Pages

Home » » Latih 40 Da’i Piawai Kelola Sampah, LPBI PCNU Banyuwangi Sukseskan Gerakan Jaga Bumi

Latih 40 Da’i Piawai Kelola Sampah, LPBI PCNU Banyuwangi Sukseskan Gerakan Jaga Bumi

 


BANYUWANGI – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PCNU Banyuwangi terus memperkuat gerakan pelestarian lingkungan melalui pelatihan da’i lingkungan yang memiliki keterampilan mengedukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah organik dan anorganik. Sebanyak 40 da’i dipersiapkan untuk terjun langsung ke masyarakat dan mengampanyekan gerakan menjaga bumi dari ancaman kerusakan lingkungan.

Pelatihan tersebut dilaksanakan di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Balak, Kecamatan Songgon, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan kelanjutan sekaligus implementasi Training of Trainers (TOT) Perubahan Perilaku dalam Pengelolaan Sampah Batch 2 dan 3 yang bekerjasama dengan Banyuwangi Hijau, dengan sasaran yang lebih dekat ke tingkat ranting NU dan desa sekitar 8 pengurus ranting yg tersebar di MWC Blimbingsari, Srono, Sempu, Kabat, Cluring, Genteng.

Ketua LPBI PCNU Banyuwangi, Untung Hermawan, menyampaikan optimisme bahwa target pembentukan lima da’i lingkungan di setiap desa dapat diwujudkan secara bertahap. Para da’i tersebut diharapkan menjadi penggerak kesadaran masyarakat, khususnya warga Nahdlatul Ulama, untuk membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Menurutnya, keterlibatan para da’i menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan kampanye pelestarian lingkungan. Dengan pendekatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, pesan tentang kebersihan, pengurangan sampah, serta kepedulian terhadap alam diharapkan lebih mudah diterima dan dipraktikkan oleh masyarakat.

Antusiasme peserta selama mengikuti diklat menjadi salah satu modal penting bagi keberlanjutan program tersebut. Para peserta menyatakan kesiapan untuk melakukan edukasi dan mengajak masyarakat NU berpartisipasi dalam program pelayanan pengelolaan sampah yang dikembangkan melalui gerakan Banyuwangi Hijau.

Kegiatan ini masih merupakan hasil kerja sama LPBI PCNU Banyuwangi dengan tim Banyuwangi Hijau. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas kader di tingkat akar rumput agar kampanye lingkungan tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi berlanjut menjadi perubahan perilaku dan praktik nyata di tengah masyarakat.

Salah seorang narasumber, Haikal Kafili, menekankan bahwa membina da’i dari lingkungan Nahdlatul Ulama memiliki modal sosial yang kuat. Sebagian besar peserta memiliki latar belakang pendidikan pesantren sehingga terbiasa menyampaikan pesan keagamaan dan membangun komunikasi dengan masyarakat.

Namun, menurut Haikal, tantangan sesungguhnya justru muncul ketika para da’i mulai menjalankan peran di lapangan. Mereka harus mampu menerjemahkan pengetahuan dan materi pelatihan menjadi gerakan yang konkret, mulai dari mengajak warga memilah sampah hingga membangun kebiasaan pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.

“Melatih da’i di lingkungan NU relatif mudah karena mereka memiliki bekal keagamaan dan tradisi dakwah dari pesantren. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana mereka bekerja nyata di lapangan sebagai juru kampanye lingkungan sehat,” ungkapnya.

Haikal juga menyoroti pentingnya relevansi dakwah lingkungan di tengah perubahan zaman. Para da’i perlu menemukan pendekatan yang menarik, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat agar isu pengelolaan sampah tidak dianggap sebagai persoalan pinggiran atau kampanye yang sudah ketinggalan zaman.

Menurutnya, dakwah lingkungan perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan dan sosial. Menjaga kebersihan, mengurangi pencemaran, serta mengelola sampah merupakan bentuk kepedulian terhadap kemaslahatan bersama yang harus diwujudkan melalui tindakan sehari-hari.

Melalui pelatihan ini, LPBI PCNU Banyuwangi berharap lahir kader-kader lingkungan yang tidak hanya cakap menyampaikan pesan, tetapi juga mampu menggerakkan partisipasi masyarakat. Target lima da’i di setiap desa diharapkan menjadi fondasi bagi terbentuknya jaringan dakwah lingkungan yang menjangkau tingkat ranting hingga komunitas warga.

Gerakan Jaga Bumi pun diarahkan agar semakin membumi melalui keterlibatan warga NU dalam pengelolaan sampah. Keberhasilannya akan ditentukan oleh konsistensi para da’i dalam mendampingi masyarakat, keteladanan dalam praktik sehari-hari, serta kemampuan membangun gerakan kolektif demi lingkungan yang lebih sehat dan lestari.(HK)

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Creating Website

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jaga kesopanan dalam komentar

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger