Pages

BUKALAH SEKARANG

 BUKALAH SEKARANG

Oleh : Faiz Abadi

Kalau tidak sekarang

Kapan kau buka

Miftahul jannah

La ilaaha illallah

Tidak takutkah kau kehilangan

Tidak pernah mendapatkannya

Sebab selalu menunda 

Dari mencari jalan 

Di antara pilihan

Menyesal

Ujung akhirmu penyesalan

Luruskan segenap muka dalam keteguhan

Sebelum kau terpuruk pada fatamorgana

Seolah olah kamu ada

Tetapi lalu terhempas bagai buih

Ditengah lautan samudra

DIA BERSEMBUNYI

 DIA BERSEMBUNYI

Oleh : Faiz Abadi

Rasakan dalam Rahsamu

Dia bersembunyi

Dibalik suka cita

Kadang dibalik kegelisahan yang paling dalam sekalipun

Bersembunyi dibalik riak yang menyeruak

Saat 'Aku' menjadi raja atas diriku

Sesungguhnya yang hinggap di mata

Sebenarnya fatamorgana

Sesaat puluhan tahun saja

Dia yang Bersembunyi

Tak pernah terikat oleh rasa

BERAPA LAMA

 BERAPA LAMA

Oleh : Dardiri

Berapa lama kau temukan mutmainahmu

Bersembunyi di antara relung hati

Apakah kau hendak merugi

Hingga ajal menjemput

Tak jua kau dapatkan

Bahkan kesia siaan

di antara belantara logika

Karena mata hati sudah buta

Tak pernah bertemu dengannya hingga pada penghujung nafas

Tawadhu mu hilang 

Sebab tahlilmu baru di mulutmu saja

Jarum 2

 “Jarum 2”

Oleh : Dardiri

Aneh. 

Akhir-akhir ini aku mulai senang menyoal tentang jarum. Ya, jarum. Yang mula-mula berasal dari gumpalan kecil bijih besi, baja, tembaga, alumunium, timah, emas, atau malah bisa juga plastik yang notabene bukan logam tetapi lebih lunak dan mudah rusak tentunya. Karena jarum mainan. Lalu tampillah jarum dengan berbagai wajah. Peniti, bros, emblem, brevet, lencana, tanda jasa, dan entah apa namanya yang lain lagi, aku tidak hafal. Itupun sebenarnya adalah sederetan perwujudan jarum dengan tampilan berbeda. Tetapi bukan itu persoalannya. Melainkan jarum. Setelah dicetak panjang membatang dan diasah pabrikan, tajamlah ia. Lalu masuk loper industri dari busana sampai tender PILKADA ternyata tidak lepas dari peran jarum. Mungkin tidak akan ditemukan sebentang kainpun setelah jadi busana maha mewah yang tidak pernah tertusuk jarum. Di dunia perhotelan, perniagaan, pun di kantor-kantor resmi tak luput dari keberadaan jarum di dalamnya. Di dunia kesehatan sangat lazim dan sudah sangat bersahabat dengan apa yang dinamakan jarum. Alat injeksi paling tepat untuk menangani pasien tentunya jarum, dan ketika musim pandemi Virus Covid 19 masa sekarang yang sedang gencar-gencarnya jarum juga menjadi sarana paling depan untuk uji rapid dan lain sebagainya. Dari dunia perdukunan yang nyentrik dan selalu dikaitkan dengan hal-hal berbau klenik sampai khasanah pesantren di bawah ulama kharismatik yang selalu bersentuhan dengan cahaya Tuhan, pun tak lepas dari peran keberadaan jarum di kesehariannya. Tak bisa dipungkiri.

Aneh.

Ada berapa banyak jarum di rumah kita?. Di peraduan, di kamar mandi, di tempat cucian, di dapur dan beranda belakang, di halaman depan, malah kadang ada yang nyangkut nongol begitu saja di ruang tamu berubin yang sebenarnya kurang elok dan berbahaya bagi anak kecil. Tetapi toh tetap saja jarum akan tetap jarum. Ia tidak perduli dengan semua itu. Ia tetap saja panjang membatang dan tajam meruncing. 

Aneh.

Dan juga sedikit nyeleneh. Kadang-kadang ada yang menjerit tertahan karena tertusk jarum, ah, tidaklah seberapa perihnya. Tetapi tetap ada darah. Ya darah yang sebenarnya enggan keluar dari peraduannya, dengan ikhlas mencecah dirinya sendiri setelah tusukan jarum mengecupnya. Kemudian dilemparlah ia. Dan jarum, tetap saja jarum tidak berganti nama. Jatuh, dilempar, dibanting, kadang malah dibakar, tetap saja panjang membatang dan tajam meruncing.

Aneh.

Ketika seorang laki-laki sedang kasmaran ia mengirimkan kado istimewa untuk kekasihnya yang berada di luar kota. Dengan hati-hati dan rapi sekali laki-laki itu membungkus kadonya dan disematkan mawar merah di atasnya. Tentu saja dengan bantuan jarum. Diapun tidak pernah tahu bagaimana kekasihnya kelak membukanya dan bisa juga jemarinya yang halus dan wangi serupa bunga tunjung itu akan sedikit tergores oleh jarum.  Darinya. Tetapi, tetap saja jarum tidak memerlukan itu atau malah tidak megetahuinya. Ia hanya berperan sebagai  jarum tidak lebih. 

Aneh. 

Jarum tidak pernah marah atau mendendam. Ia hanya diam dan menikmati ketenangannya sebagai jarum. Ia sebenarnya menyimpan misteri teka-teki yang saban hari berkeliaran dalam keseharian kita. Sewaktu-waktu kapan saja mudah baginya untuk aus atau hilang dan baru diketemukan ketika  bongkah sembrani diseret sepanjang jalan atau malah ketemu nyungsep di barang rongsokan. Dasar jarum, iapun hanya diam dan dengan lapang dada menerima titik nadir terakhirnya sebagai jarum. Dibuang atau dilupakan begitu saja. Toh dengan gampangnya jarum-jarum baru didapatkan. Entah dari membeli di toko-toko kelontong atau minta saja kepada teman pasti diberi. Karena hanya jarum. Harga murahnya bikin geli. Dan tidak pernah ada satupun perdebatan di muka bumi ini tentang jarum. Betapa konyolnya. Padahal bayangkan saja. Kalau tidak ada jarum. Tentu rotan maupun akar tidak akan bisa menggantikan kedudukannya sebagai jarum. 

Aneh.

Dunia jarum adalah dunia logam dan bukan logam. Yang hanya panjang mambatang dan tajam meruncing. Kodratnya adalah menusuk dan menikam, ia tidak mengenal iba dan cita-cita. Ia tidak peduli dengan asmara dan rasa kagum tiba-tiba yang sebenarnya sering tertumpah bersamanya di dalam saku kita. Ia tidak memahami rasa sakit atau perih berkat gores dan sayatan yang muncul setelah berpapasan dengan runcingnya yang tajam. Ia juga tidak mengerti acara-acara di televisi atau situs-situs langka dalam dunia maya yang belakangan ini digandrungi manusia lebih dari kekerabatan rasa kepada saudara. Ia juga tidak pernah resah menahan rindu ketika tidak bertemu dengan sesiapapun juga bahkan ketika tidak diperhatikan sama sekali. Ia juga tidak memerlukan mantel untuk melindungi diri ketika hujan begitu derasnya di luar sana. Dengan bebas dan ikhlas diterimanya saja buliran hujan, karena toh ia tidak akan merasakan kedinginan. Jarum, benar benar jarum. Ia pun tidak memerlukan teduh ketika amukan matahari memberangus bumi, karena toh, panas tak menyurutkan ia menjalani kodrat sebagai jarum. Ia juga tidak akan pernah ikut merasakan betapa lembayungnya senja dengan pendar jingganya di ufuk barat ketika kita duduk di tepian dermaga atau di bawah pohon lo berbunga dadu di halaman rumah kita, yang ketika kelopak  bunganya berguguran satu atau dua di hadapan kita selalu kuselipkan di sela kerudungmu yang abu-abu itu, dan ada jarum pula di bawah janggut dan bibirmu yang ranum dan basah karena rindu yang tak lagi beku sesudahnya. Sungguh sebenarnya hatiku menggerutu dan selalu ingin kutahan senja agar lebih lama karenanya. Tetapi lagi-lagi. Jarum tidak pernah mengerti. Ia hanya jarum saja. Bahkan ketika malam tiba dan kita masuk ke dalam rumah. Lalu bincang-bincang di beranda dalam. Ia tetap jarum saja. Tidak pernah ia bertanya mengapa. Lalu, ketika kita masuk ke peraduan dan membuka kembali bingkisan senja yang  kita simpan dalam ingatan kita. Jarum yang masih melekat di bawah bibir dan janggutmu kurenggut perlahan-lahan. Kucampakkan. Dan kita ulangi lagi pendar jingga senja di bawah  intaian rembulan merah saga, atau dalam gulita, toh kita tidak pernah kehilangan sebingkis senja dalam benak kita. Dan jarum. Masih saja jarum. Ia diam saja. Bahkan ketika pendar jingga kita lepas bersama. 

Aneh. 

Tiba-tiba pikiranku mengumpamakan. Kalau saja aku jarum dan kamu pun juga jarum. Apakah kita hanya akan membatang panjang dan meruncing tajam?. 

Ahh.

Seandainya aku jarum?. Tidak. Aku bukan jarum. 

Seandainya kamu jarum?. Bukan. Kamu tentu bukan jarum. 


Aku hanya ingin mencintaimu dengan kodrat manusia. 


Dan jarum. Agaknya menjadi saksi tanpa kata.

Bahwa kita, 

Ada,-


……………………………………………………………………………………………………………………….


(K G P H : 15 Februari 2021)

Membaca Indonesia

 “Membaca Indonesia”

Oleh : Dardiri

Aku tersipu sedikit malu menatap tumpukan buku,

Di dalam kamus tebal berwarna cokelat abu-abu,


Membaca,

Indonesia,

Dengan dua ratus tujuh puluh lima juta nyawa,

Menduduki tujuh belas ribu empat ratus sembilan puluh satu daratan,

Bertutur sapa dengan tujuh ratus delapan belas ragam bahasa,

Bertingkah di tiga puluh empat ibu keramaian kota,


Kubaca,

Indonesia,

Ada yang bercetak tebal warnanya,


Tentang ibu kota yang ramah dan senantiasa terbuka,

Tentang bencana yang membabi buta,

Tentang geraham dunia dengan lubang menganga,

Tentang mata air membanjir menjadi genangan air mata,

Tentang nurani kian gerimpis menipis,

Tentang berita-berita memperkosa kemerdekaan bicara,

Tentang sandiwara dan drama bertokoh bunda tua dan bapa renta,

Tentang tukang sihir memelintir peristiwa,

Tentang panglima membawa tongkat sewarna lembayung senja,

Tentang air susu ibu menawar rasa,

Tentang prasangka mengurungkan perkara,

Tentang delik berakhir pelik,

Tentang penipu berparas lugu,

Tentang merdeka dan kebebasan suara,

Tentang cinta tanah air dan bangsa,

Tentang undang-undang dengan nada sumbang,

Tentang peraturan terbentur kepentingan,

Tentang perdagangan bermuka bantuan,

Tentang wabah berburu dalam ziarah,

Tentang tawar menawar harga pasar,

Tentang hak asasi tengah dikebiri,

Tentang petisi dan somasi,

Tentang kongsi dan koalisi,

Tentang afiliasi dan aliansi,

Tentang hoak dan berita bijak,

Tentang negeri bermukim maritim,

Tentang lupa warna bendera,


Tentang Negara Besar Indonesia Raya,


Dan tentang kita,

Yang tengah bermain petak umpet di dalamnya,-


(K G P H : 14 Februari 2021)

SEPERTI MENDAKI BUKIT TINGGI

 SEPERTI MENDAKI BUKIT TINGGI

Oleh : Faiz Abadi

Menuju padaNya

Seperti mendaki bukit yang tinggi

Hati khusyuk kadang remuk

Sebelum pada puncak tawadu

Perbekalan tertinggal

Oleh nafsu yang nakal

Kadang jatuh pada lembah tipu daya

Mencintai bukan milik sendiri

Memeluk bukan haknya

Melumpuhkan rindu padaNya

Melunturkan kerinduan syafaat pada rasulnya

Hati terus berpaling dari mengingatNya

Dia pun melupakan manusia tentang tujuan diri sendiri

Apabila Dia berpaling berarti murkaNya

Jangankan hendak ke puncak bukit paling atas

Baru melangkah sudah hilang arah

Tersesat di hutan belantara bersama para durjana

Mabuk penasaran karena kelalaiannya

Apa hendak kau tunggu

Sebelum semua berakhir

Tanpa ada kesempatan untuk bertaubat

Kembalilah pusatkan kerinduan

Menuju satu jalan lurus padaNya

Ayah, Ibu, Sarung Kotak-Kotak, dan Indonesia

 “Ayah, Ibu, Sarung Kotak-Kotak, dan Indonesia”

Oleh : Dardiri


Seorang wanita setengah baya,

Ibu namanya,

Menunjuk ke langit timur,

Apakah Papua benar-benar ingin merdeka?,

Langit baratpun menjawab,

Semenanjung utara Andalas masih Indonesia,

Dari utara terdengar kabar,

Miangas masih berasas, 

Pancasila namanya,


Seorang laki-laki setengah baya,

Ayah namanya,

Telunjuknya melambai angin laut,

Membawa berita menyeringai kabut,

Bahwa kerajaan besar Laut Selatan,

Masih berbendera Getih Getah dan Gula Kelapa,

Langit-langit di atas Nusantara,

Masih dalam jelajah garuda bersayap terbuka,

Mata air di bawah rimba belantara,

Masih berlinang tumpah darah Bhineka Tunggal Ika,


Sarung kotak-kotak biru tua,

Tergantung di jemuran kawat,

Masih berlumur lembab mukanya,

Karena hujan menghadangnya sejak pagi masih belum sepenuhnya menuntaskan hasrat,


Sarung kotak-kotak biru tua,

Bergambar bola dunia,

Di dalamnya,

Tercetak deretan pulau dan selat merapat penuh kerabat,

Tanjung dan teluk dengan sampan-sampan nelayan,

Gunung dan ngarai merimbun padang gemilang, 

Kerikil dan pasir mendesir silih berganti,

Danau dan telaga sewangi asap setanggi,

Sungai dan selokan dengan bau tanah,

Lenguh kerbau dan kokok ayam jago memerah pagi,

Jingkrak kuda dan gonggong anjing memperanakkan hari,

Bising tukar tawar pegadaian keringat anak negeri,


Ibu,

Jari telunjukmu yang agung,

Menunjuk puncak Singgalang, Merapi, Agung, Rinjani, Bukit Raya, Soputan, Binaiya, Puncak Jaya dan Mandala,

Ayah,

Lambaian tanganmu yang berwibawa,

Menepuk aliran Musi, Bengawan Solo, Kapuas, Lariang, Ayung, Wae Nuwa, Sapalewa, dan Mamberamo,


Ayah,

Ibu,

Di bahumu sering terdengar,

Nyanyian padu suara menyeru, 

“Padamu Negeri Kami Berbakti”,

“Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami”,


Kami mungkin lupa menyanyikannya bersama-sama lagi,

Kami mungkin tidak lagi mengingatnya sepenuh hati,

Tetapi,

Kami berteriak,

Kami merangkak,

Kami mengumpat,

Kami bersyahadat,

Kami bermartabat,

Kami ramai-ramai mengajukan syarat,

Kami mengerat musim-musim berkarat,


Kami luruh bersimpuh,

Kami tersungkur melebur,

Kami tumpah merebah,


Di atas tanah Indonesia,

Di kecipak air Indonesia,

Di desau angin Indonesia,

Di bara api Indonesia,


Ayah,

Ibu,

Jari telunjuk dan telapak tanganmulah yang memapah kami dan menunjukkan getirnya pagi,

Seru kalianlah yang mengajarkan kami jeramnya malam,

Nina bobok kalianlah yang mendidik kami tentang teduhnya udara,

Bisik lembut bibirmulah yang memperkenalkan pertama kali tentang Tuhan,

Di rumah besar bertuliskan “Pancasila”,


Kukenakan sarung kotak-kotak biru tua,

Bergambar bola dunia,

Bercetak deretan pulau dan selat merapat penuh kerabat,

Merangkum nama ibu bagi nyawa,

Merekam gelar ayah bagi raga,


Dalam sarung kotak-kotak biru tua,

Bergambar bola dunia,

Bercetak deretan pulau dan selat merapat penuh kerabat,

Kita disekat garis dan warna tidak serupa,

Kami dilipat cetak dan gambar berbeda,


Tetapi kami,

Tak ingin terkoyak oleh kotak-kotak tidak bernyawa,

Tak ingin terporak-poranda karena sebutan nama,


Kami tak ingin sekedar merdeka,


Yang kami inginkan,

Hanyalah,


“INDONESIA”,-



(K G P H : 14 Februari 2021) di

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger