Pages

Mengmengan Menyang Malang

 Mengmengan Menyang Malang 


Berlibur ke Kota Batu dan Malang bukan hal yang istimewa, beberapa kali saya berlibur ke daerah dingin tersebut, begitupun dengan beberapa teman kantor yang sebagian besar juga pernah berlibur ke Kota Batu, apalagi rekan satu ruangan yang asli Kota Apel tersebut, berlibur ke ke Kota Batu sama halnya dengan pulang kampung. 


Satu kantor berlibur ke Kota Batu jarang dilakukan, dan meskipun banyak yang sudah sering berlibur ke sana, namun semua karyawan yang tidak berhalangan mengikutinya.

Berlibur bukan hanya menikmati keindahan tempat wisata, namun juga menikmati kebersamaan selama perjalanan, beberapa orang yang merasa suaranya merdu melantunkan lagu diiringi musik karaoke, kalau dipikir suara mereka bagus juga, sayangnya banyak yang malas berfikir tentang suara mereka, hanyut dalam pikirannya sendiri-sendiri.

Sarapan di lantai empat Resto 360 Royal kota Batu, tempatnya tepat di depan pintu masuk Jatim Park 3, kita dapat menikmati sarapan dengan view persawahan, aneka tanaman pertanian dapat kita lihat dari atas, bagi orang desa yang setiap hari melihat sawah, bukan  sesuai yang istimewa, sebuah pemandangan yang biasa saja, namun tetap saja kebersamaan lebih istimewa.

Naik menggunakan lift, sedangkan ketika turun ke lantai bawah, banyak yang melewati tangga sambil lihat-lihat pusat oleh-oleh.

Beberapa ibu-ibu senyum-senyum di pojok melihat kerajinan tangan dari kayu, saya juga penasaran dengan yang mereka lihat, dan anehnya emak-emak menyingkir sambil curi-curi pandang dengan kerajinan tangan berbagai ukuran.

Kirain apaan yang mereka lihat, ternyata hanya gantungan kunci, pembuka tutup botol dan asbak dengan pegangan istimewa yang di senangi ibu-ibu yang sudah pernah menikah, ternyata bentuk kerajinan kayu yang dulu hanya dapat kita lihat di tanah lot dan beberapa tempat wisata di pulau Bali, juga ada di Kota Batu, dan sepertinya saya juga punya bentuk seperti itu.

SUB-58 Kloter Terbaik Tahun 2024

 SUB-58 Kloter Terbaik Tahun 2024


Memasuki hall Mina Asrama Haji Embarkasi Surabaya, jamaah menjalani pemeriksaan kesehatan dan administrasi persiapan pemberangkatan, termasuk penyerahan paspor, living cost dan gelang identitas. Saya berkesempatan mewakili jamaah, dipasangkan gelang identitas haji oleh Dr. Chaironi Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, bersamaan dengan sebuah pengumuman yang disampaikan oleh PPIH Embarkasi bahwa Kloter SUB-58 merupakan kloter terbaik, karena pemeriksaan administrasi dan barang bawaan paling cepat dengan temuan pelanggaran paling sedikit. 


Bagi saya pengumuman itu merupakan hal biasa untuk memberikan motivasi kepada jamaah untuk tetap tertib mematuhi ketentuan barang bawaan selama diperjalanan, dan jamaah memberikan aplaus dari pengumuman tersebut, begitupun dengan petugas dari Kabupaten Banyuwangi yang ikut mengantarkan jamaah haji dari Banyuwangi hingga Sukolilo, baik dari Kantor Kementerian Agama maupun dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, kebetulan ada yang merekam video ketika pengumuman disampaikan.

Tim Kloter memang selain menjadi narasumber dalam bimbingan manasik haji yang diadakan di tingkat kecamatan, juga menyampaikan tentang persiapan barang bawaan disetiap KBIHU yang tergabung dalam kloter, selain menyampaikan materi mengenai perhajian, hal ini juga dapat mempererat silaturahim petugas kloter dengan jamaah, mm memahami kondisi jamaah lebih awal sehingga lebih mudah mempersiapkannya.

Meskipun demikian masih juga ditemukan pelanggaran kecil yang dilakukan oleh jamaah, seperti membawa alat masak dan pemanas serta rokok yang melebihi ketentuan, padahal sudah disampaikan tentang persiapan perjalanan, dan di Saudi Arabia telah disediakan semuanya, karena kita tidak sedang camping yang membutuhkan peralatan masak, semua makanan sudah disediakan,  begitupun dengan alat pemanas air serta handuk dalam kamar, namun kekhawatiran itu yang menyebabkan jamaah membawa banyak bekal yang pada akhirnya tidak terpakai.

Lebih banyak jamaah yang tertib daripada yang melanggar, saya sangat bersyukur memimpin jamaah yang mudah diatur, saya sendiri juga tidak membawa banyak pakaian ganti, cukup dua stel pakaian, sarung dan pakaian dalam, karena di musim panas menjemur pakaian di Saudi Arabia kering dalam hitungan menit, begitupun dengan alat mandi, saya cukup membawa kanebo untuk mengeringkan badan, koper besar saya biarkan banyak ruang kosong, baru ketika kembali ke Indonesia akan saya penuhi dengan barang bawaan sebagai kenangan selama di Makkah dan Madinah.

Tidak ada kloter yang tidak mempunyai masalah, dan bagaimana kita mengurai masalah menjadi cerita indah itulah yang harus kita lakukan, ketika perjalanan di pesawat seorang peragawati menyampaikan bahwa selama tugas tahun ini, kloter yang saya pimpin merupakan kloter paling banyak yang menggunakan kursi roda, dan saya sangat bersyukur karena kekompakan tim kloter dengan karu dan karom tetap terjaga hingga tugas usai.


AHES, 07/07/2024


Ziarah Ke Bukit Uhud

 Ziarah Ke Bukit Uhud


Peristiwa perang Uhud di zaman Nabi Muhammad Saw memberikan pelajaran penting bagi umat Islam untuk mentaati perintah pemimpin. Perang Uhud yang terjadi di sekitar gunung Uhud  pada hari Sabtu tanggal 23 Maret 625 M atau 7 Syawal 3 H antara 700 tentara Islam dari yang seharusnya 1.000 orang karena hasutan beberapa orang munafik melawan 3.000  kafir Quraisy. 


Pada awalnya tentara Islam menenangkan peperangan, karena ketidaktaatan tentara pemanah yang berada di bukit Rumat atau sekarang oleh masyarakat disebut bukit pemanah, tentara Islam mengalami kekalahan, termasuk paman nabi Sayyidina Hamzah Ra.

Jamaah haji ketika berada di Madinah melakukan ziarah ke Jabal Uhud untuk mengenang peristiwa Uhud, mendoakan syuhada Uhud di pemakaman syuhada Uhud yang diberi pagar besi. Sehingga jamaah dapat mendoakan dari luar pagar, 

Beberapa jamaah haji juga mendaki bukit Rumat atau bukit pemanah, juga di sekitar makam dibangun monumen dalam bentuk masjid dengan nama Masjid Syuhada.

Banyak pedagang membuka lapak di areal parkir bukit Uhud, beberapa jamaah juga menyempatkan diri membeli barang sebagai cinderamata untuk dibawa ke tanah air.

Dari segi jumlah pasukan, tentara kafir jauh lebih besar dibandingkan dengan tentara Islam, namun demikian pada awalnya tentara Islam dapat menenangkan pertempuran yang tidak berimbang tersebut, pertempuran yang dilakukan beberapa kilo dari pusat kota Madinah sebagai bukti bahwa umat Islam sebagai umat yang diserang.

Ziarah ke Jabal Uhud selain untuk mendoakan para Syuhada yang gugur para perang Uhud, juga sebagai pengingat bagi umat Islam saat ini agar mentaati perintah pimpinan, memegang teguh rasa percaya terhadap sesama umat Islam, karena kekalahan umat Islam bukan karena jumlahnya sedikit, tetapi lebih pada ketidak patuhan terhadap para pemimpinnya.

Ziarah ke Jabal Uhud merupakan paket ziarah yang disediakan pihak pelaksana di Madinah, jamaah tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk mengikuti ziarah tersebut, karena ziarah disekitar kota Madinah diberi kesempatan satu hari dengan menggunakan bus yang disediakan pihak hotel, adapun jika ingin ziarah pada hari berikutnya ketempat yang belum dikunjungi pada hari pertama, dapat ziarah dengan biaya sendiri.


Madinah, 04/07/2024


Lambang Cinta di Pintu Kamar Jamaah

 Lambang Cinta di Pintu Kamar Jamaah 


Masih menjadi misteri, kenapa lambang cinta itu berbentuk seperti daun waru, yang katanya itu adalah diambil dari gambar hati, dan ketika sedang jatuh cinta dilambangkan dengan lambang cinta yang terkena panah, kadang juga lambang cinta yang terkena panah tersebut digambarkan berdarah. 


Mestinya jatuh cinta dapat menimbulkan ketenangan dan kenikmatan dan bukan saling menyakiti, dan saya merasa tidak nyambung jika lambang cinta itu adalah hati yang dipanah, bukankah jika hati terkena panah akan mengakibatkan luka hingga kematian?.

Bukan saatnya membahas kenapa lambang cinta seperti itu, karena seakan sudah menjadi kesepakatan seperti itu, lambang cinta yang sudah menjadi kesepakatan, seperti halnya bintang yang dilambangkan segi lima, dan banyak lambang lain yang membuat kita penasaran.

Beberapa pintu kamar jamaah haji ditempeli lambang cinta berwarna merah hati dengan tulisan haji sehat haji mabrur. Tidak semua kamar ditempeli lambang cinta, hanya beberapa kamar dengan kriteria tertentu yang hanya diketahui oleh tim kloter.

Mungkin jamaah haji juga tidak memahami kenapa beberapa kamar diberi lambang cinta tanpa panah, dan itu sangat memudahkan jamaah melakukan visitasi.

Saya salut dengan kreasi teman-teman tim kloter dengan ide cerdas tersebut, karena tulisan merupakan doa, sebagaimana ucapan meskipun dengan gurau.

Begitupun dengan para jamaah haji lansia yang mendapatkan perlakuan khusus, mereka mungkin tidak faham jika untuk mempermudah dimana kamar para lansia, pintu kamarnya diberi gambar lambang cinta dengan tulisan Haji Sehat Haji Mabrur.

Sejak belum berangkat menuju tanah suci, para tim kloter telah memetakan jamaah lansia dan resiko tinggi, mendata berapa jamaah haji yang membutuhkan kursi roda dan yang membawa kursi roda. Data tersebut telah dikirim melalui aplikasi Ketua Kloter yang dapat dibaca oleh semua petugas yang membutuhkan, begitu juga dengan jamaah haji yang membutuhkan makanan lunak.

Sungguh tema haji lansia sebagaimana disematkan di baju petugas bukan sekedar kalimat saja, tetapi diterapkan dan dilakukan, karena jamaah haji lebih banyak yang lansia daripada yang muda, mereka menunggu hingga 14 tahun untuk dapat berangkat haji, dan ketika mereka mendaftar haji juga usia tidak lagi muda, karena memang adanya harta berlebih ketika mereka menginjak tua, ketika beban pendidikan anaknya sudah terkurangi.


Makkah, Juni 2024


Ketika Seorang Jamaah ke Madinah Sendirian

 Ketika Seorang Jamaah ke Madinah Sendirian


Idealnya sebuah kelompok akan berangkat bersama kemanapun, terutama jika membutuhkan surat khusus dalam perjalanannya, seperti perjalanan ke luar negeri, karena identitas ke luar negeri adalah paspor dan visa. Namun bisa jadi seseorang karena sebuah sebab terpisah dengan kelompok dan melakukan perjalanan sendiri, mungkin karena sakit atau terpisah dan tidak dapat menemukan kelompoknya. 


Di Saudi Arabia sudah ada kereta cepat yang dapat kita gunakan untuk perjalanan jauh, seperti kereta cepat Makkah - Madinah yang dapat ditempuh 2,5 jam, padahal jika perjalanan bus bisa sampai 6 jam. Seandainya jamaah haji dapat fasilitas kereta cepat, mungkin tidak terlalu capek dalam perjalanan Makkah - Madinah, namun sampai saat ini perjalanan masih menggunakan bus.

Mungkin rasanya seperti dalam film ketika kita menikmati perjalanan menggunakan kereta cepat, dan bisa jadi banyak jamaah haji yang ingin merasakannya.

Sehari sebelum berangkat ke Madinah, ada Ketua Rombongan yang menyampaikan jika ada satu jamaahnya yang berangkat ke Madinah untuk menjenguk istrinya yang menjadi jamaah haji khusus dan tidak kembali ke Makkah karena sakit, padahal paspor masih berada di Maktab.

Jamaah ini membeli tiket dengan menggunakan copy paspor, menyusul istrinya yang sudah berada di Madinah, dan pada awalnya tidak terjadi masalah yang cukup berarti.

Persoalan dapat muncul ketika nanti berangkat ke Madinah, karena akan di cek keberadaan jamaah yang disesuaikan dengan paspor di setiap bus.

Idealnya setiap jamaah dan paspor jumlahnya sesuai, karena sebelum masuk Kota Madinah akan ada cek poin di setiap bus, dan yang bertanggung jawab adalah kru bus.

Saya harus datang ke Kantor Masyarik untuk menyampaikan permasalahan tersebut, saya tidak ingin ada masalah ketika berangkat ke Madinah,  ternyata sangatlah ribet ketika ada permasalahan tersebut, ada beberapa surat dan pernyataan yang harus di tanda tangani dengan segala resikonya.

Bersyukur semua berjalan lancar, karena info jamaah sebelumnya butuh waktu hingga seminggu dan harus menghadap beberapa pihak untuk menyelesaikannya, saya hanya yakin bahwa jika kita memudahkan urusan orang lain, urusan kita juga akan di mudahkan.

Menjalin hubungan baik dengan pihak maktab sangat membantu ketika kita terkena masalah, sebab segala administrasi kita dan keperluan perhajian ditangani oleh pihak maktab, selain juga PPIH Arab Saudi yang berada di Daker maupun Sektor.


Makkah, 26/06/2024


Empat petugas Kloter ngawal satu jamaah

 Empat petugas Kloter ngawal satu jamaah Dan Jamaahnya Hilang 


Terdengar aneh tetapi nyata, meskipun pada akhirnya ketemu juga, namun sempat membuat kami bingung ketika jamaah haji yang baru menginjakkan kaki di Masjidil Haram belum ditemukan, dan jamaah tersebut melakukan thawaf bersama empat orang tim kloter yang melakukan thawaf di barisan paling akhir.

Ritual awal yang dilakukan jamaah ketika pertama kali ke kota Makkah adalah melakukan umrah bagi yang melaksanakan haji Tamattu (Umroh dulu kemudian haji) atau Thawaf Qudum (thawaf kedatangan) bagi yang Haji Ifrot, pelaksanaan kegiatan ini untuk pertama kalinya dipandu oleh petugas PPIH Saudi Arabia, dengan mengingat hal ini merupakan pertama kalinya dilakukan jamaah haji dan bersama-sama, sehingga jika tidak diatur, dikhawatirkan terjadi masalah. Begitupun dengan jamaah haji yang memakai kursi roda juga harus diperhitungkan, dan akan dibantu oleh Satgas lansia yang berada di tiap-tiap sektor yang akan membantu dari mulai keluar dari hotel hingga terminal jiyat yang dekat dengan Masjidil Haram. 

Sudah saya perhitungkan untuk membawa semua jamaah haji melakukan umrah malam hari setelah shalat isya, kami sampaikan Makkah jam dua siang, terlalu resiko jika pertama kali umrah dilakukan sore hari, udara masih terasa panas, jamaah juga belum terbiasa dengan cuaca ekstrim meskipun kita hidup di garis khatulistiwa, jika di Indonesia ketika ditengah terik kita merasakan angin spoy, sedangkan di Saudi Arabia di musim panas, setelah sholat magribpun suhu masih empat puluh, karenanya lebih aman dan nyaman ke Masjidil Haram setelah isya.


Di terminal sudah ada petugas yang mengarahkan dan membantu, terutama bagi jamaah lansia, beberapa jamaah minta pengarahan sebelum rombongan mereka menuju Haram, saya menyampaikan tentang thawaf dan bagaimana kembali ke terminal, karena dalam Bimbingan Manasik Haji hanya disampaikan materi Ibadah, dan jarang disampaikan kondisi Masjidil Haram yang jika salah jalan akan berakibat tersesat.

Jamaah haji yang masih sehat melakukan thawaf secara rombongan, sedangkan yang lansia dan atau memakai kursi roda menggunakan jasa pendorong dengan rompi khusus, ada petugas yang membantu negosiasi harga wajar agar jamaah haji tidak membayar terlalu mahal.

Saya dan tim kloter berangkat dari terminal menuju masjid paling belakang, ada satu jamaah haji yang bersama kami, dia mendampingi Jamaah yang memakai kursi roda yang telah di dorong oleh pekerja, kita tak mampu mengikutinya, mereka seakan berlari mendorong jamaah melakukan thawaf dan Sai.

Saya mendahului empat tim kloter dengan menitipkan satu jamaah bersamanya, saya ingin thawaf dan Sai sendiri agar lebih cepat dan berada di terminal kembali sebelum jamaah datang, saya thawaf di lantai bawah, dekat dengan Ka'bah, Sai pun juga setengah berlari, sesegera mungkin kembali ke Terminal, dan ketika sampai di terminal, ternyata jamaah haji yang Thawaf dan Sai nya memakai jasa pendorong yang sepertinya orang Afrika sudah duluan sampai, padahal mereka Thawaf di lantai atas yang sekali putaran sekitar satu kilometer. 

Saya menunggui jamaah haji yang pakai kursi roda di Terminal hingga beberapa menit lamanya, ada petugas Dalgas (Pengendali Petugas) yang membantu jamaah dibawa ke hotel. Saya harus tetap menunggu jamaah, termasuk jamaah haji pendamping yang yang Thawaf bersama empat tim Kloter.

Beberapa saat kemudian empat tim Kloter sampai di terminal dan ketika saya tanya dimana satu jamaah haji yang bersama nya, ternyata satu jamaah tersebut tidak ditemukannya, saya juga sempat terkejut, 

Kok bisa satu jamaah dikawal empat orang tidak ditemukan.

Itulah kenyataannya dan kamipun harus mencari dimana jamaah haji ini berada.


Makkah, 28/06/2024.


Diskusi Pojok KJJT di Warung NKRI Bahas Peran Pers dalam Menjaga Kondusifitas Pemilu

BANYUWANGI – (Warta Blambangan) Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT) wilayah Banyuwangi menggelar Diskusi Pojok KJJT dengan tema “Peran Pers Dalam Pemilu: Untuk Menjaga Transparansi, Keadilan, dan Integritas, Bukan Menjadi Humas atau Tokoh Politik”, pada Kamis (08/08/2024).

Acara yang digelar di Warung NKRI Bakesbangpol Kabupaten Banyuwangi ini, dihadiri oleh rekan-rekan wartawan dari berbagai media, praktisi pers, penulis, sastrawan, serta perwakilan Humas TNI-Polri.


Dalam sambutannya, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, M.S,i., menyampaikan apresiasi atas inisiatif KJJT mengadakan diskusi ini sebagai wadah silaturahmi antara wartawan dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

"Kami berharap forum ini dapat menambah wawasan umum serta jurnalistik, demi menjaga kondusivitas wilayah dengan tetap mengedepankan integritas dan profesionalisme sesuai dengan UU Pers," ujar Agus Mulyono.

Ketua KJJT Banyuwangi, Ricky Sulivan, menegaskan bahwa peran media adalah menyampaikan informasi yang netral dan tidak memihak. 

“Media tidak boleh menjadi humas pasangan calon kepala daerah atau menjadi anggota partai politik tertentu. Kita harus menjaga independensi dan integritas dalam penulisan berita,” kata Ricky.

Setyo Bekti, SH. MH., perwakilan dari Humas Polresta Banyuwangi, menyampaikan, kegiatan diskusi seperti ini diharapkan dapat memperkuat sinergitas antara kepolisian dan media demi Banyuwangi yang kondusif.

"Saya berharap pertemuan seperti ini digelar secara rutin, untuk menambah wawasan tentang jurnalistik," terang Setyo.

Sementara Pegiat literasi, Maulana Affandi, SS., menyoroti pentingnya menjaga netralitas dan independensi media dalam peliputan berita pemilu. 

“Media harus mengatur suhu pemberitaan agar tidak terlalu panas atau terlalu dingin, bisa mengatur diksi dalam sebuah penulisan berita” jelasnya

Acara yang berlangsung selama tiga jam dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Jurnalis seperti Ari Bagus, Mbah Joni Cobra, Husein, Yahya Umar, secara bergantian mengajukan pertanyaan yang membuat diskusi semakin menarik, salah satunya membahas pentingnya uji kompetensi wartawan dan verifikasi media oleh Dewan Pers.

Sementara, M. Husein, dari kalangan penulis buku lebih menekankan pentingnya media dalam mengedukasi masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak benar.

H. Syafaat, Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, mengingatkan para jurnalis untuk berhati-hati dalam memilih kata dan mengkritik dengan cara yang santun, demi membangun Banyuwangi yang lebih maju.

Acara ini ditutup dengan pesan dari Maulana mengenai pentingnya pemilihan diksi dalam penulisan berita, agar tidak menimbulkan persepsi yang salah. Ia mengutip kata-kata John F. Kennedy: “Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya; jika politik itu bengkok, sastra akan meluruskannya.”

Hasil dari diskusi ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan peran penting Pers dalam menjaga transparansi, keadilan, dan integritas dalam pemilu mendatang, serta mampu menjaga suhu politik agar tidak panas maupun tidak dingin.


_(Sumber: Humas KJJT Wilayah Banyuwangi)_

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger