Pages

Nenek Moyangku Seorang Pelaut

 

Nenek Moyangku Seorang Pelaut

Oleh : Imtiyaza Syifa Ramadhani Risdayanti

 

Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarungi luas samudera, menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa, begitulah kira-kira petikan lagu anak anak yang sering kita dengarkan. Penggambaran bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa pelaut, hal ini tidaklah berlebihan dengan mengingat luas wilayah Indonesia yang sebagian besar merupakan wilayah laut. Bukti lain bahwa Bangsa Indonesia merupakan bangsa pelaut dapat kita lihat pada relief Candi Borobudur, Candi Budha yang dibangun pada abad ke 8 masa Kerajaan Syailendra.

Bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala dikenal dengan armada lautnya yang begitu besar hingga berlayar mengarungi Samudra Hindia sampai ke Madagaskar. Begitupun dengan wilayah kekuasaan dari kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara, bukan hanya wilayah Indonesia kini saja yang menjadi wilayahnya, namun wilayah di beberapa sekitar yang kini telah manjadi Negara tersendiri. Hal ini membutikan bahwa Bangsa Indonesia merupakan keturunan bangsa besar yang sangat diperhitungkan oleh bangsa lain. Sehingga selama beberapa abad lamanya, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan peradaban di wilayah Nusantara memiliki kekuatan ekonomi dan politik dengan berbasis pada sumber daya kelautan

Kepiawaian nenek moyang Indonesia dalam menjelajahi Samudera bahkan diacungi jempol oleh negara-negara barat. Kompas dan peta berbahasa Jawa menjadi saksi bisu perjalanan nenek moyang kita dalam mengarungi lautan, mungkin karena minimnya penelitian dan publikasi, pelaut pelaut tanggung bangsa Indonesia zaman dulu tidak begitu dikenal dalam sejarah modern. Kita hanya mengenal pelaut-pelaut eropa dalam mengemban misinya saja yang dipelajari di sekolah, sedangkan pelaut Indonesia dan Asia yang tidakj kalah piawainya dalam mengarungi samudra tidak begitu di kenal. Ternyata identitas pelaut tangguh Bangsa Indonesia itu kini mulai bergeser seiring dengan kemampuan laut dari negara lain yang didukung dengan peralatan modern. Bekerja di sector kelautan tidak lagi menarik untuk dinikmati oleh generasi masa kini, meskipun laut sangat menjanjikan untuk perkembangan ekonomi bagi sebuah Negara, dengan mengingat nutrisi yang ada di lautan sangat dibutuhkan oleh manusia.

Sepertiga lebih wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesua yang terdiri dari lautan, mengharuskan Bangsa Indonesia menjaga wilayah kedaulatanya sendiri. Banyaknya nutrisi yang terkandung didalam lautan Indonesia dilirik banyak bangsa untuk ikut menikmatinya, baik dengan jalan legal maupun jalan illegal. Hal inilah yang menuntut Bangsa Indonesia mempunyai armada laut yang kuat untuk menjaga kedaulatan negeri, menjaga penjarahan hasil laut dari negera asing dengan cara melawan hukum.


Kemampuan armada laut dalam menjaga kedaulatan Negara tersebut harus dibarengi dengan kemauan dan kemampuan bangsa Indonesia untuk mengelola sumber daya alam yang melimpah yang dimilikinya. Karena sebuah hal yang aneh jika Negara dengan garis pantai terpanjang di dunia ini harus mengimpor garam dari luar negeri. Untuk mencukupi kebutuhan akan bahan baku ikan, juga harus mengimpor ikan dari luar negeri yang mungkin saja ikan-ikan tersebut didapatkan dari perairan Indonesia dengan cara melawan hukum, meskipun dengan dalih para nelayan lur negeri tersebut mengejar ikan dari negaranya yang berenang di lautan Indonesia (aneh dan lucu).

Kemauan pemuda untuk belajar dan bekerja di sektor perikanan dan kelautan harus di tumbuh kembangkan sejak dini, bukan hanya dengan melantunkan lagu-lagu kanak-kanak tentang kegagahan nenek moyang kita sebagai pelaut, namun menumbuh kembangkan keinginan untuk belajar pada sektor kelauatan, menjadikan Armada Laut Indonesia kembali Berjaya sebagaimana nenek moyang kita, atau setidak tidaknya Bangsa Indonesia dapat mencukupi kebutuhan dalam negeri yang berasal dari kekayaan laut yang kita miliki.

Armada laut sangat dibutuhkan untuk menjaga perairan laut yang ada di Indonesia, terlebih dengan peralatan modern yang dimiliki bangsa lain yang memungkinkan mereka untuk mencuri ikan di perairan Indonesia dengan cara modern dan cepat. Kemampuan armada laut ini bukan sekedar kemampuan personal saja, namun juga harus dibarengi dengan kemampuan peralatan modern yang sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan dengan mengingat wilayah yang menjadi tanggung jawabnya sangatlah luas.

Kemampuan peralatan dibidang kelautan bukan hanya harus dimiliki oleh alat negara saja, namun juga peralatan penangkapan ikan juga harus dimiliki oleh masyarakat Indonesia, hal ini dengan mengingat banyaknya sumber daya manusia dibidang pelayaran saat ini banyak yang bekerja pada kapal-kapal negara asing yang memiliki kapal penangkap ikan modern yang memungkinkan mereka untuk berlayar dengan menangkap ikan dalam waktu yang relative lama.

Akhir kata dengan tenggelamnya Nanggala 402 untuk melaksanakan tugas abadi menjaga laut Indonesia, menjadi pemantik bagi kita untuk lebih mencintai laut, membangkitkan semangat Bangsa Indonesia untuk lebih maju dan modern dibidang kemaritiman, sehingga bangsa Indonesia benar-benar berdaulat atas laut yang dimilikinya, dapat mencukupi kebutuhan bahan baku yang dibutuhkan yang berasal dari laut.

*Penulis adalah Mahasiswa FKIP Unej Jember.



Jejak Syeh Siti Jenar di Bumi Blambangan

 Jejak Syeh Siti Jenar di Bumi Blambangan

Oleh : Syafaat

Kisah Syeh Siti Jenar tidak dapat dipisahkan dengan sejarah wali songo di Inonesia, hal ini dengan mengingat peran Syeh Siti Jenar dal;am mewarnai pemahaman yang sedikit berbeda dari yang diajarkan oleh para wali songo. Ajaran yang disampaikan dianggap belum saatnya diajarkan kepada masyarakat yang masih awam, dan dianggap membahayakan akidah. Terlepas dari bentuk pengadilan yang diterapkan saat itu, atau kematiannya yang menyimpan misteri, salah satunya adalah banyak yang meyakini tempat dimakamkannya, sehingga dipenjuru tanah jawa ditemui makam yang konon makam Syeh Siti Jenar.

Di Kabupaten Banyuwangi ada dua desa di sua Kecamatan yang bertetangga dengan nama Lemahbang, Yakni Lemahbang Dewo berada di Kecamatan Rogojampi, serta Desa Lemahbang kulon Kecamatan Singojuruh. Hal ini sangat menarik untuk diteliti dengan mengingat di Tanah Jawa ini ada banyak nama Desa dengan nama Lemahbang atau Lemah Abang yang dalam Bahasa Indonesia berarti Tanah Merah. apakah nama-nama tersebut berkaitan berdasarkan sejarahnya, ataukan berdiri sendiri.


Hampir semua Desa Lebahbang atau Lebah Abang tersebut menurut cerita yang diperoleh secara turun temurun merupakan sebuah wilayah yang dirintis oleh Syeh Siti Jenar, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh para cantrik (santrinya) yang menetap di wilayah tersebut. Jika melihat banyaknya nama wilayah dengan nama yang sama, yakni Lebahbang atau Lemah Abang yang dikaitkan dengan Syeh Siti Jenar, maka dapat diambil kesimpulan bahwa perjalanan Syeh Siti Jenar telah hampir meliputi seluruh Pulau Jawa, karena nama Lebahbang atau lemah Abang dapat ditemui mulai Cirebon sampai Banyuwangi.

Di Desa Lemahbang Kulon ada petilasan yang diyakini sebagai petilasan Syeh Siti Jenar yang selalu didatangi para peziarah dengan berbagai kepentingan. Masyarakat setempat meyakini bahwa nama Desa tersebut terkait erat dengan Syeh Siti Jenar yang diyakini pernah mendiami tempat tersebut. Hal ini dibuktikan dengan beberapa makam kuno yang diyakini sebagai murid murid syeh siti jenar atau tokoh yang berpengaruh yang ada kaitannya dengan Syeh Siti Jenar. Penamaan Desa Lebahbang Kulon ini tidak lepas dari Forklor yang hidup pada masyarakat tersebut. Petilasan yang dikenal dengan nama Lastono tersebut diyakini banyak menyimpan misteri ghaib, karenanya setiap malam selalu ramai dikunjungi orang yang salah satu tujuannya berkaitan dengan mistis dan barang ghaib.

Lelaku Syeh Siti Jenar sampai di bumi Blambangan ini membuktikan bahwa Bumi Blambangan sejak zaman dahulu merupakan tempat yang menarik untuk di kunjungi, meskipun saya yakin Syeh Siti Jenar datang ke Banyuwangi bukan untuk berwisata. Lelaku Syeh Siti Jenar tersebut diyakini masyarakat setempat bukan untuk khusus menyebarkan Agama Islam, melainkan untuk bertapa dan menenangkan diri. Hal ini dapat difahami dengan mengingat sampai saat ini masih banyak orang-orang dari wilayah mataraman dan Jawa Tengah yang menenangkan diri (bertapa) di beberapa tempat di hutan-hutan di Bumi Blambangan.

Terlepas dari kebenaran cerita tersebut, hal ini membuktikan bahwa Bumi Blambangan yrng terletak di ujung Pulau Jawa Ini menyimpan banyak sejarah dan misteri yang perlu diteliti dengan lebih sungguh sungguh. Kedatangan Syeh Siti Jenar dan beberapa Ulama Besar pada zamannya hingga lahirnya Sunan Giri dari Ibundanya Dewi Sekar Dadu yang merupakan putri dari Raja Blambangan saat itu, hal ini menunjukkan bahwa beberapa agama teah hidup rukun di wilayah ini sejak ratusan tahun yang lalu.

Situs-situs bersejarah di Kabupaten Banyuwangi tidak sedikit yang tidak terawat, terlebih beberapa situs berada di tempat yang sulit dijangkau, sehingga tidak banyak dikunjungi.keberadaan situs tersebut salah satunya sebagai alat pengenalan sejarah dan budaya lokal  untuk memberi semangat dan motivasi kepada kita bahwa bumi tempat kita berpijak ini merupakan bumi yang diperebutkan banyak orang, bumi yang banyak dikunjungi para tokoh di masa lalu, karenanya kebanggaan akan diri kita yang masih menempati tanah penuh berkah ini harus tetap dipupuk untuk menjadi mayarakat bermental juara.

Beberapa seni dan budaya yang hidup di tengah masyakat dengan nuansa keagamaan yang kuat yang masih hidup sampai saat ini, menunjukkan bahwa perkembangan ajaran Agama Islam di Ujung Timur Pulau Jawa ini telah lama dilakukan sejak zaman para wali songo, atau mungkin jauh sebelumnya. perkembangan dan dakwah yang dilakukan dalam seni dan budaya setempat sebagai ciri khas dakwah para wali yang dapat diterima oleh masyarakat tersebut sebagai salah satu pembelajaran bagi kita untuk bersikap dewasa dalam menghadapi perbedaan. Para pendahulu kita di bumi Blambangan telah menunjukkan bagaimana melakukan dakwah melalui wadah yang sama dengan yang berlainan ideologi maupun agama, melakukan dakwah dengan cara yang sangat santun yang sangat jauh dengan makna kekerasan maupun peperangan dengan senjata.

*Penulis adalah ASN dan Ketua Lentera Sastra Kemenag Kab. Banyuwangi



Perempuan Pematah Jalanan

 

Perempuan Pematah Jalanan

Oleh : Tria Aini Wulandari

 

Karena aku perempuan
Manis sepagi ini
Sudah kulampaui berpetak jarak
Mengendus jalan kering
Mencecap kidung patahnya reranting
Hangat menyapa kota
Apa kabar sibuk?
Kali ini seperti biasa
Kau melambai, aku mengangguk
Langit siap menabur benih
Sedia bumi menanda sesiapa
Yang tak kenal takluk
Menjadi bagian hiruk pikuk
Langkah berayun.
Mengepal jemari menyumpal lamun.
Terimalah, segenap cinta
perempuan pematah jalanan
(Puisi Nurul Ludfia Rochmah)

 

April identik dengan Kartini, sebuah kegiatan sebagai salah satu peringatan terhadap perjuangan seorang perempuan yang sedikit mengharap persamaan dalam hal pendidikan bagi seorang perempuan agar lebih mampu untuk mendidik putra putrinya menjadi lebih baik, menjadi seorang isteri yang tidak mengecewakan ketika mendampingi suami dalam menjalankan kewajibannya, terlebih jika seorang suami yang didampinginya merupakan seorang pemimpin atau orang yang berpengaruh, sehingga seorang perempuan tersebut dapat mengimbagi peran suami. Hal ini tidak berlaku ketika seorang perempuan menjadi seorang pemimpin, karena ketika seorang perempuan tampil menjadi pemimpin dalam instansi pemerintahan, tidak selalu menyertakan peran laki-laki sebagai seorang suaminya.sebagai contoh ketika seorang perempuan menjadi isteri seorang kepala desa, maka dia ditunjuk sebagai ketua tim penggerak PKK dan jabatan melekat dari isteri pejabat, namun hal ini tidak berlaku jika terjadi sebaliknya.

Terlalu banyak perempuan yang sukses menjadi pemimpin, karenanya tidak perlu untuk dibahas lagi dalam tulisan ini, karena pada dasarnya perempuan itu sangatlah kuat dan hebat, (tidak salah jika ada adagium bahwa untuk menaklukkan perempuan, banyak laki-laki butuh tambahan stamina/jamu). Perempuan diciptakan sebagai manusia yang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki seorang laki-laki, dibalik keindahan dan kelemah lembutan yang dimiliki, menyimpan segenggam kekuatan yang luar biasa, karenanya tidak salah jika ada adagium The Power of Emak-emak. Hal ini menunjukkan bahwa ketika seorang perempuan mempunyai keinginan, maka dia akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencapai apa yang diinginkannya. Dalam hal tertentu perempuan seringkali tampil di depan tanpa keraguan menggantikan peran suaminya.

Kodrat perempuan sebagai seorang ibu nyaris yak tergantikan oleh siapapun, tugas berat dan mulia ini akan sempurna jika selalu didampingi dan dilindungi oleh laki-laki sebagai seorang suami dan Kepala Keluarga. Namun dalam kondisi tertentu seringkali perempuan harus berjuang sendiri untuk mendidik dan membesarkan anak anaknya. Dalam ajaran agama, diwajibkan untuk menuntut ilmu bagi seorang laki-laki dan seorang perempuan, sedangkan kewajiban mencari nafkan menjadi kewajiban seorang laki-laki, namun dalam ajaran agama juga tidak ada larangan secara tegas bagi perempuan untuk bekerja (sepanjang masih memenuhi norma agama dan susila), terlebih dengan populasi perempuan yang lebih banyak daripada laki-laki memberikan ruang yang lebih besar bagi perempuan untuk beraktifitas diluar peran sebagai ibu rumah tangga tanpa melupakan kodratnya.

Terlepas dari kesuksesan banyak perempuan di kancah nasional maupun internasional, masih banyak perempuan yang harus berjuang menghidupi keluarganya (tanpa suami), mereka harus berperan ganda sebagai Ibu rumah tangga yang sekaligus sebagai kepala keluarga. Prosentasenya sangat njomplang dibandingkan dengan seorang lelaki sebagai Kepala Keluarga yang tidak didampingi seorang isteri dengan perempuan yang merangkap sebagai kepala keluarga.

Pasal 31 Undang-undang Nommor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa suami adalah Kepala Keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga, dan seiring dengan perkembangan zaman, tidak sedikit perempuan yang melakukan kegiatan diluar rumah, sedangkan suami berada dirumah. Begitupun dengan para perempuan yang harus hidup dengan anak anaknya tanpa adanya suami sebagai kepala keluarga. Hal ini membuktikan bahwa perempuan lebih tangguh untuk hidup mandiri. Dikutip dari statistik,jakarta.go.id., bahwa seiring dengan berkembangnya zaman, banyak hal yang mulai bergeser salah satunya tugas suami sebagai kepala rumah tangga digantikan oleh isteri dan sebaliknya, berdasarkan data BPS DKI Tahun 2020 sebesar 45,44% isteri menjadi kepala rumah tangga berumur kurang dari 20 tahun, sedangkan laki-laki dengan umur yang sama hanya 54,56% sebagai kepala rumah tangga.

Puisi Perempuan Pematah Jalanan sebagai salah satu gambaran bagi seorang perempuann yang harus melakukan aktifitas semenjak matahari belum menampakkan sinarnya, perempuan harus menyiapkan keperluan keluarganya, belum lagi untuk menyiapkan keperluan dirinya sendiri. Terlebih banyak perempuan yang harus beraktifitas diluar rumah sebelum pagi menjelang, bisa dibayangkan betapa tanguhnya perempuan perempuan ini yang mencari rizki sejak dini hari. Peran mereka nyaris tak terlihat, namun hasil yang dilakukan sungguh luar biasa.


Perempuan pematah jalanan bukan hanya dilakukan oleh mereka yang merangkap sebagai kepala keluarga saja (singgle parent), tidak sedikit perempuan sebagai ibu rumah tangga yang melakukan kegiatan diluar rumah untuk membanntu mencukupi kebutuhan rumah tangganya, bahkan menjadi tulang punggung keluargannya yang harus beraktifitas diluar rumah. Kewajibannya sebagai ibu rumah tangga banyak yang mengharuskan dirinya memulai aktifitas ketika anggota keluarga lainnya masih terlelap.

Perempuan yang diciptakan sebagai makhluk terindah juga rentan terhadap perilaku pelecehan dimanapun berada, bahkan hak privasi tersebut kadang juga dilakukan ketika seorang perempuan melakukan pemeriksaan organ reproduksi, bahkan ketika sedang melahirkan, karenanya edukasi terhadap hak-hak privasi perempuan perlu dilakukan oleh pemangku kebijakan agar ada rasa nyaman terhadap seorang perempuan dalam menjalankan aktifitasnya.

Perjuangan Raden Ajeng Kartini yang menginginkan kesetaraan dalam memperoleh pendidikan bagi perempuan sebagai pengejawantahan ajaran agama yang dianutnya. Pendidikan tersebut sangat penting bukan hanya untuk memperoleh pekerjaan yang layak, namun lebih pada peran perempuan sebagai seorang ibu yang harus mendidik putra putrinya.. Pesatnya perkembangan zamat menuntut seorang ibu lebih peka terhadap perilaku anak anaknya, karena kesuksesan seorang anak tidak akan terlepas dari peran seorang ibu.

 

*Penulis adalah Guru MI Darul Amien Jajag Kec. Gambiran

 

 

MTsN 11 Bsnyuwangi Bagi Takjil

 

Siswa MTsN 11Banyuwangi kembali membagikan Takjil dijalan Raya Kalibaru Kemarin (30/5). Takjil terdebut dibagikan kepada para pengendara, terutama yang menggunakan sepeda gayung dan motor.

Sri Endah Zulaikhatul Khatimah, S.Ag., M.Pd menyampaikan bahwa kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk bakti sosial, melatih siswa siswa untuk berorganisasi. 'Selain bagi takjil, siswa juga kita libatkan dalam panitia zakat fitrah' ungkapnya.

Lebih lanjut Bu Zul (panggilan akrabnya) menyampaikan bahwa panitia yang dibentuk madrasah diberi SK oleh BASNAS Kabupaten Banyuwangi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga panitia zakat di MTsN 11 Bsnyuwangi sah sebagai Amil.


Bagi-bagi takjil gratis yang dilakukan merupakan sumbangan guru dan siswa serta beberapa donatur yang ingin ikut berperan memberikan sedikit Rizki untuk berbuka. Bu Zul berharap dengan kegiatan ini melatih kepekaan sosial dan organisasi siswa sebagai bekal pendidikan selanjutnya dan hidup di masyarakat.

Masyarakat Terdampak Tol Pertanyakan Kelanjutan Uang Ganti Rugi

 

Masyarakat Terdampak Tol Pertanyakan Kelanjutan Uang Ganti Rugi

 

Masyarakat terdampak rencana pembangunan jalan tol trans Jawa Probowangi III diwilayah Desa Watukebo Kecamatan Wongsorejo mempertayakan kelanjutan proses pembebasan lahan milik mereka yang terkena rencana pembangunan jalan tol Probolinggo - Banyuwangi (29/4). Banyak dari mereka yang telah merencanakan pembelian lahan pengganti dari lahan yang terdampak tol tersebut dan telah memberikan DP (yang muka). Hal ini disampaikan salah satu warga terdampak tol, Hasbullah ketika awak media. Dalam kesempatan tersebut Hasbullah menyampaikan bahwa warga hanya ingin kepastian kelanjutan proses pembebasan lahan miliknya itu saja. "Warga hanya ingin kepastian, itu saja" ungkapnya.


Warga sudah mulai resah dengan tanah yang terdampak trase rencana pembangunan jalan tol Probowangi yang sampai saat ini belum menerima UGR (Uang Ganti Rugi), sedangkan proses pengukuran dan iventarisasi obyek oleh petugas sudah dilaksanakan di Desa Watukebo. Mereka tidak tahu harus menyampaikan masalah ini kemana. Warga telah menyampaikan keluhan masalah ini kepada Pemerintah Desa Watukebo, namun sampai sekarang seperti tidak ada kabar beritanya.

Seperti diketahui bahwa Jalan Tol Probowangi terbagi menjadi tiga seksi. Seksi 1 Probolinggo-Besuki (29,6 kilometer), Seksi 2 Besuki-Bajulmati (110,875 kilometer), dan Seksi 3 Bajulmati-Ketapang (31,041 kilometer). Untuk seksi 2 Besuki – Bajulmati, wilayah yang masuk Kabupaten Banyuwangi, sebagian besar berada di Desa Watukebo. Patok patok rencana pembangunan jalan tol tersebut telah Nampak yang sebagian besar berada di area perkebunan dan sawah warga.

Selain tanah warga, Trace rencana pembangfunan jalan tol juga mengenai beberapa tanah dengan status wakaf, seperti yang mengenai tanah wakaf untuk kesejahteraan MI dan Masjid Salafiyah. Pengelola Mi Salafiyah Hasbullah menyampaikan bahwa ada dua lahan persawahan yang dikuasai MI Salafiyah yang terdampak tol, dan mekanisme pembebasan lahan dengan status wakaf adalah tukar guling. “sebenarnya banyak warga yang menawarkan tukar guling tanah wakaf terdamak tol, namun kami belum berani sebelum ada kepastian dari yang berwenang dalam pembebasan lahan tol” ungkapnya.

Hasbulllah juga menyampaikan bahwa dalam tukar guling tanah wakaf untuk kepentingan umum tersebut juga ada tim penilai yang dibentuk oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. “ada tim yang dibentuk yang ketuasnya dari Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi” ungkapnya. (syaf)

Sayangnya Aku

Sayangnya Aku
oleh : Uswatun Hasanah

 Biduk penantian lama bersenggama

Hingga asyik lupa segalanya 

Tak pedulikan siapa siapa

Hanya ada satu nama


Sayangnya dia kini acuh

Tak ada lagi sapa sauh

WA tak dibalas 

Chat hanya melintas


Aku gabut kalut

Bagaimana lagi merajut

Kebersamaan terenggut

Tinggal kenangan sesudut


Sayangnya aku masih tak bisa lupa

Saat saat indah bersamanya

Setiap minggu berdua

Menapaki jalan serenda buta


Sayangnya aku masih memimpikanya

Berjalan bersama

Menggandeng tangannya

Menuju pelaminan bak ratu raja


Sayangnya Aku...

uswah, 280421

Selamat Pagi Matahari

 Selamat Pagi Matahari

By. Viefa


Mata embun menyulam pagi


Gesek rerumput tersayat sekulit Ari

Selamat pagi matahari


Langkahku serunai mimpi

Sekuat sorot tajam rajawali


Selamat pagi matahari

Apa kabarmu hari ini

Gending wetan masihkah menyisakan tangis


Hoooiii

Blambangan miris

Laut menangis

Tanjungwangi menatap sunyi

Ikan ikan pari teri tak bisa menahan diri

Gelembung gelembung pasrah memeluk

53 lelaki 


swarapagi@Viefa

Bwi, 270421

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger