Pages

Ladang Bambu

 “Ladang Bambu”

Oleh : Dardiri

Mencarimu di ladang bambu,

Hanya akan menjadi hal tak menentu,

Karena jemari tangan,

Tak cukup bijak menciptakan pintasan,

Melukis gambaran keinginan,


Mengejarmu di gundukan batu,

Tentulah menjadi teramat rancu,

Karena pijar bola mata,

Tak cukup mampu menampung cahaya,

Menyimpan tanda dalam rahasia,


Membuntutimu di riak gelombang,

Bukanlah hal mudah dan gampang,

Sebab cakrawala pemikiran,

Tak akan sanggup menjamahnya dalam keterbatasan,

Mewujudkan dalam kesadaran,


Sungguh,


Kamu adalah sosok paling misterius,

Dan tak sedikitpun tersentuh aus,


Kamu adalah sosok paling samar,

Bersemayam jauh di luar batas nalar,


Aku?,-


(K G P H : 11 Februari 2021)

Ladang Bambu

 “Ladang Bambu”

Oleh : Dardiri

Mencarimu di ladang bambu,

Hanya akan menjadi hal tak menentu,

Karena jemari tangan,

Tak cukup bijak menciptakan pintasan,

Melukis gambaran keinginan,


Mengejarmu di gundukan batu,

Tentulah menjadi teramat rancu,

Karena pijar bola mata,

Tak cukup mampu menampung cahaya,

Menyimpan tanda dalam rahasia,


Membuntutimu di riak gelombang,

Bukanlah hal mudah dan gampang,

Sebab cakrawala pemikiran,

Tak akan sanggup menjamahnya dalam keterbatasan,

Mewujudkan dalam kesadaran,


Sungguh,


Kamu adalah sosok paling misterius,

Dan tak sedikitpun tersentuh aus,


Kamu adalah sosok paling samar,

Bersemayam jauh di luar batas nalar,


Aku?,-


(K G P H : 11 Februari 2021)

Siluet dan Sentir

 “Siluet dan Sentir”

Oleh : Dardiri

Sentir,

Tergantung di teras rumah beratap jerami,

Bergoyang sebentar,

Karena angin yang menggodanya sejak senja,

Tidak segera beranjak begitu saja,


Malulah ia,

Karena warna sempurna tidak pernah didapatinya,

Bercakap dari sekawanan asap yang menjelaga,

Berkaca dari redup_sayup yang bukan suara,


Adakah yang lebih khidmat,

Merekatkan guguran purnama di balai bambu,

Dan menjadikannya kembang ranjang bagi yang bergegas menjemput impian panjang malam itu?,


Pernah ia bercita-cita,

Untuk menyinari kota yang dipenuhi gemerlap jatuh bintang kejora,

Tetapi kemudian tersipu malu,

Menawan bayangannya sendiri,

Karena memang tidaklah mungkin,

Sentir,

Yang berkaki sumbu dan berkubang “lenga patra”,

Dipajang di halaman balai kota atau markas tentara,


Cukuplah baginya,

Tergantung di beranda beratap jerami,

Menunggu purnama demi purnama,

Membawakan sepotong malam yang ranum dan manja,


Sebelum pagi bermuka dua,

Dan,

Menjadikannya jelaga tanpa sisa,-


(K G P H : 11 Februari 2021)

Negeri Lumbung dan Negeri Sarang”

 “Negeri Lumbung dan Negeri Sarang”

Oleh : Dardiri

Negeriku adalah lumbung bahasa,

Di mana,

Induk suara menetaskan ujaran dengan gaya berbeda lagi kaya,

Di sepanjang laut dan daratan yang membentang di permukaannya,


Negeriku adalah lumbung pangan,

Di sana,

Tak diketemukan istilah kelaparan dan kurang makan,

Gizi dengan mudah dicari,

Aneka buah, sayur, biji, dan ragam tumbuhan pun dengan mudah ditemukan,


Negeriku adalah lumbung air,

Di sana,

Dari hulu ke hilir,

Tiada henti mengalir,

Tidak pernah ada berita kehausan berkepanjangan

Karena mata air melimpah ruah tak berkesudahan,


Negeriku adalah lumbung seni,

Di sana,

Corak dan warna menjadi mozaik, ornamen, dan relief alami,

Yang sulit ditemukan padanannya di negeri lain yang tak dikenali,,


Negeriku adalah lumbung budaya,

Di sana,

Induk peradaban melahirkan ragam adat, harkat, martabat, dan hikmat,

Yang tiada tara dan penuh berkat,


Negeriku adalah lumbung sejarah,

Di sana,

Ragam peristiwa menjadi madah dan mata air hidayah,

Yang penuh dengan epos dan romantika bersyahadah,


Negeriku adalah lumbung kebhinekaan,

Di sana,

Perbedaan dan keberagaman menjadi mutu manikam paling berharga,

Di dalam rumah besar Pancasila,


Negeriku adalah lumbung tambang,

Di dalamnya,

Bersemayam aneka logam mulia dan berharga,

Gas dan minyak memancar seolah tiada habisnya,

Hasil bumi menimbun seperti tiada henti,


Negeriku adalah lumbung agama,

Di sana,

Perbedaan keyakinan menjadi begitu indahnya,

Menyatu dalam kearifan kepribadian masyarakatnya,


Negeriku adalah lumbung kerukunan

Di kesehariannya,

Ketidaksepahaman menjadi kekuatan,

Karena penduduknya mengikat diri dalam ketersalingan,


Negeriku kaya raya,

Negeriku subur makmur,

Negeriku penuh warisan adiluhung,

Negeriku gemah ripah,

Negeriku tata tentrem adem ayem,

Negeriku edi peni loh jinawi,

Negeriku aman dan damai,


Bagaimana dengan negerimu?,


Kudengar,


Negerimu adalah sarang penyamun,

Yang mencuri dengan pelan dan santun,


Negerimu adalah sarang perampok,

Yang tega meminta sesama dengan terang-terangan dan main bacok,


Negerimu adalah sarang pendusta,

Yang bahkan sumpahnya sendiri dilupakan begitu saja,


Negerimu adalah sarang pembual,

Yang menjual janji dan harapan serba abal,


 Negerimu adalah sarang pembohong,

Yang menjajakan tipu daya dan omong kosong,


Negerimu adalah sarang koruptor,

Yang betingkah manis dan bengis lalu pura-pura memakai celana kolor,


Negerimu adalah sarang serdadu,

Yang bertindak banci lalu sembunyi di balik rompi anti peluru,


Negerimu adalah sarang perdagangan kelabu,

Yang gemar main slintat-slintut di dalam saku,


Negerimu adalah sarang begundal,

Yang berwajah alim tetapi diam-diam mengumbar hasrat nakal dan binal,


Negerimu adalah sarang pemecah belah,

Yang suka cing cong persatuan tetapi diam-diam menyelipkan resah dan amarah,


Negerimu adalah sarang narkotika,

Yang seringkali pengedarnya ditangkap lalu dibebaskan lagi dengan “cuma-cuma”,


Negerimu adalah sarang artis-artis manja dan penuh pesona,

Yang kemudian sering kedapatan bermain kuda lumping secara rahasia,


Negerimu adalah sarang kalong dan kelelawar,

Yang gemar masuk keluar pekarangan tanpa izin pemiliknya karena lapar,


Negerimu adalah sarang harimau dan singa,

Yang doyan mencakar dan memangsa sesama,


Negerimu adalah sarang ular berkepala dua,

Yang melata dan menjulurkan lidah berbisa,


Negerimu adalah sarang hantu,

Yang berkeliaran kesana kemari tak kenal waktu,


Negerimu adalah sarang siluman,

Yang gemar sulapan dan bermain di bawah tangan,


Negerimu adalah sarang pelupa,

Yang bahkan tidak ingat lagi warna bendera negaranya,


Negerimu adalah sarang penipu,

Yang sering memperdaya Tuhan seolah Dia tidak tahu,


Negerimu adalah sarang topeng,

Yang setelah ceramah tentang pentingnya ini dan itu lalu dipakai nari “Kethek Ogleng”,


Negerimu adalah sarang tukang tenung dan japa mantra,

Yang gemar menyihir dan memantra siapa saja hingga lupa siapa dirinya,


Negerimu adalah sarang nista,

Negerimu adalah sarang durjana,

Negerimu adalah sarang porak poranda,

Negerimu adalah sarang kecarut marutan,

Negerimu adalah sarang ketidakberaturan,


Konyol dan dungu,


Aku tertawa sendiri,

Geli,

Karena,

Ternyata,


Dengan bangganya,

Aku-pun telah berpuluh tahun berdiam di negerimu,


Negeri lumbung dan sarang segala-galanya,-


(K G P H : 10 Februari 2021)

IJINKAN KU UNTAI KALIMAT UNTUKMU

 IJINKAN KU UNTAI KALIMAT UNTUKMU

Oleh : Faiz Abadi

Wabah belumlah enyah

Debu vulkanik mulai menyesakkan dada

Membikin kelilip mata

Hati semakin pasrah saja

Astaghfirullah hal adhim

Buka lembar demi lembar 

Jujurlah katakan tuhan kita siapa

Masih adakah campur tangan ego  kita 

Pada halaman halaman ketetapan hati nurani

Sehingga tuhan lebih memilih sang Mualaf

Untuk menjadi Walinya

Karena keteguhan

Karena kesungguhan

Menjaga kemurnian ayat ayatMu

Sedangkan kita telah lama memakai baju ayat ayatNya

Masih saja berdebat

Fakir Miskin

Anak anak terlantar

Yatim piatu

Satu tahun saja kita bahagiakan

Itu pun ramai ramai paling berperan

Bahkan terkenal sampai ke koran

Subhanallah

Uzlah seperti hanya untuk Sang Baginda

Memembus lebatnya padang pasir

Menyisiri gelap malam

Apalagi gelapnya hati

Di antara berbagai kedholiman

Singgah di pentas Jahiliyah

Padahal sejak dulu hingga kapanpun dia bisa kemana saja

Ke Siapa saja

Lalai menyebut namaNya

Sebenarnya

Merontokkan keangkuhan pada setiap jiwa hingga mengakuiNya

Laa ilaaha illallah

Pada hamparan luas padang semesta

Pada segenap jagad Fisika

Ataupun tidak luas tidak terbatas

Tinggi paling tinggi

Pada jagad Metafisika

Pada kesadaran kasat mata

Pada kesadaran jagad Raya

Allahu Akbar

Bawalah setitik jiwa ini dalam kebesaran tiada terhingga

JEJAK JEJAK TERHAPUS

 JEJAK JEJAK TERHAPUS

Oleh ; Faiz Abadi

3 harian hujan mengguyur bumi

Adakah jejak tersisa

Sebagaimana kita semua

Berabad abad dulu hingga sekarang bernama Manusia

Lalu apa kita

Seperti telapak kaki

Terguyur hujan

Lenyap begitu saja

Atau apa

Ataukah siapa

Kemana

Dimana

Bahkan untuk semua penghuni

Kini hingga akhir nanti

Masihkah enggan mencari

Siapa jejak sejati


Bwi, 7 Feb. 2021...dibawah guyuran hujan

Balada Jarum dan Jerami

 “Balada Jarum dan Jerami”

Oleh : Dardiri

Jarum,

Jerami,

Jarum

Jerami,

Jarum,

Jerami,

Jarum,

Jerami,

Jarum,

Jerami,

Jarum,

Jerami,


Jerami,

Jarum,

Jerami,

Jarum,

Jerami,

Jarum,

Jerami,

Jarum,

Jerami,

Jarum,

Jerami,

Jarum,


Jarum menusuk,

Jerami menumpuk,

Jarum menghujam,

Jerami membekam,

Jarum menyayat,

Jerami menghangat,

Jarum termakan aus,

Jerami dilenyap hangus,


Jarum,

Jatuh,

Jerami,

Menangkup seluruh,


Aku,

Jarum,

Bukan?,


Jerami,

Kamu,

Tidak?,


Di mana,


Diri-mu,

Diri-ku,


Jika jarum,

Terjeram jari-jari jerami,-


(K G P H : 08 Februari 2021)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger