Pages

Wulandari

 “Wulandari”

Oleh : Dardiri

Mungkin,

Kaupun jarang sekali dihinggapi rasa ingin bertanya,

Berapa puluh purnama, 

Kau lewati dengan nyala api membiak dari sayatan kecil,

Yang mirip renggang anyaman bambu setelah beberapa windu berlalu,

Hatimu?, 


Masa lalu,

Sepertinya benar-benar “keramat”,

Hingga kamu melipatnya begitu rapat,

Agar seujung sengat lebah-pun tak sempat terlihat,

Bahkan oleh bayanganmu sendiri,


Adakah yang tengah kau cari, 

Dari ayunan fajar yang sebentar lagi menjalar?

Dari  lantunan dini hari yang berserakan di ranjang mimpi?,


Bibirmu,

Terkatup,

Bukan karena terpasung dalam kuyup,

Tetapi karena kata telah tiada,


Sayup,

Kudengar,


Kau memanggilku “kekasih”,


Dan,

Aku memanggilmu “Wulandari”,-



(K G P H : 28 Januari 2021)

Diorama

 “Diorama”

Oleh : Dardiri

Masih terdengar,

Ketuk sepatumu,

Di beranda beratap baja ringan,

Yang ketika hujan datang, menyaru bunyinya,


Masih kulihat,

Kerlingan bola matamu,

Berpusingan di bawah kamboja cina,

Yang ketika senja tiba, menangkup kegelisahannya,


Adakalanya kita benar-benar menyadari,

Bahwa kepemilikan telah berlari menjauhi kita,

Selepas repertoar singkat dipentaskan dalam perjamuan usia,

Kita menghilang dalam lekang,


Mungkin kita lupa,

Telah berapa ratus senja terlewatkan begitu saja,


Ada yang tertanggal,

Dan senantiasa membadai dalam ingatanku,

Ketika kuselipkan kelopak kamboja cina di sela rambutmu,

Ketika selalu kudapati wajahku dalam kerling matamu,


Kini,

Diorama Rindu,

Menjadi batas kebersamaan kita,-


(K G P H : 28 Januari 2021)

Wangi Hujan

 “Wangi Hujan 4”

Oleh : Dardiri

Ada yang menganak sungai di jendela kamarmu pagi itu,

Lantaran debu,

Yang belum sempat kau pergoki,

Ditaklukan oleh garis lembut yang merembes diam-diam dari pecahan genting di atasnya,

Karena,

Hujan yang malas,

Semalaman terus terjaga sebelum kamu membuka mata,


Pernahkah kamu menanyakan,

Bagimana cara menyatakan cinta,

Perawan tuli kepada laki-laki buta,

Ketika keduanya berada di tempat berbeda?,

Atau,

Adakah rumusan sederhana,

Membedakan embun dengan hujan,

Ketika sepagi itu keduanya saling berpacu meruncingi waktu?,


Anak sungai yang mengalir di jendela kamarmu,

Seketika menjadi telaga dengan harum cahaya,

Dan kamu menaiki jalinan batang bambu di permukaannya,


Dan,

Ketika matamu terbuka,

Kubiarkan saja,

Bibirmu yang diranumi senyum,

Meneguk wangi hujan,

Di sela jemari tanganku,-


(K G P H : 28 Januari 2021)

DARI TANGAN KITA

 DARI TANGAN KITA

Oleh : Faiz Abadi

Siapa lagi kalau bukan kita

Bangun di tengah malam 

Berdoa 

Bermunajad untuk keluarga

Bangsa dan negara 

Agar Selamanya

Rukun dan selalu bertegur sapa

Bahu membahu 

Membangun pondasi negeri

Bukan saling gengsi

Apalagi  sok aksi

Hanya memikirkan diri sendiri

Siapa lagi 

Selalu duduk bersama 

Menyatukan persepsi

Dari setiap generasi muda, dewasa, tua

Dari orang orang di bawah, tengah, tengah

Agar saling mengerti

DARI TANGAN KITA

 DARI TANGAN KITA

Oleh : Faiz Abadi

Jika bukan kita lantas siapa

Orang orang pintar

Tidak pernah ingkar

Selalu bertindak benar

Peradaban haruslah terus mekar

Budaya berbasis spiritual

Gaung kejayaan olah raga di segenap arena

Gaung pentas seni

Melatih percaya diri

Juga keberanian mandiri

Gaung pendidikan menguatkan mental bukan melemahkan

Pendidikan memberikan bukan menderitakan

Pendidikan mencerdaskan bukan hanya memberitakan

Menghasilkan teknologi tepat guna secara nyata

Kalau bukan kita siapa mau bicara

Terus menerus suarakan kepedulian

Perkembangan jaman ada di tangan kita bersama bisa

Wangi Hujan 3

 “Wangi Hujan 3”

Oleh : Dardiri

Ini adalah hujan,


Katamu,

Suatu sore,

Ketika jalan pulang yang biasanya ramai,

Mendadak sepi,


Kutawarkan jas hujan,

Kau bilang tidak!,

Kutawarkan jaket tebal,

Kau bilang jangan!,

Kutawarkan tempat berteduh sejenak,

Kau bilang biarkan!,


Kutelan sendiri penawaran demi penawaran,

Karena dengan perkasanya,

Hujan melingkarkan jemarimu,

Di pergelangan tanganku,


Wangi hujan,

Menyeruak dari palung paling dalam kesendirian kita,


Dan,

Jalan pulang,

Masih saja disekap sunyi,

Karena memang kita tak ingin kembali,-


(K G P H : 27 Januari 2021)

Solitude

 “Solitude 5”

Oleh : Dardiri

Begitu sulitnya,

Memberikan batas antara kesombongan dan harga diri,

Sebagaimana memisahkan mawar dari tangkai berduri,


Kamu berjalan,

Tetapi langkahmu disekap hujan,

Kamu berdiri,

Tetapi waktu menawarkan kepadamu tentang keniscayaan,


“Damar Kambang”

Yang diam-diam memilin cahaya dari lubang kunci kamarmu,

Sejenak mengenangkan angin senja,

Ketika hari dibenamkan malam begitu saja,


Sudah hitungan ke berapa?,

Kita dimabukkan oleh pujian,

Kita dilenakan oleh sanjungan,

Dan mungkin tidak kita sadari,

Jika kita-pun telah hilang ingatan,

Bahwa kita sendiri adalah wujud batasan yang dihinggapi ketidaksempurnaan,


Samar-samar “Ketawang Sukma Ilang”,

Yang dinyanyikan  kesendirian paling lajang,

Kembali menghentikan putaran jari tanganmu,

Di atas gulungan kertas,

Di depan kanvas,

Berisi namamu sendiri,

Bergambar wajahmu sendiri,


Bukankah warna merah ini bukan darah?,

Melainkan geloramu sendiri yang menuntunmu dalam pencarian demi pencarian?,

Bukankah warna biru sedikit demi sedikit berganti kelabu?,

Bukan karena berapa lamanya,

Tetapi karena keingintahuan yang senantiasa memapah kesadaranmu?,


Kamu mengangguk,

Dan tatapanmu menandakan isyarat,


Tuhan,

Tentunya tak mungkin “tak ada”,

Hanya, pikiran kita sendirilah yang seringkali mengembara,

Mencari keberadaan-Nya,-



(K G P H : 27 Januari 2021)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger