Pages

HANYA BEBERAPA KURUN WAKTU

 HANYA BEBERAPA KURUN WAKTU

oleh : Faiz Abadi

Hanya tujuh hari

Kita singgahi dalam seminggu

Hanya siang dan malam kita lewati dalam semalaman

Hanya sepersekian detik jantung berdegub

Paru-paru menghirup dan melepas udara

Masihkah kita berpikir lama tentang tahun

Padahal segenap hasrat telah terpuaskan

Walaupun terkadang tersanjung di sudut senang

Namun tersandung di sudut sedih

Adalah sang musafir terus melangkah

Tanpa terhenti pada sudut gelisah

Sebab semuanya adalah fatamorgana

Tahukah kita semua tentang itu

Tapi mengapa kita masih terbelenggu rasa bangga

Terjerat rasa senang

Tersiksa oleh derita

Hidup hanya sebentar

Angan-angan katakan lama

Inginkan seterusnya

Kekal abadi di sini

Apakah benar itu mau kita

Kalimat tahlil hanya sebaris kalimat

Terangkum dalam dua kata

Lalu lebur dalam satu kata

Satu dalam Esa

Satu dalam kesatuan

Kurun waktu sepanjang masa terangkum dalam detik

Berlama-lama adalah keinginan-keinginan merana

Mungkin perlu kita tengok

Jauh ke belakang kurun waktu

Dia termashur di dunia

Baginda Sulaiman seperti tidur saja

Di topang tongkat penyangga

Saat ajal sudah tiada

Sebab segenap keinginan telah lebur dalam kehendakNya

BERUSAHALAH KEMBALI

 BERUSAHALAH KEMBALI

oleh : Faiz Abadi

Engkau sebenarnya tahu

Semua ini milik siapa???

Mengapa engkau memaksa memilikinya

Kembali

Kembalikan semua rasa kepemilikan

Sebelum dia memintanya 

Apa tidak menyadari

Atau sengaja melupakan

Jangankan harta atau semua kebanggaan

Jasadmu saja pasti kembali ke asalnya

Jiwapun kembali ke langit???

Belum tentu

Segenap kebutuhan engkau lampiaskan

Segenap mutmainah terlantarkan

Mana mungkin kembali sempurna

Ayo belum terlambat luruskan langkah

Sebelum penyesalan selamanya

Wanita, Doa, Mantra, Cinta, Darah, dan Air Mata

 "Wanita, Doa, Mantra, Cinta, Darah, dan Air Mata"

OLeh : Dardiri


Wanita bercadar sutra itu keluar dari peraduannya,

Dari sebuah bilik yang berderit pintunya ketika sekelebat udara memaksa masuk dari celah anyaman bambu dan jalinan rumah laba-laba,

Doa dan mantra telah membangunkannya,

Sungguh ia tidak buta,

Tetapi pandang matanya terbentur kaki lentera yang menutupi pantulan cahaya,

Dan bayangannya yang tiba-tiba membesar seolah menghardiknya dari keterasingan,

Bayangan itu mengajaknya kembali dari pengembaraan panjang,

Dari padang mimpi yang tandus dan kerontang,

Dari negeri darah dan air mata,

Sekejap saja, 

Kerinduannya pada peraduan abadi berkelebat cepat di sepanjang bulu-bulu matanya yang menuas malam,


Ia adalah wanita,

Yang menjelma kata dari mantra rahasia yang tak diketahui siapa penulisnya,

Malam yang tertuas dari pelupuk matanya menjadi bara api yang beringas dan siap meringkasnya kembali dalam kata-kata dan membawanya kembali berkelana dalam madah dan ziarah di negeri darah,


Ia adalah wanita yang senantiasa abadi,

Bersemayam dalam gua-gua sunyi di kedalaman lembah nurani,

Berkelana dan mengembara dalam belantara kata yang penuh tanda dan rahasia,


Ia adalah wanita mantra,

Penjaga cinta, doa, darah, dan air mata,-


(K G P H : 14 Maret 2021)

Kembang Bungur

 "Kembang Bungur"

Oleh : Dardiri

Di bawah sepasang bungur yang sesekali berbunga ungu itu,

Yang tanah berumput dibawah kakinya sedikit basah itu,

Tersimpanlah kata-kata kita yang berhamburan dalam pandang mata,

Dan dalam diam yang mengambang begitu saja,


Ingin sekali,

Kupasang kembali selingkar sarang kecil terbuat dari jerami kering yang menumpuk jauh di seberang sungai di luar sana,

Agar sesekali angin yang menggelinding di atas jalanan sepi itu terhenyak sesaat dan sejenak melepaskan penat di dalamnya,

Di dalam ketukan daun bungur yang teratur dan tak bermata itu,


Kita tahu,

Angin bukanlah penghantar listrik yang bisa menjadi jembatan tanpa hambatan bagi daya dan sengatannya kepada kita, dunia manusia,

Tetapi angin akan menjadi pintu paling terbuka bagi rindu dan ingatan kita yang tiba-tiba datang dan masuk seketika lalu hinggap dan mematuki daun-daun bungur yang bergoyang itu, memangkas jarak dari masa silam lalu memasukkannya dalam warna ungu pada kelopak-kelopaknya yang berguguran di tanah basah itu,

Dan kita tak bisa bersikeras menutupnya kembali atau memaksanya untuk diam selama-lamanya,


Pembicaraan tanpa kata yang menjadi tanda bagi kebersamaan kita,

Adalah kata-kata abadi yang tak ingin bergegas pergi atau tanggal begitu saja dalam suara dan angka-angka dari dalam kalender yang buta dalam perkiraan kita,


Di sinilah,

Sajak ini mengalir dari hulu jantungku yang berdegup dan lalu bergoyang perlahan seperti daun bungur di atas tanah berumput yang sedikit basah itu,

Di sanalah,

Baris pada tiap akhir lariknya menjadi angin yang senantiasa berputar-putar dan kemudian berpusar di pintu napasmu yang menjelma dalam lembab air mata,


Dan,

Kita tak pernah tahu, di mana bait kita akan bermuara,  

Dan menjadi senja untuk selama-lamanya,-


(K G P H : 13 Maret 2021)

Sastra Kedawung

 *Sastra Kedawung*

oleh : Syafaat

Permadani kuning terhampar disawah

Di ranum lembah dua belas bukit merekah

Mengukir Rontal yang tak lagi terasa indah

Untuk Menenun kembali butiran sejarah


Perempuan bermata shafir menari kuntulan

Sorot matanya meredup menundukkan senyum 

Menyapa orang oran hig menari keboan

Tubuhnya wangi kembang ranum


Jalanan penuh mantra

Menaburkan aroma bagi mereka yang berselimutkan cinta

Dan Sukma yang kangen menghirup dupa


Ayo

Datanglah ke belahan bukitnya

Cintamu takkan sia-sia

Asmara pasti menyapa

Pada mereka yang menghendakinya


Dari kedawung berhembus Sastra 

Bukit para ksatria

Bukan hanya tulup yang dijadikan senjata

Namun juga hembusan jiwa yang menembus batas belantara


Mantranya akan menghanyutkan cinta

Yang mengalir perlahan menelusuri lembah indah mengangkang

Dalam senyum alam yang dibangun di negeri seribu bidadari

MAN 2 Banyuwangi Dinobatkan sebagai Sekolah Aktif Literasi Nasional


 (Mandawangi)-MAN 2 Banyuwangi kembali menorehkan prestasi di masa pandemi ini. Kali ini mendapatkan penghargaan dari Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB) dan Gerakan Menulis Buku (GMB) sebagai sekolah aktif literasi nasional. Hal ini dikarenakan MAN 2 Banyuwangi telah aktif mengikut-sertakan siswa-siswi beserta gurunya untuk mengikuti kegiatan Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB), Selasa (9/3).

 

Tahun ini merupakan tahun kedua, dimana tahun lalu mengirimkan 50 karya tulisan siswa-siswi, sedangkan tahun ini meningkat drastis. Tahun ini MAN 2 Banyuwangi kembali mengirimkan 170 karya tulis siswa-siswinya yang tercover dalam 2 judul buku dengan masing-masing judul buku ada 2 jilid. Bukan hanya siswa, namun juga ada 6 judul buku solo karya guru, yang akan dilaunching dalam beberapa bulan ke depan.

 

“Alhamdulillah, berkat kerja keras dan komitmen semua unsur dalam keluarga MAN 2 Banyuwangi untuk meningkatkan prestasi siswa terutama dalam bidang literasi dan kepenulisan, sehingga preestasi demi prestasi di bidang literasi bisa kita capai,” terang Anwar, tim jurnalistik MAN 2 Banyuwangi.

 

“Termasuk beberapa kali tulisan guru dan siswa dimuat di Jawa Pos Radar Banyuwangi, hingga sekarang juga mendapatkan predikat sebagai sekolah aktif literasi nasional dari Gerakan Menulis Buku (GMB) Indonesia,” sambungnya.

 

Tidak hanya Madrasah dan Kepala Madrasah saja yang mendapatkan penghargaan, namun juga siswa-siswi yang berkarya mendapatkan sertifikat kompetensi menulis sebagai penulis sekaligus peserta. Tidak kalah juga penghargaan diberikan kepada Agus Novel Mukholis selaku Guru Koordinator dalam kegiatan Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB) di MAN 2 Banyuwangi sebagai Pembina Aktif di bidang literasi.


 

Dalam kesempatan itu, Amalia Melinda penulis berbakat MAN 2 Banyuwangi berharap dukungan, motivasi, dari madrasah dalam berkarya, terutama dalam bidang penulisan dan literasi. “Kami berharap terus mendapatkan bimbingan dan motivasi agar karya-karya kami bisa terus diapresiasi,” pungkas Amalia (Team Jurnalis MAN 2)

Kamus Politik

 “Kamus Politik”

Oleh : Dardiri

Membuka kamus pagi ini,

Membaca tanda dan kata,

Kita tinggalkan sejenak tentang cinta dan bunga-bunga,

Kita tanggalkan sementara tentang sendu dan deru rindu,

Lalu kita buka bersama-sama kamus besar kita,

Kita membaca dan membicarakan hal besar dan tenar,

Negara dan dunia,


Salam,


Dalam kamus ketatanegaraan dikenal istilah politik,

Iktikad politik, alat politik, landasan politik, strategi politik, produk politik, komunikasi politik, pejabat politik, kebijakan politik,

Ya,

Segalanya akan kita temui serba politik,

Tidak ada satupun negara yang pernah ada di dunia yang tidak pernah berpolitik,

Politik tidak bisa terpisahkan dari dunia dan sebuah negara,

Politik tidak bisa dipisahkan dari kedaulatan dan pemerintahan,


Pada dasarnya politik itu baik, indah dan mulia,

Politik adalah serangkaian cara, kegiatan, fungsi, alat, dan kebijakan untuk menciptakan sistem ketatanegaraan yang baik bagi bangsa yang berdaulat dan merdeka, berlandaskan ideologi yang mengandung falsafah dan kepribadian bangsa, sistem pemerintahan yang selaras dengan asas kehidupan warga negara, dan tujuan bersama bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,


Tapi,

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote,

Politik,

Siapa yang tidak tahu politik?,

Dari politik inilah lahir berbagai macam istilah, peradaban, dan kebudayaan yang bercorak ragam,


Politik itu menggelitik,

Politik itu intrik,

Politik itu dinamik,

Politik itu artistik,

Politik itu kosmik,

Politik itu polemik,


Politik itu konspirasi,

Politik itu konfrontasi,

Politik itu kontribusi,

Politik itu koalisi,

Politik itu aliansi,

Politik itu afiliasi,

Politik itu apresiasi,

Politik itu inisiasi,

Politik itu infiltrasi,

Politik itu integrasi,

Politik itu mediasi,

Politik itu sublimasi,

Politik itu rekonstruksi,

Politik itu rekonsiliasi,


Politik itu keinginan,

Politik itu kekuasaan,

Politik itu kekuatan,

Politik itu kesepakatan,

Politik itu kesepahaman,

Politik itu kesinambungan,

Politik itu ketidak ajegan,


Politik itu sulit juga rumit,

Politik itu licik juga pelik,

Politik itu aneh juga nyeleneh,

Politik itu tabu juga rancu,

Politik itu sihir juga pelintir,

Politik itu harkat juga martabat,

Politik itu debat juga rapat,

Politik itu lawak juga kocak,

Politik itu hujat juga sikat,

Politik itu kusut juga sikut,

Politik itu culas juga buas,

Politik itu mengkhawatirkan juga menakutkan,

Politik itu menggelikan juga menakjubkan,

Politik itu memikat juga mengikat,

Politik itu mendidik juga menghardik,

Politik itu bertatap muka juga bermuka dua,

Politik itu janji juga alibi,

Politik itu ngopi juga lobi-lobi,

Politik itu drama juga opera,


Saudara-saudara,


Politik itu melahirkan aneka gambar dan warna,

Ragam lambang dan corak berbeda,

Kitapun sering tidak sejalan dan terpecah hanya karena gambar, warna, dan lambang yang berbeda,


Politik itu sandiwara,

Sandi adalah rahasia,

Dan wara adalah berita,

Rahasia yang diberitakan atau berita yang sengaja dirahasiakan,


Politik itu catur,

Ada bidak, ada raja, ada, ada perdana menteri, ada hulubalang, ada prajurit, ada benteng-benteng kokoh, ada kuda yang siaga berjingkrak, ada tangan-tangan dibelakangnya, ada pertarungan dan pertaruhan di kanan kirinya, ada yang mengelabui, ada yang saling mengintai, ada yang saling menggeser, ada yang senantiasa lapar dan memangsa sesama, ada yang bersorak gembira, ada yang pura-pura menitikkan air mata, ada yang mengumpat, ada yang pura-pura lupa dan menepuk-nepuk jidatnya, ada yang diam-diam meminum secangkir kopi dengan sejuta rencana di kepalanya,


Politik itu senantiasa ada saja,

Politik itu selalu saja diada-ada,


Kamus politik pagi ini,

Adalah tentang politik yang masih politik, tetap politik, dan senantiasa politik,


Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Satu nusa,

Satu bangsa,

Satu negara,

Satu bahasa,

Satu Bhineka Tunggal Ika,

Satu Pancasila,


Kita adalah besar,

Kita adalah kuat,

Kita adalah hebat,

Kita adalah bermartabat,


Politik yang kita baca dan kita terjemahkan sendiri dari kamus tebal bangsa kita,

Janganlah mengerdilkan kebesaran, kekuatan, kehebatan, dan kemartabatan kita sebagai bangsa yang beretika, beradab, bermoral, dan berkepribadian,

Kita adalah Indonesia Raya,

Negara kesatuan yang berpancasila,

Bangsa Nusantara yang terbang tinggi mengitari dunia dengan sayap Garuda Yaksa,


Merdeka!,


Wassalam,-


(K G P H : 12 Maret 2021)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger