Pages

JAMBORE LANSIA PERDANA AKAN DIGELAR DI BANYUWANGI TAHUN DEPAN

 

Foto Bersama Peserta Rembuk Lansia 2026

BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi bersiap mengukir sejarah dengan rencana penyelenggaraan Jambore Lansia perdana. Kegiatan yang mengadopsi semangat kepramukaan ini diusulkan dalam Rembug Lansia 2026 yang berlangsung di D’Gentong CafĂ©, selatan Stasiun Banyuwangi Kota, Rabu (3/6/2026).

Acara yang berlangsung penuh keakraban dan diselingi senda gurau tersebut dihadiri oleh berbagai organisasi berbasis aktivitas lansia, antara lain LVRI, PEPABRI, Perkumpulan Gotong Royong 45, JRKBB, Sanggar Merah Putih 45, PWRI, KOSTI, serta beberapa organisasi lainnya.

Data Lansia Capai 17 Persen Populasi

Berdasarkan data yang dipaparkan, angka harapan hidup Kabupaten Banyuwangi mencapai 74 tahun—melampaui Yogyakarta—dengan populasi lansia mencapai 17 persen dari total penduduk, di atas rata-rata nasional.

Kepala Daerah yang baru dilantik, Sekda Yayan, menekankan bahwa fase lanjut usia adalah masa depan yang pasti dialami semua orang. "Kebijakan itu seperti lukisan. Ia indah jika semua orang yang memandangnya merasa nyaman. Jika belum nyaman, berarti lukisannya belum selesai," ujarnya dalam sambutan.

Usulan Konkret untuk Kesejahteraan Lansia

Ibu Peni Handayani, mantan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Banyuwangi tahun 2017 yang menjadi narasumber utama, memaparkan sejumlah usulan strategis:

  1. Jambore Lansia – Rekreasi kolektif ala Pramuka di lapangan terbuka sebagai terobosan nasional
  2. Revitalisasi Gedung Juang – Penurunan pagar tembok agar lebih ramah lansia, serta optimalisasi sebagai pusat kegiatan senior
  3. Posyandu dan Latihan Terapi Kesehatan – Layanan medis rutin dan terapi kebugaran
  4. Dapur LVRI – Dukungan nutrisi dan logistik bagi lansia
  5. Ngopi Subuh Bersama Senior – Kegiatan sosial yang inklusif

 

Perwakilan dari PEPABRI

Atasi Tumpang Tindih Bantuan, Data Harus Dibersihkan

Salah satu temuan krusial dalam diskusi adalah adanya ketimpangan distribusi bantuan. Sejumlah oknum disebut menerima manfaat dari beberapa program sekaligus (tumpang tindih), sementara warga lain di sekitarnya tidak mendapat bantuan sama sekali.

Untuk mengatasi hal ini, Bappeda diminta melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap program dan anggaran dari berbagai organisasi, baik pemerintah daerah maupun swasta. Validasi ulang data di tingkat RT menjadi kunci agar bantuan tepat sasaran.

 

Konsep "Lansia Peduli"

Para peserta sepakat membangun ekosistem "Lansia Peduli" yang mengintegrasikan peran pemerintah daerah dengan kepedulian lingkungan tingkat RT. Lansia didorong aktif melaporkan kondisi tetangga di sekitarnya yang membutuhkan bantuan, dengan mekanisme berjenjang dari RT hingga kabupaten.

Sambutan Sekda Pemerintah Kabupaten Banyuwangi


Tantangan Anggaran dan Infrastruktur

Sekda Yayan juga mengungkapkan tantangan fiskal yang dihadapi: dana transfer dari pusat berkurang Rp 665 miliar, sementara Banyuwangi memiliki jalan terpanjang sepanjang 2.800 km dengan tingkat kerusakan 20 persen per tahun. Biaya overlay aspal mencapai Rp1 miliar per kilometer.

Meski demikian, pemerintah berkomitmen mengoptimalkan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan terus melanjutkan inovasi manajemen talenta bagi 15.000 ASN di lingkungan Pemkab Banyuwangi.

Aktivitas Menarik Di Penghujung Acara

Rembug Lansia ditutup dengan kegiatan ramah lingkungan, yakni pembuatan produk ecoprint dan pembuatan jajanan lepet yang melibatkan seni merangkai janur. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama menyantap hidangan khas Banyuwangi: Nasi Tempong, Pelasan, dan sayur kelor yang sehat dan lezat.

Langkah Selanjutnya

Panitia yang dikoordinasikan Mbak Lusi dan tim diharapkan segera menyusun rencana tindak lanjut untuk Jambore Lansia yang rencananya digelar tahun depan. Bappeda juga diminta segera menghubungi masing-masing organisasi untuk mendata anggaran dan daftar penerima manfaat yang telah tercover.

Pemerintah daerah pun berkomitmen menindaklanjuti permohonan tertulis mengenai penyesuaian pagar tembok di Gedung Juang agar lebih representatif dan nyaman bagi para lansia. (AW)

Kegiatan membuat produk ramah lingkungan - Eco Printing



Silaturahmi LKNU ke Kemenag Banyuwangi, Bahas Binwin, Penguatan Kesehatan di Madrasah dan Pesantren

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Semangat kolaborasi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat menjadi tema utama dalam pertemuan antara Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Banyuwangi dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Rabu (3/6/2026). Kegiatan silaturahmi tersebut berlangsung di ruang meeting Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Rombongan LKNU Banyuwangi dipimpin oleh Ketua LKNU, dr. Sabit Purnomo, dan disambut langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M.

Dalam kesempatan tersebut, Chaironi Hidayat menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan yang dilakukan pengurus LKNU. Menurutnya, terdapat sejumlah program yang dapat dikembangkan secara bersama-sama untuk mendukung peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan keagamaan.


“Kami melihat banyak peluang kerja sama yang dapat diwujudkan. Di antaranya penguatan Usaha Kesehatan Madrasah (UKM), pembinaan kesehatan di pesantren, serta dukungan LKNU dalam kegiatan bimbingan perkawinan, terutama terkait kesehatan reproduksi,” ungkapnya.

Chaironi menilai kesehatan tidak hanya menjadi urusan sektor medis semata, tetapi juga bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Karena itu, keterlibatan berbagai pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan keagamaan, menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.

Ketua LKNU Banyuwangi, dr. Sabit Purnomo, menyambut baik peluang sinergi tersebut. Ia menegaskan bahwa LKNU siap menjadi mitra strategis Kementerian Agama dalam menjalankan berbagai program kesehatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

“Komunikasi yang baik akan terus kami bangun. Kami berharap kerja sama ini dapat melahirkan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi warga, baik di lingkungan pesantren, madrasah, maupun masyarakat umum,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris LKNU Banyuwangi, Bd. Diah Fitrianingsih, S.Keb., M.Kes., CH, menjelaskan bahwa selama ini pihaknya telah terlibat dalam berbagai kegiatan edukasi kesehatan. Melalui Klinik Dokter Didik Sulasmono (KDS) Rogojampi, ia bersama tim telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pondok pesantren di wilayah sekitar.


Tidak hanya itu, Diah juga kerap memberikan materi kesehatan dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan (Binwin) yang diselenggarakan oleh beberapa Kantor Urusan Agama (KUA) di Kabupaten Banyuwangi.

“Pengalaman yang sudah berjalan ini menjadi bekal untuk memperluas kolaborasi yang lebih terarah dan berkelanjutan bersama Kementerian Agama,” katanya.

Pertemuan tersebut diakhiri dengan harapan agar sinergi yang telah terbangun dapat diwujudkan dalam program-program yang lebih luas dan berdampak langsung bagi masyarakat. Chaironi Hidayat menegaskan bahwa kesehatan masyarakat, terutama di lingkungan pesantren dan madrasah, memerlukan perhatian bersama agar mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Dengan silaturahmi ini, LKNU Banyuwangi dan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi semakin memperkuat komitmen untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat serta selaras dengan nilai-nilai keagamaan yang menjadi fondasi kehidupan umat.

PC RMI NU Banyuwangi Teguhkan Komitmen Wujudkan Pesantren Aman dan Humanis

 Pasuruan (Warta Blambangan) Pengurus Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PC RMI NU) Banyuwangi meneguhkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, ramah, dan humanis melalui partisipasi aktif dalam Deklarasi Nasional Pesantrenku Aman yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, Selasa (2/6/2026).

Gus Syifa Nailul Wafar Terpilih Pimpin IPSI Banyuwangi, Siap Perkuat Prestasi dan Persatuan Perguruan Silat

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Dunia pencak silat Banyuwangi memasuki babak baru. Ahmad Syifa' Nailul Wafar, yang akrab disapa Gus Syifa, resmi terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Banyuwangi dalam Musyawarah Kabupaten (Muskab) IPSI Banyuwangi yang digelar pada Senin (1/6/2026).

Muskab yang berlangsung dengan suasana demokratis tersebut diikuti oleh seluruh perguruan pencak silat yang berada di bawah naungan IPSI Banyuwangi. Sebanyak 24 perguruan turut menggunakan hak suaranya untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi pencak silat terbesar di Kabupaten Banyuwangi itu.


Dalam proses pemilihan, terdapat dua kandidat yang maju sebagai calon ketua, yakni Ahmad Syifa' Nailul Wafar dan Suwito. Setelah melalui tahapan pemungutan suara, Gus Syifa berhasil memperoleh dukungan mayoritas dengan meraih 14 suara, sementara Suwito mendapatkan 10 suara.

Dengan hasil tersebut, Ketua PC Pagar Nusa Banyuwangi yang juga dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren itu resmi menerima amanah untuk memimpin IPSI Banyuwangi pada periode mendatang.

Terpilihnya Gus Syifa disambut sebagai harapan baru bagi kemajuan pencak silat di Bumi Blambangan. Selain dikenal aktif dalam pembinaan kader dan pelestarian seni bela diri tradisional, sosoknya dinilai memiliki kapasitas untuk merangkul seluruh perguruan dalam semangat kebersamaan dan pembinaan prestasi.

Pelaksanaan Muskab IPSI Banyuwangi turut mendapat perhatian dari berbagai pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, IPSI Jawa Timur, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Banyuwangi, serta Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi.

Ketua KONI Banyuwangi, Khoirullah, menegaskan bahwa pencak silat merupakan salah satu cabang olahraga yang memiliki potensi besar dalam menyumbangkan prestasi bagi daerah. Karena itu, ia berharap kepengurusan baru mampu memperkuat sistem pembinaan atlet secara berjenjang dan berkelanjutan.

“IPSI memiliki peran strategis dalam mencetak atlet-atlet berprestasi. Dengan pembinaan yang terarah dan tata kelola organisasi yang baik, pencak silat Banyuwangi akan mampu meraih prestasi yang lebih tinggi di berbagai ajang kompetisi,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan IPSI Jawa Timur, Hosli Abdullah, mengingatkan pentingnya penguatan tata kelola organisasi sebagai fondasi kemajuan lembaga. Menurutnya, administrasi yang tertib dan pelaporan yang akuntabel menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan program pembinaan atlet.

“Pengelolaan organisasi yang profesional akan menjadi kekuatan utama dalam menjalankan berbagai program secara berkesinambungan,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi, Dwi Handayani, berharap IPSI tidak hanya fokus pada pencapaian prestasi olahraga, tetapi juga berperan aktif dalam memperluas partisipasi masyarakat terhadap olahraga pencak silat.

Menurutnya, pencak silat memiliki nilai strategis sebagai warisan budaya bangsa yang mampu membentuk karakter, disiplin, serta semangat sportivitas generasi muda. Oleh karena itu, IPSI diharapkan dapat terus mengembangkan program-program yang mendekatkan olahraga pencak silat kepada masyarakat luas.

Dengan terpilihnya Ahmad Syifa' Nailul Wafar sebagai Ketua Umum IPSI Banyuwangi, harapan besar kini tertuju pada terwujudnya organisasi yang semakin solid, profesional, dan mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi. Di bawah kepemimpinan baru tersebut, IPSI Banyuwangi diharapkan tidak hanya menjadi wadah pembinaan olahraga, tetapi juga menjadi perekat persaudaraan antarperguruan dalam semangat menjaga dan mengembangkan warisan budaya pencak silat di Banyuwangi. (hkl)

LPNU Banyuwangi Siapkan Gerakan Ekonomi Berbasis Komunitas, Dorong Lahirnya Wirausahawan Nahdliyin Berdaya Saing

BANYUWANGI (Warta Blambangan)Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Banyuwangi mulai merancang langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi warga Nahdliyin melalui program pemberdayaan usaha yang terarah dan berkelanjutan. Upaya tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang berlangsung di ruang pertemuan PCNU Banyuwangi, Senin (1/6/2026).

Pertemuan tersebut menjadi forum konsolidasi bagi jajaran pengurus LPNU Banyuwangi dalam menyusun berbagai agenda prioritas yang berorientasi pada peningkatan kapasitas ekonomi warga NU. Sejumlah gagasan strategis mengemuka guna menjawab tantangan ekonomi masyarakat yang semakin dinamis serta membuka peluang usaha yang lebih luas bagi warga Nahdliyin.


Ketua LPNU Banyuwangi, Ahmad Syafroni, menegaskan bahwa organisasi harus mampu mengambil peran nyata dalam membangun kemandirian ekonomi umat. Menurutnya, penguatan sektor ekonomi tidak cukup dilakukan melalui pendekatan seremonial, melainkan membutuhkan program yang mampu memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa LPNU tengah menyiapkan program unggulan bertajuk “Warga NU Naik Kelas, Menjadi Pengusaha Berkualitas”, yang diarahkan untuk mencetak pelaku usaha tangguh sekaligus meningkatkan kapasitas pengusaha yang telah berjalan.

“Warga NU memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Tugas kita adalah menghadirkan sistem pembinaan yang mampu mengembangkan potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Syafroni, perubahan pola ekonomi dan perkembangan teknologi menuntut organisasi untuk lebih adaptif dalam merancang program kerja. Karena itu, LPNU Banyuwangi didorong untuk menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Dalam pembahasan awal, program tersebut akan difokuskan pada sejumlah bidang strategis, antara lain penguatan kapasitas kewirausahaan, pendampingan usaha berbasis potensi lokal, pengembangan pemasaran digital, perluasan jejaring bisnis antarwarga Nahdliyin, serta peningkatan kualitas tata kelola usaha.

Selain pelatihan, LPNU Banyuwangi juga merancang pola pembinaan berkelanjutan yang mencakup aspek legalitas usaha, pengembangan kemasan produk, strategi pemasaran, penguatan merek, akses permodalan, hingga perluasan pasar. Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu pelaku usaha menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan bisnis.

Syafroni menambahkan bahwa yang ingin dibangun bukan semata-mata kemampuan berdagang, melainkan karakter kewirausahaan yang berlandaskan integritas, profesionalitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.

“Transformasi ekonomi membutuhkan mentalitas yang kuat. Kita ingin melahirkan pengusaha NU yang tidak hanya sukses secara bisnis, tetapi juga memiliki komitmen terhadap nilai-nilai keumatan dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Melalui program tersebut, LPNU Banyuwangi juga berupaya membangun ekosistem usaha yang saling terhubung dan menguatkan. Kehadiran komunitas pengusaha NU, pengembangan platform pemasaran produk warga, hingga pelatihan berbasis potensi desa menjadi beberapa gagasan yang mengemuka dalam forum tersebut.

Rapat berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari peserta terkait model pemberdayaan ekonomi yang sesuai dengan karakter sosial dan potensi lokal Banyuwangi. Seluruh gagasan tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan program sebelum direalisasikan secara bertahap.

Dengan inisiatif tersebut, LPNU Banyuwangi berharap dapat memperkuat fondasi ekonomi warga Nahdliyin sekaligus mendorong lahirnya pelaku usaha yang lebih mandiri, inovatif, dan mampu bersaing di tengah perkembangan ekonomi modern. Gerakan ekonomi berbasis komunitas itu diharapkan menjadi salah satu kontribusi nyata Nahdlatul Ulama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

LKKNU Banyuwangi Siapkan Program Strategis Keluarga Maslahah Jelang Pengukuhan Pengurus

 Banyuwangi (Warta Blambangan) Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Cabang Banyuwangi menggelar rapat koordinasi di ruang rapat PCNU Banyuwangi, Senin (1/6/2026), sebagai bagian dari persiapan pengukuhan kepengurusan dan pelaksanaan Musyawarah Kerja (Musker) yang akan datang.


Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk merumuskan berbagai program prioritas yang akan dijalankan LKKNU Banyuwangi dalam upaya memperkuat ketahanan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pendekatan keagamaan, sosial, dan pemberdayaan.

Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, menjelaskan bahwa sejumlah program strategis telah disiapkan untuk dibahas dan ditetapkan dalam Musyawarah Kerja. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah fasilitasi pengesahan nikah bagi pasangan yang telah melaksanakan pernikahan secara sah menurut syariat Islam, namun belum memiliki pencatatan resmi sesuai ketentuan perundang-undangan.

Selain itu, LKKNU Banyuwangi juga akan menginisiasi kegiatan bimbingan teknis terkait Konvensi Hak Anak bagi lembaga-lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama. Program ini diharapkan dapat memperkuat komitmen seluruh elemen NU dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak.

Rapat tersebut turut dihadiri Dewan Pakar LKKNU Banyuwangi, Marifatul Kamila, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi I DPRD Banyuwangi. Hadir pula Imam Muklis, Kepala KUA Kecamatan Wongsorejo yang mengemban amanah sebagai Koordinator Bidang Pemberdayaan dan Ketahanan Keluarga LKKNU Banyuwangi.

Dalam pembahasan program, LKKNU Banyuwangi menegaskan komitmennya untuk menghadirkan berbagai kegiatan yang berorientasi pada terwujudnya Keluarga Maslahah, yakni keluarga yang harmonis, sejahtera, berakhlak mulia, dan memiliki ketahanan sosial yang kuat.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, LKKNU Banyuwangi akan memfokuskan program kerja pada beberapa sektor utama. Di antaranya layanan bimbingan dan konseling keluarga guna membantu penyelesaian persoalan rumah tangga, pendampingan calon pengantin, serta upaya pencegahan perceraian melalui Rumah Konseling Keluarga Maslahah.

Selain itu, program edukasi kependudukan dan kesehatan keluarga juga menjadi prioritas, termasuk peningkatan pemahaman tentang kesehatan mental anak, kesehatan reproduksi, pencegahan perkawinan usia anak, serta upaya menekan angka stunting.

Pada bidang ekonomi, LKKNU Banyuwangi akan mendorong penguatan kemandirian keluarga melalui pelatihan kewirausahaan dan pengembangan keterampilan produktif. Sementara pada aspek lingkungan, organisasi ini akan mengembangkan edukasi masyarakat mengenai pentingnya menciptakan lingkungan pemukiman yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan.

Melalui rangkaian program tersebut, LKKNU Banyuwangi berharap dapat memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama pembangunan masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya keluarga-keluarga yang tangguh, mandiri, dan maslahat bagi lingkungan sekitarnya. (dll)

Dari KUA ke LKKNU: Pengabdian H. Imam Muklis untuk Ketahanan Keluarga Umat

Keluarga adalah madrasah pertama bagi lahirnya generasi yang beriman, berakhlak, dan beradab. Dari rumah tangga yang kokoh akan tumbuh masyarakat yang kuat, sementara dari keluarga yang rapuh sering kali lahir berbagai persoalan sosial yang menguji kehidupan umat. Dalam ikhtiar menjaga amanah besar tersebut, kehadiran sosok H. Imam Muklis, S.Ag., M.H.I. menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan kemaslahatan di tengah masyarakat. Amanah yang kini diembannya sebagai Koordinator Bidang Pemberdayaan dan Ketahanan Keluarga Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Banyuwangi periode 2026–2031 bukan sekadar jabatan organisasi, melainkan panggilan pengabdian untuk merawat pondasi peradaban dari lingkup yang paling mendasar, yaitu keluarga.


Lahir dan dibesarkan di Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, H. Imam Muklis tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai keislaman dan tradisi Nahdlatul Ulama. Sejak usia dini, ia ditempa oleh budaya keagamaan yang menanamkan pentingnya ilmu, adab, serta pengabdian kepada umat. Tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang moderat dan penuh kebijaksanaan menjadi pijakan dalam perjalanan hidupnya, baik sebagai aparatur negara maupun sebagai aktivis organisasi keagamaan.

Perjalanan kariernya di lingkungan Kementerian Agama dimulai dari posisi Penyuluh Agama Islam. Dari ruang-ruang pengajian, majelis taklim, hingga pertemuan masyarakat di pelosok desa, ia belajar memahami denyut kehidupan umat secara langsung. Pengalaman tersebut membentuk kepekaannya terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari urusan rumah tangga, pernikahan, zakat, wakaf, hingga pembinaan kehidupan beragama secara menyeluruh.

Pengabdian itu kemudian berlanjut ketika ia dipercaya mengemban amanah sebagai Penyelenggara Syariah serta Penyelenggara Zakat dan Wakaf di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Pengalaman tersebut memperluas cakrawala pemikirannya mengenai pentingnya menghadirkan hukum Islam yang tidak hanya dipahami secara normatif, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan umat secara nyata. Saat ini, sebagai Kepala KUA Kecamatan Wongsorejo, ia terus berupaya menjadikan pelayanan keagamaan sebagai sarana menghadirkan kemudahan, perlindungan, dan keberkahan bagi masyarakat.

Di luar tugas kedinasan, kiprah organisasinya juga menunjukkan konsistensi dalam melayani umat. Kepercayaan yang pernah diberikan kepadanya sebagai Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyuwangi menjadi bukti bahwa kapasitas keilmuan dan pengalamannya mendapat pengakuan dari berbagai kalangan. Kini, ia juga mengemban amanah sebagai Sekretaris APRI Cabang Banyuwangi, memperluas kontribusinya dalam berbagai bidang kehidupan sosial-keagamaan.

Dalam pandangan H. Imam Muklis, ketahanan keluarga tidak dapat dipisahkan dari tertibnya administrasi pernikahan. Pernikahan bukan hanya akad suci yang mengikat dua insan di hadapan Allah SWT, tetapi juga ikatan hukum yang harus memberikan perlindungan bagi seluruh anggota keluarga. Karena itu, pencatatan pernikahan menjadi perhatian serius dalam bidang yang dipimpinnya. Ia meyakini bahwa keluarga yang sah secara syariat dan terlindungi secara hukum akan memiliki fondasi yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Persoalan pernikahan yang belum tercatat masih menjadi kenyataan yang dijumpai di tengah masyarakat. Tidak sedikit pasangan yang menghadapi berbagai kendala administratif maupun sosial sehingga belum memperoleh pengakuan hukum secara resmi. Dalam menghadapi persoalan tersebut, pendekatan yang dibutuhkan bukan sekadar penegakan aturan, tetapi juga dakwah, edukasi, pendampingan, dan solusi yang berlandaskan kasih sayang. Sebab, Islam hadir sebagai rahmat yang memudahkan, bukan mempersulit kehidupan umat.

Pengalaman panjang yang dimiliki H. Imam Muklis menjadikannya memahami bagaimana menjembatani nilai-nilai syariat dengan ketentuan negara. Kemampuan ini sangat penting di tengah perubahan zaman yang menghadirkan berbagai tantangan baru bagi keluarga, mulai dari tekanan ekonomi, perubahan budaya, hingga derasnya arus informasi digital yang memengaruhi pola kehidupan rumah tangga.

Pada akhirnya, membangun ketahanan keluarga adalah bagian dari menjaga amanah Allah dalam menciptakan generasi yang saleh dan salehah. Upaya tersebut membutuhkan figur yang tidak hanya memahami hukum dan administrasi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta semangat pengabdian yang tulus. H. Imam Muklis menunjukkan bahwa pelayanan kepada umat dapat diwujudkan melalui kerja nyata yang berpijak pada ilmu, adab, dan nilai-nilai keislaman. Dari ruang penyuluhan agama hingga pelayanan di KUA, dari aktivitas MUI hingga amanah di LKKNU, ia terus meneguhkan keyakinan bahwa keluarga yang kuat adalah jalan menuju masyarakat yang bermartabat dan diridhai Allah SWT.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger