Pages

Dewan Kesenian Belambangan Gelar “Ajar Bareng Lontar Yusuf” di Rumah Budaya Osing Kemiren

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Di sebuah malam yang lirih di Rumah Budaya Osing (RBO), Desa Kemiren, Banyuwangi, suara tembang Pupuh Kasmaran mengalun pelan. Nada-nada itu tak sekadar melagukan aksara, tetapi membangkitkan ingatan, rasa, dan nilai-nilai yang mungkin nyaris terbenam dalam debu waktu. Selasa malam, 3 Juni 2025, Dewan Kesenian Belambangan (DKB) membuka kalender literasi tahun ini dengan sebuah gerakan yang bukan saja estetis, tetapi juga bernapas spiritual: Ajar Bareng Lontar Yusuf. 


Ini bukan sekadar kelas sastra atau workshop naskah kuna. Ini adalah sebentuk laku. Sebentuk pemuliaan terhadap khazanah lisan masyarakat Osing yang hidup bukan di rak-rak buku, tapi di ruang batin, di pelipir-pelipir kehidupan. Kang Pur, budayawan yang telah bertahun-tahun memelihara nyala kecil warisan tembang dan lontar, memandu sesi ini dengan sikap rendah hati dan hangat. Ia bukan guru, melainkan sahabat seperjalanan. Di hadapannya, para peserta tak diajak duduk mendengar, melainkan turut menyelami.

“Lontar Yusuf ini bukan sekadar teks sastra. Ia adalah jendela batin, pancaran nilai, dan sarana menyelami rasa,” ucap Kang Pur, sambil membuka lembar pertama naskah, seolah membuka kembali sebuah pintu yang telah lama diketuk sunyi.

Pupuh Kasmaran yang dipilih menjadi gerbang awal kegiatan bukan tanpa alasan. Pupuh ini dikenal sebagai tembang yang menggugah rasa halus manusia: cinta, pengorbanan, keindahan yang lirih. Kang Pur melagukannya terlebih dahulu, mengikuti pakem yang sudah turun-temurun. Lalu satu per satu peserta mencoba mengikutinya. Tak semua tepat cengkok. Tak semua selaras laras. Tapi di sinilah justru maknanya. Ini bukan panggung penampilan. Ini adalah ruang belajar yang egaliter, di mana suara tak harus indah, tapi harus tulus.

Di sekeliling mereka, arsitektur kayu Rumah Budaya Osing berdiri sunyi namun bersaksi. Aroma kopi kemiren yang mengepul dari sudut dapur menemani pelafalan bait-bait awal kisah Nabi Yusuf. Angin malam menyisip dari sela jendela terbuka, seolah ingin turut menjadi bagian dari mocoan itu. Rasa kontemplatif menjelma begitu saja, tak dirancang, tak dipaksakan.

Ketua DKB, Hasan Basri, dalam sambutannya menyebut kegiatan ini sebagai titik tolak penting dari ikhtiar kebudayaan yang selama ini nyaris hanya berputar pada gelaran pertunjukan. “Rumah Budaya Osing bukan sekadar panggung. Ia adalah ruang hidup. Kami ingin menjadikannya ruang belajar bagi karya sastra lisan seperti Lontar Yusuf yang pernah tumbuh dalam kesadaran masyarakat Osing.”

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa kegiatan semacam ini akan menjadi agenda rutin, tidak hanya sebagai bentuk pelestarian, tapi juga regenerasi nilai. Dalam konteks itulah Lentera Sastra Banyuwangi turut serta, membawa semangat yang tak hanya literer, tetapi juga spiritual. Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, menegaskan bahwa teks seperti Lontar Yusuf memiliki kedekatan kuat dengan sejarah penyebaran Islam di bumi Blambangan. 


“Mocoan Lontar Yusuf bukan sekadar pengulangan kisah. Ia adalah dialektika kultural antara Islam dan kearifan lokal. Di sinilah Islam tumbuh: tidak menyerbu, tapi meresap.”

Beberapa peserta yang hadir membawa salinan lontar mereka sendiri—naskah fotokopi yang telah menguning, atau dalam bentuk cetakan ulang terbatas. Ada rasa haru yang tak diucapkan, hanya terlihat dari cara mereka membolak-balik halaman, seperti menyentuh sesuatu yang telah lama mereka rindukan.


Pada sesi akhir, Kang Pur membedah bagian awal lontar yang telah dibaca bersama: kelahiran Yusuf dan metafora cahaya wajahnya yang disebut cahyaning jagad. Dalam tafsir tembang, cahaya itu bukan semata rupa, melainkan pancaran batin yang menyinari tanpa menyilaukan.


> “Melalui Lontar Yusuf, kita belajar tentang keteladanan, keindahan yang tak sombong, dan cinta yang tak membelenggu,” ujar Kang Pur, menutup sesi malam itu.




Suasana yang tersisa adalah kesunyian yang menggetarkan. Tidak sepi, melainkan penuh gema batin. Inilah ziarah rasa itu. Inilah ajar bareng yang tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga menggugah kesadaran.


DKB telah merancang seri lanjutan dari kegiatan ini. Dalam waktu mendatang, mereka akan memadukan tembang dengan ilustrasi visual dan pertunjukan dramatik. Harapannya, lontar-lontar yang selama ini terkurung di museum dan perpustakaan bisa kembali bernyawa dalam ingatan kolektif masyarakat. Terutama generasi muda, yang sering kali hanya mengenal masa lalu sebagai catatan kaki dalam buku sejarah.


Rumah Budaya Osing, malam itu, telah menjadi lebih dari sekadar ruang. Ia menjelma menjadi tubuh waktu, tempat di mana masa lampau, kini, dan nanti bisa saling menyapa tanpa canggung. Dalam lantunan Pupuh Kasmaran, dalam bait demi bait kisah Yusuf, kita semua belajar untuk tidak hanya mengingat, tapi juga merawat—dengan rasa, dengan jiwa, dengan cinta.


Ledakan Sastra dari Timur Jawa: Lokakarya HISKI Banyuwangi Tawarkan Transformasi Budaya Berbasis Naskah dan Lisan

Banyuwangi, (Warta Blambangan)  Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Banyuwangi, dengan dukungan Dana Indonesiana dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), telah menyelenggarakan kegiatan lokakarya nasional bertajuk “Penulisan Kreatif Sastra dan Pembuatan Produk Kreatif Berbasis Tradisi Lisan dan Manuskrip” pada 28–29 Mei 2025. Bertempat di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, lokakarya ini menjadi forum ilmiah sekaligus praktik kolaboratif yang bertujuan untuk merevitalisasi kekayaan budaya lokal melalui medium sastra dan produk kreatif kontemporer.



Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi, Nurul Ludfia Rochmah, menjelaskan bahwa pelaksanaan lokakarya telah didahului oleh dua kali sesi Focus Group Discussion (FGD), yang dirancang untuk membekali para peserta secara konseptual sebelum terlibat dalam proses kreatif. FGD tersebut difungsikan sebagai instrumen epistemologis untuk membangun kesadaran budaya peserta, serta memperkuat keterkaitan antara tradisi lisan, naskah klasik, dan kemungkinan penciptaan sastra mutakhir.


Lokakarya ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari berbagai elemen masyarakat, termasuk birokrat, sastrawan, seniman, budayawan, akademisi, guru, mahasiswa, dan pelajar. Keberagaman latar belakang peserta dimaknai sebagai representasi pluralisme sosial yang berkontribusi terhadap proses dialektika kultural dalam pengolahan tradisi menjadi karya-karya literer yang relevan secara sosial maupun estetik.


Sebagai bentuk afirmasi keilmuan, lokakarya menghadirkan sejumlah narasumber nasional yang memiliki otoritas di bidang sastra, filologi, dan kajian tradisi, antara lain Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. (Ketua Umum HISKI), Dr. Munawar Holil, M.Hum. (Ketua Umum Masyarakat Pernaskahan Nusantara), Dr. Pudentia MPSS (Ketua Umum Asosiasi Tradisi Lisan), Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd., dan Dr. Yeni Artanti, M.Hum. Adapun proses diskusi dan elaborasi materi dimoderatori oleh Sudartomo Macaryus, M.Hum., yang turut memastikan alur penyampaian materi berjalan sistematis dan partisipatif.


Secara substantif, kegiatan ini berfokus pada pengembangan keterampilan menulis kreatif berbasis data budaya, yang bersumber dari tradisi lisan maupun manuskrip kuno. Pendekatan ini tidak hanya dimaksudkan untuk kepentingan estetika sastra, tetapi juga sebagai strategi pelestarian warisan budaya takbenda dalam kerangka kebudayaan yang dinamis.


Hasil lokakarya menunjukkan pencapaian signifikan, antara lain:

1. Terbitnya buku kumpulan karya peserta, yang memuat eksplorasi naratif atas budaya Banyuwangi dalam bentuk fiksi, puisi, dan narasi kreatif lainnya.

2. Produksi alih wahana sastra dalam format multimedia oleh 30 peserta individu, yang kemudian disebarluaskan melalui kanal digital, terutama YouTube. Lima karya terbaik memperoleh penghargaan masing-masing sebesar Rp1.000.000.

3. Kolaborasi kelompok yang melahirkan lima proyek kreatif berbasis transformasi tradisi ke bentuk multimedia, dengan masing-masing kelompok memperoleh dana pembinaan sebesar Rp3.500.000.

4. Penyusunan artikel ilmiah yang mengkaji alih wahana sastra Banyuwangi, yang direncanakan untuk publikasi pada jurnal bereputasi dalam indeks SINTA.

5. Pendaftaran 14 karya sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI), yang bertujuan memberikan perlindungan hukum terhadap produk kreatif hasil lokakarya.


Implikasi jangka panjang dari kegiatan ini tidak hanya berkaitan dengan penguatan identitas kultural lokal, tetapi juga memberi kontribusi terhadap diskursus kebudayaan nasional melalui pembaruan model produksi sastra. Dalam konteks epistemologi sastra, kegiatan ini memperlihatkan bahwa tradisi lisan dan manuskrip bukan entitas statis, melainkan sumber naratif dinamis yang dapat dimodifikasi, ditransformasikan, dan dihidupkan kembali sesuai konteks zaman.


Seluruh hasil lokakarya akan ditampilkan dalam ajang Festival dan Dialog Sastra HISKI, yang merupakan bagian integral dari Kalender Festival Banyuwangi 2025 dengan tajuk “Banyuwangi Kolo Semono.” Kegiatan ini menjadi ruang publik untuk menampilkan produk sastra dan budaya hasil pengolahan ulang tradisi, serta menjadi sarana literasi kultural yang inklusif.


Dengan demikian, lokakarya ini berfungsi tidak hanya sebagai aktivitas kebudayaan, tetapi juga sebagai laboratorium sosial yang menumbuhkan ekosistem kreatif berbasis pengetahuan lokal. Melalui pendekatan integratif antara kajian ilmiah dan praktik kreatif, HISKI Banyuwangi telah menunjukkan bahwa revitalisasi budaya dapat dilakukan secara inovatif dan tetap mempertahankan akar tradisinya.

Restrukturisasi, Kementerian PU akan Kebut Pembangunan Pasar Banyuwangi

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) akan kembali kebut pembangunan Pasar Induk Banyuwangi. Progres pembangunan pasar tersebut sempat tersendat, karena ada reorganisasi di seluruh kementerian, termasuk Kementerian PU. 


Proses revitalisasi Pasar Banyuwangi sendiri dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), dan telah dimulai pada Oktober 2024. Namun dalam perjalanan waktu, terjadi reorganisasi atau perubahan nomenklatur di tubuh Kementerian PUPR, yang dipisah menjadi Kementerian PU dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (Kementerian PKP). 

Di tubuh Kementerian PU sendiri juga terjadi perubahan. Pekerjaan revitalisasi Pasar Banyuwangi dan kawasan Inggrisan yang semula ditangani Ditjen Cipta Karya kini berubah di bawah Ditjen Prasarana Strategis.

"Dengan adanya re-organisasi pada seluruh Kementerian, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum, sehingga berdampak pada proses penganggaran. Dokumen-dokumen DIPA pun harus menyesuaikan, turut terjadi perubahan. Ini yang menyebabkan keterlambatan pada pekerjaan Revitalisasi Pasar Induk Banyuwangi," kata Kepala Satker Pelaksanaan Prasarana Strategis (PPS) Jawa Timur Kementerian PU, I Gusti Agung Ari Wibawa saat meninjau Pasar Banyuwangi yang sedang dalam proses revitalisasi, Rabu (28/5/2025).   

Ari menjelaskan bahwa Kementerian PU bersama Pemkab telah menggelar pertemuan dengan para pedagang Pasar Banyuwangi yang direlokasi pada Selasa (27/5/2025) untuk menjelaskan progress pembangunan pasar. Pertemuan tersebut juga dihadiri pelaksana proyek dan Tim  Pengamanan Pembangunan Strategis (PPS) Kejati Jawa Timur untuk kegiatan Kementerian PUPR di wilayah Jawa Timur. 

"Sebenarnya tidak terjadi pemberhentian total, karena pada Januari hingga Mei tetap dilakukan pengerjaan, meski memang ada perlambatan. Kemarin sudah digelar rapat koordinasi dengan berbagai pihak. Pelaksana pekerjaan akan melakukan percepatan pembangunan revitalisasi Pasar Banyuwangi mulai awal Juni 2025," jelas Ari.

Plt Kadis PU Banyuwangi, Suyanto Waspo Tondo, menambahkan bahwa pemkab akan terus berkoordinasi terkait percepatan proses revitalisasi pasar dengan Kementerian PU.    

“Iya, tadi kami juga rapat dengan pihak Kementerian PU apa-apa yang perlu segera kami kerjakan untuk membantu percepatan proses pembangunannya,” kata Suyanto yang akrab dipanggil Yayan.

Pasar Banyuwangi didesain memiliki  gedung utama yang terdiri dua lantai dengan arsitektur khas Osing, Banyuwangi. Pasar akan dibagi menjadi areal pasar basah, pasar kering, dan area kuliner. Juga dilengkapi dengan gedung parkir. (*)

Festival Padhang Ulanan: Strategi Pemerintah Daerah Banyuwangi dalam Pelestarian Seni Budaya Melalui Partisipasi Pelajar

BANYUWANGI (Warta Blambangan) – Pelestarian budaya lokal tidak semata menjadi aspek simbolik dalam pembangunan daerah, namun merupakan bagian integral dari upaya mempertahankan identitas kolektif dan memperkuat kohesi sosial masyarakat. Dalam konteks ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menunjukkan komitmennya terhadap keberlanjutan warisan budaya melalui program Festival Padhang Ulanan, sebuah kegiatan seni yang secara rutin melibatkan ribuan peserta didik dari jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.b


Diselenggarakan setiap bulan secara bergilir di seluruh kecamatan, Festival Padhang Ulanan menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus instrumen edukatif yang memperkenalkan kembali berbagai bentuk kesenian khas Banyuwangi kepada generasi muda. Kegiatan ini bukan hanya menempatkan pelajar sebagai penampil, tetapi juga sebagai subjek aktif dalam reproduksi budaya lokal.

“Festival ini kami gelar sebagai bentuk komitmen dalam melestarikan kesenian dan budaya daerah. Anak-anak muda kami libatkan, agar mereka mempelajari dan mencintai seni budaya daerah,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, pada Minggu (18/5/2025).

Pada pelaksanaan yang berlangsung di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Sabtu (17/5/2025), tercatat sekitar 300 pelajar tampil dalam beragam pertunjukan seni. Repertoar yang ditampilkan meliputi tari tradisional Gandrung Marsan dan Niskala Seblang, pertunjukan wayang kulit, sandiwara rakyat, syair tradisional Osing, serta pembacaan naskah klasik dalam tradisi Mocoan Pacul Goang yang mengangkat teks Lontar Yusuf disertai dengan fragmen komedi bernuansa edukatif.

Model pendekatan ini menunjukkan adanya integrasi antara pendekatan pelestarian budaya dengan strategi pembelajaran kontekstual. Partisipasi aktif pelajar tidak hanya menjadi sarana regenerasi pelaku seni, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan jati diri budaya serta pengembangan karakter melalui internalisasi nilai-nilai lokal.

Bupati Ipuk menambahkan bahwa Festival Padhang Ulanan akan terus digelar secara berkala hingga akhir tahun dengan tema yang disesuaikan pada kearifan lokal masing-masing kecamatan. Hal ini mencerminkan upaya dekonsentrasi kegiatan budaya agar menjangkau seluruh wilayah dan lapisan masyarakat.

Harapan akan lahirnya generasi baru pelaku seni menjadi salah satu tujuan strategis kegiatan ini. “Dengan melibatkan ribuan siswa dalam kegiatan seni, kami berharap muncul talenta-talenta baru yang akan melanjutkan dan mengembangkan kesenian Banyuwangi,” imbuh Ipuk.

Respons peserta dan masyarakat menunjukkan antusiasme yang tinggi. Siva Nadia Putri (11), salah satu penampil tari tradisional, mengungkapkan kebahagiaannya dapat tampil di panggung festival. “Senang sekali diberi panggung bagus untuk bisa tampil di hadapan orang-orang. Hobi saya memang menari, semoga kelak besar tetap bisa menekuni seni tari,” ujarnya.

Kegiatan ini juga memiliki nilai tambah dalam ranah psikososial, antara lain melalui peningkatan kepercayaan diri anak dan penguatan peran keluarga dalam mendukung bakat anak. “Melihat bakat anak saya tersalurkan ini bikin kami bangga. Ini juga ajang menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak,” ungkap Jumenah, salah satu orang tua siswa.

Secara keseluruhan, Festival Padhang Ulanan menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan Banyuwangi yang terus berkembang. Pemerintah daerah secara konsisten menggelar berbagai kegiatan kebudayaan lainnya, seperti Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Gandrung Sewu, Festival Band Pelajar, dan berbagai ajang seni lainnya, yang seluruhnya diarahkan untuk membangun keberlanjutan budaya berbasis partisipasi publik dan regenerasi pelaku.

Dengan demikian, Festival Padhang Ulanan bukan sekadar ajang pertunjukan, melainkan sebuah model kebijakan kultural yang mengintegrasikan edukasi, pelestarian, dan pembangunan karakter generasi muda dalam bingkai budaya lokal. (*)

Dispertan Banyuwangi Pastikan Hewan Kurban Sehat, Pemeriksaan Serentak Digelar di Semua Kecamatan

BANYUWANGI, (Warta Blambangan) — Menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Banyuwangi menggencarkan pemeriksaan kesehatan hewan kurban di lapak-lapak pedagang musiman. Pemeriksaan dilakukan serentak di seluruh kecamatan, termasuk di wilayah Kota Banyuwangi dan Kecamatan Giri, Rabu (28/5/2025). 


Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Ilham Juanda, menyampaikan bahwa pemeriksaan ini bertujuan memastikan seluruh hewan kurban yang diperjualbelikan dalam kondisi sehat dan layak potong.

“Hari ini pemeriksaan dilakukan serempak se-Kabupaten Banyuwangi. Kami fokuskan pada pedagang musiman yang menjual hewan kurban di titik-titik strategis,” ujar Ilham.

Pemeriksaan dilakukan oleh tim dari Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner. Pemeriksaan bersifat antemortem atau dilakukan sebelum pemotongan hewan. Kepala bidang tersebut, drh Nanang Sugiharto, menjelaskan bahwa langkah ini untuk memastikan hewan tidak terinfeksi penyakit yang dapat membahayakan masyarakat atau ternak lain.

“Dengan pemeriksaan ini, masyarakat bisa merasa tenang. Hewan yang mereka beli sehat dan sesuai syariat,” kata Nanang.

Di lapak milik M Naseh di Jalan Kepiting, Kelurahan Sobo, misalnya, tim menemukan 70 ekor kambing dan 20 ekor domba dalam kondisi sehat. Tak ditemukan gejala penyakit menular, seperti demam, lesu, atau luka di mulut dan kuku.

Selain pemeriksaan fisik, Dispertan juga menganjurkan pedagang menjaga kebersihan kandang. Petugas memberikan disinfektan dan mengimbau penyemprotan kandang secara berkala untuk mencegah penyebaran penyakit, termasuk Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang masih menjadi perhatian.

“Penyemprotan ini juga agar lingkungan sekitar tidak terganggu bau tak sedap. Apalagi kandang-kandang ini berada di sekitar permukiman,” tambah Nanang.

Ia memastikan, stok hewan kurban di Banyuwangi cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan data Dispertan, jumlah sapi kurban mengalami surplus sekitar 1.200 ekor. Untuk domba, terdapat kelebihan antara 2.000 hingga 5.000 ekor dibandingkan kebutuhan pada Idul Adha tahun sebelumnya.

Dispertan akan terus melakukan pemantauan hingga hari tasyrik terakhir untuk memastikan distribusi dan kesehatan hewan tetap terjaga. “Kami imbau masyarakat membeli hewan kurban dari pedagang yang lapaknya sudah diperiksa oleh petugas,” kata Nanang.

Dandim 0825 Terima Audiensi GM FKPPI, Bahas Sinergi Kebangsaan dan Perayaan Hari Lahir Pancasila 2025

 


BANYUWANGI (Warta Blambangan) – Komandan Kodim (Dandim) 0825/Banyuwangi, Letkol Arh Joko Sukoyo, S.Sos., M.Han., menerima audiensi jajaran pengurus GM FKPPI PC-1325 Banyuwangi, pada Kamis (29/5/2025) siang. Pertemuan strategis yang berlangsung di Join Selangkung Makodim 0825 ini, menjadi ajang konsolidasi lintas elemen dalam rangka menyambut Hari Lahir Pancasila 2025 dan memperkuat peran generasi muda melalui pendekatan sosial, budaya, dan intelektual.


Dengan mengusung tema “Pancasila dalam Tindakan: Semangat Gotong Royong GM FKPPI Membangun Negeri”, GM FKPPI menyiapkan rangkaian kegiatan selama empat hari, dari 29 Mei hingga 1 Juni, mulai dari lomba seni dan pidato kebangsaan, hingga diskusi publik dan konser kolaboratif lintas iman.

“Ini bukan sekadar seremoni, tapi perwujudan nilai Pancasila dalam kehidupan sosial yang inklusif dan relevan dengan zaman,” tegas Ketua GM FKPPI Banyuwangi, KH. Ir. Achmad Wahyudi, S.H., M.H.

Dalam audiensi tersebut, Dandim 0825/Banyuwangi Letkol Arh Joko Sukoyo, menyoroti pentingnya inovasi dan kolaborasi lintas sektor. Ia mencontohkan kemajuan sektor pertanian di Banyuwangi yang kini mampu panen tiga hingga empat kali dalam setahun berkat bibit unggul, air yang stabil, dan teknologi modern.

“Satu hektare sawah kini bisa dipanen hanya dalam satu jam. Ini bukti kemajuan luar biasa. Pertanian kita sudah jauh melesat,” ungkap Dandim.

Dandim juga menyambut baik pendekatan GM FKPPI yang tidak hanya menonjolkan disiplin dan militansi, tetapi juga semangat pluralisme. “TNI kita lengkap di Banyuwangi, dari TNI AD, TNI AL, dan TNI AU yang jarang dimiliki kabupaten lain. Tapi kekuatan terbesar adalah bila seluruh elemen sipil dan militer berjalan bersama,” ujarnya.

Dalam sesi dialog yang berlangsung penuh keakraban dan substansi ini, Ketua GM FKPPI menegaskan arah baru organisasi yang kini memasuki fase ketiga, yakni ekspansi budaya dan akademik. 

“Doreng kami hari ini bukan simbol baris-berbaris, melainkan simbol kebhinekaan. Struktur pengurus GM FKPPI Banyuwangi pun mencerminkan hal tersebut: Dewan Penasehat berasal dari kalangan pendeta, Sekretaris beragama Katolik, dan Ketua adalah seorang kyai. Ini menjadi preseden penting dalam model kepemimpinan inklusif berbasis nilai-nilai Pancasila,” jelas Ir Achmad Wahyudi.

Acara puncak peringatan Hari Lahir Pancasila akan ditutup dengan konser kolaboratif Suara Emas Banyuwangi, menampilkan 20 keyboardis dan penyanyi lintas agama. “Kami ingin menyampaikan pesan, bahwa seni dan nasionalisme bisa berjalan beriringan dalam harmoni,” imbuhnya.

Menanggapi isu nasional seperti revisi UU TNI, Dandim menegaskan pentingnya ruang dialog terbuka. “Mahasiswa itu teoritisi, bukan praktisi. Maka harus ada keseimbangan dalam memahami isu. TNI hadir untuk mendampingi, bukan membenturkan. Hanya lewat dialog kita bisa menjaga keutuhan bangsa,” tuturnya.

Audiensi ini juga dihadiri jajaran pengurus GM FKPPI Banyuwangi, antara lain Kries Febriyanto (Waka Bidang Orta), Eko Herwanto (Waka Bidang Senbud), Candra Yulianto (Waka Bidang Pengmas), Ir. Oktavius Bali Suki (Waka Bidang Hubla Pemormas), Ruslan Abdul Gani (Biro Publikasi dan Dokumentasi), dan Fatah Hidayat, S.P., S.Sos., M.Si. selaku Ketua Panitia.

Mengakhiri pertemuan, Ir Achmad Wahyudi, menegaskan bahwa GM FKPPI siap menjadi wadah lintas generasi yang memadukan spirit nasionalisme, kearifan lokal, dan keberagaman dalam satu gerakan yang utuh.

“Tak banyak organisasi yang bisa menyatukan ulama, seniman, santri, mahasiswa, hingga TNI-Polri dalam satu forum. Kami ingin menjadi jangkar kebangsaan di tengah ombak zaman,” pungkasnya.


Audiensi ditutup dengan komitmen bersama antara Kodim 0825 dan GM FKPPI Banyuwangi untuk terus memperkuat peran strategis generasi muda dalam merawat nilai-nilai Pancasila, melalui pendekatan yang humanis, kultural, dan solutif.


Dandim menyatakan kesediaannya untuk menghadiri langsung dua agenda utama, yakni Diskusi Publik dan Inagurasi Malam Puncak Peringatan Hari Lahir Pancasila, sebagai bentuk dukungan nyata terhadap gerakan kolaboratif yang digagas GM FKPPI PC-1325 Banyuwangi. 

(sumber: Biro Publikasi dan Dokumentasi GM FKPPI 1325 Banyuwangi)

Dunia Obah, Kata Bergelombang: Malam Sastra di Banyuwangi Bersama Tengsoe Tjahjono

Banyuwangi, ( Warta Blambangan) Kamis malam (29/5/25) — Angin berembus pelan di palinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi. Bulan separuh wajahnya menengadah, menyaksikan kata-kata menari di udara. Dunia itu obah, dunia itu berubah. Seperti air yang tak mau diam, sastra pun mengalir, menggulung logika dan rasa dalam satu gelas wacana.

Malam itu, Dewan Kesenian Blambangan (DKB) memanggil para pencinta kata dan perenung makna. Di antara mereka, hadir sosok yang telah menakik kata menjadi senjata pemahaman—Dr. Tengsoe Tjahjono, sastrawan dan akademisi dari Universitas Brawijaya. Ia tak datang sebagai guru, melainkan penyala api kecil di tengah semesta yang gelap oleh repetisi. 

Didampingi oleh Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, diskusi ini bukan sekadar ajang bertukar pikiran. Ia adalah perjamuan batin, tempat kenyataan dirajam oleh pertanyaan dan keindahan dibalut kesadaran. Tengsoe membuka perbincangan dengan metafora yang menghentak, “Di tangan ilmuwan, A menjadi A. Tapi di tangan penyair, A bisa menjadi A plus.”

Dan malam pun mulai menggigil oleh kehangatan makna.

Tak ada yang terlalu baku dalam diskusi ini. Kalimat-kalimat lahir seperti kabut di pagi hari—tak perlu padat, asal menyentuh. Tengsoe melemparkan sebuah renungan yang membuat banyak kepala mengangguk dalam diam. Menurutnya, penyair bukan tukang catat, tapi pemahat jiwa. “Tugas penyair bukan menduplikasi kenyataan, tapi memberi napas baru pada realita yang biasa-biasa saja,” katanya, seolah membelah langit kata yang selama ini stagnan dalam logika.

Ada pula mitos yang dibongkar malam itu. Bahwa sastrawan hidup dalam lapar, bahwa puisi hanya menyentuh angin. “Katanya sastrawan tidak bisa hidup dari sastra. Tapi lihatlah, banyak penyair yang justru hidup dari puisi. Mereka keliling dunia karena kata-katanya,” ucapnya lirih namun tajam, seperti mata pena yang menari di atas luka.

Ia mengajak semua, dari petani sampai nelayan, dari sopir sampai guru honorer, untuk menulis. Tak perlu rumit. Tak perlu jadi sastrawan dulu untuk mulai merangkai kalimat. Cukup sadari hidup sebagai teks yang menunggu dibaca, ditulis, dan diarsipkan.

Malam tak hanya berbicara tentang puisi dan manusia, tetapi juga tentang zaman yang kian lihai mencipta ilusi. Ketika pertanyaan soal AI meluncur ke udara, Tengsoe menjawab dengan senyum penuh arti. “AI itu cerdas. Tapi tidak bisa nakal. Dan justru kenakalan itulah yang melahirkan puisi,” katanya. Kalimat itu, seperti tamparan sekaligus pelukan untuk zaman digital yang kehilangan denyut rasa.

Baginya, puisi bukan sekadar teks. Ia adalah resonansi batin. Maka dari itu, ia mengingatkan agar hasil kerja mesin harus tetap melalui mata dan hati manusia. Sebab puisi, seperti juga cinta, tak bisa dirumuskan oleh algoritma.

“Orang yang menulis tapi tidak membaca, puisinya akan terasa hampa. Pengetahuannya sempit. Terlihat dari cara memilih kata dan membangun metafora,” lanjutnya. Di titik ini, sastra seolah bukan sekadar seni, tapi jalan hidup yang memerlukan asupan, olah rasa, dan napas panjang.


Tokoh dan Tekad, Imajinasi dan Sindiran

Hadir malam itu, para penjaga api kesenian Banyuwangi. Hasan Basri, Ayung Notonegoro, S.A.Wm Notodiharjo, dan Elvin Hendrata mengisi ruang dengan aura kreatif yang hangat. Dari Basecamp Karangrejo, Hakim Said datang membawa semangat nyeleneh tapi jujur. “Kita harus berani membayangkan masa depan: rumah, mobil, bahkan punya istri dua,” katanya sambil tertawa, membuat ruangan sejenak menjadi panggung lawak yang filosofis. 

Di balik canda itu, ada keseriusan yang kentara. Hakim Said menegaskan dukungannya pada geliat kesusastraan lokal. Rumah Kebangsaan, katanya, akan menjadi rumah bagi siapa pun yang mau menyulap realitas menjadi kemungkinan.

Hasan Basri, dengan suara datar namun dalam, menyentil kebiasaan lomba puisi di sekolah. “Puisi tidak seharusnya dilombakan. Tapi kenyataannya, justru dijadikan ajang kompetisi. Kita perlu rumusan baru agar ekspresi tidak dikekang format,” katanya. Ia menyinggung pentingnya membuat indikator baru untuk membaca puisi sebagai jiwa, bukan sebagai teknik.


Diskusi makin hangat ketika para peserta mulai berbagi. Seorang pemuda bertanya bagaimana caranya menjadikan obrolan di warung kopi atau tontonan televisi sebagai cerita pendek yang menggugah. Tengsoe menjawab pendek tapi menohok, “Menjadi penulis adalah menjadi pembaca yang baik. Entah itu membaca buku, membaca peristiwa, atau membaca manusia.”

Kalimat itu menggantung di udara. Seperti puisi yang tak selesai, atau mungkin sengaja dibiarkan terbuka agar siapa pun bisa mengisinya dengan tafsir masing-masing.

Sebagai penutup, beberapa peserta membacakan puisi. Tak ada panggung tinggi. Tak ada batas antara penonton dan pembaca. Hanya ada suara, dan kata-kata yang mengalir seperti sungai kecil di tengah kota yang kian berisik.

Ketua DKB menutup acara dengan catatan kecil: bahwa malam ini bukan akhir dari pertemuan, melainkan pembuka dari perjalanan panjang. Perjalanan menggali batin, menyulam lokalitas, dan menghidupkan kembali sastra sebagai denyut hidup Banyuwangi.

Dan ketika malam benar-benar turun, para penyair itu pun pulang. Tapi kata-kata mereka tetap tinggal, menggema di lorong-lorong kota, menunggu pembaca berikutnya untuk meraba dan menghidupkannya kembali.

Obahlah, dunia. Sebab kata akan selalu punya cara untuk menyusup ke dalam perubahan.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger