BANYUWANGI (Lensa Banayuwangi) Inisiatif Program Masjid Ramah Pemudik yang digagas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menunjukkan penguatan melalui dukungan strategis dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Banyuwangi, terutama dalam penyediaan sarana ibadah serta fasilitasi mobilitas bagi terapis tunanetra. Program ini secara resmi diluncurkan oleh Ipuk Fiestiandani menjelang Idulfitri sebagai bagian dari penguatan layanan keagamaan bagi masyarakat dalam momentum arus mudik.
Ketua Baznas Banyuwangi, Dwiyanto, menjelaskan bahwa keterlibatan lembaganya merupakan bentuk optimalisasi distribusi dana ZIS yang diarahkan tidak hanya pada aspek konsumtif, tetapi juga pelayanan publik berbasis masjid. Program ini diharapkan mampu memperluas manfaat zakat dalam mendukung kenyamanan musafir, sekaligus memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pelayanan umat. Selain itu, Baznas juga tetap menjalankan program santunan sosial bagi kelompok rentan seperti anak yatim, lansia, dan masyarakat kurang mampu yang menjalani perawatan medis.
Implementasi program tampak nyata di Masjid Al Huda Bulusan yang berlokasi di jalur utama transportasi Ketapang–Gilimanuk. Masjid ini dikembangkan sebagai pusat layanan terpadu dengan menyediakan fasilitas istirahat, ibadah, serta layanan terapi pijat gratis yang dikelola oleh komunitas disabilitas.
Ketua Yayasan Lentera Insan (YALI), Nurhadi Windoyo, mengungkapkan bahwa layanan terapi dilaksanakan dalam dua sesi operasional, yaitu pukul 09.00–15.00 WIB dan 15.00–21.00 WIB. Setiap sesi melibatkan terapis laki-laki dan perempuan yang bekerja secara terjadwal. Menurutnya, program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi pemudik, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan bagi penyandang tunanetra agar dapat berkontribusi aktif dalam pelayanan sosial.
Lebih lanjut, Nurhadi menekankan pentingnya mengubah perspektif masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Ia menyatakan bahwa tunanetra memiliki kapasitas multidimensional dan tidak terbatas pada satu jenis profesi tertentu. Dalam konteks ini, keterlibatan mereka dalam layanan pijat merupakan bagian dari kontribusi sosial sekaligus ekspresi kemandirian.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa program ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor yang dirancang untuk meningkatkan kualitas layanan publik berbasis keagamaan. Ia menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi elemen penting dalam memastikan keberlanjutan program, terutama dalam menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat selama periode mudik dan arus balik.
Dari hasil observasi di lapangan, layanan yang disediakan di masjid tersebut mendapatkan respons positif dari para pengguna. Pemudik merasakan manfaat langsung, baik dari segi kenyamanan fisik maupun ketenangan psikologis. Interaksi antara relawan, terapis, dan masyarakat juga mencerminkan nilai-nilai inklusivitas serta solidaritas sosial yang kuat.
Dengan demikian, Program Masjid Ramah Pemudik di Banyuwangi dapat dipandang sebagai model inovasi pelayanan publik yang mengintegrasikan dimensi keagamaan, sosial, dan kemanusiaan, serta berorientasi pada pemenuhan kebutuhan masyarakat secara holistik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jaga kesopanan dalam komentar