Pages

Senyum yang Tak Pernah Hilang: Dari Banyuwangi ke Mahkota Putri Indonesia

 *Senyum yang Tak Pernah Hilang: Dari Banyuwangi ke Mahkota Putri Indonesia*


Saya terkejut. Tapi juga merasa seperti mengenali wajahnya. Bukan karena saya penggemar kontes kecantikan. Bukan pula karena saya mengikuti audisi Putri Indonesia dari awal. Tapi wajah itu seperti membawa saya kembali ke tahun-tahun yang tak pernah saya catat, tapi tak bisa saya lupakan.


Firsta Yufi Amarta Putri. Sarjana Psikologi dari Universitas Brawijaya. Lahir 23 Januari 2001. Terpilih sebagai Putri Indonesia 2025. Wakil dari Jawa Timur. Tapi bagi saya, dia lebih dari sekadar wakil provinsi. Dia adalah wajah kenangan. Wajah masa lalu saya yang tiba-tiba berdiri tegak menyongsong masa depan.


Saya baru sadar kenapa senyumnya terasa begitu familiar. Senyum manis tapi tenang. Rambutnya ikal. Matanya teduh. Pantas saja terasa akrab. Ternyata dia anaknya Fitri.



Ah, Fitri...


Nama itu seperti membuka pintu ruang dalam di kepala saya. Tahun 1995. Tahun pertama saya menjejakkan kaki di kampus sore hari. Fitriana Okta Purwanti adalah orang pertama yang saya kenal. Bukan dosen. Bukan staf TU. Tapi seorang mahasiswa biasa. Perempuan sederhana. Tapi entah kenapa, justru itu yang membuatnya begitu luar biasa.


Saya ingat betul pertemuan pertama kami. Fitri datang ke kampus dengan motor tua. Yamaha-79. Suara mesinnya kadang lebih keras dari suara hati. Dan betul saja, sore itu motornya mogok. Atau lebih tepatnya: tidak bisa dimatikan. Ia panik. Saya, dengan sok tahunya khas mahasiswa baru, mencabut kabel businya. Motornya langsung mati. Fitri tertawa. "Lho Mas, kok gitu caranya?" katanya. Saya hanya nyengir. Tapi sejak saat itu, kami jadi sering bertemu.


Fitri saat itu bekerja di Bosowa Kalipuro. Dari pabrik langsung ke kampus. Bajunya selalu rapi, khas karyawan administrasi. Lipstik tipis di bibirnya. Tidak menor. Tidak pernah berlebihan. Tapi justru itu yang membuat auranya memancar. Ia tidak pernah mencoba menjadi siapa-siapa. Ia hanya menjadi dirinya sendiri. Dan itu cukup untuk membuat banyak orang mengingatnya.



Saya pernah beberapa kali ke rumahnya, di selatan Masjid Sobo. Rumah itu sekarang tampaknya masih seperti dulu. Saya masih sering melintasi jalan itu. Dari kantor menuju MAN 1 Banyuwangi. Setiap lewat, saya selalu mengingat Fitri. Senyumnya yang ramah. Caranya berbicara. Bahkan pesta pernikahannya dengan Herry Yulistianto di gedung depan RSUD Blambangan masih terbayang.


Mereka menikah sederhana. Tapi berkesan. Dan anak pertamanya adalah perempuan. Firsta. Yang kini menjadi Putri Indonesia. Anak kedua mereka laki-laki. Tapi yang luar biasa dari Firsta bukan hanya karena gelarnya. Bukan karena mahkota di kepalanya. Tapi karena ia membawa nilai-nilai ibunya. Keteguhan. Kerja keras. Ketulusan.


Saya membaca pernyataan Bupati Banyuwangi, yang mengucapkan selamat dengan hangat. "Alhamdulillah dengan penampilannya yang elegan dan cerdas berhasil menjadi yang terbaik. Semoga ke depan kiprahnya semakin cemerlang dan membawa kebaikan serta nama harum Indonesia, khususnya Banyuwangi." Saya tersenyum. Karena saya tahu, elegan dan cerdas saja tidak cukup. Firsta membawa warisan ibunya. Warisan yang tidak bisa diajarkan di bangku kuliah. Hanya bisa diteladani.


Kadang saya berpikir, apakah darah seorang ibu bisa begitu kuat mengalir sampai ke kepribadian anaknya? Atau apakah kenangan kita yang terlalu sentimental?


Ya memang ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya, dan saya yakin keberhasilan Firsta merupakan buah perjuangan pendidikan dari almarhumah ibunya.

Melihat Firsta berdiri di panggung nasional, saya tahu ini bukan sekadar nostalgia. Ini kenyataan. Indah. Nyata. Bahwa apa yang ditanam dengan cinta, akan tumbuh dengan cinta pula.


Firsta bukan muncul begitu saja. Ia memulai langkahnya sebagai Jebeng Banyuwangi 2019. Lalu terus melangkah ke ajang Raki Jawa Timur 2025. Tidak instan. Tidak tiba-tiba. Tapi bertahap. Bertumbuh. Dan kini, ia menapaki panggung tertinggi kontes kecantikan di negeri ini. Bukan hanya dengan gaun malam. Tapi dengan hati yang ditempa oleh perjalanan panjang seorang ibu.


Saya tak tahu apakah Fitri dulu pernah membayangkan anaknya akan berdiri di sana. Tapi saya yakin, jika ia masih hidup, ia tidak akan terkejut. Karena ia tahu, ia telah membesarkan anaknya dengan baik.


Saya hanya seseorang yang pernah membantu mematikan motor Fitri dengan cara tak lazim. Tapi saya merasa ikut bangga. Entah karena kenangan itu, atau karena senyum yang kini kembali hadir, dalam wajah seorang Putri Indonesia.


Wajah itu bukan wajah asing. Wajah itu adalah wajah masa lalu saya, yang kini berdiri membawa nama Banyuwangi di panggung nasional. Membawa harapan dan cinta yang dulu tumbuh di bawah langit Sobo. Di antara suara motor tua dan langkah kaki yang tak pernah menuntut sorotan.


Firsta, bukan hanya membawa mahkota. Ia membawa cerita. Cerita tentang seorang ibu yang bekerja, kuliah, dan tetap menebar kebaikan. Cerita tentang seorang anak yang tumbuh dari cinta yang tak pernah diumbar tapi selalu ada.


Banyuwangi tidak hanya mengirim bunga terbaiknya ke Jakarta. Tapi juga mengirim senyum yang tak pernah hilang. Senyum Fitri yang kini hidup di wajah anaknya. Dan saya, seperti kembali ke tahun 1995, mencabut kabel busi yang sama — bukan untuk mematikan, tapi untuk menyalakan kembali ingatan.


Dan ingatan itu, kini berdiri di depan panggung megah, menyebut nama Banyuwangi, membawa harapan Indonesia.


Saya menutup mata sejenak. Membayangkan Fitri duduk di antara penonton. Senyum tipis di bibirnya. Lalu menatap saya dan berkata, "Lho Mas, kok gitu caranya?"



Ditulis oleh Temannya Fitri

Banyuwangi, 04-05-2025

Dari Bak ke Nun: Prinsip Ekonomi dari Titik ke Titik


(Catatan Diskusi Malam di Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo, Banyuwangi)

Oleh: (Syafaat )

Saya tidak tahu siapa yang memulainya malam itu. Tapi begitu kopi diseruput, dan krupuk udang digigit, tiba-tiba semua menjadi sangat serius. Padahal tadinya kita hanya duduk di teras Rumah Kebangsaan Karangrejo, yang lebih mirip gardu ronda modern ketimbang markas gagasan besar., tapi malam itu, entah bagaimana, diskusi melesat jauh sampai ke huruf kedua hijaiyah: Bak. Dan melompat ke Nun, huruf ke-25.

“Kenapa Bak titiknya di bawah, Nun di atas?”

Pertanyaan itu tidak penting bagi sebagian orang. Tapi bagi kami malam itu yang sedang kehausan arah dan jenuh dengan jargon ekonomi makro yang penuh kurva dan asumsi, pertanyaan itu seperti jalan masuk ke gua ilmu. Kecil, tapi gelap dan dalam. Saya tidak akan menceramahi Anda soal bentuk huruf Arab. Saya juga bukan ahli kaligrafi. Tapi malam itu, seseorang yang baru kami kenal menyebut satu kalimat yang membuat saya duduk lebih tegak.

“Bak itu fondasi. Nun itu puncak.”

Kami semua diam. Itu kalimat sederhana. Tapi seperti semua kalimat sederhana, ia tidak ingin dimengerti lewat kepala, tapi lewat hati dan pengalaman.

Bak adalah huruf dengan titik di bawah. Ia menopang hurufnya. Ia menegaskan keberadaannya dari dasar. Seperti ekonomi rumah tangga, yang harus berpijak dari yang paling dasar: kebutuhan pokok, kestabilan dapur, ketahanan pangan.

Sedangkan Nun, huruf dengan titik di atas, adalah simbol puncak: cita-cita, surplus, kemakmuran. Tapi coba Anda hilangkan titiknya: dia akan menjadi huruf Ha. Goyang. Rapuh. Hampa.

Saya teringat satu ayat yang paling sering diperdebatkan: "Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun.", tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.

Kalau ditarik dalam konteks ekonomi, ayat itu bukan cuma soal sujud dan rukuk, tapi soal orientasi. Kita bekerja, kita berdagang, kita membangun pasar bukan semata untuk mencari uang, tapi untuk liya’budun, menyempurnakan pengabdian. Ekonomi harus punya titik. Kalau tidak, ia hanya seperti huruf tanpa tanda baca.

Dan titik itu? Harus dipilih: di bawah seperti Bak atau di atas seperti Nun?

Malam itu, kami sepakat bahwa ekonomi yang tidak berpijak seperti Bak, akan mudah ditumbangkan. Banyak orang berusaha langsung menjadi Nun: ingin sukses, kaya, populer. Tapi ia tidak punya titik di bawahnya, tidak punya etika, tidak punya basis nilai.

Apalagi zaman sekarang: anak muda lebih banyak ingin jadi influencer ekonomi, bukan pelaku ekonomi. Lebih suka membuat konten tentang kesuksesan daripada membuka toko kelontong kecil dan menata inventaris.

Kami tertawa, tapi getir. Karena ini memang kenyataan.

Kita telah terlalu lama mengajarkan anak muda untuk menjadi Nun tanpa mengajarkan dulu makna dari Bak. Mereka ingin menjadi merk dagang, bukan produsen. Ingin dipuji sebagai wirausahawan muda, padahal utang modalnya masih dari ayahnya.

Seseorang di pojok menambahkan, “Bak itu seperti prinsip ekonomi Islam: ada zakat, ada infaq, ada qana’ah. Titik di bawah itu adalah rasa cukup, bukan rakus.”

Dan saya tidak bisa tidak mengangguk. Mungkin itulah mengapa negara-negara yang ekonominya stabil adalah yang punya titik kuat di bawah: koperasi yang sehat, UMKM yang hidup, petani yang tidak tergantung musim, nelayan yang tidak tergantung tengkulak.

Ekonomi yang baik bukan yang hebat di atas, tapi yang kokoh di bawah. Diskusi malam itu ditemani dengan satu cangkir kopi pahit, Gula dibatasi, katanya, demi kesehatan. Tapi malam itu justru sangat manis. Bukan karena gulanya. Tapi karena kami merasa mendapat pelajaran yang tidak ada di bangku kuliah. Tentang prinsip dari Bak ke Nun. Tentang titik yang menegaskan makna. Tentang ekonomi yang harus berpijak sebelum melesat. Dan tentang pentingnya berdiskusi bukan di seminar mewah, tapi di Rumah Kebangsaan yang sering memunculkan ide-ide besar.

Saya pulang, melewati pasar. Seorang ibu menata tempe dan tahu di lapak kecilnya. Tak ada spanduk, tak ada promosi. Tapi semua orang membelinya.

Saya melihat titik itu di bawah lapaknya. Titik kecil, tapi penuh makna. Dan saya tersenyum.

Bak.

Nun.

Ekonomi.

Malam itu tidak direncanakan sebagai malam serius. Bahkan, kalau boleh jujur, kami datang ke Rumah Kebangsaan Karangrejo hanya karena lapar dan bosan. Ada yang baru pulang dari Kelurahan Gombengsari, ada yang seharian di pasar, ada juga yang datang karena tidak punya tempat lain untuk menaruh gelisahnya. Rumah itu seperti basecamp yang tak pernah mengusir siapa pun. Tempat orang-orang biasa memikirkan hal-hal besar. Atau membicarakan hal-hal sepele dengan cara yang besar.b


Di teras rumah yang menghadap ke jalan kecil berkelok itu, kopi dan teh jadi pembuka malam. Kami duduk berdandar sambil nonton TV, ada yang menyandar ke tembok, ada yang menyilangkan kaki c karena takut gigitan nyamuk.

Awalnya, obrolan seputar kegiatan sehari-hari. Lalu meloncat ke pengolahan sampah ke makan bergizi gratis, ke nasib petani, ke kekacauan pasar. Sampai akhirnya, dari balik kepulan asap rokok kretek, tamu yang baru pertama kali datang ke RKBK melempar pertanyaan yang membuat semua kepala menoleh: “Kenapa Bak titiknya di bawah, Nun titiknya di atas?”

Itu pertanyaan konyol di malam yang terlalu serius, atau pertanyaan serius di malam yang terlalu konyol. Tapi tidak ada yang menertawakan. Justru hening yang turun. Seperti ada yang mengintip dari balik langit Karangrejo dan menunggu jawaban kami.

Saya, yang awalnya ingin pulang cepat karena besok harus kerja pagi-pagi, akhirnya ikut tenggelam. Kalimat itu seperti membuka pintu kecil yang mengarah ke lorong panjang pemahaman. Dari Bak ke Nun. Dari huruf kedua ke huruf ke-25 dalam abjad hijaiyah. Dari titik bawah ke titik atas. Dari fondasi ke puncak.

Malam itu, kami bicara panjang soal titik. Tentang bagaimana satu titik bisa mengubah huruf, mengubah makna, bahkan mengubah arah hidup. Bak tanpa titik menjadi huruf kosong. Nun tanpa titik menjadi goyah, seperti huruf Ha, yang bunyinya lemah, napasnya terengah. Tapi titik itu bukan hanya tanda. Ia adalah posisi. Ia adalah tempat berpijak.

Bak dengan titik di bawah seperti orang yang tahu dari mana dia datang. Ia mengerti akar. Ia mengerti bahwa segala sesuatu dimulai dari bawah. Dari tanah, dari keringat, dari usaha yang tak kelihatan. Sementara Nun, dengan titik di atas, adalah orang yang sudah berada di puncak. Sudah stabil. Sudah mapan. Tapi kalau titiknya meleset, ia bisa runtuh. Menjadi hampa.

Kami lalu mengaitkannya dengan ekonomi. Bukan ekonomi makro ala World Bank, bukan pula mikro seperti UMKM. Tapi ekonomi yang kami jalani sehari-hari. Ekonomi yang harus mengerti titik bawah, agar tidak salah menaruh titik atas. Ekonomi yang tidak hanya bicara laba, tapi juga rasa cukup. Ekonomi yang lahir dari nasi yang ditanak, bukan dari grafik yang dipresentasikan.

Saya pernah melihat seorang ibu di pasar Blambangan, yang setiap hari membawa lima bungkus nasi rames untuk dijual. Ia tahu kalau hari hujan, hanya dua yang laku. Tapi ia tetap bawa lima, karena siapa tahu rezeki bertambah. “Kalau gak laku, ya buat makan keluarga,” katanya sambil tersenyum. Itu titik di bawah. Ia tidak rakus. Ia tidak mengharap besar. Tapi ia bergerak. Ia berjalan dalam garis hidupnya yang sederhana tapi mantap. Seperti huruf Bak: rendah, tapi bermakna.

Sebaliknya, saya juga pernah melihat pedagang besar di Banyuwangi, yang menimbun barang demi menaikkan harga. Ia ingin jadi Nun. Titiknya di atas. Tapi ketika pemerintah melakukan operasi pasar, harganya jatuh. Ia marah, ia curiga, ia merasa dikhianati. Padahal yang mengkhianati bukan orang lain, tapi titiknya sendiri yang ia letakkan terlalu tinggi, melebihi hurufnya.

Dari situ kami mulai bicara tentang prinsip. Prinsip ekonomi dari Bak ke Nun. Bagaimana membangun ekonomi yang tidak lupa titik asalnya. Bagaimana memperjuangkan kesejahteraan tanpa meninggalkan keadilan. Bagaimana mencintai keuntungan tanpa menindas orang lain.

Seseorang lalu menyebut istilah ekonomi Islam. Tentang zakat, infaq, sedekah. Tentang larangan riba. Tentang kejujuran dalam timbangan. Saya tersenyum, karena ini bukan seminar. Tapi mendadak malam itu lebih kaya dari ruang kelas mana pun. Karena kami tidak sedang menghafal teori. Kami sedang menelaah hidup, lewat huruf-huruf yang setiap hari kami baca, tapi jarang kami renungi.

Bak ke Nun adalah perjalanan panjang. Dari huruf kedua ke huruf ke-25. Itu bukan sekadar urutan. Tapi juga proses. Seperti anak petani yang belajar, lalu kuliah, lalu kembali mengabdi. Seperti tukang becak yang menyekolahkan anaknya sampai jadi sarjana. Seperti pemilik warung kopi yang pelanggannya semakin banyak karena ia tak pernah menaikkan harga meski harga gula melambung. Semua itu adalah proses dari Bak ke Nun. Dari titik bawah ke titik atas. Tapi tidak semua berhasil. Karena kadang titik itu hilang. Atau bergeser. Atau diganti dengan tanda tanya.

Seseorang malam itu menyitir Al-Qur’an, tentang huruf-huruf muqaththa’ah. Yang maknanya tidak dijelaskan secara eksplisit. Ada yang dimulai dengan "Nun", ada yang dengan "Alif Lam Mim", ada juga yang dengan "Kaf Ha Ya 'Ain Shad". Huruf-huruf misterius. Tapi bukan tanpa makna. Mereka adalah kode. Tanda bahwa ilmu Tuhan melampaui logika manusia. Tapi justru di sanalah letak kesempurnaan. Bahwa tidak semua harus dipahami. Tapi semua harus dihormati.

Kami lalu menyepakati satu hal yang tidak kami tulis, tapi kami simpan dalam hati masing-masing: ekonomi yang baik adalah ekonomi yang tahu titiknya. Yang tidak malu jadi Bak, dan tidak sombong jadi Nun. Yang tahu bahwa bawah bukan kehinaan, dan atas bukan kemuliaan. Semua tergantung titik.

Saya sendiri pernah merasa menjadi huruf tanpa titik. Ketika bisnis saya bangkrut. Ketika kepercayaan orang menguap. Ketika saya harus mulai dari nol, dan nol itu tidak berbentuk bulat, tapi seperti kawah gelap yang sulit dipanjat. Tapi justru di situ saya belajar tentang titik. Bahwa kita tidak bisa memilih di mana kita ditaruh. Tapi kita bisa memilih bagaimana kita berpijak.

Di sebuah desa di lereng Gunung Raung, saya pernah bertemu petani kakao yang setiap panen hanya menjual ke satu pengepul. Harganya rendah. Tapi ia tidak pernah mengeluh. “Yang penting bisa sekolahin anak,” katanya. Saya tanya, “Kenapa tidak cari pengepul lain?” Dia menjawab dengan kalimat yang membuat saya terdiam: “Kalau saya terlalu ingin naik, saya bisa jatuh. Saya tahu posisi saya.”

Bukan berarti ia tidak punya cita-cita. Tapi ia mengerti titiknya. Dan itu membuatnya selamat.

Ekonomi hari ini terlalu banyak Nun. Terlalu banyak orang ingin di atas. Ingin viral, ingin sukses cepat, ingin jadi CEO sebelum tahu cara mengepel lantai kantor. Tapi semua itu rapuh. Karena titiknya ditaruh sembarangan. Atau dibuat-buat.

Di Rumah Kebangsaan Karangrejo, malam itu, kami menemukan prinsip yang tidak diajarkan di sekolah bisnis mana pun: bahwa satu titik bisa menjadi poros seluruh bangunan. Bahwa huruf-huruf hidup kita perlu diberi titik di tempat yang tepat. Agar tidak goyah. Agar tidak kosong.

Ketika malam semakin larut dan nyamuk semakin rakus, kami tidak bubar. Justru obrolan semakin dalam. Ada yang menyebut nama Muhammad, nama yang diawali huruf Mim, huruf yang juga bertitik. Tapi titiknya di tengah. Menjaga keseimbangan. Antara atas dan bawah. Antara dunia dan akhirat. Antara hak dan kewajiban.

Saya tertegun. Lalu berpikir: mungkin itulah kuncinya. Bahwa titik bukan hanya soal posisi. Tapi soal keseimbangan. Titik di bawah adalah kerendahan hati. Titik di atas adalah harapan. Titik di tengah adalah kendali. Kita butuh ketiganya. Tapi tidak sekaligus. Harus bertahap. Harus dengan proses.

Bak ke Nun bukan lompatan. Tapi perjalanan. Dan ekonomi, agar tidak pincang, harus mengikuti perjalanan itu. Harus dimulai dari produksi, bukan konsumsi. Dari kerja keras, bukan utang. Dari desa, bukan dari pusat kota. Dari pasar tradisional, bukan dari mal. Dari warung kopi seperti tempat kita ngopi depan inggrisan, bukan dari kafe yang menjual estetika tanpa rasa.

Malam itu, saya tahu kami tidak menyelesaikan masalah negara. Kami juga tidak akan diminta jadi menteri. Tapi kami telah menemukan satu benang halus yang menghubungkan hidup kami semua: titik. Satu titik yang kecil, tapi mampu menopang huruf. Satu titik yang bisa mengubah huruf kosong menjadi penuh makna.

Ketika akhirnya saya pulang menjelang dini hari, jalanan Karangrejo sudah sepi. Tapi pikiran saya masih penuh. Saya tidak bisa tidur. Bukan karena kopi. Tapi karena kalimat itu terus terngiang: Bak ke Nun.

Saya membayangkan negeri ini, yang terlalu sibuk menaruh titik di atas. Tapi lupa bahwa titik itu bisa jatuh. Dan jika titik itu hilang, kita tidak lagi bisa membaca huruf-huruf kehidupan dengan benar.

Saya percaya, ekonomi kita bisa tumbuh. Tapi hanya jika kita tahu dari mana memulainya. Bukan dari atas. Tapi dari bawah. Dari Bak.

Dan semoga, jika nanti kita sampai ke Nun, titik kita tetap berada di tempat yang semestinya. Agar huruf kita tetap utuh. Agar hidup kita tetap bermakna.

Dan ekonomi kita, tetap manusiawi.

01 Mei 2025

1.130 Jamaah Haji Banyuwangi Ikuti Bimbingan Manasik Lapangan di GOR Tawangalun

Banyuwangi (Warta Blambangan) Sebanyak 1.130 jamaah haji asal Kabupaten Banyuwangi mengikuti kegiatan praktek bimbingan manasik haji lapangan yang dilaksanakan di Lapangan GOR Tawangalun, Selasa pagi (30/04/2024). Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat.



Jamaah yang mengikuti kegiatan tersebut tergabung dalam Kloter SUB-42, 43, dan 44, yang dijadwalkan berangkat pada gelombang pertama pada 12 Mei 2025 mendatang. Dalam sambutannya, Dr. Chaironi Hidayat menegaskan pentingnya pemahaman tata cara ibadah haji secara menyeluruh, agar jamaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan baik, khusyuk, dan sesuai tuntunan syariat.


“Kegiatan praktek manasik ini sangat penting sebagai bekal praktis bagi para jamaah, agar ketika berada di tanah suci nanti mereka sudah siap baik secara fisik, mental maupun spiritual,” ujarnya.


Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Banyuwangi, Ir. H. Mujiono, M.Si, yang secara langsung menyampaikan pesan dan motivasi kepada para jamaah. Dalam arahannya, ia mengingatkan agar jamaah menjaga kondisi kesehatan, terutama menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).


“Menjaga stamina menjelang Armuzna sangat penting. Jamaah harus istirahat yang cukup, konsumsi makanan bergizi, dan selalu berkoordinasi dengan tim kesehatan,” pesannya.


Wakil Bupati juga menyempatkan diri menyapa para jamaah secara langsung dan berfoto bersama, menciptakan suasana hangat dan penuh kekeluargaan di tengah semangat jamaah menjalani bimbingan.


Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi, H. Amir Hidayat, juga berpesan agar para jamaah selalu menjalin komunikasi intensif dengan tim kesehatan kloter. “Setiap kloter sudah ada petugas kesehatan. Jamaah jangan sungkan untuk melaporkan kondisi tubuhnya, sekecil apapun gejalanya,” ujarnya.


Bimbingan manasik lapangan ini menjadi bagian penting dari pembinaan terakhir menjelang keberangkatan, yang diharapkan mampu memberikan kesiapan lahir batin bagi para tamu Allah asal Banyuwangi dalam menunaikan rukun Islam kelima.

28 Tahun Planet FM, Radio Komunitas Tetap Eksis di Era Digital

Banyuwangi – Radio komunitas Planet FM merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 dengan acara Halal Bi Halal dan silaturahmi bersama Jaringan Radio Komunitas Broadcast Banyuwangi (JRKBB). Kegiatan yang berlangsung guyub hangat ini digelar di Pantai Wonderful Bimorejo Wongsorejo, Banyuwangi, pada Minggu (27/4/2024).

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Panitia sekaligus pendiri Planet FM, Wisnu Husen, dilanjutkan oleh perwakilan JRKBB, Haderi, serta Wakil Ketua JRKI Jawa Timur, Hadi Purwanto, yang juga merupakan pimpinan Planet FM.

Dalam pidatonya, Hadi Purwanto mengingatkan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah lanskap media. "Radio, televisi, bahkan media cetak konvensional mulai tergerus oleh platform digital. Karena itu, insan radio harus beradaptasi dengan inovasi," tegasnya.

Ia menekankan bahwa siaran radio kini tak hanya mengandalkan frekuensi analog, tetapi juga merambah ke speaker pasar, corong masjid, hingga platform digital seperti streaming, podcast, dan media sosial.


Usai serangkaian acara Halal Bi Halal dan perayaan ulang tahun yang ditandai tiup dan potong tumpeng kegiatan ditutup dengan semarak nyanyi dan joged bersama mengiringi lagu Umbul-umbul Blambangan yang dipandu oleh Mbok Rehana dan pramusiar.....Acara ini semakin mempererat kebersamaan komunitas radio di Banyuwangi khusunya para anggota Komunitas Radio Planent FM sambil menyongsong tantangan era digital.

Acara yang diliput oleh beberapa media itu tertarik dengan program harian dan mingguan Planet yang kesannya seperti radio swasta tapi dikemas komunitas. Karaoke gratis hanya 2 kali sepekan dan ada layanan di shooting seperti artis bikin klip cover.Maka fans tetap setia di frekwensi 107,7 MHZ dan medsosnya termasuk streaming via aplikasi gata(AW/AWN/JN)



Lentera Sastra Banyuwangi Matangkan Program Penulisan Cerita Pendek Bertema Sejarah Lokal

Purwoharjo, (Warta Blambangan) Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi menunjukkan konsistensi dalam upaya pelestarian budaya melalui literasi berbasis kearifan lokal. Bertempat di kediaman Istiadah di Purwoharjo, pada Sabtu (26/4/2025), lembaga ini menyelenggarakan rapat koordinasi guna memfinalisasi konsep program penulisan cerita pendek dengan latar tempat bersejarah di Kabupaten Banyuwangi.


Kegiatan ini merupakan inisiasi awal dari program jangka panjang yang bertujuan mengintegrasikan kreativitas sastra dengan pelestarian sejarah daerah. Dalam forum tersebut, Nur Saewan, selaku Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) Bahasa Indonesia MTs Kabupaten Banyuwangi sekaligus pengurus Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, secara resmi ditunjuk sebagai koordinator pelaksana program.


Penunjukan Nur Saewan dinilai strategis mengingat kapasitas beliau dalam bidang pendidikan serta jaringannya yang luas di kalangan pendidik dan peserta didik. Dengan kepemimpinan tersebut, diharapkan keterlibatan aktif guru dan siswa dalam program ini dapat terfasilitasi secara optimal.



Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, dalam sambutannya menyampaikan bahwa program ini dirancang tidak hanya sebagai kegiatan insidental, melainkan sebagai gerakan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa karya-karya terpilih dari lomba akan dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk buku antologi. Sebagai bentuk apresiasi, setiap peserta akan memperoleh satu eksemplar buku tersebut secara gratis.


"Kami berkomitmen menciptakan ruang bagi pelajar dan masyarakat umum untuk mengekspresikan kecintaan terhadap Banyuwangi melalui karya cerita pendek. Produk dari program ini diharapkan menjadi kontribusi nyata terhadap dokumentasi sejarah lokal sekaligus penguatan identitas budaya," ujar Syafaat.


Dalam penyusunan konsep teknis, panitia menetapkan pembagian kategori peserta berdasarkan jenjang pendidikan, yakni kategori SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK, serta kategori umum. Pembagian ini bertujuan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi.


Secara substantif, karya-karya yang dihasilkan akan mengangkat narasi tentang tempat-tempat bersejarah di Banyuwangi, seperti situs purbakala, bangunan kolonial, hingga lokasi perjuangan rakyat. Dengan pendekatan ini, program diharapkan tidak hanya memperkaya khazanah sastra lokal, tetapi juga meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya pelestarian sejarah.


Adapun jadwal resmi pendaftaran peserta, ketentuan lomba, serta kriteria penilaian akan diumumkan dalam waktu dekat. Proses seleksi dan penerbitan buku direncanakan rampung pada akhir tahun 2025, sehingga peserta memiliki rentang waktu yang memadai untuk menghasilkan karya berkualitas.


Melalui kolaborasi lintas sektor, Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi optimistis program ini akan menjadi salah satu landasan strategis dalam memperkuat identitas budaya Banyuwangi melalui medium sastra.

Bimbingan Manasik Haji di Kabat Bahas Serba-Serbi Ibadah dan Teknologi Pendukung

Banyuwangi, (Warta Blambangan) — Bimbingan manasik haji di Aula Pondok Pesantren Darul Latif Ar Rosyid, Kecamatan Kabat, tidak hanya fokus pada penyampaian tata cara ibadah haji dan umroh, tetapi juga membahas berbagai hal penting yang menyertai pelaksanaan ibadah, termasuk ziarah dan pemanfaatan aplikasi digital pendukung ibadah.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kabat menyampaikan bahwa manasik haji harus mencakup pembekalan menyeluruh agar jamaah lebih siap secara fisik, mental, dan spiritual. “Manasik bukan sekadar simulasi ibadah, tetapi juga pemahaman menyeluruh yang menunjang kekhusyukan selama di tanah suci,” ujarnya.

Dua narasumber hadir dalam kegiatan tersebut. Abdul Azis, Kepala KUA Kecamatan Banyuwangi, memandu langsung praktik manasik haji dan umroh di halaman pesantren. Ia merupakan pembimbing ibadah haji yang telah berpengalaman mendampingi jamaah selama beberapa musim haji. 


Sementara itu, Syafaat, ASN dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang juga berpengalaman sebagai ketua kloter, menyampaikan materi tentang serba-serbi ibadah haji. Ia menjelaskan kegiatan ziarah yang bisa dilakukan di sekitar Masjid Nabawi, seperti ke Masjid Quba, Bukit Uhud, dan Raudhah, serta pentingnya melaksanakan sholat sunnah dan berdoa di tempat-tempat tersebut.

Syafaat juga menekankan pentingnya pemanfaatan aplikasi digital seperti aplikasi Haji dan Umroh, aplikasi Haramain, hingga layanan terjemahan khutbah dalam bahasa Indonesia di Masjidil Haram. Selain itu, disampaikan pula informasi mengenai salat jenazah setelah salat fardhu di Haramain dan orientasi lokasi dengan Google Maps untuk mempermudah mobilitas jamaah.

Salah satu peserta, Wahidni, mengaku sangat terbantu dengan informasi terkait penggunaan aplikasi. “Paparan tentang penggunaan aplikasi sangat bermanfaat. Kami jadi tahu bagaimana memaksimalkan fasilitas teknologi untuk menunjang ibadah,” ujarnya.

Bimbingan ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan para calon jamaah haji agar dapat menjalankan ibadah dengan lancar dan penuh makna di tanah suci.

Stadion Sayu Wiwit Banyuwangi

 Stadion Sayu Wiwit Banyuwangi

Oleh; Syafaat 


Waktu saya ditanya soal stadion di Banyuwangi, saya malah bengong. Bukan karena saya tidak tahu ada stadion di Banyuwangi. Tapi karena saya tidak tahu, atau lebih tepatnya, tidak pernah memperhatikan, namanya: Stadion Diponegoro.

Saya kira, itu di Semarang. Atau paling tidak di Jogja. Tapi ternyata: di Banyuwangi.

Teman saya, yang orang Jakarta, tidak percaya. “Serius, stadion Diponegoro itu di Banyuwangi? Bukan di Jawa Tengah?”

Saya hanya bisa mengangguk pelan. Tapi dalam hati bertanya-tanya: kenapa ya?

Banyuwangi ini tempat yang kaya tokoh sejarah. Bahkan kisah heroiknya seringkali lebih berdarah daripada perang Diponegoro itu sendiri. Ada Sayu Wiwit. Ada Rempeg Jogopati. Ada Minak Jinggo. Bahkan kalau mau lebih dramatis, ada Pangeran Tawang Alun yang konon bisa berubah jadi harimau. 


Tapi nama stadion kita? Diponegoro. Bukan Jogopati, bukan Jinggo, bukan Sayu Wiwit.

Saya tidak sedang ingin menggugat Pangeran Diponegoro. Beliau tokoh besar. Pahlawan nasional. Disegani Belanda. Dijadikan jalan utama hampir di semua kota di Indonesia.

Tapi justru karena beliau begitu besar dan begitu umum, maka tidak terasa lokal.

Kalau Banyuwangi ingin dikenang sebagai Banyuwangi, kenapa justru memilih nama yang membuat kita dianggap bagian dari Jawa Tengah?


Kita ini kadang lebih takut pada format, daripada kehilangan identitas.

Saya juga tidak tahu sejak kapan stadion itu bernama Diponegoro. Tidak ada prasasti. Tidak ada catatan sejarah. Seperti kebanyakan nama-nama fasilitas publik di negeri ini: datang begitu saja, tanpa diskusi, tanpa penjelasan, tanpa filosofi.

Mungkin karena waktu itu sedang tren nasionalisme. Semua ingin bernuansa perjuangan. Jadilah Diponegoro.

Tapi zaman sekarang, orang mulai kembali mencari jati diri lokal. Ingin tahu siapa leluhurnya. Ingin bangga dengan kisah di tanah sendiri. Maka aneh rasanya kalau fasilitas sebesar stadion, tempat ribuan orang bersorak, justru memakai nama dari luar.

Saya tidak bilang kita harus ganti nama stadion itu sekarang juga. Tapi bolehlah kita mulai bertanya. Mulai berdiskusi. Bukan karena kita anti nasionalisme, tapi karena kita juga cinta pada sejarah kita sendiri.

Toh, Minak Jinggo juga punya kisah perang yang tak kalah seru. Sayu Wiwit juga simbol keberanian perempuan. Rempeg Jogopati juga gugur dalam perang. Apa kurang heroik?

Di tengah upaya pemerintah daerah menggaungkan pariwisata berbasis budaya, nama stadion seharusnya menjadi bagian dari narasi besar itu. Bukan malah jadi titik disonansi.

Coba bayangkan turis datang ke Banyuwangi. Mereka kagum dengan Gandrung. Terkesima oleh ritual Seblang. Terpana dengan pawai Etnik Nusantara. Tapi lalu melihat stadion: Diponegoro.

"Lho, ini masih di Jogja atau sudah nyasar ke Jawa Timur?"

Itu bukan soal kecil. Itu soal narasi. Soal bagaimana kita menyusun cerita tentang diri kita sendiri.

Setiap nama adalah narasi. Dan narasi adalah kekuatan.

Saya ingat waktu ke Korea Selatan. Mereka bisa membuat desa kecil menjadi destinasi wisata hanya karena satu legenda lokal. Nama-nama tempat dijaga, dilestarikan, dibungkus ulang jadi bagian dari cerita yang dijual ke dunia.

Kita? Nama stadion saja bisa salah alamat.

Saya pernah mengusulkan agar nama stadion diubah. Bukan dengan cara gegabah. Tapi lewat sayembara. Libatkan masyarakat. Tanyakan kepada budayawan, sejarawan, dan pelajar. Biarkan mereka berdiskusi: nama siapa yang paling layak menjadi simbol semangat sportivitas Banyuwangi?

Kalau hasilnya tetap Diponegoro, saya akan terima dengan lapang dada. Tapi kalau ternyata masyarakat ingin nama lokal, ya mari kita pikirkan bersama.

Itu bukan soal fanatisme daerah. Itu soal menghargai sejarah sendiri. Soal membangun kepercayaan diri budaya.

Bayangkan stadion bernama Stadion Sayu Wiwit. Akan ada patungnya di pintu masuk. Akan ada mural perjuangannya di tembok luar. Lalu setiap pertandingan, announcer akan mengucap: "Selamat datang di Stadion Sayu Wiwit, tanah keberanian dan pengorbanan."

Itu bukan sekadar sepak bola. Itu adalah edukasi. Setiap anak yang datang, setiap penonton yang lewat, akan bertanya: siapa dia? Apa jasanya? Lalu mulailah lahir rasa memiliki.

Itulah yang membedakan fasilitas publik yang berkarakter, dan yang sekadar tembok beton berumput hijau.

Saya tahu, ada juga yang akan mencibir. "Ah, itu cuma nama. Yang penting kualitas lapangan dan prestasi klubnya."

Saya tidak menolak kualitas. Tapi siapa bilang identitas tidak penting?

Orang boleh main bagus di stadion mana saja. Tapi ketika mereka bermain di stadion yang membawa nama pahlawan lokal, ada semangat berbeda yang ikut turun ke lapangan.

Coba lihat stadion di Eropa. Hampir semua punya cerita. Old Trafford. Camp Nou. Anfield. Semuanya bukan sekadar nama. Ada kisah, ada makna, ada semangat.

Saya tulis ini bukan untuk marah-marah. Bukan pula untuk menyalahkan siapa-siapa. Saya hanya sedang rindu pada sebuah tempat yang bernama sesuai dengan jiwanya.

Stadion itu tempat semua orang berkumpul. Tempat air mata tumpah. Tempat sejarah kecil diciptakan. Maka layaklah ia punya nama yang merepresentasikan tanah tempat ia berdiri.

Kalau tidak, kita akan terus seperti ini: asing di negeri sendiri.

Saya tidak sedang membayangkan perubahan besar. Saya hanya sedang membayangkan sebuah papan nama baru. Dengan ukiran kayu jati. Di bawahnya tertulis:

**"Stadion Rempeg Jogopati. Tempat semangat perjuangan terus menyala."

Atau...**

**"Stadion Sayu Wiwit. Di sini keberanian perempuan dikenang selamanya."

Lalu anak-anak sekolah datang. Membaca. Bertanya. Bangga.

Dan kita, tidak lagi harus menjelaskan kepada teman: "Iya, stadion Diponegoro itu... di Banyuwangi."

Itulah mimpi kecil saya. Dari pinggir lapangan. Di antara deru sorak dan bau rumput basah. Karena stadion bukan hanya untuk menendang bola. Tapi juga untuk menanam sejarah.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger