Pages

Kanwil Kemenag DIY Kunker ke Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur tak hanya terkenal dengan destinasi wisata alamnya yang memukau, tetapi juga dengan kekayaan wisata religi yang tak kalah menarik. Salah satu contohnya adalah Masjid Agung Baiturrahman, masjid bersejarah yang menjadi saksi bisu berdirinya kota Banyuwangi. Pada Rabu (4/9/2024), masjid yang berdiri megah di pusat kota ini menjadi tujuan kunjungan kerja (kunker) dari Kementerian Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).



Kunjungan ini tidak sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga ziarah ke makam para Bupati (Adipati) Banyuwangi yang terletak di belakang Masjid Agung. Dipandu oleh Syafaat dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, rombongan disuguhi kisah sejarah berdirinya Banyuwangi dan perjalanan para pemimpin yang dimakamkan di sana.

Iwan Azis Siswanto, Sekretaris Masjid Agung Baiturrahman, menjelaskan tentang kemakmuran masjid yang pernah dinobatkan sebagai Masjid Paripurna Terbaik kedua di Indonesia. Selain kegiatan ibadah yang teratur, masjid ini juga dilengkapi dengan berbagai sarana prasarana yang memadai, menjadikannya sebagai pusat keagamaan yang aktif dan hidup.


Salah satu daya tarik utama bagi peserta kunker adalah sebuah Al-Qur’an berukuran besar 150 x 200 cm yang disimpan di lantai dua masjid. Al-Qur’an ini ditulis dengan rapi oleh Ustad Abdul Karim, seorang warga asli Kecamatan Genteng, dan dibaca di bulan Ramadhan. “Al-Qur’an ini adalah salah satu simbol keagungan dan keberagaman budaya yang masih terjaga dengan baik di Banyuwangi,” ujar Iwan Azis.


Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah Kementerian   Agama Provinsi DIY, H. Muntolib, mengungkapkan kekagumannya terhadap manajemen Masjid Agung Baiturrahman yang dianggapnya bisa menjadi contoh bagi pengelolaan masjid-masjid lainnya di Indonesia. “Banyak hal yang dapat kita pelajari dari pengelolaan masjid ini, terutama dalam memakmurkan masjid dan menjaga tradisi keagamaan,” tuturnya.


Di akhir kunjungan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, mengungkapkan rasa2 bangganya terhadap perubahan citra Banyuwangi yang kini jauh dari julukan ‘Kota Santet’. Ia lebih memilih menyebut Banyuwangi sebagai ‘Kota Internet’, mengingat ketersediaan fasilitas wifi gratis di berbagai tempat umum yang menandakan kemajuan teknologi di kabupaten paling timur Pulau Jawa ini.

Kunker Kanwil Kemenag Prov DIY ke KUA Kecamatan Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Bidang Urusan Agama Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengadakan kunjungan kerja ke Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Banyuwangi, Rabu (04/09/2024).

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. Chaironi Hidayat menyampaikan terimakasih atas kunjungan yang dilakukan Kanwil Kemenag Provinsi DIY beserta Kasi Bimas Islam dan Kepala KUA Kecamatan Revitalisasi se-Provinsi DIY dengan harapan membawa manfaat.

"ada 11 KUA Revitalisasi yang ada di Kabupaten Banyuwangi dan KUA Kecamatan Banyuwangi merupakan KUA Revitalisasi yang pertama kali" Kata Chaironi. 

Lebih lanjut Chaironi menyampaikan bahwa di Kabupaten Banyuwangi semuanya menggunakan digitalisasi, termasuk Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan Smart Kampung yang juga digunakan di Kantor Desa maupun Kelurahan.

"masyarakat dimudahkan dengan layanan digital mulai tingkat desa sampai tingkat kabupaten, termasuk pada Kementerian Agama" kata Roni.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi  DIY yang diwakili Kepala Bagian Tata Usaha H. Muntolib, S.Ag, MSI didampingi Kabid Urais Drs. H. Jauhar Mustofa, MSI menyampaikan bahwa KUA Kecamatan Banyuwangi dalam penilaian layanan masyarakat tahun 2023 merupakan KUA Revitalisasi terbaik se-Indonesia, sehingga perlu adanya Kunjungan Kerja dengan tujuan KUA Kecamatan di ujung timur Pulau Jawa ini. Kunjungan Kerja yang dilaksanakan ini untuk peningkatan layanan kepada masyarakat, terutama layanan pada KUA Kecamatan.

"Digitalisasi layanan di Kabupaten Banyuwangi layak untuk ditiru oleh Kabupaten lainnya di Indonesia" katanya.

Acara berlangsung gayeng dalam sesi tanya jawab yang dipandu H. Abdul Aziz, Kepala KUA Kecamatan Banyuwangi didampingi Ahmad Sakur Isnaini, Kepala KUA Kecamatan Sempu.

Di akhir acara, Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DIY menyerahkan Cinderamata yang diterima oleh Dr. H. Santoso. kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.

Mendung di Bola Mata Ning Wida

Mattahari belum genap menyapa tenda Mina yang belum tertata, kami datang dengan tenaga di ujung lelah setelah semalam bermalam tak terpejam di Muzdalifah, jamaah merebahkan diri di dua tenda terpisah sekenanya, bagi mereka mendapatkan tempat merebahkan diri diatas kasur spon merupakan anugerah terindah yang berbeda dengan warna cerita tentang Mina pada tahun sebelumnya yang hanya beralaskan selembar karpet saja, meskipun bayangan kurangnya tempat masih menghantui, namun bagi yang telah mendapatkan tempat nyaman akan persetan dengan dengan kesepakatan. 


Sayapun juga manusia biasa yang sama dengan mereka, keterbatasan tenaga yang juga butuh beristirahat, mencoba mengingatkan agar menempati posisi terpisah sesuai dengan jenis kelaminnya, namun lelah yang mereka tanggung mengakibatkan tidak dapat berfikir jernih, begitupun dengan saya, sehingga percuma saja berbicara dengan orang yang sedang kelelahan, bisa jadi pada akhirnya juga emosi, terlebih saya sudah mencobanya, saya gertak juga mereka "kalau nggak mau diatur tak tinggal tidur" dan sebagian dari jamaah saling menyalahkan yang terpaksa saya mengambil opsi yang saya sampaikan yakni tak tinggal tidur.

Tidur tidak harus menghilangkan semua kesadaran, cukup mengistirahatkan raga dan mengosongkan semua pikiran dan kalau bisa juga perasaan, meskipun sayup-sayup saya mendengar sedikit keributan tetap saya saya biarkan, setidaknya saya hanya butuh mengistirahatkan pikiran lima sampai lima belas menit.

Saya yakin banyak yang kecewa dengan yang saya lakukan, ketika masalah belum selesai saya tinggal tidur, namun saya mempunyai prmbenar dengan yang saya lakukan, setidaknya saya tidak akan terbawa emosi ketika menghadapi orang-orang yang sudah dewasa, setidaknya memberi kesempatan orang-orang untuk memikirkan yang sudah dilakukan tanpa harus di salahkan, setidaknya memberikan ruang pikiran menerima kenyataan pahit dan merubah menjadi kenyamanan dan cerita indah kepada keluarganya.

Saya kembali menata jamaah, dan mereka juga dengan kesadaran diri menempati tempat sesuai dengan kesepakatan, mengutamakan perempuan ditempat yang lebih lapang.

Saya melihat' Ning Wida tak seperti biasanya, pipinya terlihat kemerah-merahan, terlihat semakin cantik saja, keluar dari tenda yang diperuntukkan jamaah laki-laki, meskipun siang itu tanpa senyum, tidak mengurangi kecantikannya, saya terus memandang wajahnya, memastikan kemerah-merahan pipinya bukan produk kosmetik, matanya sedikit sayu menghampiriku, aura tak seperti biasanya, menggambar ribuan kata yang tak mampu terucap. Tepat berdiri di depanku, ada mendung di bola matanya, perlahan air mata menetes dari sudut matanya yang jernih membasahi pipinya seperti anak kecil mengadu kepada bapaknya, semua terdiam bahkan matahari pun juga tak berani beranjak.

Ketegaran yang selama ini terjaga akhirnya tumbang juga dengan air mata, saya mendengarkan saja yang dialaminya, dokter Wida sudah bekerja secara maksimal, meskipun ketika di Muzdalifah saya sudah menyiapkan kemungkinan yang terjadi di Mina, namun Ning Wida yang dirumahnya mempunyai puluhan santri ini kaget juga ketika dibentak oleh salah satu jamaah ketika saya tidak bersamanya karena kita sama-sama menata jamaah dibtenda yang berbeda.

Saya ingin menyeka air matanya dengan sapu tangan, namun tidak membawa, karena kita masih berpakaian ihram.

Sungguh saya merasa sangat bersalah ketika Dokter cantik ini meneteskan airmata, memang, tanpa adanya survei awal lokasi mengakibatkan kita agak kesulitan menata jamaah, untungnya ini bukan tugas saya yang pertama, sehingga meskipun hanya dibekali peta, saya sudah dapat memperkirakannya, berapa kapasitas tiap tenda, dan telah ada komitmen awal dengan jamaah sebelum Armuzna.

Saya mencari Ning Wida, ternyata dia ke Masjid, sayapun juga ingin tahu kondisi Masjid yang gandeng dengan tenda, lumayan besar dan bersih, air conditioner juga dingin, saya sempat rebahan setelah sholat duha empat rakaat, dari jauh saya lihat Ning Wida khusuk yang saya tidak tahu apa yang di bacanya.

Tiga hari di tenda Mina terlalu banyak cerita, dan kisah tentang perjalanan air mata ini tak mudah terhapus dari pikiran siapapun yang benar-benar merasakannya.


Mina 16/06/2024

Kemenag Kab Banyuwangi Gelar Seleksi MTQ

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, membuka Seleksi dan Pembinaan Calon Kafilah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (31/08/2024).



Acara yang digelar di area Kemenag Banyuwangi itu untuk mempersiapkan para peserta yang akan mewakili Banyuwangi dalam ajang MTQ tingkat provinsi tahun 2025 mendatang.


Dalam sambutannya, Chaironi Hidayat menyampaikan pentingnya peran MTQ dalam membentuk generasi yang cinta Al-Quran dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Ia juga berharap kegiatan seleksi dan pembinaan ini mampu melahirkan kafilah-kafilah yang berprestasi dan siap bersaing di tingkat yang lebih tinggi.



"Kami berharap melalui proses seleksi dan pembinaan ini, para peserta tidak hanya unggul dalam keterampilan membaca dan menghafal Al-Quran, tetapi juga memiliki pemahaman yang mendalam tentang isi kandungannya," ujar Chaironi.


Lebih lanjut, orang nomor satu di Kemenag Banyuwangi itu mengatakan bahwa, ahlul quran potensi besar untuk masuk surga. Karena setiap saat mereka selalu menempel dengan kalamullah yang mulia. 


Para peserta mengikuti serangkaian tes dan secara langsung untuk memastikan kesiapan mereka dalam menghadapi MTQ tingkat provinsi Jawa Timur ke-30 yang akan digelar di Kabupaten Jember.


Cabang lomba yang diseleksi meliputi, Tartil, MTQ Kanak-Kanak, Remaja, Dewasa, Qiraat Mujawwad, dan Qiraat tartil remaja, dan dewasa.  Sedangkan di cabang hifdzil quran meluputi MHQ 1  juz & 5 juz tilawah, MHQ 10, 20, 30 juz, serta tafsir Alquran. 


Ajang seleksi dan Pembinaan calon kafilah MTQ ini diharapkan menjadi momentum bagi generasi muda Banyuwangi untuk lebih mendalami Al-Quran dan menjadikannya sebagai pedoman hidup sehari-hari

79 Penyair Banyuwangi Hebat Bersama Umat

Banyuwangi (Warta Blambangan) 79 Penyair Banyuwangi dengan menerbitkan antologi puisi Hebat Bersama Umat yang diselenggarakan Yayasan Lentera Sastra, Hal ini disampaikan Syafaat Sabtu (31/08/2024). Uniknya 79 Penyair Banyuwangi tersebut dari kalangan berangkat dari siswa Madrasah Ibtidaiyah hingga Asisten Sekretaris Daerah.

Syafaat menyampaikan bahwa dari beberapa penyair yang mengirimkan puisinya untuk di kurasi, ada karya siswa kelas 6 MI Darunnajah 2 Banyuwangi yang lolos, disamping itu juga karya Asisten 1 Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi serta Beberapa pejabat Kementerian Agama.


Judul Hebat Bersama Umat diambil sebagai ruh Kementerian Agama sebagai bentuk sudut pandang puisi dalam Moderasi Beragama.

Adapun 79 Penyair Banyuwangi tersebut adalah 

*Selamat untuk para penulis Hebat Bersama Umat, produksi Lentera Sastra.*


1. Chaironi Hidayat

2. Amak Burhanudin

3. Syafaat

4. Yanuar M Bramudys

5. Viefa

6. Aries Papudi

7. Samsudin Adlawi

8. Hasan Basri

9. Nurul Ludfia Rochmah

10. Dimyati

11. Muhamad Iqbal Baraas

12. Fatah Yasin Noor

13. Yasin Alibi

14. Uswatun Hasanah

15. Herny Nilawati Rochmah

16. Lulu’ Anwariyah

17. Eny Susiani

18. Abd. Kadir Jailani

19. 

Achmad Nadzir

20. 

Adeliya Paramitha

21. 

Ainun Nihaya Iswoyo

22. 

Anggiek Aditya Pamungkas

23. 

Annisa Rizqi Hidayati

24. 

Asih Hofifah

25. 

Asri Melfi

26. 

Dalila

27. 

Dwi Fitriani

28. 

Dyah Dhomi Eko Wulandari

29. 

Erika Yuriana

30. 

Erna Yunita KH

31. 

Evita Naila Sa’adah

32. 

Faiz Abadi

33. 

Galang Areta Ghiffari

34. 

Ghanina Najmannufus

35. 

Hanik Setyowati

36. 

Haninnuril Ainiyah

37. 

Heliya Ihromi

38. 

Hizkal Achmad Dayan

39. Iltiqoul Jannati

40. Inge

41. Isti’adah

42. Istikomah

43. Izzah Afcarina Fillah

44. 

Khusnul Khotimah

45. Kinanti Bunga A

46. M.Junaidi Sy

47. M. Rafli Dipo Yudo Adi P

48. M.Felda W.

49. Moch Afan Zulkarnain

50. Muhamad Novi Yusuf

51. Muhammad Asyraf Pasya

52. Muhammad Atijani

53. Mujikan

54. Nadya Shafwah Mubin

55. Natasya

56. Nur khoirun Ilayya

57. Oktavia Anisatur Rohmah

58. Putri Retno Indah Nirmala

59. Bening Rahma Dani

60. Rizki Shofya

61. Rizmatun Nadhifah

62. Rosid Tamami

63. Safa Zahratul Mila

64. Sazkya Yuana Salsabila

65. Sherly Nur Laili

66. Siti Barisah

67. Siti Ismawiyah

68. Siti Rohmatin Nazilah

69. Sri Endah Zulaikahtul Kharimah

70. Sri W

71. St. Muanifah

72. Sugeng Maryono

73. Sulistyowati

74. Titim Matus Solichah

75. Tri Khasanah

76. Triyuli Eka Riyatin

77. Wiwit Nurul Hasanah

78. Zemi Syaipulina

79. Zulfa Allailiyah


Banyuwangi, 29 Agustus 2024


DKB Banyuwangi Umumkan hasil Kurasi Peserta Jambore Sastra Asia Tenggara 2024

Bayuwangi (Warta Blambangan) Dewan Kesenian Belambangan (DKB) Banyuwangi, Jumat (30/08/2024) mengumumkan penyair 200 yang lolos kurasi Jambore Sastra Asia Tenggara, para penyair yang lolos ini bukan hanya dari Pulau Jawa ataupun Indonesia, tetapi juga dari Negeri Jiran Malaysia, dan Singapura. 


Para penyair yang lolos kurasi ini juga akan hadir dalam galadiner yang akan diselenggarakan di Pendopo Sabha Swagata Banyuwangi Oktober mendatang, para penyair ini bersaing ketat dengan ratusan penyair lainnya dalam meramu puisi dengan tema Ijen Purba.

Berikut nama-nama LOLOS KURASI 


1. Abd. Sarno Arbara

(Magetan Jatim)- Rindu 

Tanah, Batu dan Airmu


2. Abdillah Danny (Mojokerto)- Muhriyono


3. Abdul Halim (Kab Bangkalan)- Cinta Segi Empat Kaldera


4. Achmad Nadzir (Banyuwangi)- Dalam Kekapan Belerang Purba


5. Adziah Abd Aziz (Perak Malaysia)- Ijen Purba: Tanah, Air dan Batu


6. Aguk Wahyu Nuryadi (Banyuwangi)- Akik Batu Tarikan


7. Agus Takariyanto (Banyuwangi)- Membaca Batu - Mengigau Batu


8. Agus Widiey (Yogyakarta)- Di Puncak Ijen


9. Ahmad Zuawii (Melaka, Malaysia)- Orang Kecil di Kaki Ijen


10. Akmal Rahman Hanif (Banyuwangi)- Anatomi Tubuh Purba


11. Ali Satriefendi (Bekasi)- Ijen, Lewat Tengah Malam


12. Alif Firdaus Rosyidin (Banyuwangi)- Rinonce Kaldera Ijen Purba


13. Alif Raung Fidaus (Bondowoso)- Apa Kabar Ijen?


14. Alina Sukesi (Madiun)- Ijen Purba


15. Ameliyah Shafa (Sumenep)- Di Sela Kabut Purba


16. Aminatul Hasanah (Sumenep)- Indahnya Menyelimuti Kata 


17. Aminuddin S Gadi (Sumba, Nusa Tenggara Timur)- Ziarah Rindu di Tanah Gandrung


18. Ananda Fairus D.L (Jember)- Sebongkah Tawa Ijen Mengiringi Seranting Nyawa


19. Anindyabarata (Yogyakarta)- Ijen Purba


20. Antariksawan Jusuf (Tangerang Selatan)- Katakanlah Hai Ijen


21. Anto Narasoma (Palembang)- Cintaku Pada Kaldera Kosong, 


22. April Artison (Klungkung Bali)- Di Kaki Gunung Ijen Jejakku Abadi


23. Arfian Rizky Pratama (Kediri)- Kenangan Kemah Sastra


24. Ari Basuki (Daerah Istimewa Yogyakarta)- Kawah Ijen Dini Hari


25. Arif Haiqal Roslan (Selangor, Malaysia)- Izinkan Aku Tuhan


26. Arif W (Gunung Kidul Yogyakarta)- Di Stasiun Kalisetail


27. Azizah Mds (Kedah Malaysia)- Banyuwangi


28. Bagus Likurnianto (Banjarnegara, Jawa Tengah)- Kawah Ijen, Biru Api Cinta Menyala di Dada Mereka


29. Baharuddin Amir (Barru, Sulawesi Selatan)- Riwayat Tanah


30. Bambang Kariyawan Ys (Riau)- Cerita-cerita Edelweis


31. Bambang Widiatmoko (Bekasi)- Gandrung Kawah Ijen


32. Barupawati Utamaju Baharum (Kuala Lumpur-Malaysia)- Bicara Sukma Lembah Ijen 


33. Budi Setiawan (Buset) (Purworejo)- Ijen yang Tekun Sendiri


34. Chiesetiawati (Kuningan, Jawa Barat)- Doa dari Rongga Dada


35. Chris Triwarseno (Semarang)- Sebuah Pertanyaan Purba


36. Christiya Dewi Eka (Bekasi)- Janji pada Pukul Waktu Ijen


37. Citra Sasmita (Bali)- Menyusur Garis Leluhur


38. Cura Lara_Erli Norafiza Abu Hafiz (Johor Malaysia)- Manusia, Cinta, dan Kawah Ijen


39. Daviatul Umam (Sumenep)- Melankolia Idjen Purba


40. Dayangku Mastura (Sabah, Malaysia)- Gunung, Tanah


41. Denok Ayu Uni Aisandi (Bekasi)- Kawah Ijen: Jiwa Kokoh, Cantik dan Tabah


42. Denting Kemuning (Surabaya)- Lelaki Pemanggul Beban di Lembah Ijen


43. Devika Nur Baity (Banyuwangi)- Garis Waktu Biru


44. Dicky Firmanzah (Surabaya)- Tanah, Air, Batu dan Kamu


45. Dr Muhammad Khairuddin Lim Tanjong (Malim Malaysia)- Setia dan Berani


46. Dr. Dil Froz Jan (Selangor Malaysia)- Kota Tepi Sungai


47. Dr. Roziah Ramli (Malaysia)- Aku Tidak Mahu Bermimpi Lagi


48. Dwi S Wibowo (Bali)- Ijen Batukaru


49. Dwi Tirta (Bondowoso)- Pemandangan Tak Terlupakan


50. Dyah Dhomi Eko Wulandari (Banyuwangi)- Lontar Ijen Purba


51. Edi S Febri (Batang, Jawa Tengah)- Kawah Ijen Melukis Kenangan


52. Eko Wahyu Pratama (Banyuwangi)- Wisarga


53. Elsa Fatimatus (Jember)- Memori ijen


54. Emi Suy (Jakarta)- Perjalanan Menempuh Ijen Purba


55. Endut Ahadiat (Padang)- Kawah Ijen dan Topeng Konah


56. Erna Winarsih Wiyono (Bogor)- Kidung Ijen


57. Estu Puji Handayani (Bondowoso Jawa Timur)- Tanah-Mu, Air-Mu, dan Batu-Mu


58. Faidi Rizal Alief (Sumenep)- Tanah, Air, Batu, dan Puisi yang Baru Tumbuh


59. Fatah Yasin Noor (Banyuwangi)- Senja Itu, Paltuding


60. Ferdi Afrar (Sidoarjo, Jawa Timur)- Kopi dan Kaldera, Wengi Geni


61. Fileski Walidha Tanjung  (Madiun)- Larung Luka


62. Firman Wally (Ambon)- Menjejaki Purba


63. Gatot Hariyanto (Banyuwangi)- Ijen Purba Menggugat


64. Gimien Artekjursi (Banyuwangi)- Pesona Ijen: Sampai Kapan Bertahan?


65. Gurit Asmara Ruci (Tulungagung)- Menafsir Ulang Isyarat Purba Ijen


66. Hairul Izuan Mohd Bidin (Kuala Lumpur)- Menggenggam Sekepal Belerang


67. Hanifah Dwi Hermawati (Bondowoso)- Hamparan Sajadah Kaldera Ijen


68. Hanom Ibrahim Lubis- Silir Angin dan Deru Ijen Banyuwangi


69. Hardjani, S.S. (Banyuwangi, Jatim)- Ijen


70. Haryatie AB Rahman (Kelantan Malaysia)- Tanah yang Indah


71. Helmy Khan (Sumenep, Madura)- Tubuh Penambang Lembah Ijen


72. Herny Nilawati (Banyuwangi)- Singgasana Barong Ider Bumi


73. I Nyoman Wirata (Denpasar)- Edelweiss Api Biru di Mata Kameramu

 

74. Ibna Asnawi (Sumenep)- Telaga Ijen


75. Ika Permata Hati (Temanggung)- Penambang Belerang dari Tanah Blambangan


76. Ilhamdi Sulaiman (Medan)- Bunga-bunga Api


77. Imam Akhbar (Medan)- Ijen Purba Mengurai Kisah


78. Imam Budiman  (Jakarta)- Membaca Manakib Ijen Purba


79. Ina Herdiyana (Sumenep)- Menuju Kawahmu


80. Indrayanto (Medan)- Kontemplasi di Puncak Ijen Purba


81. Indri Yuswandari (Blitar Jatim)- Tanah Napas, Batu Jiwa


82. Irawan Sandhya Wiraatmaja (Tangerang)- Di Sungai Kalipahit


83. Irna Novia Damayanti (Purbalingga)- Memotret Kawah Ijen


84. Isbedy Stiawan Zs (Lampung)- Cahaya Candi


85. Ita Puspita Sari (Sumenep, Madura)- Neurotisme


86. Izzatul Hikmah (Sumenep)- Ijen dan Sepertiga Malam dalam 

Diksiku


87. Jesika Putri Dwiandini (DKI Jakarta)- Amarah Sang Ijen Purba


88. Juli Prasetya (Banyumas)- Membaca Abad Kekosongan Ijen Purba


89. Kasdi Kelanis (Sragen)- Kata Temanku


90. Kasmawati Yakub (Jeneponto, Sulsel)- Hutan Cadas Hitam


91. Kathirina Susanna Tati (Malaysia)- Keagungan Pencipta Langit dan Bumi, Keindahan Abadi, Harmoni yang Sempurna


92. Khairul Umam (Sumenep)- Ijen dan Misteri yang Terus Berdengung


93. Khalil Satta Èlman (Yogyakarta)- Kaldera


94. Khurin In Noviarani (Gresik, Jawa Timur)- Tak Lekang Waktu


95. Kurnia Effendi (Jakarta)- Amsal Kesendirian


96. Lailah Nurdiana (Yogyakarta)- Kaldera Ijen Purba


97. Leenda Madya (Semarang)- Menggali Harapan di Kawah Sunyi


98. Litalia Putri (Banyuwangi)- Litani Puan Blambangan


99. Lutpi Aulia (Sukabumi)- Tanah Jejak Erupsi


100. M Anton Sulistyo (Jakarta)- Kawah Wurung, Pemandu Wisata


101. M Firdaus Rahmatullah (Jombang)- Patokan


102. M. Syahrul Shobirin (Banyuwangi)- Bebatuan Bercerita


103. Mahendra (Bali)- Blues Ijen, Batu Gunung


104. Masriyah Misni (Selangor)- Sekras Batu Jalanan


105. Matroni Muserang (Madura)- Ijen, Tanah Kekasih


106. Merawati May (Mukomuko, Bengkulu)- Surat Cintamu, Ijen, Ddi Atas Black Lava Ijen


107. Mh. Dzulkarnain (Sumenep, Madura)- Montase Tubuh Ijen


108. Michael Djayadi (Yogyakarta)- Hikayat Plalangan


109. Moh. Ghufron Cholid (Sampang)- Subuh di Ijen


110. Mohamad Saleeh Rahamad (Perak Malaysia)- Lelaki-lelaki Perkasa Banyuwangi


111. Mohammad Saroni (Mojokerto)- Serpihan Surga


112. Mohd Rosli Bakir (Pontian, Johor, Malaysia)- Lembah Ijen: Tanah, Air dan Batu


113. Momo (Banyuwangi)- Kau yang Berdiri Di saana


114. Muda Wijaya (Karangasem)- Lelaki Tuna Rungu dan Aku yang Menari di Kawah Ijen


115. Muhammad Lutfi (Pati)- Wajah Ijen


116. Muhammad Sheva (Yogyakarta)- Blues untuk Orang-orang Tambang


117. Muhammad Syamsa (Boyolali)- Biru Purba


118. Muhsyanur (Wajo, Sulsel)- Refleksi Ijen: Dialektika Eksistensi


119. Mulyadi J. Amalik (Kota Surabaya)- Ijen dan Gusti Mahacinta


120. Mundzir (Madura)- Semua tentang Dirimu


121. Mustain Romli (Probolinggo)- Ijen dan Sejarah Cinta


122. Muzayyana (Bondowoso)- Lelaki Tuna Rungu dan Aku yang menari di Kawah Ijen


123. Nabilatul Mu'tabarah (Sumenep, Jatim)- Kehangatan Surga di Ijen


124. Nanang Suryana (Bogor)- Anatomi Ijen


125. Nani Asiani (Banyuwangi)- Batu dan Para Nestapa


126. Neneng Hendriyani (Bogor)- Di Lereng Ijen Aku Berdiri


127. Neng Lilis Nuraeni (Subang, Jawa Barat)- Ijen dan Kenangan di Saku Bajumu


128. Nor Faizah (Sumenep)- Deskripsi Virtual Lewat Mata


129. Norasmah Binti Mounojij Noor (Negeri Sembilan)- Keranjang Usang


130. Nuhbatul Fakhiroh Maulidia (Banyuwangi)- Kaldera 


131. Nunung (Banyuwangi)- Tapak Tangan Bumi Osing


132. Nur Komar (Jepara)- Jejak-Jejak Tanah Tua


133. Joni Hendri Tapung (Kampar, Riau)- Batu-batu yang Timpa Air


134. Othman Bin Suhot (Singapura)- "Ijen Purba" Tanah, Air, Angin


135. Qudwatul Imamah (Sumenep)- Kawah Ijen dan Segala Cintanya


136. Ratih Ayu Puspitasari (Surakarta, Jawa Tengah)- Hikayat Alam Kasmaran


137. Rayhanun Jannah (Aceh Utara)-  Ijen: Si Lanang Desa


138. Rezqie M. A. Atmanegara  (Hulu Sungai Tengah, Kalteng)- Api Biru di Belahan Dada Ijen


139. Riami (Malang)- Lagu Mars Ojek Troli Kawah Ijen


140. Ridwan (Sukabumi)- Sesajen Ijen


141. Rini Intama (Tangerang)- Ijen


142. Rissa Churria (Banyuwangi)- Bumi Osing Tanah Kelahiran


143. Romi Sastra (Jakarta)- Perjalanan ke Kaldera Purba


144. Roslina (Sumatera Barat)- Ijen Purba Cinta dan Takdir


145. Roso Titi Sarkoro (Temanggung)- Membaca Banyuwangi


146. Rouzil Armiza (Negeri Sembilan Malaysia)- Gunung Ijen: Pesona Api Biru


147. Rusdi El Umar (Sumenep)- Ijen Berkelopak Rindu


148. Safiratul Khairoh (Sumenep)- Paras Ijen


149. Sahar Bin Misron (Kualalumpur)- Kawah


150. Sahbuddin dg. Palabbi (Jakarta)- Penggali Asa di Tanah Nirwana


151. Saiful Bahri (Sumenep, Madura, Jawa Timur)- Kabut Waktu


152. Salimah binti Shamsuddin (Lenggeng, Negeri Sembilan, Malaysia)- Impikan Hangat dan Pesona Alam Kaldera Ijen Purba


153. Salamet Wahedi (Sumenep)- Jendela Hujan


154. Samsudin Adlawi (Banyuwangi)-  Api Surga


155. Ibnu Din Assingkiri (Pulau Pinang Malaysia)- Aturan yang Sangat Indah


156. Sapta Arif (Ponorogo)- Perkabungan Kencana Wungu


157. Sausan Al Ward (Riau)- Batu Tertegun


158. Selendang Sulaiman (Jakarta)- Setetes Air Pemecah Batu


159. Setiyo Bardono (Depok)- Setinggi Apapun Mendaki


160. Shield Sahran (Malaysia)- Sebagian Dariku


161. Sindah Laili Nurjanah (Kediri)- Puisiku Letupan Ijen Purba


162. Siti Khalifatur Rahma (Sumenep)- Riwayat Api Bermata Biru


163. Soekosoroeeee (Purworejo)- Menerka Makna Api Biru


164. Sri Lestari (Banyuwangi)- Menyisir Laku Tanah Ijen


165. Sri Utami (Jember)- Tekad


166. St Muanifah (Banyuwangi)- Sudut Kecil Kawah Ijen


167. Sugik Muhammad Sahar (Pamekasan, Madura)- Napak Tilas di Semenanjung Blambangan


168. Suhandayana (Surabaya)- Diorama Niskala Ijen Purba


169. Sukardi Wahyudi (Kukar Kaltim)- Bumi Ibu kepada Air


170. Sukron Hidayat (Bondowoso)- Kalipait: Bongkahan Cinta Nenek Moyang


171. Sultan Musa (Samarinda)- Sempuri Ijen Purba


172. Sunyoto Sutyono (Jember)- Silhuet Kehidupan di Ijen


173. Supali Kasim (Indramayu)- Di Puncak Pendakian


174. Sus S. Hardjono (Sragen)- Kawah Ijen Menyala


175. Suyitno Ethex (Mojokerto)- Puncak Ijen Dini Hari


176. Syafaat (Banyuwangi)- Pendar Lembah Ijen


177. Syafaruddin Marpaung (Tanjungbalai)- Langkah di Tanah Belerang Ijen


178. Syafia Asy Syafaqoh P.S (Bondowoso)- Simfoni Magis Api Biru


179. Tata Irawati (Kutai Kartanegara)- Sang Giri Ijen nan Elok


180. Tatan Daniel (Jakarta)- Di Jalan Menuju Ijen


181. Tengsoe Tjahjono (Malang)- Dolmen


182. Tirta Baiti (Banyuwangi)- Bencana Berujung Pesona


183. Tjahjono Widarmanto (Ngawi)- Rahasia Batu


184. Tri Wulaning Purnami (Sidoarjo Jawa Timur)- Bianglala Ijen Purba, Derap Ijen Purba


185. Tria Achiria (Banten)- Di Ceruk-Ceruk Dinding Kaldera Ijen Purba


186. Tutut Kismiati (Sidoarjo)- Sebagai Batu


187. Udi Utama (Depok)- Banyuwangi Memanggil


188. Uleceny (Sumbawa)- Debu dan Gerimis, Api pada Senjaku


189. Umie Maisarah (Selangor, Malaysia)- Warisan Dunia


190. Uswatun Hasanah (Banyuwangi)- Lembah Ijen, Harga Tetes Peluh Penambang


191. Vironika Sri Wahyuningsih (Tangerang, Banten)- Kaldera dan Ibu Bumi


192. Vito Prasetyo (Malang)- Lanskap Ijen Purba


193. Wahyu Rizki Kurnaini (Banyuwangi)- Kemuning Berpijar Biru


194. Warits Rovi (Sumenep)- Ijen yang Tiada Dua


195. Willy Ana (Depok)- Kabut Ijen


196. Yeti Chotimah, M.Arts (Banyuwangi)- Hikayat Kelahiran


197. Yuliani Kumudaswari (Yogyakarta)- Abadi, Kaldera Bercerabut


198. Zabidi Yakub (Lampung)- Saat Angin Sedang Birahi


199. Zahwa Jihan Soraya (Banyuwangi)- Surat Tirtaganda


200. Zickyn Chan (Mojokerto)- Gunung Ijen Purba



Jumat, 30 Agustus 2024

Kurator:

Wayan Jengki Sunarta

Mahwi Air Tawar

Mutia Sukma

LPTQ Kab. Banyuwangi Akan Siapkan Peserta MTQ Provinsi Secara Maksimal

 MBanyuwangi (Warta Blambangan) Dalam rangka mempersiapkan kafilah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat provinsi, LPTQ Kabupaten Banyuwangi menggelar rapat koordinasi untuk pembinaan dan seleksi calon kafilah MTQ, Selasa (27/8/2024).


Rapat ini diadakan di aula Balesaji Banyuwangi dan dihadiri oleh para pembina, pengurus LPTQ termasuk Kementerian Agama Banyuwangi.



Kepala Kemenag Banyuwangi melalui Kasi Bimas Islam H. Mastur selaku Ketua panitia menyampaikan pentingnya persiapan matang guna mengharumkan nama Banyuwangi di ajang MTQ tingkat provinsi. 


"Kita harus bekerja sama untuk memastikan calon kafilah MTQ Banyuwangi mendapatkan pembinaan terbaik, sehingga mampu berprestasi", ungkapnya.


Dalam rapat tersebut, dibahas berbagai agenda penting, termasuk penjadwalan seleksi calon peserta MTQ, strategi pembinaan, dan dukungan fasilitas untuk para peserta. 


Sebagai informasi, seleksi dan pembinaan calon kafilah MTQ Kabupaten Banyuwangi akan dilaksanakan pada 31 Agustus 2024 mendatang bertempat di aula Kemenag Banyuwangi. 


Adapun cabang yang akan diseleksi meliputi, cabang Tartil, MTQ Kanak-Kanak, Remaja, Dewasa, Qiraat Mujawwad, dan Qiraat tartil remaja, dewasa.  Sedangkan di cabang tahfidz, meliputi MHQ 1  juz & 5 juz tilawah, MHQ 10, 20, 30 juz, serta tafsir Alquran. Dalam Agenda itu akan melibatkan para pembina yang berpengalaman di bidangnya.

Adapun untuk KTI Al-Qur'an akan diadakan seleksi tersendiri dengan mengingat waktu pengerjaan KTI Al-Qur'an adalah delapan jam.


Peserta terbaik yang terpilih akan mendapatkan pelatihan intensif sebelum diberangkatkan ke kompetisi tingkat provinsi Jawa Timur tahun 2025 di Kabupaten Jember.


Diharapkan dengan persiapan yang matang, Kabupaten Banyuwangi dapat berprestasi gemilang dalam ajang MTQ tingkat provinsi yang akan datang

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger