BANYUWANGI – Penguatan soliditas organisasi, kesinambungan kaderisasi, dan komitmen menjaga Khittah Nahdlatul Ulama menjadi perhatian utama dalam kegiatan tasyakuran, silaturahmi, dan konsolidasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi. Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Minhajut Tullab, Muncar, Kamis (15/10/2026), tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarpengurus sekaligus menyatukan langkah dalam menjalankan khidmah kepada umat.
Pertemuan ini tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur atas perjalanan organisasi, tetapi juga menjadi ruang evaluasi dan penguatan komitmen seluruh elemen NU agar program yang telah dirancang dapat berjalan secara berkesinambungan.
Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi, KH. Fahrudin Manan, menyampaikan bahwa sejumlah tahapan penting telah dilalui oleh kepengurusan, mulai dari pelantikan pengurus, Musyawarah Kerja (Musyker), hingga pelaksanaan turba melalui program NGERANDU NU ke seluruh MWC NU se-Kabupaten Banyuwangi.
Selain itu, pembentukan lembaga-lembaga di lingkungan PCNU menjadi bagian dari upaya memperkuat perangkat organisasi agar pelaksanaan program dan pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih terarah.
Menurutnya, kebersamaan seluruh unsur organisasi, mulai dari Mustasyar, A’wan, Syuriyah, Tanfidziyah, lembaga, hingga badan otonom (Banom), perlu terus dipelihara. Silaturahmi menjadi sarana membangun kesepahaman, mempererat komunikasi, dan menumbuhkan semangat pengabdian yang sama.
Konsolidasi tersebut juga menjadi bagian dari persiapan PCNU Banyuwangi dalam menyongsong berbagai agenda organisasi, termasuk peringatan Hari Santri Nasional 2026.
Ketua PCNU: Program Harus Berjalan dan Memberi Manfaat
Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi, H. Achmad Turmudzi, menegaskan bahwa kekuatan organisasi tidak cukup diukur dari kelengkapan struktur kepengurusan. Hal yang lebih penting adalah kemampuan setiap unsur menerjemahkan amanah organisasi menjadi program nyata yang memberikan manfaat bagi warga NU dan masyarakat.
PCNU Banyuwangi telah menyiapkan 19 lembaga sebagai perangkat pelaksana khidmah dalam berbagai bidang. Keberadaan lembaga tersebut perlu diikuti dengan pembagian tugas yang jelas, koordinasi yang baik, serta pelaksanaan program secara optimal.
Ia juga mendorong penguatan kerja sama dengan berbagai pihak di luar organisasi. Kolaborasi dinilai penting untuk memperluas jangkauan pelayanan dan meningkatkan kontribusi NU dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Sebagai langkah memperkuat sinergi, PCNU Banyuwangi merencanakan konsolidasi akbar yang melibatkan seluruh unsur organisasi. Forum tersebut diharapkan mampu menyelaraskan program dan memperkuat kesinambungan gerakan dari tingkat cabang hingga MWC NU dan ranting.
Dengan koordinasi yang terbangun secara baik, setiap unsur organisasi diharapkan dapat bergerak searah dan saling mendukung dalam menjalankan agenda jam’iyah.
Perkuat Kaderisasi dan Tertib Organisasi
Penguatan sumber daya manusia dan tata kelola organisasi turut menjadi pembahasan penting dalam forum konsolidasi. Kaderisasi dipandang sebagai fondasi untuk menyiapkan kepemimpinan NU yang memiliki kapasitas, integritas, dan komitmen pengabdian.
Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PDPKPNU) di tingkat MWC NU dan ranting, serta Pendidikan Menengah Kader Nahdlatul Ulama (PMKNU) di tingkat PCNU dan jenjang berikutnya, menjadi bagian dari proses pembinaan kader sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam pembahasan mengenai Peraturan Perkumpulan (Perkum), mekanisme pemilihan kepemimpinan perlu dijalankan sesuai aturan organisasi. Musyawarah untuk mencapai mufakat menjadi pilihan utama, sedangkan mekanisme pengusulan lima calon kepada Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dapat ditempuh apabila mufakat tidak tercapai, sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain kaderisasi dan tata kelola, penyelesaian persoalan internal juga perlu dilakukan melalui mekanisme organisasi, termasuk Majelis Tahkim sesuai kewenangannya. Langkah ini penting untuk menjaga ketertiban organisasi, menghindari konflik berkepanjangan, dan memelihara kehormatan jam’iyah.
Apel Kader NU Jawa Timur Jadi Agenda Strategis
PCNU Banyuwangi juga menaruh perhatian pada rencana Apel Kader Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan pada November 2026. Agenda tingkat Jawa Timur tersebut diproyeksikan melibatkan sekitar 35 ribu kader NU.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum memperkuat soliditas kader, meneguhkan komitmen berkhidmah, serta membangun kesamaan langkah dalam mengawal perjuangan Nahdlatul Ulama.
Persiapan kegiatan membutuhkan koordinasi berjenjang, mulai dari PWNU, PCNU, MWC NU, hingga ranting. Kesiapan kader, keberlanjutan pendidikan kader, dan keterlibatan seluruh unsur organisasi menjadi faktor penting untuk mendukung kelancaran agenda tersebut.
Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, apel kader diharapkan mampu menumbuhkan semangat pengabdian yang diwujudkan melalui kerja nyata dan pelayanan kepada masyarakat.
Mustasyar PCNU Tekankan Pentingnya Tahu Diri, Tahu Situasi, dan Istikamah
Mustasyar PCNU Banyuwangi, KH. Fathullah Suyuti Toha, memberikan pesan penting mengenai karakter yang perlu dimiliki oleh setiap pengurus dan kader NU. Ia menekankan tiga prinsip utama, yakni tahu diri, tahu situasi, dan istikamah.
Prinsip pertama, Rahimallahu imra’an ‘arafa qadrah nafsihi, mengandung makna bahwa Allah merahmati seseorang yang memahami kadar dirinya. Dalam kehidupan organisasi, prinsip ini mengajarkan pentingnya mengenali kapasitas, memahami tanggung jawab, dan tidak mengedepankan kepentingan pribadi di atas kepentingan jam’iyah.
Prinsip kedua, Anzilin nasa manazilahum, mengajarkan pentingnya menempatkan seseorang sesuai kedudukan dan porsinya. Setiap unsur organisasi perlu saling menghormati, menghargai pengalaman, serta memahami peran masing-masing. Perbedaan kemampuan dan tanggung jawab hendaknya menjadi kekuatan yang saling melengkapi.
Adapun prinsip ketiga, Qul amantu billahi tsummastaqim, menegaskan pentingnya konsistensi setelah menyatakan keimanan kepada Allah. Istikamah dalam berkhidmah berarti menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh, menjaga akhlak, dan terus memberikan manfaat bagi umat.
Ketiga prinsip tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan organisasi tidak hanya ditentukan oleh struktur yang lengkap, tetapi juga oleh kedewasaan sikap, kemampuan menghargai sesama, serta keteguhan setiap pengurus dalam menjalankan tanggung jawab.
Menjaga Khittah NU dan Independensi Organisasi
Selain penguatan internal, penjagaan Khittah Nahdlatul Ulama menjadi pesan penting dalam membangun organisasi yang kokoh. NU merupakan jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang bergerak dalam bidang keagamaan dan kemasyarakatan, termasuk pendidikan, sosial, ekonomi, serta berbagai ikhtiar untuk kemaslahatan umat.
Khittah NU perlu menjadi pedoman dalam menentukan sikap dan arah perjuangan organisasi. Dalam konteks kehidupan politik, kepentingan pribadi maupun kelompok harus dibedakan dari kepentingan jam’iyah.
Setiap warga NU memiliki hak politik sebagai warga negara. Namun, NU sebagai organisasi harus tetap menjaga independensi agar mampu merangkul masyarakat dari berbagai latar belakang dan pilihan politik.
Menjaga independensi bukan berarti menjauh dari persoalan kebangsaan. NU tetap memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk memperjuangkan keadilan, menjaga persatuan, serta membela kepentingan masyarakat.
Karena itu, jabatan dalam organisasi harus dipahami sebagai amanah pengabdian, bukan sebagai sarana membangun kepentingan pribadi. Seluruh pengurus diharapkan mendahulukan kemaslahatan jam’iyah, menjaga persatuan jamaah, dan menjadikan Khittah NU sebagai pedoman dalam mengambil keputusan.
Konsolidasi untuk Khidmah yang Lebih Berdampak
Kegiatan tasyakuran, silaturahmi, dan konsolidasi PCNU Banyuwangi di Pondok Pesantren Minhajut Tullab, Muncar, menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjalankan roda organisasi.
Berbagai tahapan yang telah dilalui menjadi modal untuk melanjutkan kerja-kerja jam’iyah. Penguatan tata kelola, kesinambungan kaderisasi, kolaborasi antarlembaga, dan pemeliharaan kebersamaan perlu terus berjalan secara beriringan.
Pesan tentang pentingnya tahu diri, memahami situasi, dan istikamah menjadi pengingat bahwa pengabdian membutuhkan kedewasaan, ketulusan, dan konsistensi.
Dengan memperkuat koordinasi, mengoptimalkan peran lembaga, menyiapkan kader yang berkualitas, serta menjaga Khittah NU, PCNU Banyuwangi diharapkan semakin solid dalam menjalankan amanah organisasi.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan organisasi bukan semata-mata kelengkapan struktur atau banyaknya agenda yang dilaksanakan, melainkan sejauh mana seluruh ikhtiar tersebut menghadirkan manfaat nyata bagi warga NU, umat, dan masyarakat luas.(Kaf)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jaga kesopanan dalam komentar