Pages

Baku Hantam di Tanjakan Jelun! Etape Dua Tour de Banyuwangi Ijen 2025 Penuh Drama, Aiman Cahyadi Menggila, Italia Kuasai Panggung!

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Etape dua Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) 2025, Selasa (29/7), berubah menjadi arena perang strategi, adu nyali, dan pertarungan level dewa sepanjang 158,8 kilometer. Lintasan dari Taman Nasional Alas Purwo hingga Kantor Bupati Banyuwangi bukan hanya memeras keringat, tapi juga menyajikan duel panas yang membuat penonton tak bisa berkedip!v


Drama dimulai sejak kilometer ke-7. Aiman Cahyadi, sang jagoan dari Timnas Indonesia yang kini membela Terengganu Malaysia, langsung tancap gas. Tanpa aba-aba, ia melakukan breakaway—manuver berani yang mengundang decak kagum. Yang mengejutkan, pembalap Jepang Honda Haruhi dari tim VC Fukuoka tak membiarkannya sendirian. Keduanya bak duo samurai di atas aspal, saling memimpin dan saling menekan, memisahkan diri dari peleton hingga menciptakan gap waktu nyaris 5 menit!

Selama lebih dari 100 kilometer, Aiman dan Honda bermain api dengan kecepatan tinggi dan konsistensi luar biasa. Aiman bahkan menyapu bersih tiga intermediate sprint—di Temurejo (34,5 km), Maron (78,5 km), dan Lincing (113,4 km)—membuktikan bahwa darah merah putih belum habis daya dobraknya!

Namun, balapan sejati selalu punya tikungan tak terduga. Di tanjakan berpaving legendaris kawasan Jelun (129,4 km)—yang disebut-sebut sebagai ‘tangga neraka TdBI’—kekuatan mereka mulai runtuh. Sang peloton mengejar bagaikan badai, dan akhirnya menelan duo pelari depan tersebut hanya beberapa kilometer sebelum puncak tanjakan.

Tapi pertarungan belum usai. Saat semua mata tertuju ke puncak KOM (King of Mountain), pembalap Italia Nicolo Petiti dari Swatt Club Italia melesat bak rudal darat dan menaklukkan tanjakan Jelun dengan gagah perkasa.

“Saya sudah berusaha mati-matian hari ini. Tapi 30 kilometer terakhir benar-benar seperti mimpi buruk. Saya tetap bangga dengan performa saya,” ujar Aiman, penuh semangat meski harapannya diremukkan di kaki Jelun.

Dan puncak dari drama ini? Adu sprint maut menjelang garis finish di Kantor Bupati Banyuwangi! Delapan belas pembalap dalam satu peleton terakhir saling sikut, saling pepet, dan akhirnya—bak film laga Italia—Fransesco Carolo dari Swatt Club Italia muncul sebagai pemenang dengan catatan waktu 3 jam 46 menit 41 detik. Di belakangnya, pembalap Aljazair Youcef Reguigui (Madar Pro Cycling) dan pembalap Spanyol Benjami Prades Reverte (VC Fukuoka) saling menguntit ketat untuk podium dua dan tiga.

Namun panggung utama tak melulu milik para penakluk etape. Raja sejati klasemen umum (Individual General Classification) Jeroen Meijers dari Belanda—yang membela Victoria Sports Cycling Filipina—masih mempertahankan Yellow Jersey (Ijen Sulfur Jersey) dan Green Jersey (Blue Fire Jersey) berkat keunggulan waktu yang ia kantongi sejak Etape Pertama.

“Etape ini luar biasa sulit. Tapi saya sudah antisipasi dari awal dan mencoba tidak panik saat tertinggal. Finish di tiga besar adalah bonus. Saya akan pertahankan jersey ini sampai akhir,” ujar Meijers dengan mata tajam penuh ambisi.

Tak hanya itu, Swatt Club Italia kini menjadi raksasa baru di klasemen tim, menguasai Stage Team Classification berkat performa stabil dan agresif pembalap-pembalapnya di dua etape awal.

Dan kejutan datang dari anak negeri! Pembalap muda Muhammad Syelhan Nurrahmat dari ASC Monster Indonesia berhasil merangsek ke posisi 10 besar, mengangkat nama Merah Putih di antara deretan nama asing, dan dengan gagah merebut Banyuwangi Reborn Jersey sebagai Best Indonesian Rider.

Etape dua TdBI 2025 telah berakhir, tapi tensi dan drama belum usai. Masih ada dua etape tersisa, dan para pembalap tahu: setiap kilometer di Banyuwangi adalah ladang ujian, dan setiap tikungan bisa mengubah takdir.

Besok, pertarungan kembali berlanjut. Bersiaplah. Banyuwangi belum selesai. TdBI masih menyala! 🔥🚴‍♂️🇮🇩

(*)

Al-Hikam, Kopi, dan Malam yang Tak Pernah Selesai

 Al-Hikam, Kopi, dan Malam yang Tak Pernah Selesai

Setiap Senin malam Selasa, dua pekan sekali, saya ikut duduk di masjid tanpa dinding. Angin masuk dari mana-mana. Tidak ada yang bisa menolaknya. Seperti hidup, kadang ia datang tanpa aba-aba. Di Masjid Cheng Ho, kami menunggu suara yang pelan dan dalam. Suara Gus Kholiq. Seorang kiai muda yang tutur katanya tidak ingin menguasai, hanya ingin tinggal sebentar di dalam dada kita. 


Saya tidak datang karena merasa hampa. Saya datang karena saya lelah. Itu saja. Dan saya merasa lelah adalah alasan yang paling jujur untuk bertemu Tuhan.

Gus Kholiq membaca Al-Hikam seperti sedang membuka surat yang tertunda. Seperti ayah yang mengeluarkan sepucuk kertas dari laci lama dan membacakannya untuk anaknya yang sudah lama dewasa tapi masih sering menangis dalam tidur.

Malam-malam itu, saya belajar bahwa Tuhan tidak terburu-buru. Ia tidak menginginkan kita sempurna. Ia hanya ingin kita hadir. Duduk. Menyimak. Lalu pulang dengan dada yang sedikit lebih ringan.

Di pengajian itu, tidak ada yang sibuk ingin terlihat lebih saleh. Tidak ada yang berlomba menjawab pertanyaan. Kami hanya mendengar. Kadang tertawa. Kadang diam cukup lama. Seperti baru saja menyadari betapa kosongnya hidup yang selama ini terlalu penuh.

Saya menyukai masjid ini karena ia tidak memaksa siapa pun menjadi siapa-siapa. Seorang mantan pejabat duduk di pojok, bersedekap seperti siapa saja. Dan mungkin itulah hikmah yang paling besar: menjadi siapa saja.

Al-Hikam bukan kitab yang menjanjikan kesuksesan. Ia bukan modul motivasi. Ia tidak menyuruh kita kuat, tapi memberi izin untuk hancur. Karena dari kehancuranlah, kita benar-benar mengenal arti pulang.

Ada malam ketika Gus Kholil membacakan:

“Jangan kamu berduka karena kehilangan sesuatu dari dunia. Karena apa yang luput darimu, tak pernah ditakdirkan menjadi milikmu.”

Saya diam. Kalimat itu seperti tangan yang meraba luka yang sudah lama tidak disentuh. Pelan. Tidak menyembuhkan. Tapi membuat kita tahu: luka itu masih ada. Dan tidak apa-apa. Setelah pengajian, kami makan bersama. Kadang lauknya tempe, kadang tahu, kadang tewel, kerupuk, kadang hanya bayam yang direbus dan sambal yang seadanya. Tapi entah mengapa, rasanya seperti makan di surga yang tidak terlalu sibuk mencatat dosa. Kadang Kami juga menyeruput kopi. Bukan kopi mahal. Hanya kopi dari rumah-rumah yang tahu bahwa cinta tidak perlu dikemas dalam kardus bermerek. Di tangga masjid itu, kami mengobrol. Tentang cucu. Tentang kenangan. Tentang hidup yang kadang terasa seperti cerita lama yang tidak selesai.

Saya tidak tahu apakah semua yang duduk di sana sedang lelah. Tapi saya tahu kami semua sedang mencari arah pulang. Dan Al-Hikam adalah penunjuk arah yang tidak pernah membentak. Ia hanya menunggu. Kadang bertahun-tahun. Kadang sepanjang hidup. Malam itu, Gus Kholiq dengan kalimat bertanya, “Gus, kenapa kita sudah salat, sudah sedekah, tapi hidup masih berat?”

Gus Kholiq tersenyum. Seperti sudah sering mendapat pertanyaan serupa dari dirinya sendiri. Lalu ia membaca satu hikmah:

“Keinginanmu agar Allah memberi apa yang kamu mau, itu tanda kamu belum benar-benar mengenal-Nya.”

Kami terdiam. Diam yang tidak canggung. Diam yang terasa seperti peluk yang tidak terlihat. Dan saya teringat doa-doa saya yang cerewet. Yang panjang. Yang kadang terdengar seperti daftar belanjaan. Saya sadar malam itu: saya terlalu sering menyuruh Tuhan, bukan memanggil-Nya.

Orang-orang bilang: pengajian bisa ditonton dari rumah. Ada siaran langsungnya di YouTube, di channel Radar Banyuwangi. Tapi saya tahu, itu tidak sama. Karena suara yang membasuh hati tidak bisa disiarkan. Ia harus dialami. Seperti mencium aroma kopi dari balik kaca, tapi tidak meminumnya. Saya ingin tetap datang. Karena kehadiran itu bukan sekadar fisik. Tapi tentang getar sajadah. Tentang suara air wudu. Tentang senyum yang tidak punya nama.

Kami manusia pelupa. Sudah diingatkan, lupa lagi. Dan mungkin itulah alasan mengapa pengajian seperti ini tidak boleh berhenti. Ia bukan sekolah. Ia bukan seminar. Ia hanya ruang di mana kita boleh menjadi lemah dan tidak merasa bersalah. Kalau nanti saya tidak bisa datang, saya mungkin akan menontonnya dari rumah. Tapi saya tahu, saya tidak akan merasakan angin itu. Tidak akan mendengar suara tewel yang dituang ke piring. Tidak akan melihat mata Gus Kholiq yang seperti menahan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Dan malam-malam tanpa itu, akan terasa sunyi. Hidup, ternyata, bukan tentang menang. Tapi tentang kembali. Dan Al-Hikam tidak pernah mengajarkan cara memenangkan dunia. Ia hanya menunjukkan jalan pulang. Pelan-pelan. Tanpa desakan. Karena barangkali, kita memang tidak pernah benar-benar pergi. Kita hanya lupa arah.

Saya masih belum selesai dengan diri saya sendiri. Tapi saya ingin terus duduk di sana. Di bawah suara yang tidak ingin menggurui. Di antara orang-orang yang diam-diam sedang sembuh. Dan kalau nanti saya benar-benar sembuh, saya ingin tetap duduk di sana. Bukan karena saya butuh. Tapi karena saya ingin menemani mereka yang masih lelah. Karena bukankah itu yang diajarkan Al-Hikam: tidak menjadi yang paling suci, tapi menjadi tempat pulang yang paling sunyi.

Cheng ho, 28-07-2025

Meledak! Pembalap Belanda Jeroen Meijers Rebut Juara Etape Pertama Tour de Banyuwangi Ijen 2025

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Persaingan super ketat langsung membakar hari pertama Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) 2025! Etape pembuka yang digelar Senin (28/7/2025) menghadirkan drama penuh adrenalin di sepanjang 125 kilometer dari Pasar Pesanggaran hingga finis megah di Kantor Bupati Banyuwangi. Dan akhirnya, ledakan kemenangan datang dari pembalap asal Belanda, Jeroen Meijers, yang tampil superior! 


Rider tangguh dari tim Victoria Sports Pro Cycling Filipina ini sukses merebut juara etape pertama dengan catatan waktu 2 jam 38 menit 23 detik. Tak hanya itu, Meijers juga langsung menyabet dua gelar bergengsi: Yellow Jersey (Ijen Sulfur Jersey) sebagai pemimpin klasemen waktu dan Green Jersey (Blue Fire Jersey) untuk sprinter terbaik. Langsung dua trofi di hari pertama? Luar biasa!

Etape pertama ini terbilang flat alias datar, tapi jangan remehkan tantangannya. Hujan di awal race mengguyur lintasan, memaksa 99 pembalap dari 20 tim internasional ekstra hati-hati—namun justru membuat balapan makin liar! Peloton sempat pecah, sprint demi sprint meletup. Jalur basah justru jadi pemicu aksi heroik.

Dramatis! Breakaway Meijers Pecah Dominasi Peloton

Di kilometer 33, empat pembalap coba memecah peleton dan membentuk breakaway. Terry Yudha Kusuma dari Jakarta Pro Cycling Team bahkan sempat mencicipi manisnya intermediate sprint pertama di Plampang Rejo. Namun kekuatan peleton tak terbendung—mereka berhasil ditangkap kembali.

Namun, dua kilometer kemudian: boom! Meijers memutuskan menyerang sendirian. Bagaikan badai, ia melesat ke depan dan mengunci intermediate sprint kedua dan ketiga di Benculuk dan Temuguruh. Meijers tidak hanya cepat, tapi juga cerdas membaca momen—ia tahu persis kapan harus go full throttle.

"Ini hari yang sempurna buat saya. Saya tahu banyak yang menargetkan etape ini, jadi saya harus agresif sejak awal. Dan strategi tim bekerja sangat baik," ujar Meijers usai race dengan senyum tak lepas dari wajahnya.

Sprint Sengit hingga Detik Terakhir

Meski Meijers memimpin sejak intermediate kedua, tekanan di belakangnya luar biasa. Pembalap Spanyol Benjami Prades dari VC Fukuoka Jepang dan Oliver Knudsen dari Swatt Club Italia terus menguntit ketat. Mereka finis di posisi dua dan tiga dengan waktu nyaris identik: 2:38:23.

Namun Meijers terlalu kokoh untuk digoyahkan. Dengan keunggulan strategi dan ketahanan di 10 km terakhir, ia berhasil menjaga jarak hingga menyentuh garis finis lebih dulu. Penonton yang memadati area Kantor Bupati Banyuwangi pun bersorak membahana, menyambut kemenangan bersejarah.

Terry Yudha Kusuma Banggakan Merah Putih

Meski tak finis di podium utama, Terry Yudha Kusuma tampil heroik dengan meraih gelar Best Indonesian Rider dan mengenakan Banyuwangi Reborn Jersey. Ia juga menyebut bahwa Etape 1 ini adalah kunci bagi pembalap sprinter sepertinya sebelum masuk etape-etape berat.

“Saya tahu besok ada lintasan gravel yang lebih menantang, jadi saya sudah siap all-out di sana. Hari ini saya hanya ingin mengamankan posisi dan mencoba sprint awal. Breakaway Meijers sangat kuat, dia memang pantas menang,” kata Terry.

Hasil Lengkap Etape 1 Tour de Banyuwangi Ijen 2025

STAGE INDIVIDUAL CLASSIFICATION

  1. 72 – Jeroen Meijers (Victoria Sports Pro Cycling) – 2:38:23
  2. 61 – Benjami Prades (VC Fukuoka) – 2:38:23
  3. 185 – Oliver Knudsen (Swatt Club) – 2:38:23

GENERAL CLASSIFICATION (Ijen Sulfur Jersey)

  1. 72 – Jeroen Meijers – 2:38:07
  2. 61 – Benjami Prades – 2:38:17
  3. 185 – Oliver Knudsen – 2:38:19

Best Indonesian Rider (Banyuwangi Reborn Jersey)

  1. 101 – Terry Yudha Kusuma – 2:41:29
  2. 191 – Raihan Maulidan Muhammad – 2:41:30
  3. 171 – Van Aert Bernard Benyamin – 2:41:32

Best Sprinter Classification (Blue Fire Jersey)

  1. 72 – Jeroen Meijers
  2. 61 – Benjami Prades
  3. 185 – Oliver Knudsen

Hari pertama TdBI 2025 sukses menyulut semangat dan antusiasme luar biasa, bukan hanya bagi peserta, tapi juga masyarakat Banyuwangi. Ini baru permulaan—masih ada tiga etape lagi, termasuk tanjakan legendaris Gunung Ijen yang disebut-sebut sebagai “neraka vertikal” bagi para pembalap. Siapakah yang bertahan? Siapa pula yang akan gugur?

Yang jelas, Meijers telah mengukir namanya sebagai raja pembuka TdBI 2025. Dan semua mata kini tertuju ke Etape 2. Tunggu ledakan selanjutnya! 💥🚴‍♂️🌋


*) Redaksi TdBI 2025 - Lensa Balap Banyuwangi

Banyuwangi Tour de Ijen dengan Empat Etape Siap Digelar Minggu ini

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Awan-awan tipis menyambut mereka. Udara lembap pegunungan menantang paru-paru mereka. Dan deru semangat sudah menggema dari selatan hingga barat Banyuwangi. Para gladiator sepeda dunia, resmi tiba di Banyuwangi untuk mengikuti ajang prestisius Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) 2025, yang akan digelar mulai 28 hingga 31 Juli mendatang. 


Mereka datang bukan hanya untuk berlomba. Mereka datang untuk menaklukkan. Selama empat hari penuh, para pembalap akan menyusuri 593 kilometer lintasan ekstrem, menyapa hijaunya alam, menyusuri jalanan sunyi pedesaan, dan akhirnya bertarung di tanjakan maut menuju Gunung Ijen, puncak api biru legendaris itu.

“Tour de Banyuwangi Ijen tidak hanya balapan, ini adalah pertarungan kehormatan, panggung bagi yang tercepat dan terkuat di tengah alam eksotis Indonesia,” tegas Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, Minggu (27/7/2025).

Etape Berlapis Keindahan dan Tantangan

TdBI 2025 terbagi dalam empat etape spektakuler yang seluruhnya memutar dari sisi selatan hingga barat Banyuwangi. Jalur ini sengaja dipilih untuk menghindari kawasan utara yang tengah padat akibat antrean di Pelabuhan Ketapang.

Etape 1: 125,5 km — Start dari Pasar Pesanggaran, menanjak dan membelah perbukitan, berakhir dramatis di Kantor Bupati Banyuwangi.

Etape 2: 158,8 km — Memulai dari jantung keheningan Taman Nasional Alas Purwo, lalu membelah kota dan desa, kembali finis di Kantor Bupati.

Etape 3: 140,3 km — Dari Glenmore yang sejuk, para pembalap mengayuh menuju pusat kota, menyusuri perkebunan dan arus lalu lintas perkampungan yang memikat.

Etape 4: 150 km — Inilah Etape Raja, dimulai dari Maron Genteng menuju neraka tanjakan di Paltuding, Gunung Ijen. Medan ini dipercaya sebagai salah satu rute tersulit di Asia Tenggara.

"Rute ini bukan untuk yang lemah. Para pembalap harus menyiapkan fisik dan mental. Apalagi tanjakan menuju Ijen bukan hanya menguras tenaga, tapi juga menyentuh sisi spiritual," ujar salah satu panitia lokal.

Ajang Resmi Dunia, Diperebutkan Sejak Setahun Silam

Tour de Banyuwangi Ijen adalah event resmi yang masuk kalender Union Cycliste Internationale (UCI) — federasi balap sepeda dunia. Pendaftaran telah dilakukan sejak setahun lalu, dan ratusan pembalap dari berbagai negara telah memastikan keikutsertaan mereka sejak tiga bulan terakhir.

“Ini bukan event dadakan. Semua rute, jadwal, dan sistem balapan sudah disiapkan matang jauh hari. Ini level dunia,” tegas Ipuk.

Sejak 26 Juli, para pembalap dari berbagai benua mulai berdatangan dan melakukan uji lintasan serta adaptasi cuaca. Mereka tampak berlatih serius, tak sedikit pula yang terpukau oleh keindahan alam yang menyatu dengan kejamnya tanjakan.

“Banyuwangi benar-benar luar biasa. Ini bukan hanya lomba, tapi pengalaman hidup,” ujar salah satu pembalap asal Eropa.

Lebih dari Balapan: Ini Adalah Simfoni Banyuwangi

TdBI bukan hanya soal kecepatan. Ini tentang menyapa warga yang bersorak di pinggir jalan. Tentang anak-anak yang melambai-lambaikan bendera. Tentang aroma kopi yang menyeruak dari warung-warung di pinggiran rute. Tentang Banyuwangi yang menunjukkan siapa dirinya: kota yang berani, ramah, dan siap jadi panggung dunia.

"Setiap tahun TdBI digelar, kami tahu satu hal: dunia melihat kami," ucap seorang warga di wilayah Songgon yang akan dilintasi balapan.

Tour de Banyuwangi Ijen adalah surat cinta untuk tanah ini. Sekaligus tantangan bagi para pembalap: mampukah mereka menaklukkan keindahan yang berbahaya ini?

Jawabannya akan segera tiba, 28 Juli. Saat bendera start dikibarkan, dan deru ban mengguncang aspal. Selamat datang, para pejuang roda dua.

Banyuwangi telah menyiapkan panggung terbaiknya. Siapkah kalian menaklukkannya?

Gaji, Cinta, dan Sepasang Sandal Jepit

Gaji, Cinta, dan Sepasang Sandal Jepit

Oleh: Lensa Banyuwangi


Tidak ada yang benar-benar bisa mengukur cinta. Bahkan saat ia sudah menjelma dalam bentuk sepotong nasi hangat dan tempe goreng yang ditaruh di atas piring yang retaknya membentuk garis seperti sungai di musim kemarau. Bahkan saat ia sudah menjelma dalam keputusan untuk bertahan di rumah, membersihkan lantai yang tak pernah mengeluh kotor, menyuapi anak yang tak mengerti harga beras. Kalau saja cinta bisa diukur dengan slip gaji, barangkali lelaki itu akan dinyatakan kalah sejak awal. Tapi kita tahu, hidup tidak berjalan seperti logika neraca keuangan. Kadang, yang tampak seperti kekurangan justru menyimpan kelimpahan yang tidak kasat mata.

Aku ingin memulai cerita ini dari sepasang sandal jepit. Barang murah yang sering hilang di masjid atau tertukar di warung kopi. Tapi pernah satu masa, dua orang yang sedang jatuh cinta memakai sepasang sandal jepit itu—berjalan di bawah hujan yang entah sudah berapa kali mengguyur kota mereka. Mereka tidak membawa payung, tidak membawa masa depan yang pasti, hanya keyakinan bahwa selama mereka saling menggenggam tangan, dunia ini cukup. Lelaki itu, sebut saja Suami, tidak pernah berubah. Ia masih bangun pagi dengan bau semen dan mata yang berat karena tidur semalam cuma dua jam. Tapi ia tidak pernah lupa mengecup kening istrinya, yang sekarang duduk di kantor berpendingin ruangan, menandatangani absen, dan berbicara tentang target kerja bulanan.

Dulu mereka berbagi nasi bungkus. Sekarang mereka berbagi... perbedaan. Cinta adalah medan yang aneh. Ia bisa bertahan di pinggiran kota dengan suara kodok malam dan wajan bocor. Tapi ia juga bisa hancur di rumah yang luas dengan dispenser air panas dan mesin cuci yang bisa menyanyi. Cinta tidak pernah punya standar. Ia tidak bisa diatur dalam Peraturan Menteri.

Istrinya pernah bilang, “Aku ingin berkembang.” Dan kalimat itu seperti paku kecil yang menancap di dinding rumah mereka. Tidak terlihat. Tapi perlahan membuat retak. Sebab pertumbuhan satu pihak dalam rumah tangga, jika tidak ditata baik, bisa menjelma jadi jarak. Dan jarak adalah musuh dari kata "kita". Lelaki itu tidak bisa kuliah. Ia tidak ikut tes CPNS. Ia tidak paham soal seragam kerja. Tapi ia tahu cara menyimpan uang lima ribu di saku celana, dan membuatnya cukup untuk membeli minyak goreng dan bumbu dapur. Ia tahu cara diam ketika istrinya lelah, dan cara menenangkan anak-anak dengan dongeng tentang kura-kura yang sabar.

Tapi ternyata, di zaman ini, itu tidak cukup. “Aku ingin hidup yang lebih baik,” kata sang istri suatu hari. Padahal hidup yang lebih baik itu dulu mereka bangun dari dua gelas teh hangat dan atap bocor yang mereka perbaiki sendiri dengan terpal bekas. Tapi tak apa. Semua orang berhak bermimpi. Hanya saja, tidak semua orang sanggup melihat bahwa yang sederhana belum tentu buruk.

Cinta adalah soal siapa yang tetap tinggal saat yang lain mulai merasa malu. Cerita ini tidak tunggal. Ia beranak-pinak di banyak sudut kota. Ada istri yang jadi TKW dan lupa jalan pulang. Ada suami yang naik pangkat tapi merasa pasangannya tidak sepadan lagi. Ada rumah-rumah yang dulu penuh suara kini tinggal gema. Ada anak-anak yang tumbuh tanpa tahu aroma tangan ibunya. Dalam setiap perceraian, ada kalimat yang tertulis rapi di dokumen negara: "Tidak sejalan lagi." Tapi di balik itu, ada air mata yang tercecer di dapur, ada kenangan yang terlipat dalam baju-baju bekas, dan ada doa-doa yang masih tersangkut di langit-langit rumah, menunggu jawaban.

Dan aku ingin menyisihkan tempat untuk cerita yang lain. Tentang perempuan yang tidak bekerja. Setidaknya tidak dalam pengertian umum. Ia tidak memiliki slip gaji, tidak pernah tahu tanggal cuti bersama, dan tidak ikut dalam rapat tahunan. Tapi ia bangun pagi-pagi, sebelum ayam tetangga berkokok, menyetrika baju suaminya, menyiapkan bekal sekolah anaknya, dan mengecek apakah ember air sudah cukup untuk mandi pagi.

Ia disebut ibu rumah tangga. Dalam formulir, ia menulis: IRT. Dan saat petugas bertanya, “Jadi pengangguran ya, Bu?” ia hanya tersenyum. Karena marah pun percuma. Dunia sudah terlalu lama tidak paham apa arti kerja yang tidak dibayar.

Perempuan itu tahu harga cabai hari ini naik. Tapi ia tahu cara menggantinya dengan sayur bening yang tetap disukai anaknya. Ia tahu cara mencuci popok dengan tangan kiri sambil menggendong bayi dengan tangan kanan. Ia tahu cara menyimpan sedikit uang di kaleng biskuit, dan mengeluarkannya diam-diam ketika suaminya bingung harus beli bensin. Ia tidak punya kartu pegawai. Tapi ia adalah direktur keuangan, HRD, chef, cleaning service, konsultan keluarga, dan guru PAUD di waktu yang bersamaan. Ia hanya tidak diberi gelar.

Kadang-kadang, ada yang bercanda di warung kopi, “Suruh aja istrimu kerja. Masa cuma makan dari hasil keringatmu?” Dan semua tertawa. Seolah-olah kerja di rumah itu bukan kerja. Seolah-olah menyiapkan cinta setiap hari itu bukan bagian dari produksi. Tapi lelaki yang bijak tahu: rumah itu tetap hidup bukan karena uangnya, tapi karena ada seseorang yang rela membagi hidupnya tanpa imbalan.

Aku teringat cerita teman. Perempuan lulusan universitas ternama, dulu punya karier bagus. Tapi setelah punya anak, ia memilih tinggal di rumah. “Aku tidak ingin anakku tumbuh lebih akrab dengan pengasuh daripada denganku,” katanya. Lalu suatu malam, ia bilang pada anaknya, “Nanti kalau kamu besar, jangan malu ya kalau ada yang tanya profesi ibu.” Anaknya memeluknya, dan berkata, “Ibu kerjanya di rumah kan? Ibu kan rumahnya aku.”

Kalau cinta itu sepasang sandal jepit, maka salah satu harus siap ikut kotor saat yang lain menginjak lumpur. Harus siap hilang saat yang lain tertinggal di teras masjid. Tapi selama mereka saling menunggu, selama mereka saling percaya bahwa pasangannya akan kembali, maka mereka tidak kehilangan apa pun.

Gaji bisa naik. Cinta tidak. Tapi cinta juga tidak bisa turun. Ia hanya bisa diabaikan atau dipelihara.

Di akhir hari, mungkin lelaki itu akan tetap memakai sandal jepit yang sama. Berjalan ke pasar. Membeli dua ikat kangkung, sepotong tempe, dan setengah kilo beras. Lalu memasaknya sendiri. Memakannya sendiri. Dan tetap mencintai seperti pertama kali ia belajar tentang arti sabar.

Cinta bukan soal siapa yang menghasilkan lebih banyak. Tapi siapa yang tetap tinggal saat semuanya menjadi kurang. Dan ibu rumah tangga bukan pengangguran. Mereka adalah penjaga peradaban yang tak pernah disorot lampu panggung. Mereka adalah pilar yang menyangga rumah dari dalam. Yang diam-diam menjaga dunia agar tidak runtuh oleh kesibukan kita yang terlalu sering mengejar angka.

Mungkin sudah waktunya kita menatap ibu kita sendiri. Dan bilang, “Terima kasih, Bu. Karena engkau, aku tahu bahwa rumah tidak selalu ada di bangunan. Tapi di hati yang tidak pernah meninggalkan.”

Lagu-Lagu dan Tarian yang Tak Kita Kenal dari Suara Sound Horeg

 Lagu-Lagu dan Tarian yang Tak Kita Kenal dari Suara Sound Horeg

Sound horeg tak sekadar dentuman musik; ia berubah menjadi panggung dominasi atas diam. Anak-anak disuruh iuran, lalu berjoget dengan lagu yang tak mereka kenal, sementara orang tua menutup telinga. Di balik gegap gempita itu, kita pelan-pelan kehilangan malu, kehilangan makna, dan yang paling menyedihkan: kehilangan ruang untuk mendengar suara hati.


Beberapa hari ini, linimasa kita penuh dengan perdebatan yang tak selesai tentang sound horeg. Ada yang membolehkan. Ada yang mengharamkan. Ada yang membela karena merasa mewakili "kebebasan berekspresi." Ada pula yang menolak karena merasa sedang menjaga "kesucian tradisi." Tapi seperti biasa, yang paling nyaring bukanlah kebenaran, melainkan siapa yang lebih dulu naik panggung.

Selebihnya, adalah orang-orang seperti kawan saya di desa kecil yang jauh dari kota, tetapi dekat dengan dentuman.

"Remaja-remaja diminta iuran buat sewa sound horeg," katanya. "Yang keberatan diam. Yang tak sanggup tetap iuran. Karena siapa yang berani bilang tidak?"

Saya mendengarnya seperti mendengar ayat-ayat yang tak tertulis. Sebab dalam diam mereka, tersimpan rasa takut. Takut dianggap tidak kompak. Takut disingkirkan dari pergaulan. Takut tak diajak lagi ikut lomba 17-an.

Tapi bagian yang paling menghantui saya adalah ini: setelah iuran terkumpul, anak-anak itu diminta berjoget. Joget yang tidak mereka kenal. Bukan tarian Gandrung atau kuntulan. Bukan dari tari Saman atau Lengger. Musiknya bukan dangdut atau shalawat Tapi dari entah mana gerakan yang disalin dari gawai, dari aplikasi yang mengatur tubuh manusia tanpa perlu akal dan rasa.

Saya tidak sedang mempermasalahkan gerakan tubuh. Tapi saya bertanya-tanya: apakah jiwa mereka tahu sedang diajak ke mana?

Kita ini, orang Timur, katanya penuh unggah-ungguh. Kita diajari menunduk sebelum menyapa. Kita disuruh berdoa sebelum makan. Kita diajari menyebut Bismillah sebelum melangkah. Tapi bagaimana mungkin hari ini kita memaksa anak-anak menari dengan iringan lagu yang bahkan tak berani kita doakan?

Karena lagu-lagu itu tidak menyebut Tuhan, tidak menyapa ibu, tidak memuliakan tanah yang kita pijak, tidak pula menyembuhkan luka. Ia hanya memekakkan, menggerakkan, dan lalu pergi.

Saya kira ini bukan hanya tentang sound horeg. Ini tentang bagaimana kita perlahan kehilangan malu. Tentang bagaimana dentuman dijadikan ukuran kemajuan. Tentang bagaimana volume suara menjadi patokan keberhasilan sebuah perayaan.

Ada yang bilang: ini budaya baru. Tapi budaya macam apa yang membuat kita harus memaksa orang tua mengungsi dari rumahnya sendiri?

Saya membaca sebuah surat edaran dari seorang kepala desa. Bunyinya seperti ini: Akan ada iring-iringan sound horeg yang melewati beberapa ruas jalan. Mohon warga lansia, yang sedang sakit, atau memiliki anak kecil untuk menyesuaikan diri.

Menyesuaikan diri? Dengan kebisingan? Dengan dentuman yang bahkan membuat langit-langit rumah bergetar?

Apakah kita sudah lupa bahwa dalam banyak hadis, Rasulullah tidak pernah meninggikan suara ketika lewat rumah orang? Bahwa azan pun ditinggikan hanya pada waktunya bukan untuk pamer kekuatan, tapi untuk menyeru hati?

Barangkali itulah yang hilang: suara hati.

Karena dalam sound horeg, semua harus keluar. Tidak ada ruang untuk batin. Tidak ada ruang untuk tafakur. Bahkan kadang tidak ada ruang untuk mengingat bahwa di balik dinding, mungkin ada seseorang yang sedang menyebut nama Allah, berharap bisa meninggal dalam husnul khatimah, tapi tidak bisa mendengar suaranya sendiri karena tertutup dentuman.

Dan siapa yang berani melawan? Siapa yang sanggup mengangkat tangan dan berkata, "Ini berlebihan?" Tidak banyak. Karena siapa yang berani menentang keramaian akan dianggap sombong. Karena siapa yang tidak mau berjoget, dituduh merusak suasana. Karena siapa yang mengajak berpikir, dianggap merusak tawa.

Maka orang-orang pun menepi, mencari jalan sunyi.

Mereka yang sakit harus mencari kamar yang paling jauh dari jalan utama. Anak-anak kecil dipasangi kapas di telinganya. Orang yang jantungan disuruh minum obat sebelum pawai dimulai. Semua menyesuaikan diri, bukan karena ingin, tapi karena tak kuasa menolak.

Sementara itu, sound horeg melaju seperti arak-arakan raja. Disambut sorak sorai. Ditaburi tepuk tangan. Diarak seperti pahlawan dari negeri yang kita tak tahu kapan berdirinya.

Dan kita menyebutnya kemajuan.

Padahal yang kita lihat adalah gugurnya rasa.

Saya tidak menolak perayaan. Saya tidak menolak kegembiraan. Tapi jika kegembiraan kita menyakiti orang lain, itu bukan lagi pesta. Itu penjajahan yang dibungkus warna-warni lampu strobo.

Dalam Islam, kita diajarkan laa dharara walaa dhiraara, jangan membahayakan dan jangan saling membahayakan. Tapi siapa hari ini yang berani membacakan hadis itu di tengah pesta sound horeg?

Mungkin nanti, kalau ada orang tua yang meninggal karena jantungnya tak kuat mendengar dentuman itu, kita akan bilang: Dia mati dalam merdeka. Diiringi lagu-lagu yang keras. Di hari yang meriah.

Kita akan membacakan yasin dengan pengeras suara yang lebih kecil dari sound horeg tadi. Kita akan mendoakan dengan pelan, sementara lampu-lampu panggung masih menyala di sisi lain desa.

Dan esoknya, anak-anak kembali berjoget. Lagu-lagu kembali diputar. Dan tak ada yang bertanya lagi: apakah kita masih punya ruang untuk mengingat Tuhan?

Mungkin benar: kalau tidak horor, bukan sound horeg. Tapi bila sudah terlalu horor, mungkinkah kita masih bisa pulang? Pulang ke rumah yang sunyi. Ke mushala yang senyap. Ke lantunan doa ibu yang hanya terdengar jika kita mau diam sebentar dan menundukkan kepala.

Dan semoga, sebelum semuanya benar-benar terlambat, kita masih bisa mendengar-Nya dalam sunyi. Sebab kalau tidak, kita akan hidup dalam lagu-lagu yang tak pernah kita doakan, dan mati dalam kebisingan yang tak pernah kita pahami.

Karena di dunia yang semakin bising ini, yang kita butuhkan bukan lagi pengeras suara, melainkan penjernih jiwa.

Bukan lebih banyak lagu, tapi lebih banyak makna. Bukan lebih keras volume, tapi lebih dalam penghayatan. Karena peradaban tidak tumbuh dari pesta, melainkan dari doa. Dan anak-anak tidak tumbuh dari dentuman, melainkan dari dekapan.

Mungkin kita harus kembali belajar dari suara ibu yang mendongeng pelan sebelum tidur. Dari kakek yang melagukan syair dalam temaram lampu minyak. Dari guru ngaji yang mengucapkan Iqra (bacalah) dengan nada lirih tapi menggetarkan. Karena suara-suara itulah yang dahulu membentuk kita.

Sekarang? Kita bentuk oleh apa yang kita dengar. Dan jika yang kita dengar adalah bunyi yang tak bermakna, jangan heran jika hidup kita pun jadi kehilangan arah.

Saya kira, kita butuh senyap. Kita butuh jeda. Kita butuh hening, agar bisa mendengar lagi suara yang pelan, tapi dalam. Suara hati. Suara Tuhan. Suara yang tak perlu panggung, tapi cukup hadir di dalam dada.

Dan jika suatu hari kita bertanya mengapa kampung kita jadi asing, mungkin jawabannya bukan karena pendatang, tapi karena suara-suara yang tak pernah kita kenal telah mengambil alih ruang-ruang yang seharusnya suci.

Sewengi di Baluran* *Tentang Jalan yang Tertutup dan Hati yang belum Terbuka

 *Sewengi di Baluran*

*Tentang Jalan yang Tertutup dan Hati yang belum Terbuka*



Saya membaca beberapa pesan dari grup WhatsApp, sebagian dengan nada gusar, sebagian dengan lelucon yang dipaksakan. Tapi ada satu pesan yang membuat saya diam lama:


> “Macet sampai Baluran, jalur satu-satunya. Gumitir ditutup. Lewat Ijen sempit dan curam. Kapal cuma empat. Sisanya katanya sedang diperbaiki... katanya karena pernah ada kapal tenggelam... katanya...”



Kata “katanya” muncul berulang kali, seperti gumaman orang yang tak betul-betul percaya kepada siapa pun lagi, bahkan mungkin kepada dirinya sendiri. Saya bayangkan jalan yang biasanya lancar, kini seperti sungai yang dipenuhi batu-batu besar. Orang-orang yang biasanya bisa mengatur waktu, kini hanya bisa menatap langit. Di tengah sunyi, Baluran menjadi lorong panjang tanpa ujung.


Bukan karena kita tak punya kapal.

Bukan karena kita tak punya jalan.

Tapi karena sesuatu yang jauh lebih tak terlihat:

Ketidaksiapan,

dan ketidakpedulian yang menyamar jadi prosedur. Jalur Gumitir ditutup.

Jalur Ijen menanjak sempit, tak sanggup menampung beban.

Jalur laut hanya disangga empat kapal yang kelelahan.

Maka Baluran menjadi satu-satunya lorong untuk pulang,

dan lorong itu pun menggigil karena terlalu sesak.


Seseorang mungkin sedang menyusui bayinya dalam mobil yang berhenti.

Seseorang mungkin menguap sembari menahan kantuk di balik setir.

Seseorang lainnya mungkin sedang membaca Qur’an dari layar ponselnya—bukan untuk khatam,

tapi untuk menenangkan diri, agar ia tak bertengkar dengan istrinya, atau mengumpat pejabat dari balik jendela. Saya percaya, malam seperti ini—malam yang gelap, dingin, dan diam panjang—adalah malam di mana manusia paling jujur kepada Tuhannya.

Tidak ada musik, tidak ada WiFi, tidak ada wacana.

Yang ada hanya suara mesin, tangis bayi, dan ayat yang pelan-pelan dibaca dalam hati.


Saya tidak tahu bagaimana cara mengatur arus kendaraan dari Situbondo ke Banyuwangi.

Saya tidak tahu berapa biaya perbaikan kapal.

Tapi saya tahu satu hal:

Orang-orang hanya ingin pulang.

Dan jika tak bisa pulang,

mereka ingin tahu bahwa ada yang memikirkan mereka. Bukan grafik,

bukan laporan,

tapi manusia. Seseorang di kantor pelabuhan mungkin sedang menyeruput kopi dan membuka YouTube.

Sementara itu, seseorang di alas Baluran sedang menahan pipis,

dan hanya punya sisa air setengah botol untuk berbagi dengan anaknya.


Ini bukan tentang jalan.

Ini tentang tanggung jawab.

Tentang cinta kepada sesama.

Tentang adab kepada rakyat yang diam-diam menaruh harapan kepada kita. Jika kapal itu tak bisa berlayar,

katakanlah.

Jika jalan itu tertutup,

beritahulah.

Jika solusi belum ditemukan,

setidaknya kirim air minum dan kata maaf.


Negeri ini tidak kekurangan jalur.

Tapi kita sering lupa:

Setiap jalur adalah doa.

Setiap mobil yang berhenti adalah kepala yang menunduk,

dan setiap penumpang di dalamnya adalah manusia yang sedang belajar menunggu. Saya percaya, orang-orang bisa sabar.

Tapi kesabaran bukan untuk diuji terus-menerus tanpa jeda.

Kesabaran bukanlah tempat membuang semua kelalaian yang tak terselesaikan.


Malam itu, di Baluran,

langit seperti menggantung lebih dekat ke tanah.

Dan saya percaya,

di antara ribuan orang yang terjebak macet,

ada yang berdoa tanpa suara.

Dan doa-doa seperti itulah yang lebih cepat sampai ke langit

daripada laporan mingguan dan evaluasi yang hanya selesai di meja. Maka jika jalan itu adalah urat nadi,

dan kendaraan adalah darah,

jangan biarkan ia menggumpal.

Karena bangsa ini bukan hanya dibangun oleh infrastruktur,

tetapi oleh empati.


Dan di malam yang panjang itu,

tidak ada yang meminta jalan menjadi tol,

hanya agar tidak merasa sendiri,

di tengah alas yang sunyi,

dan negara yang terlalu sibuk untuk sekadar menyapa.


—Ditulis oleh Syafaat yang hanya mengamati dari layar WA--.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger