Nebeng Haji: Antara Ritual dan Panggilan Kemanusiaan Petugas Haji
Oleh : Syafaat
Memang ada petugas haji yang berangkat dengan kuota
petugas haji, membayar dengan biaya sendiri, lalu sibuk dengan ibadahnya
sendiri. Mereka memakai seragam petugas, tapi jiwanya adalah jamaah yang ingin
beribadah tanpa ingin direpotkan oleh jamaah lain. Mereka merasa sah, sebab
ongkos dibayar sendiri, bukan dari negara. Seolah membayar biaya perjalanan
otomatis membayar tanggung jawab.
Petugas haji yang direkrut dan dibiayai negara, sejatinya
telah menandatangani sebuah kontrak sunyi. Bukan hanya kontrak diatas
meterai, bukan sekedar tanda tangan di atas kertas, tetapi juga dengan hati dan
niat yang mengikat lebih kuat daripada perjanjian apa pun. Kontrak itu ditulis
bukan dengan tinta, melainkan dengan amanah ribuan jamaah yang kelak akan
menyebut namanya dalam doa atau keluh. Sejak seragam itu dikenakan, sejak niat menjadi
petugas diikrarkan, ibadah pribadi pelan-pelan harus belajar menepi. Bukan
dihapus, bukan diingkari, tetapi ditempatkan dengan sadar pada urutan yang
benar. Salat berjamaah di Masjid Nabawi yang rindu itu menahun. Thawaf sunnah
yang berputar-putar seperti waktu. Ziarah sejarah ke jejak para nabi dan
sahabat, semuanya tetap bernilai, tetap mulia, tetapi ia turun derajat menjadi bonus.
Bukan tujuan utama.
Baik petugas yang dibiayai negara, maupun yang berangkat
dengan biaya mandiri, keduanya berdiri pada kaidah yang sama: ketika amanah
sudah diterima, maka pilihan-pilihan rohani tak lagi sepenuhnya milik pribadi.
Sebab di tanah suci, niat baik tidak selalu cukup; ia harus tunduk pada
tanggung jawab yang telah disanggupi. Di sinilah fikih memberi kita cahaya yang
tenang, tidak berisik, tetapi tegas: taqdimul wajib ‘alas sunnah, mendahulukan
yang wajib daripada yang sunnah. Kaidah ini bukan sekadar rumus hukum,
melainkan etika spiritual. Ia mengingatkan bahwa amal sunnah, betapapun indah
dan menggetarkan, bisa gugur nilainya bila ditegakkan di atas kelalaian
terhadap kewajiban. Pondasi tak boleh ditinggalkan demi mempercantik atap.
Melayani jamaah adalah kewajiban, menjaga yang lemah bagi petugas adalah fardhu, mengantar yang sakit, mencari yang tersesat, menenangkan yang panik, semua itu bukan penghalang ibadah, melainkan wajah lain dari ibadah itu sendiri. Di titik ini, petugas haji sedang menunaikan haji dalam bentuk lain, thawaf dalam bentuk lain, bahkan wukuf dalam makna yang lebih sunyi: berhenti pada penderitaan manusia. Melaksanakan kewajiban sebagai petugas haji memang tidak datang tanpa konsekuensi. Konsekuensinya adalah menahan diri. Mengalahkan ego spiritual. Rela tidak selalu berada di saf terdepan. Siap melepas keinginan pribadi demi keselamatan orang lain. Konsekuensinya adalah letih yang tak selalu terlihat, dan pahala yang tak selalu diumumkan. Namun justru di situlah kemuliaannya bersemayam.
Sebab Tuhan tidak hanya menilai siapa yang paling sering
hadir di masjid, tetapi siapa yang paling setia pada amanah. Dan di tanah suci
itu, petugas haji yang memilih kewajiban di atas sunnah sejatinya sedang
membangun pondasi ibadah yang kokoh, meski dari luar tampak biasa, bahkan
sering dianggap kehilangan kesempatan. Padahal, barangkali di situlah
kesempatan itu benar-benar dimulai.
Di Madinah, jamaah haji datang dengan rencana yang rapi.
Mereka ingin salat lima waktu di Masjid Nabawi. Ingin duduk lama menunggu
iqamah. Ingin memanjatkan doa di Raudhah, meski berdesak-desakan. Bagi jamaah,
itu puncak rindu yang selama puluhan tahun disimpan dalam tabungan dan doa. Bagi
petugas haji, rencana sering kali adalah kemewahan. Ketika jamaah berbondong ke
masjid, bisa jadi kami justru tinggal di hotel. Bukan untuk tidur, tapi untuk
menjaga jamaah yang sakit. Mengurus yang demensia. Menyiapkan makan. Mengatur
kursi roda. Menghubungi sektor. Menghitung ulang siapa yang belum kembali. Di
Madinah, saya belajar bahwa jarak terjauh bukanlah antara hotel dan Masjid
Nabawi, melainkan antara niat ibadah dan kewajiban pelayanan.
Di Makkah, sejarah berdiri di setiap sudut. Jabal Nur,
Jabal Tsur, Padang Arafah, Mina, Muzdalifah yang semuanya memanggil-manggil.
Jamaah ingin ziarah, ingin menyentuh jejak kenabian. Petugas haji sering hanya
bisa mendengar cerita mereka sepulang ziarah, sambil tetap waspada pada daftar
jamaah yang harus dijaga.
Saya ingat tugas pertama itu seperti seseorang mengingat
ayat yang tak pernah ia hafal, tetapi maknanya tinggal lama di dada. Seorang
jamaah, tubuhnya renta, ingatannya tercerai, datang dengan mata yang tak lagi
mengenali jarak dan waktu. Demensia membuatnya percaya bahwa tanah suci
hanyalah halaman rumah yang keliru nama. Ia menangis, gelisah, dan bersikeras
ingin pulang. “Saya mau pulang ke rumah,” katanya lirih, dengan keyakinan yang
tak bisa dibantah oleh logika. Dalam kepalanya, tanah air masih sejengkal di
depan kaki, bisa ditempuh dengan berjalan pelan, seperti dulu ia pulang dari
sawah atau dari langgar kampungnya. Saya tidak punya dalil untuk membantah isi
kepalanya. Maka saya memilih dalil lain: menggendongnya.
Langkah saya pelan, sebab di pundak saya bukan hanya
tubuh seorang jamaah, melainkan sisa-sisa hidup yang telah ia titipkan kepada
kami. Peluh jatuh satu-satu, seperti butir tasbih yang tak sempat disebutkan
namanya. Doa bercampur napas. Di jalan menuju kantor sektor itu, saya merasa
lebih dekat kepada makna haji daripada saat mengenakan kain ihram. Tubuhnya
ringan, terlalu ringan untuk usia dan kisah sepanjang itu. Tetapi tanggung
jawabnya menekan hingga ke lapisan niat terdalam. Saya sadar, pada saat itu,
bahwa haji bukan soal mengejar langkah-langkah ritual, melainkan tentang
berhenti pada satu manusia yang tak lagi tahu ke mana harus melangkah.
Di hadapan jamaah seperti itu, semua ambisi rohani terasa
kecil. Apa artinya berlari mengejar saf terdepan, jika ada satu jiwa yang
tertinggal dan terabaikan? Apa gunanya sampai di masjid lebih cepat, jika di
belakang ada yang kehilangan arah dan rasa aman? Di situlah saya yakin, tanpa
perlu kitab tafsir bahwa merawat jamaah lebih mulia daripada mengejar ibadah
dengan mengabaikan amanah. Bahwa menggendong seorang yang lemah bisa lebih
dekat kepada Tuhan daripada menggendong kesalehan diri sendiri. Bahwa menjaga
satu nyawa yang bingung adalah bentuk thawaf lain: mengelilingi kemanusiaan
dengan penuh kasih. Di tanah suci itu, saya belajar satu hal yang tak pernah
diajarkan di manasik: bahwa Allah tidak selalu ditemui di depan Ka’bah, kadang
Ia menunggu di pundak kita, dalam bentuk seorang jamaah renta yang ingin
pulang, tapi tak tahu jalan pulangnya.
Di Arafah, tempat wukuf yang menjadi inti haji, saya
pernah tidak ikut wukuf di tenda bersama jamaah. Bukan karena lalai, tapi
karena harus mengantar jamaah yang sakit ke klinik darurat. Di padang luas yang
disebut sebagai miniatur Mahsyar itu, saya belajar bahwa melayani satu orang
sakit bisa menjadi ibadah yang sama nilainya dengan berdiri bersama jutaan
manusia lain mengangkat tangan ke langit. Pernah pula saya mendorong gerobak.
Bukan simbolik, tapi benar-benar gerobak sederhana yang tersedia saat itu.
Seorang jamaah baru saja operasi, tidak mungkin digendong. Jarak dari tenda ke
jalan utama terlalu jauh untuk ditempuh dengan kaki, tidak ada kursi roda. Maka
gerobak itu kami dorong perlahan, di bawah dingin malam yang seolah tak punya
belas kasihan. Dari tenda menuju bus arah Muzdalifah, roda berdecit seperti
tasbih yang lupa nadanya. Inilah wajah haji yang jarang difoto.
Sering pula kami harus mencari jamaah yang tersesat. Di
tengah lautan manusia, wajah-wajah menjadi serupa, bahasa bercampur, arah
kehilangan makna. Kami tidak pernah bertanya: jamaah kloter siapa? Dari daerah
mana? Yang kami tahu hanya satu: ia jamaah haji Indonesia. Dan itu sudah cukup
untuk menjadikannya tanggung jawab kami. Petugas haji, jika ia sungguh petugas,
tidak memilih-milih siapa yang ditolong. Sebab di tanah suci, identitas
administratif luluh oleh satu panggilan yang sama: ya hajj. Maka ketika
ada yang berkata petugas haji hanya nebeng haji, saya tersenyum, tapi senyum
itu seperti menutup kitab yang halamannya belum sempat dibaca orang lain. Sebab
yang terlihat memang seragam. Yang tak terlihat adalah doa-doa yang tertahan,
ibadah-ibadah yang ditunda, rindu pribadi yang dikorbankan demi keselamatan
orang lain.
Haji mengajarkan bahwa puncak spiritualitas bukan hanya
pada ritual, tapi pada pengorbanan. Dan petugas haji, jika ia menjalani
tugasnya dengan benar, sedang menempuh jalan sunyi itu: jalan melayani tanpa
tepuk tangan, jalan bekerja tanpa panggung, jalan beribadah tanpa selalu berada
di saf terdepan. Ibadah haji kami, para petugas, sering kali tidak lengkap
secara lahir. Tapi kami berharap ia utuh secara batin.
Dan bila suatu hari masih ada yang bertanya, “Enak ya
jadi petugas haji, bisa nebeng,” biarlah kalimat itu saya simpan sebagai doa,
bukan bantahan. Doa agar yang bertanya kelak diberi kesempatan merasakan, bahwa
melayani manusia di tanah Tuhan adalah haji yang lain. Haji yang tidak selalu
ditandai dengan langkah-langkah ritual, tetapi dengan kesediaan menahan diri,
mengalah, dan memikul beban orang lain. Dua kali saya menjadi petugas haji. Dua
kali pula menjadi ketua kloter. Dan dua kali itu pula telinga saya harus
belajar lebih tabah daripada kaki yang lelah menyusuri lorong-lorong panas
Madinah dan Makkah, sebab kalimat itu selalu hadir, ringan diucapkan, seolah
tanpa beban sejarah dan empati.
Kalimat itu terdengar seperti guyonan, bahkan kadang
dibungkus senyum. Namun bagi mereka yang pernah memanggul amanah, ia menjelma
duri kecil yang menusuk pelan, terus-menerus, tanpa darah, tapi perihnya lama.
Saya tidak menafikan: memang ada yang datang dengan niat setengah-setengah, ada
yang menyempilkan kepentingan pribadi di balik seragam petugas. Tetapi haji
tidak bisa diukur dari pengecualian. Ia harus dibaca dari mereka yang memilih
menunda ibadahnya sendiri demi menjaga ibadah orang lain, dari mereka yang tahu
bahwa di tanah suci, kadang Tuhan lebih dekat pada langkah yang melayani,
daripada pada langkah yang hanya mengejar sampai.
Penulis adalah ASN Kementerian Agama / Ketua Lentera Sastra
Banyuwangi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jaga kesopanan dalam komentar