Pages

Sore Ketika Hujan di Hutan Pinus


*Sore Ketika Hujan di Hutan Pinus*


 


Pinus-pinus menjuntai tangannya perlahan, seolah ingin menyentuh langit sore yang sedang memudar. Sejak siang, matahari tak muncul. Barangkali ia sedang lelah menjadi pusat segalanya. Atau mungkin, ia ingin memberi ruang pada warna-warna lain untuk tumbuh tanpa bayangannya. Di antara batang-batang pinus yang diam, seekor burung kecil melintas cepat, melawan arah angin. Sungai kecil yang biasa dipakai rafting mengalir pelan, sesekali memantulkan bayang-bayang ranting yang melengkung seperti jemari patah.


Di sinilah kita berdiri.  Berjalan. Duduk. Tertawa sedikit. Diam agak lama. Lalu berjalan lagi. Kadang berpegangan tangan, kadang hanya saling memandang sambil tersenyum seperti dua anak kecil yang baru saja tahu bahwa hidup tidak sesederhana kata “iya” dan “tidak”.


Hutan pinus ini bukan Eropa. Bukan Swiss. Tapi barangkali tidak terlalu penting. Sebab kita tak sedang mengejar label, kita hanya sedang menyelami pelan-pelan rasa yang muncul tiba-tiba seperti bunga yang tumbuh di musim kemarau. Tidak seharusnya ia mekar, tapi kenyataan tidak selalu tunduk pada musim. Begitulah rasa ini, yang tiba-tiba tumbuh—tak tahu malu, tak tahu takut.


Kita duduk di sebuah batang pinus tumbang, basah sedikit. Tak apa. Ada matamu yang bening, menatapku seperti seseorang yang sedang mendengarkan lagu sedih di penghujung hujan. Gerimis turun. Pelan. Seolah ragu. Lalu hujan datang, membawa aroma tanah basah yang entah mengapa mengingatkanku pada rumah, masa kecil, dan suara ibu yang memanggil dari dapur. Tapi suara itu menjauh, dan yang tersisa hanya kamu.


"Aku suka caramu diam," kataku waktu itu.

"Kamu suka banyak hal aneh," jawabmu.

Dan kita tertawa. Bukan tawa keras, bukan tawa ringan. Tapi tawa yang lahir dari kenyataan bahwa kita sedang ada di antara ragu dan pasti, antara keinginan dan kenyataan.

Hujan mulai deras. Tapi kita belum mau pulang. Kita tahu tubuh bisa basah, tapi kita juga tahu tubuh akan kering. Tapi waktu? Ia tidak bisa kembali kering setelah diguyur hujan seperti ini. Kita punya satu sore ini, dan entah kapan lagi kita akan kembali ke tempat yang sama. Kita buka payung. Payung kecil, seperti cinta yang baru saja berani muncul ke permukaan setelah lama tersembunyi di bawah lapisan akal sehat.

Tepi sungai menjadi tempat kita bersandar. Air melintas seperti perasaan: kadang deras, kadang tenang. Suatu waktu, aku lupa bagaimana awalnya, aku mendekat. Matamu tak menolak. Dan saat bibirku menyentuh pipimu, detak jantungku seperti pelari maraton yang tiba-tiba disuruh berhenti. Tak tahu harus bagaimana, tapi tubuh mengikuti apa yang diyakini oleh hati: bahwa kamu adalah rumah dari semua lelahku.

Beberapa orang menyebut perasaan seperti itu birahi. Tapi kita tahu, itu hanya cara dunia menamai sesuatu yang tak bisa mereka pahami. Bagi kita, itu adalah bahasa tubuh yang diterjemahkan oleh rindu yang lama tertahan. Bukan soal keinginan untuk memiliki, tapi kebutuhan untuk menyatu. Sekaligus sadar bahwa kita bisa saja hanyut dalam hasrat, namun masih bisa menemukan jalan pulang ke dalam dada masing-masing.

"Apakah ini cinta?" tanyamu, pelan.

Aku menoleh. Di matamu ada kabut. Bukan karena embun, tapi karena pertanyaan itu sendiri.

"Cinta tak perlu ditanya," jawabku. "Ia datang seperti hujan sore ini. Tak bertanya, tak minta izin."

Di tempat lain, mungkin di negara-negara empat musim, cinta perlu aturan. Perlu status. Perlu janji. Tapi di sini, di sudut Banyuwangi ini, cinta cukup berjalan berdua di bawah hujan, menyeduh kopi yang tak terlalu manis, lalu bercerita tentang masa lalu yang tidak terlalu menyakitkan dan masa depan yang tak perlu dipaksakan.

Di hadapan hutan pinus, kita belajar bahwa cinta bisa hadir dalam diam. Dalam pelan. Dalam sederhana.

Senja mendekat. Kabut mulai turun dari atas bukit. Tapi kita belum juga beranjak. Rasanya kita sedang menunda sesuatu yang sulit dihadapi: pulang. Sebab pulang berarti kembali ke dunia di mana kita harus berpura-pura. Pura-pura tidak jatuh cinta. Pura-pura tidak rindu. Pura-pura tidak ingin menyebut nama satu sama lain setiap saat.

Aku tahu besok kamu akan kembali ke kota. Kembali jadi orang penting yang banyak rapat. Aku juga tahu, aku akan kembali ke meja kerja, menatap layar, mengetik sesuatu yang tidak membuat jantungku berdegup seperti ketika menyentuh pipimu tadi. Dunia menunggu kita kembali. Tapi dunia tidak tahu bahwa sore ini, di tengah hujan dan pinus, ada dua manusia yang sedang belajar untuk ikhlas.

"Aku ingin berhenti waktu," katamu.

"Kalau waktu berhenti, kita akan kehilangan kenangan," jawabku.

"Kenangan bisa menyakitkan," balasmu.

"Tapi tanpanya, kita tak akan pernah tahu bahwa kita pernah bahagia."

Di tengah percakapan itu, aku menyadari bahwa cinta tidak butuh definisi. Ia hanya perlu dihidupi. Diselami. Dirayakan. Bahkan jika suatu hari ia harus pergi, setidaknya ia pernah ada. Seperti hujan sore ini yang barangkali akan berhenti, tapi aromanya akan tinggal di jaket kita sampai esok hari.

Dan kamu, tetap duduk di sana. Menatapku. Seolah-olah kamu tahu bahwa aku tak akan pernah bisa melupakan sorot matamu yang sendu. Kita bukan siapa-siapa. Tapi bagi semesta kecil di hutan pinus ini, kita adalah sepasang manusia yang sedang menulis puisi dengan tubuh dan perasaan. Dan puisi itu tidak perlu dibacakan. Ia cukup hidup di antara gerimis dan napas yang kita hembuskan bersama.

Kita bukan benar-benar di Swiss. Tapi siapa bilang cinta hanya bisa tumbuh di negeri bersalju? Di lereng Banyuwangi ini, cinta bisa tumbuh dari payung kecil, dari tangan yang saling menggenggam, dari pelukan pelan yang tak ingin terburu-buru.

Kita tahu, dunia tak selalu adil. Kita juga tahu, waktu tak bisa diajak kompromi. Tapi selama kita masih bisa menatap langit yang sama, selama payung ini masih bisa menutupi dua orang, dan selama senyummu masih bisa memantul di mataku, maka aku akan percaya bahwa cinta tidak pernah salah alamat.

Malam datang. Hujan reda. Kita mulai berjalan turun. Pelan. Meninggalkan aroma pinus dan suara air yang mengalir seperti lagu lama yang baru saja didengar ulang. Dan dalam hati, aku tahu: tak peduli ke mana kaki melangkah nanti, aku pernah punya satu sore yang membuatku merasa utuh.

Di tengah dunia yang kerap membuat manusia merasa kehilangan, kita telah menemukan diri kita sendiri—di balik payung kecil itu, di bawah pinus yang menjuntai tangan ke langit, di tepi sungai kecil yang menyimpan bisik-bisik rahasia.

Dan semua itu, terjadi bukan di Swiss. Tapi di salah satu puncak kecil di Banyuwangi, yang oleh sebagian orang disebut biasa saja. Tapi bagi kita, ia adalah tempat di mana cinta akhirnya berani menyebut dirinya sendiri: hadir.

Songgon, 18-05-2025

Seni yang Resah di Padepokan Tua: Dari Kopi, Kata, dan Kegelisahan Budaya

Lemahbang Dewo, (Warta Blambangan) Sabtu Sore (17/05/2025)  menyelinap pelan di desa Lemahbang Dewo. Langit seperti kanvas senja yang digores lembayung. Di antara rindang bonsai tua yang seolah menyimpan rahasia zaman, sebuah padepokan milik Profesor Jaenuri menjadi saksi bisu pertemuan mereka yang masih percaya bahwa budaya bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan.

Tidak ada panggung resmi. Tidak ada meja panel atau mikrofon. Gesah sore itu berlangsung tanpa moderator, mengalir sekenanya, seperti sungai kecil yang mengikuti lekuk tanah. Di tempat yang oleh warga sekitar dijuluki “palagan seni” atau “tempat orang-orang bersila dalam diam,” berkumpullah para pengangguran, penyair, dan budayawan Banyuwangi. Mereka datang tak berseragam, tak bertata protokoler. Mereka hadir seperti daun yang tahu arah angin. Dengan secangkir kopi dan hati yang tersulut, mereka bicara: tentang budaya, tentang luka, dan tentang jalan pulang. 

Diskusi dimulai pelan. Di hadapan gelas kaca yang mulai berembun dan kue pisang yang tak sempat dipilih, Aekanu Hariyono dari Killing Osing membuka suara. Pria yang dikenal menyulap panggung-panggung musik menjadi altar kesadaran budaya itu berkata lirih tapi tegas,

“Seni itu bukan wilayah liar. Ia punya pakem. Sejak zaman keraton, sampai zaman kemerdekaan, ada garis-garis yang tak boleh dilanggar. Kita boleh kreatif, tapi tak bisa liar tanpa arah.”

Sejenak hening. Angin sore membawa aroma kopi dari dapur kayu. Lalu, suara Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, memecah diam. Wajahnya seperti sedang membaca kitab tua yang isinya retak di tengah.

“Pakem itu roh,” katanya, “tapi agar roh itu tidak membeku, ia harus disiram sentuhan religi. Ruh yang ditinggal nilai-nilai langit akan hanyut di sungai gemerlap yang membawa kita pada pamer tubuh dan goyangan tak layak.”

Diskusi itu bukan seminar. Ia seperti zikir diam-diam. Sebuah sembahyang tanpa sajadah. Hadir pula Fatah Yasin Nor, penyair yang menulis dari patahan sejarah, dan Ribut Kalembuan, budayawan yang biasa menyampaikan sindiran lewat parikan dan celetuk. Tapi sore itu, Ribut lebih banyak diam. Mungkin terlalu pedih untuk diucapkan.

KRT Ilham, lelaki abdi negara yang dikenal sebagai ahli keris dan pawang hujan dalam upacara Proklamasi di Ibu Kota Nusantara, hanya mengangguk dan berkata pendek,

“Dulu, hujan pun tahu malu saat hendak turun di waktu sakral. Tapi sekarang, manusia malah bersorak saat seni kehilangan pakaiannya.”

Sementara itu, Moh. Husen, penulis yang menjadikan tiap lembah dan gang kampung sebagai aksara hidup, mencatat. Entah esok catatan itu menjelma sajak atau esai pedih tentang zaman yang menertawakan dirinya sendiri.

Topik utama sore itu adalah pertunjukan seni yang belum lama ini digelar, dan menuai kehebohan karena menghadirkan atraksi yang menjurus ke pornografi. Tubuh yang dipamerkan di panggung bukan untuk memuliakan rasa, melainkan untuk dijual pada mata yang lapar dan mulut yang bersorak. Seni ditarik ke lembah murahan. Budaya Banyuwangi, yang semestinya harum oleh dupa dan kidung, justru berbau kosmetik murahan dan parfum panggung.

Tak ada nama yang disebut. Tak ada personal yang disalahkan. Yang mereka persoalkan adalah arah. Bahwa arah seni telah bergeser. Bahwa kompas budaya kehilangan utara. Bahwa “kreativitas” kini menjadi dalih untuk segala hal, termasuk yang menjatuhkan marwah dan mencoreng warisan luhur.

Sore merambat ke malam. Lampu minyak dinyalakan. Tak ada resolusi resmi. Tak ada notulensi. Tapi diskusi itu menyisakan bara. Mereka pulang dengan dada yang masih hangat oleh kopi dan kata. Budaya belum mati, pikir mereka. Selama masih ada yang resah. Selama masih ada yang berani bicara, meski panggungnya hanya bale bambu di tengah desa.

Dan Padepokan Jaenuri, di tengah sunyi Lemahbang Dewo, kembali menjadi altar. Tempat doa-doa kebudayaan dinaikkan. Dengan bahasa. Dengan cinta. Dengan harapan, bahwa anak cucu kita kelak tidak sekadar menonton tubuh, tapi merasakan ruh.

— Redaksi Lentera Budaya Banyuwangi

Polresta Banyuwangi Implementasikan Program Humanis “Mayur Kamtibmas” sebagai Strategi Pendekatan Sosial dan Edukasi Keamanan

 

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banyuwangi kembali merealisasikan komitmen institusionalnya dalam memperkuat hubungan sosial dengan masyarakat melalui pelaksanaan program “Mayur Kamtibmas” (Mobil Sayur Keamanan dan Ketertiban Masyarakat). Kegiatan ini diselenggarakan di Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, dengan melibatkan kolaborasi multi-stakeholder yang terdiri atas Satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polresta Banyuwangi, Polsek Genteng, Pemerintah Desa, serta unsur Bhayangkari.

Program Mayur Kamtibmas merupakan inovasi strategis berbasis pendekatan humanistik yang bertujuan memberikan dukungan sosial berupa distribusi kebutuhan pokok kepada masyarakat kurang mampu, serta menyampaikan edukasi langsung terkait urgensi pemeliharaan keamanan dan ketertiban lingkungan. Pelaksanaan program ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek karitatif, tetapi juga sebagai wahana komunikasi dua arah antara aparat penegak hukum dan warga.

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, personel kepolisian mendistribusikan paket sembako dan sayur kepada warga rentan ekonomi, sembari menyampaikan materi edukatif tentang pentingnya kesadaran hukum dan partisipasi masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial. Respons masyarakat menunjukkan apresiasi tinggi terhadap program ini, yang dinilai memberikan manfaat nyata dan meningkatkan rasa dihargai dalam struktur kehidupan sosial. 


Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., dalam pernyataannya menyatakan bahwa program Mayur Kamtibmas merupakan implementasi nyata dari paradigma kepolisian modern yang menempatkan pendekatan humanis sebagai landasan utama dalam membangun kepercayaan publik.

“Program ini tidak sekadar kegiatan bantuan sosial, tetapi juga merupakan instrumen untuk membangun komunikasi dan kolaborasi berkelanjutan antara aparat keamanan dan masyarakat. Keamanan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada institusi kepolisian, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kombes Pol. Rama menegaskan bahwa keberlanjutan program ini di berbagai wilayah akan memperkuat sinergi antara Polri dan masyarakat dalam menciptakan kondisi sosial yang aman, tertib, dan berdaya secara ekonomi maupun hukum.

Dari sisi pemerintahan desa, Kepala Desa Genteng Kulon, Supandi, turut mengemukakan apresiasinya terhadap implementasi program tersebut. Ia menyatakan bahwa program Mayur Kamtibmas memberikan nilai tambah yang signifikan bagi kehidupan sosial masyarakat desa.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif ini. Selain mendukung kebutuhan dasar warga, kegiatan ini turut mempererat relasi antara masyarakat dan aparat keamanan. Harapan kami, program ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak wilayah. Kolaborasi semacam inilah yang menjadi fondasi desa yang aman dan harmonis,” ujarnya.

Sementara itu, partisipasi warga dalam kegiatan tersebut menunjukkan dimensi partisipatif yang konstruktif. Salah satu penerima manfaat, Bu Wati, menyampaikan kesan positifnya atas kehadiran program tersebut.

“Kami merasa diperhatikan. Tidak hanya menerima bantuan, tapi juga mendapat pemahaman baru tentang pentingnya menjaga keamanan di lingkungan sekitar. Semoga kegiatan seperti ini terus dilakukan dan semakin banyak warga yang terlibat,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, program Mayur Kamtibmas mencerminkan pendekatan integratif yang menggabungkan dimensi sosial, edukatif, dan preventif. Keberlanjutan program ini diharapkan dapat membentuk kultur keamanan berbasis kesadaran kolektif dan memperkuat daya tahan sosial masyarakat terhadap potensi gangguan kamtibmas.

Dengan demikian, Polresta Banyuwangi menunjukkan bahwa upaya menjaga stabilitas keamanan tidak hanya dapat dilakukan melalui pendekatan represif, tetapi juga melalui strategi humanis dan kolaboratif yang menyentuh akar kehidupan masyarakat.

Rujak Soto dan Kue Bagiak: Warisan Rasa yang Kini Sah Menjadi Kekayaan Bangsa

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Di bawah langit Blambangan yang mengguratkan kabut pagi dan nyanyian laut selatan, dua pusaka rasa akhirnya menapaki podium pengakuan. Rujak Soto—sebuah simfoni kuliner dari petis dan kuah daging—serta Kue Bagiak—renyah manis yang lahir dari panggangan masa silam—kini telah sah menjadi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) milik Banyuwangi. Sebuah kabar yang bukan hanya menenangkan lidah, tapi juga menggembirakan jiwa.

Pada 24 Maret 2025, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM resmi menyerahkan surat pencatatan KIK itu kepada Pemkab Banyuwangi. Sebuah pengesahan yang tidak hanya menambatkan rasa pada tempat kelahirannya, tapi juga mengikatkan jati diri budaya pada batang tubuh sejarah. 


Seperti matahari yang bangkit dari ujung timur Jawa, pengakuan ini menyinari jejak-jejak kuliner yang telah lama menjadi napas keseharian rakyat Banyuwangi. Rujak soto bukan sekadar hidangan, melainkan cerita tentang keberanian mencampur dua kutub rasa menjadi satu—sebuah cerminan harmoni di tengah keberagaman. Dan kue bagiak, dengan gurih kelapanya dan rasa manis yang membekas, mengajarkan bahwa kenangan bisa dilipat dalam gigitan.

Sebelum keduanya, telah lebih dahulu tercatat lima kuliner Blambangan sebagai KIK: sego cawuk yang menggamit rasa pagi, sego tempong dengan semburan cabai yang jujur, pecel pitik sebagai jamuan upacara, ayam kesrut yang mencecap asam pedas, dan pecel rawon, pertautan lembut sayur dan daging dalam balutan bumbu hitam.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyambut kabar ini dengan syukur dan komitmen. “Alhamdulillah, rujak soto dan kue bagiak sudah sah diakui secara hukum berasal dari Banyuwangi. Ini bukan hanya legalitas, tapi penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan rasa. Ke depan, kita akan terus menjaga dan melestarikan agar warisan ini tak hilang digerus zaman,” tuturnya dalam nada penuh harap, Kamis (15/5/2025). 


KIK adalah pagar hukum bagi warisan tradisi. Ia melindungi, menyekat dari tangan-tangan yang ingin mencuri identitas. Dalam dunia yang kian datar dan seragam, pengakuan semacam ini menjadi semacam mantra untuk mempertahankan keunikan lokal.

Sejak 2021, sebanyak 220 produk telah diajukan oleh Pemkab Banyuwangi kepada Kemenkumham. Bukan hanya makanan, tapi juga kriya dan nama dagang yang lahir dari tangan-tangan warga Blambangan. Dari jumlah itu, sebagian besar telah mengantongi KIK, sementara sisanya masih dalam antrean panjang proses negara.

“Kita ingin tahu walik dan pindang koyong juga segera tercatat. Keduanya telah kita ajukan sejak tahun 2023,” ujar Ipuk, sembari mengisyaratkan bahwa perjuangan belum selesai. Lidah-lidah rakyat tak akan berhenti meracik, mencipta, dan mewariskan.

Tahun ini, enam produk kembali dikirim untuk dinilai dan diakui sebagai milik Bumi Blambangan. Termasuk di antaranya tagline The Sunrise of Java, yang selama ini menjadi salam pembuka Banyuwangi kepada dunia, dan Internasional Tour de Banyuwangi Ijen (ITDBI), ajang olahraga yang melintasi lereng-lereng keindahan Gunung Ijen.

Tak hanya komunal, hak cipta individu juga menjadi perhatian. Pemerintah daerah menggelar sosialisasi agar para pelaku UMKM dan masyarakat sadar akan pentingnya mendaftarkan karya mereka. Salon kecantikan, beras biofortifikasi, bahkan warung kopi pun bisa menjadi karya berharga jika dikelola dengan rasa bangga dan hukum yang menyertai.

“Dengan mendaftarkan hak cipta, masyarakat tak hanya mendapat perlindungan hukum, tetapi juga perlindungan ekonomi. Sertifikat itu bisa jadi jaminan fidusia, bisa jadi modal kerja,” pungkas Ipuk.

Rujak soto dan kue bagiak kini tak lagi sekadar sajian warung atau bingkisan tamu dari Banyuwangi. Ia telah menjadi mahkota dari lidah rakyat, menjadi pusaka sah milik negeri. Di setiap suapan, tersimpan benih keabadian. Di setiap gigitan, mengalir kisah yang tak akan usai ditulis oleh zaman.
(*)

Sebanyak 376 Jamaah Haji Kloter Sub-44 Banyuwangi Dilepas Bupati Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Sebanyak 376 jamaah haji asal Banyuwangi yang tergabung dalam Kloter Sub-44 diberangkatkan ke Asrama Haji Surabaya pada Selasa pagi, 13 Mei 2025. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani melepas secara langsung para tamu Allah di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.



Dalam sambutannya, Bupati Ipuk menyampaikan harapan agar para jamaah senantiasa menjaga sikap dan menjadi duta bangsa yang membawa nama baik Indonesia, khususnya Banyuwangi.



"Bapak-Ibu adalah duta bangsa. Jaga sikap, jaga kekompakan, mari kita manfaatkan undangan dari Allah ini dengan sebaik-baiknya. Kita umat Nabi Muhammad saling kuatkan persaudaraan," ujar Ipuk di hadapan ratusan jamaah dan keluarga yang mengantar.


Ipuk juga menitipkan doa kepada para jamaah agar memohonkan kebaikan dan keberkahan bagi Banyuwangi.


"Titip doa untuk Banyuwangi agar selalu dalam lindungan Allah, diberi keberkahan, dijauhkan dari hal-hal buruk," tambahnya.


Pagi itu, sebanyak sembilan rombongan dari Kloter Sub-44 menaiki armada bus yang telah disiapkan. Sebelum keberangkatan, Bupati Ipuk turut menyapa dan mendoakan jamaah langsung di dalam bus, satu per satu, memberikan semangat dan doa agar perjalanan ibadah haji berjalan lancar dan selamat hingga kembali ke tanah air.


Suasana haru dan khidmat menyelimuti proses pemberangkatan, diiringi lantunan salawat dan doa dari para petugas serta keluarga yang mengantar.


Jamaah haji Kloter Sub-44 ini dijadwalkan tiba di Asrama Haji Sukolilo Surabaya siang hari dan akan diterbangkan menuju Tanah Suci pada jadwal yang telah ditentukan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Pemerintah Kabupaten bersama Kantor Kementerian Agama Banyuwangi memastikan seluruh layanan keberangkatan berjalan lancar dan tertib.

Kepala SMPN menjadi Pembimbing Ibadah Haji Kloter

 Kepala SMPN menjadi Pembimbing Ibadah Haji Kloter

Saya mengenalnya tahun lalu di Makkah, Saat saya menjadi ketua kloter SUB-58. Namanya Zainur Rofik. Masih muda. Jauh lebih muda daripada saya. Tapi perannya penting. Dia ketua rombongan. Satu dari beberapa ketua rombongan yang saya koordinasi.

Yang paling saya ingat: dia berangkat bersama istrinya. Dan sang istri—yang kalem, murah senyum, dan sabar itu—selalu memanggilnya dengan sebutan yang membuat saya tertegun pertama kali mendengarnya: Sayyang.


Itu bukan panggilan umum di kloter kami. Bukan pula bahasa Arab. Saya baru tahu kemudian, itu bahasa Bugis. Artinya: sayang. Atau kekasih. Atau mungkin lebih tepat: belahan hati yang dikuduskan oleh waktu dan pengorbanan.

Saya sering mencatat panggilan-panggilan unik antara suami dan istri dalam kloter. Ada yang memanggil "Pakne", "Ibuk", ada pula "Mas", "Dik", atau yang paling sering: “Woi!” Tapi Sayyang adalah panggilan yang membuat saya diam sejenak. Dalam hati saya berkata, “Ah, masih ada cinta seperti ini di dunia yang bising oleh perceraian dan status galau.”

Zainur Rofik bukan hanya suami romantis. Ia juga seorang pengusaha. Awalnya saya hanya tahu itu. Seorang pebisnis muda. Tegap, rapi, komunikatif. Tapi setelah musim haji usai, ia ikut pelatihan pembimbing ibadah. Dan lolos. Saya ucapkan selamat padanya via WhatsApp. Dia balas dengan stiker tangan yang menengadah. Dan emoji mata berkaca-kaca.

Belakangan saya baru tahu: dia ternyata PNS. Bahkan kepala sekolah. Di sebuah SMP negeri di Banyuwangi. Itu mengejutkan saya. Bukan karena ia muda dan sudah kepala sekolah. Tapi karena baru kali ini ada petugas haji dari Banyuwangi yang berasal dari instansi pemerintah daerah—bukan dari Kementerian Agama, bukan pula dosen PTAI, apalagi ustaz dari pesantren. Zainur memecahkan pola. Dan ia melakukannya dengan tenang.

Saya tahu jalur seleksi petugas haji sekarang ketat. Tidak cukup hanya punya gelar agama. Harus ikut pelatihan. Harus lulus ujian. Harus bersedia berlelah-lelah. Dan—yang paling penting—harus tahan mental menghadapi 376 orang jamaah yang bisa menanyakan arah kiblat lima kali sehari, mengantar ke miqot jamaah yang umroh, berkomunikasi dengan masyarakat setempat dengan Bahasa Arab dan lain-lain.

Zainur membuktikan satu hal: manasik itu bisa dipelajari. Bukan warisan tunggal milik fakultas syariah atau alumni pesantren. Saya sendiri dari fakultas hukum. Dan saya bisa. Zainur dari fakultas pendidikan bahasa Inggris. Dan dia juga bisa. Karena manasik itu bukan tentang gelar. Tapi tentang belajar. Tentang panggilan.

Kadang saya merasa haji itu misterius. Ada orang yang niatnya setengah hati, tahu-tahu bisa berangkat. Ada pula yang menabung seumur hidup, tapi tak sempat berangkat karena dipanggil Allah lebih dulu. Begitu pula dengan petugas. Ada yang mengejar posisi itu bertahun-tahun dan tidak pernah lolos. Ada pula yang baru coba sekali langsung diterima. Panggilan itu misteri. Seperti cinta. Seperti takdir.

Zainur Rofik mengingatkan saya bahwa panggilan itu bisa datang pada siapa saja. Pada kepala sekolah. Pada pengusaha. Pada guru bahasa Inggris. Asalkan punya kesungguhan.

Saya tidak tahu apakah nanti dia akan kembali menjadi petugas lagi. Atau akan kembali penuh pada sekolah dan bisnisnya. Tapi saya yakin, dalam setiap rapat kloter, akan selalu ada satu orang istri yang memanggil suaminya dengan kata paling lembut yang pernah saya dengar di Makkah: Sayyang.

Banyuwangi Berangkatkan 752 Jamaah Haji dalam Dua Kloter Besar

Banyuwangi (Warta Blambangan) Sebanyak 752 jamaah haji asal Kabupaten Banyuwangi resmi diberangkatkan menuju Tanah Suci pada Senin, 12 Mei 2025. Prosesi pemberangkatan berlangsung khidmat di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, yang terbagi dalam dua kelompok terbang (kloter) besar: SUB-42 dan SUB-43, masing-masing terdiri dari 376 jamaah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa tahun ini jamaah Banyuwangi tergabung dalam tujuh kloter, jumlah yang relatif sedikit dibandingkan daerah lain. Hal ini disebabkan oleh penerapan sistem baru oleh Pemerintah Arab Saudi dalam pengelolaan haji. 

"Jumlah jamaah yang sudah melakukan pelunasan awal sebanyak 1.144 orang. Namun satu orang di antaranya meninggal dunia sebelum keberangkatan," ujar Chaironi.

Dari total jamaah tersebut, sebanyak 72 orang tergolong lanjut usia. Jamaah tertua adalah Sukirman Kertonadi (94) dari Muncar, sedangkan yang termuda adalah Naila Nur Fitriah (18) asal Songgon.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, hadir langsung melepas para jamaah. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan haru dan kebanggaannya melihat semangat para calon tamu Allah.

"Semangat dan keikhlasan yang terpancar dari wajah bapak ibu semuanya, mudah-mudahan kita doakan bersama, semoga beliau-beliau semua sehat hingga kembali. Saya melihat, bapak ibu sudah tidak sabar untuk segera berangkat," ungkap Ipuk.

Mengutip seorang ulama dan pemikir Islam, Ipuk mengajak jamaah untuk merenungi makna thawaf: “Ketika manusia mengelilingi Ka'bah bersama jutaan orang lain, ia menyadari betapa kecil dunia dan betapa besarnya umat Islam ketika bersatu dalam satu tujuan—mencari ridho Allah.”

Nilai-nilai tersebut, lanjut Ipuk, sangat penting dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam membangun Banyuwangi sebagai daerah yang religius, harmonis, dan berkemajuan. Ia pun menitipkan pesan kepada seluruh jamaah agar menjaga kekompakan, saling menolong, menaati aturan, dan menjaga sikap sebagai representasi bangsa.

“Jamaah haji Indonesia, khususnya Banyuwangi, adalah duta bangsa. Nama Indonesia dan Banyuwangi akan harum jika jamaahnya mampu mencerminkan Islam yang rahmatan lil alamin dan menjaga budaya Indonesia yang baik di mata dunia,” tegasnya.

Secara khusus, Ipuk juga menitipkan harapan agar para jamaah turut mendoakan Kabupaten Banyuwangi ketika berada di depan Ka’bah.

“Doakan agar Banyuwangi semakin baik, berprestasi, dan selalu dijaga Allah dari marabahaya dan bencana. Doa kami juga menyertai bapak ibu semua agar dapat menjalankan ibadah dengan lancar dan kembali dalam keadaan sehat,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Ipuk mengajak seluruh hadirin untuk memaknai keberangkatan ini dengan penuh kesyukuran. “Di bumi ada Baitullah, dan di langit ada Baitul Ma’mur. Dengan mengharap ridho Allah. Insyaallah, menjadi haji yang mampu dan mabrur. Demikian yang bisa kami sampaikan,” pungkasnya.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger