Pages

Sosialisasi Pra Armuzna

 Makkah (Warta Blambangan) Jamaah haji Kabupaten Banyuwangi yang tergabung dalam kloter SUB-57 dan SUB-58 , Rabu (29/05/2025) bertempat di Mushola Hotel Bilal wilayah Misfalah mendapat  edukasi pra Armuzna (Arofah, Muzdalifah, dan Mina) dari Konsultan Binbad (bimbingan ibadah) sektor 10. Dr. KH. Aris Ni'matullah.

Dalam kesempatan tersebut disampaikan tentang pentingnya menjaga kesehatan agar dapat melaksanakan ibadah haji dengan sempurna.


Tentang sholat di Masjidil Haram yang pahalanya berlipat sepuluh ribu kali, Aris Ni'matullah menyampaikan bahwa yang dimaksud bukanlah Masjidil Haram dalam artian bangunan Masjidil Haram saja, tetapi tanah haram, sehingga hotel yang ditempati jamaah haji Indonesia termasuk berada di tanah haram, sehingga Sholat di bangunan Masjidil Haram dan di Mushola Hotel adalah sama


Thawaf di Pesawat

 Thawaf di Pesawat



Saya mengintip melalui lubang jendela,, menengok ke bawah terlihat awan putih tipis berserakan, kurs sedikit bergoyang  suara pramugari mengingatkan penumpang memasang sabuk pengaman karena kondisi cuaca. Beberapa penumpang di belakang sedang asyik menikmati tidur siang, mereka mengenakan pakaian ihram untuk persiapan ambil miqod di Yalamlam, namun kita tidak turun di Yalamlam, masih tetap didalam pesawat diatas wilayah Yalamlam.
Saya mewanti wanti kru pesawat agar tidak lupa menyampaikan jika sudah sampai Yalamlam, dengan diawali senyum manis  pramugari menyampaikan jika nanti 30 menit sebelum sampai Yalamlam akan disampaikan melalui pengeras suara pesawat, begitupun ketika sampai diatas wilayah Yalamlam agar Ketua Kloter dapat memandu niat ihram.

Kru pesawat nampaknya telah dilengkapi dengan SOP layanan bagi jamaah haji gelombang dua, saya jadi lega mendengarnya, terlebih penampilan penampilan para pramugari cantik hidung mancung khas Timur Tengah ini sangat ramah, beberapa kali saya bertelur sapa ketika saya jalan-jalan visitasi ke jamaah yang berada di bagian belakang.
Jamaah risti (resiko tinggi) berada do bagian depan, ruang VVIP yang dekat dengan tempat duduk petugas kloter.
Beberapa jamaah nampak melakukan senam peregangan, sepuluh jam duduk di pesawat membuat tubuh  butuh digerakkan dan bukan hanya menikmati mata terpejam sambil tiduran.
Menikmati tidur di pesawat kadang jenuh juga, sesekali terbangun karena ada pengumuman dari kru pesawat. Suasana sedikit terganggu ketika ada perempuan tua berjalan mengitari kursi para petugas, kukira sedang mencari barangnya yang hilang  setelah ditanya dia mengaku sedang thawaf, saya mengingatkan thawafnya cukup satu putaran saja, akhirnya ibu tua itu kemudian duduk kembali.
Beberapa saat kemudian, perempuan tua itu sambil membawa tumpuhan selimut kembali mondar mandir mencari sesuatu, saya kembali menanyakan apa maunya, dan dia menjawab bahwa dia ingin mencuci pakaian.



Kualanamu

 Kualanamu 



Melihat umah-rumah dari ketinggian nampak seperti melihat layar kecil dalam google maps,  tak henti-henti memandang sudut jendela dari pesawat yang beranjak turun. Para penumpang memasang sabuk pengaman dalam suasana hening menunggu pesawat menyelesaikan penerbangan yang beberapa lama melewati hamparan awan diatas ketinggian. Pohon kepala dan beberapa bangunan semakin terlihat nyata, beberapa pesawat yang telah mendarat nampak diam saja, terlihat kecil, padahal bisa menampung ratusan manusia di dalamnya.

Aku ingin berteriak "selamat datang Kualanamu", namun apalah daya karena pesawat mendaratimu hanya satu jam saja, nampaknya hanya ingin minum Advur dan penumpang hanya berdiam dalam pesawat, tak boleh kemana-mana. 


Ternyata tidak semua jamaah haji menikmati perjalanan diatas ketinggian, adapula yang merasa ketakutan

 Saya tidak memahami mengapa seperti ini, penumpang di belakangku yang duduk di kursi VVIP meminta pindah di belakang, dekat ekor karena isterinya yang duduk di bangku paling belakang merasa merasa ketakutan.

Saya mengatakannya, dan benar saja karena perempuan yang masih muda itu telah sembab airmata.

Saya harus merubah posisi agar sama-sama nyaman, karena meskipun berada di depan, namun kalau sendirian juga akan menimbulkan ketakutan, karenanya saya memindahkan suami ke belakang agar dapat bersanding dengan belahan hatinya dan mengikhlaskan bangku depan untuk orang lain.

Akhirnya mereka merasa sama-sama nyaman dan mulai kutinggalkan ketika sang istri mulai bersandar pada bahu suami.

Satu jam terasa lama ketika kita hanya diam saja menunggu tak berbuat apa-apa, karenanya perlulah sedikit peregangan meskipun hanya duduk-duduk saja.

Tidak semua penumpang menyadari jika kita masih berada di Kualanamu, dan itu masih berada di negeri sendiri, karena kru pesawat sebagian besar berbicara dengan bahasa Arab dan Inggris, kadangkala dengan Bahasa Indonesia meskipun sedikit kaku.

Pesawat hanya terisi 369 penumpang karena ada dua penumpang yang pada menit terakhir sebelum berangkat ke Bandara Juanda harus menunfa niatnya, karena ada ibu tua yang harus dibawa ke rumah sakit haji, akibat kelelahan, dia bercerita bahwa ketika masih di rumah, tamu tak henti hentinya mengunjungi dia yang mau berangkat haji, karenanya kondisi badan drop ketika berada di Embarkasi.

Sang suami tidak mau berangkat sendirian meskipun saya berjanji bahwa sang istri segera menyusul ketika badannya sudah fit.


Asrama Penantian

Asrama Penantian 

Ada 106 Kelompok Terbang yang akan diberangkatkan melalui Asrama Haji Embarkasi Surabaya (AHES), dan tahun 2024 ini merupakan kloter terbanyak daripada sebelumnya, seperti pagi ini, dua kloter dari Kabupaten Banyuwangi bersama- sama memasuki asrama, meskipun diterima di hall yang berbeda, tetap saja terasa istimewa karena dua jalur bus terpakai semua.


Nampak wajah ceria dan lelah tergambar jelas dari jamaah yang menempuh perjalanan berjam-jam dari ujung timur Pulau Jawa, perjalanan panjang yang mereka tempuh menuju Makah akan berhenti sementara disini, mereka akan melakukan pemeriksaan kesehatan dan beberapa administrasi yang diterima.

Para jamaah menerima paspor, gelang dan living cost berupa real, beberapa jamaah juga harus membongkar koper karena kedapatan alat pemanas, rise cooker dan rokok yang melebihi ketentuan, barang barang tersebut harus dikeluarkan dari koper jamaah karena ketentuan penerbangan tidak diperbolehkan.

Proses berjalan lancar hingga dapat apresiasi dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur sebagai kloter paling cepat dan lancar dalam proses penerimaan jamaah.

Banyak hal yang harus dilakukan di asrama haji, para jamaah haji bukan hanya beristirahat sebelum diterbangkan ke tanah suci, para ketua regu dan ketua rombongan.

Paling berkesan yang disampaikan Kabid Penyelenggara Haji dan Umroh bahwa yang dapat mabrur sebelum berhaji adalah perangkat kloter, yakni Ketua Regu, Ketua Rombongan dan petugas kloter, karena karena mereka pelaksanaan ibadah haji dapat berjalan dengan lancar.

Para perangkat kloter yang menebarkan rahmat kepada para jamaah, menjadikan para jamaah haji dapat melaksanakan ibadah haji dengan baik dan sempurna

Rindu Sate Bulu

 Rindu Sate Bulu



Memasuki ruang utama Masjid Al Maruf Bulusan, suasana serasa sudah sampai Masjid Nabawi, marmer besar terhampar ruang dingin dari AC besar yang tiada matinya menambah kesejukan yang kontras dengan udara luar panas menyengat. Kami para petugas haji yang harus berangkat mendahului jamaah beristirahat sebentar untuk menunaikan sholat Dzuhur dan Ashar Jamak Takdzim qosor, kami memanfaatkan kemudahan yang diberikan Tuhan untuk ibadah Sholat dalam perjalanan, karena agama itu tidak memberatkan, memudahkan umatnya menjalankan perintah agama, karenanya sebagian sekolah melaksanakan study tour atau entah apalagi namanya yang salah satu manfaatnya mereka dapat mempraktikkan cara Sholat ketika berada dalam perjalanan.

Kebetulan saya bertemu dengan Alma, siswi MI Darunnajah yang saya minta mengambil gambar kami di masjid tersebut, senyum Alma tetap manis seperti ibunya,   sekarang dia sudah kelas enam, tinggi semampai dan tetap jadi anak pendiam. Dia bareng kedua orang tuanya yang saya tidak menanyakan darimana. Yang jelas semua yang datang ke Masjid Al maruf untuk melaksanakan shalat dan beristirahat. 


Kita telah sepakat untuk makan siang sate bulu di Situbondo, saya sendiri belum pernah menikmati sate bulu yang beberapa kali diceritakan teman-teman, rasa penasaran dengan nama dan rasa satenya karena diwilayah yang disebutkan adanya sate bulu, tidak ada yang kenal dengan nama warung tersebut.

Kami harus sampai Embarkasi minimal 4 jam sebelum jamaah datang, karenanya kita tidak jadi mampir di sate bulu yang membuat penasaran, kami makan siang di warung Rania yang masih masuk wilayah Kecamatan Wongsorejo.

Kecil-kecil Naik Haji

 Kecil-kecil Naik Haji


Saya memanggilnya Saleh, pedagang mie dan nasi goreng yang mangkal di depan Masjid Besar Al Muttaqin Kecamatan Srono, isterinya dengan setia dan membantu suami mencari nafkah untuk keluarga. Dengan rombong kecil berwarna kuning Saleh memulai usahanya, berganti tahun hingga menempati bangunan permanen untuk berjualan setiap malamnya.


Hampir setiap sore saya menyapa pasangan muda ulet bekerja ini, saya ke warungnya bukan sebagai langganan, meski sesekali membeli makanan Saleh yang isterinya adalah teman sekolah. Selepas sekolah teman saya Akmaliyah menikah dengan Saleh dan membantu suaminya jualan nasi goreng, sedangkan saya juga masih belum punya kerjaan tetap hingga mencoba berjualan kerupuk yang dititipkan ke warung-warung yang salah satunya warungnya Saleh.


Saleh yang lebih lama berwirausaha sering memberikan masukan untuk usaha yang baru saya geluti, dari mulai produksi sendiri, di edarkan sendiri hingga ada beberapa orang yang membantu. Bersyukur bisa ngasih kerjaan kecil-kecilan kepada tetangga meski hanya mbungkus kerupuk. Saleh juga yang ngasih saran untuk berbagi, sehingga kita bukan hanya bekerja untuk diri sendiri, tetapi juga dapat memberikan pekerjaan kepada orang lain.


Pagi itu di aula MAN 3 Banyuwangi saat saya mengisi manasik haji ada satu remaja yang mengikuti dengan seksama, melihat wajahnya saya seperti tak asing dengan anak ini yang ternyata bernama Havid Nur Yasin bin Yahdi, jamaah haji termuda usia 19 tahun Kabupaten Banyuwangi yang berangkat bersama Ibunya, menggantikan ayahnya yang meninggal beberapa bulan yang lalu. Saya tak berkomunikasi lagi sampai jam materi habis, kemudian meninggalkan ruangan untuk ngopi-ngopi dengan panitia, ngobrol dengan kawan lama pengasuh pesantren yang kebetulan juga berangkat haji.

Saya sedikit terkejut ketika Hafid menghampiri bersama ibunya dengan menggunakan masker, dia menyapa sambil membuka masker, masih nampak sisa kecantikan dari raut wajah temaku ini yang sekarang sudah mempunyai cucu, padahal sepertinya baru kemarin kita bareng- bareng sekolah, ternyata waktu berjalan terasa tak lama.

Akmaliyah bercerita bahwa Saleh suaminya meninggal enam bulan yang lalu, dan keberangkatan hajinya digantikan Hafid, anak keduanya. Saya sempat kaget juga karena jamaah termuda itu anak teman baikku, dan Mas Saleh penjual nasi goreng itu nama aslinya Yahdi.

Ternyata temanku yang berjualan nasi goreng itu berangkat haji juga tahun ini, meskipun tidak lagi bersama suaminya, namun saya yakin Almarhum Mas Saleh atau Yahdi ditempatkan di tempat terbaik disisi-Nya 


Petugas Kloter Berangkat Pagi Mendahului Jamaah


Banyuwangi (Warta Blambangan) 15 Petugas Haji PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Kloter SUB-57, 58 dan 59 berangkat mendahului jamaah, Sabtu (25/05/2025) menuju Embarkasi Surabaya, para petugas tersebut berangkat pagi hari dengan kendaraan khusus dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menuju Surabaya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr Chaironi Hidayat menyampaikan bahwa para petugas ini harus berangkat mendahului jamaah sekurang-kurangnya 4 jam sebelum jamaah datang untuk menyiapkan kedatangan jamaah haji dalam kloternya.

"PPIH Kloter membantu PPIH Embarkasi untuk menyambut kedatangan jamaah haji di Asrama Haji Embarkasi Surabaya yang masuk asrama mulai Senin pukul 06:00" kata Roni.


Dari lima belas petugas Kloter tersebut hanya 14 petugas berangkat bersama-sama dari Banyuwangi, sedangkan satu paramedis kloter SUB-59 langsung bertemu di Embarkasi karena domisili dan tempat kerjanya di Surabaya.


Tidak semua jamaah haji kloter SUB-57, 58 dan 59 berasal dari Banyuwangi, Jamaah kloter SUB-58 yang meninggal dunia dan mahramnya ikut mundur telah digantikan oleh jamaah cadangan dari Kabupaten lain, begitu juga dengan satu jamaah kloter SUB-59 yang mundur.


Dikonfirmasi melalui media ini, Ketua Kloter SUB-58 Syafaat menyampaikan bahwa dirinya sudah diberitahu oleh Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) Kemenag kab Banyuwangi bahwa ada 2 jamaah haji asal Kabupaten Jember yang tergabung di Kloternya.

"saya sudah menghubungi kedua jamaah haji asal Kabupaten Jember tersebut, dan anaknya juga berangkat dengan kloter yang berbeda, namun di Makkah kita berada di hotel yang sama" kata Syafaat.

Mengenai hal ini, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyampaikan bahwa mekanismenya memang seperti itu, jika ada jamaah yang tidak dapat berangkat dengan alasan tertentu (mundur), maka yang menggantikan adalah jamaah haji cadangan quota Jawa Timur, dan bukan quota Kabupaten asal.

Adapun para PHD (Petugas Haji Daerah) berangkat bersama jamaah dan diberangkatkan secara bersamaan kloter SUB-57, 58, 59 dan 60 yang akan dilepas Bupati Banyuwangi Hj. Ipuk Fiedtisndani.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger