*Semua Karena Cinta: Ketika Takhta Kehilangan Makna Sesungguhnya*
Oleh: Syafaat
Dalam riuh ruang sidang dan deru angka yang ditulis
dengan tinta tebal—miliaran rupiah nilainya—kita kerap terperdaya oleh gemerlap
nominal. Angka-angka itu berdiri pongah di atas meja hukum, seolah-olah di
sanalah seluruh kebenaran bermukim. Padahal, di balik palu hakim dan berkas
perkara yang menumpuk, ada sesuatu yang lebih sunyi namun jauh lebih
menentukan: nurani yang berbisik, dan janji yang dulu diucapkan dengan suara
bergetar oleh harapan. Kepemimpinan, sejatinya, bukanlah sekadar produk pemilu
yang sah atau kontrak politik yang dilegalisasi di atas kertas bermaterai. Ia
adalah akad batin: perjanjian tak tertulis antara manusia dan Tuhannya,
antara kekuasaan dan tanggung jawab, antara janji yang dielu-elukan di panggung
kampanye dan pengorbanan yang seharusnya dijalani dalam senyap. Di titik inilah
kepemimpinan diuji—bukan oleh tepuk tangan, melainkan oleh kesetiaan pada
nilai.
Ketika perselisihan antara Bupati dan Wakil Bupati kini
menempuh lorong-lorong hukum, sesungguhnya yang sedang diuji bukan semata
prosedur pemerintahan atau tafsir regulasi. Yang sedang dipertaruhkan adalah
keutuhan cinta yang dulu diikrarkan di hadapan rakyat: cinta yang dijahit dari
visi bersama, dari langkah-langkah yang pernah seirama, dari keyakinan bahwa
kekuasaan adalah alat untuk melayani, bukan singgasana untuk ditinggali dengan
ego. Cinta itu, sayangnya, sering kali menua sebelum waktunya. Ia mengering
ketika musyawarah tak lagi menemukan ruang, ketika kata “bersama” berubah
menjadi “sendiri”, ketika kekuasaan mulai memandang kemitraan sebagai beban,
bukan sebagai amanah.
Dalam khazanah ruhani, pemimpin kerap diibaratkan sebagai satu tubuh yang utuh. Kepala tak mungkin berjalan tanpa bahu, tangan tak bermakna tanpa jantung, dan jantung tak akan bertahan tanpa denyut yang teratur. Jika satu bagian disisihkan, jika satu peran dipangkas atas nama efisiensi atau kendali, maka tubuh itu pincang. Dan kepincangan itu, cepat atau lambat, akan dirasakan oleh seluruh anggota—oleh rakyat yang menggantungkan harapannya. Apa yang kita saksikan hari ini adalah saf kepemimpinan yang retak. Gugatan senilai Rp 25,5 miliar—dengan dalih kerugian operasional dan pengabaian peran—bukan sekadar perkara administrasi negara. Ia adalah tanda bahwa keikhlasan telah kelelahan menunggu, dan kesabaran diuji hingga batas paling sunyi. Ia adalah jeritan batin yang akhirnya menemukan salurannya dalam bahasa hukum, karena bahasa dialog tak lagi didengar.
Ketika seorang Wakil merasa disingkirkan—kehilangan
ajudan, kendaraan dinas, bahkan hak suara dalam penyusunan anggaran—ia
sejatinya sedang mengalami pengasingan batin di dalam rumah kekuasaan yang
dahulu ia bangun bersama. Ia masih berada di dalam, tetapi tak lagi dianggap
bagian. Ia masih bernama, tetapi suaranya memudar. Dan pengasingan semacam ini,
betapapun dibungkus prosedur, tetaplah luka. Namun di sisi yang lain, ketika
kekuasaan menjelma kendali sepihak—menutup pintu musyawarah, memutus tali
kesepakatan, dan menggantinya dengan instruksi—di situlah amanah mulai
kehilangan ruhnya. Kekuasaan tanpa distribusi peran adalah kesombongan yang
tersamar rapi. Ia tidak berteriak, tetapi perlahan merampas makna kebersamaan. Sebaliknya,
menuntut hak tanpa kesabaran pun adalah ujian kedewasaan jiwa. Sebab tidak
semua keadilan lahir dari kemenangan, dan tidak semua luka sembuh dengan
pembalasan.
Angka-angka dapat dihitung. Rp 25,5 miliar atau Rp 1,5
miliar bisa dijabarkan dalam pasal-pasal hukum, dalam hitung-hitungan audit dan
rekonvensi. Tetapi ada kerugian yang tak pernah tercatat dalam neraca mana pun:
hilangnya kepercayaan rakyat. Sekali kepercayaan itu runtuh, ia lebih mahal
dari seluruh angka yang diperdebatkan. Jika kepemimpinan berangkat dari cinta
kepada rakyat, maka cinta itu seharusnya sanggup melampaui ego pribadi. Di
sinilah kita diingatkan pada bahaya hubbul jâh—cinta berlebihan pada
kedudukan dan penghormatan. Ia adalah tabir paling halus yang menutupi
kejernihan hati. Ia membuat manusia lupa bahwa takhta hanyalah alat, bukan
tujuan; titipan, bukan milik. Konflik ini menunjukkan betapa rapuhnya kemitraan
jika ia hanya dibangun di atas pembagian kekuasaan, bukan di atas pondasi
pengabdian yang tulus. Kekuasaan yang tidak disirami cinta akan cepat
mengering, lalu retak oleh ambisi masing-masing. Ia mungkin tampak kokoh dari
luar, tetapi rapuh di dalam.
Kita merindukan kepemimpinan yang selaras, di mana Bupati
dan Wakil Bupati bukan dua poros yang saling menarik ke arah berlawanan,
melainkan dwi-tunggal yang saling melengkapi. Seperti dua sayap yang
memungkinkan burung terbang, bukan dua beban yang menyeretnya jatuh. Ingatlah
bahwa kekuasaan adalah titipan yang singkat. Melibatkan wakil bukan sekadar
soal membagi anggaran atau kewenangan, tetapi tentang menghormati martabat
manusia yang dahulu berjalan beriringan, berkeringat bersama saat mengetuk
pintu-pintu rakyat demi amanah ini.
Gugatan materi mungkin menjadi jalan hukum untuk mencari
keadilan, tetapi marwah kepemimpinan sejati tetap terletak pada keluasan hati.
Kesabaran bukan tanda kekalahan, melainkan bentuk tertinggi dari kekuatan
batin—terutama ketika yang dipertaruhkan bukan nama pribadi, melainkan
kemaslahatan umat yang lebih luas.
Jika benar semua ini dilakukan karena cinta—cinta pada
kebenaran, cinta pada aturan, dan cinta pada rakyat—maka muara konflik ini
seharusnya bukan kemenangan finansial di meja hijau. Muara sejatinya adalah
kembalinya keharmonisan dalam melayani, kembalinya kepercayaan bahwa kekuasaan
masih memiliki wajah manusiawi. Sebab kelak, di hadapan Tuhan, yang dihisab
bukanlah seberapa besar gantrugi yang dimenangkan, melainkan seberapa luas
manfaat yang ditinggalkan ketika takhta masih berada dalam genggaman.
Semoga cinta kembali menemukan damainya. Semoga para
pemimpin kembali duduk melingkar—bukan untuk saling menunjuk dan menuding,
melainkan untuk saling merangkul. Demi rakyat yang tidak menuntut kesempurnaan,
selain satu hal yang sederhana namun mahal harganya: ketulusan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jaga kesopanan dalam komentar