Pages

Dari Abdullah bin Umar RA, “bahwasanya Nabi SAW bertakbir pada hari Idul Fitri sejak beliau keluar dari rumah sampai tiba di tempat salat (lapangan).“(HR. As-Sayuthi)).

Penjelasan Hadis
Hadis ini menjelaskan anjuran melafalkan kalimat Allahu Akbar pada saat Idul Fitri, dimana Rasulullah SAW senantiasa bertakbir ketika menuju tempat salat Idul Fitri.

Idul Fitri merupakan salah satu hari besar bagi umat Islam. Karenanya, Islam membolehkan umatnya untuk mengungkapkan perasaan bahagia dan bersenang-senang pada hari itu, salah satunya dengan bertakbir. Membaca kalimat takbir, tahmi, dan tahlil pada malam Idul Fitri merupakan ibadah yang disunahkan bagi umat Islam. Anjuran bertakbir ini dapat dilakukan di rumah, di masjid, di kendaraan, di jalan, di rumah sakit, di kantor, dan di tempat-tempat umum sebagai syiar keagamaan. Pada tahun-tahun sebelumnya, semarak bertakbir biasa dilakukan dengan berkeliling kampung oleh sekelompok anak-anak pengajian atau kaum remaja masjid sambil membawa bedug dan menyalakan obor. Demikian pula, orang-orang berkumpul mengumandangkan takbir di masjid maupun musalla.

Kalimat “sejak beliau keluar dari rumah sampai tiba di lapangan”menunjukkan salah satu moment sunnah mengumandangkan takbir yaitu ketika berjalan dari rumah menuju masjid. Mengapa? Karena kebanyakan orang melupakan atau lalai bertakbir pada saat berjalan dari rumah ke tempat salat, sehingga Rasulullah SAW memberikan contoh bertakbir sambil melangkahkan kaki ke tempat salat. Alasan lainnya, karena perintah bertakbir di malam Idul Fitri telah ditegaskan dalam Al-Qur’an yaitu perintah  bertakbir sejak terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadan sebagaimana firman Allah SWT: “…hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (Qs. Al Baqarah: 185)

Dalam tafsir Al-Jami` Li Ahkamil Quran karya Al-Qurthubi disebutkan bahwa ayat ini telah menjadi dasar perintah mengumandangkan takbir di malam `Idul Fitri. Sebab perintah bertakbir pada ayat tersebut bersamaan dengan berakhirnya hitungan Ramadan. Artinya bertakbir tidak dimulia sejak pagi hari keesokan harinya, melainkan sejak terbenam matahari sampai pelaksanaan salat Idul Fitri.

Kalimat takbir yaitu Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar merupakan kalimat yang paling mudah diucapkan yang terkandung kemuliaan dan kebesaran Dzat Allah SWT. Tidak ada kata lain yang paling pantas untuk mengekspresikan keberhasilan spiritual atas kemenangan meraih petunjuk Allah SWT di bulan Ramadan selain kalimat Allahu Akbar. Bertakbir di malam Idul Fitri bukanlah sekedar ucapan lisan, tetapi ekspresi keimanan yang menyatakan keagungan Allah SWT dan keyakinan bahwa tidak ada satupun benda atau mahkluk yang lebih agung dan sempurna dari-Nya, dan manusia tidak memiliki daya dan kekuatan apapun tanpa kehendak-Nya. Menyemarakkan bertakbir atau mengagungkan Allah SWT atas dorongan keimanan dan berharap ridha-Nya sangat baik dan lebih mendatangkan berkah, karena mengagungkan nama-Nya sama saja memperkuat rasa syukur dan membuat hubungan batiniah kita dengan Allah SWT selalu dekat, dan kita menyakini akan selalu terlindungi dari perbuatan dosa akibat tipu daya setan yang terkutuk.

Selain dianjurkan bertakbir, di malam hari raya Idul Fitri juga dianjurkan memperbanyak beribadah dan berdoa memohon rahmat Allah SWT. Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm mengatakan, terdapat lima malam untuk menghaturkan do’a yang mudah diijabah antara lain: malam Jumat, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama Rajab, dan malam Nishfu Sya’ban. Oleh karena itu, semarakkanlah malam Idul Fitri dengan bertakbir dan memperbanyak berdoa, serta janganlah malam Idul Fitri dihabiskan dengan kesibukkan mempersiapkan makanan di hari raya. Tetapi sisipkan waktu untuk bermunajat di malam Ied.

Semarak Bertakbir di Tengah Pandemi
Dalam kondisi pandemi virus corona ini menjadikan perayaan malam Idul Fitri berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini, semarak bertakbir dalam dilakukan di masjid dengan memenuhi protokol kesehatan, dan dianjurkan menyemarakkan takbir di rumah bersama anggota keluarga atau melalui media sosial. Untuk sementara orang dilarang melakukan takbir keliling, dan diminta tetap berada di rumah demi memutus penyebaran virus penyebab Covid-19.

Tapi bukan berarti tak bisa melaksanakan ibadah malam takbiran. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan panduan melaksanakan takbiran. Pedoman ini tertuang dalam fatwa No. 28 tahun 2020 tentang panduan kaifiat takbir dan salat Idul Fitri saat pandemi Covid-19.  Berikut panduan takbir Idul Fitri:

1. Setiap Muslim dalam kondisi apapun disunahkan untuk menghidupkan malam Idul Fitri dengan takbir, tahmid,  tahlil menyeru keagungan Allah SWT.

2. Waktu pelaksanaan takbir mulai dari tenggelamnya matahari di akhir Ramadan hingga jelang dilaksanakannya salat Idul Fitri.

3. Disunahkan membaca takbir di rumah, di masjid, di pasar, di kendaraan, di jalan, di rumah sakit, di kantor, dan di tempat-tempat umum sebagai syiar keagamaan.

4. Pelaksanaan takbir bisa dilaksanakan sendiri atau bersama-sama, dengan cara jahr (suara keras) atau sirr (pelan).

5. Dalam situasi pandemi yang belum terkendali, takbir bisa dilaksanakan di rumah, di masjid oleh pengurus takmir, di jalan oleh petugas atau jamaah secara terbatas, dan juga melalui media televisi, radio, media sosial, dan media digital lainnya.

6. Umat Islam, pemerintah, dan masyarakat perlu menggemakan takbir, tahmid, dan tahlil saat malam Idul Fitri sebagai tanda syukur sekaligus doa agar wabah Covid-19 segera diangkat oleh Allah SWT.

Demikian, semoga bermanfaat.

Subhan Nur, Lc, M.Ag
(Kepala Seksi Pengembangan Metode dan Materi Dakwah Dit. Penerangan Agama Islam)

Antisipasi Kekeringan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Intensifkan Pembersihan Sedimentasi DAM dan Embung Menjelang Musim Kemarau

Banyuwangi (Warta Blambangan) Menyongsong periode musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang pada tahun ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Pekerjaan Umum Pengairan mengambil langkah-langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan suplai air irigasi. Salah satu upaya konkret yang tengah dilakukan adalah pembersihan sedimentasi dan pengurasan (gelontor waled) pada seluruh bangunan penampung air, meliputi DAM, embung, dan bendung di wilayah kabupaten.


Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa upaya ini bertujuan menjaga ketahanan air irigasi guna mendukung kelangsungan produksi pangan. “Kami berkomitmen memastikan ketersediaan air irigasi selama musim kemarau agar aktivitas pertanian tetap berlangsung optimal. Dengan demikian, petani tetap dapat melaksanakan pola tanam dan panen sebagaimana mestinya,” ujar Ipuk pada Jumat (9/5/2025).



Sekretaris Dinas PU Pengairan Kabupaten Banyuwangi, Riza Al Fahrobi, menambahkan bahwa kegiatan ini telah dimulai sejak April, seiring dengan indikasi awal masuknya musim kemarau di beberapa kecamatan. Menurutnya, pengangkatan endapan dan material sedimen dilakukan secara kolaboratif bersama Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) setempat guna mengembalikan kapasitas tampung optimal dari infrastruktur air.


“Kegiatan ini merupakan bagian dari pemeliharaan rutin yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat petani melalui HIPPA. Pembersihan endapan sangat penting untuk menjaga efisiensi fungsi hidraulik dan operasional sistem irigasi,” terang Riza.


Berdasarkan data Dinas PU Pengairan, Kabupaten Banyuwangi memiliki 390 daerah irigasi yang secara total mengairi lahan pertanian seluas 62.000 hektare. Rencana tata tanam global yang telah disusun memperhitungkan ketersediaan sumber daya air saat musim kemarau, dan menurut Riza, suplai air masih dalam kategori aman untuk mendukung kebutuhan irigasi pada seluruh areal baku sawah.


Sebagai bagian dari pengawasan langsung, Bupati Ipuk sebelumnya juga telah melakukan kunjungan ke Waduk Bajulmati yang berada di Kecamatan Wongsorejo. Hasil monitoring menunjukkan bahwa waduk tersebut diproyeksikan mampu menopang kebutuhan air irigasi untuk sekitar 1.800 hektare lahan pertanian selama musim kemarau.


Langkah-langkah antisipatif ini menjadi bagian integral dari kebijakan adaptasi perubahan iklim daerah, sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal melalui pengelolaan sumber daya air yang terukur dan berkelanjutan.

Banyuwangi Festival Kembali Menggelar Banyuwangi Ethno Carnival: Ngelukat, Ziarah Rasa dan Warna

Banyuwangi (Warta Blambangan) Seperti ombak yang tak jemu mencumbu pasir, Banyuwangi Festival kembali menggulirkan gelombang pesonanya. Tahun ini, dari perut bumi yang menyimpan kisah dan kabut ritual, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) akan kembali melangkah di arak-arakan warna dan makna. Pada 12 Juli mendatang, kota ini bersiap menjadi panggung terbuka bagi “Ngelukat”, sebuah tafsir visual dari upacara pensucian jiwa masyarakat Osing.



Di bawah langit yang bersahabat, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menuturkan, “Kita mengangkat Ngelukat sebagai tema besar. Ia bukan sekadar ritus, melainkan lorong kultural yang menghubungkan manusia dengan kesadaran batinnya. Di tengah pengetatan anggaran, pariwisata harus tetap kita jaga. Karena dengannya, denyut ekonomi kita berdetak.”


Memang, tak sekadar perayaan rupa, B-Fest selalu menjadi napas panjang yang merawat napas kolektif daerah. Ia mengikat antara wisata, seni, dan identitas dalam satu tenun yang utuh. Dan tahun ini, dengan 42 agenda yang dikurasi ketat, B-Fest menambatkan fokusnya pada gelombang wisatawan—mereka yang datang bukan hanya untuk melihat, tetapi juga mengalami.


BEC, yang sejak lama menjadi suluh di kalender event nasional, hadir sebagai gerbang yang mengantar kita menyusuri keheningan sakral tradisi. Ratusan peserta akan menyeberangi jalan kota dalam parade sejauh satu kilometer—bukan sebagai penonton sejarah, melainkan pelukisnya. Kostum-kostum yang mereka kenakan bukan sekadar kain dan warna, tetapi doa yang dijahit dalam rupa, peluh yang dijalin menjadi busana.


“Banyak yang mendaftar,” ujar Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Taufik Rohman. “Audisi kami bagi dalam empat zona. Setelah terpilih, mereka akan diasah melalui workshop bersama desainer, koreografer, dan pegiat seni budaya. Di situlah jiwa Ngelukat akan dihidupkan—dalam gerak, dalam detail, dalam getar.”


Antusiasme masyarakat pun menyeruak seperti kembang api di langit malam. Tak hanya karena pesonanya, tetapi karena BEC adalah ruang di mana warga bisa menulis ulang kisah leluhurnya dalam bahasa masa kini.


Ngelukat, dalam tema tahun ini, bukan hanya tentang air yang menyentuh tubuh. Ia adalah tentang manusia yang menepi dari kebisingan, lalu kembali dalam kesadaran baru—bersih, jernih, utuh. Dan Banyuwangi, seperti biasa, merayakannya bukan dengan diam, tapi dengan tarian, cahaya, dan ingatan yang menjelma rupa.


Seperti gumam lama yang tak pernah usang: “Siapa mencintai Banyuwangi, ia takkan pernah pulang dengan jiwa yang sama.” (**)


Banyuwangi, Tanah Seribu Wajah yang Dirindukan: Ribuan Wisatawan Serbu Kota di Ujung Timur Selama Libur Waisak

BANYUWANGI – Ada yang lebih hangat dari matahari pagi di pantai Pulau Merah. Ada yang lebih dalam dari laguna bening di Pulau Bedil. Banyuwangi, kota dengan detak jantung yang tenang namun penuh kejutan, kembali menjadi pelabuhan rindu bagi ribuan wisatawan selama libur panjang Hari Raya Waisak, Sabtu hingga Selasa, 10—13 Mei 2025.


Seperti melodi yang terus diputar, Banyuwangi tak pernah kehilangan pamornya. Dari pucuk-pucuk cemara Hutan De Djawatan yang bagai lorong dongeng, hingga kawah biru Ijen yang menyala sunyi di pelupuk malam, kabupaten ini seolah menyusun harmoni alam untuk siapa pun yang datang. Gunung dan laut menyatu dalam satu helai selendang, dijahit dengan keramahan yang tak dibuat-buat.



“Alhamdulillah, libur panjang kali ini menjadi berkah bagi Banyuwangi,” ujar Bupati Ipuk Fiestiandani dengan senyum yang sejuk, Minggu (11/5/2025). “Sebagian besar destinasi kami banjir pengunjung. Ini menunjukkan bahwa Banyuwangi masih menjadi cerita yang ingin terus dibaca, dikunjungi, dan dihidupi.”


Hotel-hotel penuh sesak, bukan oleh keramaian yang gaduh, tetapi oleh wisatawan yang membawa serta keinginan sederhana: menjauh dari rutinitas dan bersentuhan dengan keteduhan. Banyak dari mereka datang sejak Jumat, menjadikan kota ini seperti halaman buku yang dibuka bersamaan oleh banyak mata.


Salah satu halaman paling memesona dalam buku itu adalah Pulau Bedil, sebutir mutiara kecil di perairan Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Pulau ini tak lebih luas dari sejumput doa, tapi menyimpan keindahan seluas cakrawala. Laguna tenangnya mengajak tubuh untuk berenang dan pikiran untuk tenggelam dalam ketenteraman. Mereka yang menyelam di antara terumbu karang, menyaksikan biota laut menari dalam balutan cahaya, seperti puisi yang ditulis langsung oleh Tuhan.


Taufik Rohman, Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, menyampaikan bahwa peningkatan pengunjung terjadi di hampir semua destinasi. Hutan De Djawatan mencatat 3.600 jiwa datang menyusuri pohon-pohon trembesi raksasa yang seperti hidup dalam dunia magis. Di kaki Gunung Ijen, 1.800 orang mendaki dengan napas yang tertahan oleh kagum. Pantai Grand Watudodol, Pulau Merah, Pantai Mustika, Cacalan—semuanya tak pernah sunyi, tapi tak pula gaduh. Seolah-olah wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati, tapi untuk menyatu.


“Kunjungan meningkat tiga kali lipat dibanding hari biasa,” ucap Taufik. “Bahkan banyak homestay yang tidak lagi menerima tamu karena sudah penuh sejak awal akhir pekan.”


Banyuwangi, agaknya, bukan hanya destinasi. Ia adalah pengalaman yang tak bisa direkam hanya dengan kamera, melainkan dengan hati yang bersedia menepi. Ia bukan tempat untuk sekadar dikunjungi, melainkan untuk dikenang dalam waktu yang panjang.


Di kota ini, laut tidak sekadar ombak. Gunung bukan sekadar pendakian. Dan liburan bukan sekadar pelarian. Banyuwangi, dalam libur Waisak kali ini, adalah rumah bagi ribuan jiwa yang ingin sejenak merasa pulang. (*)

Pulau Bedil: Sepenggal Nirwana di Ujung Selatan Banyuwangi

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Seperti perempuan ayu yang tak jemu mempersembahkan sisi-sisi terbaik dari wajahnya, Banyuwangi kembali membuka tirai pesonanya. Kali ini, di ufuk selatan, terbit sebuah nama baru dalam peta destinasi: Pulau Bedil. Sebuah gugusan pulau kecil yang tak hanya memanjakan mata, namun juga menggugah jiwa yang haus petualangan.


Terletak di perairan Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Pulau Bedil—atau oleh lidah lokal disebut Mbedil—hadir bak sekeping mozaik surga yang jatuh ke bumi. Lautannya bening, seakan langit yang dituang ke bumi. Pulau-pulaunya berdiri seperti penjaga sunyi, mengelilingi lautan dalam bisu yang memukau. Dari Puncak Kemuning, salah satu bukit tertinggi di sekitar pulau, tampak panorama gugusan pulau yang membuat siapa pun terdiam—sebuah lukisan hidup yang menyaingi keelokan Raja Ampat. Maka tak berlebihan jika orang menyebutnya “Raja Ampat-nya Banyuwangi.”



“Pulau Bedil ini ibarat permata yang baru diasah. Semua elemen wisata ada di sini—alam, laut, petualangan, edukasi, dan tentu saja, kuliner. Inilah contoh destinasi masa depan Banyuwangi,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, saat menyambangi langsung pulau ini pada Minggu, 11 Mei 2025.


Tak cukup hanya memandang dari ketinggian, Pulau Bedil menantang siapa pun untuk menjejakkan kaki, mencelupkan tubuh, dan menyerahkan diri pada pelukan air lautnya yang memukau. Gradasi warna hijau hingga biru safir menyambut, mengundang untuk berenang atau menyelam menyapa biota laut yang menari di antara karang.


Bupati Ipuk pun tak kuasa menolak ajakan alam. Ia turut berenang, membiarkan wajahnya disentuh angin dan matanya bercermin pada jernihnya laguna. “Ingin rasanya berlama-lama di sini,” ucapnya lirih, seraya mengajak semua orang untuk datang dan merasakannya sendiri.


Perjalanan menuju Pulau Bedil dimulai dari Pantai Mustika, Pancer. Dari pusat kota Banyuwangi, butuh waktu dua jam dengan kendaraan. Dari sana, perahu-perahu nelayan siap membawa pelancong menyusuri birunya laut menuju pulau yang oleh generasi muda disebut sebagai hidden gem itu.


Saat libur panjang, seperti libur Waisak kemarin, Pulau Bedil menjadi magnet yang menarik wisatawan dari berbagai penjuru. Imelda, seorang wisatawan dari Toledo, Ternate, datang bersama keluarga besar. “Luar biasa pemandangannya. Tak kalah dengan Labuan Bajo atau Raja Ampat,” ujarnya penuh kekaguman.


Begitu juga Tommy Kurniawan dari Surabaya. “Kami baru turun dari Ijen, dan sekarang ke Pulau Bedil. Banyuwangi itu luar biasa! Dari gunung sampai lautnya, semua punya cerita,” katanya, sembari menyebut destinasi berikutnya: Hutan De Djawatan.


Saat senja mulai jatuh dan matahari bersandar di pelupuk cakrawala, wisatawan kembali ke Pantai Mustika. Di sana, aroma laut berganti menjadi aroma ikan bakar, udang goreng, dan sambal terasi. Restoran-restoran sederhana menyajikan laut dalam wujud lain: kuliner segar yang menjadi penutup manis petualangan seharian.


Pulau Bedil bukan hanya destinasi. Ia adalah narasi. Ia adalah puisi yang ditulis oleh waktu, dibacakan oleh angin, dan dikenang oleh siapa pun yang pernah singgah. Maka, bila nanti engkau merasa letih oleh hiruk kota, carilah tenangmu di selatan Banyuwangi. Mungkin, di sana, Pulau Bedil telah menunggumu. (*)

Tangis Pecah Sambut Jenazah Rizal, PMI Banyuwangi Korban Perdagangan Orang di Kamboja Bupati Ipuk: "Semoga Ini Jadi yang Terakhir!"

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Suasana duka menyelimuti rumah sederhana di Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Senin dini hari (12/5/2025), jenazah Rizal Sampurna, pekerja migran Indonesia (PMI) nonprosedural yang meninggal secara tragis di Kamboja, akhirnya tiba di pangkuan keluarga.


Tangis histeris memecah kesunyian saat peti jenazah Rizal diturunkan dari mobil ambulans. Sulastri, sang ibu, nyaris tak mampu berdiri. Setelah sebulan lebih menanti kabar, akhirnya ia bisa memeluk kembali anaknya — meski hanya dalam peti tertutup.



“Alhamdulillah bisa pulang. Saya bersyukur,” lirihnya, dengan air mata yang tak berhenti mengalir.


Kepulangan jenazah Rizal menjadi peristiwa menyayat hati. Ia adalah potret buram buruh migran Indonesia yang berangkat dengan harapan, namun pulang dalam kepedihan. Diketahui, Rizal bekerja sebagai operator judi online setelah direkrut secara ilegal. Ia diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan meninggal sejak 17 Maret lalu — baru dikabarkan ke keluarga pada awal April.


Pemerintah Turun Tangan, Bupati Ipuk Berduka


Jenazah Rizal diantar langsung oleh perwakilan Kementerian Luar Negeri, Kementerian P2MI, aktivis pekerja migran, dan jajaran Pemkab Banyuwangi. Bupati Ipuk Fiestiandani hadir menyampaikan belasungkawa mendalam.


“Duka yang sangat mendalam untuk keluarga. Terima kasih untuk semua pihak, terutama KBRI Phnom Penh, yang bekerja keras memulangkan jenazah almarhum. Kami semua berharap — semoga ini yang terakhir, jangan ada lagi warga Banyuwangi yang menjadi korban,” tegas Bupati Ipuk dengan nada emosional.


Ipuk mengimbau agar masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri mengikuti jalur resmi agar keselamatan dan hak-haknya terjamin.


Dimakamkan Pagi Hari, Warga Antusias Mengiringi


Sekitar pukul 08.00 WIB, jenazah Rizal dimakamkan di TPU RW 1 Lingkungan Sukowidi. Puluhan warga, keluarga, dan kerabat datang melepas kepergiannya. Atmosfer haru tak terbendung. Bendera merah putih dibentangkan sebagai penghormatan terakhir kepada sosok muda yang pergi terlalu cepat, terlalu jauh.


Upaya Panjang dan Penuh Perjuangan


Pemkab Banyuwangi mengawal ketat proses pemulangan jenazah sejak awal. Awalnya seluruh biaya akan ditanggung Pemkab, namun melalui diplomasi intens KBRI Phnom Penh, pemerintah berhasil menekan pihak perusahaan di Kamboja agar bertanggung jawab atas seluruh pembiayaan pemulangan.


Jenazah diterbangkan dari Phnom Penh ke Jakarta, lalu menuju Bandara Juanda Surabaya, dan terakhir dijemput Pemkab menuju rumah duka.


Peringatan Keras bagi Masyarakat


Kasus Rizal menjadi pengingat keras: bahaya jalur migrasi ilegal masih mengintai. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperkuat edukasi dan perlindungan calon PMI.


"Kami akan terus mengedukasi masyarakat agar tidak mudah tergiur bujuk rayu sponsor ilegal. Ini bukan sekadar kasus hukum, ini nyawa anak bangsa," ujar salah satu aktivis perlindungan PMI yang ikut mendampingi keluarga Rizal.


Kini, setelah kepergian Rizal, satu pesan tertinggal kuat di benak warga Banyuwangi:


Jangan sampai ada Rizal-Rizal berikutnya.

Wisata Baluran Banyuwangi

 Wisatawan Tidak Butuh Tahu Batas Administratif 

Saya ingin memulai tulisan ini dengan satu kalimat yang tidak bisa ditawar-tawar: Saya orang Banyuwangi. Bukan dari kabupaten sebelah. Titik.


Bukan karena saya tidak mencintai tetangga. Bukan karena saya tidak tahu etika bertamu. Tapi saya tahu betul batas-batas rumah saya. Dan saya tidak suka jika ruang tamu rumah saya, dipelintir-pelintir seperti pekarangan orang.



Ambil satu contoh: Baluran. Secara administratif, betul. Itu masuk Kabupaten Situbondo. Tapi orang Jakarta—atau turis manapun—tidak punya urusan dengan administrasi. Mereka tidak mengurus surat tanah, tidak mengajukan KTP, tidak mencalonkan diri sebagai lurah. Mereka hanya ingin liburan. Dan mereka datang ke mana? Ke Banyuwangi.


Mereka tidak peduli perbatasan. Mereka tahu kota kedatangan mereka. Tiket pesawatnya Banyuwangi. Tiket keretanya Banyuwangi. Hotel tempat mereka menginap: Banyuwangi. Tempat mereka mencari rawon: Banyuwangi. Tempat mereka beli oleh-oleh: Banyuwangi.


Lalu mereka tanya ke resepsionis hotel: “Mas, ada wisata alam yang bagus enggak di sekitar sini?”

Lalu resepsionis menjawab: “Coba ke Baluran, Pak. Tapi berangkatnya pagi ya, biar lihat bantengnya masih di padang rumput.”


Apa lantas wisatawan itu mengernyitkan dahi dan bertanya, “Lho, itu masih Banyuwangi atau sudah Situbondo, Mas?”


Tentu tidak.


Orang-orang Jakarta, atau Surabaya, atau Berlin, atau Kyoto, tidak berpikir seperti itu. Karena bagi mereka, destinasi tidak punya batas administratif. Sama halnya ketika orang Banyuwangi ke Malang. Mereka tidak bilang, “Hari ini saya ke Batu.” Mereka bilang, “Saya mau liburan ke Malang,” padahal mayoritas objek wisata yang dituju itu ada di Kota Batu. Sama halnya ketika kita ke Jogjakarta, kita bilang ingin ke Candi Borobudur. Padahal itu di Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Tapi kita tetap bilang, “Liburan ke Jogja.” Kenapa? Karena dari sanalah kita menginap. Di sanalah kita berhenti. Di sanalah kita membayar pajak hotel, beli bensin, makan gudeg, dan mencetak memori.


Lalu apakah salah jika Banyuwangi mengklaim bahwa Baluran adalah bagian dari pengalaman wisata Banyuwangi?


Jika orang datang ke Banyuwangi, menginap di Banyuwangi, menikmati sarapan pagi di Banyuwangi, lalu mengendarai mobil selama satu jam ke arah utara untuk menyaksikan padang savana dan kawanan banteng—apakah itu kesalahan administratif? Apakah Dinas Pariwisata Banyuwangi harus meminta maaf secara terbuka?


Saya kira tidak.


Banyuwangi bukan pencuri. Ia hanya kebagian rejeki dari sebuah keberadaan geografis yang ramah. Sama seperti tetangga sebelah, yang juga kadang menikmati limpahan tamu dari arah sebaliknya.


Dan lagi, Baluran bukan mal yang bisa dipagari. Ia taman nasional milik semua orang. Bahkan milik generasi mendatang. Apakah kita akan saling menuding hanya karena tamu yang lewat Banyuwangi mampir ke sana?


Saya teringat satu momen ketika seorang bule bertanya kepada saya di Bandara Blimbingsari, “Where is this savanna, I saw it in Lonely Planet. Is it in Banyuwangi or Situbondo?”


Saya jawab: “It’s in your heart. As long as you remember Banyuwangi, it doesn’t matter where the border is.”


Lalu dia tersenyum. Mungkin karena dia paham. Mungkin juga karena dia tidak peduli.


Sebab bagi wisatawan, yang penting bukan di mana letaknya, tapi ke mana perjalanannya. Dan banyak perjalanan yang bermula dari Banyuwangi. Banyak kenangan yang dilahirkan di sana.

Orang-orang itu tidak datang untuk mengurus batas. Mereka datang untuk pengalaman. Untuk cerita. Untuk menikmati. Mereka akan menginap di Banyuwangi, makan di Banyuwangi, berbelanja di Banyuwangi. Tiket kereta dan pesawat mereka bertuliskan: Banyuwangi. Tapi salah satu destinasi mereka: Baluran. Apakah itu sebuah pelanggaran?


Kalau iya, mungkin mulai sekarang, hotel-hotel di Banyuwangi harus menghapus Baluran dari peta wisata. Para pemandu wisata juga dilarang menyebutnya. Jangan bawa tamu ke sana. Biar aman. Biar tidak dianggap “mengklaim”. Supaya tetangga tidak salah paham. Biar mereka tenang, dan kita juga tidak dibilang serakah.


Tapi, saya bertanya dalam hati: benarkah ini soal wilayah? Atau justru soal gengsi?


Karena, kadang-kadang, yang paling keras soal batas justru bukan pejabat yang memikirkan pelayanan. Tapi orang-orang yang merasa daerahnya sedang “disepelekan”. Padahal, tidak ada niat seperti itu. Kami hanya menyebut apa yang nyata. Bahwa Baluran itu dekat dengan Banyuwangi. Bahkan sebagian besar wisatawan masuknya lewat Banyuwangi.


Saya tahu, ini bukan soal benar atau salah. Ini soal rasa. Tapi kalau perasaan bisa membuat kita mencoret potensi pariwisata bersama, maka yang rugi bukan hanya satu kabupaten. Yang rugi adalah kita semua.


Di dunia modern, batas bukan lagi untuk membatasi. Tapi untuk menjalin kerja sama. Kalau kita sibuk menegaskan: "ini bukan wilayahmu", kita sedang melupakan satu hal penting: wisatawan tidak datang membawa peta politik. Mereka hanya bawa kamera dan harapan.


Harapan untuk bisa mengingat Banyuwangi... bahkan kalau pun mereka sampai ke Baluran.


Jadi, jika ada yang bertanya apakah orang yang datang ke Banyuwangi lalu ingin ke Baluran itu melanggar batas administratif, saya akan jawab dengan satu kalimat:


Apakah cinta pernah mengenal batas administratif?

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger