Pages

Moderasi Seni dan Budaya di Banyuwangi : Keragaman yang Membawa Kesatuan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Beberapa perwakilan kaum seni di Kabupaten Banyuwangi mengadakan diskusi moderasi tentang seni dan budaya pada Rabu (13/04/2023) di Rumah Kebangsaan Karangrejo, di sela berlangsungnya diskusi Komunitas Kebangsaan Banyuwangi .  Para perwakilan tersebut antara lain Adi Wibowo, Pemusik Jalanan dan Tokoh Kristen Kelurahan Karangrejo,  Andre Waluyo, Founder Aplikasi Gata dan Bisnis Link,  Tokoh Katolik dari Kelurahan Tamanbaru yang juga pemerhati seni dan budaya serta aktivis Desa Wisata dan pendamping UMKM Banyuwangi, Fatah Yasin Nor dari Dewan Kesenian Belambangan, Mas Prams serta Syafaat dari Komunitas Lentera Sastra Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.



Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh semangat dan dihadiri oleh para peserta yang menyukai seni dan budaya Banyuwangi.  Sambil menikmati kopi Lego (Lereg Gombengsari) milik Hariyono, para peserta diskusi menyampaikan bahwa meskipun memiliki latar belakang agama dan keyakinan yang berbeda, mereka memiliki kesamaan untuk mengembangkan seni dan budaya di Bumi Blambangan.

"Sebagian besar dari kita menganut agama karena mengikuti agama orang tua kita masing-masing," kata Syafaat.


Para seniman dan aktivis seni tersebut akan tampil dalam acara Lounching Sulur Kembang Sri Tanjung yang akan dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2023 di Pendopo Kabupaten Banyuwangi.

"Mas Adi Wibowo akan mengiringi kami dalam pembacaan puisi.",  kata Aguk Wahyu Nuryadi dari Sanggar Merah Putih 45 yang juga hadir dalam diskusi tersebut.


Dalam era globalisasi dan kemajuan teknologi,  keanekarragaman budaya dan seni menjadi semakin penting untuk dipertahankan. Diskusi moderasi tersebut menjadi bukti bahwa meskipun berbeda-beda, keragaman budaya dan seni dapat menjadi jembatan untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.(Syaf)

Kampung Moderasi Beragama

 Kampung Moderasi Beragama

Oleh : Syafaat



12 tidaklah harus 3 X 4, bisa jadi 4 X 3 atau 2 X 6 atau juga 1 X 12 dan sebaliknya, karena angka perkalian merupakan proses yang tidak harus sama, yang terpenting adalah hasilnya akan sama. Logika ini sering digunakan untuk menggambarkan tentang sebuah ajaran agama bahwa untuk mencapai sebuah tujuan dapat dilakukan dengan cara yang berbeda. Meskipun logika tersebut juga dapat terbantahkan dengan mengingat bahwa dalam beberapa permasalahan, 3 X 4 tidak selalu sama dengan 4 X 3 apalagi dengan 2 X 6 meskipun hasil ahir akan sama yakni 12. Karena urutan yang salah dalam proses menyusun angka dapat berakibat fatal. Jika ada angka 4 + 4 + 4  itu artinya sama dengan 3 X 4 dan bukan 3 X 4. Seringkali kita enemukan hal yang rumit yang terlihat sederhana, ataupun sebaliknya bahwa kita dapat menyelesaikan masalah rumit dengan pikiran sederhana.

Dalam membaca bidang jika kita menemukan angka 3 X 4 itu artinya lebar 3 dan panjang 4. Dalam resep obat 3 X 4 artinya obat tersebut diminum 3 kali masing-masing 4 tablet. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sekilas nampak sama jika dikalikan, namun ternyata ada sebuah perbedaan serius dari deretan angka tersebut yang sekilas hasilnya sama. Kita tidak dapat memaksakan untuk menggunakan urutan yang sama meskipun dengan keyakinan hasilnya akan sama, kita harus melihat dalam kontek apa permasalahan tersebut muncul, karena setiap kebenaran selalu ada dalil pembenar, atau setidak tidaknya pembenaran untuk dirinya sendiri.

Kita tidak dapat memaksakan sebuah persamaan dalam perbedaan, begitupun sebaliknya, bahwa tidak perlu harus mengadakan perbedaan dalam persamaan, karena perbedaan merupakan sebuah kodrat alami, karena kita dapat menikmati perbedaan dalam bingkai harmoni, dan ketika kita dalam sebuah persamaan, tidak perlu mencederai dengan sebuah perbedaan yang dipaksakan, karena kesamaan juga sangat dibutuhkan dalam merajut harmoni. Perbedaan tidak membuat kita tersekat, namun akan membentuk sebuah persamaan harmoni yang kuat.

Indonesia tercipta dari berbagai macam etnik dengan berbagai macam budaya yang terus tumbuh dan berkembang, ditambah dengan berbagai macam agama dan kepercayaan yang dianutnya, yang sangat rentan terjadi gesekan jika tidak didasari dengan pemahaman yang sama.  Perkembangan keaneragaman budaya maupun Bahasa dan Dialeg Bahasa yang ada di masyarakat merupakan sebuah keniscayaan yang telah ada sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kampung Moderasi Beragama merupakan suatu istilah yang menggambarkan suatu daerah atau tempat dalam wilayah tertentu (dalam lingkup RT, RW, atau kelurahan/Desa) yang masyarakatnya terdiri atas beberapa perbedaan terutama dari aspek kepercayaan, keyakinan, agama, ras atau lainnya dengan penuh kesadaran menerima perbedaan yang ada karena pemahaman terhadap keagamaannya yang moderat dengan sepenuh hati untuk dapat memberikan kemaslahatan diri, lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara  sehingga tercipta kerukunan, toleransi, kerukunan, dan harmonis.

Terbentuknya Kampung Moderasi Beragama sebagai bentuk model kampung yang mengutamakan kolaborasi lintas unsur, lembaga dan lapisan masyarakat dengan tujuan memperkuat kehidupan masyarakat yang yang harmonis dalam keragaman, dengan mengingat bahwa dalam praktiknya, menjaga keseimbangan beragama dan bernegara ini bukan perkara mudah. Tidak jarang salah satunya terlalu menonjol dan berlebihan mengungguli yang lain, sehingga muncul gesekan. Untuk mewujudkan keseimbangan beragama dan bernegara itu, setidaknya ada 3 (tiga) misi besar yang harus diemban oleh setiap umat beragama. Ketiga misi ini menghadapi tantangan tersendiri yang harus diselesaikan bersamaga komitmen kebangsaan di sisi lain. 

Dalam praktiknya, menjaga keseimbangan beragama dan bernegara ini bukan perkara mudah. Tidak jarang salah satunya terlalu menonjol dan berlebihan mengungguli yang lain, sehingga muncul gesekan. Untuk mewujudkan keseimbangan beragama dan bernegara itu, setidaknya ada 3 (tiga) misi besar yang harus diemban oleh setiap umat beragama. Ketiga misi ini menghadapi tantangan tersendiri yang harus diselesaikan bersama. Pertama, setiap umat beragama harus berupaya memperkuat pemahaman dan pengamalan esensi ajaran agama dalam kehidupan masyarakat, Kedua setiap umat beragama harus dapat mengelola keragaman tafsir keagamaan, perbedaan penafsiran erupakan hal yang basa, namun ketika penafsirat tersebut diklaim sebagai kebenaran tunggal dengan menyalahkan penasiran lainnya, akan berpotensi konflik. Ketiga bahwa setiap umat beragama memiliki kewajiban dan komitmen untuk menjaga rasa keindonesiaan dengan senantiasa memperuat rasa persatuan dan kesatuan. 

Rintisan Kampung Moderasi Beragama yang akan dibentuk disetiap Kecamatan akan mengambarkan berbagai macam ragam moderasi, dengan mengingat tidak setiap kecamatan dihuni oleh warga dengan etnik maupun agama yang berbeda. Moderasi beragama dengan melibatkan umat antar agama bagi sebuah kampung yang dihuni oleh lebih dari satu penganut agama, namun bisa jadi dalam Kampung Moderasi Beragama menggambarkan sebuah masyarakat dengan agama yang sama atau mungkin organisasi masyarakat keagamaan yang sama, karena dalam persamaanpun bisa jadi ada perbedaan yang harus dihormati, meskipun bukan sebuah prinsip.

Dalam moderasi bukan berarti adanya pembiaran terhadap tindakan yang tidak sesuai dengan norma agama atau ajaran yang diangga menyimpang dari ajaran agama, namun bagaimana masyarakat mensikapi tindakan tersebut dengan tindakan yang sesuai dengan koridor hukum yang berlaku. Pembinaan terhadap penganut agama dapat dilakukan oleh pemerintah dan masing-masing pemuka agama dengan cara santun dan bijaksana.

*Ketua Lentera Sastra Kemenag Kab. Banyuwangi


Revitalisasi Bahasa Osing yang Hampir Terlupa

Banyuwangi (Warta Blambangan) Badan pengemban⁷gan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek mengundanghadirkan berbagai elemen untuk mengawali kegiatan revitalisasi bahasa osing, di Aula Minakjinggo Pemkab,Selasa (23/03/23).



Kegiatan diskusi yang selanjutnya di sambut baik oleh Kepala Dinas Pendidikan, KKG, MKKS, MGMP SMP Bahasa Osing, 7 maestro sastra using serta KOPPAT, Lentera Sastra dan DKB. Agenda penting ada penandatanganan kerjasama dan dukungan revitalisasi Bahasa Osing. 

"Momentum hari ini merupakan angin semilir kiling yang harapannya mendorong parapihak untuk mengajarkan ke sekolah dan nguri-nguri jatidiri bangsa.Ndak sekedar wacana atau rapat di dinas!" tegas Ketua MGMP Bahasa Osing SMP.


Pada acara pembukaan,  Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Banyuwangi, Drs.Dwi Yanto, MM, Kepala Dinas Pendidikan  Suratno, S.Pd,M.Pd serta Kepala pusat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jawa Timur.

Pada rangkaian pembukaan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Dr. Umi Kulsum, M.Hum menyampaikan bahwa diskusi ini menghasilkan pra modul yang sangat bermanfaat bagi pengembangan Bahasa osing di Banyuwangi.


"Untuk pengembangan Bahasa Using, BBJT telah memilih 7 orang maestro di Banyuwangi yang dipersiapkan untuk terlibat langsung dan berdialog dengan para guru yang akan menyebarkan pengetahuan Bahasa osing,” Kata Umi Kulsum.

Selanjutnya Melalui saluran virtual, Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra Drs. Imam Budi Utomo menyampaikan  bahwa " Kegiatan ini diharapkan lebih banyak para penulis berbahasa daerah. Jangan sampai bahasa daerah mengalami kepunahan" 


Mewakili Bupati Banyuwangi, Dwi Yanto  menyampaikan, "Saat ini Kementerian Agama telah menerbitkan Al-Quran terjemah Bahasa osing.

"Para maestro yang hadir saat ini adalah para ahli dibidangnya yang akan mengajarkan Bahasa Osing di Sekolah," ungkapnya.

"Kedepan akan ada pelatihan 60 guru SD dan SMP untuk selanjutnya menjadi fasilitator bahasa osing yang selanjutnya wajib mendiseminasikan kepada kelompok atau guru lain." Ujar Bapak Imam. 


Adapun 7 maestro yang telah terpilih yaitu, 1. Wiwin Indiarti (Nembang/Mocoan Lontar), 2. Antariksawan Yusuf (Baca-tulis Using), 3. Abdullah Fauzi (Cerpen Using), 4. Slamet Penyet (Mendongeng), 5. Nany Asiyani (Pidato Basa Using), 6. Eko Budi Setianto (Puisi Using), 7. Ali Kenthus (Stand up Komedi Using).

Revitalisasi ini akan  dilakukan secara berkelanjutan dan dimonitoring secara berkala

Salah satu peserta Syafaat dari komunitas Lentera Sastra menyampaikan bahwa banyak cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan Bahasa Daerah, seperti menulis dan membaca puisi, menyanyi, menulis cerpen maupun novel Bahasa Daerah dan lain-lain, pelestarian Bahasa Osing bukan berarti meng-osing-kan seluruh warga Banyuwangi yang dihuni berbagai macam etnik yang mempunyai bahasa daerah sendiri, Suku Osing yang berjumlah 20 % dari penduduk di Kabupaten Banyuwangi mempunyai ciri khas tersendiri.

"kita jangan memaksakan kesamaan atas perbedaan atau memaksakan adanya perbedaan dari suatu yang sama" kata Syafaat.

Bahasa Osing yang hidup dan berkembang di ujung timur Pulau Jawa harus dijaga dari kepunahan, dengan cara diajarkan di sekolah formal. (Yeti/Syaf)

Direktur Pembinaan Administrasi Peradilan Agama Ditjen Badilag Ikuti Rukyatul Hilal di Alas Purwo Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. Moh. Amak Burhanudin telah menunjuk dua tim Rukyatul Hilal Badan Hisab dan Rukyah (BHR) menjelang Ramadhan, Rabu (22/03/23) yakni di Pantai Pancur yang dipimpin Gufron Musthofa, Kepala KUA Kecamatan Gambiran dan Zaenal Abidin, Kasi Penyelenggara Haji dan Umroh. Sedangkan di Gumuk Klasi Kecamatan Singojuruh, Mustain Hakim, Penyelenggara Zakat dan Wakaf dan Fatkhur Rahman, Kepala KUA Kecamatan Songgon.



Yang istimewa dalam Rukyatul Hilal yang dilaksanakan di Pantai Pancur, selain diikuti oleh para Kepala KUA Kecamatan, para Ormas Islam dan Hakim Pengadilan Agama Banyuwangi, team dari IAIDA Blogagung dan IAII Genteng bersama para Mahasiswa, juga dihadiri Dr. Dra. NUR DJANNAH SYAF, S.H., M.H, Direktur Pembinaan Administrasi Peradilan Agama

Ditjen Badilag Mahkamah Agung Republik Indonesia.


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi diwakili Kasi PD Pontren Muklis di Alas Purwo menyampaikan bahwa Rukyatul Hilal merupakan kewajiban bagi kita.

"apapun hasilnya akan kita laporkan kepada BHR pusat" kata Muklis.



Hakim Pengadilan Agama Banyuwangi menyampaikan bahwa saat ini BMKG telah mempunyai aplikasi yang dapat melihat hilal secara real time.

"Sudah ada permohonan dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi kepada kami untuk melakukan sidang dan menuangkan dalam penetapan" kata Wakil Ketua Pengadilan Agama.


Direktur Pembinaan Administrasi Peradilan Agama menyampaikan bahwa dulu belum ada teropong, dan sekarang sudah ada teropong, kedepan mungkin akan lebih canggih lagi.

"Kami mewakili Pemerintah Pusat untuk bersama-sama melaksanakan Rukyatul Hilal" kata Nur Jannah.

Lebih lanjut Nur Jannah menyampaikan bahwa saat ini tinggi hilal 8 derajat yang sangat berpotensi untuk dapat dilihat.

"Seluruh Indonesia ada 104 titik Rukyatul Hilal yang juga diikuti oleh Pengadilan Agama" ungkapnya 

Ditempat terpisah Amak menyampaikan Amak Mengungkapkan syukur Alhamdulillah bahwa pada tahun ini Kemenag Banyuwangi  menyiapkan 2 tempat Rukyatul Hilal yaitu di Gumuk Klasi dan Pantai Pancur dengan mengundang ormas Islam dan pihak pihak terkait dan juga bekerjasama perguruan tinggi keagamaan yang ada di Kabupaten Banyuwangi.


Adapun pelaksanaan Kegiatan Rukyatul hilal pada hari ini berjalan lancar. Namun karena teetutup mendung Maka hilal tidak terlihat.


Rukyatul Hilal di Alas Purwo yang dipimpin Gufron Musthofa yang juga Ketua Lajnah Falakiyah PC Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyuwangi menyampaikan bahwa terlihat atau tidak di sini, keputusan awal Ramadhan tetap mengikuti keputusan pemerintah.

Sidang isbat yang di gelar Menteri Agama Republik Indonesia memutuskan awal Ramadhan jatuh pada tanggal 23 Maret 2023

 (Syaf)

LPTQ Rapat Koordinasi MTQ Se-Jawa Timur

Pasuruan (WartaBlambanga) : Guna mempersiapkan kegiatan MTQ Tingkat Jawa Timur tahun 2023 ini , Lembaga Pengembangan Tilawah Qur'an ( LPTQ ) Jawa Timur mengadakan rapat koordinasi LPTQ se-Jawa Timur. Rakor bertempat di Hotel Ascent Premier Pasuruan , selama 2 hari,Senin-Selasa, (20-21/03/23).



Dalan sambutannya Kabiro Kesra Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, H. Imam Hidayat, S.Sos, MM, mengatakan kegiatan Rakor ini sangat perlu dilaksanakan segera, karena begitu mepetnya pelaksanaan MTQ Tingkat Jawa Timur yang rencananya akan dilaksanakan di Kota Pasuruan. 


Selain itu, H. Imam Hidayat, menyampaikan perlu ada komitmen bersama seluruh LPTQ Kabupaten se- Jawa Timur agar seluruh kegiatan LPTQ dapat terlaksana dengan baik. Khususnya dalam pelaksanaan MTQ Tingkat Jawa Timur. Sehingga dalam pelaksanaannya akan menghasilkan juara-juara terbaik yang nantinya dapat berlaga di MTQ Nasional dan dapat mempertahankan status Juara Umum seperti yang di peroleh di MTQ Nasional tahun 2022 di Kalimantan Selatan.



Selain memberikan sambutan dan arahan, H. Imam Hidayat selaku Kabiro Kesra Setdaprov Jawa Timur, juga membuka secara resmi Rapat Koordinasi LPTQ se-Jawa Timur.


Salah seorang peserta dari Bagian Kesra Kota Madiun, Basuki, mengatakan rakor ini perlu untuk menyamakan persepsi dan sinergitas antara Bagian Kesra dan LPTQ dalam rangka mensukseskan kegiatan khususnya MTQ Tingkat Jawa Timur ke-30 di Pasuruan.


Ketua panitia, Doni Nugroho Susanto, S.Sos, MM, yang juga Kabag Bina Mental Spiritual Kesra Setdaprov Jawa Timur, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran seluruh perwakilan LPTQ Kabupaten se-Jawa Timur dalam rapat koordinasi kali ini. Harapannya agar rakor ini akan menghasilkan komitmen bersama dalam mensukseskan MTQ Tingkat Jawa Timur ke-30 tahun 2023 di Pasuruan.


Sementara, H. Mujiono, bendahara umum LPTQ Kabupaten Banyuwangi, mengatakan dengan diadakannya rapat koordinasi ini di harapkan MTQ tingkat Provinsi Jawa Timur di Pasuruan nantinya dapat dilaksanakan secara profesional dan menjadi percontohan secara nasional.


Selain di hadiri oleh Pengurus LPTQ Kabupaten se-Jawa Timur, rakor ini juga di hadiri pengurus dan pembina LPTQ Provinsi Jawa Timur,  Biro Kesra Setdaprov Jawa Timur, Bagian Kesra Kabupaten se-Jawa Timur. (Mzn/Aguk/Red)

Program Sonjo Masjid BKPRMI & DMI Banyuwangi Diapresiasi Takmir dan Remas

Banyuwangi (Warta Blambanga) - Dewan8 Pengurus Daerah (DPD) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Banyuwangi meluncurkan program kerja 'Sonjo Masjid'. Sonjo diambil dalam bahasa daerah yang memiliki makna berkunjung dan silaturahmi.



Program tersebut pertama dipusatkan di Masjid Baiturrahim, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro pada Minggu, (19/03/23) Yang dihadiri langsung oleh Ketua PD (Pimpinan Daerah) DMI (Dewan Masjid Indonesia) Kabupaten Banyuwangi H. Fathur Rahman, S.Ag., M.Pd.I beserta jajaran, Ketua Umum DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi Achmad Sururuddin beserta jajarannya;  pengurus takmir masjid serta sejumlah masyarakat dan pemuda setempat.


Program kerja yang sarat dengan langkah taaruf,curhat serta konsolidasi dan anjangsana tersebut mendapatkan apresiasi oleh jajaran jamaah masjid. Hal ini dinilai mampu menjadi pelengkap jalan keluar bagi masyarakat saat menelan problema ihwal kemasjidan pada waktu berjalan dan mendatang.


"kegiatan program 'Sonjo Masjid' harus terus dilakukan untuk merekatkan sinergitas dan kerukunan antar masyarakat setempat dengan  masjid.

Sudah saatnya masjid-masjid menjadi episentrum solusi berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh masyarakatnya, termasuk di Kabupaten Banyuwangi. Permasalahan yang berkelindan dari ihwal ubudiyah (kegiatan keagamaan secara vertikal) ataupun permasalahan sosial masyarakat. Meliputi : pendidikan, kesehatan, hingga pada menjawab teka-teki perekonomian!" tutur mantan kru Radio Suara Habibullah ini pada diskusi yang dipandu M.Rafi Karyono ini.


"Maka itu, kegiatan sonjo yang perdana dilaksanakan ini sangat penting dikerjakan secara serius oleh jajaran pengurus BKPRMI. Dari program seperti ini, kita dapat mendengarkan secara langsung aspirasi seluruh keinginan masyarakat. Dan sekaligus pengurus dapatnya memberikan jalan keluar melalui konsolidasi dengan pemangku kepentingan terkait," kata H. Fathur yang juga sebagai Ketua Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Kabupaten Banyuwangi seraya cerita studibanding di Masjid Jogokaryan Yogyakarta yang O kan kas untuk jamaah dan pengembangan UMKM lokal serta Masjid Al Falah Surabaya yang ada bonus umroh untuk jamaah sholat Subuh dan menikahkan perjodohan jamaah di masjid pada hari Jumat.


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr Moh Amak Burhanudin juga memberikan apresiasi terhadap kegiatan menjelang Ramadhan yang dilakukan organisasi keagamaan.

"Dengan kegiatan terpadu ini sebagai wujud upaya peningkatan dalam kegiatan Ramadhan" ungkapnya 

Apresiasi senada juga disampaikan langsung oleh Isnaini, M.Pdi selaku Wakil Ketua Takmir Masjid Baiturrahim. Dia menyatakan sangat senang sekali dengan kehadiran seluruh jajaran BKPRMI dan DMI di masjid yang jadi amanahnya dan senang dijadikan titik awal program sonjo masjid untuk kemakmuran rumah Allah.


"Kami menemukan banyak pencerahan atau solusi atas kegiatan Sonjo Masjid ini. Semua lapisan masyarakat guyub hadir mulai dari guru-guru ngaji hingga delegasi pemuda setempat.Ada adik pencetus sholawat yang mendunia  Ali Mansur yakni H Siddiq yang ingatkan keikhlasan dan ridho Allah dalam bidang agama serta Masahid,S.Pd yang berharap ada pelatihan management ketakmiran,pengelolahan Taman Pendidikan Al-Qur'an hingga soal bahayanya narkoba!" " kata Isnaini yang guru Mts NU dan Pengurus Forum Komunikasi Diniyah Takmilan (FKDT) ini.


Sementara itu Direktur Daerah (Dirda) Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi (LBHA) pada DPD BKPRMI Kabupaten Banyuwangi, H. Mujiono menyampaikan, pengurus akan serius menggarap program kegiatan 'Sonjo Masjid'.


"Kali ini perdana sudah dilaksanakan. Selanjutnya nanti kita akan jadwalkan pada kunjungan masjid selanjutnya. Kegiatan ini sangat penting dilaksanakan sebagai langkah preventif ataupun kuratif untuk menjawab seluruh teka-teki problema masyarakat," ujar H. Mujiono yang juga bendahara LPTQ Kabupaten hingga bisa beri pencerahan soal pertanyaan tehnis dan filosofi intensif buat guru ngaji.


"Kita berharap semoga seluruh pengurus senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, dan kemudahan dalam menjalankan seluruh program kerja yang terus disiapkan dan dikerjakan.Wabil.khusus DPK Kalipuro mau terus aktif silaturahmi ke musholla dan surau kampung teruskan hasil sonjo ini.Dan monggo DPK kecamatan mana yang siap kami kunjungi dengan tema dan narasumber sesuai kebutuhan takmir dan assatidz maupun santri setempat.Kami juga siap materi Keluarga Sakinah hingga masalah IT dan literasi!"ungkap Ahmad Sururudin pada media ini. (Aguk/MSK/JN)

PERGUNU Banyuwangi konsolidasi pengurus

Banyuwangi (Warta Blambangan) Rapat persiapan Persatuan Guru Nadhatul Ulama (PERGUNU) dikemas  silaturahmi 

bertempat di BTS (betutu tepi sawah) Rogojampi, Sabtu (18/03/23).



 Ketua PERGUNU Banyuwangi Drs H Witjanarko MPd, sampaikan dalam persiapan pelantikan PAC PERGUNU dibagi menjadi 8 korwil untuk mendata kembali kepengurusan di masing-masing PAC sekaligus menyiapkan harlah PERGUNU yang dipercayakan kepada sekretaris M Anwar Shodiq SPd.SD untuk menyiapkan kelancaran agenda PERGUNU Banyuwangi.



Menjelang Ramadhan PERGUNU Banyuwangi konsolidasi pengurus hasil musyawarah dan pelantikan di Pendopo Sabha Swagata Blambangan.


Rapat persiapan Ramadhan yang diadakan PERGUNU Banyuwangi menghasilkan program kerja antara lain: workshop penulisan/ artikel bagi guru-guru NU, persiapan pelantikan PAC PERGUNU se kabupaten Banyuwangi dan persiapan silaturahmi buka puasa bersama dengan dewan penasehat, dewan pakar, Banom dan lembaga PCNU Banyuwangi.

 (Shodiqin/Aguk/JN)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger