Pages

Repertoar Fajar

 “Repertoar Fajar”

Oleh : Dardiri

Sebentar,

Jangan dulu kau kisahkan,

Apa-apa yang terseret dari ujung pendulum,

Di atas selusin angka-angka,

Dari lipatan abjad-abjad gila,

Tentang malam dan kita,


Peraduan semesta,

Menimbun belukar dan semak-semak,

Senja kita dibenamkan pula olehnya,

Perburuan dan perjalanan,

Asahan janji dan tajamnya sunyi,


Ada baiknya,

Sejenak kita perdengarkan,

Rekah fajar,

Menggali mata hulu,

Menjadikan hilir bagi penghulu subuh,

Yang tak lama lagi berlabuh,-


(K G P H : 13 Februari 2021)

Songkok Indonesia

 “Songkok Indonesia”

Oleh : Dardiri

Songkok hitam,

Tergantung di sebuah ruang bercat hitam,

Di dalam rumah besar berlantai pualam,

Berjendela kaca polos berkilat tajam,

Dibatasi pagar dari besi sewarna arang,


Jauh,

Di seberang jalan dan tempat parkir mobil-mobil berpelat merah,

Tangan-tangan mengucur darah,

Jari-jarinya memeras resah,

Memintal gulungan kapas dan kertas,

Di sebuah pabrik songkok,

Beludru berwarna hitam,


Keringat mereka serupa aspal gorengan,

Lebam dan legam menajam,

Nasib telah diremah renyah,

Dalam rapat-rapat singkat temu pendapat,

Dalam sidang-sidang tertutup di dalam gedung berkubah terbelah,


Tangan-tangan pekerja pabrik,

Tidak begitu piawai menorehkan kesepakatan,

Janji yang ditunggu adalah tiap tanggal satu,

Lebih dari itu,

Resah dan darah menguntitnya dari waktu ke waktu,


Darah dan resah itu telah dititipkan pada seonggok songkok,

Hitam warnanya,

Beludru kulitnya,

Karena tangan mereka sendirilah yang membuatnya,

Songkok hitam,

Dibawa membaca sesuatu di bawah buku tebal dengan panduan khidmat,

Dibawa dalam rapat-rapat keramat,

Dipakai dalam sidang-sidang suara sumbang,

Menyaksikan tanda tangan dan kesepakatan,

Melihat persinggungan dan persemakmuran,

Ikut menonton syahwat dan aurat terbuka dalam tata cara dan pura-pura,

Dibawa keliling negara,

Mengunjungi kaki Rinjani dan pertigaan laut Raja Ampat,

Memutar dunia,

Mengitari menara pisa dan tembok besar cina,

Meneduhkan dahaga bangsa,

Menyejukkan suntuk dunia,


Songkok Hitam Nasional namanya,


Indonesia,

Bangga,

Disematkan di hitam beludrumu,


Kalau tidak setuju,

Hitamkan saja kepala-kepala penuh nafsu,

Pemakaimu,-


(K G P H : 13 Februari 2021)

MENGAPA ENGKAU TEGA

 MENGAPA ENGKAU TEGA

Oleh : Faiz Abadi

Bolehkah aku bertanya

Padamu wahai Bumi

Mengapa engkau masih tega

Menumpahkan kemurkaan pada kami

Sedangkan wabah corona

Belum usai melumpuhkan kami

Mematikan segenap persendian

Roda ekonomi nyaris lumpuh

Betapa banyak kami gulung tikar

Menambah keberingasan beberapa gelintir manusia

Merampas hak sesama

Di segenap belahan dunia

Untuk memenuhi hajat perut tidak terkendali

Apa salah dan kami

Kau mutahkan lahar dari perutmu

Kau datangkan banjir bandang dari atas bukit bukitmu

Kau kerahkan kemarahan puting beliung

Menyapu villa villa kami

Perdamaian di negeriku kami sudah terjaga

Hanya riak riak kecil di pulau seberang sana

Atau ulah segelintir ketidak puasan

Padahal roda demokrasi terus berjalan

Lahir dari Ibu Pertiwi

Disatukan dwi warna

Dengan slogan Bhineka Tunggal Ika

Setiap penghuni negeri adalah pemimpin

Membangkitkan kejayaan sesuai adanya

Ing ngarsa sung tuladha

Ing madya mangun karsa

Tutwuri handayani

Sudah kami tancapkan

Tetapi mungkinkah ada di antara kami Alpa

Kengerian mulai membayang

Ketika hujan tiada berhenti

Abu vulkanik berhari-hari membentang di angkasa kota

Kengerian kemarahanmu masih terbayang di mata

Tsunami di Aceh

Tsunami di Lombok

Juga di donggala Palu

Bahkan pemukiman warga kau telan begitu saja

Semua tangan tengadah

Jangan pernah terjadi di segenap penjuru negeri

Engkaulah yang tahu

Atas kemarahanmu

Masihkah adakah noda dalam jiwa beberapa penghunimu di sini

Pemberontakan tidak perlu

Atau pemadaman salah

Atau bibit kesyirikan masih sembunyi

Menjadi api dalam sekam

Bumi muntahkan marahmu tapi jangan disini

Madah 2

 “Madah 2”

Oleh : Dardiri

Pada dasarnya,

Manja adalah merdeka,

Sebagaimana cinta,

Bukanlah sepasang garis kurva yang ditarik sepanjang apapun tak akan mendapatkan titik temunya,

Ia tidak seperti rel kereta api yang kaku dan tidak beranjak dari kesejajaran bijih besi,

Walau landas telah melindasnya ribuan kali,


Begitu juga halnya,

Rindu,

Lebih suka mengembara dari pandang mata,

Lalu menelusur garis panjang semacam sungai brantas,

Melintas rawa-rawa besar dengan cericit anak burung pipit di ranting trembesi,

Membakar tanah liat lembab dan basah karena cecaran mata air,

Lalu menempatkannya di atas meja bundar menjadi tembikar berukir buliran tangan dengan selingkar senja di jari manisnya,


Di hatimu,


Merdeka adalah cara cinta menebas jarak suara dan kata,

Sebagaimana pengeras suara mengantarkan sendu dan syahdu lagu tanpa menoleh pelantunnya bahkan tanpa mengenalnya,

Dan rindu begitu mandiri dan sendiri,

Seperti bundar yang semakin melebar di tengah telaga karena serimpang enceng gondok lepas dari induknya,


Jangan kau tanya lagi,


Biar aku merdeka menjadi manja,

Dan mandiri mengepak rindu,

Lalu waktu,

Meramunya dalam ziarah madah,


Kita,-


(K G P H : 13 Februari 2021)

AMPUNILAH KEPALSUANKU

 AMPUNILAH KEPALSUANKU

Oleh : Faiz Abadi

Kami katakan sudah berjuang 

Pada setiap penjuru dunia hingga paling ujung

Pada setiap waktu paling penghujung

Tetapi tetap saja musibah di mana mana

Mendera seperti tak pernah lelah

Semakin hari semakin bertambah

Belum habis covid 19

Jerit tangis kembali memelas

Nyawa seperti pepes udang saja

Belum lagi pertikaian antar sesama

Korban nafsu birahi

Korban nafsu angkara

Menambah daftar nestapa

Tuhan apakah kami hendak demo padamu

Membawa pamflet kalimat unjuk rasa

Alangkah nyawa tidak berharga

Tak mungkin 

Tak mungkin Engkau lakukan tanpa sebab

Karena peringatan telah berulang kali

Pada setiap ayat ayat Al kitab

Pada setiap ayat ayat tertulis di bumi  dan langit

Hingga berganti ganti utusan tiap jaman

Tiada bosan Engkau ingatkan

Sebenarnya kebosanan pada siapa

Nina bobok kekayaan

Keputus asaan segenap kemelaratan

Kebutaan nurani di ujung derita, kekuasaan, kedengkian, kealpaan

Ya Allah segenap kebajikan sudah kami tebarkan

Di radio, televisi, segenap media bahkan sampai satelit satelit pemancar

Kosongkah semua

Melompong pada segenap catatan kebaikan

Terbunuh di ujung pedang pencitraan

Antara kesadaran dan kepasrahan

Harus katakan kami ini siapa?

Mau berbuat apa?

Kecuali menerima saja

Raung 07 Februari 2021

 “Raung 07 Februari 2021”

Oleh : Dardiri

Yang memerah di ceruk paling dalam,

Milikmu,

Sudah barang tentu bukanlah gincu,

Aku tahu itu,


Ada kabut menyaput ,

Menjadi jelaga arang,

Di atas puncak mahkotamu,

Yang memanjang dan terbang sejauh sudut pandang,

Kutahu,

Bukanlah siluet atau kolase yang seringkali kugambarkan sebagai perumpamaan bagi destinasi  malam tanpa tujuan,


Apakah ini akibat ulah hujan?,

Hingga kamu menggigil kedinginan dan terpaksa menghangatkan dirimu dengan gumpalan panas yang selama ini kau simpan di rahimmu?,

Apakah kamu bunting?,

Sehingga kini tiba-tiba melahirkan dengan sedikit ronta dan erangan kecil agar orok yang ada dalam kandunganmu lahir sempurna?,

Apakah kamu sakit bisul?,

Dan tidak bisa kau tahan lagi,

Lalu memecah nanah panas dan tak kau temukan penutup luka setara untuk lubangnya yang sedikit  menganga?,


Mungkin kamu sedikit tersedak karena hujan tiada henti memberimu asupan gizi,

Mungkin kamu batuk ringan akibat maraknya wabah yang memyumbat saluran udara,

Atau,

Kamu sedikit geram dengan tingkah polah kami yang kelewat membanggakan diri,


Bukankah ini letup yang hanya sedikit saja menguncup,

Dari kaldera mahkotamu yang sewaktu-waktu diselimuti kabut?,

Bukankah ini hanya sisa perapian beberapa kurun,

Yang kemudian melahirkan asap beruntun?,

Bukankah ini kepulan debu,

Yang sekedar menghangatkan suasana agar tidak terlalu kaku selepas kami disibukkan pergantian bupati baru?,


Untung saja kamu masih bersabar,

Dan menelan sendiri kobaran lahar,

Untunglah kamu sedikit bijaksana,

Dan tidak benar-benar meraung sejadi-jadinya,

Sehingga kami bisa berdiam diri dan saling menghayati,

Bahwa wabah, bencana, duka, dan putus asa,

Benar adanya,

Bagi kami yang bernama manusia,


Agaknya,

Kami lupa,

Bahwa,


Kami sering bersuara lantang,

Kami suka bernyanyi nyaring,

Kami terlalu senang dengan pujian dan tepuk tangan,

Kami selalu bangga dengan ketenaran,

Kami selalu mengumpat dan menutupi kegusaran dengan berpura-pura diam terhadap teguran,

Kami menciptakan “Tuhan” di dalam keangkuhan dan kemunafikan,


Kini,

Sedikit saja,

Kamu bertindak atas perkenan-Nya,

Kami merengek manja,

Seperti anak kecil minta mainan di kaki lima,

Kami merajuk lewat doa-doa,

Yang sesungguhnya kami tahu bahwa kadang hanya alibi semata,


Maafkan kami atas ketidaksadaran ini,

Atas keangkuhan ini,

Atas keberpura-puraan ini,


Kami ciptaan,

Kamu pun juga ciptaan,


Adalah,

Tuhan,

Yang berkehendak dan memiliki segala wenang,

Dan kami tak tahu harus bagaimana,

Selain memuja dan meminta,


Semoga,

Kepulan debu yang menyeru di puncakmu,

Sayup letup yang mengabut di bahumu,

Rona merah yang membiak di cerukmu,

Gelegar lahar yang kau telan dalam rahimmu,

Menjadi isyarat,

Wabah yang menjadi hantu benar-benar berkarat,

Menjadi tanda,

Ketakutan yang mengimpit kami segera sirna,


Duh Gusti,

Rabbul Izzati,

Ya Aliyul A'la,

Ya Alimu Sirri wa Akhfa,

Ya Jabbar_Ya Qahar_Ya Dazalbatsi Syadid,


Kehendak_Mu adalah yang terjadi,

Kiranya,

Engkau rahmati kami dengan ujian ini,

Kesabaran,

Ketabahan,

Dan,

Kekuatan,

Semoga masih Kau sematkan pada kami,


Raung,

Adalah ruang yang Kau ciptakan,


Dan,

Kami,

Menjadi saksi,

Segenap Ke_Maha_an_Mu yang abadi,-



(K G P H : 09 Februari 2021)

Tlutur

 “Tlutur”

(Elipsis)

Oleh : Dardiri


Penuh,

Utuh,

Seluruh,

Rengkuh,


Gemuruh,

Runtuh,

Rubuh,

Luruh,


Suguhkan seduh tersedan,

Tiiriskan rintis tangis,

Rincihkan serpih rintih,

Endapkan sekap selinap,

Tepikan sepi sendiri,

Tanggalkan tinggal tunggal,


Kita?,-


(K G P H : 09 Februari 2021)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger