Pages

Catatan Seorang Sarjana Desa di Rumah Sunyi Bernama ISNU

Catatan Seorang Sarjana Desa di Rumah Sunyi Bernama ISNU

Oleh: Syafaat 


Langit belum sepenuhnya terang ketika saya berangkat dari rumah. Hanya ada kabut tipis, suara ayam bersahutan, dan azan Subuh yang datang dari surau kecil di seberang sawah. Seperti biasa, saya memulai hari sebagai pegawai negeri di kantor Kementerian Agama, mengurus hal-hal yang tak selalu bisa dijelaskan dengan cepat: bimbingan masyarakat Islam, data majelis taklim, kadang surat keterangan nikah yang terlambat dimasukkan.

Hidup saya, kalau boleh jujur, berjalan seperti jam tua yang tetap berdetakbpelan, pasti, dan kadang dilupakan. Tapi beberapa bulan lalu, sebuah pesan datang. Teman lama, yang pernah bersama saya di jalanan demonstrasi dan diskusi kampus, mengajak saya bergabung ke dalam kepengurusan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama. ISNU. Sebuah nama yang dulu hanya saya dengar sekilas di ujung obrolan. Saya pikir, apa pentingnya lagi bergabung ke organisasi? Saya ini bukan siapa-siapa. Hanya seorang sarjana dari desa, pegawai biasa, bukan pemikir besar, bukan pula pembicara seminar. Tapi ajakan itu terus berputar di kepala saya, seperti suara kecil yang lama-lama jadi gema. Dan akhirnya saya ikut. 


Saya tak pernah membayangkan, bahwa ruang-ruang ISNU yang kecil, kadang berdebu, kadang tanpa spanduk, akan menjadi tempat paling sunyi namun paling dalam yang pernah saya masuki. Tak ada panggung megah, tak ada pencitraan digital. Yang ada hanya orang-orang biasa—tapi dengan hati yang tak biasa. Mereka datang bukan untuk mencari nama. Mereka datang karena tahu, hidup terlalu berharga jika hanya dipakai untuk mengejar insentif. Di ISNU, saya bertemu kembali dengan wajah-wajah lama: seorang dosen yang mengajar sambil menjaga ayahnya yang stroke, seorang peneliti muda yang lebih sering menyumbang bensin ketimbang bicara, seorang guru pesantren yang menulis makalah pakai kertas bekas karena laptopnya rusak bertahun-tahun lalu. Tak ada yang “teraliki”—tidak bisa diukur, tidak bisa dikejar, dan barangkali, memang tidak bisa dijelaskan. Tapi saya tahu, saya berada di tempat yang benar.

Mereka tidak bicara dengan suara keras. Mereka bicara dengan waktu. Dengan hadir. Dengan terus kembali meski tak pernah disebut dalam laporan. Di ISNU, saya belajar bahwa menjadi sarjana tidak selalu berarti berbicara di forum akademik. Kadang ia berarti membuat jadwal pelatihan di balai desa. Kadang hanya mendampingi anak muda yang ingin lanjut kuliah tapi bingung isi formulir. Saya sempat merasa minder. Saya ini hanya pegawai kecil, hidup di desa, tak punya gelar doktor atau pengalaman luar negeri. Tapi di ISNU, semua itu seperti larut. Tak ada yang tanya siapa kamu. Yang ditanya adalah: apa yang bisa kamu beri? Dan dari situlah saya sadar: ISNU bukan organisasi. Ia lebih mirip jalan sunyi. Jalan di mana ilmu bukan untuk dipamerkan, tapi untuk disedekahkan. Jalan di mana amal tak perlu panggung. Jalan di mana doa tidak dibisikkan ke langit, tapi disisipkan ke kerja.

Saya pernah membaca, “Orang besar tak selalu terdengar. Tapi mereka selalu meninggalkan jejak.” Dan ISNU dipenuhi oleh orang-orang seperti itu. Saya tahu, organisasi ini tidak sempurna. Kadang rapat molor. Kadang notulensi hilang. Kadang hanya lima orang yang datang dari lima puluh yang diundang. Tapi anehnya, semangat itu tetap ada. Karena mereka yang datang, datang bukan untuk hadir, tapi untuk memberi. Seorang teman pernah berkata pada saya di akhir pertemuan, “Kita ini hanya menanam. Mungkin bukan kita yang memetik. Tapi kalau tidak ada yang menanam, siapa yang akan menumbuhkan?” Dan saya terdiam lama sekali setelahnya.

Kini, setiap kali saya membuka buku-buku tua di rak, saya tak lagi membacanya hanya untuk diri sendiri. Saya membacanya dengan niat baru: supaya saya bisa berbagi. Kadang lewat pelatihan sederhana. Kadang lewat ceramah kecil di masjid kampung. Kadang hanya lewat tulisan di grup WhatsApp. Saya percaya, bahwa ilmu, jika tidak dipakai untuk melayani, akan menjadi beban. Dan ISNU memberi saya tempat untuk meletakkan beban itu—dengan ikhlas. Saya juga percaya, bahwa di masa depan, ketika anak-anak kita bertanya apa yang kita lakukan selama hidup, kita tidak harus menjawab dengan CV. Cukup dengan cerita-cerita kecil: bahwa kita pernah hadir di rapat sunyi, pernah menulis modul sederhana, pernah membuat lomba baca puisi Islami di sekolah menengah yang hampir ditutup.

Dan itu cukup. Di ISNU, saya menemukan kembali kepercayaan saya pada makna kecil. Pada pertemuan tanpa tanda tangan. Pada kesepakatan tanpa materai. Pada zikir yang dibisikkan pelan saat menyusun program kerja. Saya tidak tahu apakah tulisan ini akan dibaca. Tapi saya tahu, saya harus menulisnya. Sebagai saksi. Bahwa di sebuah tempat bernama ISNU, di sebuah kabupaten kecil yang tak masuk radar media nasional, ada sekelompok sarjana yang diam-diam sedang berusaha menjaga cahaya.

Cahaya itu tak teraliki, tapi dari cahaya itu, kita bisa menulis ulang arti menjadi manusia.

“Barangkali, mereka yang paling sunyi justru sedang bekerja paling dalam. Bukan untuk dunia. Tapi untuk masa depan yang lebih teduh.”


71 Majelis Taklim di Gambiran Terima SKT, Simbol Tertibnya Penataan Umat

Gambiran (Warta Blambangan) – Sebanyak 71 majelis taklim di Kecamatan Gambiran resmi menerima Surat Keterangan Terdaftar (SKT) dari Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Penyerahan dilakukan secara simbolis di mushola Kantor Urusan Agama (KUA) Gambiran, menandai langkah penting dalam penataan kelembagaan keagamaan di tingkat akar rumput. 


Acara yang digelar sederhana namun penuh makna tersebut dihadiri oleh para tokoh agama, pengelola majelis taklim, serta para penyuluh agama Islam. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi diwakili oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, Mastur, yang dalam sambutannya menyampaikan pentingnya SKT sebagai instrumen legalitas dan arah dakwah yang lebih tertata.

> “SKT bukanlah sekadar lembaran administrasi. Ia adalah bukti hadirnya negara untuk menguatkan jalan dakwah, untuk menata gerak pengajian agar semakin terarah dan membawa maslahat,” ungkap Mastur.

Mastur juga menekankan bahwa majelis taklim bukan hanya tempat berkumpulnya masyarakat untuk mengaji, tetapi merupakan pilar peradaban Islam yang menanamkan nilai iman, takwa, dan ukhuwah.

Senada dengan itu, Kepala KUA Gambiran, Ghufron Mustofa, menegaskan bahwa proses penyerahan SKT ini merupakan hasil dari kerja keras dan sinergi antara para penyuluh, pengurus majelis taklim, serta jajaran KUA. Ia menambahkan bahwa SKT menjadi penanda jati diri kelembagaan yang sah dan kuat bagi setiap majelis taklim.

> “Kami tidak hanya menyerahkan SKT, tetapi juga menanam benih ketertiban dan kejelasan arah. Dengan SKT, majelis taklim memiliki dasar hukum yang kokoh,” ujarnya.

Ghufron juga memberikan apresiasi khusus kepada Dalilatus Sa’adah, penyuluh agama Islam yang dengan dedikasi tinggi memimpin proses pendataan dan pendampingan majelis taklim hingga tuntas.

Suasana haru menyelimuti acara. Banyak pengurus majelis taklim yang hadir menyambut SKT ini dengan rasa syukur dan harapan baru. Bagi mereka, dokumen ini adalah bentuk pengakuan atas perjuangan dakwah yang telah mereka jalani dengan penuh keikhlasan.

> “Selama ini kami berjalan dengan niat. Kini kami berjalan pula dengan arah yang jelas dan landasan hukum yang sah,” ujar seorang pengurus majelis taklim dari Dusun Lidah.

Mereka berharap, penerbitan SKT akan menjadi awal dari pembinaan yang lebih terstruktur, pelatihan rutin, serta dukungan pemerintah dalam penguatan kapasitas kelembagaan. Majelis taklim diharapkan tidak hanya menjadi ruang pengajian, tetapi juga pusat tumbuhnya nilai kebajikan dan pendidikan Qur’ani.

Penyerahan SKT ini bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dari tata kelola keagamaan yang lebih rapi. Dari mushola kecil di Gambiran, cahaya gerakan dakwah yang tertib mulai menyala—membawa harapan besar bagi masa depan umat yang lebih terdidik, bersatu, dan penuh rahmat.


Hoki BCM yang Tertinggal di Taman Blambangan

 *Hoki BCM yang Tertinggal di Taman Blambangan*


Car Free Day di Taman Blambangan sudah berlangsung enam tahun. Tidak panjang sebenarnya, tapi cukup untuk menciptakan satu rutinitas sosial yang halus, nyaris tak terdengar, namun bekerja seperti detak jam dinding yang sudah akrab di telinga: diam-diam ada, diam-diam ditunggu. Setiap Minggu pagi, sejak pukul lima sampai sekitar pukul sepuluh, ada sesuatu yang lebih dari sekadar orang-orang berolahraga. Ada aroma nasi tempong yang baru matang. Ada suara penggorengan mendesis dan tawa anak-anak yang merengek dibelikan mainan dari kayu atau sabun. Ada lapak-lapak yang dihamparkan malam hari dan digulung kembali ketika mentari menjelang siang. Semua ini berlangsung tanpa riuh, tanpa protes, tanpa proposal bantuan. Seperti semesta kecil yang bekerja berdasarkan saling percaya.



Kita sering mendengar kalimat seperti ini di media: “Pemerintah tidak akan memberikan pekerjaan kepadamu. Tapi ketika kamu mulai mendapat penghasilan, maka pemerintah akan datang untuk menagih pajakmu.” Kita bisa menyepakati kalimat itu dengan senyum masam atau geleng kepala. Tapi buat kawan-kawan yang berdagang di BCM (Banyuwangi Creative Market) yang selama ini setia menata lapak di seputaran Taman Blambangan, itu bukan kalimat kiasan. Itu adalah kenyataan. Mereka tak menuntut gaji, tak berharap proyek, apalagi tunjangan. Mereka hanya butuh ruang. Bukan ruang yang mewah. Hanya beberapa meter untuk membentangkan tikar, menata kerajinan tangan, menyusun minuman tradisional, dan menunggu pembeli yang mereka tahu akan datang karena telah menjadi langganan, telah menjadi bagian dari siklus sosial selama enam tahun. Tapi sekarang, ruang kecil itu hendak digeser. Mereka diminta pindah ke jalan Ahmad Yani, Mungkin ini urusan estetika. Mungkin pemerintah menganggap Taman Blambangan sudah terlalu ramai. Atau mungkin pemerintah sedang ingin menunjukkan bahwa mereka sedang menata kota. Bukankah relokasi selalu punya kata pembenaran yang elegan? Penataan. Penertiban. Estetika. Kerapian. Semua terdengar baik. Tapi kita tahu, dalam praktiknya, tidak semua yang rapi itu adil.


Saya percaya pada yang namanya hoki. Sebagian dari kita menyebutnya keberuntungan, sebagian menyebutnya aura rezeki. Tapi bagi para pedagang kecil, hoki adalah bagian dari strategi bertahan hidup. Tempat yang ramai bukan selalu berarti tempat yang menghasilkan. Di Ahmad Yani, lalu lintasnya padat. Orang banyak lalu lalang. Tapi tak semua yang datang berminat belanja. Sementara di Taman Blambangan, para pembeli bukan sekadar lewat. Mereka datang memang untuk membeli. Untuk mampir. Untuk menyapa. Untuk jajan setelah jogging. Ada relasi sosial yang dibangun perlahan dan setia. Ada pedagang yang akhirnya mencoba pindah ke Ahmad Yani. Hasilnya? Banyak yang datang. Tapi tidak banyak yang membeli. Seperti tamu undangan yang datang ke pameran, hanya melihat-lihat, sekfi lalu pulang. Bukan pengunjung. Bukan pembeli. Tidak ada interaksi. Tidak ada "hoki."


Saya selalu berpikir bahwa ruang publik adalah cermin bagaimana kita memperlakukan warganya. Jika sebuah kota tidak menyediakan ruang yang manusiawi bagi warganya untuk bertahan hidup secara layak, maka kota itu bukan sedang ditata, melainkan sedang didekorasi. Dan dekorasi hanya menutupi yang seharusnya dibuka. Kota ini tidak kekurangan ruang. Tapi sering kali ruang-ruang itu disediakan untuk yang besar, yang punya modal, yang berjejaring dengan kekuasaan. Sedangkan yang kecil, yang menunduk pelan, yang hanya ingin menjual minuman kunyit asam dan bros dari kain perca, harus berpindah. Harus menyesuaikan. Harus menelan penjelasan birokrasi yang tak pernah benar-benar mengerti bahwa rezeki tak hanya soal strategi pasar. Tapi juga soal kenyamanan. Soal relasi batin. Soal tempat yang akrab. Saya pernah melihat seorang ibu tua membuka lapaknya pukul setengah lima pagi. Di lapaknya ada keripik singkong, peyek udang, dan kerajinan dari limbah koran. Ia duduk tenang. Senyumnya muncul ketika pembeli datang. Kadang hanya tanya-tanya, kadang benar-benar membeli. Tapi ia tahu, setiap Minggu akan ada saja yang kembali. Yang mencari lagi. Yang menunggu rasa pedas peyek udangnya. Kalau kemudian ia diminta pindah, bukan hanya tempatnya yang hilang. Tapi juga langganannya. Jejak-jejak kecil yang telah ia ukir perlahan. Kota ini mungkin tak akan merasa kehilangan. Tapi ibu itu akan kehilangan. Dan itu bukan sekadar kehilangan penghasilan, tapi kehilangan kehidupan.


Kita tidak sedang berbicara soal menata ulang pasar. Kita sedang bicara soal keberlangsungan. Soal keberanian untuk mengakui bahwa terkadang yang kecil dan bersahaja itu lebih berkontribusi pada wajah kota daripada bangunan megah yang sepi. Kita sedang bicara tentang taman yang bukan hanya tempat selfie atau konser. Tapi tempat di mana kehidupan kecil tumbuh dan bertahan.


Car Free Day bukan hanya tentang bebas kendaraan. Tapi juga tentang ruang hidup. Ruang sosial. Ruang ekonomi. Dan ketika ruang itu dipersempit atau dipindah tanpa mempertimbangkan ekosistem kecil yang telah tumbuh di dalamnya, maka yang kita hasilkan bukanlah penataan, melainkan pengusiran yang halus. Saya kira, para pedagang BCM itu bukan menolak perubahan. Mereka hanya ingin diajak bicara. Diajak mendesain bersama. Diberi ruang untuk menyampaikan rasa. Karena pada akhirnya, sebuah kota bukan dibangun dari beton semata, tapi dari dialog. Dari empati. Dari cara kita mendengar suara-suara kecil yang selama enam tahun telah membantu kota ini berdenyut setiap Minggu pagi. Dan mungkin, sesederhana ini permintaan mereka: biarkan kami tetap di tempat yang sudah kami rawat. Karena di sanalah rezeki kami tinggal. Di sanalah hoki kami menunggu.

PP ISNU Siap Berdayakan SDM Unggul Dukung Astacita Presiden Prabowo

JAKARTA (Warna Blambangan) Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) menyatakan kesiapannya untuk menggerakkan dan memberdayakan sumber daya manusia (SDM) unggul yang dimiliki demi mendukung visi besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam menyukseskan agenda Astacita. 


Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Ketua Umum PP ISNU, Kamaruddin Amin, dalam acara Halaqah, Pelantikan, dan Mukernas PP ISNU 2025–2030 yang digelar di Jakarta, Rabu (30/7/2025).

“Halaqah ini bukan hanya seremonial, tetapi menjadi komitmen kami untuk bergerak memberdayakan SDM yang kami miliki untuk memberikan dampak bagi tercapainya Indonesia Emas,” tegas Kamaruddin dalam keterangan resminya.

Acara halaqah tersebut dibuka langsung oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dan menjadi titik awal dimulainya kerja-kerja strategis badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang menaungi para sarjana NU tersebut.

Kamaruddin menambahkan, dengan kekuatan ribuan sarjana NU yang tersebar di berbagai daerah dan bidang keahlian, ISNU siap memberikan kontribusi nyata dalam pencapaian Astacita, delapan cita-cita strategis Presiden Prabowo yang menitikberatkan pada pembangunan manusia, transformasi ekonomi, dan kedaulatan bangsa.

“ISNU bukan hanya komunitas intelektual, melainkan kekuatan strategis bangsa. Ini saatnya kami turun tangan dan memberi solusi konkret,” ungkapnya.

Forum Pra-Halaqah: ISNU Dorong Investasi Global

Sebelum penyelenggaraan halaqah, PP ISNU telah menginisiasi langkah awal melalui rangkaian diskusi bertajuk ISNU Forum Investment on Trade, yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjaring minat investasi asing.

Forum tersebut menghadirkan sejumlah tokoh internasional dan investor untuk membahas potensi kerjasama ekonomi yang lebih luas, sekaligus memperkenalkan peluang strategis Indonesia kepada dunia luar.

Beberapa tokoh penting yang hadir dalam forum tersebut antara lain Chairman Mitra Global & Binwan Group Sohail Sattar Quraeshi, Founder Danny Darussalam Tax Center (DDTC) Darussalam, pengusaha Lucia Liaw, serta Guru Besar Hukum dan Politik Perpajakan Nasional Prof. Edi Slamet Irianto.

Turut hadir pula Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun dan sejumlah pengusaha nasional yang menunjukkan komitmen untuk bersinergi dengan ISNU dalam mendongkrak investasi, utamanya di sektor riil dan digital.

Kontribusi Nyata Menuju Indonesia Emas

Dengan bekal kapasitas akademik, jejaring luas, dan basis nilai keislaman yang kuat, PP ISNU bertekad untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan, etika, dan pemberdayaan masyarakat.

“Indonesia Emas bukan hanya cita-cita, tapi target yang harus diwujudkan dengan kerja kolaboratif. ISNU hadir untuk menjadi bagian dari kerja besar itu,” pungkas Kamaruddin.


Diguyur Hujan Deras, Pertarungan Etape Tiga Tour de Banyuwangi Ijen Kian Panas

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Etape Tiga Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) 2025 berubah menjadi arena perang terbuka di bawah guyuran hujan deras, Rabu (30/7/2025). Sejak bendera start dikibarkan di RTH Glenmore, lintasan sepanjang 140,3 kilometer yang berakhir di Kantor Bupati Banyuwangi dipenuhi drama, jatuh-bangun, serta duel sengit yang memompa adrenalin. 


Hujan yang mengguyur sejak pagi membuat lintasan basah dan licin, menambah kesulitan di medan rolling (naik turun) dengan tanjakan legendaris sepanjang 14 kilometer. Gradien mencapai 15 persen dan elevasi 527 mdpl membuat para pembalap tercekik di setiap kayuhan pedal. Etape ini benar-benar menjadi pemanasan brutal sebelum Gunung Ijen yang menanti di etape pamungkas.

"Hujan yang sangat deras membuat kondisi lintasan benar-benar ekstrem. Bahkan kadang jalannya seperti hilang tertutup air. Etape tiga ini jauh lebih sulit dibanding dua etape sebelumnya," ungkap pembalap Belanda, Jeroen Meijers (Victoria Sports Pro Cycling Filipina), yang masih bertahan sebagai pemegang Ijen Sulfur Jersey (Yellow Jersey).

Kecelakaan pun tak terhindarkan. Pembalap Indonesia, Syelhan Nurahmat Muhammad (ASC Monster Indonesia), sempat terpelanting akibat jalan licin. Namun, semangat juangnya tidak padam. "Saya langsung bangkit lagi dan mengejar peloton. Bersyukur bisa mempertahankan Best Indonesian Rider (Banyuwangi Reborn Jersey)," tegas Syelhan.

Sejak kilometer nol, tensi perlombaan langsung membara. Peerapong Landgern (Roojai Insurance Thailand) melancarkan breakaway berani, disusul Kyeongho Min (Seoul Cycling Team). Landgern sukses mengamankan intermediate sprint pertama di KM 26 (Dasri), sebelum akhirnya dikejar oleh tiga pembalap lainnya: Bernard Benyamin Van Aert (Anonymous Cycling Team Indonesia), Nur Amirull Fakhruddin Mazuki (Terengganu Cycling Team Malaysia), dan Martti Lenzius (Quick Pro Team Estonia).

Lima pembalap itu memimpin hingga intermediate sprint kedua dan ketiga di KM 58 (Jajag) dan KM 95 (Rogojampi), yang masing-masing disapu oleh Bernard. Namun, drama sesungguhnya terjadi menjelang tanjakan King of Mountain (KOM) di KM 114 Pakel. Peleton melaju kencang, mengejar breakaway, hingga akhirnya formasi pecah.

Di tanjakan Pakel, Nicolo Petiti (Swatt Club Italia) melancarkan serangan mematikan dan sukses merebut poin penuh di KOM, sekaligus mempertahankan Polkadot Jersey. "Saya melihat 5 rider di depan mulai melemah, langsung saya ambil kesempatan. Ini semua berkat kerja tim yang luar biasa," kata Petiti dengan senyum puas.

Setelah tanjakan, medan basah dan licin memecah konsentrasi. Sisa 19 pembalap bersaing ketat dalam sprint mematikan menuju garis finis. Suara gemuruh roda dan teriakan tim penonton pecah saat Carter Bettles (Roojai Insurance Thailand) menghempaskan lawannya di detik terakhir. Ia mencatatkan waktu 3 jam 13 menit 07 detik dan keluar sebagai juara Etape Tiga.

Nicolo Petiti yang tampil eksplosif finis di posisi dua, disusul Lucas De Rossi (China Anta - Mentech Cycling Team) di tempat ketiga.

Meski gagal podium, Jeroen Meijers berhasil mengamankan posisi tujuh, cukup untuk mempertahankan Ijen Sulfur Jersey (Yellow Jersey) sekaligus Best Sprint (Blue Fire/Green Jersey). Persaingan menuju Etape Empat, yang akan mendaki legendaris Gunung Ijen, dijamin akan semakin panas.

TdBI 2025 benar-benar menyajikan tontonan kelas dunia. Hujan deras, lintasan licin, dan tanjakan kejam hanya membuat semangat para pembalap semakin membara. Semua mata kini tertuju pada Etape Empat. Siapa yang akan menaklukkan Gunung Ijen dan mengukir sejarah? Banyuwangi siap jadi saksi! (*)


Tour de Ijen dan Sebuah Cara untuk Dilihat Dunia

 Tour de Ijen dan Sebuah Cara untuk Dilihat Dunia

Oleh: Lensa Banyuwangi

Ada banyak cara untuk memperkenalkan kampung halaman kepada dunia. Ada yang menulis puisi dan membacakannya di forum-forum internasional. Ada yang membawa kopi lokal ke festival di Eropa. Ada juga yang diam-diam membangun jalan, menata trotoar, merawat taman, lalu berharap satu-dua orang asing yang kebetulan lewat akan menoleh dan bertanya, “Ada apa di sini?” 


Tapi Banyuwangi memilih yang lebih berani: Tour de Ijen. Setiap tahun, deru sepeda memecah pagi di lereng-lereng gunung. Jalan-jalan yang biasanya dilewati anak sekolah dan penjual gorengan tiba-tiba menjadi panggung bagi pembalap dari berbagai belahan dunia. Kamera televisi melayang-layang di udara, mengintip dari atas drone, menyorot lekuk jalan yang meliuk di antara ladang dan hutan, memperlihatkan betapa hijau tanah ini, betapa biru langitnya, dan betapa segala yang tumbuh di sini seperti tahu caranya membuat orang betah menatap lebih lama.

Tour de Ijen bukan sekadar lomba mengayuh pedal. Bukan hanya soal siapa tercepat menaklukkan tanjakan di kawasan Taman Nasional Alas Purwo atau siapa yang paling lihai menjaga stamina ketika angin laut menampar pipi di sepanjang Pantai Boom. Ini adalah panggung. Panggung tempat Banyuwangi tampil dengan caranya sendiri, dengan keanggunan yang tak dibuat-buat, dengan senyum anak-anak di pinggir jalan yang melambai pada pembalap yang tak mereka kenal, dengan aroma kopi arabika yang dibawa angin dari lereng Gunung Raung.

Yang tak kalah penting: Tour de Ijen adalah cara pemerintah berpikir panjang. Mungkin ada yang sinis, seperti biasa. Ada yang bilang: "Buat apa lomba balap sepeda, jalanan saja masih banyak berlubang." Ada juga yang mencibir: "Ah, itu hanya untuk pamer, bukan untuk rakyat." Tapi mereka lupa, bahwa kadang jalan yang berlubang itu bisa ditambal berkat tamu-tamu yang datang membawa devisa. Bahwa para penjual es kelapa muda di pinggir jalan bisa mengganti sepeda butut anaknya karena habis dagang saat Tour de Ijen berlangsung. Bahwa anak-anak muda belajar menari gandrung bukan karena tugas sekolah, tetapi karena ingin tampil menyambut para pembalap dari Portugal, Jepang, atau Afrika Selatan. Bahwa desa-desa yang dulu sepi kini sibuk menyiapkan homestay karena orang mulai mencari tempat tinggal yang hangat dan bersahabat, bukan hotel dingin bertarif mahal.

Pemerintah tak sedang bermain-main. Ini bukan proyek coba-coba. Ini cara berpikir panjang: bahwa pembangunan tak selalu berupa gedung menjulang, tetapi juga membangun rasa percaya diri rakyatnya. Tour de Ijen adalah undangan terbuka kepada dunia: datanglah, lihat kami, lihat tanah kami, lihat bagaimana kami menyambut tamu, lihat betapa kami punya sesuatu yang bisa dibanggakan.

Dan rakyat Banyuwangi menjawab undangan itu dengan cara mereka sendiri. Mereka mulai menata halaman rumah, melatih anak-anak menari, menyulam kembali cerita-cerita leluhur agar bisa dibagikan kepada para tamu yang haus kisah. Mereka menggali kembali tradisi, bukan untuk dipajang seperti barang antik, tetapi untuk dihidupkan kembali, untuk ditawarkan sebagai pengalaman: ini kami, ini Banyuwangi.

Ekonomi pun ikut bergerak. Dari penjaja dawet di pinggir jalan, tukang ojek wisata, perajin batik using, hingga pemandu lokal yang mulai belajar Bahasa Inggris lewat aplikasi di ponsel. Mereka semua tersentuh oleh getaran yang dibawa Tour de Ijen. Karena pada akhirnya, kemajuan itu bukan hanya soal angka-angka di papan statistik. Tapi tentang siapa yang makan hari ini karena dagangannya laku. Tentang siapa yang tak lagi malu memperkenalkan desanya karena sudah tampil di layar kaca. Tentang siapa yang akhirnya percaya, bahwa tempatnya tinggal itu penting. Bahwa tanahnya tidak kalah cantik dari Swiss atau Selandia Baru.

Pembangunan memang tidak mudah. Tapi jika dikerjakan dengan hati dan dipandu visi yang jernih, hasilnya tak akan mengecewakan.

Tour de Ijen adalah bukti bahwa Banyuwangi tak sekadar ingin dikenal, tapi ingin diakui. Bukan karena bangunan pencakar langit atau mal megah, tetapi karena alamnya yang jujur, rakyatnya yang ramah, budayanya yang hidup, dan kesungguhannya merawat yang diwariskan leluhur.

Siapa pun yang datang ke Banyuwangi lewat Tour de Ijen akan pulang dengan cerita. Tentang tanjakan yang melelahkan, ya. Tapi juga tentang semangkuk rujak soto di pinggir jalan. Tentang seorang nenek yang menjual tapai sambil mengajak ngobrol dengan logat Osing yang tak bisa mereka pahami, tapi senyumnya menulari siapa saja. Tentang anak-anak yang berlari mengejar iring-iringan sepeda, lalu pulang membawa cita-cita: suatu hari nanti, aku ingin jadi pembalap. Atau pemandu wisata. Atau kepala desa yang bisa mempercantik desanya agar dilirik dunia.

Inilah Banyuwangi. Inilah Tour de Ijen. Sebuah mimpi yang digayuh perlahan, dengan cara yang kadang tak dimengerti orang-orang yang terburu-buru. Tapi rakyat Banyuwangi tahu: tak ada jalan pintas untuk menjadi tuan rumah yang baik. Harus ada persiapan. Harus ada dedikasi. Harus ada kerendahan hati untuk belajar dan kesungguhan untuk bangkit. Dan Banyuwangi sedang berjalan ke sana. Dengan sepeda. Dengan doa. Dengan harapan.

Negeri Terisolasi dalam Antrean: Catatan dari Banyuwangi yang Tertahan

 Negeri dalam Antrean: Catatan dari Banyuwangi yang Tertahan

Oleh : Syafaat


Bayangkan begini: kau bangun pagi di Banyuwangi, ingin mengirim keripik tempe ke Denpasar, lalu mengecek peta Google. Jalur Gumitir merah pekat. Jalur Situbondo lebih merah lagi. Kapal penyeberangan di Ketapang mengantre sampai Alas Baluran, 55 kilometer dari pelabuhan. Di titik ini, kita bisa mengatakan bahwa Banyuwangi tidak sedang baik-baik saja. Ia nyaris seperti kota yang diisolasi. Bukan karena wabah, bukan karena kerusuhan, tapi karena jalan dan kapal.

Jalur Gumitir ditutup sejakdua puluh empat Juli. Ada perbaikan jalan. Katanya butuh waktu dua bulan. Itu bukan waktu sebentar bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada kelancaran arus barang dan jasa. Gumitir bukan sekadar jalan raya yang membelah pegunungan. Ia adalah urat nadi. Di sanalah barang-barang dari Surabaya, Jember, dan sekitarnya mengalir menuju Banyuwangi dan Bali. Ketika nadi itu terputus, tubuh pun limbung.

Jalur utara via Situbondo sebenarnya bisa jadi alternatif. Tapi, mari kita bicara fakta: jalur utara lebih jauh, lebih padat, lebih panas. Tak banyak orang memilihnya jika tak terpaksa. Lebih-lebih sekarang, ketika kapal penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk sedang dalam mode "hemat armada". Hanya lima kapal yang beroperasi. Lima kapal untuk ribuan kendaraan per hari. Kau tahu apa yang terjadi? Kemacetan panjang. Bahkan beberapa hari lalu, kemacetan menembus Alas Baluran. Hutan itu menjadi garasi dadakan. 


Saya tidak tahu siapa yang bisa tidur nyenyak dengan peta merah darah seperti itu. Saya juga tidak tahu siapa yang diuntungkan dalam situasi ini. Tapi saya tahu siapa yang dirugikan: semua orang. Ya, semua. Petani di Kalibaru, pedagang di Rogojampi, sopir ekspedisi dari Lumajang, hingga pengusaha keramik di Bali. Semua terkena dampaknya. Ekonomi tidak mengenal batas administratif. Banyuwangi mungkin punya bupati, Bali punya gubernur, tapi pasar tak punya bendera.

Sayur-mayur dari Banyuwangi—untungnya—masih diberi prioritas. Truk-truk berisi kol, wortel, dan bayam tetap bisa menyeberang. Tapi itu tidak cukup. Ada ikan asap yang terhambat. Ada sepatu kulit dari Jember yang ditunda pengirimannya. Bahkan, mobil pribadi pun harus antre berjam-jam demi bisa naik kapal. Beberapa orang memilih putar balik dan menginap. Beberapa lainnya menggerutu di pinggir jalan sambil menyeduh kopi sachet yang mulai terasa pahit. Kita mungkin bisa memuji pemerintah karena memberi prioritas pada bahan pangan. Tapi kita juga punya hak untuk bertanya: mengapa hanya lima kapal? Mengapa perbaikan jalan Gumitir tidak bisa dikerjakan dengan sistem buka-tutup? Mengapa tidak disiapkan rute darurat yang bisa membantu kendaraan ringan? Apakah harus menunggu semuanya macet dulu baru menyadari bahwa satu jalur punya efek domino sampai ke dapur rumah tangga?

Dalam cerita-cerita masa lalu, jalur Gumitir adalah lorong waktu. Ia bukan hanya penghubung Jawa dan Bali, tapi juga pembuka jalan bagi wisata, budaya, dan logistik. Orang datang ke Banyuwangi lewat situ. Orang pulang dari Bali juga lewat situ. Ketika Gumitir tertutup, seolah-olah pulau ini kehilangan separuh denyutnya.

Namun, di tengah keterpurukan ini, Banyuwangi seperti punya ketahanan batin yang tak mudah luntur. Tour de Banyuwangi Ijen—balap sepeda internasional—tetap digelar. Ratusan pembalap asing tiba lewat udara, lewat laut, lewat rute apa pun yang masih mungkin. Jalan boleh tertutup, tapi semangat menyambut tamu dunia tidak ikut ditutup. Itulah Banyuwangi. Ia seperti perempuan tua yang kehilangan perhiasannya, tapi tetap menyambut tamu dengan senyuman. Ia tak bisa mengantar tamu sampai pintu, tapi ia tetap menyeduhkan kopi.

Pertanyaannya sekarang: sampai kapan kondisi seperti ini berlangsung? Sampai kapan daerah perbatasan antara Jawa dan Bali ini dibiarkan menunggu dengan napas tersengal? Apakah kita harus terus berharap pada cuaca, pada kapal, pada proyek jalan yang tak pernah selesai tepat waktu?

Saya tidak sedang ingin menyalahkan siapa-siapa. Saya hanya ingin mencatat, bahwa dalam peta merah ini, kita semua adalah titik-titik yang sedang mengantre untuk menemukan jalan keluar. Banyuwangi tidak terisolasi. Ia hanya sedang diuji. Tapi ujian yang terlalu lama bisa membuat orang kelelahan. Dan saya kira, kelelahan kolektif seperti ini bukan hal yang bisa dibiarkan. Sebab dari kelelahan lahirlah ketidakpercayaan. Dan ketika orang tak lagi percaya bahwa mereka bisa sampai ke tujuan, mereka akan berhenti mencoba.

Seorang lelaki tua duduk di emperan SPBU yang kosong. Tangki-tangki besar menganga seperti mulut raksasa yang kelaparan. Ia memandangi sepeda motornya yang tak bisa bergerak, seperti manusia yang kehilangan tulang punggungnya. Bahan Bakar Minyak tak lebih dari cairan hitam pekat, tetapi ia menyambung urat nadi bangsa ini. Lalu, seseorang dari kejauhan bertanya dengan getir, “Kenapa kita tak siap saat sesuatu yang paling sederhana menjadi langka?” Kita hidup di sebuah negeri yang tergesa-gesa. Bangun tidur langsung menyalakan mesin. Anak-anak pun tak lagi mengenal suara rantai sepeda. Mereka tahu bunyi starter motor lebih dulu sebelum tahu caranya menyeimbangkan diri di pedal. Negeri ini menjadikan BBM sebagai dewa kecil dalam rumah tangga. Tanpa BBM, tak ada pergerakan. Dan tanpa pergerakan, seolah-olah hidup tak berjalan.

Ketika Jalur Gumitir ditutup, orang-orang baru sadar bahwa negeri ini tidak punya rencana cadangan. Padahal, itu hanya satu ruas jalan yang menghubungkan Banyuwangi dan Jember. Tapi dampaknya menyebar seperti bau bensin yang tumpah: meruap, menusuk, dan tak bisa diabaikan.

Empat hari saja jalur itu tak bisa dilewati, dan Jember mulai kehabisan nafas. Truk-truk tak bisa menyeberang. Pengiriman BBM tersendat. Stok di SPBU menyusut lebih cepat daripada baterai ponsel yang tak pernah dicas. Sekolah lumpuh. ASN mulai bekerja dari rumah. Dan kita—dengan segala kebiasaan urban kita—mulai bertanya: apakah ini tanda zaman kiamat versi modern?

Lucunya, kelangkaan BBM di Jember justru lahir dari keterisolasian Banyuwangi. Karena kapal Pertamina bersandar di dermaga Banyuwangi, dan dari sanalah bensin mengalir ke berbagai kabupaten tetangga. Maka, ironi pun terjadi. Ketika Banyuwangi seolah-olah menjadi provinsi kecil yang terisolasi, dampaknya justru dirasakan paling keras oleh yang di luar sana. Seperti seseorang yang memutuskan diam, dan diamnya justru membuat gaduh dunia.

Bukankah selama ini kita menganggap Banyuwangi hanya semacam halaman belakang dari Jawa Timur? Tempat orang singgah sejenak sebelum menyeberang ke Bali. Tapi kini, halaman belakang itu ternyata menyimpan saklar utama. Sekali dipadamkan, separuh rumah ikut gelap. Kita bisa menertawakan ini, tentu saja. Tapi itu tawa getir. Sebab, kita hidup dalam sistem yang menjadikan satu komoditas sebagai penentu segalanya. BBM tidak hanya menyulut mesin, tapi juga menyulut kecemasan, ketergantungan, bahkan kekacauan sosial.

Anak-anak yang biasanya naik ojek ke sekolah, tiba-tiba harus belajar daring. Bukan karena pandemi, tapi karena bensin habis. Lalu muncul tanya yang menyakitkan: kenapa mereka tak terbiasa naik sepeda? Karena kita sudah lama percaya bahwa sepeda adalah simbol kemiskinan. Dan kemiskinan adalah aib yang harus dibakar dengan bensin. Kini, ketika bensin langka, kita tak hanya kehilangan mobilitas, tapi juga kehilangan kepercayaan diri.

Mungkin, ini pelajaran yang terlambat datang. Bahwa kita terlalu mengandalkan satu jalur, satu jenis energi, satu cara hidup. Kita terlalu percaya bahwa modernitas adalah soal kecepatan. Bahwa teknologi adalah mesin, dan mesin adalah kendaraan. Padahal, dulu sekali, manusia bisa berjalan kaki puluhan kilometer, membawa buku di punggung, dan tetap menjadi orang cerdas. Tapi kini, seorang anak tak bisa ke sekolah hanya karena motornya tak bisa hidup. Dan seorang ibu tak bisa memasak karena harga gas melonjak. Dan seorang sopir truk mogok di pinggir jalan, memandangi truknya seperti perahu yang kehilangan angin.

Negeri ini terlalu rapuh untuk bergantung pada satu hal. Terlalu besar untuk disandarkan pada satu dermaga. Dan terlalu penting untuk dijadikan eksperimen logistik. Kita membutuhkan lebih dari sekadar aspal dan bensin. Kita butuh daya tahan. Kita butuh kesiapan mental untuk kembali ke cara-cara sederhana saat dunia modern kolaps.

Barangkali sudah waktunya kita mengenal ulang kata “hemat.” Mengenal ulang sepeda. Mengenal ulang berjalan kaki. Mengenal ulang sekolah sebagai tempat bukan hanya untuk belajar, tapi juga untuk bertemu dan berdiskusi, walau tanpa sinyal internet. Karena jika tidak, suatu saat nanti kita akan menjadi bangsa yang bisa kerja dari mana saja, tapi tidak tahu lagi ke mana harus melangkah. Kita akan menjadi bangsa yang bisa mengisi formulir online, tapi tak bisa mengisi hati anak-anak dengan pengalaman yang bermakna. Kita akan menjadi bangsa yang berjalan cepat, tapi tak tahu ke mana. Dan semua itu dimulai dari cairan hitam bernama BBM. Ketika ia hilang, semua menjadi lumpuh. Dan kita pun terpaksa duduk di emperan, menunggu sesuatu yang kita sendiri tidak tahu: apakah truk Pertamina akan tiba, atau hidup kita akan mulai dipertanyakan ulang.

Setiap jalan menuju Banyuwangi adalah cerita. Sebagian panjang, sebagian pendek. Sebagian lancar seperti doa yang diaminkan malaikat, sebagian terjal seperti hati yang patah dan belum selesai disembuhkan. Tapi semuanya menuju ke satu tempat yang sama—sebuah wilayah di ujung timur Pulau Jawa, tempat matahari lebih dulu menyapa sebelum ke kota-kota lainnya.

Ada jalan darat. Roda empat. Roda enam. Bahkan roda seribu. Semuanya menggelinding dengan beban dan harapan. Lewat Gumitir, yang melengkung seperti alis perempuan yang sedang mengerutkan dahi. Di sanalah jalan bersandar pada tubuh gunung, menghirup kabut, dan kadang memanggul longsor. Jalur itu ditutup sekarang. Diperbaiki karena luka yang dalam. Gumitir sedang istirahat, seperti seseorang yang tak lagi kuat berdiri setelah bertahun-tahun menopang lalu lintas kesibukan.

Tapi manusia selalu mencari cara. Ketika jalur darat luka, rel kereta api tetap setia mengantar. Tak pernah mengeluh. Tak pernah membunyikan klakson. Ia hanya berjalan di jalurnya sendiri, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan nasib. Kereta api ini tidak terburu-buru, tapi juga tidak lamban. Ia tahu persis kapan harus tiba.

Masih ada jalur laut. Dan Banyuwangi tidak pernah pelit urusan laut. Ada laut selatan, dengan ombak yang berdiri seperti tiang-tiang doa. Ombak yang menggulung tubuh peselancar dan kadang menggulung perahu nelayan. Laut itu seperti lelaki yang tidak bisa ditebak: tenang di permukaan, bergolak di dalam. Tapi Banyuwangi juga punya laut yang kalem seperti perempuan yang menutup wajahnya dengan selendang tipis. Laut itu disebut Laut Meneng. Dulu pelabuhannya bernama Pelabuhan Meneng, kini ia punya nama baru: Tanjung Wangi. Di situlah kapal-kapal besar berlabuh tanpa takut kandas, karena Selat Bali tidak pernah menyimpan pasir. Ia hanya menyimpan kedalaman.

Jalur laut ini seperti persahabatan lama. Tidak selalu ramai, tapi selalu ada saat dibutuhkan. Melalui jalur inilah barang-barang dikirim. Termasuk BBM, bahan yang bisa menghidupkan atau menghentikan peradaban, tergantung apakah ia ada atau tidak. Maka laut tidak hanya membawa ikan, tapi juga kehidupan.

Dan ketika darat dan laut belum cukup, langit dibuka. Di Banyuwangi sudah ada bandara. Bukan bandara yang besar dan bising. Tapi bandara yang bersih, wangi, dan tahu caranya menyambut orang dengan senyum. Pesawat datang dan pergi seperti burung-burung yang tidak pernah lupa jalan pulang. Dulu, orang harus naik mobil dari Jember untuk mencapai bandara. Sekarang, kereta api yang mengantar. Bandara ini tidak hanya untuk orang Banyuwangi. Tapi juga untuk orang Jember, Bondowoso, Situbondo, bahkan Bali yang ingin berbalik arah.

Tapi infrastruktur tidak hanya bicara tentang jalur. Ia bicara tentang perasaan. Ketika satu jalur tertutup, yang lain harus membuka diri. Ketika Gumitir ditutup, kereta api menjadi harapan. Ketika mobil tidak bisa lewat, kapal jadi pilihan. Ketika semuanya macet, pesawat datang seperti malaikat. Dan ketika semuanya berjalan lambat, orang-orang baru sadar bahwa perjalanan bukan hanya tentang sampai, tapi tentang bagaimana kita berjalan.

Banyuwangi memang seperti itu. Ia tidak bisa didatangi dengan satu cara. Seperti cinta, ia harus dicari dengan berbagai jalan. Kadang lewat hutan. Kadang lewat laut. Kadang lewat langit. Tapi selalu ada jalannya. Dan mungkin, di antara semua jalur itu, yang paling penting bukanlah aspal, rel, dermaga, atau landasan pacu. Tapi niat. Karena orang yang sudah berniat, akan menemukan jalan bahkan ketika jalur Gumitir longsor.

Banyuwangi itu kaya. Bahkan mungkin terlalu kaya untuk tidak diperhitungkan. Lihatlah tanahnya, subur seperti hati yang tidak pernah putus asa. Apa pun yang ditanam, tumbuh. Apa pun yang dijala, tertangkap. Apa pun yang digali, keluar emas. Iya, emas. Bukan perak, bukan batu bata, bukan mimpi. Tapi emas, yang kalau orang lain bicara, nadanya bisa berubah. Kaya, bukan berarti tidak butuh. Dan inilah kisah dari sebuah tanah yang diberkahi tapi tetap menggantungkan hidupnya pada dunia luar.

Orang-orang luar mungkin melihat Banyuwangi sebagai daerah yang bisa hidup sendiri. Ada laut, ada gunung, ada sawah, ada ladang, bahkan ada bandara. Bahkan dalam satu hari, kamu bisa melihat matahari terbit dari Pulau Merah dan tenggelam di balik Ijen. Bisa menyelam di Bangsring lalu sore harinya sudah sampai di perkebunan teh di Kalibaru. Tapi apa iya, kemegahan alam itu cukup untuk mencukupi seluruh denyut nadi kehidupan? Buah naga di sini manis. Buahnya besar-besar, warnanya cantik, rasanya menyegarkan, seperti janji yang datang di musim kemarau. Tapi buah naga tidak bisa hidup lebih dari beberapa hari di keranjang. Ia butuh keluar, menempuh perjalanan, masuk ke pasar-pasar di luar Banyuwangi. Kalau tidak, buah naga yang manis itu jadi basi di lumbung. Beberapa tahun lalu, truk-truk tak bisa keluar kota. Jalanan tertutup. Buah naga yang tadinya ditunggu-tunggu berubah jadi beban. Ia jatuh ke tanah, membusuk, dimakan kambing, bahkan jadi pupuk untuk pohonnya sendiri.

Laut di Banyuwangi tidak pernah pelit. Laut ini penuh, bahkan lebih dari cukup. Setiap pagi, perahu-perahu kecil menjemput rezeki. Pelabuhan Muncar jadi saksi. Pabrik-pabrik ikan berdiri, menyala, berbau asin. Tapi mereka juga punya batas. Ketika hasil tangkapan melimpah dan jalur distribusi terhenti, maka ikan bukan lagi rezeki, tapi dilema. Ikan-ikan tidak bisa menunggu. Mereka tidak bisa antri di gudang. Mereka harus diolah, dikeringkan, dipindang, diasapkan, diasinkan—kalau tidak, mereka busuk. Dan kalau tak lagi berguna, dijadikan tepung. Ikan yang tadinya makanan berubah jadi bubuk.

Banyuwangi itu kaya. Tapi tetap manusia. Dan manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Ada jeruk, ada kopi, ada cengkeh, ada beras. Tapi tidak semua bisa ditanam di tanah ini. Beberapa kebutuhan tetap harus didatangkan dari luar. Garam dari Madura. Barang-barang elektronik dari Surabaya. Obat-obatan dari Jakarta. Alat-alat berat dari Jepang. Kita hidup dalam sistem yang saling memeluk. Seperti tubuh manusia. Mata tidak bisa menggantikan perut. Kaki tidak bisa menggantikan paru-paru. Banyuwangi bisa kaya, bisa mandiri, bisa memproduksi banyak hal. Tapi tidak semua. Dan di situlah pentingnya jalur keluar masuk: jalan, rel, pelabuhan, bandara. Karena tanah yang paling subur pun tetap butuh benih. Karena laut yang paling kaya pun tetap butuh dermaga. Dan karena manusia seberkecukupan apa pun tetap butuh manusia lainnya untuk hidup.

Begitulah Banyuwangi. Kaya, tapi tidak bisa hidup sendirian.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger