Pages

Antitese

 --Antitese 2--

Oleh : Dardiri

Masa depan,

Adalah impian yang meliuk-liuk seperti goyang bunga sesam ketika musim kemarau menimangnya bersama racau angin,

Yang menyesakkan suara kersak dan seolah gersang,

Tetapi dipenuhi biji-biji mulia dan siap dipinang lalu dipajang di etalase toko penjual pangan,

Tak ubahnya,

Seperti mulut gua di seberang air terjun yang tak pernah kelihatan sebelum kita menyeberang dan menginjakkan kaki di bibirnya,


Masa kini,

Adalah keharusan yang terjadi dan tak mungkin dihindari,

Seperti sekapur sirih dikunyah bersama sepotong gambir dan serpihan pinang,

Seketika,

Seperti ban serep di tengah perjalanan panjang dan harus dipasang saat itu juga ketika udara di dalam roda berkaret utama meledak tiba-tiba sedang muatan tak mungkin dibongkar dan dikembalikan,


Masa silam,

Adalah impian kanak-kanak yang setiap malam menjenguk peristirahatan lanjut usia yang dipenuhi alam lugu dan jenaka,

Lalu membawakan sebidang tanah luas dan datar berisi lumpur, kelereng dan layang-layang,

Ingatan-lah yang bermain di dalamnya,

Adakalanya,

Masa lalu,

Begitu wingit dan tabu,

Seperti keranda jenazah di pemakaman tua yang nyaris tak pernah terbuka,

Yang terkadang berderit sendiri karena tak kuasa menahan rayuan angin,

Karena adat begitu perkasa memasungnya,

Bahwa jika membuka maka siap masuk di dalamnya,


Sebenarnya-lah,

Sia-sia membagi dan mengkotak-kotakkan keberadaan,

Karena,

Toh tidaklah mungkin menyajikannya dalam kebersamaan,


Jika masa lalu begitu tabu,

Masa kini harus terjadi dan tak terhindari,

Dan masa depan adalah impian,


Mungkin ada baiknya kita tanyakan,


Apa yang kelak kita persembahkan,


Kepada sepi_abadi?,-


(K G P H : 04 Februari 2021)

Juara 2 Lomba Pidato di Fakultas Kedokteran UNISMA

 

Juara 2 Lomba Pidato di Fakultas Kedokteran UNISMA                           

                                              

Hubilah Nur Mumu , siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Banyuwangi berhasil meraih juara kedua dalam lomba pidato IMSCO 2021 yang dilaksanakan secara online. Pengumuman Kemenangan yang dilakukan tanggal 31 Januari 2021 tersebut disamput gembira oleh keluarga MAN 2 Banyuwangi. Dalam lomba tersebut Hubilah Nur Mumu mengambil tema tentang permasalahan mental health di tengah pandemi Covid 19, dengan mengangkat judul “Kesehatan Mental Siswa dalam Proses Pembelajaran Jarak Jauh.”


Diruang Kerjanya Kepala MAN 2 Banyuwangi Moh. Anwar, Rabu (3/1) menyambut dengan senang hati atas prestasi yang di raih siswanya di masa pandemic tersebut. Kemenangan ini merupakan salah prestasi awal di tahun 2021, beliau berharap akan lebih banyak prestasi yang diraih oleh para siswa maupun guru pada MAN 2 Banyuwangi.

Sementara itu Pembina Siswa MAN 2 Banyuwangi, Agus Novel M menyampaikan bahwa kemenangan yang diraih oleh siswanya tersebut tidak diraih secara instan, butuh persiapan yang matang. “mempersiapkan kembali dan terus melatih diri untuk bisa tenang, tidak terburu-buru ketika menyampaikan pidato merupakan salah satu kuncinya” ungkapnya. Pria yang aktif menulis di harian Jawa Pos Radar Banyuwangi tersebut juga berlatih bagaimana nanti dalam menjawab pertanyaan maupun feedback dari juri.


Dalam isi pidatonya, Mumu (panggilan akrabnya) untuk tetap optimis dalam setiap permasalahan “jangan takut untuk melangkah kembali apabila mengalami sebuah kegagalan. Mungkin terkadang kita dikecewakan oleh harapan dan ekspetasi yang terlalu tinggi. Namun, dari situlah kita akan belajar dari sebuah kesalahan. Ada banyak mimpi yang harus dicapai, dan ada kedua orang tua yang harus dibanggakan. Oleh karena itu, bila kita merasa lelah kita boleh beristirahat, setelah itu bangun on the track lagi untuk meraih apa yang kita cita-citakan. Dan untuk saya masih banyak sekali kekurangan, dan masih harus terus belajar. Semangat!!!” Ungkapnya dalam video pidatonya.

Tak lupa juga Mumu menyampaikan pesan dan kesannya untuk kita semua. Kesan yang ia dapatkan dari pencapaian ini adalah mendapatkan banyak sekali pembelajaran. Salah satunya yaitu jangan pernah berharap untuk memenangkan suatu kompetisi, dan jangan pula berkeinginan untuk mengalahkan orang. Tetapi berharaplah segala yang kita lakukan diridhai oleh Allah SWT. (Nur Intan Kusuma Dewi)

Cermin 5-

 --Cermin 5--

Oleh : Dardiri

Pernah,


Kau certitakan kepadaku tentang lawatan angin,

Yang berdenting seperti sekeping logam mulia jatuh di bukit-bukit bertebing,

Dulu sekali,

Ketika hujan masih berwarna kelabu,

Dan malam belum begitu dalam,


Kamu,

Bercerita dengan menutup mata,

Bahkan ketika hujan berganti warna,

Dan malam menjadi lebih dari sekedar menghujam,


Ada yang kamu lupakan,

Bahwa malam yang paling dalam sekalipun,

Akan berakhir dengan pagi,

Dan purnama yang paling bundar keemasan sekalipun,

Akan diretakkan oleh fajar,


Sepintas kemudian,

Tiga puluh sembilan butir embun,

Menggoyang pelan daun bidara di samping rumah kita,


Kamu masih bercerita,

Dan aku mendengarnya dari dalam cermin kaca,-


(K G P H : 03 Februari 2021)

Lamunan Pagi

 *Lamunan Pagi*

Oleh : Syafaat

Puisi ini untukku

Untukmu yang mengirimkan padaku

Kala senja di peraduan rindu

Dan malam bersama impianku

Mengejang, menegang, membayang asmaramu

Gerimis malu malu

Hanya menggantung pada mendung malam kelabu


Embun terlalu ramah pagi ini

Membasuh daun-daun sepi

Menunggumu menuang kopi

Membayang mesra wajah wulandari


Masih klemah-klemah membaca WA

Puisi untuk Ibu dari Lentera Sastra

Membuang jauh tercabikmya cinta 

Yang tak juga keluar dari raga

Dari jiwa yang terlanjur setia


Kubuang jauh tersangkut sauh

Kubasuh lekang tak juga menghilang

Kubantai asmara mantramu  tanpa dawai rindu


Aku tak melakukan apa apa

Menunggu takdir membuang pikir

Menunggumu juga percuma

Namun tetap kulakukan juga

Menambatkan pada keyakinan cinta

Kau yang telah membalut luka

Jangan tunggu hingga pelaminan senja

Menikahlah denganku

Pagi  saja

MENDUNG

MENDUNG

Oleh : Nurhalimatus Sakdiyah

Senja kali ini tak seindah kemarin

Mendung tengah menggelayuti

Semendung hati ayah ibumu

Rinai hujan pun turun

Sederas air mata mereka

Kala melihatmu asyik bercanda 

Dengan cintamu

Yang tak lagi peduli ayah ibumu

Ada apa denganmu

Mengapa hatimu harus tertutup awan kelabu

Tidakkah kau takut akan murka Tuhanmu

KAU LEBIH BAIK DARI BIDADARIKAU LEBIH BAIK DARI BIDADARI

 KAU LEBIH BAIK DARI BIDADARI

Oleh : Faiz Abadi

Saat ku kecup keningmu

Ku yakin engkau lebih cantik dari bidadari

Tak kenal lelah kau arungi bahtera

Hingga sang putra mulai dewasa

Si kecil centil kita selalu tetap ceria

Ya Allah ijinkan kami tetap bergandengan tangan

Tatkala mentari kau dekatkan di atas kepala

Biarkan tetap ku kenali dia sepanjang masa

Jangan

Jangan kau berikan lagi siapapun jua

Walau bidadari sekalipun seperti dia

Bagiku sudah cukup bersamanya

Arungi semesta kehidupan bersama jiwa dan raganya

Berikan kisah lebih dari Romi dan yuli

Akan ku bawa juga para putra

Ke ujung dunia

Kibarkan namaMu

Sanjungkan puja dan puji

Tak kan kering oleh kemarau

Takkan terhempas oleh segala badai

Walau lewat titian sholawat

Kami akan lewati semua perjalanan Menuju pertemuan yang Engkau janjikan

Sekuntum Rindu

 Sekuntum Rindu

Oleh : Syafaat

Sekuntum angin yang kau petik dari halaman rumahmu

Dan kaubawa mengajar pagi ini

Ingin kuhirup kembali agar hilang kerinduanku

Tidak seperti kangenku pada kopi Bu Lutfi

Atau kenangan kita mencari kembang

Seikat angin dengan bulir gerimir juga kupetik di halaman

Untuk menghilangkan dahaga kecupanmu

Kutuang nada nada cinta

Pada barisan huruf WA

Gerimis asmara semalam masih terasa

Membilas embun mesra daun senyum manismu

Tak kusadari wulandari dilangit sepi

Bergelut dengan awan dan kaubisikkan suara cintamu

Pada buliran gerimis malam

Yang membawaku pada impian

Menikah dengan bayangmu

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger