Pages

Banyuwangi Siapkan 48 Masjid Ramah Pemudik

Banyuwangi (Lentera Sastra) Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Kantor Kementerian Agama (Kemenag) dan  didukung Baznas Banyuwangi menyiapkan 48 masjid di berbagai titik lokasi di ruas jalan nasional dan provinsi maupun destinasi wisata jalur pemudik untuk memudahkan para pemudik selama arus mudik dan balik Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah.

"Dengan adanya masjid ramah pemudik, kami berharap para pemudik dapat merasa nyaman dan aman selama perjalanan," kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat Lounching Masjid Ramah Pemudik di Masjid Al Huda,Kelurahan Bulusan yang berbatasan dengan Desa Ketapang- Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (17/03/2026)

Masjid-masjid yang terlibat dalam program ini akan membuka akses selama 24 jam dan menyediakan berbagai fasilitas bagi pemudik, seperti area istirahat, tempat ibadah, fasilitas toilet yang bersih,, serta pengamanan di lingkungan masjid dan area parkir. Selain itu, tersedia pula ruang layanan kesehatan didukung puskesmas dan plus ada fasilitas pijat gratis di spot tertentu, serta penyediaan air minum hingga  kopi maupun teh dan makanan ringan gratis hingga menu berbuka. 

"Masjid memang pusat peradaban sebagaimana yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW, masjid tidak hanya digunakan untuk ibadah rutin, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas seperti untuk mengkaji dan diskusi ragam topik kehidupan," ujar Bupati Ipuk Fiestiandani yang didampingi Ketua Baznas Drs. Dwi Yanto, M. Pd. 

Kepala Kemenag Banyuwangi Dr. H  Chaeroni Hidayat, MM mengatakan bahwa Banyuwangi menjadi salah satu kabupaten yang terbanyak di Jawa Timur dalam menyiapkan masjid ramah pemudik. "Kami berterima kasih atas kolaborasi yang baik antara pemkab, Baznas, dan semua yang terlibat jadi ladang amal sholeh kita semua," kata Chaeroni yang alumni Ponpes Nurul Jadid Paiton yang tandai inovasi ini dengan santunan yatim dan sembako ke nenek dhuafa serta simbolis berikan bantuan peralatan ke Masjid yang ikut program dan Yayasan Aura Lentera yang koordinir pemijat tunanetra dan difabel lainnya.

Dinkes Banyuwangi Gelar Bimtek Penanganan Gawat Darurat bagi Takmir Masjid Ramah Pemudik

BANYUWANGI –(Warta Blambangan) Menjelang arus mudik Idulfitri 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penanganan Penderita Gawat Darurat (PPGD) Awam bagi pengurus Masjid Ramah Pemudik. Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual pada Selasa (17/3/2026) ini diikuti oleh 48 takmir masjid yang telah ditetapkan sebagai Masjid Ramah Pemudik oleh Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, serta aparatur sipil negara pada Seksi Bimbingan Masyarakat Islam.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas takmir masjid dalam memberikan pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan yang mungkin dialami pemudik.

“Melalui kegiatan ini kami ingin memperkuat kolaborasi antara pengurus masjid dan tenaga kesehatan, sehingga takmir masjid memiliki pengetahuan dasar dalam memberikan pertolongan awal sebelum petugas medis tiba di lokasi,” ujar Amir.

Pelatihan ini difokuskan pada peningkatan pemahaman dan keterampilan praktis dalam penanganan kondisi darurat di lingkungan masjid yang menjadi titik singgah pemudik. Materi yang diberikan meliputi prinsip dasar PPGD, antara lain memastikan keamanan lokasi, memeriksa kesadaran dan pernapasan korban, serta segera menghubungi layanan bantuan medis.

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman terkait akses layanan kegawatdaruratan melalui Public Safety Center 119 yang terhubung langsung dengan ambulans dan fasilitas pelayanan kesehatan.

Takmir masjid juga dibekali keterampilan pertolongan dasar, seperti bantuan hidup dasar melalui kompresi dada (CPR) pada kasus henti jantung, penanganan korban tersedak, penanganan perdarahan, serta pertolongan pada korban pingsan.

Sebagai bagian dari kesiapsiagaan layanan kesehatan, setiap Masjid Ramah Pemudik juga diwajibkan menyediakan kotak pertolongan pertama (P3K) dengan perlengkapan yang memadai. Perlengkapan tersebut meliputi obat luar seperti minyak kayu putih, minyak tawon, dan balsam; perlengkapan perawatan luka seperti kasa steril, antiseptik, cairan pembersih luka, plester, dan perban; serta obat-obatan dasar seperti obat lambung dan parasetamol.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi bersama Kementerian Agama berharap masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah dan istirahat bagi pemudik, tetapi juga dapat berfungsi sebagai titik layanan pertolongan pertama yang mendukung keselamatan masyarakat selama periode arus mudik Lebaran.

Senja Nuzulul Qur’an di Kemenag Banyuwangi: Ayat, Sedekah, dan Kehangatan di Meja Berbuka

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar peringatan Nuzulul Qur’an pada Selasa (10/03/2026) sore di Aula Bawah Kantor Kemenag Banyuwangi. Kegiatan tersebut dirangkai dengan pembagian 53 paket sembako kepada kaum dhuafa, khotmil Qur’an, serta buka puasa bersama yang diikuti oleh jajaran pimpinan dan seluruh civitas pegawai di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.


Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. Chaironi Hidayat, Plt Kepala Kemenhaj Banyuwangi Rif’an Junaidi, Kepala Cabang Bank Syariah Indonesia (BSI) Wilker Jember Raden Silahul Mukmin, Kepala Cabang BSI A. Yani Banyuwangi Mukmin, jajaran pimpinan Kemenag Banyuwangi, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP), serta para pegawai ASN di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi Chaironi Hidayat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, momentum Ramadan—khususnya peringatan Nuzulul Qur’an—menjadi sarana penting untuk memperkuat spiritualitas sekaligus mempererat kebersamaan di lingkungan kerja.

“Melalui kegiatan Nuzulul Qur’an dan buka puasa bersama ini, mari kita perkuat nilai spiritual serta tali silaturahmi antarpegawai dan mitra kerja,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Bank Syariah Indonesia (BSI) atas dukungan dan kerja sama yang telah terjalin bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembagian 53 paket sembako kepada kaum dhuafa di sekitar lingkungan kantor. Bantuan tersebut menjadi wujud kepedulian sosial di bulan Ramadan, sekaligus pengingat bahwa nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga diamalkan melalui kepedulian kepada sesama.

Setelah itu, para pegawai ASN mengikuti khotmil Qur’an, melantunkan ayat-ayat suci yang menghadirkan suasana khidmat dan menenangkan. Lantunan Al-Qur’an yang menggema di aula seakan menghidupkan kembali ingatan tentang malam ketika wahyu pertama kali diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia.

Menjelang waktu magrib, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Suasana kebersamaan terasa hangat ketika para pegawai dan tamu undangan duduk bersama menikmati hidangan berbuka. Di antara berbagai menu yang tersaji, olahan terong justru menjadi salah satu kuliner favorit yang banyak diminati para peserta.

Hidangan sederhana itu menghadirkan keakraban yang alami. Percakapan ringan, senyum, dan tawa kecil mengalir di antara mereka yang hadir, memperkuat suasana kekeluargaan di tengah rangkaian kegiatan Ramadan.

Sementara itu, Kepala Cabang BSI Wilker Jember, Raden Silahul Mukmin, turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap kerja sama antara BSI dan Kementerian Agama dapat terus terjalin dan berkembang dalam berbagai kegiatan yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, pimpinan BSI juga tampak berbaur bersama para pegawai dalam suasana kekeluargaan. Kebersamaan saat menikmati hidangan berbuka—termasuk menu terong yang menjadi favorit—menambah hangatnya suasana Ramadan di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Peringatan Nuzulul Qur’an itu berlangsung sederhana namun penuh makna. Di antara ayat-ayat yang dilantunkan, sedekah yang dibagikan, serta kebersamaan di meja berbuka, terselip pesan yang sama: bahwa cahaya Al-Qur’an tidak hanya hidup dalam bacaan, tetapi juga dalam kepedulian, persaudaraan, dan amal kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Menag Terbitkan SE Panduan Penyelenggaraan Ibadah saat Idulfitri dan Masjid Ramah Pemudik

 Jakarta (Kemenag) --- Menteri Agama menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 1 Tahun 2026 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi serta Masjid Ramah Pemudik. Regulasi ini menjadi pedoman agar pelaksanaan ibadah Ramadan hingga Idulfitri berlangsung tertib, aman, nyaman, serta menjunjung tinggi nilai toleransi.


Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag), Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa surat edaran tersebut dimaksudkan untuk memperkuat kualitas pelaksanaan ibadah sekaligus menjaga harmoni sosial selama Ramadan hingga momentum Idulfitri.

“Surat edaran ini menjadi panduan bersama agar ibadah Ramadan dan Idulfitri berjalan khusyuk, tertib, serta tetap mengedepankan nilai toleransi dan kebersamaan dalam kehidupan berbangsa,” ujar Abu di Jakarta, Senin (9/3/26).

Abu mengatakan, Kemenag mengimbau umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum memperdalam makna ibadah sekaligus memperkuat dimensi sosial keagamaan. Ramadan diharapkan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual, tetapi juga menjadi sarana penyucian jiwa, pembinaan akhlak, serta penguatan kepedulian sosial.

Selengkapnya, baca: SE Menag No 1/2026 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan, Hari Raya Idulfitri 1447 H, dan Masjid Ramah Pemudik

“Ibadah Ramadan hendaknya menjadi ruang tazkiyatun nafs, memperkuat kesabaran, empati, serta kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari,” kata Abu Rokhmad.

Dalam surat edaran tersebut, Kemenag mengimbau umat Islam untuk mengoptimalkan zakat, infak, dan sedekah selama Ramadan sebagai wujud kepedulian sosial dan upaya meningkatkan kesejahteraan umat. “Kami berharap Ramadan menjadi momentum penguatan solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat sasaran, transparan, dan bertanggung jawab,” kata Abu Rokhmad.

Umat Hindu akan merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 pada 19 Maret 2026 atau bertepatan dengan penghujung Ramadan. Edaran Menag mengimbau umat Islam untuk menghormati pelaksanaan Nyepi dengan menjaga ketertiban dan ketenangan. “Semangat saling menghargai dan toleransi perlu terus dijaga sebagai bagian dari implementasi ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” ujarnya.

Dalam rangka mendukung kenyamanan pemudik, pengelola masjid dan musala di jalur mudik, diimbau menyediakan layanan Masjid Ramah Pemudik dengan membuka akses masjid selama 24 jam serta menyediakan fasilitas yang memadai. “Masjid di jalur mudik diharapkan dapat menjadi ruang istirahat yang nyaman bagi para pemudik, dengan fasilitas seperti area parkir yang aman, air bersih, tempat beristirahat, hingga fasilitas pengisian daya gawai,” ujar Abu Rokhmad.

Pengelola masjid dianjurkan menyediakan layanan tambahan seperti ruang kesehatan, pusat informasi bagi pemudik, serta air minum atau makanan ringan. “Masjid yang menghadirkan pelayanan terbaik bagi pemudik nantinya akan mendapatkan apresiasi sebagai bentuk penghargaan atas praktik pelayanan yang baik kepada masyarakat,” tandasnya.

dikuip dari: https://kemenag.go.id/

48 Masjid di Banyuwangi Siap Layani Pemudik dalam Program Masjid Ramah Pemudik 2026

Banyuwangi (Warta Blambangan)  Menjelang arus mudik Idulfitri 1447 Hijriah, sebanyak 48 masjid di Kabupaten Banyuwangi dipersiapkan menjadi Masjid Ramah Pemudik (MRP) 2026. Masjid-masjid tersebut disiapkan sebagai tempat singgah bagi para pemudik untuk beristirahat, beribadah, dan mendapatkan berbagai layanan dasar selama perjalanan menuju kampung halaman.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat,  Jumat 06/03/2026) menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk pelayanan keagamaan sekaligus pelayanan sosial bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik.

“Sebanyak 48 masjid di Banyuwangi siap menjadi Masjid Ramah Pemudik. Masjid-masjid ini berada di jalur strategis yang banyak dilalui pemudik, mulai dari Wongsorejo hingga Kalibaru, serta dari kawasan Licin hingga Pesanggaran,” ujar Chaironi.

Menurutnya, keberadaan Masjid Ramah Pemudik menjadi upaya untuk menghidupkan fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pelayanan bagi masyarakat, khususnya para musafir yang membutuhkan tempat beristirahat.

Berdasarkan data Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, 48 masjid yang masuk dalam program Masjid Ramah Pemudik 2026 antara lain:



Dalam program ini, masjid-masjid yang menjadi titik Masjid Ramah Pemudik menyediakan sejumlah layanan bagi para musafir, di antaranya:

  • Membuka akses masjid selama 24 jam

  • Menjaga keamanan masjid dan area parkir

  • Menyediakan toilet bersih dan air wudu

  • Menyediakan fasilitas pengisian daya (charging station) untuk gawai

  • Menyediakan tempat salat yang nyaman

  • Menyediakan area istirahat bagi pemudik

  • Menyediakan pusat informasi perjalanan

  • Menyediakan air minum atau makanan ringan

Selain itu, beberapa masjid juga memiliki kapasitas parkir kendaraan dan daya tampung jamaah yang cukup besar, sehingga memungkinkan pemudik beristirahat dengan aman dan nyaman sebelum melanjutkan perjalanan.

Chaironi berharap program ini dapat menjadi bagian dari pelayanan umat sekaligus menghadirkan wajah masjid yang terbuka dan ramah bagi siapa saja.

“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga rumah bagi para musafir. Melalui Masjid Ramah Pemudik, kita ingin menghadirkan masjid yang melayani, memberi kenyamanan, dan membawa keberkahan bagi para pemudik,” pungkasnya.

Program Masjid Ramah Pemudik 2026 ini diharapkan dapat membantu menciptakan perjalanan mudik yang lebih aman, nyaman, dan penuh nilai kebersamaan selama momentum Idulfitri 1447 Hijriah.

Program BEN -NLR Indonesia Gelar Validasi Data Penerima Manfaat Dukung Banyuwangi Inklusif


 BANYUWANGI
– Dalam upaya memperkuat layanan inklusif bagi anak dan remaja penyandang disabilitas, Rumah Literasi Indonesia bersama Yayasan Aura Lentera Indonesia menggelar Pertemuan Validasi Data Program Building Effective Network (BEN), Selasa (3/3/2026), di Hotel Aston Banyuwangi.

Kegiatan yang berlangsung pukul 13.00–17.00 WIB ini diikuti 45 peserta dari unsur pemerintah daerah, akademisi, tenaga pendidik, serta organisasi penyandang disabilitas.

Tunggul Harwanto dari Rumah Literasi Indonesia memaparkan latar belakang dan tujuan program BEN. Ia menjelaskan bahwa Kabupaten Banyuwangi menjadi satu-satunya klaster yang dipercaya menjalankan tiga proyek sekaligus yakni Building Effective Networt (BEN) Pemberdayaan Disabilitas Berbasis Jejaring Masyarakat,MYP Pengembangan Potensi Anak dan Remaja Difabel, Down Syndrome & OYPMK serta Body Talk SRHR Perkembangan Kesehatan Reproduksi.


Kepercayaan tersebut diberikan karena dinilai memiliki komitmen kuat dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas dan pengembangan daerah inklusif yang didukung Bupati hingga ragam elemen. 

“Kami berharap melalui pertemuan ini, sinergi antar sektor semakin kuat sehingga pelayanan terhadap penyandang disabilitas dapat berjalan terpadu dan berkelanjutan,” ujar Tunggu yang punya aktivitas PAUD Sahabat Kecil, Taman Edukasi Lingkungan dan Taman Baca Masyarakat. 

Program BEN merupakan inisiatif yang didukung oleh Liliane Fonds Netherlands dan NLR Indonesia. Program ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mewujudkan layanan inklusif melalui pendekatan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM). Pertemuan ini menjadi forum untuk menyamakan persepsi sekaligus menyusun langkah kolaboratif berbasis data yang valid dan terintegrasi.


Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banyuwangi, M. Yanuarto Bramuda, S.Sos., MBA., MM, hadir sebagai pembicara kunci sekaligus membuka acara secara resmi. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor serta sistem database yang terintegrasi.

“Pemerintah daerah menyambut baik inisiatif ini. Validasi dan integrasi data merupakan langkah strategis untuk memastikan program tepat sasaran dan berkelanjutan,” tegasnya.

Sesi diskusi dengan fasilitator Indah Catur Cahyaning Tyas dari Yayasan Aura Lentera Indonesia menghadirkan 2 narasumber dari unsur Pendidikan dan Kesehatan. Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Alfian, M.Pd.,  memaparkan pentingnya penguatan jejaring lintas sektor guna mendukung pengembangan sekolah inklusif. Ia juga mengusulkan agar Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dilibatkan dalam kegiatan selanjutnya karena keterkaitannya dengan data kependudukan.


Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, H. Amir Hidayat, S.K.M., M.Si., menyoroti pentingnya pengembangan layanan kesehatan inklusif berbasis analisis kebutuhan dan data yang akurat serta ramah Disabilitas. 

Peserta yang hadir adalah anggota Forum RBM (Rehabilitasi Bersumber daya Masyarakat) yang menjadi inti Building Effective Network. Mereka antara lain berasal dari Dinas Sosial dan PPKB,  Bappeda, Camat Kalipuro dan Rogojampi, Kepala Puskesmas Klatak dan Gladag serta  kepala desa/lurah, tenaga pendidik dari sekolah inklusif dan SLB, serta organisasi seperti Perkins, GERKATIN, HWDI, dan Aisyiyah.

Tunggul Harwanto dan Indah Catur Cahyaningtyas selaku Leader Tim Transisi Banyuwangi menegaskan bahwa pertemuan ini bertujuan menyusun perencanaan berbasis data, memperkuat peran Forum RBM, serta membangun komitmen kolaboratif antar pemangku kepentingan di tingkat kabupaten untuk kepentingan program hingga tahun 2028.


Diskusi berlangsung aktif dalam sesi tanya jawab. Masfufah, S.Pd., Ketua Yayasan Matahati, menyampaikan harapan agar pendampingan dan layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas semakin diperkuat apalagi regulasi jelas. Yudi, guru dari SDN 2 Gladag juga mengungkapkan tantangan terkait seorang siswa dengan disabilitas intelektual yang orang tuanya tidak berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Selain itu, Bung Aguk Wahyu Nuryadi yang terlibat dalam pendataan anak dan remaja disabilitas, membagikan temuan lapangan, khususnya terkait tantangan layanan di puskesmas dan sekolah hingga koordinasi yang baik dengan sekdes. 


Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kolaborasi dan integrasi layanan bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Banyuwangi, menuju sistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan menyongsong program 3 tahun yang simulator April 2026.(Andre R Waluyo/Q'Nin/JN)

The Most KUA Serentak se-Jawa Timur, Banyuwangi Gelar 31 Lokasi dengan 2.912 Peserta

Banyuwangi, (Warta Blambanga)— Program The Most KUA (Move for Sakinah) yang digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dilaksanakan secara serentak di seluruh Jawa Timur pada Rabu (04/03/2026). Di lingkungan , kegiatan ini digelar di 31 lokasi dengan jumlah peserta mencapai 2.912 orang.

Ribuan peserta tersebut terdiri atas 27 kegiatan bimbingan remaja usia sekolah, 1 kegiatan bimbingan remaja usia nikah, serta 3 kegiatan Pusaka Sakinah. Salah satu kegiatan Pusaka Sakinah dilaksanakan di aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dengan menghadirkan kelompok keluarga muslim sebagai peserta utama. 


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa pelaksanaan The Most KUA di Banyuwangi tidak hanya dilakukan secara serentak pada hari ini, tetapi juga akan berlanjut sepanjang bulan Ramadan.

“Selain dilaksanakan serentak hari ini bersama seluruh Jawa Timur, kegiatan ini akan terus kita lanjutkan selama Ramadan sebagai bagian dari penguatan fungsi KUA dalam membina keluarga dan generasi muda,” ujarnya.

Secara substansial, kegiatan untuk kelompok keluarga muslim diarahkan pada penguatan nilai keluarga sakinah–maslahat. Materi yang disampaikan meliputi komunikasi sehat dalam keluarga, kehadiran emosional antaranggota keluarga, pembagian peran yang proporsional, serta penguatan fungsi keluarga dalam kehidupan sosial masyarakat.

Pendekatan yang digunakan bersifat reflektif dan dialogis, mendorong keluarga untuk mengevaluasi praktik relasi sehari-hari serta memperkuat keteladanan di lingkungan sekitar. Materi tidak terbatas pada modul yang tersedia, melainkan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan peserta dan konteks sosial masing-masing wilayah.


Di tingkat provinsi, kegiatan The Most KUA se-Jawa Timur dibuka secara daring oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Dr. Akhmad Sruji Bakhtiar, dari aula . Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan dan peran strategis KUA di tengah masyarakat.

“Dengan adanya kegiatan ini, kita berharap program dan pelayanan di KUA semakin baik, semakin responsif, dan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ungkapnya.

The Most KUA tahun ini selaras dengan tema besar Kementerian Agama Republik Indonesia, yakni “Joyful Ramadan Mubarak 1447 H/2026 M.” Konsep Joyful Ramadan bertujuan menghadirkan suasana bulan suci yang menggembirakan, inklusif, dan sarat aksi sosial. Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah personal, tetapi juga momentum memperkuat ketahanan keluarga, solidaritas sosial, dan harmoni umat.

Melalui gerakan serentak ini, KUA diharapkan semakin bergerak aktif sebagai pusat layanan keagamaan dan pemberdayaan keluarga, tidak hanya sebagai tempat pencatatan pernikahan, tetapi juga sebagai ruang edukasi, pembinaan, dan penguatan peradaban keluarga muslim.

#TheMostKUA
#KUABergerak
#JoyfulRamadanMubarak1447H
#KeluargaSakinahMaslahat

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger