertunjukan, atau demonstrasi, biarlah hati kita sadar: 80 tahun merdeka adalah 80 tahun doa dan darah, dan kita adalah penjaganya.


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger