Pages

Diklat Jurnalistik MTsN 4 Banyuwangi


 Diklat Jurnalistik MTsN 4 Banyuwangi


Sebagai madrasah riset dan madrasah literasi, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 4 Banyuwangi mengadakan Pendidikan dan Pelatihan Jurnalistik bagi siswa sejak Senin (15/11/2021) hingga Selesai (16/11/2021) di aula MTsN 4 Banyuwangi di Sumberberas.

Panitia pelaksana kegiatan yang juga Kepala Perpustakaan Lulu Anwariyah menyampaikan bahwa Tahun ini MTsN 4 Banyuwangi merupakan satu satunya tahun ini yang menyelenggarakan Diklat jurnalistik.

Kepala MTsN 4 Banyuwangi Hadi Suwito ketika membuka Diklat dengan tema "Membangun insan liyerat dalam berkarya" menyampaikan bahwa dengan adanya pelatihan dengan narasumber Yasin Alibi, pranata Humas pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dan Syafaat diharapkan adanya peningkatan kemampuan siswa dibidang Literasi. 

"Duta perpustakaan dibebtuk bukan sebagai pelayan perpustakaan, tetapi diharapkan menjadi penulis yang bercirikan keagamaan' ungkapnya.

Lebih lanjut Hadi Suwito menyampaikan bahwa dengan adanya Karya Tulis maha buah pikiran kita akan dibaca oleh generasi selanjutnya, yang dalam hal ini adalah adik kelas dari yang saat ini mengikuti Diklat.

Dalam paparannya, kedua narasumber yang sudah berpengalaman di bidangnya tersebut menyampaikan berbagai trik penulisan berita hingga penulisan essai populer.

Sebagaimana yang disampaikan Syafaat yang juga ketua Terminal Literasi Pegawai Kementerian Agama (Lentera Sastra) bahwa pelatihan penulisan ini akan terus diadakan pendampingan secara online hingga peserta dapat menerbitkan buku ber ISBN.(syafaat)

Bimtek Penyuluh Produk Halal

 Bimtek Penyuluh Produk Halal



Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi kembali mengadakan bimbingan teknis Sertifikasi halal kepada Penyuluh bidang produk halal, Kamis (11/12021) di aula Kantor Urusan Agama Kecamatan Rogojampi.

Penyelenggara zakat dan wakaf Kemenag Kab Banyuwangi Imam Muklis menyampaikan bahwa penguasaan materi tentang bagaimana yang dimaksud dengan produk halal dan siapa penanggung jawabnya sangat penting sebagai jaminan masyarakat bahwa produk yang di konsumsi, terutama yang bersertifikat halal benar benar halal, karenanya disetiap produsen harus ada penyelia halal dengan persyaratan harus beragama Islam. 

Lebih lanjut Imam Muklis menyampaikan bahwa Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan harus benar benar mampu melakukan pendampingan bagi pelaku usaha yang mengajukan sertifikat halal, terutama UMKM. "para pelaku usaha UMKM banyak yang gagap teknologi dan usaha perorangan yang butuh pendampingan dan babtuan dalam pengurusan produk halal" ungkapnya.

Syafaat dari seksi Bimas Islam memberikan materi tentang bagaimana mengajukan sertifikat halal secara online. Dalam Bimtek tersebut bukan hanya praktek pengajuan sertifikat halal dan berkas-berkas yang dibutuhkan dan dibunggah saja, namun juga tentang bagaimana mengajukan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) secara online dan pengajian Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui oss.go.id.

"Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan merupakan garda terdepan dalam memberikan informasi tentang sertifikasi halal bagi masyarakat, karenanya Penyuluh harus faham tentang mekanisme pengajuan sertifikat halal melalui BPJH Kementerian Agama" ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa pada tahun 2021 ini sudah ada 45 pelaku usaha UMKM yang mengajukan sertifikat halal secara gratis (sehati) dari Kabupaten Banyuwangi, Bimtek yang dilakukan bagi penyuluh dimaksudkan agar jika ada yang mengajukan sertifikat halal secara mandiri dapat didampingi oleh penyuluh agama Islam pada KUA Kecamatan, dan pada tahun 2022 pengajuan sehati lebih maksimal (syafaat)

Sosialisasi Sertifikat Halal QFish Muncar.

 Sosialisasi Sertifikat Halal

QFish Muncar.


Bertempat di aula KUA Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi, Sabtu


(06/11/2021), Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi mengadakan sosialisasi sertifikat halal kepada Pelaku Usaha UMKM diwilayah Kecamatan Muncar dan sekitarnya.

plt. Penyelenggara Syariah Imam Muklis menyampaikan bahwa saat ini sertifikat halal menjadi kewenangan Kementerian Agama, Yakni Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama, dan disetiap Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan ada Penyuluh Agama Islam yang salah satu tugasnya adalah penyuluhan produk halal pada masyarakat. 


"Ada program Sehati, atau Sertifikat Halal Gratis yang difasilitasi ada juga yang mandiri dan berbayar, UMKM diharapkan bisa mengakses sehati" ungkap Imam Muklis.

Sementara itu Syafaat dari Seksi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama menyampaikan tentang tatacara pendaftaran sertifikat halal melalui online, beserta tatacara pengisian berkas yang harus diunggah sebagai lampiran pengajuan.

Dalam kesempatan tersebut sebagian besar peserta berasal dari komunitas Star Up QFish Muncar, yakni komunitas pelaku usaha UMKM yang hasil usahanya berbahan baku dari hasil laut. "Kita lebih mudah membersihkan sosialisasi dan pendampingan kepada mereka, karena ada komunitasys, terlebih beberapa mahasiswa dan pemuda bergabung didalamnya" ungkap Syafaat.

Lebih lanjut disampaikan oleh staf Bimas ini bahwa dalam pendampingan tersebut bukan hanya tentang bagaimana mendaftar sertifikat halal secara online, tetapi juga bagaimana cara pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) yang juga dilakukan secara online.

Para pelaku usaha dari UMKM diwilayah pelabuhan terbesar di Pulau Jawa tersebut sangat antusias mengikuti pendampingan, hal ini dengan mengingat pentingnya sertifikat halal untuk pemasaran produk mereka yang harus bersaing dengan pengusaha besar, seperti yang disampaikan Julfia Rasya Putri, Mahasiswa semester lima Fakultas Agrobisnis yang juga memulai usahanya, gadis cantik berkacamata ini menyampaikan bahwa dirinya dan para pelaku usaha UMKM yang bergabung dalam QFish Muncar yang sebagian besar anggotanya para emak-emak ini sangat berterima kasih kepada Kementerian Agama kabupaten Banyuwangi yang dengan sabar memberikan pendampingan. "Kita akan kesulitan jika tidak ada pendampingan seperti ini, terlebih pelaku usaha perorangan ini banyak yang gaptek dan sebagian besar sudah emak emak yang juga harus mengurus rumah tangga" ungkapnya.

Lebih lanjut Syafaat menyampaikan bahwa para pelaku usaha UMKM memang disarankan untuk membentuk kelompok agar lebih mudah dalam komunikasi bdan meningkatkan kualitas produk.

"Dalam pengurusan sertifikat halal dan beberapa persyaratan administrasi lainnya, mereka dapat saling membantu" ungkapnya.

QFish Muncar merupakan wadah bagi pelaku usaha perorangan dari warga yang melakukan usaha rumahan dari bahan baku hasil laut, meskipun demikian produk mereka telah diperdagangkan secara online hingga ke manca negara, karenanya sertifikat halal ini sangat penting untuk pengembangan usaha mereka.

Kakanwil Kemenag Prov. Jatim Apresiasi Juara Robotik Internasional.

 Kakanwil Kemenag Prov. Jatim Apresiasi Juara Robotik Internasional.


Tim Robotik MAN 1 Banyuwangi yang menjadi juara Robotik yang diadakan di


Hongkong mendapatkan apresiasi dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Husnul Maram, Sabtu (30/10/2021). Apresiasi tersebut disampaikan Husnul Maram ketika mengunjungi stand Pameran Kanwil Kemenag Prop Jawa Timur dalam Ajang Pameran Hari Aksara Internasional Provinsi Jawa Timur yang diselenggarakan di Hotel El Royal Kabupaten Banyuwangi.

Didampingi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi H. Slamet, Kakanwil berharap kemampuan riset dibidang robotik terus ditingkatkan. "Kita tidak dapat lepas dari perkembangan tekhnologi, karenanya riset dibidang robotik perlu kita tingkatkan" ungkapnya.

Ketua Team Robotik MAN 1 Banyuwangi Muhsinul Wafa menyampaikan bahwa dia bersama teamnya yakni Hendika Putra Anugerah, Dinda Rima Rachcita, dan meyriza Widya pranata pada awalnya mengikuti seleksi ditingkat Nasional secara virtual, dan setelah masuk final Nasional, maka diadu ditingkat Internasional. "Semua dilaksanakan secara virtual" ungkapnya.

Sementara Itu Kankemenag Kabupaten Banyuwangi H. Slamet menyampaikan bahwa selain menang pada lomba Robotik yang dilaksanakan di Hongkong secara virtual tersebut, team robotik MAN 1 Banyuwangi juga menang dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh salah satu negara di Afrika."Pandemi covid-19 memberikan dampak positif bagi siswa, karena banyak kompetisi yang dilaksanakan secara virtual" ungkapnya. (Syaf)

Lentera Sastra di Pameran Sehari Bersama Dikmas

 Lentera Sastra di Pameran Sehari Bersama Dikmas



Terminal Literasi Pegawai Kementerian Agama (Lentera Sastra) membuka stand khusus dalam memperingati Hari Aksara Internasional (HAI) Kabupaten Banyuwangi yang dilaksanakan di parkir timur Hotel El Royal Banyuwangi Yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi sejak Jumat (29/10) hingga Sabtu (30/10).

Dalam acara yang juga diikuti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) se-kabupaten Banyuwangi dengan tema Sehari bersama Dikmas tersebut Lentera Sastra memamerkan buku buku karya siswa madrasah, guru dan ASN Kemenag Kab Banyuwangi. "Lentera Sastra menupakan komunitas literasi bagi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang kehadirannya bukan hanya untuk warga Kementerian Agama saja, namun juga melakukan pendampingan literasi bagi warga belajar PKMM" ungkap Syafaat selaku Ketua Lentera Sastra.

Beberapa PKBM antusias


dengan kehadiran Lentera Sastra dan sangat berterima kasih karena juga sangat membantu warga belajar PKBM terutama Paket C yang sebagian besar merupakan bekas anak putus sekolah dan mereka yang sudah berkeluarga. "Kami yakin bahwa WB dari PKBM akan menjadi penulis handal yang tidak kalah dengan mereka yang belajar disekolah formal" ungkap Sunaryo, Direktur PKBM At Taubah yang juga berprofesi sebagai pengacara.

Begitu juga dengan yang disampaikan Matifatil Munawaroh, Direktur PKBM Cahaya Ilmu Kecamatan Muncar,  "WB kami sebagian besar adalah buruh psbrik dan pelaku UMKM, mereka sangat terbantu dengan pelatihan literasi digital yang juga dipandu oleh pengurus Lentera Sastra' ungkapnya.

Lontar Yusuf

 Fatah Yasin Noor

*Lontar Yusuf* 


Pagi tadi aku sedih

Setelah menyimak seorang pakar

Mengulik Lontar Yusuf

Yang ternyata penuh narasi

Masih menjadi misteri

Karena suka samadi

Yang tak sekadar narasi

Tapi mengandung kearifan hidup

Nenek moyang kita di dekat sini

Disini, di tanah Blambangan ini

Menyebut Sang Kekasih 

Lewat tembang yang merayap

Mengetuk hati insani 


Hidup ratusan tahun yang lalu

Sayup-sayup terdengar lagi walau

Tidak asli lagi

Bahasanya tak kita kenali 

Tapi rasanya tak tertandingi 


Di latar belakang itu aku tahu

Ada tangan kuasa yang mengubah

Perlahan berubah sekaligus

tak berubah

Ketika nenekku menulis surat

Dengan hurup Pegon

Di selembar kertas buram

Mengasapi relung hati

Tak diajarkan di sekolah lagi

Tak disadari berganti hurup latin  

Tiba-tiba bicara revolusi industri

Jauh lebih kuat dari

ketakutanku pada hantu-hantu 


Rabu Pungkasan, 6 Oktober 2021

29 Safar 1443 H

KH. Ali Mansur, Kepala Kantor Kemenag Kab. Banyuwangi Penggubah Shalawat Badar

 

KH. Ali Mansur, Kepala Kantor Kemenag Kab. Banyuwangi Penggubah Shalawat Badar

Oleh : Syafaat


Raden Muchamad (RM) Ali Mansur, lahir di Jember, Jawa Timut pada 4 Ramadhan 1340 H atau 23 Maret 1921 M. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Manshur bin KH. M. Shiddiq Jember dengan Shofiyah binti KH. Basyar dari Tuban, KH. Ali bin Manshur termasuk dalam keluarga besar as-Shiddiqi. Kakeknya yang bernama KH. M. Shiddiq (Jember), adalah seorang ulama yang menurunkan ulama-ulama besar seperti KH. A. QusyairiKH. Ahmad ShiddiqKH. Mahfuzh Shiddiq, KH. A. Hamid Wijaya, KH. Abdul Hamid (Mbah Hamid Pasuruan), KH. Yusuf Muhammad, dan lain sebagainya. Beliau masih keturunan Mbah Sambu Lasem (Pangeran sayyid M. Syihabuddin Digdoningrat) bin sayyid M. Hasyim bin Sayyid Abdurrahman Basyaiban (Sultan Mangkunegara III). Dari jalur kakek, nasab Kiai Ali Manshur menyambung ke Pangeran Sayyid M Shihabuddin Digdoningrat atau Mbah Sambu Lasem bin Sayyid M Hasyim bin Sayyid Abdurrahman Basyaiban atau Sultan Mangkunegara III. Karena itulah KH Abruddahman Wahid alias Gus Dur menyebut Kiai Ali Manshur dengan habib, panggilan khusus untuk keturunan Rasulullah

Masa kecil KH M. Ali Mansur dihabiskan di Tuban. Setelah tamat belajar di MI Makam Agung Tuban, beliau mondok di beberapa pesantren besar, antara Pesantren Termas Pacitan,Pesantren di Lasem (asuhan Mbah Makshum), lalu Pesantren Lirboyo Kediri hingga Pesantren Tebuireng Jombang. Di Lirboyo ini, beliau kelihatan bakatnya dalam penguasaan ilmu ‘arudh dan qowafi (dasar-dasar ilmu membuat syair berbahasa arab).

Setelah menamatkan pendidikannya di beberapa pesantren dan AMS (setingkat SMA), KH. Ali mansur pada tahun 1945 nmenjadi guru Madrasah Salafiah,kemudian menjadi anggota Dewan Pimpinan Pemuda, Wakil Ketua GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), Kepala Staf Umum Barisan Sabil Komandan DPM Instruksi Pertahanan Rakyat6, anggota DPRDS Kabupaten Tuban dan pembentuk pasukan mujahidin, dan menjadi kepala staf penerangan MPHS Jawa Timur

Mengutip dari konstituante.net, sejak tahun 1950 beliat menjadi Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Kementerian Agama, beberapa jabatan yang pernah di embannya di Jawa Timur antara lain : menjadi klerk Kepala (Pemegang Kas) KAD Besuki, yang dijabatnya selama lenih kurang satu sahun, pada tahun 1951 sampai 1952 menjadi Propandis kl I Kantor Penerangan Agama Provinsi Jawa Timur.

Pada tahun 1952 hingga tahun 1954 beliau dipindahkan dan menjabat sebaga Kepala KUA ( Kantor Urusan Agama) di Kabupaten Sumba Provinsi nusa Tenggara. Beliau juga masih aktif di organisasi menjadi konsul NU Nusa Tenggara yang dijabat sejak tahun 1954 hingga tahun 1956. Di jajaran Kementerian Agama, pda kurun waktu tersebut beliau manjabat sebagai Kepala Bahagian Politik dan Aliran Agama pada Kantor Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara, kemudian pindah ke Provinsi Jawa timur dalam jabatan yang sama.

Sejak Tanggal 9 November 1956 bersama beberapa ulama seperti KH. As’ad Samsul Arifin dari Sukorejo Banyuputih Situbondo serta KH. Harun dari Tukangkayu Banyuwangi, beliau diangkat sebagai annggota konstutuante mewakili Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara yang dijabat hingga dibubarkannya Dewan konstituante oleh Presiden Soekarno pada tanggal 5 juli 1959. Dewan Konstituante hasil pemilu 1955 dilantik presiden Sukarno di Bandung, 10 November 1956 dengan tugas utama menyusun konstitusi baru bagi Republik Indonesia. Sebelumnya di Indonesia diberlakukan UUD 1945 (1945-1949), Konstitusi RIS 1949 (1949-1950), lalu UUD Sementara yang sejak 1950. Selama sidang Konstituante, hampir semua materi pokok sebenarnya berhasil diselesaikan melalui musyawarah. Semua kubu menyetujui bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bendera Merah Putih, Bahasa Nasional Indonesia, Lagu kebangsaan Indonesia Raya, Lembaga-Iembaga kenegaraan, Azas dasar hukum lain-lain. Namun, ketika membicarakan Dasar Negara (4 November 1959) perbedaan tajam muncul dalam tiga konfigurasi usulan ideologi : Islam, Pancasila, dan Sosial Ekonomi. Kubu Islam didukung Masyumi (112 suara), NU (91), PSII (16), Perti (7) dan 4 partai kecil dengan total 230 suara. Kubu Pancasila didukung PNI (116), PKI dan faksi Republik Proklamasi (80), Parkindo (16), Partai Katolik (10), PSI (10), IPKI (8) dan beberapa partai kecil lain, dengan total 273 suara. Sementara kubu Sosial Ekonomi yang ingin mengembangkan sosialisme hanya didukung Partai Buruh (5), Partai Murba (4), dan Acoma/ Angkatan Comunis Muda (1).

Setelah dibubarkannya konstituante, KH. Ali Mansur kembali masuk ke jajaran Kementerian Agama dan menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, yang saat itu berkantor di Masjid Baiturrahman Banyuwangi,hingga akhirnya pindah ke Jalan jaksa Agung Suprapto yang sekarang bagunannya telah di bongkar dan ditempati gedung KUA Kecamatan Banyuwangi.

Disamping menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. KH. Ali Mansur juga menjabat sebagai Ketua PCNU (Pimpinan Cabang nahdlatul Ulama) Banyuwangi, yang pada masanya pergolakan politik di ujung timur pulau jawa ini tak ubahnya sebagaimana perpolitikan di tanahair pada waktu itu, kekuatan PKI dengan ideologi komunisnya nyaris menguasai semua sendi sosial politik di masyarakat, begitu juga dengan seni dan Budaya.

Dalam berbagai rapat umum yang dilakukan PKI selalu menggunakan seni dan budaya lokal serta lagu-lagu yang sudah merakyat, seperti gandrung dan lain-lain, karenanya nahdlatul Ulama pada saat itu juga sepakat menggunakan seni tari berupa seni Hadrah Kuntulan untuk menarik simpati masyarakat di Kabupaten Banyuwangi, terutama di acara acara pengajian dan lain-lain. Penggunaan seni hadrah kuntuan ini tadinya juga terjadi tari8k ulur dikalangan ulama Banyuwangi, hal ini dikarnakan adanya perempuan yang ikut menari dalam atraksi tersebut yang dianggap dapat mengundang maksiat, tetapi dengan berbagai pertimbangan maka tari kuntulan ini dapat diterima.  

  Pada tahun 60-an merupakan masa gegap gempita perpolitikan di Indonesia, pergolakan politik ditingkat atas tersebut juga berdampak pada politik di Kabupaten Banyuwagi, perbedaan ideologi politik antara NU dan Pki pada akhirnya juga menjadi akar persaingan yang ketat, kedua belah kubu menggunakan berbagai cara untuk mempengaruhi massa, begitupun dengan penggunaan seni dan budaya.

Partai komunis Indonesia menggunakan lagu genjer genjer yang digubah oleh Muhammad Arif yang juga pencipta lagu dari Banyuwangi, lagu yang diciptakan pada masa penjajahan jepang tersebut sedikit diubah lirikknya yang disesuaikan dengan kepentingan mereka, sehingga pada masa itu lagu genjer genjer identik dengan Paartai Komunis.

Kaum santri (modernis maupun tradisionalis) hakekatnya memang memiliki tujuan bersama pada otentisitas Islam, meskipun dengan Era rejim Nasasom, posisi politik PKI berada di atas angin, baik akibat jumlah pendukungnya yang terus meningkat, maupun karena trend dukungan penguasa yang juga membesar. Namun realitas itu ternyata tidak meruntuhkan, tetapi sebaliknya justru memperkuat, mentalitas kaum Santri. Bahkan, berbekal pentahbisan dari para ulama habaib untuk menjadikan Shalawat Badar sebagai sarana pembangun militansi kaum

Era rejim Nasasom, posisi politik PKI berada di atas angin, baik akibat jumlah pendukungnya yang terus meningkat, maupun karena trend dukungan penguasa yang juga membesar. Namun realitas itu ternyata tidak meruntuhkan, tetapi sebaliknya justru memperkuat, mentalitas kaum Santri. Bahkan, berbekal pentahbisan dari para ulama habaib untuk menjadikan Shalawat Badar sebagai sarana pembangun militansi kaum Santri, hasilnya adalah : kepercayaan diri kaum Santri langsung terakumulasi dalam menghadapi berbagai agitasi dari simpatisan PKI.

Dalam pentas politik nasional PKI sebenarnya sering melontarkan propaganda sebagai tidak anti agama, bersahabat, dan menghormati kebebasan beragama. Mereka hanya membela rakyat untuk melawan kapitalisme – imperialisme. Untuk membuktikan klaim ini PKI bahkan melibatkan beberapa tokoh Islam dalam organisasi, seperti K.H. Misbah dan K.H. Ahmad Dasuki Siroj. Namun, terutama pada level lokal nyatanya PKI melalui berbagai underbownya tetap memusuhi agama di banyak lini, seperti: (1). Lekra melakukan penghinaan agama. Mereka melabeli Santri dengan nuansa menghina, sebagai: Kaum Sarungan atau Kaum Bancik. Bancik adalah batu berjajar untuk pijakan dari tempat wudlu ke masjid atau ke gotakan (kamar) Santri di pesantren. Lekra berhasil menguasai berbagai kesenian rakyat, seperti Ludruk, Ketoprak, Reyog dan lain-lain. Badan Koordinasi Ketoprak Seluruh Indonesia (Bakoksi) yang berafiliasi ke Lekra, berkeliling memainkan lakon menghina agama dan tokoh agama, seperti: Matine Gusti Allah: Matinya Tuhan”, “Gusti Allah Manten: Tuhan Kawin”, Malaikat Kimpol : Malaikat Bersenggama”, Gusti Allah ngunduh Mantu : Tuhan Menjemput Menantu”. (2). Pemuda Rakyat dan Gerwani melakukan kekerasan terhadap tokoh-tokoh agama, seperti banyak terjadi di Jawa Timur. Pesantren Lirboyo Kediri misalnya, selalu dalam tekanan penduduk Lirboyo yang banyak menjadi pendudukung PKI. (3). Barisan Tani Indonesia (BTI) melakukan penyerobotan tanah. Kelambanan pemerintah dalam melaksanakan UU Pokok Agraria (UUPA) yang sudah disahkan tahun 1960, dimanfaatkan pendukung PKI untuk menjalankan agendanya sendiri guna mencari simpati massa. Mereka melakukan aksi sepihak dengan dalih melaksanakan landreform seperti diamanatkan UUPA, dengan sasaran utama tanah erfpacht (tanah milik negara), tanah desa, dan tanah milik tuan tanah yang tinggal di luar daerah tersebut (absentee landlord).

Dikisahkan dalam berbagai media bahwa Shalawat Badar tercipta untuk mengimbangi lagi Genjer-genjer yang digunakan PKI untuk menggalang massa, KH. Mas Mansur yang kebetulan berdinas sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, sebuah daerah yang kaya akan seni dan budaya, menginspirasi beliau yang juga genar dengan sastra, membuat karya seni sastra yang dapat digunakan bukan hanya mengumpulkan massa, tetapi menjadi penyemangat dalam perjuangan. Beliau teringat tentang alunan Shalawat Al barjanzi yang kelahirannya juga sebagai penyemangat umat Islam dalam menghadapi perang salib. Maka Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi itu terinspirasi dengan semangat Mujahid Badar yang dengan jumlah yang tidak seimbang, tetapi dapat mengalahkan prajurit kafir Quraish.

Pada malam hari KH Ali Mansur bermimpi melihat para prajurit bersorban hijau yang diyakini setelah ditanyakan kepada Habib Hadi Al-Haddar sebagai prajurit mujahid dalam perang badar, yakni perang terbesar yang pernah dialami umat Islam di zaman Nabi Muhammad SAW, karena dalam perang ini Mujahid Islam hanya berjumpah 300 orang, harus menghadapi Prajurit Kafir Quraish sejumlah 1.000 orang dengan persenjataan yang lebih lengkap, namun pada akhirnya kaum Muslimin dapat mengalahkannya. Pada malam ketika KH. Ali Mansur bermimpi tentang prajurit Muslim dalam perang Badar, Isteri Beliau juga bermimpi ditemui Rasulullah SAW.

Lebih mengherankan lagi pada keesokan harinya banyak tetangga di rumah kontrakan beliau di Kelurahan Tukangkayu yang datang sambil membawa beras, daging, dan barang barang lain sebagaimana barang yang dibawa ketika orang melakukan hajatan, para tetangga tersebut memasaknya dan merasa bahwa KH Ali Mansur akan kedatangan banyak tamu. Dan benar saja, menjelang matahari terbit, serombongan Habib berjubah putih hijai yang dipimpin Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi dari Kwitang Jakarta datang, Habib Ali merupakan habib yang sangat dihormati oleh keluarganya,  dan KH Ali Mansur bersyukur “Alhamdulillah”, dan setelah berbincang agak lama, terutama membahas issu politik saat itu, terutama perkembangan PKI yang terus ndodro (Istilah Bung Karno), Habib Ali Al-Habsyi menanyakan topik lainyang tanpa diduga oleh Kh Ali, “Ya Akhi, mana syair yang ente buat kemarin?” tanyanya

“tolong anda bacakan dan lagukan di hadapan kami” ungkat Habib Ali al_Habsyi kemudian, tentu saja Kyai Ali mansur kaget, sebab ternyata Habib Ali tahu apa yang dikerjakannya semalam, segera saja Kh Ali mansur Shiddiq mengambil kertas yang berisi catatan syair Shalawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya dihadapan rombongan Habib Ali al-Habsyi. Dan sejak itulah Shalawat Badar dijadikan sebagai syair menyemangat dalam menghadapi pengaruh komunis di Indonesia.

Peran KH (RM) Ali Mansur Shiddiq bukan hanya menggubah Shalawat badar saja, tetapi juga sangat berperan dalam kancah perpolitikan lokal di Kabupaten Banyuwangi, hal ini dilakukan dengan mengingat peran beliau yang bukan hanya menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, tetapi juga sebagai Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama yang saat itu juga merupakan Partai Polirtik.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger