Pages

Perupa Bershalawat di Hari Keenam Pameran Seni Rupa “Banyu Kening”

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Pameran seni rupa yang bertajuk Banyu Kening di Gedung Juang, dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi ke-253, memasuki hari keenam dengan suguhan istimewa. Malam ini, pengunjung disuguhi alunan syahdu shalawat dari grup New Shalawat Club Banyuwangi, sebuah kolaborasi unik yang mempertemukan seni rupa dengan tradisi shalawat, pertama kalinya dalam sejarah pameran seni di Banyuwangi.



Ketua Dewan Kesenian Belambangan (DKB), Hasan Basri, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan terobosan baru dalam dunia seni rupa di Banyuwangi. “Ini adalah pertama kalinya pameran seni rupa dikombinasikan dengan kegiatan bershalawat. Kami ingin menampilkan seni tidak hanya dalam bentuk visual, tetapi juga dalam bentuk spiritual yang dapat menyentuh hati setiap pengunjung,” ujarnya.


Pameran seni rupa yang berlangsung sejak 30 November hingga 7 Desember 2024 ini menghadirkan beragam kegiatan dari seluruh komite yang ada di DKB. Selama sepekan, pengunjung dapat mengikuti berbagai acara seperti kursus sehari melukis dan membuat patung, pentas teater, seminar seni rupa, pemutaran film, hingga pembacaan puisi.


“Kami ingin pameran ini menjadi wadah yang inklusif, di mana semua jenis seni dapat berinteraksi dan saling mendukung. Seni rupa tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan erat dengan seni-seni lain seperti teater, sastra, dan musik,” tambah Hasan Basri.


Syafaat, salah satu pengurus dari Komite Bahasa dan Sastra DKB yang juga Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi menekankan pentingnya kegiatan bershalawat dalam konteks budaya Banyuwangi. “Banyuwangi adalah tempat lahirnya Shalawat Badar, sebuah shalawat yang sangat dikenal di seluruh Indonesia. Membumikan shalawat badar di tanah kelahirannya merupakan sebuah keniscayaan, dan pameran ini menjadi salah satu cara kami untuk melakukannya,” ungkapnya.


Pada malam ini, seluruh pengurus DKB bersama-sama melantunkan Shalawat Badar di tengah-tengah pameran, menciptakan suasana yang khusyuk dan penuh spiritualitas. Pengunjung pun diajak untuk ikut bershalawat, menjadikan malam ini tidak hanya sebagai pengalaman visual, tetapi juga pengalaman batin yang mendalam.


Tema Banyu Kening yang diangkat dalam pameran ini memiliki filosofi mendalam. “Air adalah sumber kehidupan. Semua makhluk hidup membutuhkan air untuk bertahan hidup. Dalam filosofi Jawa, air juga sering dikaitkan dengan kebersihan dan kesucian,” ujar Syafaat.


Ia juga mengaitkan tema ini dengan ajaran Islam, khususnya doa yang biasa dipanjatkan ketika meminum air zamzam. “Ada tiga doa yang kita panjatkan ketika minum air zamzam: meminta ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesembuhan dari penyakit. Air mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur dan berdoa kepada Allah,” jelasnya.


Dengan mengusung tema ini, pameran Banyu Kening tidak hanya menampilkan karya seni yang indah, tetapi juga menyampaikan pesan spiritual dan filosofis yang mendalam. “Semoga melalui shalawat, kita selalu ingat pada ajaran Nabi Muhammad SAW, dan semoga suatu hari kita dapat berziarah ke makam beliau,” harap Hasan Basri.


Kegiatan malam ini mendapatkan respons positif dari pengunjung. Banyak di antara mereka yang terkesan dengan perpaduan seni rupa dan shalawat yang disuguhkan. “Saya tidak menyangka pameran seni rupa bisa seindah dan sesyahdu ini. Biasanya, pameran hanya menampilkan lukisan atau patung, tetapi di sini ada nuansa spiritual yang membuat saya merasa lebih dekat dengan Tuhan,” ujar Siti Muslikah, salah satu pengunjung yang hadir bersama keluarganya.


Sementara itu, Rini Dyah Diningrum, seorang pelukis lokal yang juga ikut serta dalam pameran ini, mengungkapkan rasa syukurnya bisa berpartisipasi dalam kegiatan yang penuh makna ini. “Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Seni rupa adalah ekspresi jiwa, dan malam ini jiwa kami terhubung dengan spiritualitas melalui shalawat,” katanya.


Hasan Basri berharap kolaborasi seni dan spiritualitas seperti ini dapat terus dikembangkan di masa depan. “Banyuwangi adalah daerah yang kaya akan budaya dan tradisi. Kami ingin terus mengangkat kekayaan ini melalui berbagai kegiatan seni yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan nilai-nilai spiritual dan filosofis kepada masyarakat,” tuturnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa tahun depan insyaallah pameran seni rupa juga memamerkan karya kaligrafi Arab.


Pameran seni rupa Banyu Kening masih akan berlangsung hingga 7 Desember 2024, dengan berbagai kegiatan menarik yang bisa dinikmati oleh pengunjung. “Kami mengundang seluruh masyarakat Banyuwangi untuk datang dan menikmati pameran ini. Mari kita rayakan Hari Jadi Banyuwangi dengan cara yang berbeda, dengan seni, budaya, dan spiritualitas,” ajak Hasan Basri.


Dengan semangat memperingati Hari Jadi Banyuwangi ke-253, pameran seni rupa Banyu Kening menjadi bukti bahwa seni tidak hanya indah untuk dilihat, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menyatukan dan memperkuat nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat.


Lentera Sastra Jalin Kerja Sama dengan Kelompok Masyarakat Berkah: Bedah Buku "Hebat Bersama Umat" di Mila Cafe

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Lentera Sastra, sebuah komunitas sastra yang berkomitmen untuk memperkuat literasi dan kebudayaan di Banyuwangi, kembali menunjukkan dedikasinya dalam mempererat harmoni sosial di ujung timur Pulau Jawa. Bertempat di Mila Cafe, Lentera Sastra menjalin kerja sama strategis dengan Kelompok Masyarakat Berkah, yang bertujuan untuk mempromosikan nilai-nilai moderasi beragama dan kerukunan sosial melalui literasi.



Puncak dari kolaborasi ini adalah acara bedah buku antologi puisi "Hebat Bersama Umat", yang akan diadakan dalam waktu dekat. Buku ini merupakan kumpulan puisi yang menggambarkan keragaman etnis, budaya, dan agama di Banyuwangi, serta bagaimana harmoni dan toleransi menjadi kunci kehidupan masyarakatnya. Acara ini juga melibatkan narasumber terkemuka dari berbagai institusi, termasuk Dewan Kesenian Belambangan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi, serta Universitas KH Mukhtar Syafaat, Blok Agung.


Dalam pertemuan yang berlangsung di Mila Cafe pada Rabu pagi, Ketua Panitia Bedah Buku Lentera Sastra, Uswatun Hasanah, menyampaikan bahwa kerja sama dengan Kelompok Masyarakat Berkah merupakan langkah penting dalam memperkuat literasi di Banyuwangi.


“Melalui bedah buku ini, yang akan dihelat bukan ini kami ingin menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan toleransi dan moderasi beragama. Banyuwangi sebagai daerah yang dihuni oleh berbagai etnis dan agama, membutuhkan ruang dialog yang terbuka dan konstruktif, dan sastra adalah salah satu jalannya,” ujar Uswatun Hasanah.


Perwakilan Kelompok Masyarakat Berkah, Bajuri, turut menyampaikan antusiasmenya terhadap kolaborasi ini. Menurutnya, moderasi beragama bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga komunitas-komunitas masyarakat yang peduli terhadap keberagaman.


“Kami percaya bahwa kolaborasi ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat Banyuwangi, khususnya dalam membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kerukunan. Buku Hebat Bersama Umat menjadi medium yang tepat untuk memperkenalkan nilai-nilai tersebut,” kata Bajuri.


Banyuwangi, yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dikenal sebagai miniatur Indonesia karena keragaman etnis, budaya, dan agamanya. Kabupaten ini menjadi rumah bagi komunitas Osing sebagai penduduk asli, serta suku Jawa, Madura, Bali, Arab, Mandar dan Tionghoa yang hidup berdampingan. Keberagaman ini tercermin dalam beragam seni dan budaya yang tumbuh subur, mulai dari tari Gandrung, ritual Seblang, hingga seni barong yang merupakan warisan budaya yang kaya.


Namun, keberagaman tersebut juga menghadirkan tantangan tersendiri dalam menjaga harmoni sosial. Oleh karena itu, Lentera Sastra dan Kelompok Masyarakat Berkah melihat perlunya upaya yang terus-menerus untuk membangun dialog lintas budaya dan agama.


Antologi puisi "Hebat Bersama Umat" yang akan dibedah dalam acara tersebut, merupakan karya kolektif dari para penyair lokal Banyuwangi. Buku ini menampilkan puisi-puisi yang merefleksikan kehidupan sehari-hari masyarakat dalam menghadapi tantangan keberagaman.


Beberapa puisi dalam antologi ini, adalah karya penyair yang pernah meraih predikat Sastratama, puisi dalam antologi ini menggambarkan bagaimana masyarakat Banyuwangi mampu hidup rukun meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda.


Acara bedah buku ini diharapkan menjadi katalisator untuk memperkuat literasi di Banyuwangi, sekaligus memperkuat nilai-nilai kerukunan yang sudah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakatnya. Dalam sesi diskusi yang direncanakan, peserta akan diajak untuk berdialog dan berbagi pengalaman tentang bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan, bukan sumber konflik.


Selain itu, Lentera Sastra dan Kelompok Masyarakat Berkah juga berencana untuk mendistribusikan buku Hebat Bersama Umat ke sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas literasi di Banyuwangi.


“Kami ingin buku ini tidak hanya dibaca, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga dan memperkuat kerukunan di tengah keberagaman,” ujar Bajuri.


Pertemuan antara Lentera Sastra dan Kelompok Masyarakat Berkah di Mila Cafe bukan hanya sekadar acara formal, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi lintas komunitas yang peduli terhadap masa depan Banyuwangi. Melalui bedah buku "Hebat Bersama Umat", kedua komunitas ini berupaya menguatkan harmoni sosial dan membangun Banyuwangi sebagai daerah yang tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga kaya akan nilai-nilai kemanusiaan.


Dengan langkah ini, diharapkan Banyuwangi dapat terus menjadi contoh daerah yang mampu menjaga harmoni dalam keberagaman, dan sastra menjadi jembatan yang mempererat ikatan sosial di tengah masyarakat yang heterogen.


Akustik Puisi dan Lagu Meriahkan Pameran Lukisan Harjaba ke-253 Bertema Banyu Kening

Banyuwangi, (Warta Blambangan)  Malam kelima pameran seni rupa dalam rangka Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-253 yang bertema Banyu Kening berlangsung meriah di Gedung Juang 45 Banyuwangi, Rabu (4/12/24). Acara ini dimeriahkan oleh penampilan akustik puisi dan lagu yang memukau para pengunjung.


Salah satu momen yang paling dinanti adalah penampilan Elvin Hendratha, mantan vice president Bank Mandiri yang sekarang aktif dalam aktivitas seni dan pengurus DKB. Di tengah kesibukannya, Elvin turut berkontribusi menyemarakkan acara dengan menyanyikan beberapa lagu khas Banyuwangi. Suara merdu dan alunan musik akustik dari Ribut Kalembuan dan Wowok Meirianto menghidupkan suasana malam itu. Lagu-lagu seperti Kelangan yang dibawakan dengan penuh penghayatan berhasil memikat hati para hadirin.



"Acara ini tidak hanya menunjukkan kreativitas seniman Banyuwangi, tetapi juga mempererat ikatan budaya lokal yang harus kita jaga bersama," ujar Elvin Hendratha saat ditemui setelah penampilannya.


Tidak hanya hiburan musik, malam tersebut juga menjadi panggung bagi Lentera Sastra Banyuwangi. Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, dengan penuh semangat, membacakan beberapa puisi bertemakan Banyu Kening. Puisi-puisi tersebut menggambarkan filosofi air sebagai sumber kehidupan yang selaras dengan tema pameran.


Salah satu puisi yang dibacakan berjudul Banyu Kening, yang menggambarkan perjalanan air dari hulu hingga hilir sebagai simbol kebersamaan dan harmoni alam Banyuwangi. Puisi tersebut mendapat sambutan meriah dari para penonton yang hadir.


“Kami ingin menyampaikan pesan bahwa seni, baik dalam bentuk lukisan, puisi, maupun musik, adalah medium yang efektif untuk memperkuat identitas dan kearifan lokal Banyuwangi. Banyu Kening tidak hanya tentang air secara harfiah, tetapi juga tentang keseimbangan dan kehidupan,” ujar Ketua Lentera Sastra Banyuwangi di sela-sela acara.


Sebagai bentuk dukungan terhadap kesenian lokal, Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kesenian Belambangan turut hadir memberikan apresiasi. Muttafaqurrohmah, salah satu perwakilan komite Bahasa dan Sastra, menyampaikan penghargaan kepada para pengisi acara yang telah berkontribusi dalam menyukseskan pameran seni rupa ini.


“Seni rupa, musik, dan sastra adalah bagian tak terpisahkan dari kebudayaan kita. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat melihat betapa kayanya budaya Banyuwangi yang harus kita jaga dan kembangkan bersama,” ujar Muttafaqurrohmah. 

Ia juga berharap kolaborasi antara seniman, penyair, dan musisi lokal dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan di masa mendatang.


Muttafaqurrohmah, bersama beberapa pengurus DKB lainnya seperti Slamet Hariyanto (Momo) juga Sugiono menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan budaya lokal. Menurutnya, keterlibatan kaum muda dalam acara seperti ini menjadi indikator positif bahwa seni dan budaya Banyuwangi masih relevan dan diminati.


Pameran seni rupa yang berlangsung sejak 30 November hingga 7 Desember 2024 ini menampilkan karya-karya dari berbagai seniman lokal Banyuwangi: serta beberapa kegiatan seminar hingga bershalawat. 

Mengusung tema Banyu Kening, pameran ini menyuguhkan beragam interpretasi visual tentang air sebagai elemen penting dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi.


Lukisan-lukisan yang dipamerkan menggambarkan kekayaan alam Banyuwangi, seperti budaya,  keindahan alam, dan mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Beberapa karya juga mengeksplorasi filosofi air sebagai simbol ketenangan, keseimbangan, dan kekuatan alam.


Pengunjung yang hadir malam itu tidak hanya berasal dari kalangan seniman dan budayawan, tetapi juga masyarakat umum yang antusias menikmati pameran seni rupa sekaligus pertunjukan musik dan puisi. Salah satu pengunjung, Siti Rahmawati, mengaku terkesan dengan konsep acara yang memadukan berbagai jenis seni dalam satu panggung.


“Saya sangat menikmati pameran ini. Selain bisa melihat karya seni yang indah, saya juga terhibur dengan penampilan musik dan puisi yang penuh makna. Acara seperti ini sangat menginspirasi dan membuat saya semakin mencintai budaya Banyuwangi,” ujar Siti


Pameran lukisan Harjaba ke-253 ini menjadi bukti bahwa seni dan budaya lokal Banyuwangi memiliki daya tarik yang kuat dan mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat. Penyelenggara berharap acara ini dapat menjadi agenda tahunan yang terus berkembang dan menjadi wadah bagi para seniman untuk mengekspresikan karya-karyanya.


“Kami berharap pameran ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya dan melestarikan budaya Banyuwangi. Kolaborasi antara seni rupa, musik, dan sastra ini menjadi langkah awal untuk menciptakan ekosistem seni yang lebih dinamis di Banyuwangi,” ujar salah satu Panitia Pameran, Kang Momo.


Pameran Banyu Kening masih akan berlangsung hingga 7 Desember 2024 di Gedung Juang 45 Banyuwangi, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati karya seni yang mengangkat nilai-nilai lokal, dan beberapa kegiatan edukasi lainnya.


Duet Ribut Kalembuan dan Wowok Meirianto menutup acara yang mengundang detak kagum pengunjung, Wowok Meirianto dengan menggunakan Painles Guitara yang merupakan owner Kemarang sangat intens dalam seni dan budaya lokal.

Donor Darah HAB Kementerian Agama ke 79

Banyuwangi,  (Warta Blambangan) Dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama yang ke-79, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar aksi donor darah di aula bawah kantor tersebut. Kegiatan ini berlangsung sejak pagi dan diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai kalangan.  


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M.  menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk nyata dari komitmen Kemenag dalam memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

"Donor darah ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga wujud kepedulian kita untuk membantu sesama yang membutuhkan darah," ujarnya

Kegiatan donor darah kali ini melibatkan tidak hanya karyawan Kementerian Agama, tetapi juga guru-guru madrasah, staf bank yang beroperasi di lingkungan Kementerian Agama, dan masyarakat umum. Hal ini menunjukkan semangat kebersamaan dan solidaritas yang tinggi antar berbagai elemen masyarakat.  

Syafaat, salah satu ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, mengaku senang bisa ambil bagian dalam acara ini. “Saya rutin mendonorkan darah setiap tahun. Selain menyehatkan, kegiatan ini juga memberi kepuasan batin karena kita tahu bahwa darah kita mungkin bisa menyelamatkan nyawa orang lain,” ujarnya.  

Selain itu, pihak bank yang beroperasi di lingkungan Kemenag juga tak ketinggalan ikut berpartisipasi. “Kami merasa senang bisa turut ambil bagian dalam acara ini. Ini adalah bentuk kolaborasi yang baik antara lembaga pemerintah dan sektor swasta untuk tujuan kemanusiaan,” kata salah satu staf bank, Mega Pratama Putri.  


Agus S., salah satu staf Palang Merah Indonesia (PMI) yang bertugas dalam kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa antusiasme peserta di lingkungan Kementerian Agama Banyuwangi sangat tinggi. “Di sini, para pendonor selalu aktif dalam kegiatan seperti ini. Ini menunjukkan kesadaran yang luar biasa akan pentingnya donor darah,” katanya.  

Menurut Agus, setidaknya ada lebih dari 79 kantong darah yang berhasil dikumpulkan dalam acara tersebut. Jumlah ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan darah di rumah sakit, khususnya di wilayah Banyuwangi. “Setiap tetes darah sangat berarti, terutama bagi pasien yang membutuhkan transfusi secara mendesak,” tambahnya.  


Kegiatan donor darah ini berlangsung tertib dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Sebelum mendonorkan darah, peserta diwajibkan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, seperti pengukuran tekanan darah dan tes hemoglobin. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pendonor berada dalam kondisi sehat dan layak untuk mendonorkan darah.   Selain itu, PMI juga menyediakan fasilitas lengkap untuk memastikan kenyamanan para pendonor, termasuk tempat istirahat dan konsumsi ringan setelah proses donor darah selesai. “Kami ingin para pendonor merasa nyaman dan aman selama proses ini,” ujar Agus.  

Donor darah adalah salah satu bentuk nyata dari kontribusi sosial yang memberikan dampak besar. Menurut data PMI, setiap kantong darah dapat menyelamatkan hingga tiga nyawa. Dalam kondisi darurat seperti kecelakaan, operasi besar, atau pasien anemia berat, darah yang didonorkan sangatlah berharga.  

Kepala Kemenag Banyuwangi, juga mengajak semua pihak untuk menjadikan donor darah sebagai kegiatan rutin. “Selain membantu sesama, donor darah juga memiliki manfaat kesehatan, seperti meningkatkan regenerasi sel darah dan menjaga kesehatan jantung,” jelasnya.  


Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-79 tahun ini mengusung tema Umat Rukun Menuju Indonesia Emas. Selain donor darah, rangkaian kegiatan lain juga telah disiapkan untuk menyemarakkan peringatan ini, seperti lomba-lomba keagamaan, seminar, dan bakti sosial.  


Chaironi Hidayat menekankan bahwa semangat Hari Amal Bakti harus tercermin dalam berbagai aksi nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat. “Kegiatan seperti donor darah ini adalah salah satu wujud konkret dari misi Kementerian Agama, yaitu melayani umat dan membangun kebersamaan,” tuturnya.  


Kegiatan donor darah di Kemenag Banyuwangi ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi instansi lainnya untuk mengadakan kegiatan serupa. “Kita berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi juga terus dilanjutkan dan diperluas cakupannya. Semakin banyak darah yang terkumpul, semakin banyak nyawa yang bisa diselamatkan,” Norma Eka A petugas PMI lainnya..  

Dengan suksesnya pelaksanaan kegiatan ini, Kementerian Agama Banyuwangi membuktikan bahwa peringatan Hari Amal Bakti tidak hanya menjadi seremonial belaka, tetapi juga memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Semoga semangat berbagi dan peduli ini terus tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Lomba Baca Kitab dalam Kegiatan HAB ke 79

Banyuwangi (Warta Blambangan) Dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-79, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan lomba baca kitab kuning bagi penghulu dan penyuluh agama Islam. Kegiatan ini digelar di Masjid Ar-Royan, Banyuwangi, Selasa (03/12/2024) dengan menghadirkan peserta dari setiap Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan di kabupaten tersebut.  



Setiap KUA mengirimkan satu perwakilan, baik dari kalangan penghulu maupun penyuluh agama Islam. Peserta berlomba untuk membaca dan memahami kitab *Khifayatul Akhyar*, sebuah karya monumental dalam bidang fikih yang kerap menjadi rujukan utama di lingkungan pesantren.  

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., yang turut hadir dan bertindak sebagai salah satu dewan juri, membuka acara dengan memberikan sambutan inspiratif. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya kemampuan membaca dan memahami kitab kuning bagi insan Kementerian Agama, khususnya penghulu dan penyuluh agama Islam.  


“Membaca kitab kuning adalah sebuah keniscayaan bagi kita, khususnya bagi penghulu dan penyuluh agama Islam. Kompetensi ini tidak hanya memperkuat kapasitas individu, tetapi juga meningkatkan pelayanan kita kepada umat,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa penguasaan kitab kuning menjadi salah satu landasan kuat dalam memahami hukum Islam secara mendalam dan kontekstual.  


Chaironi Hidayat berharap, melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga menjadikan kitab “Khifayatul Akhyar” sebagai salah satu referensi utama dalam mendalami hukum fikih. “Mari jadikan momen ini sebagai upaya bersama untuk meningkatkan literasi keislaman dan memperkokoh wawasan keagamaan kita,” tambahnya.  

Untuk menjamin objektivitas penilaian, panitia menunjuk tiga dewan juri yang memiliki kapabilitas tinggi dalam bidang keilmuan Islam. Mereka adalah:  

1. Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, yang juga memiliki latar belakang pendidikan Islam yang kuat.  

2. Ahmad Syakur Isnaini, S.H.I.  Kepala KUA Kecamatan Sempu, yang dikenal sebagai ahli fikih dan pembina dalam berbagai kegiatan keagamaan di wilayahnya.  

3. Achmad Siddiq, Penyuluh Agama Islam di KUA Kecamatan Kalipuro, Pimpinan Pondok Pesantern yang berpengalaman dalam membimbing masyarakat terkait kajian kitab kuning.  


Ketiga juri ini bertugas mengevaluasi kemampuan peserta dalam membaca, memahami, dan menjelaskan isi dari kitab “Khifayatul Akhyar”. Penilaian mencakup aspek makhraj dan tajwid dalam membaca, kefasihan dalam menjelaskan, serta kedalaman pemahaman terhadap isi kitab.  

Lomba ini diikuti oleh 24 peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Setiap peserta diberikan waktu tertentu untuk membaca salah satu bagian dari kitab “Khifayatul Akhyar” yang telah ditentukan secara acak. Setelah pembacaan, peserta diminta untuk menjelaskan isi teks tersebut, termasuk makna dan implementasinya dalam konteks kehidupan masyarakat.  


Para peserta menunjukkan kemampuan yang beragam, mulai dari penguasaan bahasa Arab, pemahaman konteks fikih, hingga cara mereka menjelaskan kepada dewan juri dan audiens. Suasana masjid Ar-Royan menjadi saksi bagaimana setiap peserta berusaha memberikan yang terbaik, meskipun beberapa tampak gugup di hadapan juri.  


Muhammad Rofik Burhanudin, salah satu penghulu dari KUA Kecamatan Tegalsari, mengaku bahwa kompetisi ini menjadi tantangan tersendiri baginya. “Meskipun kita sering membaca kitab kuning, tetapi membacakannya di hadapan juri dan peserta lain memberikan tekanan tersendiri. Namun, ini juga menjadi pengalaman berharga untuk terus belajar dan memperbaiki diri,” ujarnya.  

Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-79 tahun ini mengusung tema “Umat Rukun Menuju Indonesia Emas”. Semangat ini tercermin dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh Kemenag Banyuwangi, termasuk lomba baca kitab ini.  


“Lomba ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya kami untuk membangun sinergi antara KUA dan masyarakat dalam menghidupkan tradisi keilmuan Islam,” kata Ahmad Syakur Isnaini, salah satu dewan juri.  


Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar KUA se-Kabupaten Banyuwangi. Para peserta dan pendukung dari setiap kecamatan saling berbagi pengalaman, memperluas jejaring, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.  

Pada akhir acara, Dr. Chaironi Hidayat memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan panitia yang telah menyukseskan kegiatan ini. “Saya sangat bangga dengan antusiasme dan dedikasi para peserta. Semoga kegiatan seperti ini terus menjadi tradisi di Kementerian Agama Banyuwangi,” ujarnya.  

Beliau juga menyampaikan harapan agar seluruh insan Kementerian Agama, khususnya penghulu dan penyuluh agama Islam, terus meningkatkan kompetensi mereka dalam membaca dan memahami kitab kuning. “Kitab kuning adalah warisan intelektual Islam yang sangat berharga. Melalui penguasaan kitab kuning, kita dapat memberikan solusi yang tepat atas berbagai persoalan keagamaan yang dihadapi masyarakat,” tegasnya.  

Dengan keberhasilan pelaksanaan lomba baca kitab ini, Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi membuktikan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi keagamaan bagi penghulu dan penyuluh Islam. Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal untuk melahirkan insan-insan yang lebih berkualitas, baik dalam keilmuan maupun pelayanan kepada umat.

Pameran Seni Rupa Hari Jadi Banyuwangi ke-253 "Banyu Kening" dan Parade Puisi

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Pameran seni rupa dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyuwangi yang ke-253 dengan tema “Banyu Kening” dibuka pada 30 November 2024 di Gedung Juang Banyuwangi. Pameran ini diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Belambangan dan berlangsung hingga 7 Desember 2024, menampilkan berbagai karya seni rupa lukisan yang mengangkat kearifan lokal dan kekayaan budaya Banyuwangi. Salah satu acara yang menarik perhatian adalah parade puisi yang digelar pada 1 Desember 2024, yang melibatkan berbagai komunitas dan penyair dari berbagai latar belakang.



Pada parade puisi ini, komunitas Lentera Sastra Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi turut serta dengan membacakan sejumlah puisi yang menggugah. Selain puisi berbahasa Indonesia, terdapat pula puisi-puisi yang dibacakan dalam bahasa Osing, bahasa khas masyarakat Banyuwangi. Pembacaan puisi dalam bahasa Osing ini memberikan sentuhan lokal yang khas, serta memperkaya nuansa budaya dalam acara tersebut.


Siswa dari MI Darunnajah II Tukangkayu menjadi salah satu yang tampil dengan puisi berbahasa Osing. Keberanian mereka untuk melestarikan bahasa daerah melalui seni puisi mendapat sambutan hangat dari penonton. Selain itu, beberapa kepala madrasah juga turut membacakan puisi dalam bahasa Osing, di antaranya Kepala MTsN 2 Banyuwangi, Uswatun Hasanah, dan Kepala MTsN 12 Banyuwangi, Herny Nilawati. Para penyair ini mengangkat berbagai tema yang mendalam, mulai dari kehidupan sehari-hari hingga refleksi terhadap budaya Banyuwangi dari alumni Jamboree Sastra Asia Tenggara (JSAT).


Dalam kesempatan ini, salah satu karya puisi yang dibacakan adalah puisi berjudul “Banyu Kening” yang merupakan karya Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, dibacakan Nikmatur Rosyidah, Guru SDN Rogojampi. Puisi ini menggambarkan kehidupan masyarakat Banyuwangi yang penuh makna dan kedalaman, serta menggugah para pendengarnya untuk lebih menghargai nilai-nilai kehidupan, lingkungan sekitar dan kondisi sosial yang di tuangkan dalam lukisan 


Tidak hanya siswa dan para guru, penampilan Mahasiswa Universitas 17 Agustus (Untag) Banyuwangi juga memeriahkan parade puisi ini. Mereka membacakan puisi yang dikemas dengan cara yang kreatif, termasuk penampilan yang menggabungkan puisi dengan pantomim, yang semakin menyentuh hati para penonton. Salah satu kelompok pembaca puisi yang juga menarik perhatian adalah Sinar Lintang dari Banyuwangi, yang menghadirkan pertunjukan puisi dengan iringan pantomim, memberikan dimensi baru dalam apresiasi terhadap seni puisi.


Selain itu, Lulu Anwariah, guru MTsN 4 Banyuwangi, turut membacakan puisi karya  Syafaat berjudul “Banyu Kening Satu Desember” yang khusus dibuat untuk memperingati Hari AIDS Sedunia. Puisi ini membawa pesan penting tentang kesadaran terhadap penyakit HIV/AIDS dan pentingnya solidaritas untuk melawan stigma terhadap penderita penyakit tersebut. Bahwa orang yang berpenyakit tidak harus dikucilkan, bisa jadi mereka adalah orang baik-baik yang tidak pernah melakukan maksiat tetapi tertular. Karya ini mendapat sambutan hangat dan menjadi salah satu titik kulminasi acara.


Sugiono, sebagai panitia penyelenggara dari Dewan Kesenian Belambangan, mengucapkan terima kasih atas partisipasi semua penyair yang terlibat. Menurutnya, acara parade puisi ini bukan hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ajang untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya Banyuwangi, khususnya bahasa Osing yang kaya akan nilai sejarah. Sugiono juga menyampaikan bahwa acara ini menunjukkan betapa pentingnya keberagaman dalam berkarya, terutama dalam bidang sastra.


Di tengah acara, Aekanu Haryono, seorang pemerhati budaya Banyuwangi, turut memberikan apresiasi terhadap kualitas dan keberagaman tampilan para penyair. Ia menilai bahwa acara ini tidak hanya memperkaya khasanah sastra, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara generasi muda dan budaya daerah. Menurut Aekanu, keberagaman bahasa yang digunakan dalam puisi kali ini sangat penting dalam menjaga kelestarian bahasa daerah yang semakin tergerus oleh globalisasi.


Syafaat, membacakan beberapa puisi karyanya, termasuk puisi berjudul “Memandang Wajahmu dalam Lukisan”. Puisi ini menceritakan tentang makna mendalam yang dapat ditemukan dalam setiap goresan seni rupa, serta hubungan antara karya seni dan emosi manusia dengan Tuhan.

Pembacaan puisi ini memberikan sentuhan yang berbeda dan menambah nilai estetika dalam acara parade puisi.


Kegiatan parade puisi ini menjadi salah satu highlights dalam rangkaian acara Pameran Seni Rupa Hari Jadi Banyuwangi ke-253. Kehadiran masyarakat yang memadati Gedung Juang Banyuwangi menunjukkan antusiasme yang besar terhadap seni dan budaya lokal. Dengan adanya acara seperti ini, diharapkan seni sastra, khususnya puisi dalam bahasa Osing, dapat terus berkembang dan diterima dengan baik oleh generasi muda Banyuwangi.


Pameran seni rupa dan parade puisi ini tidak hanya menjadi media untuk mengenalkan karya seni, tetapi juga sebagai sarana untuk mempererat rasa cinta terhadap budaya lokal dan meningkatkan apresiasi terhadap kekayaan budaya Banyuwangi. (Team)


Pameran Lukisan “Banyu Kening” di Gedung Juang Resmi Dibuka

Banyuwangi (Warta Blambangan) Pameran lukisan bertajuk “Banyu Kening” resmi dibuka pada Sabtu, 30 November 2024, di Gedung Juang Banyuwangi. Acara ini dibuka oleh Bupati Banyuwangi yang diwakili oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Kabupaten Banyuwangi  Dwi Yanto. Pameran ini menghadirkan puluhan karya seniman lokal yang memadukan keindahan alam Banyuwangi dengan sentuhan estetika yang unik dan penuh makna.


Dalam sambutannya, Asisten sekda  mengungkapkan apresiasinya terhadap kreativitas para seniman yang terlibat. Menurutnya, pameran ini bukan hanya menjadi ajang untuk menampilkan karya seni, tetapi juga sebagai ruang bagi para pelukis lokal untuk mengekspresikan kecintaan mereka terhadap budaya dan alam Banyuwangi.



“Kami berharap pameran ini dapat menjadi wadah yang mempertemukan para seniman dengan masyarakat luas, sehingga seni lukis di Banyuwangi terus berkembang dan mendapatkan tempat yang layak di hati masyarakat,” ujarnya.

Ruangan Gedung Juang yang bersejarah itu dipenuhi dengan berbagai karya lukisan dari pelukis-pelukis Banyuwangi. Setiap sudut ruang pamer memancarkan kekayaan kreativitas yang tak terbatas, mulai dari lukisan dengan tema alam, kehidupan masyarakat, hingga interpretasi artistik tentang budaya Banyuwangi.


Pameran yang digelar oleh Dewan Kesenian Belambangan ini akan berlangsung selama tujuh hari ke depan. Selain menampilkan karya para seniman profesional, pameran ini juga memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk unjuk bakat.

Salah satu momen yang menarik perhatian dalam pameran ini adalah keikutsertaan karya dari dua siswa kelas VII SMP Negeri di Banyuwangi. Lukisan mereka mendapat apresiasi khusus dari para pengunjung, termasuk seniman senior yang hadir dalam acara tersebut.


Afida Rizky Putri Arofi, salah satu siswa kelas VII, merasa bangga karena salah satu karyanya terpilih untuk dipamerkan. Afida yang baru pertama kali mengikuti pameran seni merasa terharu atas apresiasi yang diterima karyanya dari pengunjung dan juga pejabat yang hadir.


“Ini pengalaman pertama saya mengikuti pameran. Saya sangat senang dan tidak menyangka lukisan saya bisa mendapat apresiasi dari banyak orang. Ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar dan berkarya,” ujar Afida dengan wajah berseri-seri.



Afida menuturkan bahwa lukisan yang ia buat terinspirasi dari keindahan budaya Indonesia, Ia berharap, melalui karyanya, para pengunjung dapat merasakan keindahan dan ketenangan yang ia tuangkan dalam lukisan tersebut.

Mewakili Ketua Dewan Kesenian Belambangan (DKB) Slamet Hariyanto atau biasa dipanggil Kang Momo menyampaikan bahwa pameran ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni rupa di Banyuwangi.


“Kami ingin seni rupa tidak hanya dinikmati oleh kalangan tertentu, tetapi bisa diakses oleh semua kalangan, termasuk pelajar. Dengan begitu, kita bisa melahirkan generasi muda yang tidak hanya mencintai seni, tetapi juga mampu berkontribusi dalam perkembangan seni di Banyuwangi,” kata Momo.


Pameran “Banyu Kening” ini diharapkan dapat menarik lebih banyak pengunjung selama tujuh hari ke depan dan menjadi momentum bagi para seniman lokal untuk semakin dikenal di kancah nasional maupun internasional.



Bagi masyarakat Banyuwangi, pameran ini menjadi kesempatan untuk menyaksikan langsung karya-karya seni yang menggambarkan kekayaan budaya dan alam daerah mereka, serta mendukung perkembangan seni rupa lokal.


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger