Pages

Kata-Kata

 --Kata-Kata--

Oleh : Dardiri

Pernah kudengar,

Bahwa kata adalah lambang suara,

Melahirkan kesepakatan dan kesepahaman,

Lalu menjelma menjadi bahasa,


Pernah kudengar,

Bahwa deret angka hanya bermula dari kosong dan satu saja,

Melahirkan peradaban hitungan dan pengulangan,

Lalu menjelma menjadi kepastian,


Kawan,

Kata-kata adalah rasa,

Jangan kau pasung ia demi syahwat dan kuasa untuk menjadi juara,

Jangan kau tikam ia demi birahi sesaat untuk decak kagum dan tepuk tangan bersahutan,

Jangan kau mematikannya demi jabat tangan handai taulan dan gemuruh kehormatan,

Jangan kau membunuhnya demi prestasi yang kita sendiri kebingungan dibawa kemana setelah didapatkan,


Kawan,

Kata-kata adalah kata-kata,

Biarkan ia hidup dan mencari dirinya sendiri,

Kodrat telah menjadikannya mandiri,


Ia sedikit abadi,

Bahkan ketika kita telah tiada lagi,-



(K G P H : 25 Januari 2021)

AYO PERBAIKI DIRI

 AYO PERBAIKI DIRI

Oleh : Faiz Absdi

Masih saja ada warisan itu

Budaya para Meneer Kompeni

Lupakan sejarah perjuangan kawan

Menggunting dalam lipatan

Sifat adu domba

Lenyapkan 

Enyahkan

Apabila menyelinap di antara kita

Di manapun berada seperti anai anai saja

Keroposkan dari dalam

Lalu bangunan roboh tanpa terasa

Kawan kita adalah pembaharu

Yang sudah hebat pertahankan

Jangan sampai terbuang

Apalagi kau sia siakan

Hidupmu seberapa lama

Semakin tua seharusnya bertambah kebajikan

Lidi lidi kecil bersatu

Barulah sekumpulan lidi yang banyak

Kalaulah diri dan kelompokmu hebat

Tak seberapa

Dibandingkan dengan naungan kita

Hebat bermartabat dibangun dari setiap kita

Tanamkan slogan dalam diri

Sucikan dalam tindakan

Perluas wawasan

Perkuat solidaritas setia kawan

Kawan kita adalah prestasi

Bukan kolusi yang membuat kelompokmu buta

Ayo belum terlambat

Ayomi semua yang di bawah kita

Naungi dengan lentera kedamaian

Janganlah malah ugal ugalan

Memikirkan nasib diri dan kelompoknya

Lupa mereka semua saudara

Otonomi pada segenap sudut sudut penjuru

Adalah bersatunya potensi

Bukannya berpecah pecah mencari jalan jalan sendiri

Kelir

 “Kelir”

Oleh : Dardiri

Byar,

“Blencong Lenga Patra”,

Yang telah digantikan tugasnya oleh “Halogen 1000 Watt”,

Pelan-pelan berdaulat,

Bukan oleh api,

Tetapi karena cahaya yang menyilaukan mata,


Dhog,

Dhog,

Dhog,


Cempala dan keprak saling beradu,

Laras “Cucur Bawuk” bertalu,

Tetapi bukan berarti syahwat sedang berburu,

Sebagaimana kayon  menjelma kearifan waktu,



Murwa,

Nyandra,

Antawacana,

Janturan,

Ginem,

Pocapan,

Suluk,

Suwuk,

Ada-ada,


Pakeliran benar-benar sedang dipertunjukkan,

Siapa dalang?,

Siapa wayang?,

Siapa niyaga dan waranggana?,

Siapa Nurcahya,

Siapa Nurrasa?,

Siapa Wening, siapa Wenang?,

Siapa Tunggal?,

Siapa Antiga?,

Siapa para Dewa?,

Siapa kaum raksasa dan Denawa?,


Siapa Rama?

Siapa Rahwana?,

Siapa Bagaspati?,

Siapa Lembu Handini?,

Siapa Pandawa?,

Siapa Kurawa?,

Siapa Kala?,

Siapa Manumayasa?,

Siapa Dhanurwenda?,

Siapa Sasi Kirana?,


Siapa dunia?,

Siapa antariksa?,

Siapa narmada?,

Siapa samudra?,


Adalah diri kita sendiri,


Di dalam pakeliran,

Kita bisa memerankan siapa saja,

Dan berkuasa menjadi apa saja,

Sekehendak pikiran kita,


Tetapi,


“Tancep Kayon”-lah,

Penentu segalanya,-



(K G P H : 25 Januari 2021)

TEGARKAN HATI KAMI

 TEGARKAN HATI KAMI

Oleh : Faiz Abadi

Ya Allah tuhan Semesta Alam

Lapangkan dada seluas luasnya

Untuk terus berjuang memajukan bangsa

Nasib beribu generasi ada ditangan kami

Biarlah bercucuran keringat

Bahkan bercucuran airmata

Bila perlu bercucuran darah

Satu tekad sudah bulat

Di desa, di kota, di mana saja generasi muda

Akan kuberikan segala bisa

Agar mereka menjadi generasi tangguh, mandiri, bermartabat

Di segenap arena

Olah raga, olah jiwa, olah seni, karya teknologi

Tidak mudah

Walaupun ada yang menganggap  mudah

Kelak merasakan sendiri

Jika pernah bercucuran keringat menghasilkan para juara

Pasti akan menghargai

Kecuali mereka yang hanya duduk di meja

Ya Allah doaku akan terus menderu sepanjang waktu

Walau wabah telah meninggalkan pilu

Kelak badai kan berlalu

Ku yakin itu

Ya Allah berikan energi sehingga tidak habis

Walaupun rintangan, tantangan, hambatan, gangguan 

Datang menghadang

Itu bukanlah halangan

Bagi diri terus berjuang

Ya Allah alangkah bahagia mereka bekerja

Karena ilmu

Karena ketrampilan hidup

Karena ketabahan jiwa tidak manja

Biasa sederhana 

Menerima nilai apa adanya

Ya Allah pertemukan kami dengan orang orang yang mengerti

Lalu menerima dan bekerja sama

Percepat.kejayaan olah raga 

Percepat berbagai karya teknologi

Percepat hebat bidang seni 

Pertahankan generasi berakhlak mulia

Aamiin

Nyeri

 “Nyeri”

Oleh : Dardiri

Coba tebak!,


Galileo atau Socrates,

Yang lebih berani?

Hamlet atau Descartes 

Yang lebih peragu?,

Kant atau Locke,

Yang lebih beretika?,

Newton atau Einstein?,

Yang lebih kuat pijakan teorinya?,

Al Kindi atau Al A'rabi,

Yang lebih mengenal Tuhannya?,

Nostradamus atau Ronggowarsito,

Yang lebih akurat ramalannya?,


Kawan,

Tebak-tebakan,

Seringkali membawa ketidaksepahaman,

Ketidaksepahaman,

Seringkali membawa kita dalam perdebatan,

Perdebatan,

Tidak jarang menimbulkan perseteruan,

Perseteruan,

Agaknya mendekati pertikaian,

Pertikaian,

Bukan tidak mungkin menimbulkan ketidakbersatuan,

Dan,

Ketidakbersatuan, 


Adalah nyeri paling tak tertandingi,

Bagi yang saling mencintai,


(K G P H : 24 Januari 2021)

TANDEM

 TANDEM

Oleh : Laeli Sigit

Ajakmu

Kumau

Arungi bahtera biduk mungil

Yang bawa kita

Kayuh bersama



Kau depan

Kakiku ikut kayuh

Selaras tapakmu

Arah mata tertuju

Titik fokus cita kita


Walau jalan masih berliku

Kita melaju dengan riang riuh candamu

Belok kanan adalah harap

Belok kiri adalah semangat

Jalan kesan slalu tertambat

Jalan halus lurus semakin dekat


Lima warsa berlalu begitu cepat

Hembusan lembut angin cinta 

Menerpa dedaunan sejukkan hasrat

Wangi alam smakin merekat

Hampiri pacu niat

Menata gebu batin 

Butiran bahagia


Lima warsa kedua

Hatimu smakin lekat

Ikuti makna sejuta nikmat

Akupun merapat hangat

Jaket asa lembutmu selalu mengikat

Benang indahnya yg berbakat

Support energi kilat


Lima warsa ketiga

Ketukan pintu mendekat

Membawamu ke taman jagat

Dimana tandem sudah tertambat

Setelah lelah, raih kulminasi hajat

Tlah purna tugas hayat

Kau tidurlah...

Kan slalu kuingat


Sesaat....

Penat .... penuh debat

Ahh... pikirku belum kiamat

Kucoba rangkai ulang lamat lamat

Puzle cinta yang jatuh tertambat

Lanjut raih langkah jingkat


Lima warsa keempat

Ku coba bangun mimpi

Tuk intip selambu surga

Balut rindu yang mendera


Hampirimu perlahan

Ronamu terpancar 

Bibirmu bingar

Haluku berkelakar

Dan begitu sadar...


Ku hanya bisa tersandar

Dan berkata lirih....

Damailah disana.....

Ku slalu setia tuk tabur bunga  rinduku  


LS_ AIA@ 24 Januari 21

Pagelaran

 “Pagelaran”

Oleh : Dardiri

Kira-kira,

Sejak pukul sembilan,

Terdengar bersahutan,

Kethuk, kenong, kempul, slenthem, gender, gambang, bonang, 

Slompret, angklung, gong, 

Dan kendang tua warisan Mbah Warsi,

Bercengkerama dalam peradaban tersendiri,


Slendro,

Slendro,


Di sini memang kita tidak mengenal sampak dan manyura,

Delapan laki-laki perkasa,

Sepuluh wanita penuh pesona,

Beriringan menuntaskan “pesanan”,

Ya,

Karena hanya pesanan yang bisa memerintahnya dengan seketika,


Kang Wagiman, si tukang slompret itu,

Sudah sejak hari buta memanggul “gadhung mlathi” di kepalanya,

Warsito, Wasis, Gunadi, Karman, Karsiman,

Memegang kendali masing-masing,

Menukar Potrojayan-Ponoragan,

Dengan binal gemulai “gemblak” yang sudah bergeser diperankan Warsinah dan kawan-kawan,

Dan langkah tegap Kelana Sewandana dalam alunan,


Gung,

Gung,

Gung,


Laki-laki berjenggot pamer otot,

Bujang ganong jungkir balik jumpalitan,

Kepala singa dikangkangi wanita,

Burung merak dicabuti bulu-bulunya,

Apa ini yang dinamakan kalap dan kesurupan?,


Gung,

Gung,

Gung,


Masih dalam pagelaran pesanan,


Menari menjadi-jadi,

Binal tak karuan,

Garang bukan kepalang,

Tak ingat makan tak ingin mandi,

Tak memandang batas,

Tak melihat jalan pintas,


Tak diketahui secara pasti,

Siapa menonton siapa?,

Siapa memesan siapa?,


“Pecut Samandiman”


Dlang tak dung,

Gung,

Gung,

Gung,


Pagelaran berhenti,


Dan kita, masih menari,-


(K G P H : 24 Januari 2021)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger