Pages

Membaca Ulang Sastra Santri dan Pesantren

Membaca Ulang Sastra Santri dan Pesantren

Oleh : Syafaat


Tahun lalu, dalam perhelatan Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi, ada satu denyut yang menggugah kesadaran: denyut dari balik tembok pesantren. Dari ratusan puisi yang mengalir menuju meja panitia, banyak di antaranya lahir dari tangan-tangan santri, dari ruang-ruang sunyi Kementerian Agama dan pesantren yang tersebar dari Riau hingga Madura, dari Tapal Kuda hingga lereng-lereng pesantren tua di timur Jawa. Fenomena ini tentu bukan kebetulan. Ia seperti getar halus dari sejarah yang tengah menulis dirinya sendiri, bahwa pesantren kini sedang membuka babak baru dalam kesusastraan Indonesia. Dari balik dinding yang dulu hanya bergema lantunan kitab kuning, desiran syi’ir selepas adzan, kidung puji-pujian sebelum jamaah berkumpul untuk shalat, dan bisikan wirid Subuh yang merambat lembut di antara detik-detik pagi, kini mengalir pula sajak-sajak yang berbahasa Indonesia: puisi yang tetap berjiwa religius namun menatap dunia dengan mata kemanusiaan.

Dan ketika Sastra Timur Jawa menggelar Temu Karya Serumpun 2025, gema itu kembali terdengar. Di antara halaman-halaman tebal antologi yang disusun dari penulis lintas negara, puisi-puisi santri turut menorehkan warna, lembut tapi teguh, sederhana namun memancarkan kedalaman batin. Sastra pesantren telah menjelma bukan hanya gema spiritual, tetapi juga pernyataan estetik: bahwa dari rahim kesunyian, lahir puisi yang membawa cahaya. 


Puisi di pesantren tumbuh dari keseharian yang sederhana, dari ketukan waktu yang diatur oleh adzan, dari denyut kehidupan asrama yang bersahaja, dari perenungan malam di serambi mushala yang remang. Puisi santri lahir bukan dari ruang akademik atau ruang baca yang tenang, tetapi dari ruang-ruang batin yang penuh dzikir dan kesunyian. Mereka menulis di antara waktu belajar Nahwu dan Shorof, di antara doa dan kerja bakti, di antara rindu dan kepatuhan. Karena itu, puisi-puisi mereka sering kali tidak berambisi menjadi “modern” atau “eksperimental” dalam pengertian estetika kota, tetapi jujur dan bersumber dari getaran iman yang paling dalam.

Fenomena ini sesungguhnya bukan hal baru, tradisi puisi sudah lama menjadi bagian dari kehidupan pesantren, bahkan sejak masa-masa awal penyebaran Islam di Nusantara. Syi’ir-syi’ir berbahasa Arab dan Jawa dengan aksara Pegon digunakan sebagai media pengajaran dan dakwah. Nadzoman tentang akhlak, fiqih, dan tasawuf dilagukan dengan nada yang indah agar mudah dihafal. Para santri belajar ilmu sekaligus belajar estetika: bagaimana kata bisa menuntun hati, bagaimana irama bisa menjadi jalan menuju Tuhan. Dalam suasana seperti itulah lahir ungkapan terkenal bahwa “setiap ilmu yang tidak disertai adab adalah kegelapan, dan setiap kata tanpa niat adalah suara kosong.”

Sastra pesantren, dalam beragam bentuknya, hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syi’ir, dan nadzoman, merupakan cermin dari upaya manusia pesantren memahami dunia. Ia lahir dari pergulatan antara teks dan konteks, antara tradisi keilmuan dan realitas sosial. Karya-karya ini dibacakan di surau, di langgar, di rumah-rumah kiai, dan di sela pengajian. Orang-orang tua dan muda mendengarkannya bersama, lalu menurunkannya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itulah sastra pesantren memiliki sifat komunal, ia milik bersama, bukan milik individu semata.

Berbicara tentang “sastra pesantren” berarti berbicara tentang kesadaran budaya yang tumbuh dari pengalaman religius. Ia bukan sekadar catatan kehidupan kaum santri, tetapi juga cermin dari subyektivitas kreatif mereka dalam menafsirkan dunia. Sejarah mencatat bahwa sejak abad ke-17, pesantren telah menjadi tempat persemaian para pujangga dan penulis. Yasadipura I (Raden Ngabehi Yasadipura I), Yasadipura II (Tumenggung Sastronagoro), dan Ranggawarsita yang hidup di Kasunanan Surakarta adalah contoh klasik: mereka pernah nyantri, menguasai bahasa Arab dan Jawa, dan menulis karya-karya besar yang menggabungkan hikmah spiritual dengan pengalaman sejarah bangsanya.

Yasadipura I, misalnya, melalui karyanya Serat Cabolek, adalah sebuah cermin zaman — cermin yang merekam denyut ketegangan antara syariat dan makrifat, antara akal yang tunduk pada hukum dan hati yang mencari makna di balik hukum itu sendiri. Di dalamnya bergolak perdebatan antara Ketib Anom, sang penjaga kemurnian ajaran syariat, dengan Haji Mutamakkin, pengembara ruhani yang menapaki lorong-lorong mistik Jawa. Keduanya berhadap-hadapan di hadapan para ulama dan bangsawan Keraton Kartasura, di mana agama dan kekuasaan bersilang pandang, dan bahasa langit bernegosiasi dengan bahasa bumi. Melalui karya Yasadipura I, kisah itu menjelma bukan sekadar pertentangan dua tokoh, melainkan pertemuan dua arus besar peradaban: pesantren dan kraton, kitab dan kebudayaan, syariat dan rasa. Di sana, pesantren tampak tidak lagi semata sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi menjelma menjadi pusat kebudayaan jiwa Jawa — ruang di mana aksara berdoa, dan doa berubah menjadi aksara

Dalam berbagai daerah Nusantara, karya-karya santri juga berkembang dalam bentuk lokalnya masing-masing. Di Jawa Barat muncul Tjarita Ibrahim dan Tjarita Nurulqamar; di pesisir Jawa Tengah hidup Serat Jatiswara dan Serat Centhini; di Sumatera terdapat Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Indrapura; bahkan di Sulawesi Selatan, kisah I La Galigo disisipkan unsur pesantren, ketika tokoh Sawerigading dalam versi santri digambarkan pergi menuntut ilmu ke Mekkah dan pulang mendirikan masjid. Proses penyisipan dan penyesuaian ini menunjukkan daya kreatif kaum pesantren dalam mentransformasikan kebudayaan lokal menjadi kebudayaan Islam Nusantara.

Tradisi puisi dalam pesantren memiliki kekuatan spiritual yang khas. Ia tidak semata berbicara tentang cinta atau keindahan, tetapi juga tentang perjalanan jiwa. Dalam syi’ir-syi’ir pesantren, cinta selalu mengarah pada Tuhan, dan keindahan adalah cermin dari keagungan-Nya. Puisi menjadi alat tafakur, sarana tazkiyah (penyucian jiwa). Santri belajar menulis bukan untuk menjadi penyair besar, melainkan untuk memahami makna diri. Dan dalam keheningan malam, mereka melafalkan kata-kata yang seolah menembus batas antara manusia dan Tuhan.

Puisi-puisi itu kini menemukan bentuk barunya. Para santri muda menulis di koran, di majalah sastra, dan di media sosial. Mereka menulis tentang kehidupan pesantren dengan bahasa yang segar, namun tetap membawa nilai-nilai keislaman dan etika sufistik. Karya-karya penyair seperti D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus), dan Ahmad Tohari menjadi bukti bahwa dunia pesantren masih memancarkan cahaya bagi kesusastraan Indonesia. Mereka membawa kesederhanaan hidup santri ke panggung nasional, tanpa kehilangan ruh spiritual yang membentuknya.

Sebut saja dua puisi Acep Zamzam Noor dalam antologi Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan, dua puisi (Fajar bagi Kata-kata, dan Teluk Nipah) yang memantulkan aroma pesantren, serupa dupa yang menyala perlahan di ruang hati. Di antara bait-baitnya, tercium wangi kesunyian, getir pengalaman, dan cahaya makrifat yang menetes lembut dari langit penghayatan. Acep, penyair yang menempuh jalan sunyi antara sastra dan tasawuf, seolah menulis dengan tinta yang dicelup dari air wudhu. Puisinya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan dzikir yang berirama, doa yang disamarkan dalam keindahan metafora. Ketika ia hadir dalam Liga Puisi 2025 di Banyuwangi, suaranya bukan hanya membaca, ia menafsirkan diri sendiri. Setiap larik yang keluar dari bibirnya seperti menyentuh ruang batin para pendengar; menyapa yang jauh, memeluk yang luka, dan mengingatkan bahwa kata sejati selalu lahir dari jiwa yang bersujud. 

Juga KHR Ahmad Azzaim Ibrahimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, turut menorehkan cahaya dalam antologi Semesta Ingatan, Trauma, dan Imaji Kebebasan. Puisinya yang berjudul “Allahumma Ampelkan Jiwa Raga” adalah napas panjang dari seorang salik yang berjalan di jalan sunyi menuju Yang Maha Cinta. Dalam larik-lariknya, kata tidak hanya menjadi bunyi, melainkan doa yang berdenyut, dzikir yang bergetar, dan cahaya yang menuntun jiwa. Puisi itu seolah lahir dari kedalaman malam di mana seorang kekasih berbicara diam-diam dengan Tuhannya.

Aroma tasawuf begitu kental di dalamnya, seakan setiap kata telah dimandikan oleh air mata rindu yang tak pernah kering. Ia menulis bukan untuk memamerkan keindahan bahasa, melainkan untuk mengembalikan bahasa kepada asalnya: sebagai jalan pulang. Dan dari bait-bait itu, kita merasakan sesuatu yang melampaui wacana, semacam getar halus dari hati yang telah luluh di hadapan Sang Maha Segalanya. Dalam puisi Allahumma Ampelkan Jiwa Raga, kata “Ampelkan” bukan sekadar seruan, tetapi permohonan seorang hamba agar raganya pun berlabuh di pelukan Ilahi.

Namun demikian, posisi sastra pesantren, termasuk puisi pesantren, masih berada di pinggiran dalam peta sastra Indonesia. Karya-karya mereka sering dianggap kurang “modern”, atau terlalu “moralistik”. Padahal, di tengah krisis spiritual masyarakat modern, suara-suara dari pesantren justru menawarkan keseimbangan. Mereka mengingatkan bahwa sastra bukan hanya permainan bentuk, tetapi juga laku batin; bukan hanya tentang estetika, tetapi juga etika; bukan sekadar tentang kata-kata, tetapi tentang kejujuran hati.

Dalam pandangan ini, sastra pesantren bukan sekadar genre, melainkan cara hidup. Ia mengajarkan bahwa menulis adalah bagian dari ibadah, membaca adalah bagian dari tafakur, dan mendengar adalah bagian dari dzikir. Santri yang menulis puisi sesungguhnya sedang belajar memahami dirinya sendiri: bagaimana ia mencintai, bagaimana ia percaya, bagaimana ia berdoa. Dalam setiap bait puisi, selalu ada jejak sujud yang tak kelihatan.

Di Banyuwangi, sastra pesantren tumbuh seperti pohon tua yang akarnya menembus masa lalu dan pucuknya menatap langit masa kini. Jejaknya kentara, berdenyut dalam nadi para santri dan insan Kementerian Agama yang menulis bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk menyucikan ingatan. Sebut saja Shalawat Badar, yang ditulis oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada tahun 60-an, sebuah kidung yang melampaui zaman, menjadi gema dari masa ketika puisi masih lahir dari sujud dan air mata. Dari tangan seorang abdi negara, lahirlah syair yang bukan sekadar karya sastra, melainkan dzikir yang berpakaian bahasa.

Kini, ketika dunia semakin bising oleh kata-kata yang kehilangan makna, puisi pesantren hadir sebagai suara yang lembut namun tegas. Ia tidak berteriak, tidak menggurui, tapi mengalir seperti air yang jernih, menyentuh yang mau disapa, dan menghidupkan yang haus akan makna. Dalam setiap puisinya, ada doa yang disamarkan, ada cinta yang disembunyikan, dan ada pengakuan kecil bahwa manusia selalu butuh Tuhan dalam setiap perjalanan menulisnya.

Mungkin di situlah letak keabadian sastra pesantren: ia tidak mencari kemegahan, tapi ketulusan. Ia tidak mengejar abadi, tapi karena keikhlasanlah, ia bertahan dalam keabadian.


Penulis adalah ASN/Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.

Insan Madrasah Guncang Panggung Liga Puisi 2025: Dominasi Total, Kemenag Banyuwangi Torehkan Sejarah Sastra!

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Dentuman sastra menggema di panggung Liga Puisi Jawa Pos Radar Banyuwangi 2025! Dalam ajang paling bergengsi bagi para penikmat kata dan penyalur rasa itu, insan madrasah di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi tampil bagai meteor yang menyambar langit kompetisi. Hasil akhir penjurian menegaskan satu fakta monumental: hampir seluruh juara pertama disapu bersih oleh peserta madrasah.

Keberhasilan luar biasa ini bukan sekadar kemenangan dalam lomba baca puisi—ia adalah penanda kebangkitan dunia literasi madrasah. Di saat sebagian lembaga pendidikan masih bergulat dengan tantangan era digital, madrasah justru melesat sebagai kawah candradimuka lahirnya generasi literat, estetis, dan religius.

Pada kategori Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar (MI/SD), dominasi madrasah nyaris absolut. Dari lima finalis, empat merupakan duta madrasah yang melangkah dengan percaya diri. Panggung juara pertama direbut dengan gemilang oleh Aura Latisha Ramadhani dari MIN 1 Banyuwangi, disusul Azka Dzakiyatus Shaleha (MI Darunnajah 2 Banyuwangi), Avilla Fikratud Putri Yuwono, dan Refli Ahsan Mubaroqi (MI Islamiyah Rogojampi). Deretan nama ini bukan sekadar peserta lomba—mereka adalah bukti bahwa madrasah telah menjelma menjadi laboratorium rasa dan ruang kelahiran penyair-penyair masa depan. 


Sementara itu, di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), kejayaan madrasah kembali membahana. Azkia Kiska Al Kholid dari MTsN 1 Banyuwangi tampil memukau dan berhasil menggondol juara pertama. Dengan teknik deklamasi yang matang, diksi tajam, dan penghayatan mendalam, ia menegaskan bahwa sastra bukan sekadar pelajaran tambahan—melainkan napas yang hidup di lingkungan madrasah.

Tidak berhenti di situ, keunggulan madrasah juga merembet ke ranah tenaga pendidik. Nuhbatul Fakhiroh, guru MTsN 1 Banyuwangi, yang tahun lalu hanya berhenti di posisi juara dua, kini berhasil menuntaskan dahaga kemenangan dengan menjadi juara pertama. Ia membuktikan bahwa guru madrasah bukan hanya pengajar, tapi juga pelaku dan penggerak kebudayaan.

Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya. Dalam keterangannya, ia menyebut kemenangan ini sebagai buah dari kerja panjang dan dedikasi luar biasa.

> “Prestasi ini adalah gema dari kesungguhan para guru dan pembimbing madrasah dalam menanamkan nilai-nilai literasi dan kecintaan terhadap sastra. Ini bukan sekadar lomba, tetapi tonggak peradaban baru di dunia pendidikan madrasah,” tegasnya penuh semangat.

Sementara itu, Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, yang turut hadir sebagai pengamat, menyebut dominasi madrasah dalam Liga Puisi 2025 sebagai hasil dari proses pembinaan yang matang dan berkelanjutan.

> “Beberapa madrasah telah lama menjalin kerja sama dengan Lentera Sastra Banyuwangi dalam pelatihan baca puisi dan penulisan kreatif. Kami ingin menjadikan madrasah sebagai episentrum sastra di Banyuwangi—tempat di mana iman, ilmu, dan imajinasi berpadu dalam harmoni,” ujarnya.

Kompetisi tahun ini tak hanya diikuti oleh sekolah dan madrasah Banyuwangi, tetapi juga oleh peserta lintas daerah, termasuk santri dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Persaingan yang kian ketat justru menyalakan bara semangat baru bagi peserta madrasah, yang tampil bukan sekadar membaca puisi, tetapi menghidupkan makna dan mengguncang nurani penonton.

Ajang Liga Puisi Radar Banyuwangi 2025 pun akhirnya menjadi panggung pembuktian: bahwa madrasah bukan hanya benteng nilai-nilai religius, tetapi juga mercusuar kebudayaan dan peradaban literasi.

Dengan torehan prestasi ini, madrasah di bawah Kemenag Banyuwangi menegaskan diri sebagai kekuatan baru dalam dunia sastra Indonesia. Mereka bukan hanya mencetak hafidz dan ulama, tapi juga penyair, seniman kata, dan penggerak kebudayaan bangsa.

Sebuah babak baru telah dimulai—babak di mana madrasah menulis sejarahnya sendiri dengan tinta puisi dan cahaya keilmuan.

Lentera Sastra Banyuwangi Hadir dalam Diskusi Sastra Bersama Acep Zamzam Noor di Ajang Liga Puisi Radar Banyuwangi

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Komunitas Lentera Sastra Banyuwangi turut hadir dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan Diskusi Sastra yang menghadirkan narasumber Acep Zamzam Noor, seorang sastrawan, penyair, dan pelukis kenamaan Indonesia berdarah Sunda yang dibesarkan di lingkungan pesantren. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Liga Puisi Radar Banyuwangi 2025, yang berlangsung mulai tanggal 27 hingga 30 Oktober 2025. 


Kehadiran Lentera Sastra Banyuwangi memberikan warna tersendiri dalam ajang tersebut. Mereka datang untuk memberikan motivasi dan dukungan kepada para peserta dari unsur Kementerian Agama, baik dari kalangan siswa madrasah maupun para guru, agar tampil maksimal dan berprestasi sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

“Banyak siswa madrasah dan guru yang berhasil meraih juara pada Liga Puisi tahun lalu. Kami berharap semangat itu terus menyala dan menjadi inspirasi bagi peserta tahun ini,” ujar salah satu perwakilan Lentera Sastra Banyuwangi.

Kegiatan yang juga dihadiri oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, tersebut berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan. Para peserta tampak antusias mengikuti sesi diskusi bersama Acep Zamzam Noor, yang berbagi pengalaman tentang perjalanan kreatifnya di dunia sastra dan seni rupa, serta pentingnya menjaga kejujuran dan spiritualitas dalam berkarya.

Sementara itu, Direktur Radar Banyuwangi sekaligus Ketua Panitia Pelaksana, Syamsudin Aglawi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi atas dukungan dan partisipasinya dalam kegiatan ini.

“Dukungan dari Kementerian Agama sangat luar biasa. Banyak siswa dan guru madrasah yang ikut berkompetisi dalam Liga Puisi tahun ini. Ini menunjukkan bahwa semangat literasi dan seni terus tumbuh di lingkungan pendidikan agama,” ujarnya.

Liga Puisi Radar Banyuwangi kini telah menjadi ajang tahunan yang ditunggu-tunggu oleh para pecinta sastra di Bumi Blambangan. Melalui kegiatan ini, karya-karya para penyair muda dan pendidik dari berbagai latar belakang diharapkan dapat semakin memperkuat ekosistem sastra lokal sekaligus menjadi ruang ekspresi yang mempersatukan berbagai kalangan.

Merangkul Keberagaman dari Pesantren hingga Gereja di Banyuwangi

 Merangkul Keberagaman dari Pesantren hingga Gereja di Banyuwangi

Oleh: Ratna Septianingsih


Saya tida


k pernah menyangka bahwa langkah kaki saya yang berawal dari pondok pesantren di Krapyak, Yogyakarta, akan berujung di Banyuwangi, di sebuah ruangan kerja yang menaungi penyelenggaraan kehidupan umat Katolik. Begitu menerima surat penempatan itu, saya sempat terpaku. Antara takjub dan ragu.

Dalam hati saya bertanya, “Ya Allah, mengapa Engkau tempatkan aku di sini?”

Namun pelan-pelan, saya belajar bahwa setiap penempatan adalah bagian dari takdir yang membawa pesan tersendiri. Allah tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya. 

Saya lahir dan tumbuh dalam suasana yang kental dengan tradisi keislaman. Hidup saya terbiasa di lingkungan yang penuh dengan lantunan ayat suci, shalawat, dan diskusi keagamaan. Ketika saya kuliah di Universitas Islam Negeri, lingkungan saya pun tidak jauh berbeda, dunia yang penuh dengan semangat keilmuan Islam dan nilai-nilai dakwah.

Maka, ketika saya mengetahui bahwa saya ditempatkan di seksi Penyelenggara Katolik, rasanya seperti dipindahkan ke dunia baru. Saya sempat bingung, bahkan sedikit takut salah langkah. Bagaimana saya yang berasal dari latar belakang pesantren bisa berinteraksi, memahami, dan bekerja di lingkungan yang melayani umat Katolik?

Namun waktu menunjukkan bahwa kegelisahan saya tidak berdasar.

Seiring hari-hari berlalu, saya justru merasakan bahwa kasih Tuhan hadir di mana pun manusia mau membuka hati. Rekan-rekan kerja saya, baik yang Muslim maupun Katolik, menyambut saya dengan hangat. Tidak ada sekat, tidak ada kecurigaan. Mereka memperlakukan saya sebagai bagian dari keluarga besar, bukan “orang baru” yang berbeda keyakinan.

Saya teringat satu ayat Al-Qur’an yang begitu menenangkan hati:

> “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini terasa hidup di Banyuwangi. Saya menyaksikan langsung bagaimana perbedaan bukan menjadi jarak, melainkan jembatan untuk saling mengenal dan memahami. Di sinilah saya belajar makna nyata dari tasamuh, toleransi, yang dulu hanya saya dengar dari ceramah para kiai di pesantren.

Ketika saya berkunjung ke gereja untuk menghadiri kegiatan umat Katolik, sambutan para Romo begitu hangat. Tidak ada rasa canggung. Saya tetap dengan jilbab dan identitas saya sebagai seorang muslimah, sementara mereka menyapa dengan senyum dan keramahan yang tulus. Dalam momen-momen seperti itulah saya merasakan bahwa nilai-nilai kasih dan perdamaian sejatinya bersumber dari Tuhan yang sama, meskipun manusia memanggil-Nya dengan nama yang berbeda.

Banyuwangi, bagi saya, adalah miniatur Indonesia yang sesungguhnya. Di sini, masyarakat hidup dalam keberagaman agama, etnis, dan budaya. Namun justru dalam keberagaman itulah tumbuh rasa persaudaraan yang kuat. Saya sering berpikir, barangkali ini yang dimaksud Rasulullah SAW dalam sabdanya:

> “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.”

(HR. Abu Daud)

Ketika kita mau memantulkan kebaikan kepada sesama, siapa pun mereka, maka yang kembali kepada kita pun adalah kebaikan.

Saya bersyukur ditempatkan di Banyuwangi. Dari cerita beberapa teman CPNS di daerah lain, ada yang merasa kurang diterima atau sulit beradaptasi. Sementara di sini, saya justru merasa dirangkul. Para senior, baik PNS maupun P3K tidak membeda-bedakan siapa datang dari mana atau apa agamanya. Mereka mencontohkan bagaimana nilai-nilai moderasi beragama dijalankan bukan hanya dengan ucapan, tapi lewat tindakan nyata.

Saya meyakini bahwa tugas saya di Kementerian Agama bukan sekadar administratif. Ia adalah amanah spiritual.

Menjadi abdi negara di bidang yang mengurus kehidupan beragama berarti menjadi jembatan antara nilai ilahi dan kehidupan sosial. Dan untuk menjalankan amanah itu, seseorang harus memiliki hati yang lapang, sebagaimana Allah mengajarkan kepada kita tentang rahmah (kasih sayang) dan hikmah (kebijaksanaan).


Kini saya mengerti bahwa perjalanan dari pesantren menuju dunia lintas iman bukanlah perpindahan tempat, melainkan perluasan jiwa.

Saya belajar bahwa menjadi muslim sejati bukan berarti hidup dalam batas-batas eksklusif, melainkan membawa nilai Islam yang penuh kedamaian ke mana pun kaki melangkah.


Moderasi beragama, bagi saya, bukan sekadar program pemerintah. Ia adalah cara Allah mendidik manusia agar saling memahami dan menghormati.

Ketika seorang muslimah bisa berkunjung ke gereja tanpa rasa takut, dan ketika seorang Romo bisa menyapa dengan tulus kepada seorang perempuan berhijab, di situlah rahmat Allah sedang bekerja, mengikat hati-hati manusia dalam kasih yang lebih luas daripada sekat agama.

Saya percaya, selama niat kita adalah ibadah, setiap langkah akan bernilai di sisi-Nya. Maka saya bersyukur, karena dari Krapyak hingga Banyuwangi, dari lingkungan pesantren hingga kantor penyelenggara Katolik, Saya belajar bahwa Tuhan memang Maha Luas, dan kasih-Nya hadir dalam setiap perjumpaan manusia yang mau membuka hati.

Ngobrol Moderasi (Ngopi) Di KUA Kecamatan Gambiran

Banyuwangi  (Warta Blambangan) Kegiatan Ngobrol Moderasi (Ngopi) digelar di halaman Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi, Jumat (24/10/2025). Kegiatan ini dipimpin oleh Oksan Wibowo, Penyelenggara Bimbingan Masyarakat Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, dan dihadiri oleh Kepala KUA Kecamatan Gambiran serta Kepala MIN 3 Banyuwangi. 


Acara yang diikuti oleh para tokoh lintas agama dan penyuluh agama se-Kecamatan Gambiran ini menjadi ruang dialog terbuka untuk memperkuat nilai-nilai moderasi beragama di tengah masyarakat yang majemuk. Dalam kesempatan tersebut, Oksan Wibowo menegaskan bahwa Kementerian Agama merupakan role model dan figur publik dalam mewujudkan kehidupan beragama yang moderat dan harmonis.

> “Kantor Kementerian Agama bukan hanya rumah bagi satu agama, tetapi menjadi rumah bagi semua umat beragama. Begitu pula dengan Kantor Urusan Agama, meskipun secara administratif fokus pada pelayanan umat Islam, namun secara esensi menjadi pusat penguatan moderasi beragama dan kerukunan umat,” ujar Oksan.

Ia juga mengingatkan agar semangat moderasi tidak berhenti pada tataran formal atau simbolik semata. Menurutnya, moderasi beragama harus diimplementasikan secara nyata dalam perilaku sosial dan budaya masyarakat sehari-hari.

> “Kita jangan terjebak pada sesuatu yang bersifat tertulis saja. Moderasi harus hidup dalam tindakan dan rasa. Salah satu desa di Kecamatan Gambiran ini pernah dinobatkan sebagai delapan terbaik Kampung Moderasi Beragama di Indonesia. Status itu harus menjadi pemacu, bukan sekadar label,” tegasnya.

Diskusi berjalan hangat dan interaktif. Para peserta berbagi pandangan tentang praktik moderasi di lingkungan masing-masing, termasuk strategi memperkuat kerja sama antarpenyuluh lintas agama dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Melalui kegiatan Ngopi ini, para peserta berharap semangat toleransi, inklusivitas, dan penghargaan terhadap keberagaman semakin mengakar di Kecamatan Gambiran. Kegiatan semacam ini diharapkan dapat menjadi wadah refleksi dan kolaborasi lintas iman demi memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan di Banyuwangi.

KETIKA KEKUASAAN BERJUMPA PUISI DAN DATA


KETIKA KEKUASAAN BERJUMPA PUISI DAN DATA


(Wawancara Denny JA, dengan Media Berbahasa Rusia, setelah di Brazil diumumkan terpilih sebagai salah satu nominasi penerima penghargaan Sastra BRICS, Eurasia Today, 23 Oktober 2025)


1️⃣ Apa harapan Anda kini, ketika nama Anda telah masuk dalam nominasi Penghargaan Sastra BRICS?


Saya berharap penghargaan ini menjadi lebih dari sekadar pengakuan. 


Ia menjadi jembatan antarjiwa manusia.


BRICS bukan hanya persekutuan ekonomi,

melainkan pertemuan peradaban-peradaban besar

yang sedang menulis ulang masa depan dunia.


Saya ingin Indonesia berdiri bukan sebagai penonton,

melainkan sebagai bangsa penyair, 

yang membawa suara hati dan nurani Asia Tenggara

ke dalam percakapan global tentang kemanusiaan.


-000-


2️⃣ Bagaimana Anda menilai peran penghargaan ini sebagai jembatan budaya antarnegara BRICS dan sebagai wadah dialog sastra?


Sastra adalah diplomasi yang paling hening, namun paling dalam.


Penghargaan BRICS bukan hanya menerjemahkan bahasa,

tetapi juga menerjemahkan empati.


Ia memungkinkan bangsa-bangsa berbicara

melalui luka dan mimpi mereka.


Perannya adalah mengingatkan kita bahwa

kekuatan sejati BRICS tidak terletak pada angka GDP,

tetapi pada imajinasi kolektif yang menyatukan manusia.


-000-


3️⃣ Adakah tema atau perspektif unik yang dapat ditawarkan sastra Indonesia kepada dunia?


Indonesia menawarkan perpaduan antara spiritualitas dan perjuangan.

Sastra kami bernafas dari abu kolonialisme

dan harum keberagaman.


Dari mistisisme Bali hingga keberanian Papua,

kami menulis tentang harmoni di tengah luka,

tentang cinta di dalam absurditas.


Ini sebuah cermin di mana dunia dapat menemukan kembali

jiwanya yang retak.


-000-


4️⃣ Nilai-nilai tradisional apa, menurut Anda, yang menyatukan Indonesia dengan negara-negara BRICS lainnya?


Di antara negara-negara BRICS, mengalir satu sungai moral yang sama.


Itu keyakinan bahwa kebersamaan lebih penting daripada diri sendiri.


Apapun namanya—ubuntu, samaj, guanxi, atau solidariedade


Di Indonesia kami menyebutnya gotong royong:

sebuah keyakinan bahwa kemanusiaan hanya dapat bertahan

melalui kebersamaan.


Kita disatukan bukan oleh ideologi atau darah,

tetapi oleh rasa sakit dan harapan bersama

dari dunia Selatan.


-000-


5️⃣ Anda dikenal sebagai pencipta dan pengembang genre puisi esai di Indonesia. Bagaimana dan mengapa Anda memadukan puisi dengan esai?


Puisi esai adalah kisah nyata yang difiksikan,

agar bisa disampaikan dengan lebih bebas

dan menyentuh hati lebih dalam.


Catatan kaki dalam puisi esai adalah rahim tempat puisi itu lahir.

Di sanalah fakta hidup bersemayam—

kebenaran yang dapat ditelusuri melalui sumber-sumber nyata.


Puisi menyentuh hati,

sementara esai menerangi pikiran.

Ketika keduanya bersatu,

lahirlah bahasa yang dapat menyembuhkan sekaligus menggugat.


Saya menciptakan puisi esai sebagai jembatan

antara keindahan dan nalar, antara air mata dan argumen,

karena zaman kita menuntut bukan hanya emosi,

tetapi kesadaran yang bersayap mimpi.


Agar puisi esai dipahami pembaca, anda dapat publikasi salah satu contohnya di akhir wawancara.


-000-


6️⃣ Apa kekuatan utama puisi esai dibandingkan puisi tradisional?


Puisi esai merekam peristiwa nyata yang menyentuh sisi kemanusiaan.


Nilainya bukan hanya pada keindahan bentuk,

tetapi juga kebenaran peristiwa utama.


Kisahnya bersumber dari kehidupan yang sesungguhnya,

menjadikan seni sebagai saksi sejarah.


Melalui narasi puitis,

ia mengubah kenyataan menjadi empati—

mengajarkan bahwa keindahan dapat berdampingan

dengan denyut kebenaran.


Puisi tradisional sering berakhir pada rasa;

puisi esai menuntun menuju kesadaran.

Ia mengubah emosi menjadi pencerahan,

memberi kebenaran tubuh yang liris.


Dalam puisi esai,

keindahan menjadi analisis,

dan fakta menjadi puisi—

sebuah seni di mana bukti bernyanyi

dan kesadaran menjadi pengalaman estetis.


-000-


7️⃣ Bagaimana peran Anda sebagai penulis, konsultan politik, peneliti, dan tokoh publik saling memengaruhi satu sama lain?


Setiap peran adalah cermin dari satu pencarian yang sama: memahami manusia.


Politik mengajarkan strategi,

penelitian menumbuhkan keraguan,

dan sastra menyembuhkan jiwa.


Ketiganya menyadarkan saya bahwa

kekuasaan tanpa puisi melahirkan tirani,

sementara puisi tanpa data hanyalah hiasan.


Saya hidup di persimpangan tempat kebenaran bertemu empati,

dan nalar bertemu seni.


-000-


8️⃣ Hambatan apa yang dihadapi para penulis Asia saat memasuki panggung sastra internasional?


Bahasa memang penghalang pertama, namun bukan yang paling berat.


Rintangan yang lebih dalam adalah imajinasi dunia yang masih berpusat pada Barat.


Penulis Asia harus menerjemahkan bukan hanya kata, tetapi cara pandang.


Kita harus membuktikan bahwa Asia bukan sekadar latar eksotis, melainkan melodi utama kesadaran dunia

yang kini tengah bangkit.


-000-


9️⃣ Apakah Anda pribadi telah mempromosikan karya Anda di luar Indonesia?


Karya-karya puisi esai saya

telah tampil di berbagai festival Asia Tenggara

dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.


Sudah empat kali digelar Festival Puisi Esai tingkat ASEAN.

Jika saya meraih Penghargaan Sastra BRICS, itu akan menjadi titik awal yang baru:

bukan hanya untuk memperluas karya saya,

tetapi juga memperkenalkan penghargaan ini

ke kancah global yang lebih luas.


Namun, lebih dari sekadar promosi, tujuan saya adalah membangun gerakan—Gerakan Puisi Esai— agar dunia melihat bahwa Indonesia

tidak sekadar menulis puisi,

tetapi ikut memberi aksen sejarah sastra dunia.


-000-


🔟 Jika Penghargaan Sastra BRICS membentuk platform untuk mendukung para penulis—dalam penerjemahan, promosi, atau internasionalisasi—apa aspek paling berharga menurut Anda?


Hadiah terbesar bukanlah dana, melainkan ekosistem empati.


Bayangkan sebuah lembaga

yang menerjemahkan bukan hanya kata,

tetapi seluruh dunia.


Yang menghubungkan editor lintas keyakinan,

residensi lintas benua,

dan kurator lintas bahasa.


Platform semacam itu akan menyatukan kemanusiaan

bukan melalui kekuasaan,

tetapi melalui imajinasi.


-000-


(Media ini juga mempublikasikan puisi esai Denny JA, seperti di bawah ini)


Mereka Yang Terbuang di Tahun 60-an (1)


“AYAH, SEMOGA ABU JASADMU SAMPAI DI PANTAI INDONESIA"


Denny JA


(Di tahun 2024, seorang gadis melempar abu jasad ayahnya ke laut, sesuai wasiat sang ayah. Meski tubuhnya tak diizinkan pulang akibat prahara politik tahun 1960-an, ia berharap abu jasadnya mencapai pantai Indonesia, tanah kelahirannya.)


-000-


“Pergilah, Ayah...  

biarlah laut membawa engkau kembali.  

Wahai samudra, ibu yang bergelombang,  

bawa abu jasad Ayahku ke pantai Indonesia,  

ke tanah tempat ia dilahirkan.”


Air matanya jatuh,  

bercampur dengan ombak.  

Rina, anak gadis Baskara, berdiri  

di tepi kapal,  

menggenggam abu jasad Ayah,  

yang terbungkus kain putih.


Gelombang menjauh membawa abu jasad Ayah.  

Anak gadis itu menjadi burung,  

terbang menemani abu.


Ini wasiat terakhir Baskara:  

“Jika aku tak bisa dikubur di Indonesia,  

biarkan abuku yang pulang,  

dihempas laut hingga berlabuh  

di pantai negeriku.”


Indonesia tempat ia dilahirkan,  

tapi ia dilarang dikubur di sana.  

Seumur hidup,  

Baskara terasing.


Tahun 1965, di Beijing,  

Baskara masih muda,  

23 tahun, penuh harapan.


Ia dikirim Bung Karno  

untuk belajar.  

Ilmu pertanian,  

sebagai bekal masa depan  

untuk tanah airnya. (1)


Namun takdir berkata lain.  

Gerakan 30 September pecah.  

Baskara terjebak di negeri orang.  

Paspor ditahan.  

Hak kewarganegaraan dicabut.  

Ia bukan lagi orang Indonesia,  

meski darahnya,  

meski cintanya,  

masih melekat pada negeri itu.


"Kenapa mereka mengambil hakku?"  

Baskara sering bertanya.  

Namun tak ada jawab.  

Ia terasing di negeri orang.  

Tak bisa kembali.


Teman-temannya yang pulang,  

hilang tanpa kabar.  

Ia juga mendengar,  

jika pulang, ia segera dipenjara dan disiksa.


Dan ayahnya,  

dituduh Soekarnois,  

kiri, komunis, hilang entah di mana.  

Padahal Ayah hanya petani sederhana.


Ia hanya mendengar sayup-sayup,  

Ayah dibunuh di satu tempat.


Hidup di Beijing,  

Baskara menjadi pohon tanpa akar.  

Tubuhnya gentayangan di negeri asing.  

Tapi jiwanya tertinggal di Indonesia.


Tujuh tahun lamanya,  

menunggu tanpa harapan.  

Negara yang dikira akan menjemput  

malah membuangnya.


Tak tahan menjadi warga tanpa negara,  

Baskara pun menjadi warga Swedia.


Tahun 2015,  

Baskara pulang,  

menjenguk ibu,  

juga mencari Ayah yang tak kunjung pulang.


Namun, ia dideportasi.  

Dituduh berniat bangkitkan komunisme.


Di masa tua,  

duduk di beranda rumah,  

di Swedia,  

angin menyanyikan lagu keroncong,  

yang sering didengarnya saat kecil,  

ketika ia digendong ibu.


Langit di atas rumah,  

di Swedia,  

memancarkan masa silam.  

Terbentang sepetak sawah.  

Sebagai bocah,  

dirinya berlari di sana,  

disiram hujan gerimis.  

Ia tertawa lepas,  

bersama ibu dan Ayah.


Baskara rindu kampung halaman.  

Ia rindu Indonesia.


Kini, ombak memeluk abu jasad Baskara.  

Mungkin, suatu hari,  

angin akan membawanya ke pantai,  

ke tanah air yang selalu ia rindukan. ***


Jakarta, 15 September 2024


CATATAN


(1) Kisah ini terinspirasi dan dikembangkan dengan fiksi tambahan, dari kehidupan eksil 1965, Tom Iljas, yang terpisah dari tanah airnya akibat perubahan politik.  


https://news.detik.com/x/detail/spotlight/20231002/Eksil-1965-Diusir-daripada-Rezim-Soeharto/

350 Siswa MAN 1 Banyuwangi Ikuti Bimbingan Remaja Usia Sekolah, Kemenag Tekankan Pentingnya Kesiapan Mental dan Moral

BANYUWANGI – Sebanyak 350 siswa kelas XII MAN 1 Banyuwangi mengikuti kegiatan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang digelar oleh Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Kamis (23/10/2025). Program nasional ini bertujuan membentuk remaja yang berkarakter kuat, siap menghadapi tantangan zaman, serta memahami pentingnya menunda pernikahan dini demi masa depan yang lebih baik.


Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Dr. Chairani Hidayat, S.Ag., M.M., membuka langsung kegiatan tersebut. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa pembinaan remaja merupakan langkah strategis untuk menyiapkan generasi yang tangguh dan berdaya saing.

“Peningkatan kualitas keluarga bermula dari anak-anak sekolah. Melalui kegiatan seperti ini, para siswa dibekali kemampuan mengenali potensi diri, mengendalikan emosi, dan menata masa depan dengan lebih terarah,” ujarnya.

Dr. Chairani juga mengingatkan bahwa masa remaja merupakan fase krusial dalam pembentukan kepribadian. Ia berpesan agar para siswa mampu menolak hal-hal yang dapat merugikan, seperti narkoba, pergaulan bebas, dan pernikahan usia dini.

“Anak-anak harus bisa mengendalikan diri dan menjaga pergaulan. Remaja yang mampu mengelola emosinya hari ini akan menjadi calon pemimpin keluarga yang baik di masa depan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Banyuwangi, H. Mastur, S.Ag., M.Pd.I., menjelaskan bahwa BRUS merupakan program rutin tahunan yang menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama membangun keluarga sakinah sejak usia sekolah.

“Program BRUS dirancang agar siswa memahami pentingnya kesiapan mental dan spiritual sebelum membangun rumah tangga. Selain itu, kami juga memiliki Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) dan Bimbingan Keluarga Maslahah untuk kelompok usia yang berbeda,” terangnya.

Mastur menambahkan, kegiatan ini menghadirkan narasumber yang telah mengikuti bimbingan teknis (bimtek) nasional sebagai fasilitator resmi BRUS. Mereka berasal dari kalangan dosen perguruan tinggi, kepala Kantor Urusan Agama (KUA) kecamatan, dan penyuluh agama Islam yang berpengalaman dalam pembinaan remaja dan keluarga.

“Materi yang disampaikan bukan hanya teori, tapi juga praktik dan pengalaman nyata tentang bagaimana remaja bisa menata diri, menjaga hubungan sosial, dan memahami tanggung jawab moral,” jelasnya.

Dalam kegiatan yang berlangsung di aula MAN 1 Banyuwangi ini, para siswa dibagi menjadi tujuh kelompok. Mereka mendapat berbagai materi tentang pengembangan diri, etika pergaulan, dan bahaya pernikahan dini. Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab dan diskusi kelompok.

Dalam kesempatan itu, Dr. Chairani Hidayat juga mengungkapkan fakta penting yang menjadi dasar pelaksanaan program ini. Menurutnya, Banyuwangi termasuk salah satu kabupaten dengan angka perceraian tertinggi di Jawa Timur.

“Setiap hari ada pasangan yang bercerai, baik dari pernikahan baru maupun lama. Banyak di antaranya terjadi karena kurangnya kesiapan mental dan spiritual,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa membangun rumah tangga tidak cukup hanya dengan cinta, tetapi membutuhkan kematangan berpikir dan kesiapan menghadapi perbedaan.

“Pernikahan bukan sekadar janji, melainkan tanggung jawab. Karena itu, para remaja perlu belajar sejak dini agar tidak salah langkah,” tegasnya.

Sebelum menutup acara, Dr. Chairani berpesan agar para siswa tetap fokus belajar dan tidak terburu-buru memikirkan jodoh.

“Jodoh sudah ditentukan Tuhan. Tugas kalian sekarang adalah menyiapkan diri menjadi pribadi yang pantas. Orang yang bisa menjaga diri dan menahan hawa nafsu akan menjadi generasi yang kuat,” katanya.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger