Pages

Sepetak Tanah Surga

 Sepetak tanah surga adalah Banyuwangi

                                             Oleh : Bithari Novi Agustin

Inilah estetisnya kota Banyuwangi. Kabupaten Banyuwangi adalah kabupaten paling timur di pulau Jawa yang sudah termasyur kekayaan alamnya. Berbagai macam sumber daya alam telah tertanam di Banyuwangi. Bermacam sejarah, budaya, mitologi, tak ada habisnya diperbincangkan.

Kota yang berjuluk sunrise of Java ini mendapatkan peringkat pertama sebagai kabupaten/kota dengan kinerja terbaik di Indonesia yang ditetapkan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bulan Oktober lalu. Pencapaian ini tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Banyuwangi. 

Setelah transformasinya kini, Banyuwangi melejit hingga pelosok tanahnya. Kemendagri bahkan juga menetapkannya sebagai kabupaten paling inovatif melalui kompetisi Innovative Government Award (IGA) pada tahun 2018. Sungguh kebanggaan yang tiada tara atas pencapaian yang begitu luar biasa ini. Pemerintah dan masyarakat yang  begitu memperhatikan kemajuan Banyuwangi ini dipandang sangat perlu diapresiasi. Tidak hanya itu, kita semua memang patut bersyukur atas apa yang Tuhan berikan pada Kabupaten Banyuwangi.

Hal yang tak asing di berbagai kalangan, yang juga berhubungan dengan Banyuwangi adalah adanya budaya santet. Santet tak asing lagi  didengarkan. Tak hanya penduduk Banyuwangi, bahkan orang-orang di luar kota pun seakan ikut membentuk menciptakan opini kesejajaran antara santet dan Banyuwangi. Bagaimana tidak? Kalau siapa pun bertanya tentang Banyuwangi pasti mereka juga akan mempertanyakan pula tentang santet. Santet identik dengan Banyuwangi.

Tapi kenapa begitu? Santet juga ada di kota lain selain Banyuwangi. Bahkan di kota-kota lainnya santet juga memiliki popularitas yang tinggi. Tapi kenapa santet selalu dihubung-hubungkan dengan Banyuwangi?. Jelas persepsi seperti itu membuat beberapa orang Banyuwangi merasa risih. Sebab selalu saja ada orang-orang yang mempertanyakan santet ketika bertemu orang yang berasal dari Banyuwangi. Padahal budaya lainnya masih asik dibahas. Ketika santet saja sudah tidak terlalu populer dan melekat di Banyuwangi, kenapa khalayak masih saja menyetarakannya?.

Dari dulu hingga saat ini Banyuwangi dikenal dengan kesuburan tanahnya. Sebelum kependudukan tentara Jepang wilayah Banyuwangi secara ekonomis tanpa kekurangan ditunjang dari kondisi alamnya yang cukup subur. Bahkan daun genjer saja dulu dianggap sebagai tanaman parasit. Saat ini menjelma menjadi menu makanan yang lezat.

Selain kaya akan hasil alamnya, Banyuwangi juga terkenal akan kekayaan seni budayanya. Kebudayaan tari tradisional seperti Gandrung, telah menjadi identitas diri Banyuwangi. Filosofi dan gerakannya telah mengalir secara alami di dalam jiwa rakyat Banyuwangi. Suku Osing atau lare Osing adalah mayoritas penduduk di Banyuwangi, seakan menjadi organ tubuh yang takkan pernah lepas dari identitas Banyuwangi. Kesenian-kesenian rakyat sudah marak ditampilkan bahkan sejak jaman kolonial seperti kesenian Gandrung atau upacara adat seperti Seblang dan Kebo-keboan.

Kesenian dari lagu-lagu Banyuwangi akhir-akhir ini booming dalam dunia permusikan. Lagu-lagu berbahasa using ini ternyata digemari pula oleh orang-orang dari suku lain atau orang-orang yang bahkan sama sekali tidak pandai berbahasa using. Wow…Hal  ini sangat mengesankan, tanpa mengetahui artinya pun melodi khas lagu Banyuwangi atau biasa dikenal sebagai lagu Banyuwangen pun berhasil memikat seseorang hanya lewat aransemennya saja. Perlu diakui, seniman Banyuwangi memang profesional.

Bertahun-tahun lalu hingga sekarang Banyuwangi sedang berada dalam puncak keberhasilan. Pembangunan dan perkembangan mulai terlihat. Tentunya hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Melihat kondisi alamnya yang indah dan penuh dengan wisatawan, siapa yang tidak tertarik. Apalagi budaya-budaya lokalnya yang penuh dengan makna tersirat. Dengan melihat orang-orang yang tersenyum bahagia setelah berkunjung ke Banyuwangi siapa yang tidak tertarik?.

Untuk spot fotonya, kabupaten Banyuwangi juga tak kalah menariknya loh. Untuk para wisatawan yang gemar mengabadikan moment-moment menarik, kalian tidak perlu mencari-cari spot foto yang susah dijamah. Banyuwangi memiliki banyak solusi untuk masalah itu. Bahkan keindahan alam dan asrinya wisata di kabupaten Banyuwangi tak kalah menariknya dengan  tempat-tempat wisata di pulau Bali.

Pertama yaitu Taman Nasional Baluran. Taman Nasional Baluran ini memiliki pesona yang eksotik. Bahkan karena destinasi wisatanya yang begitu eksotik, wisatawan sampai menjulukinya sebagai little Africa. Karena pemandangan yang begitu indah dan Savana nya yang tak kalah bagus dari Afrika, pasti tidak akan rugi untuk menempuh perjalanan dengan jarak 40 kilometer dari Banyuwangi ke Situbondo dengan estimasi waktu sekitar 1 jam. Ada 3 destinasi wisata Taman Nasional Baluran yang wajib dikunjungi yaitu Evergreen, Savana Bekol, dan pantai Bama. Untuk informasi lebih lanjut dan menariknya lebih baik dikunjungi saja wisata ini secara langsung.

Selanjutnya yang tak kalah eksotis adalah Hutan De Djawatan yang berada di desa Benculuk, kecamatan Cluring. Tempat wisata ini sekilas mirip Hutan Fangorn dalam film The Lord of The King. Hutan De Djawatan juga pernah dijadikan latar tempat film Rasuk yang sempat populer di Indonesia. Maka dari itu, wisata ini menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung.

Destinasi wisata di Banyuwangi lainnya juga tak kalah menarik. Contohnya seperti Rawa Bayu, Kawah Ijen yang dikenal dengan Blue Fire nya, Bangsring Underwater, Pantai Plengkung, Air Terjun Congklak, Pulau Merah, dan lain-lain. Banyuwangi tak ada habisnya memanjakan mata dengan segala kelebihannya. Banyuwangi juga tak akan berhenti memanjakan lidah dengan kuliner-kulinernya yang khas seperti rujak soto, sego tempong, kupat lodoh, pindang koyong, dan lain-lain.

Dalam bidang  transportasi, Banyuwangi juga sudah cukup maju. Bandara Banyuwangi menjadi green airport pertama di Indonesia. Sejumlah inovasi transportasi lainnya antara lain penggunaan lampu lalu lintas tenaga surya, kelengkapan sarana-prasarana, penyediaan jalur pesepeda, dan konsep terminal terpadu yang sedang dirintis.

Sungguh kekayaan alam dan lingkungan yang masih asri di Banyuwangi ini sangat mengesankan. Apalagi pembangunan-pembangunan yang telah dirintis sedemikian rupa. Jangan sampai ada yang merusak keindahan Banyuwangi ini. Marilah kita ikut andil dalam upaya perkembangan sektor-sektor di Banyuwangi ini. Hanya dengan tidak membuang sampah sembarangan saja sudah berperan penting dalam menjaga lingkungan. Kehidupan selaras serta kesatuan dari masyarakat Banyuwangi akan merangkul kabupaten ini menjadi lebih maju dan lebih baik lagi.


KEBERHASILAN BANYUWANGI DALAM BEREVOLUSI

 

KEBERHASILAN BANYUWANGI DALAM BEREVOLUSI

Oleh : Mila Dewi Partikasari

      Kota inovasi. Julukan yang layak  disematkan untuk Kabupaten Banyuwangi. Sudah tenar dengan segala potensi yang luar biasa, Namun seakan tidak puas dengan itu semua. Sehingga membuat Kota Banyuwangi terus berevolusi menjadi sebuah kabupaten yang selalu menampilkan inovasi-inovasi baru di setiap tahunnya.

     10 Tahun sudah Banyuwangi mengalami metamorfosis diberbagai sektor di bawah kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Annas. Dan benih-benih perubahan positif mulai tampak diberagam lini kehidupan masyarakat Banyuwangi. Penambahan inovasi-inovasi baru yang bahkan tidak terpikirkan oleh kabupaten-kabupaten lain, membuat Banyuwangi menjadi sosok kabupaten terinspiratif atau bisa kita sebut sebagai “counties with spectacular creativity”. Dengan itu semua,maka tidak heran apabila Kota Banyuwangi berhasil menyabet gelar sebagi kabupaten besar terinovatif se-Indonesia di kompetisi Innovative Government Award(IGA) yang membuat Alterasi unggul di Kabupaten Banyuwangi diakui secara hormat oleh negara. Jika dilihat dari segi kuantitas, kualitas dan manfaat, Banyuwangi memang memenuhi semua kriteria itu .


       Banyuwangi kota multitallenta. Pemikiran cerdas dari Abdullah Azwar Annas beserta timnya membuat kabupaten Banyuwangi semakin maju dan unggul di semua bidang. Salah satunya di bidang tata kelola pemerintahan yang sudah berfundamen dengan sistem teknologi informasi atau lebih dikenal dengan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Dengan inilah yang membuat semua aktivitas monitoring pemerintahan lebih efektif dan efisien. Keunggulan inilah yang patut dicontoh dan diaplikasikan di kabupaten-kabupaten lain dengan tujuan pemaksimalan dalam hal pemantauan kinerja pemerintahan yang mumpuni. Fantastis, memang sangat fantastis. Dengan melihat segala keistimewaan yang ada pada diri Kabupaten Banyuwangi, disitulah sudut pandang positif selalu mewarnai keunggulan harkat,derajat dan khasiat yang sudah tidak diragukan lagi. Sangat worth it jika Banyuwangi dijuluki sebagai kota IT(Informasi dan Teknologi) dengan kecanggihan yang sangat spektakuler.

      Abdullah Azwar Annas adalah sosok pemimpin yang hebat. Beliau sangat tanggap terhadap semua problem yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Salah satunya adalah masalah kemiskinan. Kemiskinan merupakan sebuah keadaan masyarakat yang sangat mengkhawatrikan. Dengan terbelenggu oleh kemiskinan, tak sedikit masyarakat yang tersandung kasus kriminalitas seperti pencurian, perampokan, penjambretan, pembegalan dan tindak pidana lainnya. Maka dari itu untuk mengatasi masalah kemiskinan yang terjadi, Bupati Annas mencetuskan beberapa program inovatif. Seperti halnya pada stimulasi penambahan peluang dan perluasan skala ekonomi masyarakat, termasuk didukung oleh pelayanan yang mumpuni di desa-desa dengan melalui program Smart Kampung. Untuk solusi kedua yaitu dengan memberikan peluang besar untuk rakyat supaya mereka bisa ikut andil dalam berpartisipasi dan bergotong royong disetiap aktivitas pembangunan daerah. 

     Dapat dilihat bahwa Banyuwangi memang sangat peduli terhadap kondisi semua rakyatnya. Seperti saja masalah kemiskinan rakyat yang berdampak pada terhambatnya masalah pendidikan anak, seperti halnya putus sekolah yang disebabkan oleh terkendalanya sebuah biaya. Dengan melihat permasalahan yang terjadi,Pak Annas beserta tim nya membuat inovasi baru untulk mengatasi masalah tersebut dengan mencetuskan beberapa program unggulan yang tentunya tidak diragukan lagi kualitas dan nilai manfaatnya, yaitu berupa program Banyuwangi Cerdas. Dengan keberadaan program ini,bisa menunjang peserta didik yang kurang mampu dalam menuntut ilmu untuk menggapai semua impian dan cita-citanya. Selain itu, program mulia yang tercipta demi membantu siswa miskin (kurang mampu) lainnya yaitu seperti program Garda Ampuh (Gerakan Daerah Angkat Anak Muda Putus Sekolah), SAS(Siswa Asuh Sebaya) dan  gerakan pemberantasan buta aksara. Upaya ini semua memang sangatlah berharga dan juga bermanfaat guna memutus mata rantai kemiskinan yang berkelanjutan dan juga untuk meningkatkan mutu pendidikan di Banyuwangi. Kepedulian seorang pemimpin terhadap rakyatnya, menggambarkan kemuliaan mutiara indah dalam surga. Dan itulah yang dilakukan oleh Bupati Abdullah Azwar Annas selama memimpin di Banyuwangi.

   Tidak sampai disitu saja. Sebagai kota pariwisata, Banyuwangi dengan cerdasnya memanfaatkan segala keunggulannya dengan melakukan modifikasi yang membuatnya berhasil menembus jajaran inovasi TOP 99. Dan agenda primadona wisata Inovatif itu dijuluki dengan nama Banyuwangi Festival (B-Fest). Dengan segala potensi ulungnya,Banyuwangi yang secara tidak langsung juga melibatkan masyarakatnya untuk ikut andil dalam berkolaborasi dan berkontribusi dengan berbagai pihak demi suksesnya event B-Fest tersebut. Event B-Fest ini dinilai sangat membantu dalam penguatan sistem Banyuwangi di aspek budaya, ekonomi,masyarakat dan prasarana. Dapat dilihat dari suksesnya program ini pastinya akan memberikan eksotisme tersendiri untuk Kota Banyuwangi, sehingga dapat berdampak pada pesatnya wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung. Faktor itulah yang akan memberikan dampak baik pada perekonomian masyarakat sekitar yang semakin menggeliat.

      Sangat layak apabila kabupaten berjuluk“ The sunrise of java” ini memperoleh penghargaan internasional karena potensi pariwisata ulungnya yang sangat cetar membahana bagai suaka dunia. Dengan memanfaatkan kemampuan spektakulernya, Banyuwangi juga pernah menggelar event yang sudah bertaraf internasional. Dan event tersebut diberi nama “ International tour de Banyuwangi ijen atau Tour de Ijen”.Event ini dinilai memang sangat eminent. Selain itu,Banyuwangi juga memiliki inovasi dibidang kesehatan yang diberi nama Laskar Sakina (Stop Angka Kematian Ibu dan Anak) yang juga berhasil menyabet penghargaan internasional di forum Open Government Partnership. Semua kebijakan-kebijakan yang sangat progresif mampu membawa nama Banyuwangi hingga pada kancah internasional dan dunia.

      Inovasi. Kata yang tepat untuk menggambarkan perkembangan Kabupaten Banyuwangi saat ini. Perubahan positif sudah tampak diberbagai lini kehidupan masyarakat dan kondisi fisik Kota Banyuwangi sendiri. Baik itu di bidang tata kelola pemerintahan, bidang kesehatan, bidang pendidikan, infrastruktur, pelayanan kependudukan (pelayanan publik) dan konsolidasi ekonomi di kalangan masyarakat. Jadi, dengan melihat ini semua kita harus senantiasa bersyukur dan melupakan segala kegerahan yang telah terjadi di masa-masa sulit sebelum Banyuwangi bermetamorfosis dengan penuh inovasi. Dalam 10 Tahun terakhir saja, Banyuwangi sudah memperoleh berbagai macam pencapaian yang sangat luar biasa. Apalagi di tahun-tahun berikutnya meskipun itu dengan pemimpin yang berebeda, kita harus tetap yakin dan percaya terhadap segala potensi yang dimiliki oleh Kota Gandrung ini. Dan tunggu saja suprize-suprize yang akan disajikan Kabupaten Banyuwangi untuk semua masyarakat tercintanya.

Banyuwangi Gemilang Bersama Sang Bintang

 Banyuwangi Gemilang Bersama Sang Bintang

Oleh Achmad Nadzir, S.Pd*

 

       Nama Banyuwangi sepuluh tahun silam, tidaklah seharum saat ini. Kesan negatif melekat pada kabupaten di ujung timur Pulau Jawa tersebut. Apa kesan yang paling melekat dengan Banyuwangi saat itu? Banyuwangi dikenal sebagai kota santet dan terkotor kedua di Jawa Timur. Kuatnya image dan kepercayaan masyarakat akan adanya santet, bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Ketika ada orang yang sakit dengan kondisi fisik perut membesar, tidak kunjung sembuh, dan merasakan adanya keanehan-keanehan non-fisik, mereka akan cenderung menganggap sakitnya karena pengaruh santet.

       Selain dikenal sebagai kota santet, Banyuwangi juga berpredikat sebagai kota terkotor kedua di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2010. Predikat itu melekat bukan tanpa alasan dan bukti. Sampah banyak berserakan di lingkungan pasar, tempat-tempat umum, sungai dan selokan-selokan. Kondisi tersebut tidak hanya di dalam kota, namun menyebar disetiap tempat di kabupaten Banyuwangi. Pengelolaan sampah yang belum baik dan maksimal, membuat sampah menggunung dan berserakan di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA). Kondisi daerah yang jauh dari kata bersih menjadikan Banyuwangi terkenal kumuh.

       Tahun 2010 merupakan awal pemerintahan era Bupati Ir. Abdullah Azwar Anas, M.Si. Sejak itu Banyuwangi mulai berbenah dengan gerakan nyata dan kerja bersama-sama untuk melepaskan diri berbagai kesan dan image negatif. Dorongan untuk berubah tersemat kuat dengan adanya event-event yang mensinergikan antara program pemerintah daerah dengan partisipasi aktif semua elemen masyarakat. Program tersebut bukan sebatas hitam di atas putih, tapi ditindaklajuti dengan kerja dan karya nyata yang berkelanjutan untuk membangun Banyuwangi menjadi lebih baik.

       Guna mendukung program pemerintah daerah dalam rangka membangun Banyuwangi lebih baik, tahun 2010 di bawah kepemimpinan Bapak Anas, berhasil meresmikan bandara Blimbingsari sebagai bandara komersil di Banyuwangi. Upaya tersebut merupakan langkah nyata pemerintah daerah guna membuka dan memudahkan akses transportasi bagi masyarakat umum yang ingin berkunjung ke Banyuwangi. Dari tahun ke tahun pihak pemerintah daerah dan pengelola bandara terus berbenah, hingga menjadi semakin berkembang. Kini, dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun, bandara Blimbingsari telah menjadi bandara internasional dengan konsep yang ramah lingkungan.

       Pengembangan wisata pun mulai digeliatkan untuk menarik minat investor dan wisatawan agar berkunjung ke Banyuwangi. Mulai dari wisata pantai, air terjun, arum jeram, perkebunan, kuliner, dan pegunungan baik yang dikelola oleh pemerintah daerah, swakelola kelompok masyarakat, ataupun para investor. Inovasi di bidang pariwisata melalui tema eco-tourism, mampu membawa Banyuwangi meraih inovasi kebijakan publik dan tata kelola bidang pariwisata terbaik dunia dari Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO) tahun 2016.

       Kehidupan masyarakat Banyuwangi yang heterogen, dengan budaya khas yang beragam menjadi modal besar untuk dikelola. Banyak kesenian, adat, dan budaya etnik sebagai identitas Banyuwangi dijadikan ikon wisata. Guna mengembangkan wisata dari sisi kesenian, adat, dan budaya etnik, sejak tahun 2011, Ir. Abdullah Azwar Anas, mulai mengadakan kegiatan bertajuk Banyuwangi Festival. Acara tersebut dijadikan program dan agenda tahunan, yang diselenggarakan dalam rangka memeriahkan dan memperingati hari jadi kota Banyuwangi.

       Ditahun 2012 ada 12 festival dalam ajang Banyuwangi Festival. Ke 12 festival tersebut meliputi: Festival Anak Yatim, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), Banyuwangi Jazz Festival, Gandrung Sewu, Festival Kuwung, Tour de Ijen, International Powercross Championship, Malam Resepsi HARJABA, dan Renungan Akhir Tahun. Festival-festival tersebut merupakan ajang promosi Banyuwangi ke kancah regional, nasional bahkan internasional dan merupakan cikal bakal festival-festival lain dalam pagelaran Banyuwangi Festival di tahun berikutnya.

       Sebagai bentuk inovasi ,selalu ada festival baru yang diselenggarakan dalam pagelaran Banyuwangi Festival. Pada tahun 2013 di gelaran Banyuwangi Festival bertambah menjadi 15 festival. Selanjutnya tahun 2014 ada 23 festival, tahun 2015 ada 36 festival, tahun 2016 ada 58 festival, tahun 2017 ada 72 festival, tahun 2018 ada 77 festival, tahun 2019 ada 99 festival, dan tahun 2020 ada 123 event yang seharusnya terselenggara. Namun pandemi Covid-19 di tahun 2020 membuat gelaran tersebut tidak bisa terlaksana semua. Ajang Banyuwangi Festival berhasil mengantarkan Banyuwangi menjadi salah satu kota festival di Indonesia dan mendapat agenda resmi tahunan dari pemerintah pusat.

            Banyak torehan prestasi yang diukir Bapak Ir. Abdullah Azwar Anas, M.Si selama dua periode menjabat bupati Banyuwangi. Tidak kurang dari 300 penghargaan gemilang yang diterima beliau dalam memimpin Banyuwangi, baik di tingkat provinsi, nasional, dan international. Tahun 2018 -2019 misalnya, Banyuwangi menjadi kabupaten terinovatif dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) dan sebagai kabupaten pertama yang meraih nilai dengan predikat A. Di akhir masa jabatannya, bupati yang kaya akan inovasi dengan konsep anti mainstream-nya berhasil membawa Banyuwangi meraih predikat sebagai kabupaten berkinerja dan TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) terbaik satu se-Jawa dan Bali untuk tahun penilaian tahun 2019.


       Itulah sekapur sirih tentang capaian gemilang Banyuwangi bersama sang bintang, Bapak Ir. Abdullah Azwar Anas, M.Si. Bupati pemilik 20 jurus ampuh dalam memimpin, mengelola dan membangun Banyuwangi, telah mampu mengubah image Banyuwangi dari kota santet menjadi kota festival dan internet. Kabupaten terkumuh di Jawa Timur berubah menjadi peraih adipura utama secara berturut-turut selama 5 tahun. Banyuwangi yang dulu tertinggal telah menjelma menjadi terdepan dan terkenal. Kabupaten yang berjuluk The Sunrise of Java bersama sosok pemimpin yang inovatif dan kreatif dalam kurun waktu 10 tahun telah menjelma menjadi kota yang mendunia dan layak dibanggakan oleh rakyatnya, bahkan negara Indonesia di mata dunia internasional. Atas raihan prestasi dan ide-ide cemerlangnya, mengantarkan orang nomor satu di Banyuwangi menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI). Isun demen Banyuwangi, mergo Isun Osing.

Dari Kota Santet Menuju Kota Internet

 Dari Kota Santet Menuju Kota Internet

Bandara (bandar udara) Selain menjadi pintu gerbang utama sektor pariwisata, ternyata bandara punya peranan dan fungsi lain sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 39 Tahun 2019 Tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional. Dalam aturan tersebut tertulis bahwa peran bandara antara lain sebagai simpul dalam jaringan transportasi sesuai dengan hierarkinya, sebagai pintu gerbang kegiatan perekonomian serta sebagai tempat kegiatan alih moda transportasi. Selain itu bandara juga berfungsi sebagai pendorong dan penunjang kegiatan industri dan/atau perdagangan dan prasarana memperkukuh wawasan nusantara dan kedaulatan negara. Pintu gerbang kegiatan perekonomian dalam upaya pemerataanpembangunan, pertumbuhan dan stabilitas ekonomi serta keselarasan pembangunan nasional dan pembangunan daerah yang digambarkan sebagai lokasi dan wilayah di sekitar bandar udara yang menjadi pintu masuk dan keluar kegiatan perekonomian.

Tempat kegiatan alih moda transportasi, dalam bentuk interkoneksi antar moda pada simpul transportasi guna memenuhi tuntutan peningkatan kualitas pelayanan yang terpadu dan berkesinambungan yang digambarkan sebagai tempat perpindahan moda transportasi udara ke moda transportasi lain atau sebaliknya. Selain sebagai salah satu simbul kemajuan sebuah kota, Bandara mempunyai peran penting sebagai salah satu sektor penunjang utama dalam industri pariwisata. penyedia hubungan yang esensial antara asal dan tujuan perjalanan wisata. Bahkan saat ini hubungan itu berlaku dua arah dimana kedua sektor saling mempengaruhi, akses transportasi yang baik akan meningkatkan kunjungan  ke kawasan wisata, dan obyek wisata yang menarik juga akan meningkatkan jumlah  perjalanan. Pembangunan infrastruktur di Indonesia termasuk infrastruktur dan layanan transportasi menjadi prioritas pada pemerintahan yang sekarang, termasuk infrastruktur transportasi udara. Infrastruktur ini diharapkan dapat memperlancar arus orang dan barang baik yang keluar masuk dari luar negeri maupun di dalam wilayah Indonesia, serta menjadi pendukung dari berbagai kegiatan sektor ekonomi.

Kabupaten Banyuwangi dengan julukan The Sunrise of Java, terletak di ujung timur Pulau Jawa, dari arah barat untuk menuju daerah ini harus melewati gunung, sedangkan dari arah utara harus melewati hutan jati yang lumayang panjang, atau dari arah timur dengan melewati selat bali, menjadikan wilayah ini menjadi wilayah yang khas dengan berbagai suku dan yang hidup rukun didalamya, terlebih dengan suku using yang hanya ada diwilayah ini dengaan berbagai tradisi dan budaya yang tetap berkembang dengan baik mengikuti perkembangan zaman. Tak heran jika industri musik nasional saat ini juga banyak diiisi dan atau dipengaruhi oleh musik dari etnik blambangan.

Kabupaten Banyuwangi saat ini bukan hanya terkenal dengan berbagai wisata alamnya saja, namun berbagai perkembaangan dengan pemanfaatan tehnologi dalam penerapan administrasi pemerintahan telah berkembang pesat, tidak heran jika hampir setiap pekan selalu ada study tiru dari berbagai daerah datang ke Banyuwangi untuk melihat dan meniru lompatan inovasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi di berbagai bidang, bahkan dari beberapa Kemnterian atau Lembaga ditingkat pusat juga tidak segan untuk melakukan study tiru dalam pengelolaan layanan masyarakat dengan pemanfaatan tehnologi informatika tersebut.

Pemberian fasilitas jaringan internet (wifi) gratis pada masyarakat ditempat umum maupun perkantoran dengan kabel optic menjadikan para pengguna (terutama pelajar dan mahasiswa) nyaman dan aman dalam memaanfaatkan jaringan virtual tersebut untuk mengakses berbagai macam informasi yang dibutuhkan. Kecepatan dalam mencari informasi ini juga dimanfaatkan oleh kaum muda untuk menjalankan bisnis secara online, juga menyebarkan informasi tentang keunggulan wisata Banyuwangi dalam bentuk vlog (video Blogging) atau bentuk blogging dalam bentuk video. Karenanya ketika secara mendadak diadakan kegiatan pembelajaran secara daring karen pandemi covid-19, Banyuwangi merupakan daerah yang bukan wilayah perkotaan paling siap untuk melakukannya, karena disetiap desa disediakan wifi gratis yang dapat digunakan oleh siapapun yang membutuhkannya.

Pada zaman dulu masyarakat luar mendengar kata Banyuwangi identik dengan sebutan  santet, karenanya banyak yang menyebut Banyuwangi sebagai Kota santet, sebuah sebutan absurd yang sangat tidak nyaman dilekatkan, namun itulah anggapan yang saat itu tidak terlalu salah, hingga ketika kita di daerah lain dan kita menyebut kota asal kita, maka mereka akan berhati-hati, mungkkin takut dengan sebutan Kota Santet, terlebih hadirnya KKN di dusun penari yang meskipun tidak disebutkan lokasinya dimana, namun orang akan mengarah bahwa lokasi KKN di dusun penari tersebut ada di Kabupaten Banyuwangi. Seiring perkembangan zaman, sebutan itu lambat laun sirna dengan sendirinya, beberapa sebutan ilmu pelet dari Banyuwangi juga dijadikan judul lagu dan hits di zamannya, seperti lagu Jaran Goyang yang menggambarkan mantra ampuh untuk menggaet kekasih yang menyia nyiakan cinta tulus seseorang.

Beberapa tradisi penuh mistis dalam bentuk upacara tradisional masih tetap dilaksanakan oleh beberapa masyarakat yang ada di Kabupaten Banyuwangi, seperti Tari Seblang, Ider Bumi, Kebo-keboan, dan beberapa upacara tradisional lainnya. Upacara tradisional ini juga sebagai salah satu kegiatan yang menrik minat wisatawan asing untuk melihat dan mempelajari keunikan budaya khas dari wilayah ujung timur pulau jawa ini, terlebih letak Banyuwangi yang berbatasan langsung dengan pulau Bali menjadikan wilayah ini mempunyai banyak kesenian khas yang tidak terdapat di wilayah lainnya.


Berbagai keunggulan hasil bumi terutama buah-buahan dari wilayah yang dikenal sangat subur ini dan beberapa tari tradisional khas telah memberikan beberapa julukan dari Kabupaten Banyuwangi, seperti Kota Pisang, Kota Gandrung,, Kota Buah naga dan lain-lain, namun dari beberapa julukan tersebut, yang dipakai sebagai julukan resmi adalah The Sunrise of Java, sebutan tersebut dipakai bukan tanpa alasan, sebagai wilayah Pulau Jawa yang pertama kali menikmati cahaya pagi, karena karakteristik wilayah yang dibatasi dengan pegunungan, menjadikan wilayah ini dapat menikmati secara lebih merata sinar matahari yang sangat berguna bagi kesuburan tanah dan tanaman tersebut.

Berbagai inovasi yang dilakukan pemerintah Kabupaten Banyuwangi 10 tahun terakhir telah mampu mengubah secara menyeluruh dan menjadikan Banyuwangi sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia yang di perhitungkan, menjadikan inovasi tehnologi untuk layanan masyarakat, menggeser julukan Banyuwangi dari Kota Santet menuju Kota Internet.

 

Inovasi Layanan Publik

 

Inovasi Layanan Publik

Tidak adanya rekuitmen Aparatus Sipil Negera beberapa tahun terakhir mengakibatkan beban pekerjaan ASN semakin meningkat. Namun demikian layanan publik harus tetap dilaksanakan dan ditingkatkan kualitasnya. Hal ini memantik Aparatur Sipil Negara terus melakukan inovasi dengan memanfaatkan Teknologi Informatika untuk mempercepat pekerjaannya dalam melayani masyarakat yang menuntut layanan mudah, cepat dan akurat. Inovasi tersebut tidak dapat dilakukan jika pemimpin tertinggi sebuah organisasi yang dalam hal ini Bupati tidak memberikan suport daan arahan dalam pelaksanannya, karena langkah yang diambil dalam inovasi juga terkait dengan anggaran dan legalitas dari sebuah produk administrasi itu sendiri.

Administrasi kependudukan merupakan rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pencatatan sipil dan pengelolaan informasi penduduk serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik, pemerintahan dan pembangunan. Tiga peristiwa penting yang dialami seseorang meliputi kelahiran, perkawinan dan kematian perlu adanya pencatatan karena peristiwa hukum tersebut juga akan berakibat hukum dan menjadi dasar mengenai administrasi kependudukan, berakibat pada timbulnya hubungan keperdataan maupun penerapan hukum pidana pada seseorang.

Kelahiran seseorang merupakan awal dimulainya peristiwa hidup seseorang, karenanya peristiwa kelahiran maupun yang berkaitan dengan asal usul anak penting dilakukan pencatatan dalam akta outentik, karena akan berakibat hukum tentang hubungan perdata maupun hubungan nasab dalam hukum agama. Begitu juga dengan peristiwa perkawinan yang akan melahirkan lembaga keluarga baru yang diakhiri dengan kematian maupun perceraian.  Pernikahan  merupakan peristiwa hukum komplek yang harus dilakukan secara teliti, karena bukan hanya menyangkut hubungan keperdataan saja, tetapi juga hubungan prinsip tentang keabsahan pernikahan menurut hukum masing masing agamanya dan kepercayaanya itu.


Berbagai inonasi telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam layanan administrasi kependudukan ini, sehingga beberapa layanan administrasi kependudukan yang dulu hanya dilayani di kantor yang ada di Ibukota kabupaten, kini sebagian sudah dapat dilakukan di Kantor Desa/Kelurahan maupun kecamatan dengan layanan tata persurartan tanda tangan digital, karena pada prinsipnya kebenaran sebuah dokumen bukan hanya terletak pada fisik dokumen tersebut, namun lebih pada isi dari dokumen tersebut. Dengan adanya dokumen digital, masyarakat tidak harus membawa banyak dokumen pribadi dalam beberapa keperluan, namun cukup membawa file barcode yang ada dalah handphone. Inovasi layanann publik dari berbagai instansi yang dilakukan dalam satu tempat yang dinamakan Mall Layanan Publik serta pasar layanan publik juga sebagai salah satu prasarana memudahkan masyarakat dalam mendapatkan hal layanan, karena beberapa masyarakat yang tadinya enggan atau tidak ada keberanian melakukan pengurusan administrasi kependudukan, dengan adanya tempat khusus ini mereka jadi berani.

Layanan Akta Kelahiran dalam program Lahir Procot Pulang Bawa Akta Kelahiran merupakan salah satu inovasi layanan administrasi kependudukan yang sulit ditiru daerah lain, hal ini terkait dengan basis data kependudukan yang telah dikembangkan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan memanfaatkan teknologi informatika. Data tersebut dapat diakses dan dimanfaatkan oleh instansi pengguna yang berkaitan dengan data kependudukan, bahkan telah dikembangkan layanan Kartu Keluarga yang dapat dicetak sendiri oleh warga masyarakat, karena penggunaan tanda tangan digital yang dapat dibaca dengan QR code untuk mengetahui keabsahan sebuah dokumen.

Kerjasama dalam layanan dokumen catatan sipil bukan hanya dilakukan dalam instansi dibawah naungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi saja, inovasi kerjasama antar lembaga, seperti layanan Catatan Sipil yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan Kantor urusan Agama (KUA) Kecamatan dan Pengadilan Agama yang merupakan institusi vertikal dibawah kendali Pemerintah Pusat juga dilakukan, seperti Isbat Nikah terpadu yang dilaksanakan bagi yang pernikahannya tidak tercatat pada KUA Kecamatan, dalam pelaksanaan sidang yang dilakukan diluar Pengadilan ini, masyarakat setelah mendapatkan putusan dari Pengadilan Agama, langsung mendapat Buku Nikah dari KUA Kecamatan serta perubahan data kependudukan dalam Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) di tempat yang sama. Terlebih dengan layanan khusus bagi calon manten dalam perubahan data kependudukan sehari selesai sangat bermanfaat bagi masyarakat dengan mengingat pernikahan nukan hanya peristiwa perdata, namun peristiwa sakral yang menyangkut masalah keagamaan dan budaya, karenanya dengan kecepatan layanan yang diberikan tidak akan menghambat peristiwa pernikahan yang kadang harus dihitung dengan cermat hari dan tanggal pelaksanannya berdasarkan nilei keaarifan lokal yang dipercaya.

Sebuah inovasi besar dalam administrasi kependudukan dengan melibatkan 3 instansi secara permanen antara Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Pengadilan Agama dan Kementerian Agama bukankah langkah yang mudah, hal ini terkait dengan perbedaan Instansi yakni antara Pemerintah Kabupaten, Mahkamah Agung dan Kementerian Agama sebagai instansi vertikal serta perbedaan Standar Operasional Prosedur (SOP), yakni suatu pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instansi pemerintah maupun non-pemerintah, usaha maupun non-usaha, berdasarkan indikator-indikator teknis, administratif, dan prosedural sesuai tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan. Kerjasama antar instansi menggunakan sebuah aplikasi khusus dengan pemanfaatan data sesuai kebutuhan masing masing instansi tersebut memangkas banyak birokrasi dan juga mempersempit peluang pemalsuan data kependudukan seseorang.

Inovasi dibidang layanan administrasi kependudukan tersebut sangat membantu mempercepat layanan pada masyarakat, seperti layanan pemgantar nikah berbasis NIK (Nomor Induk Kependudukan) ditingkat desa/kelurahan dengan layanan administrasi dan tanda tangan digital sehingga memudahkan masyarakat mendaftarkan pernikahan secara online, karena basis data yang dipergunakan Kepala Desa/Kelurahan akan sama dengan basis data yang digunakan Kementerian Agama dalam layanan pernikahan yang berbasis pada data kependudukan Kementerian Dalam Negeri, kerenanya mutasi status kependudukan (Pernikahan dan Perceraian) lebih cepat terproses dengan layanan digital.

Inovasi layanan publik yang dilakukan 10 tahun terakhir Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah banyak dijadikan rujukan bagi daerah lain untuk penerapannya, bahkan beberapa inovasi tersebut juga akan diberlakukan secara nasional karena dianggap mampu memberikan layanan dengan cepat dan akurat serta tetap adanya jaminan privasi terhadap data yang dimilikinya, seperti penggunaan tanda tangan digital sebagai salah satu inovasi yang memungkinkan masyarakat mencetak sendiri dokumen yang dibutuhkan.

Rantang Kasih dan Rantang Dhuafa

 


Rantang Kasih dan Rantang Dhuafa

Kabupaten Banyuwangi telah menerima penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) Bidang Kemanusiaan dan Lingkungan Hidup sebagai daerah pertama di dunia yang menyantuni ribuan dhuafa dengan makanan siap saji bergizi setiap hari. Penerima program Rantang Kasih yang dananya berasal dari kolaborasi APBD Banyuwangi dan alokasi dana desa (ADD), serta Rantang Dhuafa dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Berdampak pada angka kemiskinan yang terus turun. Hal ini berkat kerja semua pihak, baik instansi pemerintah lembaga bentukan pemerintah maupun pihak lainnya. Angka kemiskinan di Banyuwangi terus menunjukkan penurunan drastis sejak kurun waktu 10 tahun terakhir.

Unit Pengumpul Zakat (UPZ) pada Kecamatan sebagai kepanjangan tangan Baznas Kabupaten yang sebagian besar berkantor di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan, karena pembinaan zakat dan wafaf ditingkat kecamatan merupakan 1 dari 9 layanan pada  KUA Kecamatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Agama nomor 34 Tahun 2016, telah memudahkan koordinasi dari lembaga tersebut. Sepintas terlihat janggal ketika seseorang datang ke Kantor Urusan Agama untuk mengurusi Bantuan rantang dhuafa, yakni bantuan untuk warga miskin yang sudah tua dimana bantuan ini dalam bentuk uang tunai yang diberikan melalui warung terdekat atau tetangga untuk memberikan makan kepada dhuafa tersebut, atau warga datang ke Kantor Urusan Agama untuk mengusulkan bedah rumah, bea siswa warga miskin dan bentuk bantuan lainnya, namun pada kenyataannya di Kabupaten Banyuwangi hal ini bisa terjadi.

Dulu orang hanya mengenal Kantor Urusan Agama hanya sebagai tempat untuk mengurus Pernikahan, sangat sedikit yang mengetahui bahwa Kantor Urusan Agama sesuai dengan namanya adalah kantor yang mengurusi bidang agama, dan bukan hanya mengurusi masalah pernikahan saja. Ada fungsi lain yang tak kalah pentingnya yang jabatannya ditulis langsung dengan sebutan “Pejabat”, dan bukan sekedar sebutan “Pegawai” sebagaimana fungsi yang diketahui secara umum oleh masyarakat sebagai “Pegawai Pencatat Nikah:” (PPN) atau dulu dikenal dengan nama Naib, Ketib atau penghulu. Peran strategis tersebut terus berkembang tanpa meninggalkan tugas pokoknya, selain memberikan bimbingan masalah zakat dan wakaf, peran UPZ tidak dapat dipisahkan dengan peran KUA Kecamatan dengan beberapa programnya. Dengan adanya rantang dhuafa dan beberapa program penanggulangan kemiskinan lainnya, KUA bukan hanya hadir ketika ada acara pernikahan dan beberapa kegiatan wajib lainnya, namun juga hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan dalam bentuk materi, meskipun secara langsung dilakukan oleh UPZ. Setidaknya memberikan edukasi kepada masyarakat tentang kesadaran mengeluarkan zakat melalui badan yang diakui keberadaanya menurut undang undang, yang dalam hal ini adalah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Organisasi ini paling bawah ada di tingkat Kabupaten, sedangkan di tingkat Kecamatan maupun instansi pemerintah dapat dibentuk UPZ sebagai kepanjangan tangan dari Basnas.

Kesadaran masyarakat terutama Aparatur Negara baik sipil (ASN) maupun militer di Kabupaten Banyuwangi dalam mengeluarkan zakat penghasilan atau zakat profesi melalui lembaga resmi yang dibentuk pemerintah merupakan salah satu wujud dari keberhasilan Kementerian Agama dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang memberikan suport terhadap keberadaan dan keberlangsungan Badan Amil Zakat Nasional, sehingga biaya operasional dari organisasi tersebut tidak dibebankan kepada dana zakat yang dihimpun dari masyarakat. Terlebih dengan program bersama yang saling melengkapi dalam penanggulangan kemiskinan yang ada di Kabupaten Banyuwangi, dengan pengelolaan dana yang lebih luwes dari Baznas, memungkinkan bantuan kepada masyarakat miskin yang membutuhkan dapat dilakukan dalam waktu lebih cepat karena tanpa melalui birokrasi yang kadang dianggap terlalu lamban.

Sebuah strategi kebijakan penanggulangan kemiskinan merupakan planing paling penting dalam penanganan kemiskinan. Strategi kebijakan yang didalamnya memuat program-progam dan kegiatan yang sinergi dengan prioritas pembangunan yang ada. Selain itu, strategi ini juga harus mampu menggambarkan keterhubungan antara visi dan misi dari prioritas penanggulangan kemiskinan dam kerjasama antar lembaga, sehingga dengan kebijakan penanggulangan kemiskinan yang terimplementasi dengan baik, memiliki payung hukum yang kuat dalam perumusan program secara terpadu dalam kegiatan pembangunan di dalam mewujudkan visi dan misi. Dengan upaya kebijakan kerjasama antar lembaga dalam penanggulangan kemiskinan ini maka jumlah penduduk miskin akan menurun.

10 tahun inovasi yang dilakukan Bupati Banyuwangi yang berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan melalui jalur keagamaan sangat ampuh menggugah kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya, sebagai contoh program rantang dhuafa yang digagas Baznas Kabupaten Banyuwangi dengan memberikan dana kepada warung terdekat untuk biaya makan warga miskin dalam bentuk makanan bergizi siap saji yang sudah terdaftar, sebagian besar warung tersebut memberikan harga yang lebih ringan dari dana Baznas. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Rantang Kasih maupun program Baznas melalui Rantang Dhuafa dapat meningkatkan rasa peduli terhadap sesama, begitupun dengan program penanggulangan kemiskinan lainnya.

Prinsip ekonomi Islam tidak seperti ekonomi sosialis yang menuntut seseorang bekerja sesuai dengan keahliannya namun mendapatkan uang sesuai dengan kebutuhannya, atau ekonomi kapitalis yang memberikan kewenangan bagi seseorang untuk menumpuk kekayaan sebanyak banyaknya tanpa adanya batasan. Dalam prinsip ekonomi Islam, manusia boleh mengumpulkan harta sebanyak banyaknya, namun tetap ada kewajiban dalam bentuk zakat, termasuk di dalamnya infaq dan shodaqoh. Dengan zakat ini menjadikan orang kaya lebih bermanfaat dan orang miskin lebih bermartabat.

Program Banyuwanvgi cerdas dengan memberikan beasiswa kepada warga miskin yang ingin melanjutkan studynya juga didukung oleh Baznas dengan program yang sama, sehingga semakin banyak warga miskin yang dapat melanjutkan pendidikannya hingga jenjang perguruan tinggi, yang diharapkan dengan semakin tinggi pendidikn seseorang tersebut juga berdampak pada pemutusan rantai kemiskinan, karena dengaan semakin tingginya tingkat pendidikan seseorang diharapkan akan semakin mudah memperoleh penghasilan.

Strategi pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan bekerja sama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan dalam rangka penanggulangan kemiskinan melalui jalur keagamaan yang dalam hal ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengeluarkan zakat tersebut bukan tanpa alasan, hal ini dengan mengingat tugas KUA Kecamatan disamping pembinaan zakat juga memberikan penegaran agama kepada masyarakat.

Destinasi Wisata dan Jatidiri Bangsa

 


Destinasi Wisata dan Jatidiri Bangsa

Kawah Ijen merupakan salah satu serpihan surga yang ada di Kabupaten Banyuwangi, pesona semburat api biru (blue fire) yang tak biasa membuat siapa pun yang datang akan mengabaikan bau belerang yang menyengat di kawasan tersebut. Keindahan api biru yang membara itu sanggup menghilangkan kepenatan setelah mendaki Kawah Ijen dengan tingkat kemiringan 40 derajat, selain menanjak, struktur tanahnya juga berpasir yang menambah semakin berat langkah kaki karena harus menahan berat badan agar tidak merosot. Meskipun ada ojek yang sanggup menghantarkan sampai puncak, tantangan pendakian dengan berjalan kaki menuju serpihan surga tersebut eman dilewatkan, karena akan menjadikan kisah indah untuk dikenang. Saat dingin masih menusuk tulang, waktu sekitar tiga perempat malam, aktivitas di Gunung Ijen justru menggeliat. Para pendaki baik wisatawan maupun pencari belerang mulai bersiap. Hawa dingin akan berjibaku dengan beban yang harus ditumpu kaki sendiri selama mendaki. Kawah Ijen merupakan sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen. Memiliki tinggi 2.443 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5.466 hektare.

Dulu benar-benar sulit untuk menuju gerbang ‘keajaiban’ Blue Fire Kawah Ijen, jalanan kecil penuh gelombang menuju Paltuding (tempat dimulainya pendakian) yang tidak dapat dilalui semua kendaraan kadang menyiutkan nyali, namun kini jalanan itu tak sempit lagi, begitu mulus meski penuh tanjakan dan tikungan. Beberapa bukit telah dibelah untuk memudahkan kendaraan menuju gerbang serpihan surga dipuncak gunung ijen. Pesonanya bukan hanya menjadi perbincangan mahasiswa di warung kopi, tetapi telah menjadi pembicaraan hangat di luar negeri, terlebih hanya ada dua tempat di dunia ini yang memiliki blue fire tersebut, karenanya tidak mengherankan jika banyak yang penasaran dan merasa belum benar benar ke Banyuwangi jika belum menikmati blue fire.

Menelusuri jalan berliku ke puncak ijen, meskipun lelah seakan sirna ketika berada di puncak. Kita seakan menikmati serpihan surga dari dunia mimpi yanng tak henti memandang hingga malas pulang. Inovasi tiada henti dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terutama pada 10 tahun terakhir, salah satunya International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), sebuah ajang balam sepeda tingkat internasional yang digeber di Kabupaten Banyuwangi dengan beberapa rute destinasi wisata yang salah satu rutenya hingga ke puncak ijen. Sekilas kegiatan ini tidak berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, namun pada kenyataannya sangat berpengaruh terhadap peningkatan kunjungan wisata ke Banyuwangi, terutama ke puncak gunung ijen setiap malamnya, setidaknya jalan yang akan dilalui para peserta balap sepeda keliling Kabupaten Banyuwangi tersebut diperbaiki.

Berbagai inovasi tata kelola administrasi pemerintahan dengan menggunakan kecanggihan tehnologi tersebut mampu mempercepat layanan kepada masyarakat dengan biaya yang semakin ringan meskipun dengan tenaga ASN yang setiap tahun berkurang. Tak heran jika Kabupaten Banyuwangi menjadi jujugan daerah lain ngangsu kaweruh dan menerapkannya ditempat asalnya. Terlebih keelokan alam Kabupaten Banyuwangi dengan ditunjang berbagai fasilitas akomodasi dan transportasi yang memadai, menjadikan mereka bukan hanya melakukan study tiru terhadap inovasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, namun juga menikmati wisata dan kuliner khas dari Kabupaten ujung Timur Pulau Jawa ini yang saat ini begitu mudah transportasinya.

Bukan hanya fiber optik yang telah menghubungkan semua desa untuk mempermudah layanan, yang membuka cakrawala baru di perdesaan yang tidak kalah dengan metropilitan, namun juga penanggulangan kemiskinan dengan pemanfaatan dana zakat yang dikumpulkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) telah mampu memberikan sumbangsih terhadap penanggulangan kemiskinan, begitu juga dengan program Siswa Asuh Sebaya (SAS) yang dikumpulkan dan dikelola oleh sekolah sebagai salah satu pembentukan karakter peserta didik untuk menumbuhkan rasa peduli terhadap sesama.

Menjadikan tempat wisata dengan menarik wisatawan mancanegara tidak harus mengkaburkan jatidiri bangsa yang beragama dan berbudaya. Karena pada dasarnya wisatawan asing tersebut ingin menikmati suasana khas yang ada diwilayah yang dikunjunginhya yang sedikit berbeda dengan negara asalnya, baik suasana alam maupun masyarakatnya sebagai ciri khas suatu daerah. Inovasi yang dilakukan pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan tetap mempertahankan kearifan lokal dalam pengembangan wisata sangat tepat dan perlu dilakukan secara berkesinambungan. Hal ini mengingat kondisi perkembangan teknologi dan wisata yang tidak diimbangi dengan keteguhan dalam merawat budaya akan memudarkan jatidiri bangsa.

Dengan tetap membertahankan budaya yang berlandaskan agama yang kuat tersebut, masyarakat tidak akan was was terhadap perkembangan wisata yaang tentu dibarengi dengan perkembangan hotel dan restauran dimana para wisatawan beristirahat. Tanpa semua harus dengan embel embel syariah, namun perkembangan tempat penginapan di Kabupaten Banyuwangi masih memegang teguh tradisi luhur yang masih memegang teguh ajaran agama, sehingga dapat dimimalisir penyalahgunaan dalam pengembangan wisata untuk kegiatan kemaksiatan.

10 tahun inovasi yang dilakukan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas telah menunjukkan keberhasilan yang dahsyat, Banyuwangi bukan hanya sebagai daerah yang dilalui wisatawan menuju Pulau Dewata, namun saat ini Banyuwangi telah menjadi tempat tujuan wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Pengembangan potensi Kabupaten Banyuwangi bukan hanya menyuguhkan wisata alam dengan berbagai tradisi yang masih tetap dipertahankan, namun juga pengembangan nilei nilei keagamaan yang kuat, baik dalam pengembangan wisata maupun peningkatan sumber daya manusia.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger