Pages

 

Asyik, Emakku Yang Sekolah!

Oleh : Herny Nilawati

Di era pandemi seperti sekarang ini mungkin  kita pernah mendengar atau mengalami sendiri cerita tiga paragaraf(pentigraf) berikut ini?

Beginilah wajah rumah keluarga Pak Harun setiap pagi hari rumah  tak pernah sepi selalu ramai dengan ulah Haikal putra ke-3 dari 3 bersaudara yang masih menduduki kelas 3 SD. Sebelum corona datang setiap hari ribut dengan persiapan untuk berangkat ke sekolah sedangkan saat corona datangpun tetap saja  ribut, ribut  dengan Belajar Dari Rumah-nya..

            Bu Ratih, istri Pak Harun  seorang wanita  yang bisa dikatakan sabar dan telaten. Semenjak corona datang ini Bu Ratih menjadi guru dadakan bagi Haikal. Haikal tipe anak yang tidak bisa diam jika sudah waktunya sekolah di rumah, ada saja ulahnya, yang bangunnya kesiangan, sarapan pagi minta disuapin, saat mengerjakan tugas berlari kesana kemari, pegang HP bukannya belajar tapi mainan, mainan mobil-mobil dll pokoknya dilarang satu beralih kesatunya ada saja tingkahnya tidak bisa diam. Intinya menghindar dari sekolah di rumah. Dan untuk semua ini harus mengeluarkan jurus kesabaran tingkat tinggi Bu Ratih.

            Orang lain pun yang melihat tingkah Haikal pasti kewalahan. Bu Ratih kadang kehabisan akal juga jika batas waktu pengerjaan tugas-tugas sekolah yang ditentukan guru telah habis dan ujung-ujungnya Bu Ratihlah yang akhirnya menyelesaikan semua tugas online anaknya itu. Setelah tugas-tugas sekolah Haikal terselesaikan oleh Bu Ratih lalu Haikal langsung berteriak,” Asyik, asyik emakku yang sekolah! “ teriaknya kegirangan sembari memeluk mamanya dari belakang dan menciuminya. Bu Ratih hanya bisa menarik napas dalam-dalam.

            Inilah sebagian gambaran kehidupan saat ini, sebuah fenomena baru keseharian yang sering terjadi selama pandemi Covid-19. Bukan hanya sekadar cerita tiga paragraf tapi sebuah kenyataan di masyarakat. Sekarang ini banyak ibu yang seperti Bu Ratih, banyak anak yang juga seperti Haikal. Pembelajaran Jarak Jauh di masa pandemi memang banyak menuai cerita termasuk bagi ibu rumah tangga. Mereka yang pada akhirnya menjadi guru-guru dadakan bagi putra-putrinya selama sekolah dari rumah. Wajar hal seperti di atas muncul, kepanikan dan ketidaksiapan para orang tua dalam menangani cara belajar putra-putrinya di rumah. Mereka memang tidak memiliki kompetensi khusus dalam mengajar dadakan seperti halnya guru yang sejak awal telah dipersiapkan dengan menempuh akademik sesuai dengan bidangnya masing-masing.

            Pembelajaran Jarak Jauh memang perlu  kesiapan matang dari berbagai komponen penunjang pendidikan selain fasilitas juga kesiapan guru, siswa dan orang tua sebagai pendamping di rumah. Kesiapan mental contohnya, bagi siswa yang menempuh Sekolah Menengah Atas akan berbeda kesiapan mentalnya dalam hal kemandirian dan tanggungjawab dengan siswa yang menempuh di Sekolah Menengah Pertama atau Sekolah Dasar. Tingkat SD  cenderung butuh perhatian khusus dan pendampingan bagi orang tua. Tidak sedikit orang tua bersikap seperti fenomena di atas, niat awalnya mendampingi putra-putrinya dalam belajar namun pada akhirnya justru malah menjerumuskannya. Ini terjadi karena ketidaksiapan para orang tua dalam menghadapi anak dengan segala pola tingkahnya termasuk rengekan-rengekan si anak dll. Selain itu juga kadang terdorong agar anaknya mendapatkan nilai-nilai yang baik pada semua mata pelajaran. Akhirnya orang tua rela mengerjakan tugas-tugas putra-putri mereka.

            Jika hal ini terjadi, bukan lagi putra-putri mereka yang sedang melakukan Belajar Dari Rumah(BDR) tapi para ibu/orang tua yang sedang sekolah atas nama anaknya. Di sinilah sulitnya diterapkan sikap kejujuran dalam Pembelajaran Jarak jauh. Bukan hanya bantuan orang tua saja, namun mencari jawaban atas pertanyaan yang diberikan guru sangatlah mudah tinggal browsing mbah google semua beres. Untuk hal browsing yang dilakukan anak masih ditolerir karena mengandung kompetensi literasi. Yang menjadi pokok persoalan adalah  bantuan orang tua dalam mengerjakan semua tugas putra-putrinya selama belajar di rumah.

           


Membantu mengerjakan  tugas anak terutama yang masih duduk di SD bukan lagi bentuk pendampingan yang baik dari orang tua. Nanti  bukanlah orang tua yang menciptakan tapi justru orang tualah yang akan mengelincirkan nilai-nilai kejujuran, kedispinan, kemandirian dan tanggung jawab anaknya sendiri. Sekarang apalah arti sebuah nilai dengan angka-angka tertera bagus dari raport putra-putri kita jika kita/orang tua yang membantu mengerjakan semua itu? Kita sering lupa bahwa pembentukan karakter anak lebih berharga dari sederetan angka yang bagus itu. Pembentukan dan penanaman karakter sejak dini merupakan hal penting untuk bekal kesiapan masa depan putra-putri kita. Kerja sama dan dukungan penuh dari orang tua sangat membawa dampak bagi perkembangan karakter anak.

            Ada empat  peran orang tua yang sekiranya dapat diterapkan dalam Belajar Dari Rumah(BDR) selama pandemi ini yaitu,  satu pola asuh orang tua meliputi kesehatan anak, nutrisi anak, ibadah, mengontrol penggunaan gawai dan mengontrol intesitas keluar rumah bagi anak dll. Kedua, Pendampingan belajar dengan cara orang tua belajar meng-upgrade diri dengan teknologi dan pelajaran si anak. Dengan selalu mengikuti perkembangan pembelajaran online dan mata pelajaran anak akan memudahkan orang tua dalam proses pendampingan. Ketiga, orang tua sebagai motivator harus memberikan semangat dalam belajar dan memberikan pemahaman tentang tata cara belajar di masa pandemi. Keempat, orang tua selalu menjalin komunikasi dengan guru, sekolah dan paguyupan dalam hal diskusi perkembangan anak.

            Walau keberadaan Covid-19 se-antero jagat banyak bertabur kisah dan memberi warna baru dalam aspek kehidupan termasuk dunia pendidikan, namun kita harus banyak belajar dan mengambil hikmahnya. Hakikatnya Pembelajaran Jarak Jauh(PJJ) bagi guru dan Belajar Dari Rumah(BDR) bagi siswa tetap perlu terjalin adanya hubungan harmonis berbagai pihak antara anak, guru, orang tua, sekolah, lingkungan dan pemerintah. Pembentukan dan penanaman karakter tetap harus kekeh diterapkan oleh orang tua yang saat ini berada lebih dekat dengan putra-putrinya agar nantinya menjadi insan-insan yang berkualitas. Dan putra-putrinya benar-benar menjadi siswa-siswi yang “sesungguhnya belajar” bukan sekadar  atas nama.

Profil Penulis:

Penulis, Herny Nilawati, S.Pd, M.Pd.I Tempat mengajar di MTsN 1 Banyuwangi dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. tempat tinggal Jl. Ijen No. 53 RT 03 RW II  Singotrunan Banyuwangi.

Alamat email: hernynilawati9@gmail.com

 No hp : 085336005566



 

Corona Virus Menambah Wawasanku

 Corona Virus Menambah Wawasanku

Oleh : Wilis Anggraeni

 

Coronavirus atau virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu. Banyak orang terinfeksi virus ini, setidaknya satu kali dalam hidupnya.Namun, beberapa jenis virus corona juga bisa menimbulkan penyakit yang lebih serius, seperti:

·         Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Walaupun lebih bayak menyerang lansia, virus ini sebenarnya bisa menyerang siapa saja, mulai dari bayi, anak-anak, hingga orang dewasa, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui. Infeksi virus Corona disebut COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan.

  • Cara Virus Corona Menyebar

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan cara penyebaran virus corona dari satu orang ke lainnya. Menurut WHO, ketika seseorang yang menderita COVID-19 batuk atau bernapas, mereka melepaskan seperti tetesan cairan yang juga terdapat virus corona.

Kebanyakan tetesan atau cairan itu jatuh pada permukaan dan benda di dekatnya -seperti meja, meja, atau telepon. Orang bisa terpapar atau terinfeksi COVID-19 dengan menyentuh permukaan atau benda yang terkontaminasi - dan kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut. Anda berdiri pada jarak 1 atau 2 meter dari seseorang dengan COVID-19, Anda dapat terjangkir melalui batuk termasuk saat mereka menghembuskan napas.

Karena COVID-19 adalah penyakit baru, banyak aspek mengenai bagaimana penyebarannya sedang diteliti. Penyakit ini menyebar selama kontak dekat, seringkali oleh tetesan kecil yang dihasilkan selama batuk, bersin, atau berbicara. Tetesan ditularkan, dan menyebabkan infeksi baru, ketika dihirup oleh orang-orang dalam kontak dekat (1 hingga 2 meter, 3 hingga 6 kaki). Mereka diproduksi selama bernafas, namun karena mereka relatif berat, mereka biasanya jatuh ke tanah atau permukaan.

 

Berbicara dengan suara keras melepaskan lebih banyak tetesan dari pada pembicaraan normal. Sebuah penelitian di Singapura menemukan bahwa batuk yang tidak tertutup dapat menyebabkan tetesan mencapai 4,5 meter (15 kaki). Sebuah artikel yang diterbitkan pada bulan Maret 2020 berpendapat bahwa saran tentang jarak tetesan mungkin didasarkan pada penelitian tahun 1930-an yang mengabaikan efek dari udara yang dihembuskan lembab yang hangat di sekitar tetesan dan bahwa batuk atau bersin yang tidak terbuka dapat berjalan hingga 8,2 meter (27 kaki) .

Virus ini paling menular selama tiga hari pertama setelah timbulnya gejala, meskipun penyebaran diketahui terjadi hingga dua hari sebelum gejala muncul (penularan secara asimptomatik) dan pada tahap selanjutnya dari penyakit. Beberapa orang telah terinfeksi dan pulih tanpa menunjukkan gejala, tetapi ketidakpastian tetap dalam hal penularan tanpa gejala. Meskipun COVID-19 bukan infeksi menular seksual , dicium, hubungan intim, dan rute oral feses diduga menularkan virus.

Gejala awal infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa menyerupai gejala flu, yaitu demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Setelah itu, gejala dapat hilang dan sembuh atau malah memberat. Penderita dengan gejala yang berat bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Gejala-gejala tersebut muncul ketika tubuh bereaksi melawan virus Corona. Secara umum, ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:

    1. Demam (suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius)
    2. Batuk
    3. Sesak napas

b.      Alasan Mengapa Covid-19 Menjadi Pandemi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyatakan Virus Corona COVID-19 sebagai pandemi pada Rabu (11/03/2020). Ini disebabkan karena terjadi setelah wabah mirip SARS itu menjangkiti semakin banyak orang di mana pada Kamis pagi angkanya mencapai 126.063 kasus. Dengan total korban tewas sebanyak 4.616 orang dan sembuh sebanyak 67.071 orang, menurut Worldometers.

WHO menekankan bahwa penggunaan istilah pandemi tidak berarti ada anjuran yang berubah. Semua negara tetap diminta untuk mendeteksi, mengetes, merawat, mengisolasi, melacak, dan mengawasi pergerakan masyarakatnya.

“Perubahan istilah tidak mengubah apapun secara praktis mengingat beberapa pekan sebelumnya dunia telah diingatkan untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi pandemi,” kata Dr. Nathalie MacDermott King’s Colege London.

Virus ini juga lebih rentan menyebabkan kematian pada penduduk usia lanjut. Namun, ada juga penduduk di kelompok usia ini yang berhasil sembuh dan seorang bayi juga meninggal karena Covid-19.

Virus ini juga lebih rentan menyebabkan kematian pada penduduk usia lanjut. Namun, ada juga penduduk di kelompok usia ini yang berhasil sembuh dan seorang bayi juga meninggal karena Covid-19.

Dalam perkembangannya, Covid-19 menyebar ke Benua Afrika. Tanggal 14 Februari 2020, kementerian kesehatan dan WHO mengumumkan bahwa kasus virus korona orang asing pertama kali dikonfirmasi di Mesir, negeri yang terletak di Benua Asia dan Afrika. Dalam pernyataan bersama WHO, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Mesir Khaled Mogahed mengatakan bahwa kasus tersebut dinyatakan positif covid-19 setelah ia menjalani tes laboratorium.

 

Kematian dan Kesembuhan

Korban pertama akibat Covid-19 terjadi 11 Januari 2020. China mencatat kematian pertama penduduk akibat Covid-19. Namun, lebih kurang tiga minggu kemudian China juga mencatat adanya orang yang pertama kali mampu bertahan melawan virus Korona.

Pria berusia 23 tahun yang dikenal dengan nama keluarganya Huang tersebut bekerja di Stasiun Kereta Hankou. Pusat transportasi ini berlokasi sekitar 1 kilometer (0,6 mil) barat dari Pasar Ikan Huanan, tempat yang dianggap sebagai awal munculnya Covid-19.

Kurang dari sebulan berikutnya, tepatnya 2 Februari 2020, kematian akibat Covid-19 di luar China untuk pertama kalinya dilaporkan di Filipina. Pasien itu adalah pria China berusia 44 tahun dan diketahui sebagai teman wanita berusia 38 tahun yang dites positif Covid-19 pada 30 Januari dan kasus pertama di Filipina.

Tanggal 1 April 2020, seorang bayi berusia enam minggu di Negara Bagian Connecticut, AS, meninggal karena Covid-19. Meninggalnya bayi itu menandai kasus kematian penduduk termuda yang sangat jarang dalam pandemi Covid-19.

Perjalanan wabah Covid-19 juga menunjukkan kemampuan orang lanjut usia bertahan dari virus Korona. Tanggal 8 April 2020, dilaporkan seorang perempuan asal Belanda berusia 107 tahun sejauh ini menjadi manusia tertua di dunia yang dinyatakan sembuh setelah mengidap Covid-19.

 

Pembatasan dan Pengobatan

Sejak pemberlakuan kebijakan di kota Wuhan, istilah lockdown atau karantina dikenal luas di seluruh dunia. Sejumlah negara juga tercatat melakukan karantina. Pada 2 Februari, Filipina memberlakukan larangan perjalanan bagi wisatawan yang datang dari China, Hong Kong, dan Makau, dan masa karantina 14 hari untuk penduduk Filipina.

Dalam upaya penanganan wabah, otoritas di sejumlah negara kemudian menerapkan kebijakan pembatasan yang beragam. Namun, kebijakan pembatasan yang berujung kerusuhan besar pertama kali dilaporkan terjadi di India, 28 Maret 2020.

 

Penyebaran Covid-19 di Indonesia

Presiden Joko Widodo mengumumkan secara resmi kasus pertama Covid-19 di Indonesia di Istana Negara tanggal 2 Maret 2020. Dua warga negara Indonesia yang positif Covid-19 tersebut mengadakan kontak dengan warga negara Jepang yang datang ke Indonesia.

Pada 11 Maret 2020, untuk pertama kalinya warga negara Indonesia meninggal akibat Covid-19. Korban yang meninggal di Solo adalah seorang laki-laki berusia 59 tahun, diketahui sebelumnya menghadiri seminar di kota Bogor, Jawa Barat, 25-28 Februari 2020.

Dua bulan lebih sesudah masuknya Covid-19 ke Indonesia, untuk pertama kalinya tercatat angka kesembuhan pengidap covid-19 lebih besar dari jumlah penduduk yang meninggal karena virus tersebut. Tanggal 07 Mei 2020, data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menunjukkan 2317 pasien yang sembuh, sedangkan jumlah pasien meninggal 895 orang.

Namun, data kesembuhan pasien Covid-19 yang melampaui angka pasien meninggal bukanlah tanda bahwa wabah virus ini akan segera teratasi di Indonesia. Sejauh ini, angka kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Dua bulan lebih sejak dinyatakan resmi, jumlah kasus pengidap Covid-19 di Indonesia tercatat per tanggal 7 Mei 2020 mencapai 12.438 kasus.

 

DIAGNOSIS INFEKSI CORONAVIRUS

Untuk mendiagnosis infeksi virus corona, dokter akan mengawali dengan anamnesis atau wawancara medis. Di sini dokter akan menanyakan seputar gejala atau keluhan yang dialami pasien. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan darah untuk membantu menegakkan diagnosis.

Dokter mungkin juga akan melakukan tes dahak, mengambil sampel dari tenggorokan, atau spesimen pernapasan lainnya. Untuk kasus yang diduga infeksi novel coronavirus, dokter akan melakukan swab tenggorokan, DPL, fungsi hepar, fungsi ginjal, dan PCT/CRP.

PENGOBATAN VIRUS CORONA

Tak ada perawatan khusus untuk mengatasi infeksi virus corona. Umumnya pengidap akan pulih dengan sendirinya. Namun, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meredakan gejala infeksi virus corona. Contohnya:

a.     Minum obat yang dijual bebas untuk mengurangi rasa sakit, demam, dan batuk. Namun, jangan berikan aspirin pada anak-anak. Selain itu, jangan berikan obat batuk pada anak di bawah empat tahun.

b.    Gunakan pelembap ruangan atau mandi air panas untuk membantu meredakan sakit tenggorokan dan batuk.

c.     Perbanyak istirahat.

d.    Perbanyak asupan cairan tubuh.

e.     Jika merasa khawatir dengan gejala yang dialami, segeralah hubungi penyedia layanan kesehatan terdekat.

Khusus untuk virus corona yang menyebabkan penyakit serius, seperti SARS, MERS, atau infeksi novel coronavirus, penanganannya akan disesuaikan dengan penyakit yang diidap dan kondisi pasien.

Kami berikan gambaran singkat tentang virus ini semoga bermanfaat, tahu akan gejala, bagaimana mengatasinnya dan selalu memjaga diri, keluarga dan lingkungan agar tidak terpapar virus ini, tidak panic dan tidak menebar kepanikan tapi dengan tetap menjaga agar tidak terpapar tentunya, semoga bermanfaat.

Semangat dalam Rindu

 

Semangat dalam Rindu
Oleh : ST. Muanifah

Ingin selalu nampak sempurna di mata anak didiknya, adalah hal yang sangat wajar. Karena guru adalah panutan bagi mereka. Walau kadang terengah karena lelah, tetapi guru yang baik akan terus berusaha memenuhi kebutuhan pembelajaran bagi anak didiknya.

Di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir, membuat semua komponen pendidikan kerja ekstra keras dibanding pada pembelajaran normal. Terutama peran guru sebagai garda terdepan keberhasilan pendidikan ada dipundaknya. Mau tidak mau harus memersiapkan materi pembelajaran jarak jauh setiap hari dengan memanfaatkan berbagai macam aplikasi, hal ini yang membuat guru terus menerus berguru, demi memudahkan anak didiknya.

Perjuangan tiada henti demi anak didik terlayani. Para guru belajar bersama tentang berbagai aplikasi, antara lain, CorelDraw, Camtasia, Video Maker, KineMaster, dan lain-lain, untuk dapat menyajikan pembelajaran dengan baik kepada anak didik.


Tetapi bukan serta merta tuntas tanpa kendala, ketika semangat guru terus belajar, mengharuskan pembelajaran terus melaju berpacu dengan waktu. Ada saja kendala yang terjadi, ketika ilmu telah didapat, ganti sarananya bermasalah. Power point telah dibuat, rekaman lewat aplikasi camtasia telah dilakukan, hasilnya suara kecil sekali, usut punya usut laptopnya bermasalah.

Guru harus putar otak lagi, aplikasi lain disiapkan, KinMaster dicobanya, padahal ini salah satu aplikasi yang sangat memudahkan guru membuat media pembelajaran, ternyata bermasalah lagi, tidak muncul awal tampak di layar, KinMaster untuk siap dipakai, lalu muncul keterangan, "Anda belum berhasil mendouwnload aplikasi," padahal aplikasi telah nampak di layar hand phone. Rekaman video langsung pun kurang efektif, di tengah-tengah rekaman belum selesai, ruang tersisa tinggal beberapa detik, akibatnya rekaman terputus. Pakai Video Maker, satu-satunya jalan yang bisa bertahan untuk membuat pembelajaran tidak terputus setiap harinya, walau dengan video maker juga selalu harus menghapus banyak video yang lain, agar cukup ruang untuk menyelesaikan pembuatan video tersebut.

Pandemi covid-19 benar-benar menguji kesabaran, beruntung sedikit bisa IT, para guru yang tidak banyak bisa IT bagaimana? Pendidikan di Indonesia dipertaruhkan, seberapa persen serapan ilmu yang diperoleh anak-anak dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), dibanding dengan tatap muka? Pendidikan karakter anak, bisakah tersentuh maksimal? Karena guru mengingatkan jarak jauh, dengan orang tuanya sendiri masih belum seperti ketika diingatkan gurunya.

Betapa berat tugas guru masa pandemi ini, dan berharap akan cepat berlalu, sehingga dapat melaksanakan pembelajaran secara langsung.

Belum lagi komplain wali murid, anaknya tidak bisa mengikuti pelajaran setiap hari dengan baik, karena handphone satu-satunya harus dibawa kerja. Guru sebatas bisa melayani dan menunaikan kewajiban mentransfer ilmunya agar anak-anak tidak ketinggalan pengetahuan, haruskah berlama-lama dengan pembelajaran jarak jauh yang menjanjikan modernitas dan kecanggihan IT? Ternyata belum menjawab segudang permasalahan di lapang, tetapi menyisakan masalah yang semakin dalam.

Pejuang literasi, tak kan pernah surut langkah dalam mengayomi anak didik dengan kata-kata lembutnya, menyirami rohani dengan memandu shalat duha, mengaji dan pembelajaran agamanya, memberikan pengetahuan umumnya, lewat pembelajaran jarak jauh. Pejuang literasi bukan sebatas mengajarkan tulis menulis, tetapi membangun peradaban mencerdaskan anak bangsa secara utuh, itulah pejuang literasi sejati. Kunci keberhasilan seseorang adalah sabar ketika diuji, ikhlas dalam menjalankan amanat.

Kurengkuh rindu dalam diam, seraya terus berjalan mencerdaskan anak bangsa. Allah SWT telah memberikan hikmah besar dari peristiwa Covid-19. Ada hikmah di balik musibah dan akan dirasakan bagi hamba-hamba-Nya yang berpikir.

Pejuang Literasi di Tengah Pandemi

 

Pejuang Literasi di Tengah Pandemi

Oleh : Masrukah

DIi masa pandemi covid-19 merupakan perjuangan yang sangat berat yang dialami oleh guru sebagai pejuang literasi dalam dunia pendidikan. Mempersiapkan sekolah untuk memindahkan pengajaran secara daring adalah tugas besar, membutuhkan perencanaan dan persiapan, bahkan pelatihan guru, dan tentu tidak akan terlaksana dalam waktu singkat. Namun ini semua harus dijalani dan dilaksanakan oleh guru agar siswa tetap dapat belajar dalam bimbingan dan arahan guru. Bagi daerah yang sulit dijakau oleh internet, guru harus pandai-pandai menyisihkan waktu untuk home visit, agar siswa tidak tertinggal pelajaran.

Daring artinya pembelajaran dilakukan tanpa tatap muka melalui platform yang telah tersedia secara online. Guru sebagai pejuang literasi harus mampu memberikan pelajaran secara virtual maupun modul, kemudian dilanjutkan oleh penugasan dengan waktu yang ditentukan.

Dengan sistem belajar daring diharapkan siswa tetap bersemangat dalam belajarnya dan mendapatkan materi pelajaran dari guru. Peran guru sebagai motivator dan pejuang literasi diharuskan memahami home learning dengan memberikan tugas-tugas secara online. Kita tidak boleh membiarkan siswa berkeliaran tanpa mendapatkan pengajaran dari seorang guru. Walaupun banyak kendala yang harus dihadapi, namun pembelajaran harus tetap berjalan demi anak bangsa yang terus bertranformasi dalam era globalisasi.

Masa pandemi covid-19 belum berakhir dan entah sampai kapan guru mengajar dengan tidak tatap muka. Pembelajaran banyak dilakukan dengan menggunakan jaringan internet. Sangat dikhawatirkan siswa tidak bisa memilih dan menyensor berita-berita dari internet. Karena di situ banyak konten-konten negatif yang tiba-tiba muncul dipermukaan layar, jika diklik saja, maka konten negatif itu akan terbuka dan dapat dinikmati siapa saja.


Dalam situasi apapun gerakan literasi tidak boleh terhambat implementasinya di sekolah maupun luar sekolah. Menumbuhkan minat baca yang tinggi harus dimulai sejak dini. Salah satunya dengan adanya gerakan literasi sekolah, saat ini perubahan minat baca para siswa sudah semakin terlihat baik dari akademik maupun non akademik. Perubahan akademik dari ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia meningkat dengan drastis. Kebiasaan siswa yang malas membaca teks wacana atau buku dapat teratasi. Dari non akademik, budi pekerti para siswa semakin berubah ke arah yang lebih baik dengan berkurangnya tingkat pelanggaran yang dilakukan oleh siswa.

Selain semangat literasi, guru juga harus dapat membuat dan memodifikasi alat pelajaran, praktikum merupakan jenis dari karya inovatif. Macamnya berupa membuat alat pelajaran, membuat alat peraga, dan membuat alat praktikum. Alat pelajaran adalah alat yang digunakan untuk membantu kelancaran proses pembelajaran dan bimbingan pada khususnya dalam proses pendidikan di sekolah pada umumnya. Alat peraga adalah alat yang digunakan untuk memperjelas konsep, teori, cara kerja tertentu yang dipergunakan dalam proses pembelajaran atau bimbingan.

Beberapa kesulitan ketika penerapan literasi melalui daring di tengah pandemi:

1.    Pada proses pengenalan abjad atau huruf bagi jenjang pendidikan dasar sangat sulit diterapkan, karena siswa harus dituntun berulang-ulang untuk melafalkan dan membunyikan dengan jelas, ini tidak bisa dilakukan. Banyak materi yang kurang dipahami dan dimengerti oleh siswa, karena kurang penjelasan dari pengajar. Daya serap siswa terhadap materi pelajaran sangat kurang. Apalagi pada masa pandemi ini pengajaran hanya mengampu pada 2 materi pelajaran yang diutamakan pelajaran yang esensial saja.

  1. Banyak tugas dari guru yang tidak dikerjakan oleh siswa. Sehingga tugas bertumpuk-tumpuk dari hari pertama sampai hari berikutnya. Anak-anak lebih suka membuka konten-konten yang tidak bermanfaat yang tidak mendukung pelajaran. Sebuah alasan siswa minta uang untuk membeli kuota kepada orangtua untuk belajar, ternyata disalah gunakan.
  2. Guru kesulitan mengontrol siswa yang hadir atau online. Terkadang mengumpulkan tugas tidak tepat waktu. Banyak alasan yang dikemukakan oleh siswa dari sulitnya sinyal sampai kehabisan paketan. Penerapan karakter budi pekerti sebagai teladan sulit diterapkan.
  3. Orangtua harus menyiapkan anggaran untuk membeli paket internet dan perangkat HP Android, Laptop, Ipad, dan lainya. Inilah yang menjadi beban para orangtua di tengah kesulitan ekonomi di masa pandemi. Masih ditambah beban orantua yang harus mendampingi anaknya belajar di rumah yang mestinya waktu digunakan untuk bekerja.
  4. Tugas guru selain menumbuhkan minat bakat siswa membaca dan menulis. Guru juga menjadi teladan untuk membentuk karakter siswa, guru sulit untuk mengetahui perkembangan siswa dalam aspek afektif dan psikomotoriknya jika tidak dengan tatap muka. Keberhasilan dalam membentuk karakter siswa  harus dilakukan dengan pembiasaan prilaku baik yang berulang-ulang dan konsisten.

 

Sebuah perjuangan yang membutuhkan perencanaan dan penguasaan IT dalam situasi pandemi ini. Tetap menjai guru yang mengajar dengan kreatif dan menarik akan menjadi idola para siswa, selalu dirindukan dan dinantikan kehadiranya dikala guru tersebut tidak masuk sekolah karena halangan, tidak membosankan. Memiliki banyak trik juga unik yang bisa membuat siswa mudah menerima materi pelajaran.

Guru kreatif sangat diperlukan untuk mengantarkan peserta didik menjadi lebih baik. Guru sebagai pejuang literasi akan terus mampu dalam situasi dan kondisi apapun tak terkecuali di masa pandemi covid-19.

SISWA BERKARYA, GURU SUKA CITA

 

SISWA BERKARYA, GURU SUKA CITA

Oleh : Nurul Ludfi R

Dari pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadhim Makarim, dapat disarikan pengertian tentang makna guru penggerak. Makna Guru Penggerak adalah guru yang mengutamakan murid dari apa pun, bahkan dari kariernya sendiri. Mereka akan mengutamakan murid dan pembelajaran murid. Mereka akan mengambil tindakan tanpa disuruh, diperintah, untuk melakukan yang terbaik demi pendidikan di sekolah. Apakah saya termasuk guru penggerak? Mungkin saya belum pantas mendapatkan julukan itu tapi saya ingin menuju ke sana. Yang jelas selama ini saya mendedikasikan diri sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA/MA) dan berusaha menunaikan kewajiban sebaik yang saya bisa.

Sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia, ada keprihatinan yang besar terhadap kemampuan literasi siswa SMA/MA.  Mereka kurang suka membaca apalagi menulis. Padahal dua kegiatan itu saling berhubungan bahkan saling ketergantungan. Mereka akan mampu menulis dengan baik bila memiliki tabungan membaca yang baik. Tabungan bacaan itulah yang akan menjadi amunisi menulisnya. Bila ketika ada stagnanisasi dalam menulis mereka perlu membaca yang lebih banyak lagi. Pernah saya mendengar pengantar dari Najwa Shihab tentang sangat pentingnya membaca untuk menulis. Kata Najwa, jika kita ingin menulis sekali kita perlu membaca tiga kali. Setelah membaca, kita memerlukan ruang dan waktu untuk mengendapkan semua materi bacaan itu. Barulah setelahnya kita menuliskan apa yang kita baca berdasarkan kemampuan kita mengolahnya.

Tahun 2017, sejak saya mengikuti salah satu kegiatan pelatihan guru menulis, saya menekadkan diri untuk mengajari siswa saya menulis. Entah apa pun bentuk tulisannya. Kala itu saya terlebih dulu memeloporinya dengan membuat buku sendiri. Tulisan saya berupa kumpulan cerita faksi, berjudul Kopi dan Karbit, yang diterbitkan oleh salah satu penerbitan indie. Saya mencetak buku pada penerbit yang mau menerbitkan buku berdasarkan pesanan. Istilahnya printed by demand.

Sebelum meminta mereka menulis, saya merancang metode dan strategi agar program saya terarah. Saya menyesuaikan bentuk tugas menulisnya dengan materi yang sedang saya ajarkan di kelas tersebut. Tujuannya agar mereka memiliki ikatan untuk menyelesaikan program tersebut. Saya berpikir, mereka memang harus sedikit diikat karena mereka belum terbiasa. Pengikatan tersebut saya balut dengan bahasa menyelesaikan proyek jangka panjang semester.

Proyek tersebut berdurasi satu semester. Saya mempersiapkan semua piranti pembuatan tugas seperti membuat RPP-nya, membuat proposal dan izin dari madrasah untuk rencana proyek jangka panjang selama satu semester, sampai ketentuan teknis atau rambu-rambu penugasan kepada siswa.

Setelah semua perencanaannya beres, saya memulai penugasan di awal semester. Proyek ini memakan waktu kurang lebih 5 bulan. Waktu sepanjang itu saya bagi menjadi 5 tahap. Tahap pertama merencanakan tulisan. Tahap kedua, menuliskan draf tulisan dengan ditulis tangan. Saya tidak menganjurkannya mengetik. Hal ini terus terang saya lakukan untuk meminimalisasi plagiasi siswa. Saya mengawal benar tulisan tangan siswa ini. Satu persatu mereka saya datangi, di sela-sela mereka  mengerjakan tugas saya di kelas. Mereka boleh mengerjakan proyek tersebut di rumah dan pada saat ada jam saya di kelas mereka harus membawa draf tulisan tersebut. Saya ingin mereka mengerjakannya sedikit demi sedikit. Waktu menulis yang saya berikan cukup longgar, yakni satu bulan. Saya mendapatkan jatah jam mengajar di masing-masing kelas sebanyak 4 jam pelajaran seminggu. Jika satu bulan, tiap kelas memiliki waktu konsultasi maksimal 8 kali. Ini tahap yang paling penting.

Tahap ketiga, setelah draf tulisan tangan selesai dan saya setujui, mereka saya minta untuk mengetiknya. Tahap keempat, saya akan memilih 2-4 orang tiap kelas sebagai tutor sebaya. Mereka saya pilih berdasarkan kecakapan menulis dan kemampuan IT-nya. Kepada mereka saya ajarkan teknik self editing. Tugas mereka adalah membantu saya mengedit awal tulisan teman-temannya dan menyusun setiap tulisan itu secara urut berdasarkan presensi siswa. Proses ini berlangsung selama satu bulan.

Tahap kelima, pekerjaan para tutor sebaya ini, saya edit kembali dan saya jadikan satu file. Pekerjaan mereka ini sangat membantu saya dalam mengedit akhir. Hasil tulisan mereka siap saya bukukan. Saya tinggal melengkapi, sinopsis, blurb, kata pengantar, dan mengadakan negosisasi dengan penerbit. Tentang pembiayaan buku, kita pikul bersama. Begitu pembicaraan dengan penerbit selesai, maka pembiayaan cetak buku saya bagi rata dengan jumlah seluruh siswa. Memang, lebih mudah saya mengikat mereka karena ini berkaitan dengan penyelesaian tugas akhir semester.

Poin yang didapat dari proyek ini adalah mereka memiliki karya orisinal dan dibukukan. Ini adalah kebanggaan tersendiri setelah mereka memegang buku karya sendiri. Bagi saya, proses membimbing mereka satu persatu membuat saya memahami sejauh mana kemampuan mereka menulis, kesungguhan mereka dalam berupaya, dan seberapa banyak kesulitan yang mereka alamai dalam menulis. Ini adalah bekal saya untuk memperbaiki cara mengajari mereka menulis di kemudian hari.

 

Madrasah Bersiap Melaksanakan Pembelajaran New Normal

 Madrasah Bersiap Melaksanakan Pembelajaran New Normal

Oleh : Rosid Tamami, M.Pd

 

            Saat ini sebuah kosakata yang menjadi trending topic yaitu New Normal yang kemudian dibahasakan menjadi Kenormalan Baru. Secara sederhana konsep kenormalan baru ini adalah usaha melaksanakan kembali semua kegiatan rutin sehari-hari kita seperti semula namun dengan memenuhi dan mematuhi syarat-syarat tertentu terkait usaha pencegahan penularan Covid-19. Syarat-syarat tersebut adalah pemenuhan protokol kesehatan terkait pencegahan Covid-19. Aktifitas kembali seperti semula merupakan suatu hal yang saat ini dirindukan oleh banyak orang, meskipun bayang-bayang kekhawatiran dan ketakutan juga mengikuti.

            Salah satu sektor yang benar-benar melaksanakan kegiatan dari rumah adalah pendidikan. Sebagian besar kalau tidak bisa disebut semua sekolah, baik sekolah formal maupun non formal dari tingkat TK/RA sampai Perguruan Tinggi melaksanakan belajar dari rumah (BDR). Sekolah dapat melaksanakan kegiatan dari rumah (BDR) secara penuh karena implikasi langsung nya tidak sebesar sektor-sektor yang lain. Sektor ekonomi misalnya, sangat sulit melaksanakan kegiatan dari rumah, seperti jual beli di pasar atau mall. Begitu juga kegiatan keagamaan bagaimana sulitnya himbauan kegiatan peribadatan keagamaan dipindah dari rumah ibadah secara berjamaah menjadi sendiri-sendiri dari rumah. Bahkan untuk kegiatan ibadah dari rumah tidak sedikit yang menimbulkan “konflik” meskipun sebatas informasi hoax dan pelintiran berita di media sosial bahwa tujuan himbauan ibadah dari rumah adalah usaha untuk membatasi kegiatan keagamaan semata. Dari uraian diatas memang hanya sektor pendidikan yang benar-benar dapat melakukan kegiatan dari rumah secara penuh.

Meskipun sebenarnya kegiatan BDR ini juga menyisakan persoalan yang tidak sedikit. Secara umum ada tiga permasalahan utama dalam pelaksanaan BDR. Permasalahan pertama adalah terkait kemampuan guru dalam membuat konsep, skenario dan rencana pembelajaran yng tentu saja harus mengakomodir situasi dan kondisi terkini dan sangat berbeda dari biasanya. Permasalahan kedua karena BDR banyak bertumpu kegiatan daring maka terkait pemenuhan sarana-prasarana, baik gawai yang dimiliki siswa maupun akses internet serta biaya tambahan yang harus dikeluarkan orang tua untuk membeli paket data. Sebenarnya permasalahan akses internet ini merupakan permasalahan klasik karena kita tahu kualitas layanan internet di Indonesia termasuk lambat. Berdasar data dari Ookla seperti dilansir dari CNN   rata-rata kecepatan internet kabel di Indonesia adalah 15,5 Mbps dibanding dunia sebesar 54,3 Mbps, ini menempati peringkat ke  42 dari 46 negara. Permasalahan ketiga terkait hasil belajar siswa, efektifitas dan pencapaian kompetensi dalam kegiatan BDR. Permasalahan output BDR dan efektifitas belajar daring ini sedikit banyak juga membuat guru merasa galau. Kegalauan dari guru muncul karena ada pengamat pendidikan yang menilai guru  kurang cakap, di gaji tanpa bekerja dan membuat siswa terbebani dengan tugas yang berlebih, meskipun kritik ini belum tentu benar atau didukung dengan data yang akurat.

            Selain menyisakan permasalahan dan kendala pelaksanaan belajar dari rumah (BDR) juga membawa banyak manfaat meskipun dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana. Manfaat lainya adalah adanya peningkatan literasi digital terutama guru, meskipun belum ada data pasti. Dapat dirasakan percepatan litarasi digital guru dengan parameter banyaknya kegiatan webinar dan  seminar daring yang diadakan oleh berbagai lembaga, selalu diikuti oleh guru dari segala tingkatan usia dengan penuh antusias. Selain itu banyak juga rapat dinas yang diadakan secara daring, yang jika mau diteruskan nanti pasca pandemi akan tak terhitung berapa jumlah efisiensi anggaran yang didapat dan dialihkan kedalam kegiatan lain yang lebih besar manfaatnya.

Terlepas dari itu semua, tujuan utama dari pelaksanaan BDR adalah dalam rangka pembatasan sosial (social distancing). Sebagai salah satu usaha memutus rantai penularan atau infeksi dari Covid-19 dan kemunculan kluster baru, dan semoga upaya ini akan membawa hasil yang baik. Dan kita harus berbaik sangka bahwa usaha seluruh komponen mulai pemerintah, sekolah, guru, siswa dan juga masyarakat/orang tua dalam melaksanakan BDR ini sudah berhasil menghambat rantai penularan Covid-19. Tanpa terasa sudah berlalu lebih tujuh puluh hari guru dan murid harus memendam rindu untuk saling mengisi ruang-ruang kebaikan dalam proses pembelajaran secara langsung. Betapa gembira ketika diawal rencana kegiatan pembelajaran secara normal akan dimulai kembali di bulan juni, namun kerinduan itu ternyata belum bisa terwujud karena proses BDR masih belum bisa diakhiri, dan kemungkinan sampai akhir tahun pelajaran. Bahkan awal tahun pelajaran yang akan datang juga masih menyisakan banyak pertanyaan apakah dilaksanakan dari rumah ataukah di sekolah.

Seiring dengan kenormalan baru yang saat ini sedang diwacanakan dan dicanangkan oleh pemerintah dengan membagi menjadi lima fase, dimana di akhir juli atau pada fase ke lima seluruh kegiatan ekonomi sudah dibuka dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Meskipun program kenormalan baru dalam bidang pendidikan lebih khusus dalam proses pembelajaran belum disebutkan secara ekplisit, artinya belum dijelaskan apakah berbasis BDR atau BDS, sekolah, guru dan orang tua harus bersiap untuk melaksanakan apapun nanti keputusannya. Dua hal penting terkait konsep kenormalan baru dalam proses pembelajaran yaitu terkait sikap, pola hidup bersih dan sehat serta pemenuhan sarana prasarana. Terkait sikap dan pola hidup bersih maka guru harus betul-betul menanamkan dan membiasakan pola hidup bersih dan sehat, misalnya selalu mencuci tangan dengan sabun, memakai masker menjaga jarak menghindari kontak fisik menjadi kebiasaan baru yang harus dilaksanakan dengan baik. Terkait sarana dan prasarana maka sekolah harus melengkapi fasilitas cuci tangan dan mengatur jarak tempat duduk, meskipun seharusnya fasilitas ini sudah lengkap sedari dulu karena sudah  disebutkan dalam permendiknas nomor 24 tahun 2007 tentang standart sarana prasarana bahwa setiap kelas harus disediakan satu buah tempat cuci tangan/kran dan meja serta kursi satu buah untuk setiap siswa.

Wacana kenormalan baru ini harus menambah optimisme seluruh pemangku kepentingan  pendidikan yaitu sekolah, guru, murid dan orang tua untuk membangun proses pembelajaran baru yang lebih baik. Dan harus memunculkan sikap yang kuat dalam menghadapi pandemi ini ini yaitu harapan, optimisme dan pikiran yang positif. Dan terakhir semoga pandemi ini segera berakhir dan kenormalan baru ini akan membawa sikap, perilaku dan kebiasaan baru yang lebih baik dari sebelumnya, dan proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik tanpa ada bayang-bayang kekhawatiran agar tumbuh generasi masa depan yang berkualitas dan berkepribadian yang tangguh.

                                                                                   

                                                                                                *Guru MTsN 6 Banyuwangi

 

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger