Pages

PORSADIN III FKDT Banyuwangi Resmi Bergulir, Jadi Panggung Lahirnya Santri Berprestasi dan Berkarakter

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Semangat kompetisi, nilai keislaman, dan gairah pembinaan santri berpadu dalam pembukaan Pekan Olahraga dan Seni Antar Madrasah Diniyah Takmiliyah (PORSADIN) Ke-3 Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Banyuwangi, Minggu (28/6/2026). Kegiatan bergengsi yang digelar di Kampus Universitas Islam Cordoba dan Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan itu secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., dengan pengawalan ketat dewan juri dari kalangan akademisi, praktisi Al-Qur’an, dan pegiat sastra.


PORSADIN tahun ini bukan sekadar ajang perlombaan biasa. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi panggung besar bagi para santri Madrasah Diniyah Takmiliyah se-Banyuwangi untuk menunjukkan kemampuan terbaik, mengukir prestasi, sekaligus meneguhkan jati diri sebagai generasi Islam yang tangguh, cerdas, dan berakhlakul karimah.

Dalam sambutannya, Dr. Chaironi Hidayat menegaskan bahwa Madrasah Diniyah Takmiliyah merupakan benteng penting dalam membangun karakter generasi muda. Menurutnya, di tengah derasnya arus perubahan zaman, santri harus memiliki fondasi akhlak yang kokoh, disiplin yang kuat, dan tanggung jawab yang tinggi.

“PORSADIN adalah ruang lahirnya bibit-bibit unggul. Di sini bukan hanya kemampuan yang diuji, tetapi juga mental, sportivitas, dan integritas,” tegasnya.

Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada FKDT Banyuwangi yang dinilai istiqamah menjaga tradisi pembinaan santri melalui kegiatan kompetitif yang sarat nilai edukatif dan spiritual.

Ketua DPC FKDT Banyuwangi, Ahmad Masruhan Hamidi, S.E.I., menegaskan bahwa seluruh cabang lomba berjalan berdasarkan petunjuk teknis yang telah disusun secara matang. Ia memastikan proses penjurian dilakukan secara objektif, transparan, dan profesional demi menghasilkan juara-juara terbaik.

“Setiap peserta dinilai murni berdasarkan kemampuan. Tidak ada ruang bagi subjektivitas. Semua dilakukan dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Untuk menjaga marwah dan kualitas kompetisi, panitia menghadirkan dewan hakim berkompeten. Pada cabang Al-Qur’an, penilaian dilakukan oleh Hj. Eva Suudah, S.Ag., Pengawas RA sekaligus Pembina LPTQ Banyuwangi, bersama Moh. Fauzan Anshori, S.H.I., M.M., Penghulu KUA Kecamatan Srono dan pengurus LKKNU Banyuwangi.


Sementara pada cabang Puisi Islami, dewan juri diperkuat oleh Syafaat, S.H., M.H.I., Ketua Lentera Sastra Banyuwangi dan pengurus Dewan Kesenian Belambangan, didampingi Siti Elok Faiqoh, jawara Liga Puisi Jawa Pos Radar Banyuwangi 2023, serta Firman Yunus, S.Pd., guru dan pegiat sastra dari SD Islam Darussalam Blokagung.

Dalam penilaian puisi, para juri menitikberatkan pada kekuatan penghayatan, ketepatan artikulasi, intonasi, ekspresi, penampilan, hingga adab peserta—menjadikan lomba ini bukan hanya soal suara, tetapi juga soal jiwa.

Mengusung tema “Berkhidmah Bersama Madrasah Diniyah Membangun Karakter Bangsa”, PORSADIN III mempertandingkan tujuh cabang lomba, yaitu Tahfidz Juz Amma, Pidato Bahasa Indonesia, Pidato Bahasa Arab, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Murottal wal Imla’, Puisi Islami, dan Adzan.

Turut hadir mewakili Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Hj. Dr. Lina Kamalin, M.Pd., selaku Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat. Kehadirannya menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap penguatan pendidikan keagamaan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang unggul.

Melalui pelaksanaan yang tertib dan penuh semangat sportivitas, PORSADIN III FKDT Banyuwangi diharapkan menjadi kawah candradimuka lahirnya generasi santri berprestasi yang siap mengharumkan nama Banyuwangi di tingkat Provinsi Jawa Timur. Lebih dari itu, ajang ini menjadi bukti bahwa Madrasah Diniyah Takmiliyah tetap kokoh sebagai pilar pembentuk generasi berilmu, berakhlak, dan siap menjawab tantangan zaman. (elk)

LDNU PCNU Banyuwangi Dikukuhkan, Siapkan Dakwah Digital dan Cetak 100 Da'i Muda

Banyuwangi – Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PCNU Banyuwangi resmi dikukuhkan di Pondok Pesantren Kubah Hijau, Donosuko, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Ahad (28/6/2026). Pengukuhan tersebut menjadi momentum dimulainya kepengurusan baru yang mengusung semangat transformasi dakwah berbasis digital serta target mencetak 100 da'i muda dalam satu semester.

Ketua LDNU PCNU Banyuwangi, Nurul Anwar, menyampaikan bahwa pengukuhan ini menjadi awal dari pelaksanaan amanah organisasi untuk memperkuat dakwah Ahlussunnah wal Jamaah di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, LDNU telah menyiapkan sejumlah program strategis agar para dai mampu menjawab tantangan dakwah di era digital.

"Kami telah menyiapkan berbagai program yang progresif. Perkembangan algoritma media digital menuntut para dai mampu beradaptasi sehingga dakwah NU tetap hadir dan memberikan pencerahan di ruang-ruang digital," ujarnya.

Acara dihadiri jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi dari unsur Syuriah, Tanfidziyah, dan Sekretariat. Rombongan PCNU dipimpin Katib Syuriah KH Abdul Qosim bersama Sekretaris PCNU Banyuwangi H. Moh. Bisri Musthofa.

Dalam arahannya, H. Moh. Bisri Musthofa meminta pengurus yang baru dikukuhkan segera melaksanakan rapat kerja dengan berpedoman pada amanat Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab). Ia juga menargetkan agar dalam satu semester LDNU mampu melahirkan 100 da'i muda yang siap berdakwah di tengah masyarakat, baik melalui mimbar keagamaan maupun media digital.

"Sudah saatnya dakwah memanfaatkan teknologi secara optimal. Dakwah hybrid menjadi kebutuhan agar pesan-pesan keislaman dapat menjangkau masyarakat tradisional maupun masyarakat digital," katanya.

Sementara itu, Wakil Rais Syuriah PCNU Banyuwangi KH Mukhlis Ali, yang mewakili Rais Syuriah, menyampaikan pesan kepemimpinan dengan mengutip hadis Nabi SAW:

 سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

"Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi kaumnya."

Menurutnya, LDNU harus menjadi lembaga yang melayani umat melalui dakwah yang menghadirkan solusi sekaligus menyosialisasikan berbagai program strategis PCNU Banyuwangi, mulai dari penguatan ekonomi umat, LAZISNU, kaderisasi, pendidikan, hingga pelayanan sosial.

Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat. Susunan pengurus dibacakan oleh Wakil Ketua PCNU Banyuwangi H. Guntur Al Badri, kemudian dilanjutkan dengan pembaiatan oleh Gus Riza Azizy.

Turut hadir Camat Blimbingsari, jajaran badan otonom NU, di antaranya GP Ansor, Muslimat NU, dan Fatayat NU Kecamatan Blimbingsari, serta Pengasuh Pondok Pesantren Darussholah Gumirih KH Nur Fauzi bersama para kiai dan tokoh masyarakat.

Pengukuhan ini diharapkan menjadi pijakan bagi LDNU PCNU Banyuwangi untuk memperkuat peran dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus menyiapkan kader-kader da'i muda yang siap mengabdi kepada umat di berbagai ruang kehidupan, termasuk ruang digital.(KAF)

Balap Unik Angkut Gabah Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80 di Banyuwangi

BANYUWANGI – Perayaan Hari Bhayangkara ke-80 di Banyuwangi dikemas dengan cara yang berbeda. Polresta Banyuwangi menghadirkan Championship Motocross Manol Gabah Kapolresta Cup II 2026, sebuah ajang balap motor yang memadukan olahraga ekstrem dengan kearifan lokal masyarakat pedesaan.


Kejuaraan yang berlangsung pada 27–28 Juni 2026 di Sirkuit Lebak Djinontro Rejeng, Desa Parangharjo, Kecamatan Songgon, menghadirkan tantangan yang tidak biasa. Para pembalap tidak hanya dituntut menaklukkan lintasan tanah, tetapi juga harus membawa karung gabah di atas sepeda motor hingga mencapai garis finis.

Konsep tersebut terinspirasi dari aktivitas para petani Banyuwangi yang sehari-hari mengangkut hasil panen menggunakan sepeda motor. Tantangan menjaga keseimbangan antara kecepatan, pengendalian kendaraan, dan memastikan karung gabah tetap berada di atas motor menjadi daya tarik utama kejuaraan ini.

Kasat Binmas Polresta Banyuwangi, Kompol Basori Alwi, mewakili Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol. Rofiq Ripto Himawan, mengatakan kejuaraan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus upaya mendekatkan institusi Polri dengan masyarakat.

Menurutnya, olahraga otomotif dapat menjadi media yang efektif untuk membangun kebersamaan sekaligus mengangkat potensi budaya lokal agar lebih dikenal masyarakat luas.

"Manol Gabah bukan sekadar perlombaan motocross. Kegiatan ini mengangkat kehidupan masyarakat tani Banyuwangi dan dikemas menjadi tontonan yang menarik sekaligus menghibur," ujarnya.

Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, ajang tersebut juga diharapkan menjadi wadah pembinaan atlet otomotif daerah. Melalui kompetisi ini, para crosser muda memiliki kesempatan mengasah kemampuan sekaligus menunjukkan prestasi untuk bersaing pada level yang lebih tinggi.

Basori menambahkan, Polri ingin terus menghadirkan kegiatan positif yang mampu melibatkan berbagai elemen masyarakat. Menurutnya, ruang-ruang kreatif seperti kejuaraan motocross dapat menjadi sarana mempererat hubungan antara aparat kepolisian dengan komunitas, sekaligus mendukung terciptanya situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif.

Kejuaraan Motocross Manol Gabah Kapolresta Cup II pun menjadi salah satu agenda yang menyita perhatian masyarakat Banyuwangi. Selain menyuguhkan aksi para pembalap di lintasan, konsep balapan yang mengangkat identitas daerah menjadi nilai tambah yang membedakannya dari kejuaraan motocross pada umumnya.

Dengan memadukan olahraga, budaya, dan semangat kebersamaan, Polresta Banyuwangi berharap peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, mendukung pembinaan olahraga otomotif, serta memperkenalkan kekayaan budaya Banyuwangi kepada publik yang lebih luas. (*)

SMK Minhajut Thullab Jadi Tuan Rumah FGD Kemandirian Ekonomi Pesantren, Perkuat Sinergi Dunia Pendidikan dan Pemberdayaan Umat

BANYUWANGI – SMK Pondok Pesantren Minhajut Thullab Muncar menjadi tuan rumah pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) dan Sosialisasi Kick Off Tahap II Program Pendampingan Kemandirian Ekonomi Pesantren Berbasis Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) Komoditas Perikanan Tahun 2026, Jumat (26/6/2026).

Kegiatan yang merupakan kolaborasi Bank Indonesia, Universitas Brawijaya, dan Pondok Pesantren Fairul Karim tersebut dihadiri Rais Syuriah PCNU Banyuwangi sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Minhajut Thullab, perwakilan Bank Indonesia, tim Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya, unsur OPD, mitra program, serta Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PCNU Banyuwangi.

Dipilihnya SMK Minhajut Thullab sebagai lokasi kegiatan menjadi bukti bahwa lembaga pendidikan vokasi di lingkungan pesantren memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Selain mencetak lulusan yang kompeten, SMK juga diarahkan menjadi ruang tumbuh inovasi dan kewirausahaan yang berpijak pada kebutuhan masyarakat.

Dalam sambutannya, Rais Syuriah PCNU Banyuwangi menyampaikan bahwa pesantren beserta seluruh lembaga pendidikannya harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman. Menurut beliau, pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu melahirkan generasi berilmu, berakhlak, sekaligus memiliki keterampilan untuk membangun kemandirian ekonomi.

Beliau berharap keberadaan SMK Minhajut Thullab tidak hanya menjadi tempat belajar para santri dan siswa, tetapi juga menjadi pusat pengembangan teknologi tepat guna, pelatihan, serta lahirnya unit-unit usaha produktif yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Sementara itu, Ketua LPNU Banyuwangi, Syafroni, yang hadir bersama Sekretaris LPNU Hamid, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut di lingkungan SMK Minhajut Thullab. Menurutnya, program pendampingan ekonomi pesantren sangat sejalan dengan visi LPNU Banyuwangi dalam membangun ekosistem ekonomi warga Nahdliyin.

Ia menegaskan bahwa LPNU Banyuwangi siap membangun kolaborasi dengan pesantren, dunia pendidikan, perguruan tinggi, dan Bank Indonesia dalam menyukseskan Gerakan Ekonomi Masyarakat Nahdlatul Ulama (GEMA NU). Sinergi tersebut diharapkan mampu memperluas jejaring usaha pesantren sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi warga NU.

Selama kegiatan, peserta memperoleh pemaparan mengenai arah kebijakan program dari Bank Indonesia, perkembangan pendampingan oleh Universitas Brawijaya, presentasi potensi usaha pesantren, hingga diskusi mengenai strategi pengembangan komoditas perikanan sebagai salah satu sektor unggulan Banyuwangi.

Bagi SMK Minhajut Thullab, forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran sekolah vokasi pesantren sebagai jembatan antara dunia pendidikan, riset, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui kolaborasi yang terus dibangun, SMK Minhajut Thullab diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan mengembangkan usaha berbasis potensi daerah serta nilai-nilai kepesantrenan.(HKL)

Gelar Acara di Pendopo Kecamatan Tegalsari, Forum Banyuwangi Sehat Sosialisasikan Isbat Nikah hingga Kesehatan Mental Anak

BANYUWANGI – Forum Banyuwangi Sehat menggelar kegiatan Penguatan Monitoring & Evaluasi Kelembagaan Forum Komunikasi Kecamatan Sehat di Pendopo Kecamatan Tegalsari pada Rabu, 24 Juni 2026. Forum ini diselenggarakan sebagai langkah nyata dalam mewujudkan masyarakat yang sehat secara menyeluruh, mulai dari aspek legalitas hukum keluarga, kesehatan fisik lingkungan, hingga pemenuhan kesehatan psikis anak.

Kegiatan ini mendapat respon positif dan dukungan penuh dari Pemerintah Kecamatan Tegalsari. Camat Tegalsari, Nanang Edy Mursidi, S.IP., dalam tanggapannya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas sinergi yang dibangun oleh Forum Banyuwangi Sehat, KUA, dan LKKNU. Ia menegaskan bahwa pihak kecamatan siap mengawal jalannya program-program yang diluncurkan, terutama terkait kemudahan akses administrasi bagi warga.

"Kami sangat mendukung penuh kegiatan sosialisasi ini. Terkait isbat nikah terpadu, kami mengimbau kepada seluruh kepala desa di wilayah Tegalsari untuk aktif mendata warganya. Legalitas hukum pernikahan dan kesehatan keluarga, baik fisik maupun mental, adalah fondasi utama bagi kemajuan masyarakat di Kecamatan Tegalsari," ujar Nanang Edy Mursidi.

Dalam kesempatan yang sama, Dalilatus Sa'adah, Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi sekaligus Penyuluh Agama Islam fungsional KUA Gambiran, hadir sebagai narasumber untuk mensosialisasikan program Isbat Nikah Terpadu. Ia mengimbau warga di wilayah Kabupaten Banyuwangi yang pernikahannya belum tercatat secara resmi agar segera mendaftarkan diri melalui pihak desa setempat. Dalilatus menekankan bahwa status "kawin tidak tercatat" di Kartu Keluarga (KK) dapat memicu kendala administrasi bagi anak di masa depan, terutama terkait keabsahan wali nikah secara hukum negara.

Melengkapi pembahasan kesejahteraan keluarga, Sekretaris Forum Banyuwangi Sehat, Dr. Nur Anim Jauhariyah, memberikan pemaparan komprehensif mengenai pentingnya menjaga kesehatan lingkungan. Dr. Anim mengingatkan masyarakat untuk konsisten menjaga kebersihan wilayah sekitar guna mencegah berbagai potensi penyakit.

Lebih lanjut, Dr. Anim juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mental anak. Menurutnya, kecamatan yang sehat tidak hanya dinilai dari kebersihan fisiknya, tetapi juga dari lingkungan keluarga yang harmonis dan mendukung tumbuh kembang psikologis anak secara positif, sehingga anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang tangguh.

Acara yang diinisiasi oleh Forum Banyuwangi Sehat ini dihadiri langsung oleh Kepala KUA Tegalsari, M. Hasan. Mayoritas audiens yang hadir didominasi oleh ibu-ibu, yang dinilai memiliki peran sentral sebagai motor penggerak dalam menjaga kebersihan lingkungan, mendampingi kesehatan mental anak, sekaligus memastikan legalitas administrasi keluarga terpenuhi. (dll)

RMI NU Banyuwangi Gelar Sapa Pesantren di PP Al Munawiri Sempu



BANYUWANGI – Pengurus Cabang Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Banyuwangi menggelar kegiatan Sapa Pesantren di Pondok Pesantren Al Munawiri, Dusun Mangli, Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi, Senin (22/6/2026) malam. Kegiatan ini menjadi bagian dari program penguatan silaturahmi dan pengabdian masyarakat yang melibatkan pesantren, warga, serta jajaran Nahdlatul Ulama.

Rangkaian kegiatan diawali dengan layanan pengobatan gratis bagi masyarakat sekitar. Selanjutnya, para santri mengikuti lomba memasak yang berlangsung meriah dan penuh semangat. Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan seremoni Sapa Pesantren yang dihadiri pengurus NU, tokoh agama, pengasuh pesantren, santri, dan masyarakat.

Mewakili PCNU Banyuwangi, hadir Wakil Ketua PCNU Banyuwangi H. Guntur Albadri. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan PCNU terhadap upaya penguatan peran pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Ketua PC RMI NU Banyuwangi, Dr. H. Ahmad Munib Syafaat, Lc., M.E.I., menyampaikan bahwa program Sapa Pesantren merupakan sarana mempererat hubungan antar-pesantren sekaligus memperkuat sinergi antara pesantren dan masyarakat dalam berbagai kegiatan kemaslahatan.

Pada kesempatan tersebut, PCNU Banyuwangi menyerahkan bantuan sebanyak tujuh eksemplar Al-Qur'an kepada Pondok Pesantren Al Munawiri. Bantuan tersebut diterima oleh pihak pesantren sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kegiatan pembelajaran Al-Qur'an dan pendidikan keagamaan di lingkungan pesantren.

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban tersebut juga menjadi media untuk mengenalkan berbagai program kemasyarakatan yang dapat dikembangkan secara bersama antara pesantren dan warga sekitar.

Melalui kegiatan Sapa Pesantren, RMI NU Banyuwangi berharap terjalin kolaborasi yang semakin kuat antara pesantren, masyarakat, dan jam'iyah Nahdlatul Ulama sehingga pesantren dapat terus hadir memberikan manfaat nyata bagi kehidupan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan.(HKL)

LKKNU Banyuwangi Bangun Sinergi dengan PKK Genteng, Perluas Edukasi Program Isbat Nikah Terpadu

BANYUWANGI – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya legalitas perkawinan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas lembaga. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi menjalin sinergi dengan Tim Penggerak PKK dan Dharma Wanita Kecamatan Genteng dalam kegiatan sosialisasi serta koordinasi Program Isbat Nikah Terpadu yang berlangsung di Aula Kecamatan Genteng, Selasa (23/6/2026).

Kegiatan tersebut dipimpin Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, serta diikuti Ketua TP PKK Kecamatan Genteng bersama jajaran pengurus PKK dan Dharma Wanita. Pertemuan berlangsung dalam suasana dialogis dengan semangat memperkuat kerja sama untuk memperluas akses pelayanan hukum bagi masyarakat.

Dalam pemaparannya, Dalilatus Saadah menjelaskan bahwa Program Isbat Nikah Terpadu merupakan solusi bagi pasangan suami istri yang telah melangsungkan pernikahan menurut syariat Islam, namun belum memiliki pengakuan hukum melalui pencatatan negara. Program ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh penetapan isbat nikah sekaligus melengkapi dokumen administrasi kependudukan secara terpadu.

Ia menambahkan, keberhasilan program tersebut tidak dapat dilepaskan dari sinergi berbagai pihak. LKKNU Banyuwangi bekerja sama dengan Pengadilan Agama, Kantor Urusan Agama (KUA), Pemerintah Kecamatan Genteng, serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) guna menghadirkan layanan yang lebih mudah, cepat, dan terintegrasi bagi masyarakat.

Menurutnya, peran organisasi perempuan sangat strategis dalam menyampaikan informasi kepada keluarga hingga tingkat desa. Karena itu, keterlibatan PKK dan Dharma Wanita diharapkan mampu memperluas jangkauan sosialisasi sehingga semakin banyak pasangan yang memperoleh kepastian hukum atas perkawinannya.

Ketua TP PKK Kecamatan Genteng Ny. Vita Dwi Susanti, S.Si., M.M. menyampaikan apresiasi atas inisiatif LKKNU Banyuwangi dalam menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Pihaknya menyatakan kesiapan untuk menjadi mitra dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pencatatan perkawinan sebagai bagian dari perlindungan hukum terhadap keluarga.

"Program ini memberikan manfaat besar karena tidak hanya menghadirkan kepastian hukum bagi pasangan suami istri, tetapi juga mendukung tertib administrasi kependudukan. Kami siap bersinergi agar informasi mengenai Isbat Nikah Terpadu dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat desa," ungkapnya.

Melalui kolaborasi antara LKKNU Banyuwangi, pemerintah, serta organisasi kemasyarakatan, Program Isbat Nikah Terpadu diharapkan semakin efektif menjangkau keluarga yang belum memiliki dokumen perkawinan yang sah secara hukum. Sinergi tersebut menjadi langkah nyata dalam menghadirkan perlindungan hukum, ketertiban administrasi, serta penguatan ketahanan keluarga di Kabupaten Banyuwangi. (dll)

LAZISNU PCNU Banyuwangi Jajaki Kerja Sama Filantropi dengan Mandiri Taspen



BANYUWANGI – LAZISNU PCNU Banyuwangi mulai menjajaki peluang kerja sama dengan Mandiri Taspen Banyuwangi dalam penguatan program filantropi dan kepedulian sosial bagi masyarakat.

Langkah tersebut diawali dengan silaturahmi dan diskusi antara Ketua  LAZISNU PCNU Banyuwangi, Rahmat, dengan jajaran Mandiri Taspen Banyuwangi. Dalam pertemuan tersebut dibahas potensi kolaborasi pemanfaatan jaringan nasabah pensiunan yang selama ini menjadi salah satu segmen utama layanan Mandiri Taspen.

Diketahui, Mandiri Taspen Banyuwangi saat ini melayani hampir 3.000 nasabah pensiunan yang berasal dari ASN pemerintah provinsi maupun kabupaten, anggota TNI, Polri, hingga penerima manfaat Asabri. Jumlah tersebut terus bertambah sekitar 10 hingga 20 nasabah baru setiap bulannya.

Melihat besarnya potensi tersebut, LAZISNU PCNU Banyuwangi menawarkan kerja sama dalam bentuk penyediaan sarana donasi melalui QRIS yang dapat dimanfaatkan para pensiunan untuk berpartisipasi dalam berbagai program sosial, kemanusiaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan LAZISNU.

Ketua LAZISNU PCNU Banyuwangi, Rahmat, menyampaikan bahwa kolaborasi ini diharapkan dapat membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi para pensiunan untuk ikut berkontribusi dalam kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Melalui fasilitas QRIS yang ditempatkan di Mandiri Taspen, kami ingin memberikan kemudahan bagi para pensiunan yang ingin berbagi dan menyalurkan sebagian rezekinya untuk program-program kemaslahatan umat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Mandiri Taspen Banyuwangi, Dedy Herdiyanto, menyambut positif inisiatif yang ditawarkan LAZISNU. Menurutnya, kerja sama tersebut sejalan dengan semangat kepedulian sosial yang selama ini ingin dikembangkan oleh Mandiri Taspen.

“Kami sangat antusias dengan peluang kerja sama ini. Selama ini kami memiliki berbagai program sosial, namun manfaatnya belum sepenuhnya menjangkau masyarakat secara luas. Dengan kolaborasi bersama LAZISNU, kami berharap program sosial dapat lebih terarah dan memberikan dampak yang nyata,” kata Dedy.

Penjajakan kerja sama ini diharapkan menjadi langkah awal sinergi antara lembaga keuangan dan lembaga filantropi Nahdlatul Ulama dalam memperkuat budaya berbagi serta meningkatkan manfaat sosial bagi masyarakat Banyuwangi. (HKL)

Jamaah Haji KBIH Sabilillah Banyuwangi Dijadwalkan Tiba Malam Ini, Transit di Watudodol Sebelum Pulang

 

BANYUWANGI – Kepulangan jamaah haji asal Banyuwangi dari Tanah Suci terus berlangsung melalui Debarkasi Surabaya. Pada Selasa (23/6/2026), jamaah yang tergabung dalam Kloter 83, 84, dan 85 dijadwalkan kembali ke Banyuwangi secara bertahap sesuai jadwal kedatangan masing-masing.

Kloter 83 telah lebih dahulu diberangkatkan menuju Banyuwangi setelah menyelesaikan proses penerimaan di Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Sementara jamaah Kloter 84 yang telah mendarat diperkirakan meninggalkan Sukolilo sekitar pukul 12.00 WIB.

Adapun jamaah Kloter 85 dijadwalkan mendarat sekitar pukul 12.00 WIB dan diperkirakan dapat melanjutkan perjalanan dari Asrama Haji Sukolilo pada pukul 14.30 WIB setelah seluruh proses debarkasi selesai dilaksanakan.

Menurut Humas KBIH Sabilillah Banyuwangi, H. Ahmad Musytaha, seluruh jamaah binaan KBIH Sabilillah tahun ini tergabung dalam Kloter 85. Karena itu, kedatangan rombongan KBIH Sabilillah diperkirakan berlangsung pada malam hari.

"Seluruh jamaah KBIH Sabilillah berada di Kloter 85. Insyaallah setelah tiba di Banyuwangi nanti, jamaah akan transit terlebih dahulu di Hotel Baru Watudodol sebelum kembali ke rumah masing-masing," ujar H. Ahmad Musytaha.

Ia menjelaskan, pola transit tersebut telah menjadi bagian dari mekanisme penyambutan jamaah KBIH Sabilillah sebagaimana yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Selain menjadi tempat istirahat setelah perjalanan panjang, lokasi tersebut juga menjadi titik temu antara jamaah dengan keluarga yang menjemput.

Dengan estimasi perjalanan dari Surabaya menuju Banyuwangi, rombongan Kloter 85 diperkirakan tiba antara pukul 22.00 hingga menjelang tengah malam. Keluarga jamaah pun mulai bersiap menyambut kepulangan para tamu Allah yang telah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

Kepulangan jamaah haji ini menjadi momen penuh syukur bagi keluarga dan masyarakat Banyuwangi. Harapannya, seluruh jamaah kembali dalam keadaan sehat serta memperoleh predikat haji mabrur yang membawa keberkahan bagi keluarga, masyarakat, dan daerahnya.(HKL)

Ketua LKKNU Paparkan Program Isbat Nikah di Hadapan Kepala KUA se-Banyuwangi, Perkuat Sinergi GAS Nikah

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Banyuwangi terus memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencatatan perkawinan. Hal tersebut ditandai dengan pemaparan program Isbat Nikah Terpadu oleh Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi di hadapan seluruh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) se-Kabupaten Banyuwangi dalam kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai II Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Senin (22/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Ketua LKKNU menjelaskan bahwa program Isbat Nikah Terpadu merupakan ikhtiar bersama untuk memberikan kepastian hukum kepada pasangan suami istri yang telah menikah secara agama, namun belum memiliki pencatatan perkawinan secara resmi. Melalui program ini, masyarakat tidak hanya memperoleh penetapan isbat nikah dari Pengadilan Agama, tetapi juga mendapatkan buku nikah serta dokumen kependudukan yang diperlukan sebagai bentuk perlindungan hak-hak keluarga.

Menurutnya, masih terdapat masyarakat yang menghadapi berbagai kendala sehingga perkawinannya belum tercatat. Kondisi tersebut berdampak pada sulitnya memperoleh dokumen kependudukan dan berbagai hak keperdataan, terutama bagi anak-anak. Karena itu, program Isbat Nikah Terpadu diharapkan menjadi solusi yang memudahkan masyarakat mendapatkan legalitas perkawinan sekaligus tertib administrasi.

Program tersebut merupakan hasil sinergi antara LKKNU PCNU Banyuwangi, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Pengadilan Agama Banyuwangi, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Banyuwangi, serta Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Banyuwangi. Kolaborasi lintas lembaga ini menjadi bentuk komitmen bersama dalam memperluas akses pelayanan hukum keluarga dan administrasi kependudukan bagi masyarakat.

Mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam (Kasi Bimas Islam) menyampaikan apresiasi atas sinergi yang telah dibangun bersama LKKNU dan seluruh mitra terkait. Menurutnya, kolaborasi antarlembaga menjadi kunci dalam menghadirkan pelayanan publik yang lebih mudah, cepat, dan tepat sasaran.

Dalam kesempatan itu, ia juga memperkenalkan program Gerakan Sadar Pencatatan Nikah (GAS Nikah) yang saat ini tengah dikembangkan oleh Kementerian Agama sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat agar setiap perkawinan dicatat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

"GAS Nikah diharapkan mampu meminimalisir terjadinya perkawinan yang tidak tercatat, sehingga hak-hak hukum suami, istri, dan anak dapat terlindungi dengan baik," ujarnya.

Forum yang dihadiri seluruh Kepala KUA se-Kabupaten Banyuwangi tersebut juga menjadi ajang menyamakan persepsi dalam mendukung pelaksanaan Isbat Nikah Terpadu di masing-masing kecamatan. Peran KUA dinilai sangat strategis sebagai garda terdepan pelayanan keagamaan sekaligus mitra dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pencatatan perkawinan sejak awal.

Melalui sinergi yang semakin erat antara pemerintah, lembaga keagamaan, lembaga peradilan, serta mitra pelayanan publik lainnya, diharapkan semakin banyak keluarga yang memperoleh kepastian hukum atas perkawinannya. Selain memberikan perlindungan bagi suami dan istri, tertib administrasi perkawinan juga menjadi fondasi penting dalam menjamin hak-hak anak serta mewujudkan keluarga yang sakinah, terlindungi, dan sejahtera. (syaf)

PGRI dan Pergunu Banyuwangi Matangkan Kolaborasi Program Guru Mahir Coding dan AI


BANYUWANGI – Transformasi pendidikan berbasis teknologi menjadi perhatian serius kalangan pendidik di Banyuwangi. Hal tersebut tercermin dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar PGRI Banyuwangi bersama unsur Pergunu Banyuwangi pada Senin (22/6/2026) di Warung Lumpang, Kecamatan Giri.

FGD dipimpin Ketua PGRI Banyuwangi, H. Shodik, sementara Ketua PC Pergunu Banyuwangi, H. Wijanarko, mengikuti jalannya diskusi melalui sambungan video call karena sedang menjalankan tugas di luar kota. Adapun kehadiran Pergunu dalam forum tersebut diwakili oleh jajaran Pengurus PAC Pergunu Kota Banyuwangi.

Dalam pertemuan itu, kedua organisasi membahas peluang kolaborasi untuk mendukung program nasional Gerakan 1 Juta Guru Mahir Coding dan AI. Banyuwangi dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu daerah pelopor dalam peningkatan kompetensi guru di bidang teknologi digital dan kecerdasan buatan.

H. Shodik menegaskan bahwa penguasaan teknologi, khususnya coding dan AI, menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari dalam dunia pendidikan modern. Guru dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan sekaligus memanfaatkan teknologi sebagai sarana meningkatkan kualitas pembelajaran.

Sementara itu, H. Wijanarko menyampaikan bahwa Pergunu siap mengambil bagian dalam agenda besar tersebut. Menurutnya, sinergi antarorganisasi profesi guru akan mempercepat pemerataan kompetensi digital di kalangan pendidik, baik di sekolah maupun madrasah.

Dari hasil diskusi tersebut, muncul proyeksi ambisius untuk melatih sekitar 5.000 guru Banyuwangi setiap tahun dalam bidang coding dan AI. Program yang dirancang tidak hanya berupa pelatihan dasar, tetapi juga pendampingan penerapan teknologi dalam penyusunan perangkat ajar, pembuatan media pembelajaran, pengelolaan kelas digital, hingga pemanfaatan AI untuk mendukung proses belajar mengajar.

Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem pendidikan yang lebih inovatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Dengan semakin banyak guru yang menguasai teknologi digital, Banyuwangi diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam menyiapkan generasi muda yang unggul, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (HKL)

Buka Hari Pertama PMBM, 7 Calon Peserta Didik Daftar di MA Baiturrahman Islamic Centre Banyuwangi



BANYUWANGI – Hari pertama pelaksanaan Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) Tahun Pelajaran 2026/2027 di MA Baiturrahman Islamic Centre Banyuwangi pada Senin (22/6/2026) mencatat sebanyak tujuh calon peserta didik telah resmi mendaftarkan diri.

Capaian tersebut menjadi awal yang cukup baik bagi madrasah aliyah swasta yang berada di kawasan perkotaan Banyuwangi tersebut. Pihak madrasah mengaku telah menyesuaikan waktu pembukaan pendaftaran dengan jadwal liburan sekolah agar dapat menjangkau lebih banyak calon peserta didik.

Wakil Kepala MA Baiturrahman Islamic Centre Banyuwangi, Jazilah Munawwarah, menjelaskan bahwa persaingan lembaga pendidikan di wilayah perkotaan cukup ketat, baik dari sekolah umum maupun berbasis keagamaan. Karena itu, madrasah terus melakukan sosialisasi secara intensif sebelum masa pendaftaran dibuka.

“Kami menyesuaikan jadwal pembukaan PMBM dengan masa liburan sekolah. Sebelum pendaftaran dibuka, kami juga terus melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah tingkat bawah agar masyarakat semakin mengenal program pendidikan yang kami tawarkan,” ujarnya.

Menurutnya, MA Baiturrahman Islamic Centre memiliki keunggulan pada layanan pendidikan yang memadukan pembelajaran formal dengan pembiasaan ala pesantren. Selain itu, madrasah juga menerapkan pendampingan yang lebih intensif kepada peserta didik, terutama dalam pembinaan akhlak dan ibadah.

“Kami ingin memastikan setiap siswa mendapatkan perhatian yang cukup. Pendampingan dilakukan secara maksimal sehingga perkembangan karakter dan peribadahan siswa dapat terus terpantau,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala MA Baiturrahman Islamic Centre Banyuwangi, Istupik, menegaskan bahwa pihaknya tidak berorientasi pada jumlah peserta didik yang besar. Tahun ini madrasah hanya membuka satu rombongan belajar dengan kuota 30 siswa.

“Kami membatasi jumlah siswa baru agar proses pembinaan, pengawasan, dan pendidikan karakter dapat berjalan lebih optimal. Kualitas layanan pendidikan menjadi prioritas utama kami,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar ke depan MA Baiturrahman Islamic Centre yang berada di bawah naungan Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi dapat berkembang lebih luas, termasuk melalui rencana pendirian pondok pesantren di kawasan perkotaan.

Bagi masyarakat yang masih mencari sekolah lanjutan tingkat menengah atas, pendaftaran di MA Baiturrahman Islamic Centre Banyuwangi masih terbuka. Calon peserta didik dapat melakukan pendaftaran secara langsung melalui panitia maupun secara daring melalui website resmi madrasah, yaitu atau melalui formulir pendaftaran online di : bit.ly/daftar-mabic

Untuk memudahkan proses pendaftaran, panitia juga menyediakan layanan pemindaian barcode yang dapat diakses oleh calon peserta didik maupun orang tua. Dengan berbagai kemudahan tersebut, madrasah berharap semakin banyak siswa yang bergabung untuk mendapatkan pendidikan yang unggul dalam akademik, akhlak, dan keagamaan. (HKL)

SNNU Banyuwangi Perkuat Konsolidasi Organisasi Nelayan



BANYUWANGI – Pimpinan Cabang (PC) Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Kabupaten Banyuwangi menggelar kegiatan Sinergi dan Penguatan Kelembagaan Bersama PW SNNU Jawa Timur secara daring, Ahad (21/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat organisasi sekaligus meningkatkan peran SNNU dalam mendampingi masyarakat pesisir dan nelayan.

Kegiatan tersebut diikuti jajaran pengurus PW SNNU Jawa Timur, PC SNNU Banyuwangi, serta pengurus PCNU Banyuwangi. Hadir mewakili Ketua PCNU Banyuwangi, Sekretaris PCNU Banyuwangi H. Moh. Bisri Musthofa, Ketua PW SNNU Jawa Timur H. Kuntjoro Basuki Dhiya’uddin, Sekretaris PW SNNU Jawa Timur Dr. Moch. Shofwan, Ketua PC SNNU Banyuwangi Ir. Hardi Pitoyo, dan seluruh jajaran pengurus.

Dalam sambutannya, H. Moh. Bisri Musthofa mengapresiasi langkah PC SNNU Banyuwangi yang terus membangun komunikasi dan sinergi dengan pengurus wilayah. Menurutnya, keberadaan SNNU memiliki peran penting dalam mendukung program-program PCNU Banyuwangi, khususnya yang berkaitan dengan sektor kemaritiman dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

“SNNU Banyuwangi diharapkan mampu menjadi organisasi yang kuat dan aktif mengawal berbagai program kemaslahatan bagi masyarakat nelayan. Potensi kelautan Banyuwangi sangat besar dan membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua PW SNNU Jawa Timur H. Kuntjoro Basuki Dhiya’uddin menyampaikan bahwa Banyuwangi memiliki posisi strategis dalam pengembangan organisasi nelayan NU di Jawa Timur. Dengan potensi perikanan dan kelautan yang dimiliki, Banyuwangi dinilai mampu menjadi salah satu pusat penguatan program pemberdayaan nelayan.

Ia mendorong pengurus SNNU Banyuwangi untuk aktif memetakan persoalan yang dihadapi nelayan dan menyusun program yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat pesisir.

“SNNU harus hadir sebagai wadah perjuangan yang mampu mendampingi nelayan, memperkuat kapasitas mereka, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir,” katanya.

Ketua PC SNNU Banyuwangi Ir. Hardi Pitoyo menegaskan bahwa penguatan kelembagaan menjadi kebutuhan penting agar organisasi dapat bekerja lebih terarah dan profesional. Menurutnya, SNNU tidak hanya berfungsi sebagai organisasi profesi, tetapi juga sebagai sarana perjuangan sosial dan ekonomi bagi warga nelayan.

“Kami berharap arahan dan pendampingan dari PW SNNU Jawa Timur dapat memperkuat kapasitas organisasi sehingga program-program yang dijalankan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, SNNU Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat organisasi, memperluas kolaborasi, serta menghadirkan program pemberdayaan yang berpihak kepada nelayan dan masyarakat pesisir Banyuwangi. (Humas)

Ratusan Ustaz dan Ustazah Banyuwangi Ikuti Training Al-Qur'an Metode Bil Qolam

BANYUWANGI – Sebanyak ratusan ustaz dan ustazah dari berbagai lembaga pendidikan Al-Qur'an di Kabupaten Banyuwangi mengikuti Training Al-Qur'an Metode Bil Qolam yang diselenggarakan di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, Minggu–Senin (21–22/6/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi para pendidik Al-Qur'an dalam menerapkan metode pembelajaran yang sistematis, efektif, dan mudah dipraktikkan.


Pelatihan menghadirkan Wakil Direktur Bil Qolam Pusat Singosari Malang, Ustadz Abdul Qodir, sebagai pemateri utama. Para peserta berasal dari guru Madrasah Diniyah, pengasuh dan pengajar pondok pesantren, guru Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), guru privat Al-Qur'an, hingga masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan pendidikan Al-Qur'an.

Ketua Panitia, H. Moh. Reza Fahlevi Bauzir, S.H., M.M., mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar memperkuat kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan Al-Qur'an sekaligus memperluas penerapan Metode Bil Qolam di Banyuwangi.

"Metode Bil Qolam merupakan metode yang praktis, fleksibel, dan terbuka terhadap pengembangan sesuai karakter lembaga maupun peserta didik. Melalui pelatihan ini kami berharap para guru memiliki standar pembelajaran yang baik sehingga mampu melahirkan generasi Qurani yang membaca Al-Qur'an secara benar, fasih, dan bertartil," ujarnya.

Metode Bil Qolam merupakan metode pembelajaran membaca Al-Qur'an yang dikembangkan oleh KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo, pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Ilmu Al-Qur'an (PIQ) Singosari, Malang. Metode ini dirancang agar dapat diterapkan oleh seluruh kalangan, mulai dari anak usia dini hingga orang dewasa, dengan pendekatan bertahap yang menekankan penguasaan makharijul huruf, tajwid, tartil, serta penggunaan empat nada khas PIQ Singosari.

Selama dua hari pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai lima pilar Bil Qolam, pembelajaran jilid 1 hingga jilid 4, praktik pembelajaran Juz Amma dan Al-Qur'an, serta berbagai perangkat administrasi pembelajaran, seperti jurnal mengajar, daftar hadir, sistem evaluasi, hingga buku prestasi santri.

Dalam paparannya, Ustadz Abdul Qodir menegaskan bahwa keberhasilan penerapan Metode Bil Qolam sangat bergantung pada kualitas pendidik serta konsistensi dalam menjalankan setiap tahapan pembelajaran.

"Target pembelajaran Bil Qolam adalah dalam satu tahun santri mampu menyelesaikan empat jilid dan Juz Amma. Kunci utamanya terletak pada konsistensi guru dalam menerapkan lima pilar Bil Qolam dan melakukan evaluasi secara berkelanjutan," jelasnya.

Pelatihan juga diwarnai sesi diskusi interaktif. Salah seorang peserta, Ustadzah Faridah dari TPQ Hidayatul Muttaqin Sragi, Kecamatan Songgon, membagikan pengalaman menerapkan Metode Bil Qolam selama lebih dari lima tahun. Ia mengungkapkan bahwa tantangan yang masih dihadapi adalah belum terbentuknya kebiasaan sebagian santri untuk mengulang pelajaran di rumah.

Menanggapi hal tersebut, Ustadz Abdul Qodir menjelaskan bahwa karakter dunia anak yang identik dengan bermain menuntut guru untuk mengoptimalkan proses pembelajaran selama berada di kelas.

"Ketika di rumah, anak-anak tentu ingin bermain bersama teman-temannya. Oleh karena itu, penguatan lima pilar Bil Qolam saat proses pembelajaran di kelas menjadi faktor penting dalam mencapai keberhasilan belajar," katanya.

Pengalaman serupa juga disampaikan Ustadz Maifuri, S.Pd., yang telah menerapkan Metode Bil Qolam di Madrasah Diniyah SDN Model Banyuwangi, MTs At-Taufik Sumberejo, serta kelas Al-Qur'an di kawasan Kampung Melayu Banyuwangi. Menurutnya, metode tersebut mampu membentuk santri yang memiliki kemampuan menjadi pendamping atau asisten guru bagi teman-temannya.

"Ada beberapa santri yang sudah mampu membantu mendampingi teman-temannya sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif. Namun demikian, tetap ada santri yang membutuhkan pendampingan khusus sesuai tingkat kemampuannya," ungkapnya.

Sementara itu, peserta lainnya, Ustadz Muhiburrohman, Lc., dari MI Darussalam Kalipuro dan Ustadz Syaifudin dari Pondok Pesantren Ahsanul Muhsinin Panderejo, mengaku memperoleh banyak manfaat dari pelatihan tersebut. Mereka menilai Metode Bil Qolam menawarkan pendekatan pembelajaran yang menarik, terstruktur, dan efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an para santri.

Metode Bil Qolam lahir dari pengalaman panjang KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo dalam mengembangkan pendidikan Al-Qur'an di Indonesia. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh nasional di bidang tilawah Al-Qur'an, pendiri Jam'iyyatul Qurra' wal Huffazh, penggagas Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat nasional maupun internasional, serta dipercaya menjadi dewan hakim MTQ di berbagai negara, termasuk Brunei Darussalam dan Mesir.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu mengimplementasikan Metode Bil Qolam secara optimal di lembaga masing-masing, sehingga kualitas pembelajaran Al-Qur'an semakin meningkat dan mampu melahirkan generasi yang mencintai, memahami, serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.

LKKNU Banyuwangi Perkuat Sinergi Layanan Keluarga, Program Isbat Nikah Terpadu Siap Sasar Ratusan Pasangan

BANYUWANGI – Upaya memberikan kepastian hukum bagi keluarga terus diperkuat oleh Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) PCNU Banyuwangi. Melalui koordinasi lanjutan bersama BAZNAS Banyuwangi, Kementerian Agama, dan Pengadilan Agama Banyuwangi, program Isbat Nikah Terpadu mulai dimatangkan untuk menjangkau ratusan pasangan yang pernikahannya belum tercatat secara resmi.

Pembahasan tersebut berlangsung dalam rapat koordinasi di Ruang Rapat BAZNAS Banyuwangi, Jumat (19/6/2026), sebagai tindak lanjut dari kerja sama antar-lembaga yang telah disepakati beberapa hari sebelumnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua BAZNAS Banyuwangi Dwiyanto beserta jajaran pimpinan, Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi Dalilatus Saadah, Kepala KUA Cluring Gufron Mustofa yang mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi sekaligus Ketua APRI Banyuwangi, Sekretaris Pengadilan Agama Banyuwangi, Dewan Pakar LKKNU Syafaat, serta pengurus LKKNU lainnya.

Ketua BAZNAS Banyuwangi, Dwiyanto, menyampaikan komitmen lembaganya untuk mendukung penuh pelaksanaan program tersebut, khususnya bagi masyarakat yang mengalami keterbatasan ekonomi.

Menurutnya, BAZNAS siap membantu pembiayaan proses isbat nikah bagi pasangan yang memenuhi kriteria mustahik sehingga tidak ada lagi kendala biaya dalam memperoleh legalitas perkawinan.

“Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. BAZNAS siap mengambil peran agar warga kurang mampu tetap dapat mengakses layanan isbat nikah dan memperoleh dokumen hukum yang sah,” ujarnya.

Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menjelaskan bahwa konsep Isbat Nikah Terpadu dirancang untuk menghadirkan layanan yang sederhana dan terintegrasi. Dalam satu rangkaian pelayanan, peserta tidak hanya memperoleh penetapan isbat nikah dari Pengadilan Agama, tetapi juga langsung mendapatkan buku nikah serta pembaruan dokumen kependudukan.

“Melalui pola layanan terpadu, masyarakat tidak perlu berpindah-pindah mengurus dokumen. Seluruh proses dilakukan secara terkoordinasi sehingga lebih efektif dan memberikan kepastian hukum bagi keluarga,” terangnya.

Dari hasil pendataan sementara Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, tercatat sekitar 190 pasangan yang pernikahannya belum tercatat secara resmi. Data tersebut masih akan diverifikasi lebih lanjut dan berpotensi bertambah seiring proses pendataan yang terus berjalan.

Mewakili Kementerian Agama, Gufron Mustofa menegaskan dukungan penuh terhadap program tersebut. Ia menilai kegiatan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencatatan perkawinan.

“Pencatatan nikah bukan hanya persoalan administrasi, tetapi juga menyangkut perlindungan hak-hak keluarga dan anak. Karena itu kami siap bersinergi menyukseskan program ini,” katanya.

Dukungan serupa disampaikan Pengadilan Agama Banyuwangi. Selain menyiapkan mekanisme pelayanan perkara, Pengadilan Agama juga membuka peluang pelaksanaan sidang di luar gedung pada beberapa titik wilayah Banyuwangi agar akses masyarakat terhadap layanan hukum semakin mudah.

Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi, Syafaat, mengapresiasi langkah kolaboratif yang dibangun berbagai pihak. Menurutnya, program tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat yang selama ini belum memiliki kepastian hukum atas status perkawinannya.

Pada tahap awal, LKKNU Banyuwangi memfokuskan layanan bagi sekitar 190 pasangan yang telah masuk dalam data awal. Namun, pendaftaran akan terus dibuka agar masyarakat lain yang memiliki kondisi serupa dapat ikut memperoleh manfaat program tersebut.

Dalilatus Saadah berharap dukungan tidak hanya datang dari lembaga yang terlibat langsung, tetapi juga dari seluruh elemen masyarakat, termasuk badan otonom dan lembaga di lingkungan PCNU Banyuwangi, pemerintah desa, kelurahan, kecamatan, hingga jajaran KUA di seluruh Banyuwangi.

“Ini adalah kerja bersama untuk memastikan masyarakat mendapatkan hak-haknya secara utuh. Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimistis semakin banyak keluarga yang memperoleh legalitas perkawinan dan dokumen kependudukan yang lengkap,” pungkasnya. (HKL)

Rais Syuriah PCNU Banyuwangi Optimistis Lahir Kader-Kader NU Progresif melalui Kaderisasi Berkelanjutan



BANYUWANGI – Semangat kaderisasi yang terus digelorakan PCNU Banyuwangi mendapat perhatian dan dukungan penuh dari jajaran Syuriah. Dalam suasana ramah tamah bersama para kiai, pengurus PCNU Banyuwangi, dan MWCNU Singojuruh menjelang pelaksanaan Pendidikan Dasar-Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PDPKPNU), Rais Syuriah PCNU Banyuwangi KH. Fahrudin Manan tampak penuh optimisme melihat perkembangan kaderisasi yang semakin menggembirakan.

Pada kesempatan tersebut, KH. Fahrudin Manan didampingi jajaran Syuriah PCNU Banyuwangi, di antaranya Katib Syuriah KH. Qosim dan Wakil Katib Syuriah Gus Fikru, yang turut memberikan dukungan terhadap penguatan kaderisasi sebagai pilar utama keberlangsungan organisasi.

Menurut KH. Fahrudin Manan, pelaksanaan kaderisasi yang konsisten mulai menunjukkan hasil dengan munculnya kader-kader NU yang progresif, memiliki pemahaman ke-NU-an yang baik, serta siap menggerakkan organisasi di berbagai tingkatan.

“Alhamdulillah, amanat konferensi dan musyawarah kerja terkait kaderisasi mulai terlaksana dengan baik. Kita melihat semangat generasi muda NU untuk belajar dan berkhidmah semakin besar. Ini modal penting bagi masa depan Nahdlatul Ulama,” ungkapnya.

PDPKPNU yang dilaksanakan pada 19–21 Juni 2026 di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Singolatren, Singojuruh, merupakan Angkatan ke-48 yang diselenggarakan PCNU Banyuwangi. Sebanyak 92 peserta tercatat mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias tinggi.

KH. Fahrudin Manan bersama Ketua PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi juga menegaskan komitmen untuk memperluas gerakan kaderisasi ke seluruh wilayah Banyuwangi. Salah satu langkah yang disepakati adalah penyelenggaraan PDPKPNU secara rutin setiap bulan dengan sistem bergilir di masing-masing MWCNU.

Menurutnya, seluruh MWCNU se-Kabupaten Banyuwangi wajib menyelenggarakan PDPKPNU minimal satu kali selama masa khidmat kepengurusan. Kewajiban tersebut merupakan amanat organisasi sekaligus kebutuhan strategis untuk mencetak kader yang memahami nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah serta mampu menjaga keberlangsungan jam’iyah.

“Kaderisasi adalah jantung organisasi. Tanpa kaderisasi yang berjalan baik, organisasi akan kehilangan energi dan arah perjuangannya. Karena itu, kita harus terus menciptakan kader-kader yang siap melanjutkan perjuangan para muassis NU,” tegasnya.

PCNU Banyuwangi menargetkan dalam satu tahun ke depan dapat melahirkan sedikitnya 1.000 kader baru melalui berbagai program kaderisasi yang terstruktur. Target tersebut diyakini realistis mengingat tingginya antusiasme warga Nahdliyin untuk mengikuti proses pengkaderan.

Dengan dukungan jajaran Syuriah, Tanfidziyah, serta seluruh MWCNU, kaderisasi di Banyuwangi diharapkan menjadi fondasi lahirnya generasi kader NU yang kokoh dalam pemikiran, kuat dalam organisasi, dan siap mengabdi untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan negara. (HKL)

Menegakkan Keadilan, Merawat Kemaslahatan: Keberadaan Leda Al-Dama dalam Penguatan Advokasi LKKNU dalam Menegakkan Hukum dan Kemaslahatan

 Menegakkan Keadilan, Merawat Kemaslahatan: Keberadaan Leda Al-Dama dalam Penguatan Advokasi LKKNU dalam Menegakkan Hukum dan Kemaslahatan

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan..." (QS. An-Nahl: 90).

Ayat tersebut menegaskan bahwa keadilan bukan sekadar konsep yuridis, melainkan perintah ilahiah yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam perspektif Islam, keadilan adalah amanah yang harus ditegakkan tanpa memandang status sosial, ekonomi, maupun kedudukan seseorang. Sementara dalam perspektif konstitusi, keadilan merupakan hak setiap warga negara sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum dan pemerintahan.


Namun, realitas menunjukkan bahwa kesamaan di hadapan hukum belum sepenuhnya menjadi kenyataan. Perempuan, anak, penyandang disabilitas, masyarakat miskin, dan kelompok rentan lainnya masih sering mengalami hambatan dalam memperoleh perlindungan hukum. Tidak sedikit korban kekerasan rumah tangga, kekerasan seksual, penelantaran, maupun konflik keluarga yang memilih diam karena keterbatasan ekonomi, minimnya pengetahuan hukum, serta rasa takut menghadapi proses peradilan.

Padahal, hukum tidak boleh berhenti sebagai kumpulan norma yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan. Hakikat hukum adalah menghadirkan keadilan yang hidup (living justice), memberikan perlindungan kepada yang lemah, memulihkan hak-hak korban, serta menjaga martabat manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah SWT. Sebagaimana kaidah fikih menyatakan, tasharruf al-imam 'ala ar-ra'iyyah manuthun bil mashlahah, bahwa setiap kebijakan dan tindakan harus berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

Atas dasar itulah keberadaan Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) menjadi semakin strategis. Sebagai Lembaga khusus Nahdlatul Ulama yang bergerak dalam penguatan ketahanan keluarga dan perlindungan masyarakat, LKKNU tidak hanya menjalankan fungsi sosial-keagamaan, tetapi juga menjalankan amanah konstitusi melalui pemberian akses terhadap keadilan bagi masyarakat yang membutuhkan. Kehadirannya menjadi jembatan antara nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan sistem hukum nasional yang menjunjung tinggi keadilan dan hak asasi manusia.

Penguatan peran tersebut semakin nyata dengan bergabungnya Siti Hamidah, S.H. yag juga tergabung dalam eBEST LAW FIRM Banyuwangi, yang akrab disapa Mbak Leda, sebagai Pengurus Bidang Kesejahteraan Sosial LKKNU PCNU Kabupaten Banyuwangi periode 2026–2031. Sosok advokat yang selama ini dikenal konsisten mendampingi perempuan, anak, dan masyarakat kurang mampu tersebut membawa warna baru dalam penguatan fungsi advokasi di lingkungan LKKNU.

Kehadiran Mbak Leda bukan sekadar melengkapi struktur organisasi, melainkan memperkuat kapasitas kelembagaan LKKNU dalam memberikan layanan pendampingan hukum yang profesional, humanis, dan berkeadilan. Pengalaman panjangnya sebagai praktisi hukum menjadi modal penting bagi LKKNU untuk menghadirkan advokasi yang tidak hanya berorientasi pada penyelesaian perkara di ruang sidang, tetapi juga pada pemulihan korban, pemberdayaan keluarga, dan perlindungan hak-hak masyarakat yang selama ini sulit menjangkau layanan hukum.

Dalam perspektif hukum modern, keberadaan advokat memiliki fungsi konstitusional sebagai penegak hukum yang sejajar dengan hakim, jaksa, dan kepolisian. Karena itu, sinergi antara kompetensi hukum yang dimiliki Mbak Leda dengan misi dakwah sosial LKKNU menjadi kekuatan baru dalam membangun akses terhadap keadilan (access to justice) bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan. Di sinilah hukum tidak lagi dipahami sebagai alat penghukuman semata, tetapi sebagai instrumen perlindungan dan pemberdayaan.

Semangat tersebut diwujudkan melalui lahirnya Program PELITA HATI NU, sebuah gerakan pendampingan yang berorientasi pada perlindungan perempuan dan anak. PELITA merupakan akronim dari Perempuan Energik Lepas Intimidasi dan Trauma Asal, sedangkan HATI berarti Healing, Advokasi, Traumaless, Independen. Program ini lahir dari kesadaran bahwa korban kekerasan tidak cukup hanya memperoleh putusan pengadilan, tetapi juga membutuhkan ruang aman untuk pulih, memperoleh pendampingan hukum, dukungan psikologis, serta kesempatan membangun kembali kehidupan yang bermartabat.

Pendekatan tersebut sejalan dengan paradigma victim centered justice dan restorative justice yang berkembang dalam sistem hukum Indonesia. Keadilan tidak hanya diukur dari berat-ringannya hukuman terhadap pelaku, tetapi juga dari kemampuan negara dan masyarakat dalam memulihkan hak-hak korban. Hukum yang baik bukan sekadar menghukum, melainkan menghadirkan rasa aman, kepastian, kemanfaatan, dan kemaslahatan.

Dalam pandangan hukum progresif sebagaimana dikemukakan Satjipto Rahardjo, hukum hadir untuk manusia, bukan manusia yang dipaksa tunduk kepada hukum. Pemikiran tersebut selaras dengan prinsip Islam yang menjadikan perlindungan terhadap jiwa (hifz an-nafs), kehormatan (hifz al-'irdh), dan keturunan (hifz an-nasl) sebagai bagian dari tujuan utama syariat (maqashid syariah). Dengan demikian, setiap upaya advokasi terhadap perempuan dan anak bukan hanya merupakan pelaksanaan amanat undang-undang, tetapi juga bagian dari ibadah sosial (ibadah ijtima'iyyah) yang bernilai luhur di hadapan Allah SWT.

Penguatan bidang advokasi melalui kehadiran Mbak Leda menjadikan LKKNU memiliki posisi yang semakin kokoh sebagai lembaga yang tidak hanya membina keluarga, tetapi juga menjadi rumah perlindungan, konsultasi, mediasi, serta pendampingan hukum bagi masyarakat. Nilai rahmatan lil 'alamin diterjemahkan dalam tindakan nyata melalui pelayanan yang inklusif, empatik, profesional, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara hukum bukan hanya banyaknya peraturan yang dibuat atau megahnya gedung pengadilan, tetapi sejauh mana hukum mampu melindungi mereka yang paling lemah. Begitu pula keberhasilan organisasi keagamaan tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan dakwah, melainkan dari kemampuannya menghadirkan solusi nyata atas persoalan umat.

Karena itu, sinergi antara LKKNU dengan para praktisi hukum seperti Mbak Leda merupakan ikhtiar mulia dalam menghadirkan wajah hukum yang lebih humanis, religius, dan berkeadaban. Sebab hukum yang bernafaskan nilai-nilai Islam adalah hukum yang menegakkan keadilan tanpa diskriminasi, melindungi yang tertindas, membela yang lemah, serta mengantarkan masyarakat menuju kehidupan yang damai, bermartabat, dan penuh kemaslahatan.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma'idah ayat 8, "Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." Maka setiap langkah advokasi, setiap pendampingan terhadap korban, dan setiap upaya membela hak-hak masyarakat sesungguhnya bukan hanya menjalankan amanat konstitusi, tetapi juga menunaikan amanat agama. Di sanalah hukum dan dakwah bertemu, berpadu dalam satu tujuan yang sama: menghadirkan keadilan sebagai jalan menuju kemaslahatan umat. (dll)

LKKNU Perkuat Sinergi Antar-Lembaga, Hadirkan Layanan Isbat Nikah Terpadu di Banyuwangi

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Komitmen menghadirkan pelayanan yang lebih mudah bagi masyarakat diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Banyuwangi dengan Pengadilan Agama Banyuwangi, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, BAZNAS Kabupaten Banyuwangi, dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Banyuwangi. Penandatanganan kerja sama tersebut berlangsung di Hedon Cafe and Resto, Rabu (17/6/2026).

Kesepakatan ini menjadi dasar pelaksanaan Program Isbat Nikah Terpadu, sebuah inovasi pelayanan yang memungkinkan masyarakat memperoleh legalitas perkawinan dan penyelesaian administrasi kependudukan dalam satu rangkaian proses.


Ketua LKKNU Kabupaten Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk memberikan kemudahan kepada pasangan suami istri yang selama ini belum memiliki buku nikah atau legalitas perkawinan.

"Melalui program ini, peserta akan menjalani sidang isbat nikah, kemudian langsung memperoleh pencatatan perkawinan berdasarkan putusan pengadilan, sekaligus mendapatkan pembaruan dokumen kependudukan. Semua layanan dilakukan secara terpadu dalam satu hari sehingga masyarakat tidak perlu berpindah-pindah mengurus administrasi," ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Pengadilan Agama Banyuwangi akan melaksanakan sidang isbat nikah. Setelah putusan berkekuatan hukum, Kantor Kementerian Agama menerbitkan buku nikah, sedangkan Dispendukcapil melakukan perubahan data administrasi kependudukan, termasuk Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk sesuai status perkawinan terbaru.

Salah satu keunggulan program ini adalah adanya dukungan pembiayaan dari BAZNAS Kabupaten Banyuwangi bagi masyarakat kurang mampu. Bantuan tersebut diharapkan mampu menghilangkan hambatan biaya sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat memperoleh kepastian hukum atas perkawinannya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas instansi menjadi bentuk pelayanan publik yang terintegrasi dan berpihak kepada masyarakat.


Ketua Pengadilan Agama Banyuwangi, Dr. Hj. Rizkiyah Hasanah, S.Ag., M.Hum., menambahkan bahwa program ini tidak hanya memberikan kepastian hukum bagi pasangan suami istri, tetapi juga berdampak pada perlindungan hak-hak perempuan dan anak melalui tertib administrasi perkawinan.

Sementara itu, Ketua BAZNAS Kabupaten Banyuwangi, Drs. H. Dwi Yanto, M.AP., menegaskan kesiapan lembaganya untuk mendukung pembiayaan peserta yang berasal dari keluarga mustahik agar dapat mengikuti seluruh tahapan isbat nikah tanpa kendala biaya.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas Kepala Dispendukcapil Kabupaten Banyuwangi, H. Saifudin, S.H., M.M., memastikan pihaknya siap memberikan layanan perubahan dokumen administrasi kependudukan secara cepat setelah proses isbat nikah selesai, sehingga masyarakat dapat langsung memperoleh dokumen yang sah sesuai ketentuan.


Melalui sinergi yang dibangun oleh LKKNU bersama empat instansi tersebut, diharapkan Program Isbat Nikah Terpadu mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan hukum, mewujudkan tertib administrasi kependudukan, serta memberikan perlindungan hukum yang lebih baik bagi keluarga di Kabupaten Banyuwangi.

BAZNAS dan LKKNU Banyuwangi Percepat Program Isbat Nikah: Zakat Harus Hadir Menjawab Kebutuhan Umat

BANYUWANGI – Upaya memberikan kepastian hukum bagi pasangan suami istri dari keluarga kurang mampu terus diperkuat. Menindaklanjuti kerja sama antara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Banyuwangi, Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) akan segera melaksanakan program Isbat Nikah Terpadu bagi masyarakat yang belum memiliki buku nikah.

Program tersebut menyasar pasangan yang telah menikah secara agama, namun belum tercatat secara resmi oleh negara. Kondisi ini selama ini menjadi kendala bagi masyarakat dalam mengurus berbagai dokumen kependudukan maupun mengakses layanan publik.

Ketua LKKNU PCNU Banyuwangi, Dalilatus Sa'adah, S.H.I., menjelaskan bahwa legalitas perkawinan merupakan hak dasar setiap keluarga. Karena itu, LKKNU akan melakukan pendataan sekaligus pendampingan kepada calon peserta agar proses isbat nikah dapat berjalan lebih mudah dan tertib.

"Kami ingin memastikan masyarakat yang selama ini terkendala biaya maupun administrasi dapat memperoleh kepastian hukum atas pernikahannya. Setelah isbat nikah selesai, mereka juga akan didampingi hingga mendapatkan dokumen kependudukan yang dibutuhkan," ujarnya.

Ruang lingkup kerja sama antara PCNU Banyuwangi dan BAZNAS memang mencakup pendataan pasangan yang belum memiliki buku nikah, fasilitasi pelaksanaan isbat nikah, pendampingan administrasi kependudukan, hingga pembiayaan bagi keluarga miskin dan mustahik.


Sementara itu, Ketua BAZNAS Kabupaten Banyuwangi, Drs. H. Dwi Yanto, M.AP., menegaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari komitmen BAZNAS dalam menghadirkan manfaat zakat yang menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.

"Zakat tidak hanya diwujudkan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga harus mampu menyelesaikan persoalan sosial yang dihadapi masyarakat. Melalui program isbat nikah ini, kami ingin membantu keluarga kurang mampu memperoleh kepastian hukum sehingga mereka dapat mengakses hak-hak sipilnya dengan lebih mudah."

Menurut Dwi Yanto, kolaborasi dengan PCNU Banyuwangi menjadi langkah strategis karena jaringan Nahdlatul Ulama hingga tingkat desa dinilai mampu membantu proses pendataan dan pendampingan masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

"Kolaborasi ini akan membuat penyaluran dana zakat lebih tepat sasaran. Harapan kami, semakin banyak keluarga yang memperoleh manfaat, bukan hanya dari sisi bantuan biaya, tetapi juga perlindungan hukum dan peningkatan kesejahteraan keluarga," tambahnya.

Program Isbat Nikah Terpadu ini diharapkan segera direalisasikan setelah proses pendataan calon peserta selesai. Selain memberikan legalitas perkawinan, program tersebut juga membuka akses masyarakat terhadap berbagai layanan administrasi, seperti penerbitan buku nikah, kartu keluarga, akta kelahiran anak, hingga pelayanan publik lainnya.

Sinergi antara LKKNU PCNU Banyuwangi dan BAZNAS Kabupaten Banyuwangi menjadi wujud nyata kolaborasi dalam membangun keluarga yang lebih kuat, terlindungi secara hukum, dan sejahtera melalui pemanfaatan dana zakat yang produktif dan berdampak luas bagi masyarakat.

26 Santri Banyuwangi Berebut Kesempatan Kuliah di Al-Azhar Mesir Melalui Jalur Beasiswa PBNU

BANYUWANGI – Impian menimba ilmu di Universitas Al-Azhar Mesir terus membakar semangat para santri Banyuwangi. Hingga Kamis (18/6/2026), sebanyak 26 santri tercatat telah mengajukan surat rekomendasi kepada PCNU Banyuwangi untuk mengikuti seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir jalur PBNU tahun 2026.

Jumlah tersebut meningkat setelah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memperpanjang masa pendaftaran yang semula berakhir pada 17 Juni menjadi 21 Juni 2026. Keputusan itu diambil karena tingginya minat santri dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengikuti program beasiswa tersebut.

Salah satu santri yang memanfaatkan perpanjangan waktu tersebut adalah Abrar Khairunnata, santri asal Desa Pendarungan, Kecamatan Kabat. Bersama ibundanya, Abrar datang ke Kantor PCNU Banyuwangi untuk mengurus surat rekomendasi yang menjadi salah satu syarat pendaftaran.

Bagi Abrar, kesempatan tersebut menjadi secercah harapan baru. Setelah sebelumnya belum memperoleh kesempatan melalui program beasiswa ke Maroko, kini ia bertekad melanjutkan perjuangan dengan mengikuti seleksi menuju Al-Azhar Mesir, salah satu perguruan tinggi Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.

Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi, Haikal Kafili, S.H., S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa tingginya minat santri Banyuwangi menunjukkan semakin kuatnya kesadaran generasi muda pesantren terhadap pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan perluasan jaringan pendidikan internasional.

"Ini bukan sekadar tentang melanjutkan studi ke luar negeri. Lebih dari itu, ini adalah gambaran bahwa semangat belajar para santri Banyuwangi terus tumbuh. Mereka memiliki cita-cita besar untuk memperdalam ilmu dan membawa manfaat yang lebih luas bagi umat dan bangsa," ujarnya.

Menurut Haikal, PCNU Banyuwangi memandang antusiasme tersebut sebagai modal penting dalam menyiapkan generasi penerus NU yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisi keilmuan pesantren.

Ia menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada para santri yang membutuhkan rekomendasi. Dukungan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar organisasi dalam membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi kader-kader muda Nahdlatul Ulama.

Meski peluang yang tersedia cukup terbatas, Haikal meminta para peserta untuk tetap optimistis. Tahun ini PBNU hanya membuka kuota sebanyak 30 penerima beasiswa dari seluruh Indonesia, terdiri atas 15 mahasiswa pada fakultas keagamaan dan 15 mahasiswa pada fakultas non-keagamaan.

"Keterbatasan kuota jangan sampai memadamkan semangat. Setiap perjuangan memiliki nilai. Jika hari ini belum berhasil, pengalaman yang diperoleh akan menjadi bekal untuk langkah berikutnya. Yang terpenting adalah keberanian untuk mencoba dan kesungguhan dalam berikhtiar," katanya.

Haikal juga mengingatkan bahwa sejarah Nahdlatul Ulama mengajarkan pentingnya ketekunan dalam memperjuangkan cita-cita. Berbagai pencapaian besar yang dirasakan umat saat ini lahir dari proses panjang yang dijalani para ulama dan pendiri organisasi dengan penuh kesabaran dan pengorbanan.

Melalui semangat yang ditunjukkan para santri Banyuwangi, PCNU berharap akan lahir lebih banyak kader ulama dan intelektual yang mampu mengharumkan nama daerah, bangsa, serta Nahdlatul Ulama di tingkat internasional.(HKL)

"Semoga setiap langkah yang ditempuh para santri menjadi bagian dari ikhtiar mencari ilmu yang berkah dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Kami mendoakan yang terbaik untuk seluruh peserta seleksi," pungkasnya.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger