Pages

Jamaah Haji Kabupaten Banyuwangi dihimbau Sholat Jumat di Hotel


Makkah (Warta Blambangan) Jamaah Haji Kabupaten Banyuwangi yang tergabung dalam kloter SUB-58, SUB-59, SUB-60 dan SUB-57 di Bilal Hotel Misfalah dihimbau untuk melaksanakan Sholat Jumat di Mushola Hotel atau Masjid Sekitar, hal ini mengingat semakin padatnya Masjidil Haram mendekati puncak haji, pemerintah Arab Saudi, Jumat (07/06/2024) mengeluarkan edaran bahwa Bus Shalawat berhenti beroperasi pada pukul 07:00 WAS.

Ketua kloter SUB-58 Syafaat menyampaikan bahwa pihaknya telah menyampaikan himbauan kepada jamaah haji yang berada di Bilal Hotel agar melaksanakan Sholat Jumat di Hotel untuk Jamaah laki-laki dan bagi jamaah perempuan melaksanakan Sholat Dzuhur setelah pelaksanaan sholat Jumat atau Sholat Dzuhur di Kamar masing-masing.

"hari ini semua jamaah haji yang ditempatkan di Bilal Hotel sudah datang semua, kemarin Kloter SUB-91 asal Tulungagung 150 jamaah juga sudah datang" kata Syafaat.

Jamaah juga tidak disarankan jalan kaki menuju Haram yang jaraknya 2 km dengan mengingat semakin dekatnya puncak haji.

"Jumat lalu tidak sedikit yang jalan kaki ke haram" kata Syafaat.

Untuk pelaksanaan Sholat Jumat di Mushola Hotel, bertindak sebagai Khotib dan Imam dari Binbad (Pembimbing Ibadah) SUB-58 Drs. H. Muklis di M.Ag.

Doa dan Air Zamzam

 Doa dan Air Zamzam 


Terdengar pintu di gedor dari dalam, kita cari asal sumber suara, dari kamar mana dan siapa yang melakukannya. Beberapa saat sepi, saya ingin kembali ke kamar ketika terdengar kembali pintu di gedor, hingga kita temukan suara dari sebuah kamar yang terkunci dari dalam. 


Saya meminta bantuan office boy berkebangsaan Bangladesh untuk membukakan pintu dengan kunci cadangan, karena hanya mereka yang mempunyai kunci cadangan.

Saya terkejut ketika melihat seorang perempuan tergeletak di depan pintu, dia memanggil suaminya yang sedang keluar. Nampaknya dia baru saja terjatuh dari tempat tidur dan tidak bisa bangun.

Jamaah ini usianya baru 54 tahun, sebulan yang lalu kena stroke, dan sekarang tidak bisa apa-apa, untuk dudukpun harus dibantu suaminya, dia Jamaah istimewa kami yang setiap hari kita visitasi, dia satu-satunya jamaah haji yang saya gendong ketika keluar dari pesawat.

Saat itu entah kenapa suaminya turun duluan, mungkin mencari kursi roda untuk isterinya yang ternyata tidak boleh naik lagi ke pesawat.

Saya bersama dokter Wida dan dua orang paramedis bertandang ke kamarnya, kebetulan isi kamar hanya dua tempat tidur sehingga dapat ditempati pasangan suami istri ini. Dalam riwayat kesehatan juga baik-baik saja karena cek kesehatan tersebut dilakukan sebelum pelunasan, sebelum stroke menimpa sang ibu.

Saya melihat perkembangan baik terhadap kesehatan ibu ini, meskipun belum sembuh benar, beberapa anggota tubuhnya mulai dapat di gerakkan.

Suaminya begitu telaten merawat sang istri, menyuapi ketika makan, dan membopong ke kamar mandi.

Saya menyarankan agar selalu minum zam-zam selama di Makkah, karena saya yakin dengan minum zam-zam teratur dengan disertai doa akan memberikan kesembuhan dari setiap penyakit.

Kami ngobrol ringan,bsk Deny juga sambil mijitin punggung Bu Sunaeda, jamaah perempuan tersebut, kita sedang bincang-bincang bagaimana nantinya ketika di Arofah, dengan mengingat di Arofah fasilitas terbatas, toilet juga sangat terbatas yang dipergunakan banyak orang, itupun dibedakan untuk laki-laki dan perempuan.

Saya yakin selalu ada jalan terbaik yang diberikan Tuhan, kita hanya menjalani ketentuannya, memberikan yang terbaik bagi tamu-tamu istimewa yang memenuhi panggilannya, dan kita yakin akan diberi kemudahan menjalaninya.


Makkah, 04/06/2024


Ke Haram Tengah Malam

 Ke Haram Tengah Malam 



Waktu di Handphone menunjukkan pukul 22:07, sudah cukup malam untuk ukuran di Indonesia. Mata belum sempat terpejam, masih ngobrol sambil ngopi dengan jamaah, kebetulan jamaah asal Glenmore ini membawa kopi lanang, serbuk kopi untuk menambah stamina dan vitalitas. Para jamaah ngerti juga jika petugas kloter butuh tambahan stamina, apalagi diseduhkan dan kita tinggal menikmati kopi robusta.

WhatsApp berdering, ada nomor tak dikenal mengirimkan data jamaah haji yang sedang di rawat di rumah sakit di tower zam-zam, katanya tadi terlihat lemas dan hampir pingsan karena kelelahan, untungnya ketemu petugas dan dibawa ke rumah sakit terdekat, lalu berkirim kabar melalui saluran telepon seluler yang tertera.

Jadi penasaran juga, siapa yang menolong jamaah ini, kalau dari pakaiannya, sama dengan yang kita pakai, ternyata PHD (Petugas Haji Daerah) asal Sulawesi Selatan yang mendapati jamaah kondisi lemas tersebut dan membawanya ke Al Haram Hospital and Emergency Centres

Dunia semakin canggih saja, ketika scan barcode yang ada pada kartu identitas haji yang dikalungkan di leher jamaah, langsung tertera nama Ketua Kloter dan nomor teleponnya, berikut hotel tempat menginap plus nomor kamarnya.

Malam ini saya harus ke Haram lagi, menjenguk jamaah yang sedang di rawat. Dokter Wida tak terlihat lelah, padahal belum lama mengikuti umrah jamaah, wajahnya meskipun sedikit lelah tetapi masih menyisakan aura yang tak bisa dituliskan dengan sempurna, kami berdua menuju haram, bus Shalawat berjalan perlahan. Nampaknya hampir semua jamaah telah memenuhi kota, bisa dibayangkan betapa padatnya Haram di malam hari.

Kamipun mencari lokasi rumah sakit tempat jamaah dirawat, jalannya kecil dibelakang WC 3 ada lorong menuju kebawah di lantai dasar. Jalan menuju rumah sakit tak ubahnya pertokoan, mata kami sempat terkecoh dan hampir saja kembali keatas, mengira kami salah jalan, untungnya pedagang faham dan menunjukkan jalan menuju rumah sakit yang berada di ujung pertokoan.

Begitulah yang terjadi, setiap ada keramaian, disitulah roda ekonomi dijalankan, pertokoan baju dan perhiasan bertebaran di sepanjang jalan, bisa jadi orang-orang terlambat karena terjerat tawar-menawar belanja. Atau bisa jadi mereka tidak bisa keluar dari pertokoan yang menawarkan segala kemewahan dunia.

Kami menanyakan keberadaan jamaah yang dirawat di rumah sakit. Beruntung dokter kloter bisa berkomunikasi dengan mudah dengan para pekerja rumah sakit, sehingga kamipun dapat mengetahui jika jamaah yang sedang di rawat sudah tidak ada di tempat, sehingga kami hanya memastikan keberadaannya, karena luasnya Masjidil Haram mengakibatkan banyak orang salah menuju jalan pulang, karena bisa jadi ketika mereka masuk kedalam masjid, keluar dengan pintu yang berbeda.

Malam itu kami menikmati suasana malam di halaman Masjidil Haram, tepatnya di depan Tower Zamzam yang terlihat dekat dari hotel kami menginap, sambil menunggu informasi dimana jamaah haji yang dirawat tersebut berada.

Seragam khas yang kami kenakan menjadi tumpuan beberapa orang yang tersesat atau lupa jalan pulang, dengan ditemani seorang dokter PPIH Arab Saudi yang sedang bertugas, kami menikmati suasana lalu lalang orang dari banyak bangsa, dan terlihat ras asia bertebaran dimana-mana, mereka biasanya ke Haram malam hari, karena udara sejuk di Indonesia mengakibatkan mereka menghindari ke Haram di siang hari.

Ketaatan menjaga kesucian masjid dari sandal tetap mereka bawa, sehingga ada diantara mereka yang masuk masjid langsung copot sandal, naik eskalator menuju lantai yang sudah ditentukan, bisa dibayangkan ketika mereka terjepit eskalator tanpa sandal.


Selasa (04/06/2024)

Doa Orang-orang Tersesat

 Doa Orang-orang Tersesat


Jumat pertama di Kota Makkah, saya ingin mengikuti Sholat Jumat di Masjidil Haram, meskipun di Mushola Hotel juga dilaksanakan sholat Jumat dengan beberapa pertimbangan bahwa banyaknya jamaah lansia yang tidak dapat ke Haram.


Ada himbauan agar jamaah berangkat pagi, karena bus Shalawat berhenti beroperasi pukul 09:00 WAS, sehingga pagi itu jam setengah sembilan hotel sudah nampak lengang, beberapa masih bergegas ke Masjid dengan bus Shalawat terakhir.

Saya ke haram ketika bus Shalawat berhenti beroperasi, perjalanan 4 kilometer yang biasanya ditempuh menuju haram sudah tak nampak lagi, karena meskipun haram terlihat dekat yang ditandai dengan terlihat jelas jam besar diatas zamzam tower, namun bus memilih jalan memutar dan berhenti di terminal jiat. Sedangkan jika berjalan kaki dengan jalan lurus dari hotel hanyalah 2 kilometer saja.

Berangkat berjalan kaki menuju haram dengan seragam kebanggaan petugas haji bersama orang-orang berbagai negeri, sepertinya ada kekuatan berbeda hingga perjalanan menjadi tak terasa, karena panggilan nurani untuk bersama jamaah yang telah lama mendahului menjadi penyemangat untuk berjalan kaki ke Haram.

Pukul 10:00 WAS di hari Jumat terminal di Haram di tutup, masjid seperti hampir penuh, saya baru saja masuk halaman Haram, ketika memasuki masjid terbesar di dunia itu kita diarahkan ke lantai entah berapa melalui eskalator.

Usai sholat Jumat, orang-orang keluar dari masjid,  berhamburan seperti laron di musim hujan, entah keluar dari pintu mana mereka lupa, pokoknya keluar begitu saja, sehingga di pelataran masjid jamaah seperti aliran air tumpah dari baskom, mereka banyak yang berjalan Sarah arah lupa tujuan.

Saya berjalan yang sesekali harus berhenti melayani jamaah yang tidak tahu arah mana mereka pulang.

Saya berjalan diantara pertokoan, dengan pasti menuju arah pulang berjalan kaki sendirian. Nampak beberapa orang tua menghentikan langkahku, karena seragam kebanggaan petugas yang selalu dipakai ketika keluar memudahkan mereka yang sedang kebingungan.sekelompok orang tua ini nampak bahagia, mungkin bertemu dengan petugas bagi mereka merupakan haraybessr untuk segera pulang.

Saya mengajak mereka menepi dari sengatan matahari di tengah jalan, ngobrol bersama mereka dan mencoba menjawab pertanyaan yang mereka ajukan.

Mereka berangkat dan berhenti di terminal Syib Amir, sekitar 2 kilometer dari arah sekarang mereka berada, saya tidak menyampaikan bahwa mereka tersesat terlalu jauh, saya hanya menyampaikan harapan mereka dengan menunjukkan jalan pulang. Karena sejauh apapun kita melangkah, akan terasa menyenangkan dan indah ketika ada kepastian.

Saya begitu terharu karena menjadi jawaban bagi mereka yang tersesat dan menunjukkan jalan pulang, karena tidak ada orang yang tidak akan renta, dalam doaku ketika kita renta, tidak dikurangi nikmat pengingat, begitupun juga tubuh yang suatu saat juga akan rapuh, janganlah dikurangi kekuatan keimanan pada masa akhir kita menikmati kenikmatan iman  

Senam Kebugaran Jamaah Haji

 


Makkah (Warta Blambangan) Untuk menjaga kebugaran jamaah, petugas Kloter SUB-58, SUB-59 dan SUB-60 secara bersamaan melakukan senam haji di lorong hotel dengan dipandu TKHK, Senin (03/05/2024), usai menjalankan Sholat subuh berjamaah.

Dokter Kloter SUB-58 dr. Hj. Zuwwidatul Husna menyampaikan bahwa hal ini dilakukan agar jamaah semakin bugar dengan mengingat puncak haji masih sekitar dua pekan lagi.

Setiap lantai ada pemandu senam dari paramedis setiap Kloter, hal ini dilakukan satu pekan sekali di pagi hari.

Ketua kloter SUB-58 Syafaat menyampaikan bahwa untuk melayani kesehatan ada pos kesehatan yang buka 24 jam yang dapat digunakan semua jamaah yang ada di Bilal Hotel, begitupun dengan Ketua Kloter dan Pembimbing Ibadah Kloter yang piket di loby hotel.

"di loby hotel juga ada petugas kloter yang piket 24 jam agar bisa membantu kesulitan jamaah yang perlu dibantu" kata Syafaat.

Fasilitas yang diberikan pihak hotel juga dimanfaatkan jamaah, seperti pantry yang menyediakan secara gratis teh dan kopi.

Selain senam haji, juga disampaikan tentang pentingnya menjaga kesehatan agar pada puncak haji jamaah tetap sehat dan bugar.

Jamaah Periksa Kesehatan Usai Jalankan Sholat Jumat

 Makkah (Warta Blambangan) Pos Kesehatan Kloter Layani Kesehatan Jamaah Haji selama melaksanakan ibadah haji, layanan ini dilakukan di lorong hotel dengan mengingat tidak adanya ruangan khusus yang dapat digunakan, seperti yang terjadi Jumat (31/05/2024) setelah menjalankan Sholat Jumat banyak jamaah yang melaksanakan pemeriksaan kesehatan di pos yang sudah disiapkan.


Dokter Kloter SUB-58 dr.Hj. Zuwwidatul Husna menyampaikan bahwa banyaknya jamaah yang melakukan pemeriksaan hari ini setelah sholat Jumat di Masjidil Haram dan pulang tidak mengikuti anjuran Ketua Kloter yang menganjurkan jamaah keluar masjid satu jam setelah sholat Jumat usai.

"beberapa jamaah yang periksa karena kelelahan dalam perjalanan karena salah jalan pulang" kata dokter Wida.

Ketua kloter SUB-58 Syafaat menyampaikan bahwa sebenarnya jarak hotel ke Masjidil Haram hanya 2 km, karena tidak tahu jalan, ada jamaah yang berjalan hingga hampir sampai hotel, mereka malah kembali karena mencari terminal tempat mereka datang.

"Pada saat selesai sholat Jumat, semua pintu keluar dibuka, sehingga jamaah keluar dari pintu yang berbeda dengan ketika dia masuk" kata Syafaat.

Jamaah Haji Banyuwangi Bikin Rujak Lethok Khas Cungkingan


Mekkah (Warta Blambangan)-Suasana di hotel Bilal daerah Misfalah Makkah, jamaah haji asal Banyuwangi mendadak riuh dengan aroma khas yang mengundang selera, Rabu (29/5/2024). 

Rupanya beberapa jamaah haji tengah membuat rujak Lethok, kuliner tradisional khas daerah mereka, untuk mengobati rasa rindu kampung halaman. Acara dadakan itu sebagai bagian dari kegiatan kebersamaan selama menunaikan ibadah haji. 

Dengan peralatan dan bahan-bahan yang telah dibawa dari Indonesia, para jamaah dengan antusias meracik rujak lethok, yang terkenal dengan perpaduan bumbu kacang, dan petis.

"Kami ingin menghadirkan sedikit suasana rumah di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji ini," ujar Asrori, salah satu jamaah. 

Asrori, yang kesehariannya mengajar di MTsN 10 Banyuwangi mengatakan, bahwa rujak lethok ini memang makanan favorit di Banyuwangi. Dirinya bersama teman kamar sepakat untuk membuatnya bersama-sama di  sana.

Para jamaah saling berbagi tugas, ada yang mengiris buah-buahan, dan ada pula yang menumbuk bumbu dengan semangat. Gelak tawa dan canda menghiasi proses pembuatan rujak, membuat suasana semakin akrab dan hangat.

"Saya sangat senang bisa ikut membuat rujak lethok di sini. Rasanya seperti sedang berada di rumah sendiri," kata mereka.

Acara memasak rujak lethok ini juga menjadi ajang silaturahmi dan mempererat hubungan antar jamaah. Selesai membuat, mereka pun bersama-sama menikmati hasilnya dengan penuh syukur dan kegembiraan.

Kegiatan membuat Rujak lethok ini merupakan contoh betapa kuatnya semangat kebersamaan dan gotong royong jamaah haji asal Indonesia, khususnya dari Banyuwangi, dalam menjalani rangkaian ibadah haji yang penuh tantangan. (yas)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger