Pages

Banyuwangi Tour de Ijen dengan Empat Etape Siap Digelar Minggu ini

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Awan-awan tipis menyambut mereka. Udara lembap pegunungan menantang paru-paru mereka. Dan deru semangat sudah menggema dari selatan hingga barat Banyuwangi. Para gladiator sepeda dunia, resmi tiba di Banyuwangi untuk mengikuti ajang prestisius Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) 2025, yang akan digelar mulai 28 hingga 31 Juli mendatang. 


Mereka datang bukan hanya untuk berlomba. Mereka datang untuk menaklukkan. Selama empat hari penuh, para pembalap akan menyusuri 593 kilometer lintasan ekstrem, menyapa hijaunya alam, menyusuri jalanan sunyi pedesaan, dan akhirnya bertarung di tanjakan maut menuju Gunung Ijen, puncak api biru legendaris itu.

“Tour de Banyuwangi Ijen tidak hanya balapan, ini adalah pertarungan kehormatan, panggung bagi yang tercepat dan terkuat di tengah alam eksotis Indonesia,” tegas Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, Minggu (27/7/2025).

Etape Berlapis Keindahan dan Tantangan

TdBI 2025 terbagi dalam empat etape spektakuler yang seluruhnya memutar dari sisi selatan hingga barat Banyuwangi. Jalur ini sengaja dipilih untuk menghindari kawasan utara yang tengah padat akibat antrean di Pelabuhan Ketapang.

Etape 1: 125,5 km — Start dari Pasar Pesanggaran, menanjak dan membelah perbukitan, berakhir dramatis di Kantor Bupati Banyuwangi.

Etape 2: 158,8 km — Memulai dari jantung keheningan Taman Nasional Alas Purwo, lalu membelah kota dan desa, kembali finis di Kantor Bupati.

Etape 3: 140,3 km — Dari Glenmore yang sejuk, para pembalap mengayuh menuju pusat kota, menyusuri perkebunan dan arus lalu lintas perkampungan yang memikat.

Etape 4: 150 km — Inilah Etape Raja, dimulai dari Maron Genteng menuju neraka tanjakan di Paltuding, Gunung Ijen. Medan ini dipercaya sebagai salah satu rute tersulit di Asia Tenggara.

"Rute ini bukan untuk yang lemah. Para pembalap harus menyiapkan fisik dan mental. Apalagi tanjakan menuju Ijen bukan hanya menguras tenaga, tapi juga menyentuh sisi spiritual," ujar salah satu panitia lokal.

Ajang Resmi Dunia, Diperebutkan Sejak Setahun Silam

Tour de Banyuwangi Ijen adalah event resmi yang masuk kalender Union Cycliste Internationale (UCI) — federasi balap sepeda dunia. Pendaftaran telah dilakukan sejak setahun lalu, dan ratusan pembalap dari berbagai negara telah memastikan keikutsertaan mereka sejak tiga bulan terakhir.

“Ini bukan event dadakan. Semua rute, jadwal, dan sistem balapan sudah disiapkan matang jauh hari. Ini level dunia,” tegas Ipuk.

Sejak 26 Juli, para pembalap dari berbagai benua mulai berdatangan dan melakukan uji lintasan serta adaptasi cuaca. Mereka tampak berlatih serius, tak sedikit pula yang terpukau oleh keindahan alam yang menyatu dengan kejamnya tanjakan.

“Banyuwangi benar-benar luar biasa. Ini bukan hanya lomba, tapi pengalaman hidup,” ujar salah satu pembalap asal Eropa.

Lebih dari Balapan: Ini Adalah Simfoni Banyuwangi

TdBI bukan hanya soal kecepatan. Ini tentang menyapa warga yang bersorak di pinggir jalan. Tentang anak-anak yang melambai-lambaikan bendera. Tentang aroma kopi yang menyeruak dari warung-warung di pinggiran rute. Tentang Banyuwangi yang menunjukkan siapa dirinya: kota yang berani, ramah, dan siap jadi panggung dunia.

"Setiap tahun TdBI digelar, kami tahu satu hal: dunia melihat kami," ucap seorang warga di wilayah Songgon yang akan dilintasi balapan.

Tour de Banyuwangi Ijen adalah surat cinta untuk tanah ini. Sekaligus tantangan bagi para pembalap: mampukah mereka menaklukkan keindahan yang berbahaya ini?

Jawabannya akan segera tiba, 28 Juli. Saat bendera start dikibarkan, dan deru ban mengguncang aspal. Selamat datang, para pejuang roda dua.

Banyuwangi telah menyiapkan panggung terbaiknya. Siapkah kalian menaklukkannya?

Gaji, Cinta, dan Sepasang Sandal Jepit

Gaji, Cinta, dan Sepasang Sandal Jepit

Oleh: Lensa Banyuwangi


Tidak ada yang benar-benar bisa mengukur cinta. Bahkan saat ia sudah menjelma dalam bentuk sepotong nasi hangat dan tempe goreng yang ditaruh di atas piring yang retaknya membentuk garis seperti sungai di musim kemarau. Bahkan saat ia sudah menjelma dalam keputusan untuk bertahan di rumah, membersihkan lantai yang tak pernah mengeluh kotor, menyuapi anak yang tak mengerti harga beras. Kalau saja cinta bisa diukur dengan slip gaji, barangkali lelaki itu akan dinyatakan kalah sejak awal. Tapi kita tahu, hidup tidak berjalan seperti logika neraca keuangan. Kadang, yang tampak seperti kekurangan justru menyimpan kelimpahan yang tidak kasat mata.

Aku ingin memulai cerita ini dari sepasang sandal jepit. Barang murah yang sering hilang di masjid atau tertukar di warung kopi. Tapi pernah satu masa, dua orang yang sedang jatuh cinta memakai sepasang sandal jepit itu—berjalan di bawah hujan yang entah sudah berapa kali mengguyur kota mereka. Mereka tidak membawa payung, tidak membawa masa depan yang pasti, hanya keyakinan bahwa selama mereka saling menggenggam tangan, dunia ini cukup. Lelaki itu, sebut saja Suami, tidak pernah berubah. Ia masih bangun pagi dengan bau semen dan mata yang berat karena tidur semalam cuma dua jam. Tapi ia tidak pernah lupa mengecup kening istrinya, yang sekarang duduk di kantor berpendingin ruangan, menandatangani absen, dan berbicara tentang target kerja bulanan.

Dulu mereka berbagi nasi bungkus. Sekarang mereka berbagi... perbedaan. Cinta adalah medan yang aneh. Ia bisa bertahan di pinggiran kota dengan suara kodok malam dan wajan bocor. Tapi ia juga bisa hancur di rumah yang luas dengan dispenser air panas dan mesin cuci yang bisa menyanyi. Cinta tidak pernah punya standar. Ia tidak bisa diatur dalam Peraturan Menteri.

Istrinya pernah bilang, “Aku ingin berkembang.” Dan kalimat itu seperti paku kecil yang menancap di dinding rumah mereka. Tidak terlihat. Tapi perlahan membuat retak. Sebab pertumbuhan satu pihak dalam rumah tangga, jika tidak ditata baik, bisa menjelma jadi jarak. Dan jarak adalah musuh dari kata "kita". Lelaki itu tidak bisa kuliah. Ia tidak ikut tes CPNS. Ia tidak paham soal seragam kerja. Tapi ia tahu cara menyimpan uang lima ribu di saku celana, dan membuatnya cukup untuk membeli minyak goreng dan bumbu dapur. Ia tahu cara diam ketika istrinya lelah, dan cara menenangkan anak-anak dengan dongeng tentang kura-kura yang sabar.

Tapi ternyata, di zaman ini, itu tidak cukup. “Aku ingin hidup yang lebih baik,” kata sang istri suatu hari. Padahal hidup yang lebih baik itu dulu mereka bangun dari dua gelas teh hangat dan atap bocor yang mereka perbaiki sendiri dengan terpal bekas. Tapi tak apa. Semua orang berhak bermimpi. Hanya saja, tidak semua orang sanggup melihat bahwa yang sederhana belum tentu buruk.

Cinta adalah soal siapa yang tetap tinggal saat yang lain mulai merasa malu. Cerita ini tidak tunggal. Ia beranak-pinak di banyak sudut kota. Ada istri yang jadi TKW dan lupa jalan pulang. Ada suami yang naik pangkat tapi merasa pasangannya tidak sepadan lagi. Ada rumah-rumah yang dulu penuh suara kini tinggal gema. Ada anak-anak yang tumbuh tanpa tahu aroma tangan ibunya. Dalam setiap perceraian, ada kalimat yang tertulis rapi di dokumen negara: "Tidak sejalan lagi." Tapi di balik itu, ada air mata yang tercecer di dapur, ada kenangan yang terlipat dalam baju-baju bekas, dan ada doa-doa yang masih tersangkut di langit-langit rumah, menunggu jawaban.

Dan aku ingin menyisihkan tempat untuk cerita yang lain. Tentang perempuan yang tidak bekerja. Setidaknya tidak dalam pengertian umum. Ia tidak memiliki slip gaji, tidak pernah tahu tanggal cuti bersama, dan tidak ikut dalam rapat tahunan. Tapi ia bangun pagi-pagi, sebelum ayam tetangga berkokok, menyetrika baju suaminya, menyiapkan bekal sekolah anaknya, dan mengecek apakah ember air sudah cukup untuk mandi pagi.

Ia disebut ibu rumah tangga. Dalam formulir, ia menulis: IRT. Dan saat petugas bertanya, “Jadi pengangguran ya, Bu?” ia hanya tersenyum. Karena marah pun percuma. Dunia sudah terlalu lama tidak paham apa arti kerja yang tidak dibayar.

Perempuan itu tahu harga cabai hari ini naik. Tapi ia tahu cara menggantinya dengan sayur bening yang tetap disukai anaknya. Ia tahu cara mencuci popok dengan tangan kiri sambil menggendong bayi dengan tangan kanan. Ia tahu cara menyimpan sedikit uang di kaleng biskuit, dan mengeluarkannya diam-diam ketika suaminya bingung harus beli bensin. Ia tidak punya kartu pegawai. Tapi ia adalah direktur keuangan, HRD, chef, cleaning service, konsultan keluarga, dan guru PAUD di waktu yang bersamaan. Ia hanya tidak diberi gelar.

Kadang-kadang, ada yang bercanda di warung kopi, “Suruh aja istrimu kerja. Masa cuma makan dari hasil keringatmu?” Dan semua tertawa. Seolah-olah kerja di rumah itu bukan kerja. Seolah-olah menyiapkan cinta setiap hari itu bukan bagian dari produksi. Tapi lelaki yang bijak tahu: rumah itu tetap hidup bukan karena uangnya, tapi karena ada seseorang yang rela membagi hidupnya tanpa imbalan.

Aku teringat cerita teman. Perempuan lulusan universitas ternama, dulu punya karier bagus. Tapi setelah punya anak, ia memilih tinggal di rumah. “Aku tidak ingin anakku tumbuh lebih akrab dengan pengasuh daripada denganku,” katanya. Lalu suatu malam, ia bilang pada anaknya, “Nanti kalau kamu besar, jangan malu ya kalau ada yang tanya profesi ibu.” Anaknya memeluknya, dan berkata, “Ibu kerjanya di rumah kan? Ibu kan rumahnya aku.”

Kalau cinta itu sepasang sandal jepit, maka salah satu harus siap ikut kotor saat yang lain menginjak lumpur. Harus siap hilang saat yang lain tertinggal di teras masjid. Tapi selama mereka saling menunggu, selama mereka saling percaya bahwa pasangannya akan kembali, maka mereka tidak kehilangan apa pun.

Gaji bisa naik. Cinta tidak. Tapi cinta juga tidak bisa turun. Ia hanya bisa diabaikan atau dipelihara.

Di akhir hari, mungkin lelaki itu akan tetap memakai sandal jepit yang sama. Berjalan ke pasar. Membeli dua ikat kangkung, sepotong tempe, dan setengah kilo beras. Lalu memasaknya sendiri. Memakannya sendiri. Dan tetap mencintai seperti pertama kali ia belajar tentang arti sabar.

Cinta bukan soal siapa yang menghasilkan lebih banyak. Tapi siapa yang tetap tinggal saat semuanya menjadi kurang. Dan ibu rumah tangga bukan pengangguran. Mereka adalah penjaga peradaban yang tak pernah disorot lampu panggung. Mereka adalah pilar yang menyangga rumah dari dalam. Yang diam-diam menjaga dunia agar tidak runtuh oleh kesibukan kita yang terlalu sering mengejar angka.

Mungkin sudah waktunya kita menatap ibu kita sendiri. Dan bilang, “Terima kasih, Bu. Karena engkau, aku tahu bahwa rumah tidak selalu ada di bangunan. Tapi di hati yang tidak pernah meninggalkan.”

Lagu-Lagu dan Tarian yang Tak Kita Kenal dari Suara Sound Horeg

 Lagu-Lagu dan Tarian yang Tak Kita Kenal dari Suara Sound Horeg

Sound horeg tak sekadar dentuman musik; ia berubah menjadi panggung dominasi atas diam. Anak-anak disuruh iuran, lalu berjoget dengan lagu yang tak mereka kenal, sementara orang tua menutup telinga. Di balik gegap gempita itu, kita pelan-pelan kehilangan malu, kehilangan makna, dan yang paling menyedihkan: kehilangan ruang untuk mendengar suara hati.


Beberapa hari ini, linimasa kita penuh dengan perdebatan yang tak selesai tentang sound horeg. Ada yang membolehkan. Ada yang mengharamkan. Ada yang membela karena merasa mewakili "kebebasan berekspresi." Ada pula yang menolak karena merasa sedang menjaga "kesucian tradisi." Tapi seperti biasa, yang paling nyaring bukanlah kebenaran, melainkan siapa yang lebih dulu naik panggung.

Selebihnya, adalah orang-orang seperti kawan saya di desa kecil yang jauh dari kota, tetapi dekat dengan dentuman.

"Remaja-remaja diminta iuran buat sewa sound horeg," katanya. "Yang keberatan diam. Yang tak sanggup tetap iuran. Karena siapa yang berani bilang tidak?"

Saya mendengarnya seperti mendengar ayat-ayat yang tak tertulis. Sebab dalam diam mereka, tersimpan rasa takut. Takut dianggap tidak kompak. Takut disingkirkan dari pergaulan. Takut tak diajak lagi ikut lomba 17-an.

Tapi bagian yang paling menghantui saya adalah ini: setelah iuran terkumpul, anak-anak itu diminta berjoget. Joget yang tidak mereka kenal. Bukan tarian Gandrung atau kuntulan. Bukan dari tari Saman atau Lengger. Musiknya bukan dangdut atau shalawat Tapi dari entah mana gerakan yang disalin dari gawai, dari aplikasi yang mengatur tubuh manusia tanpa perlu akal dan rasa.

Saya tidak sedang mempermasalahkan gerakan tubuh. Tapi saya bertanya-tanya: apakah jiwa mereka tahu sedang diajak ke mana?

Kita ini, orang Timur, katanya penuh unggah-ungguh. Kita diajari menunduk sebelum menyapa. Kita disuruh berdoa sebelum makan. Kita diajari menyebut Bismillah sebelum melangkah. Tapi bagaimana mungkin hari ini kita memaksa anak-anak menari dengan iringan lagu yang bahkan tak berani kita doakan?

Karena lagu-lagu itu tidak menyebut Tuhan, tidak menyapa ibu, tidak memuliakan tanah yang kita pijak, tidak pula menyembuhkan luka. Ia hanya memekakkan, menggerakkan, dan lalu pergi.

Saya kira ini bukan hanya tentang sound horeg. Ini tentang bagaimana kita perlahan kehilangan malu. Tentang bagaimana dentuman dijadikan ukuran kemajuan. Tentang bagaimana volume suara menjadi patokan keberhasilan sebuah perayaan.

Ada yang bilang: ini budaya baru. Tapi budaya macam apa yang membuat kita harus memaksa orang tua mengungsi dari rumahnya sendiri?

Saya membaca sebuah surat edaran dari seorang kepala desa. Bunyinya seperti ini: Akan ada iring-iringan sound horeg yang melewati beberapa ruas jalan. Mohon warga lansia, yang sedang sakit, atau memiliki anak kecil untuk menyesuaikan diri.

Menyesuaikan diri? Dengan kebisingan? Dengan dentuman yang bahkan membuat langit-langit rumah bergetar?

Apakah kita sudah lupa bahwa dalam banyak hadis, Rasulullah tidak pernah meninggikan suara ketika lewat rumah orang? Bahwa azan pun ditinggikan hanya pada waktunya bukan untuk pamer kekuatan, tapi untuk menyeru hati?

Barangkali itulah yang hilang: suara hati.

Karena dalam sound horeg, semua harus keluar. Tidak ada ruang untuk batin. Tidak ada ruang untuk tafakur. Bahkan kadang tidak ada ruang untuk mengingat bahwa di balik dinding, mungkin ada seseorang yang sedang menyebut nama Allah, berharap bisa meninggal dalam husnul khatimah, tapi tidak bisa mendengar suaranya sendiri karena tertutup dentuman.

Dan siapa yang berani melawan? Siapa yang sanggup mengangkat tangan dan berkata, "Ini berlebihan?" Tidak banyak. Karena siapa yang berani menentang keramaian akan dianggap sombong. Karena siapa yang tidak mau berjoget, dituduh merusak suasana. Karena siapa yang mengajak berpikir, dianggap merusak tawa.

Maka orang-orang pun menepi, mencari jalan sunyi.

Mereka yang sakit harus mencari kamar yang paling jauh dari jalan utama. Anak-anak kecil dipasangi kapas di telinganya. Orang yang jantungan disuruh minum obat sebelum pawai dimulai. Semua menyesuaikan diri, bukan karena ingin, tapi karena tak kuasa menolak.

Sementara itu, sound horeg melaju seperti arak-arakan raja. Disambut sorak sorai. Ditaburi tepuk tangan. Diarak seperti pahlawan dari negeri yang kita tak tahu kapan berdirinya.

Dan kita menyebutnya kemajuan.

Padahal yang kita lihat adalah gugurnya rasa.

Saya tidak menolak perayaan. Saya tidak menolak kegembiraan. Tapi jika kegembiraan kita menyakiti orang lain, itu bukan lagi pesta. Itu penjajahan yang dibungkus warna-warni lampu strobo.

Dalam Islam, kita diajarkan laa dharara walaa dhiraara, jangan membahayakan dan jangan saling membahayakan. Tapi siapa hari ini yang berani membacakan hadis itu di tengah pesta sound horeg?

Mungkin nanti, kalau ada orang tua yang meninggal karena jantungnya tak kuat mendengar dentuman itu, kita akan bilang: Dia mati dalam merdeka. Diiringi lagu-lagu yang keras. Di hari yang meriah.

Kita akan membacakan yasin dengan pengeras suara yang lebih kecil dari sound horeg tadi. Kita akan mendoakan dengan pelan, sementara lampu-lampu panggung masih menyala di sisi lain desa.

Dan esoknya, anak-anak kembali berjoget. Lagu-lagu kembali diputar. Dan tak ada yang bertanya lagi: apakah kita masih punya ruang untuk mengingat Tuhan?

Mungkin benar: kalau tidak horor, bukan sound horeg. Tapi bila sudah terlalu horor, mungkinkah kita masih bisa pulang? Pulang ke rumah yang sunyi. Ke mushala yang senyap. Ke lantunan doa ibu yang hanya terdengar jika kita mau diam sebentar dan menundukkan kepala.

Dan semoga, sebelum semuanya benar-benar terlambat, kita masih bisa mendengar-Nya dalam sunyi. Sebab kalau tidak, kita akan hidup dalam lagu-lagu yang tak pernah kita doakan, dan mati dalam kebisingan yang tak pernah kita pahami.

Karena di dunia yang semakin bising ini, yang kita butuhkan bukan lagi pengeras suara, melainkan penjernih jiwa.

Bukan lebih banyak lagu, tapi lebih banyak makna. Bukan lebih keras volume, tapi lebih dalam penghayatan. Karena peradaban tidak tumbuh dari pesta, melainkan dari doa. Dan anak-anak tidak tumbuh dari dentuman, melainkan dari dekapan.

Mungkin kita harus kembali belajar dari suara ibu yang mendongeng pelan sebelum tidur. Dari kakek yang melagukan syair dalam temaram lampu minyak. Dari guru ngaji yang mengucapkan Iqra (bacalah) dengan nada lirih tapi menggetarkan. Karena suara-suara itulah yang dahulu membentuk kita.

Sekarang? Kita bentuk oleh apa yang kita dengar. Dan jika yang kita dengar adalah bunyi yang tak bermakna, jangan heran jika hidup kita pun jadi kehilangan arah.

Saya kira, kita butuh senyap. Kita butuh jeda. Kita butuh hening, agar bisa mendengar lagi suara yang pelan, tapi dalam. Suara hati. Suara Tuhan. Suara yang tak perlu panggung, tapi cukup hadir di dalam dada.

Dan jika suatu hari kita bertanya mengapa kampung kita jadi asing, mungkin jawabannya bukan karena pendatang, tapi karena suara-suara yang tak pernah kita kenal telah mengambil alih ruang-ruang yang seharusnya suci.

Sewengi di Baluran* *Tentang Jalan yang Tertutup dan Hati yang belum Terbuka

 *Sewengi di Baluran*

*Tentang Jalan yang Tertutup dan Hati yang belum Terbuka*



Saya membaca beberapa pesan dari grup WhatsApp, sebagian dengan nada gusar, sebagian dengan lelucon yang dipaksakan. Tapi ada satu pesan yang membuat saya diam lama:


> “Macet sampai Baluran, jalur satu-satunya. Gumitir ditutup. Lewat Ijen sempit dan curam. Kapal cuma empat. Sisanya katanya sedang diperbaiki... katanya karena pernah ada kapal tenggelam... katanya...”



Kata “katanya” muncul berulang kali, seperti gumaman orang yang tak betul-betul percaya kepada siapa pun lagi, bahkan mungkin kepada dirinya sendiri. Saya bayangkan jalan yang biasanya lancar, kini seperti sungai yang dipenuhi batu-batu besar. Orang-orang yang biasanya bisa mengatur waktu, kini hanya bisa menatap langit. Di tengah sunyi, Baluran menjadi lorong panjang tanpa ujung.


Bukan karena kita tak punya kapal.

Bukan karena kita tak punya jalan.

Tapi karena sesuatu yang jauh lebih tak terlihat:

Ketidaksiapan,

dan ketidakpedulian yang menyamar jadi prosedur. Jalur Gumitir ditutup.

Jalur Ijen menanjak sempit, tak sanggup menampung beban.

Jalur laut hanya disangga empat kapal yang kelelahan.

Maka Baluran menjadi satu-satunya lorong untuk pulang,

dan lorong itu pun menggigil karena terlalu sesak.


Seseorang mungkin sedang menyusui bayinya dalam mobil yang berhenti.

Seseorang mungkin menguap sembari menahan kantuk di balik setir.

Seseorang lainnya mungkin sedang membaca Qur’an dari layar ponselnya—bukan untuk khatam,

tapi untuk menenangkan diri, agar ia tak bertengkar dengan istrinya, atau mengumpat pejabat dari balik jendela. Saya percaya, malam seperti ini—malam yang gelap, dingin, dan diam panjang—adalah malam di mana manusia paling jujur kepada Tuhannya.

Tidak ada musik, tidak ada WiFi, tidak ada wacana.

Yang ada hanya suara mesin, tangis bayi, dan ayat yang pelan-pelan dibaca dalam hati.


Saya tidak tahu bagaimana cara mengatur arus kendaraan dari Situbondo ke Banyuwangi.

Saya tidak tahu berapa biaya perbaikan kapal.

Tapi saya tahu satu hal:

Orang-orang hanya ingin pulang.

Dan jika tak bisa pulang,

mereka ingin tahu bahwa ada yang memikirkan mereka. Bukan grafik,

bukan laporan,

tapi manusia. Seseorang di kantor pelabuhan mungkin sedang menyeruput kopi dan membuka YouTube.

Sementara itu, seseorang di alas Baluran sedang menahan pipis,

dan hanya punya sisa air setengah botol untuk berbagi dengan anaknya.


Ini bukan tentang jalan.

Ini tentang tanggung jawab.

Tentang cinta kepada sesama.

Tentang adab kepada rakyat yang diam-diam menaruh harapan kepada kita. Jika kapal itu tak bisa berlayar,

katakanlah.

Jika jalan itu tertutup,

beritahulah.

Jika solusi belum ditemukan,

setidaknya kirim air minum dan kata maaf.


Negeri ini tidak kekurangan jalur.

Tapi kita sering lupa:

Setiap jalur adalah doa.

Setiap mobil yang berhenti adalah kepala yang menunduk,

dan setiap penumpang di dalamnya adalah manusia yang sedang belajar menunggu. Saya percaya, orang-orang bisa sabar.

Tapi kesabaran bukan untuk diuji terus-menerus tanpa jeda.

Kesabaran bukanlah tempat membuang semua kelalaian yang tak terselesaikan.


Malam itu, di Baluran,

langit seperti menggantung lebih dekat ke tanah.

Dan saya percaya,

di antara ribuan orang yang terjebak macet,

ada yang berdoa tanpa suara.

Dan doa-doa seperti itulah yang lebih cepat sampai ke langit

daripada laporan mingguan dan evaluasi yang hanya selesai di meja. Maka jika jalan itu adalah urat nadi,

dan kendaraan adalah darah,

jangan biarkan ia menggumpal.

Karena bangsa ini bukan hanya dibangun oleh infrastruktur,

tetapi oleh empati.


Dan di malam yang panjang itu,

tidak ada yang meminta jalan menjadi tol,

hanya agar tidak merasa sendiri,

di tengah alas yang sunyi,

dan negara yang terlalu sibuk untuk sekadar menyapa.


—Ditulis oleh Syafaat yang hanya mengamati dari layar WA--.

Jalur Langit ke Banyuwangi

 Jalur Langit ke Banyuwangi 

Oleh: Syafaat 


Ketika dia pertama kali datang ke Banyuwangi, ia merasa seperti sedang diturunkan dari langit ke hutan yang tidak bernama. Di terminal Sri Tanjung Ketapang, dia berhenti. Dunia berhenti. Pandangannya pun ikut berhenti. Semua yang dia tahu tentang kota ini adalah sunyi panjang jalan, pepohonan, dan aroma tanah basah yang belum dijamah lampu malam.

Dia naik bus jurusan Tegaldlimo. Bus itu lambat, tua, dan seperti baru bangun dari tidur panjang. Jendela-jendelanya berkeringat. Jalanan yang dilalui meliuk seperti ular tua yang sedang merayap di antara akar-akar Baluran dan Grajagan. Dari balik kaca, ia menyaksikan pohon-pohon yang tidak pernah bisa ia beri nama, tumbuh di kedua sisi jalan, seolah menyimpan rahasia masa lalu yang tak pernah selesai. Di benaknya, Banyuwangi adalah ujung, bukan lintasan. Ia membayangkan dunia berhenti di sana. Tempat tugasnya, Tegaldlimo, seperti titik kecil yang hanya bisa dijangkau dengan izin para pohon jati. Ia merasa dikirim ke tempat yang dipilih oleh sunyi dan dijaga oleh hutan.

Setiap kali hendak ke pusat kota, ia harus melalui hutan Curahjati yang panjang dan malas menjawab. Bayangannya tentang Tegaldlimo dan Banyuwangi kian gelap. Ia mengira semua orang di sana hidup dalam ritme sunyi, bicara pada angin, dan menanak hari dengan sabar.


Namun dunia memiliki caranya sendiri untuk mengejutkan manusia yang terlalu yakin. Suatu hari, mungkin karena bosan, atau mungkin karena hati kecilnya membisikkan, "Cobalah sedikit tersesat," ia menyalakan motornya dan melaju tanpa rencana. Jalan yang ia ambil ternyata menuju Muncar. Jalur itu padat, ramai, hidup. Orang-orang lalu-lalang, truk kontainer mengangkut beban laut, pabrik-pabrik pengolahan ikan berdiri tanpa malu. Udara berbau asin, tapi hangat oleh kehidupan. Di sana, ia melihat pelabuhan penangkapan ikan terbesar di Banyuwangi. Dan ia terdiam.

“Ternyata ada dunia di sisi lain,” gumamnya. Bukan pada siapa-siapa, hanya pada dirinya sendiri. Ia teruskan perjalanan dari Muncar ke Srono, lalu ke kota. Jalan-jalan itu, tidak seperti yang selama ini ia takuti. Tidak ada pohon-pohon gelap yang menutup langit, tidak ada kesunyian yang menetes dari langit-langit daun. Di situ, ia melihat pasar, sekolah, kantor, toko bahan bangunan, dan orang-orang yang membunyikan klakson seperti ingin mengucapkan selamat datang.

Saat itulah ia sadar: bukan Banyuwangi yang terpencil, melainkan pikirannya sendiri. Ia selama ini hidup dalam jalur yang dipilih oleh rasa takut. Jalur yang hanya bisa diterima oleh orang yang tak bertanya. Padahal Banyuwangi bukanlah satu jalan, melainkan percabangan ratusan rute yang masing-masing punya terang dan bunyinya sendiri. Ada jalur Pantura yang sunyi, ada hutan jati yang bersahabat dengan waktu, tapi juga ada jalur selatan yang ramai dan sibuk seperti kota-kota besar lain di Jawa. Dan ia tertawa pada dirinya sendiri. Tertawa kecil yang terdengar seperti permintaan maaf. Kepada siapa? Kepada jalan-jalan yang selama ini ia hindari. Kepada kota yang ia anggap terpencil. Kepada orang-orang yang ia kira tinggal di balik semak dan sunyi.

Ketika ia kembali ke kampung halamannya, ia bercerita. Tapi tidak dengan kata-kata yang biasa. Ia bercerita seperti orang yang baru pulang dari dalam dirinya sendiri. Ia bercerita tentang hutan, ya, tapi juga tentang pelabuhan. Tentang sunyi, tapi juga tentang hiruk-pikuk yang mengejutkan. Tentang jalur yang menanjak ke Gumitiri, dan tentang jalan berkelok ke Muncar yang membuka matanya. Ia pernah menuduh Banyuwangi sebagai wilayah terpencil, padahal sebenarnya ia hanya belum menempuh cukup jauh. Ia belum tersesat ke arah yang benar.

Sekarang, jika ditanya bagaimana cara menuju Banyuwangi dari arah barat, ia tak lagi menyebut Pantura. Ia akan bicara tentang jalan Gumitir. Tentang kabut pagi yang turun seperti jubah. Tentang gunung dan langit yang bersekutu menciptakan rasa takjub. Tentang perjalanan yang tidak menakutkan, melainkan menyembuhkan. Dan dari situ kita tahu: kadang-kadang, satu-satunya cara untuk melihat kota dengan jujur adalah menempuh jalan yang tidak biasa. Menyusuri sisi-sisi yang tak terduga. Menyapa tempat bukan dengan peta, tapi dengan rasa ingin tahu. Karena yang terpencil sebenarnya bukan kota itu. Yang terpencil adalah pikiran yang tak mau berjalan lebih jauh.


Setiap kota punya banyak jalan menuju dirinya. Tapi tidak semua orang memilih jalan yang sama. Sebagian besar orang akan memilih jalur yang lebih sering disebut dalam percakapan: Pantura atau Gumitir. Karena di sanalah peta terasa paling masuk akal. Tapi tidak semua perjalanan ingin masuk akal. Ada juga yang ingin masuk rasa.

Saya pernah bertemu seseorang yang memilih jalur tengah menuju Banyuwangi. Bukan karena dia punya keberanian lebih, melainkan karena kebetulan. Kadang hidup tidak memberi kita pilihan, hanya memberi kita jalan, lalu berkata: “Cobalah lewat sini.” Jalur tengah itu—melalui Gunung Ijen dan Bondowoso, bukan sekadar jalan, melainkan lintasan sabar. Jalan yang dipeluk jurang dan dipagut tikungan. Jalan yang kalau malam tak sekadar gelap, tapi seperti ditutup doa agar tak sembarang kendaraan lewat.

Di satu titik, orang-orang menyebutnya “Erek-erek.” Nama yang terdengar main-main, tapi tidak main-main menanjaknya. Jika mobilmu punya mesin yang tidak percaya diri, ia akan berhenti di tengah tanjakan, mengeluh, dan meminta waktu. Dan kalau kau memakai sepeda motor matic, barangkali kau sedang berdoa sambil mengendarai. Karena turunan di sana seperti pertanyaan hidup yang terlalu curam: kau bisa menolak meluncur, tapi tak bisa menolak meluncur perlahan. Kau harus tahu kapan mengerem, kapan membiarkan motor ikut gravitasi. Jangan terlalu percaya pada rem. Mereka bisa lelah. Mereka bisa meleleh. Jalan ini, kata teman saya, seperti pasangan lama yang tidak bisa kau paksa berjalan cepat. Ia harus diajak bicara baik-baik. Tapi seperti hidup juga, jika satu jalan membuatmu gemetar, ada jalan lain yang menawarkan tenang. Dan jalan itu adalah rel kereta api.

Kereta dari Banyuwangi menuju Jember tidak menawarkan kecepatan, tapi ketepatan. Ia tidak peduli pada kemacetan atau antrian truk di tanjakan. Ia melenggang dalam irama sendiri. Ia masuk ke perut gunung melalui terowongan peninggalan Belanda, terowongan yang panjangnya hampir satu kilometer, gelap dan dingin, seperti menembus masa lalu. Di dalam terowongan itu, semua cahaya ditelan. Tapi begitu keluar, pemandangan yang dijanjikan tidak akan membuatmu menyesal: kebun kopi yang tertib, hutan yang bicara dengan angin, dan langit yang membuka tirai perlahan. Kalau kau naik kereta di siang hari, kau bisa melihat semuanya. Tapi kalau malam, ya sudah, gelap lagi. Tapi gelap yang tidak menakutkan. Gelap yang menerima.

Dan jalan ini, rel ini, punya aturan sendiri: kendaraan lain harus berhenti saat dia lewat. Kereta tidak menoleh. Ia tidak bisa berhenti mendadak hanya karena ada sepeda motor nekat di perlintasan. Rel adalah garis lurus yang memaksa semua orang menghormatinya. Dan mungkin itu sebabnya orang menyukainya, kereta tidak minta dimengerti, hanya minta diberi ruang.

Tapi Banyuwangi bukan hanya bisa dicapai dari barat. Dari timur, ia berbatasan langsung dengan laut. Selat Bali adalah gerbang air yang memisahkan dua dunia: Jawa dan Bali. Dan siapa pun yang ingin menuju Banyuwangi dari timur, harus menyeberang melalui pelabuhan Ketapang. Jalur laut ini adalah jalur yang tenang, jika laut sedang ingin tenang. Tapi ketika ombak menggelar amarahnya, Ketapang berubah jadi halaman depan dari antrean tak berkesudahan. Truk, mobil, pejalan kaki, semuanya mengendap pelan menunggu giliran. Bukan karena kesalahan siapa-siapa. Laut tidak salah, hanya sedang tidak ingin dilalui. Kadang orang-orang dari Jawa tengah atau barat, ingin ke Bali, harus menunggu di ujung pulau ini. Dan jika pelabuhan Ketapang terhambat, yang macet bukan hanya Banyuwangi, tapi juga punggung Jawa yang tak sabar menyeberang.

Di tengah-tengah semua itu, Banyuwangi berdiri seperti orang tua yang bijak. Ia menerima siapa pun yang datang dari mana pun: dari jalan curam di Gunung Ijen, dari lekuk Gumitir, dari keramaian Pantura, dari pelabuhan Ketapang, atau dari rel sunyi yang membelah hutan dan gunung. Banyuwangi adalah tempat yang tidak keberatan dijangkau dengan pelan, karena ia tahu: keindahan tidak datang dari kecepatan. Kau bisa datang dengan tergesa, tapi kota ini akan tetap lambat. Jalan-jalannya akan tetap melingkar. Tikungan-tikungannya akan tetap sabar.

Dan kau akan sadar, seperti teman saya itu, bahwa sesungguhnya kita tidak sedang menempuh jalan ke Banyuwangi. Kita sedang menempuh jalan menuju diri sendiri.

Ada masa-masa ketika Banyuwangi seperti ditarik dari dunia. Bukan karena ia marah. Bukan karena ia memilih mengasingkan diri. Tapi karena laut dan gunung sedang bersamaan bicara dengan bahasa yang tak mudah dimengerti manusia.

Beberapa hari lalu, sebuah perahu tenggelam di Selat Bali. Laut memeluknya dengan gelombang yang tinggi, seperti mengingatkan bahwa tak semua yang ringan boleh melintas seenaknya. Lalu pelabuhan Ketapang-Gilimanuk mengambil jeda. Bukan berhenti total, hanya menahan napas. Kapal-kapal yang tubuhnya dirasa lelah dan kurang layak, diminta istirahat. Hanya segelintir yang diizinkan membelah selat. Dan di daratan, kendaraan-kendaraan menumpuk. Di barisan panjang yang makin panjang. Di jalanan yang awalnya hanya ingin dilewati dalam satu-dua jam, kini berubah menjadi tempat menginap. Ada truk-truk yang sopirnya sudah terbiasa tidur dalam kabin. Tapi tetap saja, tidur di bawah terik dan di sela deru mesin bukanlah tidur yang sungguh-sungguh.

Antrian kendaraan melilit dari Ketapang hingga ke batas-batas hutan Baluran. Bayangkan, satu jalan penuh truk, mobil pribadi, motor-motor yang bosan berdiri, dan orang-orang yang menggerutu dalam diam. Dan semua ini terjadi karena laut sedang tidak ingin terburu-buru.

Lalu orang-orang berkata, “Lewat selatan saja, lewat Gumitir.”

Tapi Gumitir pun tidak bersedia. Di sana, tanah mengalah. Tebing longsor. Jalan amblas. Lalu lintas disetop. Jalan ditutup total, hanya bisa dibuka untuk suara-suara mesin alat berat yang mencoba memperbaiki luka gunung. Jalur perkebunan dibuka sebagai alternatif. Tapi hanya untuk roda dua. Itu pun hanya sampai jam empat sore, karena setelah itu, gelap dan sunyi punya aturannya sendiri di ladang kopi dan pohon-pohon cengkeh. Maka semua lalu lintas yang tadinya bisa memilih: lewat selatan, lewat tengah, atau lewat laut, kini bertumpuk di satu arah: jalur utara. Tapi jalur utara bukan ruang kosong. Ia sedang penuh. Ia sedang sesak. Dan jalan darat ke Banyuwangi nyaris seperti puzzle yang tak ada celah kosongnya.

Kini orang-orang menatap rel kereta. Satu-satunya jalur yang masih sabar dan bisa diandalkan. Tapi tidak semua barang bisa masuk ke perut kereta api. Sayuran tidak bisa lama-lama menunggu. Ikan segar tidak bisa bertahan dengan sabar. Bensin tidak bisa menunggu antrean. Solar tidak bisa menunggu berita. Dan manusia tidak bisa hidup hanya dengan berharap.

Tanah Banyuwangi adalah tanah yang subur. Ia bisa menumbuhkan hampir segalanya: padi, cabai, tomat, jagung, jeruk, buah naga, dan harapan. Tapi untuk bisa menjangkau keluar, hasil bumi ini butuh jalan. Butuh pelabuhan. Butuh keran distribusi. Tanpa itu, tanah yang subur hanya akan menjadi cerita yang tidak bisa disampaikan.

Pelabuhan Ketapang bukan hanya gerbang ke Bali. Ia adalah pusat nadi logistik. Di situlah minyak diturunkan, solar disalurkan, dan kota-kota di seberang diberi napas. Kini, dengan pelabuhan yang terseok, dengan jalur darat yang sempit, dan dengan jalur selatan yang terputus, Banyuwangi seperti seorang petani yang ingin bicara, tapi pita suaranya dirajam oleh kabut. Lalu kita bertanya: bagaimana dua bulan ke depan ini? Dua bulan yang harus dijalani dengan separuh tubuh terpotong dari dunia. Dua bulan dengan jalan yang hanya bisa dilalui kereta api dan kesabaran. Dua bulan di mana truk-truk logistik harus menunggu di tengah langit yang panas dan malam yang lama.

Kita tahu, waktu adalah penyembuh. Tapi bagaimana jika waktu juga datang sambil membawa antrean panjang dan kabar-kabar tentang barang yang tertahan? Sungguh, Banyuwangi sedang belajar menahan diri. Ia tidak marah, hanya sedang diam. Dan diam, kadang-kadang, adalah cara paling jujur untuk mengatakan: “Aku sedang tidak bisa menyambutmu sekarang.”

Langit Banyuwangi kini tidak lagi sunyi. Pesawat-pesawat telah datang dan pergi seperti burung-burung besar yang sudah diajari waktu. Dari Jakarta ke Banyuwangi kini tak lebih dari dua jam, bahkan kadang tak sampai. Seolah-olah kita hanya memejam sebentar dan tahu-tahu sudah sampai di kaki Gunung Ijen, di antara kabut pagi dan bau tanah yang baru disiram hujan.

Dulu, untuk ke Banyuwangi, orang menghitung waktu dalam hari. Sekarang cukup dalam jam. Bahkan menit. Orang-orang yang biasa mendengar nama Banyuwangi dengan samar, kini mulai mengucapkannya dengan jelas. Karena bandara telah dibuka. Karena langit telah dijadikan pintu masuk. Tapi tidak semua bisa naik langit. Tidak semua bisa mengangkut rezeki dengan pesawat.

Tidak ada petani buah naga yang mampu mengirim hasil panennya yang berton-ton ke Jakarta lewat udara. Tidak ada nelayan yang membawa ikan asin ke Cengkareng dengan harapan aroma asin itu bisa dikemas dalam kargo pesawat. Biayanya tidak masuk akal. Ikan asin tidak dibuat untuk kelas bisnis. Ia dibungkus koran bekas, naik truk, dan menunggu di antrean pelabuhan atau di tikungan Gumitir yang sabar. Saya tidak pernah melihat ekspedisi hasil laut dari Pelabuhan Muncar yang diberangkatkan lewat Bandara Blimbingsari. Mungkin karena langit terlalu mahal untuk hasil bumi. Terlalu bersih untuk sesuatu yang berbau tanah dan asin. Maka langit memang untuk manusia, bukan untuk barang. Dan itu membuat saya berpikir: bagaimana mungkin satu-satunya jalan yang tidak macet di Banyuwangi hanyalah langit?

Saya pernah bermimpi suatu hari akan ada jalan darat yang tak lagi harus bersahabat dengan tikungan maut dan lereng yang mudah longsor. Saya membayangkan terowongan. Jalan yang tidak memanjat gunung, tapi menembusnya. Jalan yang seperti yang dilakukan Belanda dahulu, terowongan kereta api di perut Gumitir yang sampai hari ini masih kokoh, diam, dan setia. Jalan yang tidak menunggu hujan untuk longsor atau matahari untuk kering. Tapi sepertinya mimpi itu terlalu mahal. Terowongan di Arab Saudi bisa menembus batu. Di sini, tanah lunak saja belum bisa. Di sini, mimpi masih harus antre seperti kendaraan di Ketapang saat kapal lambat berlayar. Di sini, impian dianggap proyek yang terlalu panjang untuk diingat pemerintah.

Kita sering iri pada negara yang bisa membelah gunung seperti memotong kue. Tapi kadang kita terlalu cepat menyerah pada gagasan bahwa gunung kita terlalu tinggi, bahwa biaya terlalu besar, bahwa tanah terlalu lembut, dan bahwa semuanya terlalu rumit untuk disederhanakan. Maka begitulah Banyuwangi hari ini. Kita masih harus sabar di tikungan. Masih harus mendengarkan berita longsor sebelum berangkat. Masih harus membawa doa sebanyak bensin dalam tangki. Masih harus berharap langit tidak mendung agar pesawat tak tertunda. Sementara itu, kita hidup di tanah yang begitu subur. Tanah yang bisa tumbuh apa saja, kecuali mungkin: kepastian. Tapi kita tetap berjalan. Kita tetap berangkat. Karena kita tahu, jalan bukan hanya soal aspal dan batu. Jalan adalah keinginan untuk sampai. Jalan adalah keyakinan bahwa rezeki selalu menemukan jalannya, meski melalui kabut, kerikil, bahkan bencana. Dan memang, rezeki tidak selalu datang dari orang yang sedang tertawa. Kadang ia datang dari orang yang sedang menangis. Dari kecelakaan, dari luka, dari musibah yang kita doakan tak terjadi, tapi tetap saja datang. Rezeki tidak selalu harum. Ia kadang datang dari tempat yang basah dan berbau tajam. Tapi tetap saja ia datang.

Maka untuk sementara ini, kita nikmati saja yang ada. Kita hirup udara pagi yang masih gratis. Kita tatap langit biru yang tidak mengenal antrean. Kita pelihara sabar seperti kita merawat tanaman: perlahan, rutin, dan dengan keyakinan bahwa sesuatu pasti akan tumbuh dari tanah ini. Banyuwangi adalah rumah yang jalannya belum semuanya terbuka. Tapi selama masih ada yang ingin datang, dan selama kita masih ingin menyambut, rumah ini tak pernah benar-benar tertutup. 

Ditulis ketika jalan Gumitir di tutup 25-07-3025

Penyuluh Agama Islam Dilatih Media Digital dan Pembuatan Film Pendek: Dakwah Tak Lagi di Mimbar Saja

 


BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kamis siang itu, aula Ma’had MTsN 1 Banyuwangi berubah menjadi ruang belajar yang tak biasa. Di dalamnya, puluhan penyuluh agama Islam dari berbagai KUA Kecamatan duduk bersisian dengan laptop dan gawai di depan mereka. Tidak ada kitab tebal yang dibuka atau lembaran-lembaran teks dakwah yang dibagikan seperti biasanya. Kali ini, yang mereka pelajari adalah bagaimana menyampaikan pesan agama melalui layar — bukan mimbar. 


Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar Pelatihan Media Digital dan Pembuatan Film Pendek, sebuah program yang dirancang untuk membekali para penyuluh agama dengan keterampilan komunikasi digital. Tujuannya sederhana tapi revolusioner: dakwah harus ikut bermigrasi, dari corong masjid ke layar ponsel.

Adalah Nur Ahmadi Indartono yang menjadi narasumber utama dalam pelatihan ini. Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM) Banyuwangi dan sekaligus anggota Dewan Kesenian Blambangan ini datang tak hanya membawa teori, tetapi juga pengalaman artistik dan ide-ide segar. Di hadapan para penyuluh, ia memutar potongan film pendek garapannya yang memuat pesan toleransi dan moderasi beragama.

“Penyuluh agama sekarang ini harus berpikir sebagai kreator. Dakwah itu tidak hanya ceramah. Dakwah bisa jadi film pendek, bisa jadi konten TikTok, bisa jadi infografis. Audiens kita sudah berubah, maka cara menyapanya juga harus berubah,” kata Nur Ahmadi yang disambut anggukan setuju peserta.

Bukan sekadar teori, para peserta diajak praktik langsung membuat skenario film, merancang adegan, hingga menyusun storyboard sederhana. Beberapa peserta tampak antusias mendiskusikan ide film bertema kehidupan desa, isu sosial keagamaan, hingga kisah-kisah inspiratif dari lapangan dakwah mereka sendiri.

Kepala Seksi Bimas Islam, H. Mastur, membuka acara dengan nada optimisme. Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa pelatihan ini adalah bagian dari langkah strategis menghadapi perubahan zaman.

“Kita ingin setiap KUA punya tim kreator. Jadi ketika ada kegiatan, tidak hanya ditulis dalam laporan, tapi juga bisa didokumentasikan dalam bentuk video yang informatif dan inspiratif,” ujar Mastur.

Ia menambahkan bahwa penyuluhan keagamaan akan lebih efektif jika dibungkus dalam format yang digemari generasi muda. “Film pendek itu bisa menyentuh lebih dalam. Anak-anak muda sekarang lebih banyak melihat layar daripada mendengar ceramah. Maka kita harus hadir di layar mereka,” imbuhnya.

Pelatihan ini menjadi bagian dari arus besar transformasi digital yang diusung Kementerian Agama. Di tengah masyarakat yang makin terhubung lewat internet dan media sosial, penyuluh agama kini didorong untuk menjadi content creator—pencipta narasi keagamaan yang inklusif, moderat, dan menarik.

Bagi para peserta, pelatihan ini menjadi momen penting yang membuka perspektif baru. Seorang penyuluh dari Kecamatan Pesanggaran, misalnya, mengaku sudah lama ingin membuat video kisah mualaf binaannya, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. “Sekarang saya jadi punya bayangan. Ternyata tidak serumit yang saya pikir,” katanya.

Saat pelatihan usai menjelang sore, sebagian peserta masih terlihat berdiskusi kecil sambil mencatat ide-ide baru. Dari balik pintu aula yang mulai ditutup, terdengar potongan percakapan: tentang kamera, tentang pengambilan gambar, dan tentang pesan-pesan agama yang lebih mengena jika dikisahkan dalam bentuk cerita.

Di era digital ini, penyuluh agama tidak lagi hanya berdiri di mimbar. Mereka kini bersiap menulis skenario, menyusun gambar, dan menyuarakan pesan damai dari balik kamera — menyapa umat melalui cahaya layar.

Preservasi Jalan Nasional Alas Gumitir: Jalur Gumitir Ditutup Total Selama Dua Bulan Demi Keselamatan dan Keandalan Infrastruktur

Banyuwangii (Warta Blambangan) Dalam rangka menjaga kesinambungan fungsi dan keamanan infrastruktur jalan nasional, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali akan melaksanakan penutupan total ruas Jalur Gumitir (KM 233+500) selama dua bulan, terhitung mulai Kamis, 24 Juli 2025 pukul 00.00 WIB hingga Rabu, 24 September 2025 pukul 24.00 WIB. Penutupan ini merupakan bagian dari kegiatan Preservasi Jalan Nasional yang berlokasi di kawasan Alas Gumitir, Kabupaten Jember.

Kegiatan preservasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas, keamanan, dan keberlanjutan jalur strategis nasional yang menghubungkan wilayah timur dan barat Jawa Timur. Jalur Gumitir merupakan koridor vital yang dilalui ribuan kendaraan setiap harinya, sehingga pemeliharaan berkala dengan pendekatan teknis yang komprehensif menjadi sangat krusial. 


Adapun ruang lingkup pekerjaan yang akan dilakukan meliputi:

  1. Penanganan longsor di beberapa titik rawan pergerakan tanah, sebagai respons terhadap tingginya kerentanan geologis kawasan pegunungan Alas Gumitir.

  2. Perkuatan lereng dengan menggunakan metode bored pile pada 55 titik, dengan total panjang mencapai 115 meter. Metode ini dipilih karena terbukti efektif dalam menstabilisasi struktur tanah di lereng curam yang memiliki potensi longsor tinggi.

  3. Perbaikan geometri jalan, termasuk penyesuaian elevasi dan perataan lintasan, guna meningkatkan keselamatan berkendara, memperbaiki visibilitas pandangan, serta mendukung efisiensi arus lalu lintas.

Keputusan penutupan total ini tidak diambil secara sembarangan. Mengingat medan sempit dan kontur ekstrem Jalur Gumitir, pelaksanaan pekerjaan yang melibatkan alat berat dalam skala besar sangat berisiko apabila dilakukan bersamaan dengan lalu lintas umum. Oleh karena itu, penutupan penuh dipandang sebagai opsi paling aman dan rasional, demi melindungi keselamatan pengguna jalan maupun tenaga teknis di lapangan.

BBPJN Jawa Timur–Bali juga telah menyiapkan rute alternatif serta informasi pengalihan arus lalu lintas yang dapat diakses melalui infografis resmi dan kanal media sosial BBPJN. Koordinasi dengan instansi terkait, seperti Dinas Perhubungan dan kepolisian, terus dilakukan guna memastikan kelancaran arus lalu lintas selama masa pekerjaan berlangsung. 


Masyarakat pengguna jalan diimbau untuk merencanakan perjalanan lebih awal, mengikuti petunjuk pengalihan arus, serta mengutamakan keselamatan dalam berkendara. Selain itu, BBPJN juga memohon doa dan dukungan publik agar proses preservasi berjalan lancar, tepat waktu, dan memberi manfaat jangka panjang bagi konektivitas wilayah dan perekonomian regional.

Melalui program ini, BBPJN Jawa Timur–Bali menegaskan komitmennya untuk terus MenyambungNegeri, membangun jaringan jalan yang tangguh, aman, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

#

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger