Pages

Diskusi Permaduan di Tujuh Belas Juni

 Sebenarnya, tubuh saya sudah remuk redam. Bukan karena hujan. Bukan karena penyakit. Tapi karena sesuatu yang lebih diam-diam dan lebih kejam: kesibukan. Kesibukan yang memperkosa waktu, memborong hari, mencabik-cabik ingatan tentang diri sendiri. Sampai-sampai saya lupa ini tanggal berapa. Sampai-sampai saya lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun saya sendiri.

Dan anehnya, saya justru sedang duduk di sebuah kafe yang tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap. Undangannya biasa saja, obrolannya juga biasa, hanya aroma kayu manis dan lilin kecil di meja yang terasa agak tidak biasa. Seorang teman menyodorkan sepiring kecil kue tape dengan taburan keju dan bunga telang. “Selamat ulang tahun,” katanya. 

Saya diam. Mendadak saya tersadar: oh, ini tujuh belas Juni. Tahun lalu, saya sedang berada di tenda Mina, dikelilingi ribuan orang berpakaian putih, dan suara takbir bergulung-gulung seperti awan tak habis-habis. Hari ulang tahun saya terbenam di antara wukuf, mabit, dan dinginnya udara gurun. Tahun ini, ia muncul lagi, seperti lebah yang tahu jalan pulang setelah bertahun-tahun mencari bunga.

Setelah pulang dari kafe itu, saya hanya ingin merebahkan kelopak jiwa. Tapi ternyata WhatsApp belum rela membiarkan saya tidur. Ada undangan dari Mas Budy Amboyna — nama yang manis di lidah, seperti nama seorang pengembara dari Maluku yang tiba-tiba jadi ketua komunitas peternak lebah madu Banyuwangi.

Kami ngobrol. Ringan saja. Tentang lebah. Tentang madu. Tentang sesuatu yang manis tapi bukan rayuan. Tentang sesuatu yang lengket tapi bukan luka. Tentang sesuatu yang mengandung hidup, bekerja diam-diam, tanpa keluh, tanpa kelakar.

Mas Budy bilang, “Madu itu beda dengan gula. Ia tidak bikin diabetes.” Saya tersenyum. Tapi kemudian saya diam. Saya pikir-pikir, ternyata manusia lebih sering memilih gula, karena ia murah dan tersedia di mana-mana. Sementara madu, yang lebih tulus, lebih berproses, lebih tabah, justru sering diabaikan. Begitu juga dengan cinta, bukan?

Kami bicara tentang lebah yang menggembara, yang tak pernah punya rumah tetap. Mereka berpindah dari kebun kopi ke kebun randu, dari bunga mangga ke bunga kelengkeng. Hidupnya penuh bunga, tapi tidak pernah mabuk. Penuh manis, tapi tidak pernah memonopoli. Ia menghisap, tapi memberi kembali.

“Kau tahu,” kata Mas Budy sambil mengusap botol madu seperti mengelus kepala anaknya, “setiap jenis bunga memberi rasa yang berbeda. Madu kopi, misalnya, agak pahit di awal, tapi hangat di tenggorokan. Madu randu lebih ringan, dan madu kelengkeng… ah, itu paling dicari orang-orang kota.”

Saya termenung. Saya pikir, hidup kita juga begitu. Ada masa pahit, ada masa ringan, ada masa yang dicari-cari orang lain tapi justru kita sendiri tak menyadarinya. Madu, dalam diamnya, mengajari kita untuk sabar menyerap, sabar mengolah, sabar menyimpan, dan sabar memberi. Dan ketika seseorang benar-benar membutuhkan, ia cukup membuka botolnya, menuangkan satu sendok kecil, dan keajaiban akan bekerja: luka reda, batuk menghilang, dan hati perlahan reda dari gelisah.

Banyuwangi, kata Mas Budy, seharusnya jadi surga bagi lebah. Ada banyak bunga. Ada banyak hutan dan kebun yang belum diracuni pupuk sintetis. Tapi kita lupa. Kita lebih suka aspal daripada semak. Lebih bangga mall daripada bunga. Kita membangun rumah sakit besar tapi tak peduli pada hutan kecil di belakang rumah. Kita mengejar vitamin mahal dari pabrik, padahal lebah-lebah sudah menyiapkan apotek alam sejak ribuan tahun lalu.

Saya menatap botol kecil madu yang dibawakan Mas Budy. Warna kuning kecoklatan, pekat, dan ada aroma samar bunga di leher botolnya. Saya isap sedikit dengan jari telunjuk. Hangat. Tidak seperti gula yang langsung membuat lidah gemetar, madu menyusup pelan-pelan. Ia seperti doa ibu yang tidak terdengar tapi sampai ke langit.

“Banyak orang salah paham,” ujar Mas Budy. “Mereka kira madu yang bagus itu yang dari pabrik besar, yang bening, yang diberi label keren. Padahal madu yang jujur itu kadang berawan, berendapan, dan sedikit berbau asam. Madu yang baik itu seperti hidup yang baik — tidak selalu bersih, tapi selalu jujur.”

Saya tidak tahu mengapa, tapi kalimat itu membuat saya ingin pulang. Ingin menyalakan lilin kecil di rumah, ingin mencium kening anak saya, ingin menulis surat untuk diri saya sendiri — bahwa kita hidup bukan untuk sekadar sibuk, bukan untuk sekadar mengejar omset, bukan untuk pamer prestasi. Kita hidup untuk menghasilkan madu — sesuatu yang manis dan berguna, meski mungkin hanya satu sendok sehari.

Dan jika suatu saat kita tidak ada, semoga ada yang masih merasakan manfaat dari tetes-tetes kecil kebaikan yang kita tinggalkan.

Karena sejatinya, manusia yang baik itu seperti lebah. Ia tidak pernah menebar racun, tidak pernah mengganggu bunga yang ia hisap, dan selalu meninggalkan madu di tempat-tempat yang tak terduga.

Refleksi Spiritualitas dan Kaderisasi Kepemimpinan: Perayaan Ulang Tahun ke-57 KH. Ir. Achmad Wahyudi di Pondok Pesantren Adz Dzikra Banyuwangi

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Pada Sabtu, 14 Juni 2025 pukul 00.00 WIB, berlangsung sebuah kegiatan yang sarat makna di Aula Pondok Pesantren Adz Dzikra, Banyuwangi. Kegiatan tersebut berupa perayaan ulang tahun ke-57 bagi KH. Ir. Achmad Wahyudi, S.H., M.H.—figur sentral dalam pengembangan pendidikan pesantren serta pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Banyuwangi. 


Dalam suasana yang diatur dengan kesengajaan dramatis—pencahayaan dipadamkan, santri duduk dalam formasi hening—KH. Achmad Wahyudi diundang keluar dari kediaman untuk menghadiri forum yang tidak ia ketahui sebelumnya. Suasana berubah secara tiba-tiba saat para santri melantunkan sholawat dan lagu “Mabruk Alfa Mabruk”, diiringi penyerahan simbolis kue ulang tahun bertuliskan angka 57. Kejutan ini menjadi wujud penghargaan kolektif terhadap kontribusi dan keteladanan beliau.

Peristiwa ini tidak dapat hanya direduksi sebagai perayaan seremonial. Dalam pendekatan sosiologis dan pedagogis, momen tersebut berfungsi sebagai ritual simbolik yang memperkuat nilai-nilai spiritual, kedisiplinan moral, serta hubungan emosional trans-generasional antara guru dan murid. Hal ini tercermin dari testimoni yang diberikan oleh alumni dari berbagai negara, yang menyebut KH. Achmad Wahyudi bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga murabbi, yakni pembimbing ruhani yang menanamkan nilai kehidupan secara integral.

Salah satu pernyataan dari alumni yang saat ini menempuh pendidikan di Timur Tengah menyebutkan:

“Abi bukan hanya mengajarkan ilmu, tapi menanamkan nilai. Bagi kami, Abi adalah teladan, tempat kami kembali, dan alasan kami tetap ingin disebut santri, bukan alumni.”

Testimoni semacam ini mengindikasikan keberhasilan transmisi nilai jangka panjang, yang secara pedagogik mencerminkan hidden curriculum dari sistem pendidikan berbasis pesantren.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Kawah Ijen (YLBHKI) dan Generasi Muda Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-POLRI (GM FKPPI) PC 1325 Banyuwangi. Kehadiran lintas sektor ini mengafirmasi posisi KH. Achmad Wahyudi sebagai tokoh multidimensional: agamawan, organisatoris, advokat sosial, dan figur pembina masyarakat.

Sekretaris GM FKPPI Banyuwangi, Marselinus Moa Dany, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan:

“Keteladanan beliau telah menjadi cahaya dalam organisasi dan kehidupan pribadi anggota.”

Pernyataan ini menguatkan konsep “figur transformatif” dalam kepemimpinan sosial-keagamaan, yang menggabungkan peran spiritual dengan kapasitas organisasi.

Dalam sesi tausiyah singkat, KH. Wahyudi menjelaskan bahwa peringatan ulang tahun bukanlah ekspresi seremonial semata, melainkan bentuk muhasabah (refleksi diri). Sejak usia 50 tahun, beliau mulai memperingati hari lahir sebagai momentum konsolidasi arah hidup.

“Ulang tahun bukan sekadar ulang angka, tapi momentum untuk meneguhkan arah hidup. Di usia 50, saya memilih untuk kembali ke medan perjuangan—bukan untuk pribadi, tapi untuk generasi.”

Pernyataan tersebut sejalan dengan prinsip filsafat pendidikan Islam, yang memandang usia matang sebagai titik balik menuju “khidmat abadi”—yaitu pengabdian tanpa pamrih kepada ummat dan bangsa.

Lebih jauh, beliau menyampaikan pesan moral universal berbasis hadis:

“Allah SWT tidak melihat jasadmu, tapi hatimu.”

Pesan ini mengandung nilai etika sufistik, yang mengedepankan qalbu (hati) sebagai pusat spiritualitas dan akhlak.

Perayaan ulang tahun KH. Ir. Achmad Wahyudi ke-57 di Pondok Pesantren Adz Dzikra merepresentasikan lebih dari sekadar peristiwa individual. Dalam perspektif sosiologi pendidikan, kegiatan ini menjadi arena konsolidasi nilai, penguatan identitas santri, serta aktualisasi peran pesantren sebagai institusi kaderisasi kepemimpinan bangsa.

Melalui pendekatan yang menggabungkan nilai-nilai sufistik, moral-spiritual, serta tanggung jawab sosial, KH. Wahyudi berhasil mentransformasikan hari kelahiran menjadi ruang kontemplatif yang menginspirasi berbagai lapisan masyarakat. Keberhasilan beliau menghubungkan jaringan santri hingga mancanegara menandakan bahwa pendidikan pesantren memiliki daya jangkau global yang berakar kuat pada nilai lokal.

Malam itu, di tengah gelap yang penuh simbol dan cahaya hati, generasi muda kembali diingatkan akan pentingnya menghormati guru, menjaga keikhlasan, dan membangun peradaban dari ruang-ruang sederhana—seperti aula pesantren yang menyala oleh cinta dan ilmu.



Seblang Bakungan: Tarian Leluhur di Temaram Obor

Banyuwangi (Warta Blambangan) Dalam temaram api obor, di malam yang menggigilkan kulit dan membasahi napas dengan aroma tanah dan dupa, masyarakat Osing Bakungan kembali memanggil arwah leluhur. Mereka tak sekadar merapal masa silam, tapi menjahit benang waktu yang diwariskan sejak 1639 menjadi tubuh peradaban hari ini. Di Sanggar Seblang, Kamis malam (12/6/2025), ritual adat Seblang Bakungan kembali digelar—sebuah pertunjukan sakral yang bukan hanya ritual, tapi napas panjang kebudayaan yang terus hidup. 


Ribuan pasang mata berkumpul. Dari bocah hingga pelancong mancanegara, semua terpukau. Di jalan yang mengular menuju sanggar, tumpeng-tumpeng berjejer seperti sesaji semesta. Warga saling menyapa dalam harmoni, menyatu dalam lantunan doa magrib dan hajat yang dinaikkan di langit masjid. Setelahnya, mereka berjalan bersama, mengarak api oncor yang mengibas malam, melingkari desa dalam prosesi ider bumi, seakan hendak mengikat batas alam dengan kesetiaan budaya.

Di bawah suluh-suluh bambu yang bergetar, mereka menghamparkan tikar, menyantap pecel pithik—hidangan sakral warisan leluhur—dengan cara paling tulus: bersama.

Lalu tiba momen puncak, ketika Isni, perempuan 53 tahun yang tubuhnya telah dibuka oleh waktu dan jiwa leluhur, memasuki dunia lain. Tubuhnya terhuyung dalam trance, lalu menari dalam irama gending yang menyayat sunyi. Mata orang-orang menahan napas, menyaksikan tarian yang bukan sekadar gerak tubuh, tapi gerak roh, gerak sejarah, gerak kesetiaan pada warisan yang tak bisa dibeli dan tak bisa dijelaskan hanya dengan kata.

“Tradisi ini sangat menarik,” kata David, seorang pelancong dari Selandia Baru, matanya masih menyisakan keheranan yang puitis. “Sebelumnya saya melihat Gandrung Sewu, penuh warna dan ramai. Tapi malam ini, saya seperti melihat tarian yang berbicara langsung pada langit dan bumi.”

Seblang memang ada dua. Di Bakungan, ia ditarikan oleh perempuan yang telah matang usia dan pengalaman, digelar di bulan Dzulhijah. Sedang di Olehsari, tarian ini dipercayakan kepada dara muda, usai Idul Fitri. Dua wajah, satu jiwa. Dua zaman, satu akar.

Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, turut hadir. Dalam sorot matanya ada kebanggaan dan harapan. Ia berkata, “Menjaga tradisi bukan semata menarik wisatawan. Ini tentang gotong royong, tentang menjaga batang tubuh kebudayaan agar tetap tumbuh subur di tengah modernitas.”

Kehadiran Seblang malam itu tak hanya menarik warga dan wisatawan, tapi juga ilmuwan. Sumarsam, Kaplan Professor of Music dari Wesleyan University Amerika Serikat, duduk khidmat di antara warga. Ia adalah profesor gamelan yang telah menetap di Amerika selama 53 tahun, tapi malam itu, di antara bunyi kendang dan lengking suling, wajahnya seperti kembali ke tanah ibu.

“Saya sudah mendengar Mamaca Lontar Yusuf, menyaksikan Janger, dan malam ini, Seblang. Banyuwangi adalah kepingan mozaik budaya yang sangat utuh. Tak heran jika tanah ini menjadi permata dari timur Jawa,” ujarnya dengan mata berkaca.

Seblang Bakungan bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah doa yang ditarikan, ingatan yang dihidupkan, dan jati diri yang disematkan dalam tubuh sebuah bangsa yang terus mencari dirinya sendiri.

Dan di malam itu, ketika obor perlahan padam dan langkah-langkah meninggalkan sanggar, satu hal terasa abadi: budaya bukan milik masa lalu, ia adalah detak jantung yang harus terus dijaga, agar kita tak pernah kehilangan arah di tengah gempuran zaman. (*)

Dialog Intern Umat Islam Dorong Penguatan Dakwah Moderat di Banyuwangi Majelis taklim diminta adaptif terhadap era digital

BANYUWANGI (Warta Blambangan) — Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi menggelar Dialog Kerukunan Intern Umat Beragama, Kamis (13/6/2025), di aula bawah kantor setempat. Dialog ini diarahkan untuk memperkuat siaran keagamaan Islam yang moderat dan adaptif terhadap perkembangan zaman, terutama di tengah masyarakat multikultural.

Forum ini melibatkan para pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam, pengurus majelis taklim, serta para penyuluh agama Islam dari berbagai kecamatan di Banyuwangi. Diskusi berlangsung dinamis dengan penekanan pada pentingnya sinergi dakwah, legalitas kelembagaan, serta penguatan narasi Islam yang damai.



Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Kasi Bimas) Islam Kemenag Banyuwangi, H. Mastur, dalam laporannya mengungkapkan bahwa terdapat lebih dari 6.900 majelis taklim aktif di Banyuwangi. Kelompok ini dihuni oleh 15 hingga 30 jamaah dalam satuan kecil yang tersebar hingga pelosok desa. Namun demikian, tidak semua telah memiliki surat keterangan terdaftar (SKT), yang menjadi syarat administratif penting bagi pengakuan dan penguatan fungsi sosial mereka.


“Majelis taklim bukan sekadar forum pengajian, tetapi kekuatan sosial yang hidup dan dekat dengan denyut masyarakat. Legalitas SKT akan membuka jalan mereka untuk terlibat dalam berbagai program sosial dan keagamaan pemerintah,” ujar Mastur.


Dialog dibuka oleh Kepala Subbagian Tata Usaha Kemenag Banyuwangi, Drs. H. Moh. Jali, M.Pd.I., yang mewakili Kepala Kantor. Ia menyampaikan bahwa dialog intern seperti ini masih jarang digelar secara formal, padahal sangat dibutuhkan untuk menjembatani berbagai pandangan di antara umat Islam sendiri.


“Menjaga kerukunan antarumat penting, tetapi menjaga kedamaian di dalam tubuh umat Islam sendiri tak kalah urgen. Dialog ini adalah salah satu upaya untuk mengawal harmoni dari dalam,” kata Jali.


Diskusi yang dipandu H. Syafaat, S.H., M.H.I., menghadirkan sejumlah narasumber. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyuwangi, Drs. Nur Chozin, S.H., M.H., dalam paparannya menekankan pentingnya pemahaman batas toleransi dalam Islam. Menurutnya, toleransi tidak berarti mencampuri urusan ibadah agama lain, tetapi bekerja sama dalam konteks sosial dan kenegaraan.


Sementara itu, Abdul Aziz, S.H.I., M.H., Sekretaris Tanfidziah PC-NU sekaligus Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Banyuwangi, menyampaikan pentingnya strategi dakwah digital. Ia menyarankan agar penyuluh agama dan pengurus majelis taklim mulai memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menyampaikan nilai-nilai Islam moderat kepada generasi muda.


“Kita harus hadir di ruang-ruang digital, karena di situlah generasi sekarang mencari informasi dan membentuk pandangan keagamaannya. Dakwah harus relevan dengan ekosistem informasi hari ini,” katanya.


Selain tokoh-tokoh NU, forum ini juga menjadi wadah konsolidasi antarlembaga Islam lain seperti Muhammadiyah, Al Irsyad, BKPRMI, dan LDII. Sejumlah pengasuh pondok pesantren juga turut hadir dan memberikan pandangan. Mereka menyampaikan perlunya penguatan kerja sama antarormas Islam guna menyikapi dinamika keumatan, termasuk dalam menjawab isu-isu intoleransi dan polarisasi di media sosial.


Rangkaian masukan dan gagasan dalam dialog tersebut akan ditindaklanjuti dengan penyusunan program pelatihan digitalisasi dakwah bagi para penyuluh dan pengurus majelis taklim. Program ini diharapkan dapat memperluas cakupan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan menjawab tantangan zaman secara bijak.


Forum diakhiri dengan kesepakatan bahwa kerukunan umat harus dirawat mulai dari dalam, melalui penguatan dialog antarkelompok Islam, yang kemudian akan memberi dampak pada harmonisasi hubungan antarumat beragama di Banyuwangi—daerah yang selama ini dikenal sebagai model

 kerukunan dan toleransi.

ASN Kemenag Banyuwangi Gelar Sholat Duha dan Kultum: Renungan tentang Kemuliaan Manusia di Sisi Allah

Banyuwangi (Warta Blambangan) — Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi kembali menggelar kegiatan rutin Sholat Duha dan pembacaan Surat Al-Waqi’ah yang dilaksanakan pada Kamis pagi, 12 Juni 2025, mulai pukul 07.30 WIB. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh ASN Kemenag Banyuwangi yang beragama Islam ini berlangsung khidmat di aula kantor setempat. 


Bertindak sebagai imam sekaligus penceramah adalah Drs. Makmun, Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) dari MTsN 10 Banyuwangi. Sementara pembacaan Surat Al-Waqi'ah dipimpin oleh A. Fauzan Anshori, S.HI, salah satu ASN di lingkungan seksi bimbingan masyarakat Islam Kemenag Banyuwangi.

Dalam kultumnya, Drs. Makmun menyampaikan materi bertema “Kemuliaan Manusia di Sisi Allah” dengan merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 1 dan ayat-ayat terkait yang menggambarkan posisi mulia manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.

 “Manusia diciptakan dengan potensi akal dan hati. Allah mengajarkan nama-nama kepada Adam yang tidak diketahui oleh malaikat, ini menjadi bukti bahwa manusia diberi derajat yang tinggi, asalkan ia mampu menjaga iman dan ilmunya,” terang Drs. Makmun di hadapan para jamaah.

Ia juga mengingatkan bahwa kemuliaan manusia bukan terletak pada jabatan, kekayaan, atau keturunan, melainkan pada ketakwaan dan kemampuannya untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pembinaan rohani dan penguatan karakter ASN Kemenag Banyuwangi agar senantiasa mengawali hari dengan ibadah dan perenungan nilai-nilai Al-Qur'an.

Danging Qurban dibungkus Daun Jati: Hikayat Idul Adha dari Kementerian Agama Banyuwangi

BANYUWANGI, (Warta Blambangan) Di bawah langit biru yang cerah, di halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, aroma tanah pagi dan desir angin Juni bersatu dalam kidung Idul Adha yang khidmat. Senin itu, 10 Juni 2025, bertepatan dengan 13 Dzulhijjah 1446 Hijriyah, bukan sekadar penanggalan yang berjumpa, tetapi juga pertautan antara langit dan bumi, antara pengorbanan dan keberkahan.v


Enam ekor sapi dan enam kambing telah berserah diri dalam zikir terakhirnya, menunaikan takdir sebagai qurban—sebagai titipan cinta dari mereka yang mampu kepada mereka yang menanti. Daging yang tersaji tak hanya dibagi rata, tapi juga dibagi rasa. Dan rasa itu dibungkus rapi dalam lembar-lembar daun jati yang luas, tua, dan harum, menggantikan plastik yang biasa hadir dalam sunyi dan tak terurai.

Tahun ini berbeda. Tak sekadar karena jumlah hewan yang dikurbankan atau banyaknya penerima manfaat, tapi karena makna yang dikandung lebih dalam. Ada langkah kecil yang menyentuh, sederhana namun menggetarkan: daging qurban dibungkus dengan daun jati. Sebuah isyarat bahwa tradisi dan kesadaran lingkungan bisa bergandengan tangan, seperti dua makmum dalam satu saf panjang doa.

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, H. Chaironi Hidayat, berdiri di antara kerumunan panitia dan pegawai, suaranya lirih namun sarat makna, menyapa pagi dan menyampaikan syukur.

“Ini bukan sekadar kegiatan rutin,” ucapnya. “Qurban adalah wasilah. Sebuah jalan menuju rahmat dan hidayat dari Allah SWT. Terima kasih kepada seluruh keluarga besar Kemenag Banyuwangi yang telah menjadikan ibadah ini penuh makna.”

Chaironi tak sekadar berbicara. Ia menanamkan. Ia mengajak. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kekompakan, kebersamaan, dan keikhlasan. Bahwa qurban bukan hanya soal pisau dan darah, bukan hanya soal pembagian dan antrian, tapi juga tentang bagaimana manusia saling merangkul dalam ibadah, saling menguatkan dalam kebaikan.

“Panitia harus solid dan saling menguatkan,” katanya lagi. “Ini bukan hanya ibadah ritual. Ini momentum mempererat ukhuwah.”

Dan ukhuwah itu terasa nyata. Para pegawai tampak menyingsingkan lengan, merapikan antrean, mengatur kupon, menyambut dengan senyum, dan menuntun warga dengan sabar. Ada yang memanggul daging, ada yang menimbang, ada pula yang sekadar mengelap keringat sambil tersenyum. Tak ada hiruk pikuk yang gaduh, hanya gemuruh tenang dari hati yang bahagia berbagi.

Siti Rohmah, seorang ibu rumah tangga dari lingkungan sekitar kantor, menerima bungkusan daging dengan mata berkaca-kaca. Ia memandang daun jati yang membungkus daging itu dengan penuh kenangan.

“Biasanya kami terima daging dalam kantong plastik,” ujarnya pelan. “Tahun ini dibungkus daun jati. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, ke masa nenek saya. Lebih alami, lebih segar, lebih... hangat.”

Hangatnya bukan hanya dari tangan yang memberi, tapi dari pesan yang diselipkan: bumi tak lagi kuat memikul plastik. Maka manusia yang punya cinta dan akal harus mulai mengurangi bebannya. Daun jati pun hadir, bukan sebagai gaya, tapi sebagai pernyataan. Bahwa ibadah pun bisa bersahabat dengan alam, bahwa tradisi tak harus ditinggalkan, asal dijalankan dengan jiwa yang penuh hikmah.

Dan benar, dalam sunyi daun jati itu, tersimpan banyak cerita: tentang hutan yang rimbun, tentang dapur nenek, tentang nasi jagung dan sambal kelapa, tentang masa lalu yang tak sepenuhnya ingin kita tinggalkan. Kini, daun itu menjadi saksi atas niat baik dan langkah sederhana untuk masa depan yang lebih bersih.

Kegiatan qurban tahun ini pun tak hanya menyentuh sisi spiritual dan sosial, tapi juga ekologis. Di tengah dunia yang penuh sampah plastik, di tengah laut yang menjerit dan tanah yang murung, langkah kecil seperti ini adalah gema takbir yang memuliakan bumi. Bahwa qurban bukan hanya kepada sesama, tapi juga kepada alam yang diam-diam melayani kita setiap hari.

Chaironi menutup sambutannya dengan doa yang pelan namun mengalir dalam:

“Semoga semangat qurban membawa keberkahan, tidak hanya bagi yang berkurban dan menerima, tetapi juga bagi alam yang kita tinggali bersama.”

Dan langit pagi itu pun mengangguk. Daun jati yang terhampar, daging yang dibagi, senyum yang ditanam, serta takbir yang terus dilantunkan, menjadikan hari itu bukan hanya hari raya. Tapi hari di mana manusia, sesama, dan semesta kembali saling mengenali dalam bahasa kasih.

Hari di mana Banyuwangi menulis bait indah tentang qurban yang tak hanya memotong daging, tapi juga ego. Yang tak hanya berbagi makanan, tapi juga makna. Yang tak hanya menata logistik, tapi juga merapikan niat.

Di bawah teduh Kementerian Agama, Banyuwangi menulis sejarah kecil. Tapi sejarah yang akan dikenang oleh bumi.

Bukan Umroh di Borobudur

 *Bukan Umroh di Borobudur*

Oleh : Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Kita hidup di zaman ketika kata-kata tak lagi diperlakukan sebagai jembatan menuju makna, melainkan sekadar alat promosi dan sensasi. Maka ketika kata “umrah” muncul dalam iklan wisata Borobudur, kita pun terdiam—bukan karena tak paham, tapi karena terlalu paham bahwa sesuatu yang suci sedang diusik tanpa permisi. 


Ada kata-kata yang tak lahir dari rahim bahasa. Ia turun, seperti hujan pertama di awal musim, dan kita hanya bisa berdiri terpaku memandanginya. Tak tahu apakah kita sedang basah oleh makna, atau oleh ketidaktahuan kita sendiri. Salah satu kata itu adalah “umrah.”

Saya tidak tahu siapa pertama kali menulis kata itu diucapkan dalam video yang sepertinya dibuat oleh AI, promosi wisata ke beberapa tempat dan salah satunya Borobudur. Tapi saya yakin, dia tidak sedang berdoa ketika menuliskan promt, Ia menulis seperti seorang juru kampanye menulis nama calon di bendera plastik, tanpa pernah menanyakan siapa yang akan mewakili makna di belakang nama itu.

“Umrah,” seperti halnya kata “shalat,” “karma,” atau “nirwana,” bukan kata yang bisa dikelola oleh agensi iklan. Kata-kata seperti itu tidak bisa dipanggil sembarangan. Ia akan datang bila hati kita bening dan langkah kita genting. Bila tidak, ia hanya akan duduk di halaman video online, gemetar dan malu, seperti anak kecil yang tersesat di kota besar.

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengirim tangkapan layar: ada program promosi wisata bertajuk “Umrah di Borobudur.” Ia bertanya pelan, “Menurutmu, ini niat baik atau salah paham?”

Saya membaca pelan-pelan. Saya tidak langsung menjawab. Karena kalau saya menjawab terlalu cepat, saya takut hanya akan mengulang apa yang sudah terlalu sering kita katakan—bahwa negeri ini semakin sering mencampur-aduk ibadah dan pemasaran.

Tapi bukan itu persoalan yang paling dalam. Persoalannya adalah: kita semakin kehilangan rasa hormat pada kata. Dan bila kita kehilangan rasa hormat pada kata, maka kita kehilangan jembatan menuju makna, beberapa hari sebelumnya juga beredar beberapa narasi tentang pembanding Ka'bah dan Borobudur, putaran tawaf dari kiri ke kanan serta sebuah aktivitas di Borobudur yang memutar seperti jarum jam.

Umrah bukan perjalanan wisata. Ia bukan sekadar kunjungan ke tanah suci sambil mengambil foto berlatar Ka’bah. Ia adalah ibadah. Ia adalah perintah. Ia adalah niat yang dijahit dengan kain ihram, lalu dilipat di antara thawaf, sai, dan tahallul. Umrah tidak lahir dari brosur. Ia lahir dari ketundukan.

Dan ketundukan tidak bisa dipasang di baliho, saya jadi ingat seorang teman lama, seorang arsitek yang kini lebih suka mengerjakan proyek-proyek kecil di desa. Ia pernah berkata, “Kita ini terlalu suka menamakan sesuatu tanpa mengenalnya lebih dulu.” Ia menunjuk taman kecil yang baru diresmikan di sebuah kabupaten. Namanya: Taman Surga Mahameru. “Surga tidak bisa dipasang paving,” katanya.

Begitu juga umrah. Ia tidak bisa dilangsungkan di halaman candi. Tidak di Candi Prambanan, tidak di Borobudur, tidak di kaki gunung mana pun, seindah apa pun tempatnya. Bahkan di Madinah pun, umrah tidak bisa dilaksanakan. Karena umrah hanya sah bila dilakukan di Mekah. Bukan karena bangunan Ka’bah-nya semata, tapi karena perintahnya demikian. Karena sejarahnya demikian. Karena Nabi demikian.

Mereka yang umrah tahu bahwa ibadah itu hanya butuh waktu satu hari, atau bahkan lebih singkat. Tapi mereka tinggal lebih lama di tanah Hijaz bukan untuk memperpanjang ibadahnya, melainkan untuk menyambung ziarah. Ziarah yang bukan sekadar “wisata religi,” tapi jejak kasih pada Rasul. Maka tidak ada orang Islam yang berkata: “Saya umrah di Madinah.” Itu kalimat yang cacat sejak dalam niat.

Tapi kini, kita dengar kalimat seperti itu berseliweran. Bukan dari jamaah awam, tapi dari para penyusun naskah promosi wisata. Dari biro iklan. Dari presentasi investor, yang mungkin juga ada niatan lain yang tidak baik bagi negeri ini

“Umrah di Borobudur.” saya kira ini bukan soal keliru istilah. Ini lebih dalam dari itu. Ini soal cara kita meminjam kata tanpa izin, lalu memakainya untuk kepentingan yang bahkan tidak kita mengerti. Ini seperti memakai jubah duka untuk menyambut pesta. Kata “umrah” dipinjam dari langit, lalu dijual di trotoar. Dan tidak ada yang menggugat, karena kita terbiasa hidup dalam kegaduhan yang membuat sunyi jadi asing.

Setiap agama punya kamus rahasianya sendiri. Kata-kata di dalamnya tidak disusun oleh akademisi atau ahli periklanan. Mereka lahir dari laku hidup, dari tirakat, dari malam-malam panjang yang diselimuti zikir dan air mata. Tiracchāna dalam Buddhisme bukan kata umpatan. Ia adalah cermin batin. “Kafir” dalam Islam bukan pelabelan sosial. Ia adalah posisi spiritual yang tak bisa ditempel di punggung sembarang orang.

Kata-kata seperti itu berjalan pelan. Mereka tidak suka tergesa-gesa. Tidak suka panggung. Mereka lebih suka duduk di tengah keheningan, seperti biksu tua di ujung vihara. Tapi kini, kita paksa mereka naik pentas, berdandan dengan lampu neon, dan berdialog dalam skrip yang bahkan bukan milik mereka.

Saya membayangkan satu malam hening di Borobudur. Saat para biksu sudah kembali ke ruang meditasi mereka, dan para turis tertidur di hotel-hotel ber-AC. Hanya ada batu-batu tua yang menyimpan cerita ribuan tahun. Saya percaya: pada malam seperti itu, kata-kata kembali ke asalnya. Mereka berjalan sendiri, mencari rumah mereka. Kadang menangis. Kadang diam saja.

Kita mungkin belum sampai ke sana. Kita masih berada di zaman yang memaksa setiap kata punya harga. Zaman yang mengira bahwa iman bisa ditarik dengan promo early bird. Tapi saya percaya, akan datang satu malam, ketika seseorang duduk sendirian di depan stupa. Ia tidak membawa kamera. Tidak membawa slogan. Ia hanya duduk. Dan diam.

Dan mungkin, dalam diam seperti itu, kita bisa mulai menyebut nama-nama suci dengan lebih hati-hati. Lebih pelan. Seperti menyebut nama ibu. Karena pada akhirnya, menghormati kata adalah menghormati hidup. Kata “umrah” bukan hanya kata. Ia adalah langkah. Ia adalah jawaban. Ia adalah pulang. Dan tidak ada yang ingin pulang ke rumah yang sudah dijadikan tempat karaoke.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger