Pages

Perjalanan Muslim Level Lima

 Perjalanan Muslim Level Lima


Menjadi muslim yang dapat menjalankan semua rukun Islam merupakan impian umat Islam di seluruh dunia, namun tidak semua orang diberi kesempatan untuk menjalankan semua rukun Islam tersebut, karena dua rukun Islam paling akhir diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai kelebihan harta, dan tidak diwajibkan bagi mereka yang tidak diberi kelongggaran harta yang cukup, baik zakat yang merupakan rukun Islam keempat maupun rukun Islam ke lima yang hanya dapat dilakukan di Kota Makkah pada hari tertentu saja.

Perjalanan Ibadah haji yang hanya dapat dilakukan satu tahun sekali menjadi dambaan setiap orang, sehingga antrian pendaftaran haji semakin hari semakin panjang hingga puluhan tahun, bahkan tidak sedikit yang sudah mendaftarkan sebagai Jamaah Haji (istilah yang dipakai dala undang-undang bagi mereka yang sudah daftar haji), namun tidak ada kesempatan melaksanakan Ibadah haji karena terburu tutup usia. Begitupun sebaliknya, banyak yang mempunyai harta berlimpah, namun bellum ada kelonggaran hati dan pikiran untuk menunaikan ibadah haji dengan berbgai alasan yang ada pada diri mereka.

Perjalanan haji yang mulai pendaftaran membutuhkan waktu yang panjang dan berbagai liku tersebut membuat perjalanan haji bukan sekedar perjalanan ibadah biasa, yang waktunya bisa kita atur menurut kelonggaran kita, namun kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan waktu dan tempat yang tersedia, sehingga kita harus dapat berbagi dengan sesama jamaah yang juga mempunyai kepentingan yang sama dengan kita untuk melaksanakan ibadah haji dengan sempurna.

Setiap jamaah haji inin sempurna dalam melaksanakan ibadah haji, sehingga meskipun pemerintah telah menjadwalkan manasik haji hingga delapan kali sebelum keberangkatan, banyak jamaah yang merasa kurang dan harus menambah dengan biaya mandiri melalui KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah haji dan Umroh) yang bukan hanya memberikan tambahan bimbingan manasik, namun juga menawarkan Wisata Religi selama di tanah suci, sehingga meskipun dengan tambahan biaya, para jamaah tidak perlu mencari biro perjalanan wisata sendiri selama di saudi. Hal ini berbeda dengaan jamaah Non KBIHU yang ketika mereka ingin melakukan wisata selama musim haji, mereka harus pergi sendiri atau dibantu oleh para petugas mencarikan kendaraan (dengan biaya mandiri).

Seandainya diibaratkan sebuah game, perjalanan haji merupakan game level lima yang diatasnya sudah tidak ada level lagi, dan seharusnya bagi gamer yang telah melewati level lima ini telah hafal dengan level-level dibawahnya, melaksanakan setiap hari level pertama hingga level keempat tersebut, karena level lima merupakan level puncak dan level istimewa yang tidak semua orang diberi kesempatan untuk melaksanakannya.

Perjalanan haji bukan hanya dilihat dari dimensi religi secara sempit, namun ada dimensi lain yang membutuhkaan pencernaan religi lebih luas, terlebih dengan pelaksanaan perhajian yang lebih lama masa penantian daripada masa pelaksanaan, dengan inden lebih dari sepuluh tahun untuk dapat melaksanakannya, bahkan semakin tahun semakin lama saja masa tunggu untuk dapatnya berangkat haji, yang sistim antrian ini tidak dapat di kompromikan untuk jamaah haji reguler, dan dikecualikan bagi yang mengambil quota petugas atau quota haji khusus.

Dimensi sosial dalam pelaksanaan ibadah haji nampak nyata bukan hanya ketika para jamaah yang bergabung dalam satu kloter telah betangkat ke tanah suci, namun dimulai sejak para jamaah haji tersebut berada di tanah air, sejak pendaftaran hingga melengkapi segala bentuk dokumen yang bisa saja mereka termakan para calo yang memanfaatkan situasi dari para jamaah yang belum pernah bepergian ke luar negeri.

Dalam pelaksanaan perhajian, para jamaah dalam satu kloter dipimpin oleh ketua kloter sebagai pimpinan utama dalam kloter, yang kemudian para jamaah ini dibagi lagi dengan kelompok lebih kecil dalam rombongan yang terdiri dari beberapa regu. Kekompakan komponen kloter ini sangat menentukan keberhasilan ibadah haji dalam merasakan kenyamanan melaksanakan ibadah, karenanya sedikit saja mereka bermasalah, akan menimbulkan rasa kurang nyaman yang harus ditanggung oleh para jamaah secara keseluruhan.

Tidak sedikit muslim yang takut melaksanakan perjalanan level lima ini, mereka merasa belum memenuhi sarat naik level, merasa pengetahuan agamanya masih kurang, mersa imannya setipis sutra dan lain sebagainya, padahal perjalanan level lima yang merupakan ibadah fisik ini tidak mensaratkan demikian, karena perjalanan level lima ini merupakan perjalanan penting agar sang petualang menjadi semakin baik.

List Titipan Doa

 List Titipan Doa



Tidak semua muslim diberi kesempatan melaksanakan ibadah haji, karena keterbatasan tempat maupun biaya, karenanya kewajiban tersebut diberikan kepada yang mampu saja, baik fisik mental maupun keamanan dan itulah keistimewaan ajaran agama yang tidak memberatkan umatnya. Kesempatan menunaikan ibadah haji benar-benar di manfaatkan untuk beribadah, bukan hanya sekedar dzikir, namun juga ibadah sosial yang mereka lakukan seperti berqurban dan mewakafkan Al-Qur'an, membantu sesama jamaah dan lain sebagainya.

Banyak muslim yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji nitip doa di tempat mustajab selama ritual haji, mereka sangat yakin bahwa doanya akan dikabulkan walaupun hanya nitip kepada jamaah yang berangkat.

Tak heran beberapa jamaah menulis list titipan doa untuk dibaca ditempat sesuai dengan permintaannya, bermacam macam cara yang dilakukan yang kadangkala bukan hanya sekedar doa, melainkan juga ada yang nitip butiran jagung yang disebarkan di halaman masjidil haram dan sebagian dibawa pulang. Mereka yakin dengan cara tersebut doanya semakin mustajab.

Bukan hanya titipan doa yang mereka titipkan, tetapi ada juga yang memberikan bekal makanan seperti sambel pecel, ikan asin dan lain-lain, nyaris setengah koper berisi makanan siap saji, baik bikinan sendiri maupun bikinan pabrik. Padahal pemerintah sudah menyiapkan konsumsi selama pelaksanaan ibadah haji, namun begitulah yang terjadi, dan itu hal manusiawi, apalagi yang mbikinkan makanan adalah orang orang yang secara emosional sangat dekat dengan kita, mereka berharap dengan memberikan bekal kepada jamaah haji akan membawa keberkahan dan dapat menunaikan ibadah haji juga.

 Bukan hanya makanan yang mereka berikan, tetapi ada juga yang memberikan pakaian untuk dipakai meskipun sekali di Masjidil Haram, yang agak susah seperti ini adalah petugas haji karena selama menjalankan tugas, mereka hanya mengenakan seragam petugas, dan bukan baju bebas seperti jamaah lainnya.

Ada juga yang ngasih sarung untuk dipakai sholat, minta di cuci dengan air zamzam dan sampai di tanah air nggak boleh dicuci lagi untuk dipakai sang pemberi.

Bongkar pasang koperpun terjadi, karena tidak ingin mengecewakan sang pemberi, beberapa pakaian yang telah di tata rapi dalam koper harus di keluarkan, diganti dengan yang baru', seperti yang pernah diceritakan satu jamaah yang dibelikan daleman oleh orang spesialnya dan harus dipakai selama musim haji, mungkin sang pemberi dalam hati menyampaikan bahwa dia tak bisa menemani sang pujaan hati ke tanah suci, dan biarlah Daleman yang dibeli setia menemani.

Begitulan persiapan perjalanan yang mungkin takkan terlupakan yang akan dilakukan, persiapan begitu matang, banyak yang peduli, banyak juga pesanan yang disampaikan, dari mulai makanan hingga pakaian selama menjalankan ibadah haji yang diminta ketika sudah kembali ke tanah air.


Ada Laptop di Koper Besar Jamaah Haji


Banyuwangi (Warta Blambangan) Jelang koper dikirim ke Embarkasi Surabaya, satu koper Jamaah kloter SUB-58 dibongkar karena ada laptop di dalamnya, Jumat (24/05/2024). Laptop tersebut dikembalikan kepada yang bersangkutan dengan mengingat barang elektronik tidak boleh ditaruh di tas koper besar, karena rawan rusak.

Jamaah tersebut mengaku ada laptop dalam koper malam hari saat membaca pengumuman dari Ketua Kloter SUB-58 dalam group WhatsApp agar jika ada yang membawa laptop agar ditaruh di tas kabin.

"sebenarnya sudah lama ada edaran bahwa barang elektronik ditaruh di tas bagasi, dan ketika ada peringatan lagi dari Embarkasi, kita teruskan ke jamaah" kata Syafaat.

Dengan dibantu petugas dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, tas tersebut dibongkar untuk dikeluarkan laptopnya, beruntung koper belum diangkut ke Embarkasi, sehingga masih utuh, meskipun laptop tersebut diletakkan ditengah tumpukan baju dan diberi pengaman, namun sangat rawan jika ditaruh di koper besar.

Ditempat terpisah Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr Chaironi Hidayat menyampaikan bahwa di beberapa kesempatan telah menyampaikan ke jamaah tentang ketentuan barang bawaan jamaah, karena hal ini berkaitan dengan penerbangan yang memang mempunyai aturan ketat karena berkaitan dengan keselamatan. (Tim)

Kasih Ibu dalam Ritual Haji

 Kasih Ibu dalam Ritual Haji

oleh : Syafaat 



Ketika kita minum air zamzam, sambil berdiri menghadap Kabah kita membaca doa yang artinya  "Ya Allah! Sesungguhnya aku bermohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas dan penawar bagi segala penyakit; Dengan Rahmat Mu, Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!"

Tidak salah jika banyak yang bertanya dengan maksud dari doa tersebut, apa hubungannya minum air zamzam dengan memohon ilmu yang bermanfaat dan rezeki yang luas, karena zam-zam berbentuk air, dan apakah dengan minum air zamzam tersebut mendapat ilmu yang bermanfaat? Rezeki yang luas ?.


Sai merupakan salah satu rukun haji maupun umrah, ritual sai dengan cara berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke Marwa sebanyak tujuh kali merupakan Napak tilas yang dilakukan Siti Hajar, isteri dari Nabi Ibrahim AS ketika mencari air untuk putranya Ismail AS, yang saat itu ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim AS untuk sebuah keperluan. Kita mungkin bertanya mengapa Siti Hajar yang sudah hidup bertahun tahun di sekitar Ka'bah dan yakin tahu bahwa di bukit Shafa dan Marwa yang letaknya tidak jauh dari Ka'bah tersebut tidak ada air.

Nabi Ismail AS merupakan gambaran seorang anak yang sangat taat terhadap perintah Tuhan yang disampaikan melalui orang tuanya, meskipun bagi orang biasa, perintah tersebut merupakan perintah yang tidak masuk akal, namun Ismail AS tahu dan yakin bahwa orang tuanya adalah seorang nabi, dan yang diterimanya merupakan perintah nabi dan bukan bisikan setan.

Sepandai apapun ilmu seseorang, tidak akan ada artinya jika tidak dimanfaatkan l, dimengerti dan di fahami. Dan yang dilakukan Ismail AS merupakan salah satu gambaran ilmu yang bermanfaat. Keluarga Nabi Ibrahim AS bersama isterinya Siti Hajar merupakan gambaran keluarga yang patuh dan taat kepada perintah Tuhannya, Nabi Ibrahim AS mendapatkan perintah khitan ketika usianya sudah tua, serta dikaruniai seorang putra. Begitupun dengan Siti Hajar yang dengan tabah harus merawat anaknya sendirian karena ditinggal oleh suaminya untuk keperluan tertentu. Siti Hajar merupakan gambaran istri yang taat, yang tahu apa yang harus dilakukannya ketika suaminya tidak ada di rumah. Sebelum pergi meninggalkan istri dan anaknya, Nabi Ibrahim berpesan kepada istrinya, “Tetap Bertakwalah kepada Allah yang telah menentukan kehendak-kehendak-Nya. Percayalah kepada kekuasaan dan rahmat-Nya. Dialah yang memberikan perintah kepadaku untuk membawamu (istri) ke sini.

Dialah yang akan memberikan perlindungan di tempat yang sunyi ini. Seandainya bukan karena perintah dan Wahyu dari Allah, aku sama tidak tega untuk meninggalkan kamu bersama anakku yang aku cintai. Percayalah wahai Hajar bahwa Allah tidak akan menelantarkan kalian berdua tanpa perlindungan-Nya. Rahmat dan berkah-Nya akan selalu turun untuk selamanya, insya Allah.”

Dia paham betul ketika putranya kehausan dan tidak ditemukan air, dialah yang harus berusaha mencarinya, berlari-lari kecil antara bukit Shafa ke bukit Marwa yang dia tahu sebelumnya bahwa disitu tidak ada air. Namun dia memahami bahwa yang dilakukan merupakan sesuatu yang harus dilakukan, dan yang dilakukan adalah petunjuk Tuhan.


Air tidak ditemukan diantara Shofa dan Marwa, dan tidak ditemukan langsung melalui tangan isteri Ibrahim AS, melainkan keluar dari bawah kaki Nabi Ismail AS yang digerakkan kedalam pasir yang kemudian kita kenal dengan istilah air zamzam.


Meskipun air keluar dari pasir yang digali dari kaki Ismail AS yang masih sangat kecil, bukan berarti usaha yang dilakukan Siti Hajar sia-sia, karena begitulah tuhan memberikan Rizki, mengabulkan doa terhadap hambanya, bisa jadi usaha dan doa seorang ibu dijawab melalui Rizki yang diterima putranya, bisa jadi pula seorang suami bekerja diluar, namun rizki diberikan melalui isterinya yang berdiam diri di rumah, sebagaimana kisah Siti Hajar ketika mencari air zam-zam tersebut merupakan rizki yang sangat luas dan bukan hanya keluarga Ibrahim AS yang menikmati, namun bisa semua manusia hingga kiamat tiba. Tiga hal yang kita minta dari doa meminum air zamzam berkaitan erat dengan sejarah ditemukannya air zamzam tersebut.


Ritual haji merupakan ibadah fisik yang penuh dengan makna, kesabaran dan keikhlasan merupakan kunci dari kemabruran, ibadah yang hanya dapat dilakukan di waktu dan tempat tertentu tersebut ditempatkan pada urutan terakhir rukun Islam, kemabruran ibadah haji bukan hanya dari banyaknya dzikir yang dibaca, melainkan juga kepekaan sosial terhadap sesama.


Ketua Kloter SUB-58 Tahun 2024

Koper Petugas Haji juga di Kumpulkan di Kemenag


Banyuwangi (Warta Blambangan) Bukan hanya koper milik jamaah haji saja yang dikumpulkan, Koper milik petugas haji juga di kumpulkan bersama jamaah haji lainnya di aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Kamis (23/05/2024)., koper ini akan diberangkatkan mendahului bur yang membawa jamaah haji yang akan berangkat Sabtu (24/05/2024).

Setiap koper diberi kain penanda yang berbeda disetiap Rombongan, kain-kain dalam bentuk pita tersebut sudah disediakan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. Chaironi Hidayat berpersan agar setiap jamaah haji mematuhi ketentuan barang bawaan yang diperbolehkan.

“tidak perlu membawa alat masak sendiri, karena semua sudah dicukupi oleh pemerintah, baik di makkah, Arofah, Mina hingga madinah” kata Roni.


Sesuai ketentuan, tahun ini kapasitas beban maksimal koper jemaah 32 kilogram (kg) dan tas kabin 7 kilogram. Dibanding tahun sebelumnya, tahun ini ada penambahan kapasitas. Pada aturan tahun lalu, kapasitas maksimal koper hanya 27 kilogram dan tas kabin 5 kilogram.

Koper-koper tersebut akan diberangkatkan ke Asrama Haji Sukolilo dan para jamaah haji akan bertemu dengan kopernya di Hotel tempat menginap di Misfalah.

14 petugas haji yang menyertai jamaah juga mengumpulkan koper di aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi untuk diangkut bersama koper jamaah haji lainnya sesuai dengan kloternya, sdangkan satu petugas haji yang menyertai jamaah haji Kabupaten Banyuwangi langsung diserahkan di asrama haji dengan mengingat dimisilinya berada di Surabaya.

Akhirnya Berangkat Haji Juga

 


Wajah ceria terlihat di kerut menua, matanya berbinar karena penantian panjang segera terpenuhi. Para jamaah yang berangkat tahun ini rata-rata telah menunggu 14 tahun, itupun terhitung tidak terlalu lama dibandingkan dengan yang daftar tahun ini yang harus indent puluhan tahun.
Saya bersyukur karena membersamai mereka untuk mendapatkan rukun Islam kelima yang tidak semua muslim dapat melaksanakannya, ada kenikmatan tersendiri ketika bersama mereka, kental dengan rasa kekeluargaan meskipun baru beberapa hari bertemu, karena kita sadar bahwa hanya dengan kebersamaan itulah kita dapat menjalankan ibadah haji dengan sempurna.
Beberapa kejadian kebetulan juga kita alami ketika pembagian Kartu Identitas (Card ID), tadinya ada yang kirim informasi melalui WhatsApp jika card Id yang diterima salah, namanya benar tetapi fotonya dan nomor paspor salah. Kebetulan saya menerima info tersebut ketika menikmati makan malam yang tertunda karena harus membalas WhatsApp yang masuk yang tanyanya juga bervariasi, padahal juga sudah saya jelaskan ketika manasik haji, tetapi begitulah cara mereka menyapa ketua kloter yang baru dikenalnya.
Belum sempat saya cek kebenaran kesalahan cetak card Id, di group WhatsApp sudah rame dan ada jawaban bahwa kartu identitas mereka tertukar, kebetulan Namanya Sama, begitupun dengan nama ayah kandungnya, dan saya termasuk orang yang sangat berbahagia karena dipertemukan dengan dua orang yang namanya sama dengan nama orang tua yang namanya juga sama meskipun mereka berdua tidak ada pertalian darah, kesamaan saat ini adalah mereka sama-sama berangkat haji dalam kloter yang sama, dan kebetulan ketua kloternya bernama Syafaat.
Entahlah, apa yang ada di pikiran mereka tentang kejadian ini, yang saya lakukan hanya membuat mereka nyaman sesuai dengan kemampuan yang saya miliki, kebetulan dari mereka banyak yang sudah pernah melaksanakan umroh, sehingga sudah tahu bagaimana kondisi kota Makkah di musim panas.
Pertanyaan-pertanyaan yang masuk grup WhatsApp juga beragam, bahkan ada yang telepon dari anak jamaah haji katanya sangat penting tentang orang tuanya yang berkali-kali bongkar kopor untuk masukkan barang dan keluarkan lagi, saya diminta untuk memberikan pencerahan agar orang tuanya tidaklah bingung dengan barang bawaan yang dimasukkan kedalam kopor.
Untung saja mereka nggak tahu bahwa sayapun juga agak bingung juga dengan yang akan saya masukkan kedalam kopor, meskipun sudah jelas bagi petugas hanya menggunakan pakaian seragam petugas selama menjalankan tugas melayani jamaah.
Mungkin ini merupakan gambaran kita yang mau tidak mau harus menjalani estafet kehidupan, tentang bekal yang kita bawa ke alam selanjutnya setelah metini pesawat kematian, meskipun tergambar tentang keabadian surgawi, namun tidak jarang manusia bingung mempersiapkan bekal yang harus dibawanya, terlebih bagi manusia biasa yang tidak mempunyai pengalaman keimanan seperti manusia pilihan.
Perjalanan ke tanah suci yang akan kita lakukan merupakan panggilan yang sudah lama disampaikan, namun tidak semua orang berkenan hati menerima panggilan tersebut dengan sungguh sungguh, karena kita tahu ada Sang penggerak hati yang dapat menggerakkan apapun dari mulai yang terlihat nyata hingga yang tidak kita ketahui secara pasti.


 Dimensi Sosial Dalam Pelaksanaaan Ibadah haji

Oleh : Syafaat

 

Pelaksanaan perjalanan haji Indonesia selama empat pulunhari, baik ketika berada di Makkah maupun di Kota Madinah bukan hanya melaksanakan ritual haji yang hanya berlangsung beberapa hari saja.berkumpulnya ratusan orang tentu membutuhkan tatanan organisasi yang baik agar kesempatan menunaikan Ibadah haji tersebut bagi jamaah hanya sekali seumur hidup. Sangat jarang yang mempunyai kesempatan melaksanakan ibadah haji kedua kali dengan mengingat antrian panjang jamaah haji Indonesia.

Kemabruran haji tidak hanya dinillai dari berapa banyak dzikir yang dilakukan, atau berapa banyak ibadah sunnah yang telaah dilaksanakan, karena yang dapat mengukur kemabruran haji bukanlah dengan ukuran manusia, kita pernah mendengar ada orang yang mendapat predikat haji mabrur dari orang yang tidak jadi berangkat haji karena uang yang rencananya dibuat untuk berangkat haji, digunakan untuk membantu sesama.

Pelaksanaan ibadah hai di Indonesia telah diatur diatur oleh pemerintah sesuai dengan quota yang di dapat dari pemerintah Saudi Arabia, dengan mengingat keterbatasan tempat dan antusiasme muslim yang berkeinginan beraangkat haji, sehingga meskipun seseorang secara finansial mampu dan berkeinginan berangkat haji, belum tentu dapat dengan mudah berangkat menunaikan ibadah haji.

Ada beberapa quota yang disediakan pemerintah Saudi Arabia dalam pelaksanaan Ibadah haji yang diberikan kepada penduduk muslim di Indonesia, Yakni quota haji yang dibagi dalam quota haji khusus dan quota haji reguler serta quota untuk petugas haji. Disamping itu ada quota yang diberikan dan dikeolola oleh pemerintah Saudi yang dikenal dengan Furoda.

Pelaksanaan perjalanan ibadah haji yang relatif panjang dengan berbagai permasalahan, baik eksternal maupun internal dalam satu kelompok terbang (kloter), membutuhkan tananan organisasi yang memadai agar semua jamaah haji dapat melaksanakan ibadah haji dengan sempurna. Dalam sebuah kloter disamping ada lima orang petugas kloter (PPIH Kloter), juga ada PHD (Petugas Haji Daerah) yang menggunakan quota petugas,  merekaa ini bertugas bukan atas biaya dari BPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji), tetapi dari APBN/APBD/Lainnya.

Para petugas yang dipimpin Ketua kloter inilah yang mempunyai peran untuk membawa jamaah haji menunaikan rukun Islam kelima yang waktunya terbatas, Petugas Kloter juga menyiapkan pembimbing Ibadah yang memandu bagaimana para jamaah haji ini melaksanakan ritual haji, disamping tenaga kesehatan yang menjaga kesehatan jamaah haji agar tidak mudah sakit.

Jamaah haji juga dibagi dalam rombongan dan regu yang diamblkan dari jamaah itu sendiri, mereka bertugas untuk mengkoordinir dan membantu jamaah, sehingga jamaah tertata dengan baik, karena ratusan orang tersebut tidak akan tertangani dengan baik jika hanya dilakukan oleh para petugas yang menggunakan quota petugas, baik PPIH maupun PHD, dengan mengingat keragaman status sosial dari masing-masing jamaah yang mengakibatkan penanganan berbeda dari tiap-tiap jamaah.

Semua jamaah haji melakukan ritual yang sama dalam pelaksanaan ibadah haji, namun merekan melakukan kegiatan berbeda sesuai dengan tugas dan fungsinya, para Karu dan Karom ada tugas untuk mengkoordinir jamaahnya, terutama dalam layanan konsumsi yang harus terdistribusi kepada jamaah tepat waktu, karena konsumsi yang diterima ada daluwarsa. Karu dan Karom ini tidak dapat dengan leluasa berada terus menerus di dalam Masjid untuk berdzikir, dan bisa jadi karena tugasnya inilah yang mengantarkan mereka menjadi haji mabrur.

Selain melaksanakan tugas memandu dan membimbing jamaah haji, para petugas haji juga dapat melksanakan ibadah haji, karena mereka wajib mendampingi jamaah haji ketika Umroh wajib dan melaksanakan ritual selama di Arofah, Muzdakifah dan Mina, sehingga jamaah meraasa aman dan nyaman bersama-sama melaksanakan haji dengan sempurna.

Petugas Haji, baik PPIH maupun PHD adalah jamaah haji dengan quota petugas, karenanya menurut ulama, kemabruran petugas ini bukan hanya dari rutual hajinya saja, tetapi pelaksanaan tugas yang telah diberikan dan dengan sadar meraka mengambil quota petugas, karenanya bagi petugas haji tugasku adalah kemabruran hajiku.

Dimensi sosial dalam ibadah haji merupakan sebuah keniscayaan, karena harapan dari pelaksanaan ibadah haji adalah perubahan perilaku dari pelaksana haji, baik perilaku diri pribadi, pengendalian dirii maupun lelaku dalam tatanan sosial setelahnya. Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai peran urgen dalam perubahan sosial dilingkungannya, dan ini tidak dapat terlepas dari peran individu dari masing-masing tatanan, karenanya ritual haji yang merupakan perjalanan napak tilas tersebut harus dapat dijadikan pelajaran dari semua yang dilakukan.

 

Penulis adalah Ketua kloter SUB-58 Tahun 2024

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger