Pages

Verifikasi Tahap III PPA Award, Bupati Ipuk: “Pencegahan Perkawinan Anak Adalah Tanggung Jawab Bersama”

Banyuwangi (Warta Blambangan) Komitmen nyata Kabupaten Banyuwangi dalam upaya pencegahan perkawinan anak kembali mendapat sorotan positif dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Rabu (18/6), SMP Negeri 3 Banyuwangi menjadi lokasi pelaksanaan Verifikasi Lapangan Tahap III Penilaian Pencegahan Perkawinan Anak (PPA Award) tingkat Provinsi Jawa Timur.

Hadir dalam kegiatan ini Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, yang dalam sambutannya menekankan bahwa pencegahan perkawinan anak bukanlah tugas tunggal pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama lintas sektor.

> “Ini bukan semata kerja pemerintah, tapi kerja kolaboratif semua elemen. Pencegahan perkawinan anak adalah ikhtiar kita menjaga masa depan generasi muda,” tegas Bupati Ipuk.

Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur strategis daerah, di antaranya Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB), Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. H. Chaironi Hidayat, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Perwakilan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Banyuwangi, serta Ketua Pengadilan Agama Banyuwangi. Kehadiran lintas sektor ini mempertegas pentingnya sinergi dalam memperkuat sistem perlindungan anak, terutama dalam menekan angka perkawinan usia dini.


Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dilakukan penandatanganan Kesepakatan Bersama Pencegahan Perkawinan Anak oleh seluruh unsur yang hadir. Kesepakatan ini dikukuhkan melalui peluncuran gerakan "Gadis Tangguh", sebuah inisiatif simbolik untuk memperkuat ketahanan remaja putri dalam menolak praktik perkawinan usia anak.


Dalam kesempatan tersebut, perwakilan tim penilai dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Provinsi Jawa Timur, Dr. Tri Wahyu Liswati, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas komitmen dan inovasi yang telah dilakukan oleh Kabupaten Banyuwangi.

> “Kami mencatat berbagai praktik baik yang telah dilakukan Banyuwangi. Namun yang paling penting adalah keberlanjutan dan konsistensinya,” ujar Tri Wahyu.




Ia juga menegaskan perlunya pendekatan persuasif dan edukatif dalam menyosialisasikan pencegahan perkawinan anak, terutama kepada masyarakat yang masih mengajukan dispensasi kawin melalui jalur pengadilan.


Tri Wahyu menutup sambutannya dengan pesan penuh makna:


> “Pelaminan bukan tempat bermain.”

Pesan ini menjadi pengingat bahwa masa anak-anak adalah masa untuk bertumbuh, belajar, dan membangun mimpi, bukan untuk menjalani pernikahan.

Pelaksanaan verifikasi tahap akhir ini menjadi penanda penting sekaligus harapan besar bagi Banyuwangi untuk meraih PPA Award Provinsi Jawa Timur, sebagai bentuk penghargaan atas komitmen, inovasi, dan kerja kolektif dalam perlindungan anak dan pencegahan perkawinan usia dini. 


Tingkatkan Literasi, MI Darun Najah II Ajak Siswi Kunjungi Perpusda Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Guna meningkatkan minat baca di tengah dominasi gawai, MI Darun Najah II mengajak 105 siswi kelas 1 dan 3 berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi (Perpusda), Rabu (18/6/2025). Kegiatan literasi ini rutin digelar setiap akhir semester sebagai bentuk sinergi madrasah dengan Perpusda.


Kepala MI Darun Najah II, Majidatul Himmah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun budaya literasi sejak dini. “Kegiatan ini sebagai salah satu bentuk kerjasama madrasah dengan Perpusda, diharapkan siswi lebih suka membaca dengan mendapatkan referensi yang baru di Perpusda,” ujarnya.

Rangkaian kunjungan diawali dengan jalan sehat dari madrasah ke Stadion Diponegoro, dilanjutkan dengan senam ringan dan sarapan sehat bersama. Setelah itu, para siswi menghabiskan waktu di Perpusda untuk membaca koleksi buku yang tersedia.


Sebagai tindak lanjut kegiatan, para siswi diminta menuliskan kembali isi buku yang mereka baca dalam bentuk laporan sederhana di rumah. Aiko, salah satu siswi kelas 3, mengungkapkan kegembiraannya. “Banyak buku-buku baru yang menarik untuk dibaca,” katanya.

Melalui kegiatan ini, MI Darun Najah II berharap dapat menumbuhkan kecintaan membaca pada siswi sejak dini dan menjadikan kunjungan perpustakaan sebagai rutinitas yang menyenangkan.

Bertambah Usia dan Menjadi Dewasa

Malam itu saya tertidur selepas Maghrib. Bukan karena lelah—meski tubuh ini, kalau boleh jujur, sudah seperti keranjang beras yang dipaksa menampung karung pasir. Tapi saya tidur bukan karena kelelahan. Saya tidur karena lupa kalau saya sedang hidup.

Tidur itu ganjil. Ketika terbangun, rasanya seperti baru saja memejamkan mata di bangku SMA, lalu mendadak bangun sebagai seseorang yang sudah satu tahun lebih tua. 17 Juni, katanya. Hari lahir. Tapi apa yang benar-benar lahir pada hari lahir? Orang-orang menyebutnya hari jadi. Tapi saya malah merasa hari itu justru hari mengurai. Seperti benang-benang yang makin lama makin lepas dari gulungannya.


Saya tidak tahu apakah menjadi tua itu semacam kemampuan. Mungkin tidak. Orang bisa tambah usia, tapi belum tentu jadi orang. Belum tentu jadi utuh. Kadang justru makin compang-camping.

Yang saya tahu, malam itu saya duduk di Rumah Budaya Osing, Kemiren. Rumah tua, dengan lampu yang temaram, dan udara yang seperti menyimpan petikan-petikan sunyi dari masa lalu. Di depan saya ada lontar. Bukan sembarang lontar. Ini Lontar Yusuf. Sebuah teks yang tidak disimpan di museum, tapi di dada manusia-manusia yang diam-diam masih percaya bahwa suara bisa menyimpan sejarah.

Kang Pur membuka lembarannya pelan-pelan. Tidak tergesa. Tidak ingin mengejutkan siapa pun. Seperti membuka kenangan—yang harus diurai perlahan, kalau tidak ia akan menangis. Di sekelilingnya duduk beberapa orang. Ada warga kampung, ada dari kota. Dan tiga orang asing. Satu lelaki, dua perempuan. Katanya dari Jerman atau Amerika. Saya bertanya nama mereka. Tapi bodohnya manusia zaman ini: kami rajin bertanya, tapi lupa mendengarkan jawabannya. Kang Hasan Basri menamai mereka mbok Tatik, Mbok Asma dan Kang Sutris, mereka senyum-senyum saja dipanggil dengan nama yang biasa dipakai suku Osing.

Saya lebih sibuk memandangi huruf Pegon di halaman-halaman lontar. Huruf-huruf itu seperti teman masa kecil yang pernah bermain petak umpet bersama saya. Tapi sekarang, saya hanya bisa berdiri di tepi lapangan dan melihat mereka bermain tanpa saya.

Tembang-tembang kuno dilagukan dengan nada lirih. Ada Kasmaran, ada Pangkur. Saya tahu tembang-tembang itu karena pernah membaca tentang urutan hidup manusia versi Jawa:

  • Maskumambang: saat kita masih dalam kandungan.
  • Mijil: lahir ke dunia.
  • Sinom: masa muda.
  • Kinanthi: masa mencari arah.
  • Asmarandana: masa cinta dan kegelisahan.
  • Gambuh: masa mapan.
  • Dhandhanggula: masa kejayaan.
  • Durma: masa berbakti.
  • Pangkur: masa menyepi.
  • Megatruh: masa menjelang kematian.
  • Pocung: kematian itu sendiri.

Ada satu rasa asing di dalam hati saya malam itu. Bukan takut, bukan sedih, tapi seperti sedang ditatap oleh masa lalu saya sendiri.Tiga orang asing itu mengeja dengan cara yang membuat kami tersenyum. Tapi diam-diam saya malu. Mereka datang dari negeri yang tak mengenal Pegon, yang tak tahu apa itu tembang Asmarandana, tapi mereka datang dan duduk dan belajar. Sementara kita, yang dilahirkan di tanah ini, sibuk menggulir layar ponsel dan merasa cukup tahu hanya karena pernah ikut pelajaran muatan lokal.

Saya jadi ingat masa santri saya yang tidak lama. Saya pernah belajar membaca kitab gundul dengan bantuan tulisan Pegon. Saya juga pernah merasa bangga karena bisa menerjemahkan satu-dua kalimat Arab ke dalam Jawa. Tapi malam itu, saya seperti orang yang tersesat di rumah sendiri. Seperti pernah hafal jalan, tapi kini tak tahu arah kiblat.

Hasan Basri datang malam itu. Ketua DKB, orang yang selalu membawa kitab lebih besar dari milik saya. Bukan karena dia ingin pamer. Tapi karena dia, saya tahu, lebih sungguh-sungguh. Hasan Basri membaca bukan untuk tahu, tapi untuk merawat. Itu dua hal yang berbeda. Kita bisa tahu sesuatu tanpa merawatnya. Tapi kita tak bisa merawat sesuatu tanpa terlebih dahulu mencintainya.

Dan saya tahu, malam itu saya mencintai Lontar Yusuf, belajar Mocoan, meski saya belum tentu mampu merawatnya. Ada juga Kang Iwan (Antariksawan Yusuf) dan Mbak Upik (Nurul Ludfia Rochmah), mereka belajar juga Mocoan.

Apa yang dibacakan Kang Pur malam itu bukan sekadar kisah Nabi Yusuf. Tapi sebuah suara yang menyampaikan bahwa kita tidak perlu berlari ke masa depan untuk merasa hidup. Kadang kita hanya perlu duduk, membuka naskah tua, mendengar suara yang nyaris punah, dan membiarkan hati kita kembali muda.

Mungkin itu yang disebut pulang, saya tidak tahu siapa yang membawa saya ke sana. Saya hanya ingat bangun dari tidur dan kemudian duduk di ruangan yang tak punya jam dinding. Dan waktu pun seperti terdiam. Orang-orang tak sibuk dengan unggahan Instagram. Tak ada kue ulang tahun. Tak ada lilin. Tapi semua yang saya butuhkan tentang makna menjadi tua ada di ruangan itu.

Menjadi tua ternyata bukan soal lilin dan angka. Tapi soal kesadaran bahwa kita pernah muda. Dan bahwa masa muda itu, jika tidak kita genggam dengan rasa hormat, akan berubah jadi debu yang menyesakkan dada setiap kali kita mengingatnya.

Tiga orang asing itu, entah kenapa, tampak lebih tulus. Mereka menyimak dengan mata yang jujur. Tidak seperti kita yang kadang membaca untuk dipamerkan. Mereka membaca untuk mengenal. Sementara kita membaca untuk merasa penting. Bedanya besar. Saya tidak tahu apakah mereka akan mengingat malam itu seperti saya mengingatnya. Tapi saya tahu, mereka membawa sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seperti kita membawa doa yang tak sempat diucapkan. Seperti cinta yang tak sempat diberi nama.

Menjadi tua, saya pikir, seperti membaca kembali huruf Pegon. Kita mengenalnya. Tapi kita harus belajar lagi. Kita tahu bentuknya. Tapi kita lupa cara membacanya. Dan seperti cinta, huruf Pegon tidak akan marah kalau kita lupa. Ia akan diam saja, menunggu kita datang kembali.

Malam itu ditutup dengan secangkir kopi, seperti tembang kegelapan. Tapi saya tidak merasa takut. Saya merasa damai. Karena dalam setiap kegelapan, selalu ada terang. Dan dalam setiap terang, selalu ada cerita yang perlu dibacakan pelan-pelan, dengan suara yang tidak terburu-buru.

Lontar Yusuf tak mengajari saya menjadi bijak. Ia hanya menunjukkan bahwa saya belum sepenuhnya hidupan, dan di pojok rumah saya yang mulai sunyi ini, dengan lampu remang, saya menulis ini sambil mendengarkan suara malam yang seperti ingin berkata: “Kamu belum terlambat. Duduklah. Buka lagi halaman itu. Bacalah. Sebelum waktumu benar-benar habis.”

Semoga bulan depan ata  tahun depan, entah di mana saya berada, masih ada suara lirih yang membaca Pegon. Dan semoga saya masih cukup waras untuk mendengarkannya. Karena di usia yang bertambah, kita tidak butuh pesta. Kita hanya butuh satu kalimat sederhana: “Selamat pulang.”

Diskusi Permaduan di Tujuh Belas Juni

 Sebenarnya, tubuh saya sudah remuk redam. Bukan karena hujan. Bukan karena penyakit. Tapi karena sesuatu yang lebih diam-diam dan lebih kejam: kesibukan. Kesibukan yang memperkosa waktu, memborong hari, mencabik-cabik ingatan tentang diri sendiri. Sampai-sampai saya lupa ini tanggal berapa. Sampai-sampai saya lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun saya sendiri.

Dan anehnya, saya justru sedang duduk di sebuah kafe yang tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap. Undangannya biasa saja, obrolannya juga biasa, hanya aroma kayu manis dan lilin kecil di meja yang terasa agak tidak biasa. Seorang teman menyodorkan sepiring kecil kue tape dengan taburan keju dan bunga telang. “Selamat ulang tahun,” katanya. 

Saya diam. Mendadak saya tersadar: oh, ini tujuh belas Juni. Tahun lalu, saya sedang berada di tenda Mina, dikelilingi ribuan orang berpakaian putih, dan suara takbir bergulung-gulung seperti awan tak habis-habis. Hari ulang tahun saya terbenam di antara wukuf, mabit, dan dinginnya udara gurun. Tahun ini, ia muncul lagi, seperti lebah yang tahu jalan pulang setelah bertahun-tahun mencari bunga.

Setelah pulang dari kafe itu, saya hanya ingin merebahkan kelopak jiwa. Tapi ternyata WhatsApp belum rela membiarkan saya tidur. Ada undangan dari Mas Budy Amboyna — nama yang manis di lidah, seperti nama seorang pengembara dari Maluku yang tiba-tiba jadi ketua komunitas peternak lebah madu Banyuwangi.

Kami ngobrol. Ringan saja. Tentang lebah. Tentang madu. Tentang sesuatu yang manis tapi bukan rayuan. Tentang sesuatu yang lengket tapi bukan luka. Tentang sesuatu yang mengandung hidup, bekerja diam-diam, tanpa keluh, tanpa kelakar.

Mas Budy bilang, “Madu itu beda dengan gula. Ia tidak bikin diabetes.” Saya tersenyum. Tapi kemudian saya diam. Saya pikir-pikir, ternyata manusia lebih sering memilih gula, karena ia murah dan tersedia di mana-mana. Sementara madu, yang lebih tulus, lebih berproses, lebih tabah, justru sering diabaikan. Begitu juga dengan cinta, bukan?

Kami bicara tentang lebah yang menggembara, yang tak pernah punya rumah tetap. Mereka berpindah dari kebun kopi ke kebun randu, dari bunga mangga ke bunga kelengkeng. Hidupnya penuh bunga, tapi tidak pernah mabuk. Penuh manis, tapi tidak pernah memonopoli. Ia menghisap, tapi memberi kembali.

“Kau tahu,” kata Mas Budy sambil mengusap botol madu seperti mengelus kepala anaknya, “setiap jenis bunga memberi rasa yang berbeda. Madu kopi, misalnya, agak pahit di awal, tapi hangat di tenggorokan. Madu randu lebih ringan, dan madu kelengkeng… ah, itu paling dicari orang-orang kota.”

Saya termenung. Saya pikir, hidup kita juga begitu. Ada masa pahit, ada masa ringan, ada masa yang dicari-cari orang lain tapi justru kita sendiri tak menyadarinya. Madu, dalam diamnya, mengajari kita untuk sabar menyerap, sabar mengolah, sabar menyimpan, dan sabar memberi. Dan ketika seseorang benar-benar membutuhkan, ia cukup membuka botolnya, menuangkan satu sendok kecil, dan keajaiban akan bekerja: luka reda, batuk menghilang, dan hati perlahan reda dari gelisah.

Banyuwangi, kata Mas Budy, seharusnya jadi surga bagi lebah. Ada banyak bunga. Ada banyak hutan dan kebun yang belum diracuni pupuk sintetis. Tapi kita lupa. Kita lebih suka aspal daripada semak. Lebih bangga mall daripada bunga. Kita membangun rumah sakit besar tapi tak peduli pada hutan kecil di belakang rumah. Kita mengejar vitamin mahal dari pabrik, padahal lebah-lebah sudah menyiapkan apotek alam sejak ribuan tahun lalu.

Saya menatap botol kecil madu yang dibawakan Mas Budy. Warna kuning kecoklatan, pekat, dan ada aroma samar bunga di leher botolnya. Saya isap sedikit dengan jari telunjuk. Hangat. Tidak seperti gula yang langsung membuat lidah gemetar, madu menyusup pelan-pelan. Ia seperti doa ibu yang tidak terdengar tapi sampai ke langit.

“Banyak orang salah paham,” ujar Mas Budy. “Mereka kira madu yang bagus itu yang dari pabrik besar, yang bening, yang diberi label keren. Padahal madu yang jujur itu kadang berawan, berendapan, dan sedikit berbau asam. Madu yang baik itu seperti hidup yang baik — tidak selalu bersih, tapi selalu jujur.”

Saya tidak tahu mengapa, tapi kalimat itu membuat saya ingin pulang. Ingin menyalakan lilin kecil di rumah, ingin mencium kening anak saya, ingin menulis surat untuk diri saya sendiri — bahwa kita hidup bukan untuk sekadar sibuk, bukan untuk sekadar mengejar omset, bukan untuk pamer prestasi. Kita hidup untuk menghasilkan madu — sesuatu yang manis dan berguna, meski mungkin hanya satu sendok sehari.

Dan jika suatu saat kita tidak ada, semoga ada yang masih merasakan manfaat dari tetes-tetes kecil kebaikan yang kita tinggalkan.

Karena sejatinya, manusia yang baik itu seperti lebah. Ia tidak pernah menebar racun, tidak pernah mengganggu bunga yang ia hisap, dan selalu meninggalkan madu di tempat-tempat yang tak terduga.

Refleksi Spiritualitas dan Kaderisasi Kepemimpinan: Perayaan Ulang Tahun ke-57 KH. Ir. Achmad Wahyudi di Pondok Pesantren Adz Dzikra Banyuwangi

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Pada Sabtu, 14 Juni 2025 pukul 00.00 WIB, berlangsung sebuah kegiatan yang sarat makna di Aula Pondok Pesantren Adz Dzikra, Banyuwangi. Kegiatan tersebut berupa perayaan ulang tahun ke-57 bagi KH. Ir. Achmad Wahyudi, S.H., M.H.—figur sentral dalam pengembangan pendidikan pesantren serta pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Banyuwangi. 


Dalam suasana yang diatur dengan kesengajaan dramatis—pencahayaan dipadamkan, santri duduk dalam formasi hening—KH. Achmad Wahyudi diundang keluar dari kediaman untuk menghadiri forum yang tidak ia ketahui sebelumnya. Suasana berubah secara tiba-tiba saat para santri melantunkan sholawat dan lagu “Mabruk Alfa Mabruk”, diiringi penyerahan simbolis kue ulang tahun bertuliskan angka 57. Kejutan ini menjadi wujud penghargaan kolektif terhadap kontribusi dan keteladanan beliau.

Peristiwa ini tidak dapat hanya direduksi sebagai perayaan seremonial. Dalam pendekatan sosiologis dan pedagogis, momen tersebut berfungsi sebagai ritual simbolik yang memperkuat nilai-nilai spiritual, kedisiplinan moral, serta hubungan emosional trans-generasional antara guru dan murid. Hal ini tercermin dari testimoni yang diberikan oleh alumni dari berbagai negara, yang menyebut KH. Achmad Wahyudi bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga murabbi, yakni pembimbing ruhani yang menanamkan nilai kehidupan secara integral.

Salah satu pernyataan dari alumni yang saat ini menempuh pendidikan di Timur Tengah menyebutkan:

“Abi bukan hanya mengajarkan ilmu, tapi menanamkan nilai. Bagi kami, Abi adalah teladan, tempat kami kembali, dan alasan kami tetap ingin disebut santri, bukan alumni.”

Testimoni semacam ini mengindikasikan keberhasilan transmisi nilai jangka panjang, yang secara pedagogik mencerminkan hidden curriculum dari sistem pendidikan berbasis pesantren.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Kawah Ijen (YLBHKI) dan Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-POLRI (GM FKPPI) PC 1325 Banyuwangi. Kehadiran lintas sektor ini mengafirmasi posisi KH. Achmad Wahyudi sebagai tokoh multidimensional: agamawan, organisatoris, advokat sosial, dan figur pembina masyarakat.

Sekretaris GM FKPPI Banyuwangi, Marselinus Moa Dany, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan:

“Keteladanan beliau telah menjadi cahaya dalam organisasi dan kehidupan pribadi anggota.”

Pernyataan ini menguatkan konsep “figur transformatif” dalam kepemimpinan sosial-keagamaan, yang menggabungkan peran spiritual dengan kapasitas organisasi.

Dalam sesi tausiyah singkat, KH. Wahyudi menjelaskan bahwa peringatan ulang tahun bukanlah ekspresi seremonial semata, melainkan bentuk muhasabah (refleksi diri). Sejak usia 50 tahun, beliau mulai memperingati hari lahir sebagai momentum konsolidasi arah hidup.

“Ulang tahun bukan sekadar ulang angka, tapi momentum untuk meneguhkan arah hidup. Di usia 50, saya memilih untuk kembali ke medan perjuangan—bukan untuk pribadi, tapi untuk generasi.”

Pernyataan tersebut sejalan dengan prinsip filsafat pendidikan Islam, yang memandang usia matang sebagai titik balik menuju “khidmat abadi”—yaitu pengabdian tanpa pamrih kepada ummat dan bangsa.

Lebih jauh, beliau menyampaikan pesan moral universal berbasis hadis:

“Allah SWT tidak melihat jasadmu, tapi hatimu.”

Pesan ini mengandung nilai etika sufistik, yang mengedepankan qalbu (hati) sebagai pusat spiritualitas dan akhlak.

Perayaan ulang tahun KH. Ir. Achmad Wahyudi ke-57 di Pondok Pesantren Adz Dzikra merepresentasikan lebih dari sekadar peristiwa individual. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, kegiatan ini menjadi arena konsolidasi nilai, penguatan identitas santri, serta aktualisasi peran pesantren sebagai institusi kaderisasi kepemimpinan bangsa.

Melalui pendekatan yang menggabungkan nilai-nilai sufistik, moral-spiritual, serta tanggung jawab sosial, KH. Wahyudi berhasil mentransformasikan hari kelahiran menjadi ruang kontemplatif yang menginspirasi berbagai lapisan masyarakat. Keberhasilan beliau menghubungkan jaringan santri hingga mancanegara menandakan bahwa pendidikan pesantren memiliki daya jangkau global yang berakar kuat pada nilai lokal.

Malam itu, di tengah gelap yang penuh simbol dan cahaya hati, generasi muda kembali diingatkan akan pentingnya menghormati guru, menjaga keikhlasan, dan membangun peradaban dari ruang-ruang sederhana—seperti aula pesantren yang menyala oleh cinta dan ilmu.



Seblang Bakungan: Tarian Leluhur di Temaram Obor

Banyuwangi (Warta Blambangan) Dalam temaram api obor, di malam yang menggigilkan kulit dan membasahi napas dengan aroma tanah dan dupa, masyarakat Osing Bakungan kembali memanggil arwah leluhur. Mereka tak sekadar merapal masa silam, tapi menjahit benang waktu yang diwariskan sejak 1639 menjadi tubuh peradaban hari ini. Di Sanggar Seblang, Kamis malam (12/6/2025), ritual adat Seblang Bakungan kembali digelar—sebuah pertunjukan sakral yang bukan hanya ritual, tapi napas panjang kebudayaan yang terus hidup. 


Ribuan pasang mata berkumpul. Dari bocah hingga pelancong mancanegara, semua terpukau. Di jalan yang mengular menuju sanggar, tumpeng-tumpeng berjejer seperti sesaji semesta. Warga saling menyapa dalam harmoni, menyatu dalam lantunan doa magrib dan hajat yang dinaikkan di langit masjid. Setelahnya, mereka berjalan bersama, mengarak api oncor yang mengibas malam, melingkari desa dalam prosesi ider bumi, seakan hendak mengikat batas alam dengan kesetiaan budaya.

Di bawah suluh-suluh bambu yang bergetar, mereka menghamparkan tikar, menyantap pecel pithik—hidangan sakral warisan leluhur—dengan cara paling tulus: bersama.

Lalu tiba momen puncak, ketika Isni, perempuan 53 tahun yang tubuhnya telah dibuka oleh waktu dan jiwa leluhur, memasuki dunia lain. Tubuhnya terhuyung dalam trance, lalu menari dalam irama gending yang menyayat sunyi. Mata orang-orang menahan napas, menyaksikan tarian yang bukan sekadar gerak tubuh, tapi gerak roh, gerak sejarah, gerak kesetiaan pada warisan yang tak bisa dibeli dan tak bisa dijelaskan hanya dengan kata.

“Tradisi ini sangat menarik,” kata David, seorang pelancong dari Selandia Baru, matanya masih menyisakan keheranan yang puitis. “Sebelumnya saya melihat Gandrung Sewu, penuh warna dan ramai. Tapi malam ini, saya seperti melihat tarian yang berbicara langsung pada langit dan bumi.”

Seblang memang ada dua. Di Bakungan, ia ditarikan oleh perempuan yang telah matang usia dan pengalaman, digelar di bulan Dzulhijah. Sedang di Olehsari, tarian ini dipercayakan kepada dara muda, usai Idul Fitri. Dua wajah, satu jiwa. Dua zaman, satu akar.

Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, turut hadir. Dalam sorot matanya ada kebanggaan dan harapan. Ia berkata, “Menjaga tradisi bukan semata menarik wisatawan. Ini tentang gotong royong, tentang menjaga batang tubuh kebudayaan agar tetap tumbuh subur di tengah modernitas.”

Kehadiran Seblang malam itu tak hanya menarik warga dan wisatawan, tapi juga ilmuwan. Sumarsam, Kaplan Professor of Music dari Wesleyan University Amerika Serikat, duduk khidmat di antara warga. Ia adalah profesor gamelan yang telah menetap di Amerika selama 53 tahun, tapi malam itu, di antara bunyi kendang dan lengking suling, wajahnya seperti kembali ke tanah ibu.

“Saya sudah mendengar Mamaca Lontar Yusuf, menyaksikan Janger, dan malam ini, Seblang. Banyuwangi adalah kepingan mozaik budaya yang sangat utuh. Tak heran jika tanah ini menjadi permata dari timur Jawa,” ujarnya dengan mata berkaca.

Seblang Bakungan bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah doa yang ditarikan, ingatan yang dihidupkan, dan jati diri yang disematkan dalam tubuh sebuah bangsa yang terus mencari dirinya sendiri.

Dan di malam itu, ketika obor perlahan padam dan langkah-langkah meninggalkan sanggar, satu hal terasa abadi: budaya bukan milik masa lalu, ia adalah detak jantung yang harus terus dijaga, agar kita tak pernah kehilangan arah di tengah gempuran zaman. (*)

Dialog Intern Umat Islam Dorong Penguatan Dakwah Moderat di Banyuwangi Majelis taklim diminta adaptif terhadap era digital

BANYUWANGI (Warta Blambangan) — Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi menggelar Dialog Kerukunan Intern Umat Beragama, Kamis (13/6/2025), di aula bawah kantor setempat. Dialog ini diarahkan untuk memperkuat siaran keagamaan Islam yang moderat dan adaptif terhadap perkembangan zaman, terutama di tengah masyarakat multikultural.

Forum ini melibatkan para pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, pengurus majelis taklim, serta para penyuluh agama Islam dari berbagai kecamatan di Banyuwangi. Diskusi berlangsung dinamis dengan penekanan pada pentingnya sinergi dakwah, legalitas kelembagaan, serta penguatan narasi Islam yang damai.



Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Kasi Bimas) Islam Kemenag Banyuwangi, H. Mastur, dalam laporannya mengungkapkan bahwa terdapat lebih dari 6.900 majelis taklim aktif di Banyuwangi. Kelompok ini dihuni oleh 15 hingga 30 jamaah dalam satuan kecil yang tersebar hingga pelosok desa. Namun demikian, tidak semua telah memiliki surat keterangan terdaftar (SKT), yang menjadi syarat administratif penting bagi pengakuan dan penguatan fungsi sosial mereka.


“Majelis taklim bukan sekadar forum pengajian, tetapi kekuatan sosial yang hidup dan dekat dengan denyut masyarakat. Legalitas SKT akan membuka jalan mereka untuk terlibat dalam berbagai program sosial dan keagamaan pemerintah,” ujar Mastur.


Dialog dibuka oleh Kepala Subbagian Tata Usaha Kemenag Banyuwangi, Drs. H. Moh. Jali, M.Pd.I., yang mewakili Kepala Kantor. Ia menyampaikan bahwa dialog intern seperti ini masih jarang digelar secara formal, padahal sangat dibutuhkan untuk menjembatani berbagai pandangan di antara umat Islam sendiri.


“Menjaga kerukunan antarumat penting, tetapi menjaga kedamaian di dalam tubuh umat Islam sendiri tak kalah urgen. Dialog ini adalah salah satu upaya untuk mengawal harmoni dari dalam,” kata Jali.


Diskusi yang dipandu H. Syafaat, S.H., M.H.I., menghadirkan sejumlah narasumber. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyuwangi, Drs. Nur Chozin, S.H., M.H., dalam paparannya menekankan pentingnya pemahaman batas toleransi dalam Islam. Menurutnya, toleransi tidak berarti mencampuri urusan ibadah agama lain, tetapi bekerja sama dalam konteks sosial dan kenegaraan.


Sementara itu, Abdul Aziz, S.H.I., M.H., Sekretaris Tanfidziah PC-NU sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Banyuwangi, menyampaikan pentingnya strategi dakwah digital. Ia menyarankan agar penyuluh agama dan pengurus majelis taklim mulai memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menyampaikan nilai-nilai Islam moderat kepada generasi muda.


“Kita harus hadir di ruang-ruang digital, karena di situlah generasi sekarang mencari informasi dan membentuk pandangan keagamaannya. Dakwah harus relevan dengan ekosistem informasi hari ini,” katanya.


Selain tokoh-tokoh NU, forum ini juga menjadi wadah konsolidasi antarlembaga Islam lain seperti Muhammadiyah, Al Irsyad, BKPRMI, dan LDII. Sejumlah pengasuh pondok pesantren juga turut hadir dan memberikan pandangan. Mereka menyampaikan perlunya penguatan kerja sama antarormas Islam guna menyikapi dinamika keumatan, termasuk dalam menjawab isu-isu intoleransi dan polarisasi di media sosial.


Rangkaian masukan dan gagasan dalam dialog tersebut akan ditindaklanjuti dengan penyusunan program pelatihan digitalisasi dakwah bagi para penyuluh dan pengurus majelis taklim. Program ini diharapkan dapat memperluas cakupan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan menjawab tantangan zaman secara bijak.


Forum diakhiri dengan kesepakatan bahwa kerukunan umat harus dirawat mulai dari dalam, melalui penguatan dialog antarkelompok Islam, yang kemudian akan memberi dampak pada harmonisasi hubungan antarumat beragama di Banyuwangi—daerah yang selama ini dikenal sebagai model

 kerukunan dan toleransi.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger