Pages

Dermaga 3

 “Dermaga 3”

Oleh : Dardiri

Berlayar saja,

Karena sauh telah jauh,

Meninggalkan tiang pancang,

Berkendara di seberang ufuk,

Menenun persembunyian keseharusan,

Labuh bagi dermaga,

Pelana baja bagi kuda perang,


Ingin sekali ditulisnya sendiri,

Tentang betapa sempitnya semesta,

Di hadapan rindu yang tersekap jarak,

Atau, dilukiskannya sendiri,

Tentang begitu cepatnya senja,

Ketika, guratan bulan sabit muncul tiba-tiba dan tak didapatinya kau di sana,


Kadang juga,

Ingin ia bertanya,

Tentang siapa yang menyadap hujan dan menjadikannya genangan demi genangan di setiap ruas jalan,

Tentang bagaimana lalimnya keadaan, melahirkan kebersamaan yang tak pernah menyatu,


Kamu?,


Menyimpan sendiri tajam tanya-mu,

Di sebuah ceruk, atau lebih tepatnya palung tanpa pusaran,

Di sebuah ngarai, atau lebih tepatnya jurang paling curam,

Rahasiamu yang paling perawan,


Rindu?,


Berlayar sendirian,

Melewati labuh demi labuh,


Mencari dermaga,

Yang telah lama ditinggalkannya,-


(K G P H : 30 Januari 2021)

PERTAPAAN ABAD TERSISA

 PERTAPAAN ABAD TERSISA

Oleh : Faiz Abadi

Apabila  lapar hanya meliuk seputar raga

Pengajar dan obyek adalah badut badut

Mana mungkin risalah Sunan Kalijaga akan terulang

Kepatuhan penuh seluruh pada Sang guru Sunan Bonang

Adalah kepahitan raga

Sehingga lenyap seperti moksa

Jiwa menyatu dalam bentengNya

Tanpa harus menunggu detik terakhir batas nafas 

Karena kepatuhan bukan soal berapa lama

Tetapi bagaimana Dia menerima

Kadang di antara kita tidak lebih baik dari siswa di biara biara

Tidak meninggalkan satu rambutpun di kepala

Totalitas tidak terbatas

Adalah kawah candradimuka agar hjjab cepat terbuka

Sederhana saja lihat iqro pembuka

Alif lam mim

Kejujuran pada setiap oksigen terhirup dalam tiap detik waktu

Di akhiri miftahul jannah

Walaupun pertapaan kini berbeda

MenujuNya tetaplah sama

Tidak perlu lencana untuk menggapai rahmatNya

Wulandari” (Segmen Angin)

 “Wulandari”

(Segmen Angin)

Oleh : Syafaat

Suatu pagi,

Ketika mendung sedang tidak terjadi,

Di halaman rumahmu,

Ada yang diam-diam selalu kau perhatikan,

Kuntum mawar,

Ya, mawar yang merona parasnya,

Karena gembira,

Tengah mengadukan biak kelopaknya,

Kepada pinangan angin,

Ia sedang menghitung kepak mahkotanya sendiri,

Sebelum tanggal oleh angin pula,


Agaknya,

Ada yang sedang menyeruak karena sesak tak lagi sanggup menampungnya,

Dari cekungan di atas bola matamu yang serupa lingkar mimpi semalam,


Kenapa pagi tidak selalu begini?,

Lalu,

Sekeping rindu yang selalu bermukim dalam kegelisahanmu,

Tiba-tiba terbang,

Menjadi kuncup angin,


Ahh,

Kartu namamu terjatuh dari kancing bajumu yang terlepas,

“Wulandari”,

Begitulah tulisan di dalamnya,

Dan,

Angin membiarkannya begitu saja,-


(K G P H : 30 Januari 2021)

Sekuntum Kerinduan

 Sekuntum Kerinduan

Oleh : Syafaat

Sekuntumum angin yang kau petik dari halaman rumahmu

Dan kaubawa mengajar pagi ini

Ingin kuhirup kembali agar hilang kerinduanku

Tidak seperti kangenku pada kopi Bu Lutfi

Atau kenangan kita mencari kembang

Seikat angin dengan bulir gerimir juga kupetik di halaman

Untuk menghilangkan dahaga kecupanmu

Kutuang nada nada cinta

Pada barisan huruf WA

Gerimis asmara semalam masih terasa

Membilas embun mesra daun senyum manismu

Tak kusadari wulandari dilangit sepi

Bergelut dengan awan dan kaubisikkan suara cintamu

Pada buliran gerimis malam

Yang membawaku pada impian

Menikah dengan bayangmu

TERGANTUNG MIMPIMU

 TERGANTUNG MIMPIMU

Oleh ; Faiz Abadi

Apa kalimat terucap

Pada saat satu tarikan nafas saja

Sederhana saja kawan

Seperti mimpi mimpi setiap hari

Apakah inginmu ngelantur asal mendengkur

Atau terbuai seperti mengejar wulandari

Sedangkan dia terus berlari

Atau mengejar ngejar kursi birokrasi juga politik

Padahal jelas tidak terusik

Usiamu sudah berapa

Padahal milikmu kadang diambil begitu saja

Tidak mengenal usia

Masihkah dari hari ke hari kau tunda

Membiarkan jati diri mengembara

NamaNya tidak pernah tersentuh olehmu dalam detik detik ingatanmu

Bahkan waktu terus  beralih siang malam minggu bulan tahunmu

Kau tidak pernah hadir

Terus alpa

Lucunya terus sibuk mencari nama

PERTAPAAN ABAD TERSISA

 PERTAPAAN ABAD TERSISA

Oleh : Faiz Abadi

Apabila  lapar hanya meliuk seputar raga

Pengajar dan obyek adalah badut badut

Mana mungkin risalah Sunan Kalijaga akan terulang

Kepatuhan penuh seluruh pada Sang guru Sunan Bonang

Adalah kepahitan raga

Sehingga lenyap seperti moksa

Jiwa menyatu dalam bentengNya

Tanpa harus menunggu detik terakhir batas nafas 

Karena kepatuhan bukan soal berapa lama

Tetapi bagaimana Dia menerima

Kadang di antara kita tidak lebih baik dari siswa di biara biara

Tidak meninggalkan satu rambutpun di kepala

Totalitas tidak terbatas

Adalah kawah candradimuka agar hjjab cepat terbuka

Sederhana saja lihat iqro pembuka

Alif lam mim

Kejujuran pada setiap oksigen terhirup dalam tiap detik waktu

Di akhiri miftahul jannah

Walaupun pertapaan kini berbeda

MenujuNya tetaplah sama

Tidak perlu lencana untuk menggapai rahmatNya

TERGANTUNG MIMPIMU

 TERGANTUNG MIMPIMU

Oleh : Dardiri

Apa kalimat terucap

Pada saat satu tarikan nafas saja

Sederhana saja kawan

Seperti mimpi mimpi setiap hari

Apakah inginmu ngelantur asal mendengkur

Atau terbuai seperti mengejar wulandari

Sedangkan dia terus berlari

Atau mengejar ngejar kursi birokrasi juga politik

Padahal jelas tidak terusik

Usiamu sudah berapa

Padahal milikmu kadang diambil begitu saja

Tidak mengenal usia

Masihkah dari hari ke hari kau tunda

Membiarkan jati diri mengembara

NamaNya tidak pernah tersentuh olehmu dalam detik detik ingatanmu

Bahkan waktu terus  beralih siang malam minggu bulan tahunmu

Kau tidak pernah hadir

Terus alpa

Lucunya terus sibuk mencari nama

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger