Banyuwangi – Komitmen membangun sektor perikanan dan budidaya udang yang tangguh terus diperkuat melalui penyelenggaraan Banyuwangi Shrimp Workshop 2026 (DISFORTEL Ke-3) yang digelar pada Selasa, 28 Juli 2026, di Aston Banyuwangi Hotel, Mojopanggung, Kecamatan Giri. Kegiatan yang diprakarsai oleh Shrimp Club Indonesia (SCI) Banyuwangi bekerja sama dengan Konservasi Indonesia (KI) ini mengusung tema "Antisipasi Permasalahan Penyakit dan Inovasi Pola Budidaya Udang yang Berkelanjutan."
Workshop tersebut menjadi ruang strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi, pembudidaya udang, pelaku usaha, organisasi profesi, hingga pemangku kebijakan untuk berbagi pengalaman sekaligus merumuskan solusi menghadapi tantangan budidaya udang yang semakin kompleks. Kegiatan dibuka oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Banyuwangi, Suratno, yang menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan industri akuakultur sebagai salah satu penopang ekonomi daerah.
Pengurus Pimpinan Cabang Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (PC SNNU) Kabupaten Banyuwangi turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan sektor kemaritiman dan perikanan yang berkelanjutan.
Kebanggaan tersendiri dirasakan jajaran PC SNNU Banyuwangi ketika Ketua PC SNNU Banyuwangi masa khidmat 2026–2031, Ir. H. Hardi Pitoyo, dipercaya menjadi salah satu narasumber utama. Dalam paparannya yang bertajuk "Monodon Style for Sustainability Production in Shrimp Vannamei Culture", ia menjelaskan pendekatan budidaya udang vaname yang berkelanjutan dengan mengadopsi karakteristik keberhasilan budidaya udang windu, sehingga produktivitas dapat ditingkatkan tanpa mengabaikan keseimbangan lingkungan.
Sementara itu, Ir. H. Agus Saiful Huda memaparkan materi "Risk Driven Aquaculture: End to End Risk Based Shrimp Farming", yang menekankan pentingnya manajemen risiko secara menyeluruh mulai dari tahap persiapan tambak, pemeliharaan, hingga panen sebagai strategi utama menjaga keberhasilan usaha budidaya.
Di balik berbagai pembahasan teknis, terdapat satu gagasan sederhana namun sangat relevan, yakni Prinsip Pareto (80:20). Prinsip ini mengajarkan bahwa sekitar 80 persen hasil sering kali ditentukan oleh 20 persen faktor yang paling berpengaruh. Dalam budidaya udang, faktor-faktor seperti penerapan biosekuriti, pengelolaan kualitas air, kesehatan benur, dan manajemen risiko menjadi penentu utama keberhasilan produksi.
Lebih dari sekadar forum ilmiah, Banyuwangi Shrimp Workshop 2026 juga menjadi wadah memperkuat jejaring dan kolaborasi antarpelaku sektor akuakultur. Pertemuan ini membuka ruang lahirnya kemitraan baru antara pelaku usaha, akademisi, organisasi profesi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki visi sama dalam memajukan ekonomi maritim Banyuwangi.
Ketua PC SNNU Banyuwangi, Ir. H. Hardi Pitoyo, berharap hasil diskusi dan inovasi yang lahir dari workshop ini dapat diterapkan secara nyata di lapangan sehingga mampu meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing pembudidaya, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan di Banyuwangi.
Bagi PC SNNU Banyuwangi, forum semacam ini menjadi bukti bahwa kemajuan sektor kelautan dan perikanan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kuatnya kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan semangat bersama membangun masa depan akuakultur yang lebih berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat pesisir dan para pembudidaya udang di Banyuwangi.(SLH)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jaga kesopanan dalam komentar