Pages

Serentak, Kemenag bersama Warga di 25 Kecamatan se-Kabupaten Banyuwangi Gelar Salat Istisqa


Banyuwangi (Warta Blambangan) Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pemerintah Daerah, dan warga masyarakat di 24 Kecamatan se-Kabupaten Banyuwangi bersama sama menggelar Shalat Istisqa untuk meminta turunnya hujan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Moh. Amak Burhanudin menyampaikan, bahwa pelaksanaan Shalat Istisqa dilakukan serentak di seluruh wilayah Banyuwangi. Menurutnya ini sebagai bentuk ikhtiar dan upaya karena musim kemarau yang berkepanjangan.

“Untuk di wilayah Kecamatan Banyuwangi dilaksanakan di Taman Blambangan pukul 09.00 WIB,” Kegiatan ini juga dilaksanakan serentak 25 Kecamatan baik di Lapangan atau RTH masing-masing,” ucap Amak Burhanudin. Kamis (02-11-2023).

Amak menambahkan, Shalat Istisqa ini juga diikuti oleh ASN Kemenag Banyuwangi, baik yang berada di Satker Madrasah, dan KUA Kecamatan. Selain itu, juga melibatkan siswa siswi madrasah, santri di pondok-pondok pesantren, dan anggota ormas Islam, NU, Muhammadiyah, dan Al Irsyad.

Kepala Kemenag bersama jajarannya merasa bangga atas dukungan dan ikhtiar segenap masyarakat Banyuwangi agar segera turun hujan dan terhindar dari bahaya kekeringan yang dilaksanakan dengan menyelenggarakan Shalat Istisqo di seluruh Kecamatan.

“Semoga hajat kita semua terkabulkan”, kata Amak.

Amak Burhanudin juga menyampaikan terimakasih atas kerjasama, bantuan dan dukungan dari semua pihak, terutama dari Bupati beserta jajaran Forpimda, MUI, Tokoh Agama, Camat beserta jajaran, Kepala KUA, Kepala Madrasah dan semua warga masyarakat.

Sementara Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dalam kesempatan itu menyampaikan, bahwa dengan melaksanakan shalat Istisqo’ ia mengajak kepada seluruh jamaah untuk menguatkan Iman dan Islam, saling berbagi dan mensyukuri apa yang diberikan Allah SWT.

“Kemarau panjang pasti ada hikmah, karena semua itu menjadi pengingat bagi kita, semoga Allah mendengar doa kita, dan segera Allah turunkan hujan yang membawa

rahmat dan berkah”, pungkasnya.

Adapun tempat selengkapnya adalah Kecamatan Sempu di Lapangan Karangsari, Imam KH.Mistar Khotib H Abdul Azis,M.Pd.I, Kecamatan Songgon di Lapangan Desa Songgon,Imam Kyai Imam Nahdi Ketua MUI Songgon, Kecamatan SronoTempat : lapangan wirabumi srono, Imam : Kyai Ma'sum Shobih ( Ketua MUI Srono ) Khotib : Ustz. Lukman Hakim, LC. Kecamatan Glagah dilapangan Desa Olehsari Imam dan Khotib KH Marfu' Ali Ketua MUI Kec Glagah. Kecamatan Licin di lapangan parkir Kec. Licin Imam : Ust. Syaifullah (Rais Syuriah MWCNU, Khotib; Ustadz Moh. Iswandi (MUI Licin) Kecamatan Tegaldlimo di Lapangan DAMLIMO Imam & Khotib : KY Ma'ruf alkarhi, KH Izuddin. Kecamatan  Kabat di Lapangan ITSNU Labanasem, Imam : KH. Muhaimin ( Pengasuh PP. Mamba' Hikam) Khotib Ustadz Fuad Hasyim. (Ketua MUI Kec.Kabat) Kecamatan Kalipuro  di Lapangan Kalipuro Imam &Khotib; Ust. Abdul Majid. Kecamatan Giri  di Lapangan Kec. Giri Imam& Khotib. Ust Rajab dan ust isrofi (ketua MUI kec.Giri) Kecamatan Pesanggaran di Lampangan Desa Sumberagung, Imam &khotib  Kh.Musyafa' Afandi.M.Pd.(ketua MUI)Kecamatan Rogojampi di Lapangan Lugjag. Peserta, Lintas sektor, Ormas, Guru, Siswa, Penyuluh. Khotib : Dr. H. Lukman., Imam : KH. Fathur Rozaq, S.Pd Kecamatan Glenmore di lapangan RTH Glenmore Imam dan Khotib Gus Washi Kecamatan Kalibaru  dilapangan Paralayang Kalibaru, Imam : KH. Abdulloh Umar Khotib : K.H.Mursyid Kecamatan Wongsorejo  di PP. Imarotul Mustaqimah Imam Gus Abdullah Baidla'i Imam l; K. Zainul Aziz Rosyidi Kecamatan Tegalsari di Lapangan PP. Darussalam Blokagung  Kecamatan Gambiran di Lapangan Ahmad Yani  Desa Jajag Imam KH Damanhuri Khotib Kyai Syarif Hidayatullah Kecamatan Purwoharjo di lapangan karetan. imam KH Ihsanudin (Ketua MUI Purwoharjo). khotib kepala kua Purwoharjo H Asrori. S.Pd.I Kecamatan Blimbingsari  di Lapangan SD N 1Watukebo Imam. Gus Nidomudin Khotib. H. Ismail Marzuqi Kecamatan Bangorejo di lapangan Desa Bangorejo. Imam : K. Ali Shodiq Khotib : Agus abdul halim Kecamatan Singojuruh, imam, Di RTH Singojuruh Khotib KH Mu'afi Rois Kecamatan Muncar, Tanah  Lapang Ponpes Minhajut Thulab Sumber Beras Imam KH Fakhruddin Khotib Hakim Assyafu Kecamatan Siliragung.di lapangan Tegal Agung Imam Dan Khotib  ( Ketua MUI Siliragung Imam Misbah Aziz) Blimbingsari di Lapangan SDN 1 Watukebo Imam: Gus Nidlomuddin Khotib: KH. Ismail

Shalat Istisqo di 25 Kecamatan di Kabupaten Banyuwangi

 


Banyuwangi (Warta Blambangan) Masyarakat muslim di Bumi Blambangan akan melaksanakan Sholat Istisqo. Tempat dan imam Sholat Istisqo tersebut adalah

 hari kamis, 2 Nopember 2023 SE Kabupaten Banyuwangi :

1. Sempu, Lapangan Karangsari, 

imam KH.Mistar Khotib H Abdul Azis,M.Pd.I

2. Songgon, Lapangan Desa Songgon, imam Kyai Imam Nahdi Ketua MUI Songgon

3. Kec. SRONO Tempat : lapangan wirabumi srono, Imam : Kyai Ma'sum Shobih ( Ketua MUI Srono ) Khotib : Ustz. Lukman Hakim, LC

4. Glagah dilapangan Desa Olehsari Imam dan Khotib KH Marfu' Ali Ketua MUI Kec Glagah.

5. Genteng dilaksanakan di masing masing desa dan sekolah serta pondok pesantren.

6. LICIN di lapangan parkir Kec. Licin Imam : Ust. Syaifullah (Rais Syuriah MWCNU, Khotib; Ustadz Moh. Iswandi (MUI Licin)

7. Tegaldlimo di Lapangan DAMLIMO Imam & Khotib : KY Ma'ruf alkarhi, KH Izuddin

8. KABAT di Lapangan ITSNU Labanasem, Imam : KH. Muhaimin ( Pengasuh PP. Mamba' Hikam) Khotib Ustadz Fuad Hasyim. (Ketua MUI Kec.

 Kabat)

09. KALIPURO di Lapangan Kalipuro Imam &Khotib; Ust. Abdul Majid

10. GIRI di Lapangan Kec. Giri Imam& Khotib. Ust Rajab dan ust isrofi (ketua MUI kec.Giri)

11. BANYUWANGI di TAMAN BLAMBANGAN Imam & Khotib; KH. Achmad Shidiq

12.KEC.PESANGGARAN di Lampangan Desa Sumberagung

Imam &khotib  Kh.Musyafa' Afandi.M.Pd.(ketua MUI)

Jumlah jamaah 1000 organ 

13. *ROGOJAMPI* di Lapangan Lugjag. Peserta, Lintas sektor, Ormas, Guru, Siswa, Penyuluh. Khotib : Dr. H. Lukman., Imam : KH. Fathur Rozaq, S.Pd

14. GLENMORE di lapangan RTH Glenmore Imam dan Khotib Gus Washil

15. KALIBARU dilapangan Paralayang Kalibaru, Imam : KH. Abdulloh Umar

Khotib : K.H.Mursyid

16. WONGSOREJO di PP. Imarotul Mustaqimah Imam Gus Abdullah Baidla'i Imam l; K. Zainul Aziz Rosyidi

17. TEGALSARI di Lapangan PP. Darussalam Blokagung 

18.Gambiran di Lapangan Ahmad Yani 

Desa Jajag Imam KH Damanhuri

 Khotib Kyai Syarif Hidayatullah 

19. purwoharjo di lapangan karetan. imam kh ihsanudin (KETUA MUI PURWOHARJO). khotib kepala kua purwoharjo h asrori. spdi

20.Blimbingsari  di lapangan SD N 1Watukebo

Imam. Gus Nidomudin

Khotib. H. Ismail Marzuqi

21. Bangorejo di lapangan desa bangorejo.

Imam : K. Ali Shodiq

Khotib : Agus abdul halim

22. Singojuruh, imam, Di RTH Singojuruh Khotib KH Mu'afi Rois

23. Muncar, Tanah  Lapang Ponpes Minhajut Thulab Sumber Beras Imam KH Fakhruddin Khotib Hakim Assyafu

24. SILIRAGUNG.dilapangan TEGAL AGUNG

IMAM dan KHOTIB  ( Ketua MUI Siliragung IMAM MISBAH AZIZ)

25. Blimbingsari di Lapangan SDN 1 Watukebo Imam: Gus Nidlomuddin Khotib: KH. Ismail

SENJA DI BULAN NOPEMBER

 


Cerpen :  Muhammad Iqbal Baraas



SENJA DI BULAN NOPEMBER



Juragan  kula’an  mayat. Mayat  tiga container 40 feet datang ke kampung kami. Kampung kalang kabut seperti rumah lebah yang terbakar api, semburat. Semburat semua orang berloncotan. Loncat dari tiap tiap kepala yang tak mengenali badannya. Badan yang juga merasa risih untuk menemui matanya. Mata yang ngeri menyongsong adegan asing.  Asing  yang mungkin pertama dan terakhir. Terakhir dari seribu mimpi yang celaka. Celaka andaikata  tiga container itu tak  segera dibongkar, mayat mayat jadi busuk, memang ada frezer di dalamnya, tapi sampai seberapa tahan frezier mampu nahan, belum lagi bensinnya juga sudah sangat mahal. Mahal buat juragan juga sebuah bisnis, dimana kula’an dengan semurah murahnya akan mendapatkan keuntungan sebesar besarnya. Besar dan kecilnya mayat juga tak mempengarui harga, juragan mborong. Mborong dengan ukuran dan bentuknya yang berbeda, warna kulit berbeda tak masalah. Masalahnya warga resah. Resah dengan tingkah pola juragan. Juragan melihat peluang bisnis yang luar biasa. Biasa yang dipikir tiap pengusaha. Pengusaha yang cerdas. Cerdas melihat pasar bebas. Bebas untuk bisnis apa saja. Apa saja yang yang membuat warga marah. Marah yang lahir dari nurani yang dikalahkan.

“ Apa sudah ndak ada barang yang lain untuk di kula’, sampai harus kula’an mayat? “.

“  Apa harga mayat mayat itu jauh lebih murah dari barang barang lain?”.

“ Apa karena harga harga barang  itu terus melambung  sampai Juragan kula’an mayat?”.

“Apa juga karena  makin banyak mayat bergelimpangan dan ndak ada harganya?”.

“ Apa karena mayat mayat itu gampang dan murah untuk dikula’?”.


Mayat mayat membusuk. Membusuk karena para kuli menolak membongkarnya. Membongkarnya, menurut  mereka sama dengan membuka aibnya. Aibnya sendiri sama dengan membunuh diri sendiri, menyeberangi mautnya sendiri,  membunuh keluarga, anak anak, istri, kakek, nenek. Nenek moyang mereka tak pernah berani menyalahi budaya. Budaya haram menelanjangi harga diri di muka umum. Umum yang tidak umum ialah sebuah kenyataan yang harus diterima. Diterima mentah mentah meski harus demonstrasi di jalan jalan. Jalan jalan yang belum mereka kenal akan terobosan bisnis yang melintasi pikiran Juragan dengan mutlak. Mutlak juga andaikata mereka menerima, toh nantinya bagi kesejahteraan . Kesejahteraan semua rakyat. Rakyat harus setuju demi terselenggaranya masyarakat yang adil dan makmur. Makmur yang bukan hanya milik cukong cukong yang perutnya buncit. Buncit memang sebahagian besar mayat mayat itu karena sudah tujuh hari tujuh malam melewati laut, benua dan samudra. Samudra keterbukaan yang diharapkan masyarakat . Masyarakat tetap menolak membongkar dengan alasan takut dan ngeri. Ngeri dengan nasib yang nantinya juga mereka terima jika mereka nekat  membongkar, karena nantinya mereka juga akan bernasib sama, semacam kutukan. 

Akankah dibongkar container container itu?  Hari apa, tanggal berapa, bulan Jawa apa,  Kliwon, Legi, Paing ,   atau   tahun berapa? Dimana?  Dimanapun saja Juragan tak bakal nemukan orang orang yang sanggup membongkar isi containernya, kecuali ia harus ndatangkan seratus atau dua ratus orang dari kampung lain, yang tentu  dengan bayaran  tiga kali  lipat. Lipatan keuntungan itu pun juga dihitung oleh juragan. Juragan optimis bakal meraup keuntungan yang berlimpah ruuah, melebihi keuntungan bisnis padi yang selama ini dilakoninya. Lakon yang ia terima dari Bapaknya. Bapaknya yang juga seorang rentenir  ternama di kampung kami. Kami hidup memang juga dari Bapaknya. Bapaknya yang juga tega mempermainkan harga gabah, yang terkadang harganya tak pasti. Tak pasti naik turunnya hingga petani hanya mampu menggigit bibir. Bibirnya jadi biru karena tak pernah mengenyam keuntungan dari hasil panennya. Panennya sukses tapi harganya anjlok. Anjlok juga harga ketika panen tak sukses. Sukses yang terus diraih Bapak juragan. Juragan juga tinggal meneruskan menindas petani. Petani hanya bernyanyi sendiri di ruang sunyi. Sunyi membajaki sawahnya. Sawahnya yang juga suatu saat akan jadi gedung bertingkat yang dibeli dengan harga singkat. Singkat kata,  Juragan memaksaku untuk segera membongkar container,  sebelum terkena biaya denda atas menginapnya container. Container celaka,  yang bakal membawa hikmah bagi kesejahteraanku juga Masyarakat. Masyarakat yang tak pernah paham akan hal demikian. Demikianlah bisnis. Bisnis yang sering tak memberikan toleransi peradaban. Peradaban mana yang punya ukuran kedewasaan nurani. Nurani yang tak lagi dimiliki Juragan.

“ Aku akan PHK kalian semua jika tak segera membongkar isi container ini !!. Aku sudah bosan kalian mengaturku. Kalian selalu nekan minta gaji naik, minta cuti hamil, cuti haid, cuti bersih bersih kampung,  dan semua alasan alasan  yang kalian Rekayasa,  asalkan  dapat cuti. Aku sudah bosan atas sikap kalian yang terus mengancam mogok besar besaran. Aku sudah bosan. Aku akan PHK kalian semua tanpa pesangon. Silakan protes. Aku tak perduli. Aku  mendingan bayar Polisi untuk keamanan dari pada harga diriku diinjak injak “.

Maka semua karyawan di PHK. PHK besar besaran, karena bagi Juragan lebih baik membeli baju baru dari pada mencuci baju lama yang penuh bercak darah,  tanpa pesangon. Pesongan ngaplo  yang mereka terima. Terima kasih pun tidak. Tidak demikian yang mereka terima atas kedzaliman. Kedzaliman harus dilawan. Dilawan dengan demonstrasi besar besaran yang tak terkalahkan oleh ganasnya Polisi. Polisi yang juga dibayar juragan beradu, berhadap hadapan seperti ayam tanpa tandingan. Tandingannya hanya kilat yang bertaburan di angkasa. Angkasa bergolak seperti mau muntah melihat realitas yang tak wajar diterima nalar. Nalar bagi Juragan ngeluarkan dana yang tak berimbang, yang penting keuntungan. Keuntungan bagi sebuah bisnis besar yang tak terkalahkan oleh mimpi. Mimpi celaka bagiku jika proyek ini gagal. Gagal dan tidak semua bergantung padaku. Padakulah segala bisnis Juragan bergantung. Bergantung padaku semua perhitungan atas tiap barang yang dijual dan dibeli. Dibeli murah harga diriku sejak aku masih belum lahir. Lahir dengan hutang Ayah yang membuncit. 

Membuncit juga perut ibu yang terbeli. Terbeli dengan jaminan kalau ayah tak bisa membayar hutang. Hutangku pada juragan seperti tak dapat ditebus. Ditebus dengan harga diripun tidak. Tidak juga dengan nyawa. Nyawa nyawa yang tak berharga. Harga berapapun dibayarnya. Dibayarnya dengan merdeka. Merdeka bila semua keinginannya terkabul. Terkabul juga keinginan juragan membasmi demonstran. Demonstran yang sebagian besar juga bisa dibayar. Dibayar dengan pekerjaannya kembali. Kembali Juragan menang. Menang dengan kepala terangkat. Terangkat  juga nasibku bila proyek Juragan terealisir. Terealisir pula container untuk dibongkar. Dibongkar oleh para kuli dari luar kota yang dibayar tiga kali lipat lebih mahal. Mahal tentunya Cost untuk mayat mayat. Mayat mayat yang tanpa kepala. Kepala yang tanpa badan. Badan yang jari dan perutnya hancur. Hancur telinga yang menggantung di kepala. Kepala yang tanpa hidung. Hidung yang tak berbentuk hidung. Hidung yang tanpa lubang. Lubang mulut yang tak berbentuk bulat. Bulat oval bayi bayi yang melepuh karena ledakan. Ledakan yang menewaskan anak anak dan ibu ibu. Ibu ibu  gosong dengan bayi yang putih karena melepuh masih di gendongan. Gendongan yang ter-cat warna darah. Darah yang amis meng-aroma-i isi container.

“ Ada berapa mayat yang tak bertelinga? Ada berapa mayat yang tak berkepala? Ada berapa kepala yang tanpa badan ? Ada berapa pasang jari yang remuk ? Ada berapa pasang kaki anak anak ? Ada berapa pasang tangan anak anak? Ada berapa pasang telinga anak anak ? Jangan lupa, hitung yang benar!! Khususnya untuk kepala dan telinga anak anak. Itu mahal harganya”.

Seperti robot aku menghitung anak anak yang badannya tinggal separuh. Separuh ibu ibu bunting dengan bayi yang juga masih di dalam perut. Perut perut yang pecah. Pecah mata nggantung di kelopoknya satu. Satu peristiwa ngeri. Ngeeri bagi lelaki celaka sepertiku. Sepertiku anak anak yang tak punya bapak. Bapak dari zaman yang tak pernah dipercaya oleh zaman. Zaman  kuterima dengan rentengan telinga yang tak kutahu berapa jumlah. Jumlah badan anak anak tanpa kepala pertama kuhitung seribu. Seribu ke sepuluh ribu. Sepuluh ribu ke seratus ribu. Seratus ribu ke satu juta. Satu juta ke sepuluh juta. Sepuluh juta ke seratus juta. Seratus juta ke seribu juta. Seribu juta ke tak terhitung. Tak terhitung ke banyak. Banyak yang terus bertambah, seperti pancuran air yang tak henti henti jumlah kepala anak anak tanpa badan. Badanku lemas, keringat dingin membasahi sekujur tubuh. Tubuh gemetar. Gemetar seakan gigil dari maut  yang tak kau percaya hadirnya.

“Hitung yang benar! Jangan kelewatan !  Semua mayat ini sudah ada pembelinya. Untuk rumah sakit ? Untuk Mahasiswa Kedokteran ? Untuk Donor organ ?  Untuk tumbal ?  Untuk  Penjagalan ? Untuk Kolektor? Dan lain lain. Jadi,  hitung yang benar. Juga untuk bonus, jangan lupa per seratusnya dapat satu mayat. Kalau seribu berarti sepuluh. Kalau satu miliar Kau hitung sendiri berapa ? . Ingat !”.

Aku menghitung, semacam karnaval. Karnaval dari kengerian. Kengerian bukan dari dongeng. Dongeng tentang anak anak yang bersayap membawa senapan pergi ke medan perang. Perang  yang mengebiri impian mereka. Mereka tak penah dapat kesempatan untuk bermain. Bermain dengan maut ialah pilihan terpaksa. Terpaksa menjalani lakon kebrutalan. Kebrutalan bisnis lebih sadis dari perang.

“Jangan ngelamun! Hitung yang betul, berapa pasang kepala bayi? “.

“Ada tiga ratus ribu juragan “.

“ Perempuan bunting yang gosong berapa ?”.

“ Lima ratus ribu Juragan “.

“ Perempuan bunting yang melepuh?”.

“ Lebih banyak juragan “.

“ Lebih banyak? Lebih banyak  Berapa ?  Ini uang  bukan batu !”.

“ Ada tujuh ratus lima puluh , Juragan “.

“ Kurang,  mestinya tujuh ratus lima puluh dua. Pasti ada yang mencuri ! Cepat laporkan polisi, sebelum pencurinya lari keluar kota. Cepat!  Bilang sama Polisinya saya yang nyuruh.  Cepat !”.

Aku yang kambing segera ke kantor polisi. Polisi yang berjaga  ada empat segera meloncat. Meloncat seperti bajing loncat. Loncat bagai kilat dasyat. Dasyat kabar kehilangan mayat Juragan melebihi koruptor yang lari keluar negeri. Luar negeri semua jalannya sudah di blokade. Di blokade ketat laksana teroris yang bakal lolos. Lolos juga akhirnya Si pencuri. Pencuri tak ternama tapi bikin pecah kepala Juragan. Juragan kecolongan dari pesaing Bisnisman lain. Bisnisman lain yang seringkali memang berbuat curang untuk menjegal atau mencurangi tiap aktifitas bisnis Juragan dalam bentuk apapun. Apapun kecurangan itu sering kali dilawan Juragan dengan tindakan tindakan yang kadang lebih sadis, lebih gila, lebih brutal, lebih ngawur dan lebih tak masuk akal. Tak masuk akal memang kalau Juragan hanya diam membisu. Membisu sama dengan mati, begitu prinsipnya. Prinsip yang dikutuk-kan oleh Bapaknya. Bapaknya yang juga sama kejam. Kejam ialah pilihan yang tak bisa diingkari dalam bisnis. Bisnis apapun namanya.

“Sekarang coba kamu hitung berapa jumlah pasang mata yang lepas dari kelopaknya?’.

“ Ada dua ribu tiga ratus pasang, Juragan “.

“Bagus, itu sesuai Invoice. Nah, kalau anak anak yang badannya hancur ada berapa?”.

“ A-anakk-aaanakkk yang baaadannnya haancur?? Aaaada buuuuuuanyak, Juragan”.

“Buuuuanyak beerapa?! Hitung!! Cepat!!”.

“ Buuuuuuanyak, juuuuraaagan “.

“Hitunggggg!!”.

“Buuuuuuuanyakkkk”.

“Hitungggggggg”.

“Buanyaaakkkkk”.

Aku menghitung. Menghitung yang kabur. Kabur pandangan ngawur. Ngawur menyosongsong ratusan,  bahkan ribuan, bahkan juga jutaan dari mayat anak anak yang hancur badannya. Badan yang mungkin tertimpah granat liar atau juga ranjau tiba tiba yang tumbuh bersama rumputan. Rumputan yang tak pernah dapat ditebak di mana ujung rumahnya. Rumahnya yang juga meledak seketika karena rudal nyasar. Nyasar seperti mulut para politisi. Politisi yang  ngelindur disiang bolong. Bolong juga hatiku mengidap racun nafsu. Nafsu untuk terus mengibarkan bendera bendera kematian. Kematian abstrak seperti pisang goreng masuk wajan penggorengan. Penggorengan nasib anak anak celaka yang tak mengenyam mimpi indah. Indah yang banyak diceritakan mengusung kedamaian. Kedamaian dimana banyak dibicarakan. Dibicarakan sambil melinting kumis dan membelai rambutnya yang klimis. Klimis darah wajah anak anak yang badannya hancur. Hancur purnama di bulan Nopember. Nopember berdarah yang mengingatkan kita akan lolongan Anjing. Anjing anjing berliur dilepas di medan perang. Perang yang tak menyisahkan mata air bening dalam air mata. Air mata sejuta bangsa tumpah sia sia. Sia sia kebudayaan yang digembar gemborkan. Gemborkan demokrasi. Demokrasi hanya dongeng sebelum tidur. Sebelum tidur angankan wajah wajah anak anak yang berseri seri menyongsong harapan. Harapan akan hangatnya Matahari. Matahari yang adil menyiramkan cahaya. Cahaya rohani berteduh. Berteduh di bawah bayang bayang masa depan. Masa depan gemilang. Gemilang dari segala yang hilang. Hilang …… 

“Berapa?????????!!!!!!!!”.

“Buuuuuannnnyakkkkk”.

“Beeeeeraaapaaaaaa?????!!!!!!!”.

Aku tercekik. Tercekik laksana kambing. Kambing yang disembelih. Disembelih sadis hingga meringis kelojotan. Kelojotan serasa Ayan. Ayan yang meledakkan gemuruh darah. Darah setetes tetes habis. Habis keberanianku. Keberanianku menentang keadaan. Keadaan mati yang sedetik detik. Detik yang berpacu dalam sirkuit tikungan ber - api .  Api yang membakar seisi sukmaku. Sukmaku loyo serasa tikus terjerembab dalam got. Got got peradaban panjang yang ditelikung oleh kelahiran manusia sendiri. Sendiri rasanya seperti menunggu mati yang tinggal sedetik. Sedetik lagi sisa nafasku terhirup. Terhirup amis darah menyentak hidungku. Hidungku tersadar dari mabuk berkepanjangan……….

“Hitunggggggggggggg!!!!!!!!”.

“Tidakkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!”.


Empat lelaki berbadan gempal menyergapku. Menyergapku sampai aku kaku – macam patung. Patung yang tak laku dijual. Dijual berapapun tak kan laku karena serupa moyet bersepatu. Sepatu dengan sol batu menyeruduk wajahku. Wajahku berantakan kayak kepala babi. Babi betul orang orang suka menjilat. Menjilat nasibnya yang di kerubungi lalat. Lalat lalat yang juga mengerubungi mulut Juragan yang bau tai’. Tai’ kuda  najis. Najis bila aku harus menyerahkan nurani pada para penjilat. Penjilat yang dikutuk para Nabi. Nabi siapa pun . Siapapun saja yang masih percaya akan kehidupan abadi setelah mati. Mati nurani ialah Juragan,  sebuah kenyataan. Kenyataan dari ribuan orang yang tersesat. Tersesat jalan atau tersesat malam. Malam terkabung  bertabur pecahan kaca. Pecahan kaca yang tak memberiku ruang bernafas. Bernafas di atas burung burung Nazar. Burung burung Nazar abadi membawa kabar kematian. Kematian yang merupakan lahan bisnisnya. Bisnisnya yang terus mengalir. Mengalir tak habis habisnya seperti ada mata air yang menyemburkannya. Menyemburkannya penuh kesegaran. Kesegaran mayat mayat lokal yang diharapkan, yang tentu jauh lebih mahal, lebih fresh, lebih segar, lebih cocok untuk export. Exportnya makin melambung. Melambung  perlahan, seperti kapas yang terbawa angin, terus terbang kelangit. Ke langit yang melawan gravitasi. Gravitasi kesadaran tak pernah membebaskanku. Membebaskanku dari penjagal anak anak dan istriku.  Istriku yang kehilangan kehormatannya. Kehormatannya lenyap menjelang belia . Belia nama anak perempuanku  yang dibantai di senja hari. Senja hari yang tragis. Tragis saat aku cemas takut dipecat. Dipecat karena tak pandai menjaga kehormatannya. Kehormatannya makin tegar saat memecat pegawainya. Pegawainya sudah ribuan lebih yang diputuskan nasibnya. Nasibnya tak lebih dari monyet. Monyet sirkus yang  jadi tontonan di pusat kota mayat. Mayat jadi sekedar obrolan. Obrolan di meja marmer berkilauan. Berkilauan di dalam cermin kering. Kering sukmaku seperti layang layang yang tak punya angin.  Angin angin-kah rumahmu. Rumahmu yang berpintu sembilan. Sembilan laut tempat mayatku terbuang. Terbuang bersama petir menyambar kepalaku. Kepalaku pecah, menggelinding, masuk got, hanyut lewat sungai kotor, masuk muara kotor, tersungkur ke laut kotor, jadi bangkai, membusuk, rongsokan , atau juga aku ikut terlelang? 


Yogya – Banyuwangi 2008






Bedah Buku Puisi 23 Basa Using

Banyuwangi (Warta Blambangan) Ada yang tidak biasa di omah kopi Telemung Kecamatan Kalipuro, Ahad (29/03/2023), beberapa sastrawan budayawan berkumpul sambil ngopi dan bedah buku Puisi 23 Basa Using karya Jaenuri, owner lembaga pendidikan Elit Rogojampi 


Beberapa puisi dibaca oleh para master, seperti Nurul Ludfia Rochmah yang kemudian dibahas oleh M. oktavianus Masheka setelah puisi tersebut diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.
"puisi ini dengan diksi sederhana yang mudah untuk di mengerti" kata Okta.
Dalam bedah puisi yang di moderatori Syafaat dari Komunitas Lentera Sastra ini sangat menarik, karena dibahas oleh para ahlinya.
Fatah Yasin Nor juga memberikan ulasan terhadap karya Jaenuri ini, dan berharap buku ini juga menjadi referensi pada siswa.

Ketua Killing Osing Aekanu Hariyono juga menyampaikan perlunya memperbanyak buku-buku sastra osing, agar para siswa memahami kekuatan Sastra osing di Banyuwangi.

Ludfia dari Komunitas Lentera Sastra yang juga seorang pendidik, ingin melakukan survei terhadap penggunaan bahasa osing di kalangan remaja, hal ini juga diamini oleh Nur Khofifah.
Lebih lanjut tentang isi buku, Mbak Vieva memberikan ulasan tentang buku, tentang penggunaan dalam penulisan yang beberapa kata yang kurang pas.

Jaenuri merasa bangga karena buku yang ditulis dibahas oleh orang orang hebat dibidang sastra di Kabupaten Banyuwangi. (syaf)

Sukses Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada Liga Puisi Anak Merah Putih.

Banyuwangi (Warta Blambangan) Penampilan Nur Khofifah bersama para Juri Liga Puusi 3 Anak Merah Putih, Sabtu (28/10/2023) bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, mampu membawa aura magis peserta Workshop Pelatihan menulis dan membaca puisi di halaman Jawa Pos Radar Banyuwangi.
 Dalam pengumuman yang dilakukan panitia, insan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi mampu menorehkan prestasi  seperti Nuhbatul Fakhiroh Maulidia, guru MTsN 1 Banyuwangi sebagai juara kedua dan Nurul Ludfia Rochmah pada juara harapan kedua untuk para guru, sedangkan pada jenjang SMA/MA/SMK, Naila Alivia Nurhidayanti, dari MAN 1 Banyuwangi menempati juara kedua, sedangkan Ghannina Najman Nufus, dari MAN 3 Banyuwangi yang juga Hafidzoh 11 Juz menempati juara harapan kedua.
M. Oktavianus Masheka memberikan apresiasi tersendiri terhadap Ghanina yang menghafal puisi yang di bacanya dan sangat panjang.


Sementara ditingkat SD dan MI, siswa MIN 1 Banyuwangi Aura Latisha Ramadhani menempati juara kedua dan Avilla Fikrotus Putri Y dari MI Islamiyah Rogojampi menempati peringkat harapan kedua, yang menarik dari kedua siswa MI ini, dibina oleh satu orang pembina yang sama.
Selain itu dua madrasah mendapatkan penghargaan sebagai lembaga pengirim peserta terbanyak, yakni MTsN 12 Banyuwangi dan MIN 1 Banyuwangi yang mendapat penghargaan dan diserahkan langsung oleh Samsudin Adlawi, Direktur Radar Banyuwangi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr Moh Amak Burhanudin memberikan apresiasi terhadap para pemenang, dan berharap menjadi pelecut untuk terus meningkatkan prestasi.
"Pada peringatan HAB ke 78 akan kita adakan kegiatan serupa" kata Amak.
Ketua Komunitas Lentera Sastra Syafaat menyampaikan bahwa sebagian dari peserta yang kurang dalam ekspresi, terjebak dengan gaya baca puisi lama yang dibaca panjang panjang.
Hal serupa juga disampaikan Bang Ockta dalam sarasehan membaca puisi,
"banyak guru yang ketika mengajarkan baca puisi kepada siswanya, hanya untuk menirukan saja, sehingga penghayatan kurang" katanya     

PPPK Kemenag Kab. Banyuwangi Jadi Pembina Apel di BDK Surabaya

Surabaya (Warta Blambangan) Orientasi bagi Pegawai pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang diadakan di balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya hari ini, Jumat (27/140/2023)  terasa istimewa. Hal ini dikarenakan Pembina apel berasal dari peserta orientasi dari PPPK kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, dan satu-satunya Pembina apel selama pelaksanaan orientasi yang mewakili kaum perempuan. 


Dalilatus Saadah, Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Gambiran Kabupaten Banyuwangi dipercaya menjadi Pembina apel pagi orientasi PPPK, Dalil yang sebelumnya pernah menjabat di beberapa Kepala Madrasah tersebut tidak canggung ketika ditunjuk sebagai pembina apel. Pengalaman kepemimpinannya sebagai Kepala Madrasah membuat dirinya sangat percaya diri untuk menyampaikan arahan yang rutin dilakukan setiap pagi bagi peserta orientasi.

“sesuatu yang biasa untuk memberikan motivasi kepada teman-teman sesame PPPK” kata dalil.

Keberadaan peserta yang dipercaya untuk menjadi Pembina apel ini di respon positif oleh Kepala Kantor kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. Moh. Amak Burhanudin, dan berharap menjadi motivasi kepada yang lain, terlebih yang mempunyai potensi dan pengalaman kepemimpinan, baik di instansi formal maupun non formal.


Pelaksanaan orientasi PPPK yang dilakukan di BDK Surabaya belum menyeluruh untuk semua PPPK yang ada di Kabupaten Banyuwangi, Kepala Kantor kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi berharap pelaksanaan orientasi PPPK juga dapat dilaksanakan di Kankemenag Kab Banyuwangi, agar dapat segera tuntas.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Husnul  Maram yang juga hadir di BDK Surabaya menyampaikan apressiasi kepada Dalil, beliau menyampaikan bahwa tidak ada halangan menurut undang-undang bagi seorang perempuan menjadi seorang pemimpin, termasuk PPPK yang juga mempunyai peluang menjadi pimpinan pada satker pada kiementerian Agama.(Dll)

Kemenag Kab. Banyuwangi di Liga Puisi 3 Anak Merah Putih

 Banyuwangi (Warta Blambangan) Membacakan puisi karya Erman Zaruddin Usman, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bintan dengan judul Kalam Harapan Sang Ayah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. Moh. Amak Burhanudin sebagai peserta kehormatandi hari kelima Liga Puisi yang dilaksanakan di Radar Banyuwangi, Kamis (26/10/2023). Amak hadir bersama Ketua komunitas Lentera Sastra Syafaat dan beberapa Kepala Madrasah yang menjadi peserta Liga Puisi 3 Anak Merah Putih. 


Kehadiran Amak memberikan motivasi kepada para guru untuk mengikuti kegiatan bergengsi tersebut. Tercatat 3 Kepala MTsN masing-masing Sri Endah Zulaikhatul Kharimah Kepala MTsN 8 Banyuwangi, Sugeng Mariyono Kepala MTsN 10 Banyuwangi dan Herny Nilawaty Kepala MTsN 12 Banyuwangi yang mengikuti sebagai peserta liga.

“pada HAB ke 78 Kementerian Agama tahun ini juga akan kita adakah lomba serupa bagi insan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi” kata Amak.

Sementara itu Erman Zaruddin Usman yang mengikuti kegiatan melalui saluranYoutube memberikan komentar menarik terhadap penampilan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi tersebut.

“Alhamdulillah terima kasih Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi atas pilihannya membaca puisi saya, semoga menjadi inspirasi jajaran kemenag untuk terus berkarya dan Berjaya” kata Erman.

Dalam kesempatan tersebut Amak dan beberapa ASN dari Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi berkesempatan diskusi dengan para juri seperti Fatah Yasin Nor dari DKB Banyuwangi, Moh. Iqbal Dosen Institut Agama Islam Ibrahimy Genteng dan Wayan Jengki Sunarta dari Pulau Bali.hal ini dilakukan karena sangat langka bisa bertemu dengan para sastrawan ternama.

Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudi Adlawi menyampaikan banyak terima kasih atas support dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, sehingga banyak insan madrasah yang menjadi peserta Liga Puisi, baik tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah hingga para guru madrasah.

Kang Sam yang juga alumni MTsN Banyuwangi II tersebut menyampaikan bahwa dirinya Welcome untuk ikut memajukan budaya membaca dan menulis puisi bagi insan Kementerian Agama, karenanya Kang Sam mengundang para Guru maupun ASN Kementerian Agama untuk ikut Workshop Menulis dan membaca puisi yang dilaksanakan pada penutupan acara sabtu mendatang.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger