Pages

PP ISNU Siap Berdayakan SDM Unggul Dukung Astacita Presiden Prabowo

JAKARTA (Warna Blambangan) Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) menyatakan kesiapannya untuk menggerakkan dan memberdayakan sumber daya manusia (SDM) unggul yang dimiliki demi mendukung visi besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam menyukseskan agenda Astacita. 


Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Ketua Umum PP ISNU, Kamaruddin Amin, dalam acara Halaqah, Pelantikan, dan Mukernas PP ISNU 2025–2030 yang digelar di Jakarta, Rabu (30/7/2025).

“Halaqah ini bukan hanya seremonial, tetapi menjadi komitmen kami untuk bergerak memberdayakan SDM yang kami miliki untuk memberikan dampak bagi tercapainya Indonesia Emas,” tegas Kamaruddin dalam keterangan resminya.

Acara halaqah tersebut dibuka langsung oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dan menjadi titik awal dimulainya kerja-kerja strategis badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang menaungi para sarjana NU tersebut.

Kamaruddin menambahkan, dengan kekuatan ribuan sarjana NU yang tersebar di berbagai daerah dan bidang keahlian, ISNU siap memberikan kontribusi nyata dalam pencapaian Astacita, delapan cita-cita strategis Presiden Prabowo yang menitikberatkan pada pembangunan manusia, transformasi ekonomi, dan kedaulatan bangsa.

“ISNU bukan hanya komunitas intelektual, melainkan kekuatan strategis bangsa. Ini saatnya kami turun tangan dan memberi solusi konkret,” ungkapnya.

Forum Pra-Halaqah: ISNU Dorong Investasi Global

Sebelum penyelenggaraan halaqah, PP ISNU telah menginisiasi langkah awal melalui rangkaian diskusi bertajuk ISNU Forum Investment on Trade, yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus menjaring minat investasi asing.

Forum tersebut menghadirkan sejumlah tokoh internasional dan investor untuk membahas potensi kerjasama ekonomi yang lebih luas, sekaligus memperkenalkan peluang strategis Indonesia kepada dunia luar.

Beberapa tokoh penting yang hadir dalam forum tersebut antara lain Chairman Mitra Global & Binwan Group Sohail Sattar Quraeshi, Founder Danny Darussalam Tax Center (DDTC) Darussalam, pengusaha Lucia Liaw, serta Guru Besar Hukum dan Politik Perpajakan Nasional Prof. Edi Slamet Irianto.

Turut hadir pula Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun dan sejumlah pengusaha nasional yang menunjukkan komitmen untuk bersinergi dengan ISNU dalam mendongkrak investasi, utamanya di sektor riil dan digital.

Kontribusi Nyata Menuju Indonesia Emas

Dengan bekal kapasitas akademik, jejaring luas, dan basis nilai keislaman yang kuat, PP ISNU bertekad untuk menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pembangunan nasional berbasis ilmu pengetahuan, etika, dan pemberdayaan masyarakat.

“Indonesia Emas bukan hanya cita-cita, tapi target yang harus diwujudkan dengan kerja kolaboratif. ISNU hadir untuk menjadi bagian dari kerja besar itu,” pungkas Kamaruddin.


Diguyur Hujan Deras, Pertarungan Etape Tiga Tour de Banyuwangi Ijen Kian Panas

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Etape Tiga Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) 2025 berubah menjadi arena perang terbuka di bawah guyuran hujan deras, Rabu (30/7/2025). Sejak bendera start dikibarkan di RTH Glenmore, lintasan sepanjang 140,3 kilometer yang berakhir di Kantor Bupati Banyuwangi dipenuhi drama, jatuh-bangun, serta duel sengit yang memompa adrenalin. 


Hujan yang mengguyur sejak pagi membuat lintasan basah dan licin, menambah kesulitan di medan rolling (naik turun) dengan tanjakan legendaris sepanjang 14 kilometer. Gradien mencapai 15 persen dan elevasi 527 mdpl membuat para pembalap tercekik di setiap kayuhan pedal. Etape ini benar-benar menjadi pemanasan brutal sebelum Gunung Ijen yang menanti di etape pamungkas.

"Hujan yang sangat deras membuat kondisi lintasan benar-benar ekstrem. Bahkan kadang jalannya seperti hilang tertutup air. Etape tiga ini jauh lebih sulit dibanding dua etape sebelumnya," ungkap pembalap Belanda, Jeroen Meijers (Victoria Sports Pro Cycling Filipina), yang masih bertahan sebagai pemegang Ijen Sulfur Jersey (Yellow Jersey).

Kecelakaan pun tak terhindarkan. Pembalap Indonesia, Syelhan Nurahmat Muhammad (ASC Monster Indonesia), sempat terpelanting akibat jalan licin. Namun, semangat juangnya tidak padam. "Saya langsung bangkit lagi dan mengejar peloton. Bersyukur bisa mempertahankan Best Indonesian Rider (Banyuwangi Reborn Jersey)," tegas Syelhan.

Sejak kilometer nol, tensi perlombaan langsung membara. Peerapong Landgern (Roojai Insurance Thailand) melancarkan breakaway berani, disusul Kyeongho Min (Seoul Cycling Team). Landgern sukses mengamankan intermediate sprint pertama di KM 26 (Dasri), sebelum akhirnya dikejar oleh tiga pembalap lainnya: Bernard Benyamin Van Aert (Anonymous Cycling Team Indonesia), Nur Amirull Fakhruddin Mazuki (Terengganu Cycling Team Malaysia), dan Martti Lenzius (Quick Pro Team Estonia).

Lima pembalap itu memimpin hingga intermediate sprint kedua dan ketiga di KM 58 (Jajag) dan KM 95 (Rogojampi), yang masing-masing disapu oleh Bernard. Namun, drama sesungguhnya terjadi menjelang tanjakan King of Mountain (KOM) di KM 114 Pakel. Peleton melaju kencang, mengejar breakaway, hingga akhirnya formasi pecah.

Di tanjakan Pakel, Nicolo Petiti (Swatt Club Italia) melancarkan serangan mematikan dan sukses merebut poin penuh di KOM, sekaligus mempertahankan Polkadot Jersey. "Saya melihat 5 rider di depan mulai melemah, langsung saya ambil kesempatan. Ini semua berkat kerja tim yang luar biasa," kata Petiti dengan senyum puas.

Setelah tanjakan, medan basah dan licin memecah konsentrasi. Sisa 19 pembalap bersaing ketat dalam sprint mematikan menuju garis finis. Suara gemuruh roda dan teriakan tim penonton pecah saat Carter Bettles (Roojai Insurance Thailand) menghempaskan lawannya di detik terakhir. Ia mencatatkan waktu 3 jam 13 menit 07 detik dan keluar sebagai juara Etape Tiga.

Nicolo Petiti yang tampil eksplosif finis di posisi dua, disusul Lucas De Rossi (China Anta - Mentech Cycling Team) di tempat ketiga.

Meski gagal podium, Jeroen Meijers berhasil mengamankan posisi tujuh, cukup untuk mempertahankan Ijen Sulfur Jersey (Yellow Jersey) sekaligus Best Sprint (Blue Fire/Green Jersey). Persaingan menuju Etape Empat, yang akan mendaki legendaris Gunung Ijen, dijamin akan semakin panas.

TdBI 2025 benar-benar menyajikan tontonan kelas dunia. Hujan deras, lintasan licin, dan tanjakan kejam hanya membuat semangat para pembalap semakin membara. Semua mata kini tertuju pada Etape Empat. Siapa yang akan menaklukkan Gunung Ijen dan mengukir sejarah? Banyuwangi siap jadi saksi! (*)


Tour de Ijen dan Sebuah Cara untuk Dilihat Dunia

 Tour de Ijen dan Sebuah Cara untuk Dilihat Dunia

Oleh: Lensa Banyuwangi

Ada banyak cara untuk memperkenalkan kampung halaman kepada dunia. Ada yang menulis puisi dan membacakannya di forum-forum internasional. Ada yang membawa kopi lokal ke festival di Eropa. Ada juga yang diam-diam membangun jalan, menata trotoar, merawat taman, lalu berharap satu-dua orang asing yang kebetulan lewat akan menoleh dan bertanya, “Ada apa di sini?” 


Tapi Banyuwangi memilih yang lebih berani: Tour de Ijen. Setiap tahun, deru sepeda memecah pagi di lereng-lereng gunung. Jalan-jalan yang biasanya dilewati anak sekolah dan penjual gorengan tiba-tiba menjadi panggung bagi pembalap dari berbagai belahan dunia. Kamera televisi melayang-layang di udara, mengintip dari atas drone, menyorot lekuk jalan yang meliuk di antara ladang dan hutan, memperlihatkan betapa hijau tanah ini, betapa biru langitnya, dan betapa segala yang tumbuh di sini seperti tahu caranya membuat orang betah menatap lebih lama.

Tour de Ijen bukan sekadar lomba mengayuh pedal. Bukan hanya soal siapa tercepat menaklukkan tanjakan di kawasan Taman Nasional Alas Purwo atau siapa yang paling lihai menjaga stamina ketika angin laut menampar pipi di sepanjang Pantai Boom. Ini adalah panggung. Panggung tempat Banyuwangi tampil dengan caranya sendiri, dengan keanggunan yang tak dibuat-buat, dengan senyum anak-anak di pinggir jalan yang melambai pada pembalap yang tak mereka kenal, dengan aroma kopi arabika yang dibawa angin dari lereng Gunung Raung.

Yang tak kalah penting: Tour de Ijen adalah cara pemerintah berpikir panjang. Mungkin ada yang sinis, seperti biasa. Ada yang bilang: "Buat apa lomba balap sepeda, jalanan saja masih banyak berlubang." Ada juga yang mencibir: "Ah, itu hanya untuk pamer, bukan untuk rakyat." Tapi mereka lupa, bahwa kadang jalan yang berlubang itu bisa ditambal berkat tamu-tamu yang datang membawa devisa. Bahwa para penjual es kelapa muda di pinggir jalan bisa mengganti sepeda butut anaknya karena habis dagang saat Tour de Ijen berlangsung. Bahwa anak-anak muda belajar menari gandrung bukan karena tugas sekolah, tetapi karena ingin tampil menyambut para pembalap dari Portugal, Jepang, atau Afrika Selatan. Bahwa desa-desa yang dulu sepi kini sibuk menyiapkan homestay karena orang mulai mencari tempat tinggal yang hangat dan bersahabat, bukan hotel dingin bertarif mahal.

Pemerintah tak sedang bermain-main. Ini bukan proyek coba-coba. Ini cara berpikir panjang: bahwa pembangunan tak selalu berupa gedung menjulang, tetapi juga membangun rasa percaya diri rakyatnya. Tour de Ijen adalah undangan terbuka kepada dunia: datanglah, lihat kami, lihat tanah kami, lihat bagaimana kami menyambut tamu, lihat betapa kami punya sesuatu yang bisa dibanggakan.

Dan rakyat Banyuwangi menjawab undangan itu dengan cara mereka sendiri. Mereka mulai menata halaman rumah, melatih anak-anak menari, menyulam kembali cerita-cerita leluhur agar bisa dibagikan kepada para tamu yang haus kisah. Mereka menggali kembali tradisi, bukan untuk dipajang seperti barang antik, tetapi untuk dihidupkan kembali, untuk ditawarkan sebagai pengalaman: ini kami, ini Banyuwangi.

Ekonomi pun ikut bergerak. Dari penjaja dawet di pinggir jalan, tukang ojek wisata, perajin batik using, hingga pemandu lokal yang mulai belajar Bahasa Inggris lewat aplikasi di ponsel. Mereka semua tersentuh oleh getaran yang dibawa Tour de Ijen. Karena pada akhirnya, kemajuan itu bukan hanya soal angka-angka di papan statistik. Tapi tentang siapa yang makan hari ini karena dagangannya laku. Tentang siapa yang tak lagi malu memperkenalkan desanya karena sudah tampil di layar kaca. Tentang siapa yang akhirnya percaya, bahwa tempatnya tinggal itu penting. Bahwa tanahnya tidak kalah cantik dari Swiss atau Selandia Baru.

Pembangunan memang tidak mudah. Tapi jika dikerjakan dengan hati dan dipandu visi yang jernih, hasilnya tak akan mengecewakan.

Tour de Ijen adalah bukti bahwa Banyuwangi tak sekadar ingin dikenal, tapi ingin diakui. Bukan karena bangunan pencakar langit atau mal megah, tetapi karena alamnya yang jujur, rakyatnya yang ramah, budayanya yang hidup, dan kesungguhannya merawat yang diwariskan leluhur.

Siapa pun yang datang ke Banyuwangi lewat Tour de Ijen akan pulang dengan cerita. Tentang tanjakan yang melelahkan, ya. Tapi juga tentang semangkuk rujak soto di pinggir jalan. Tentang seorang nenek yang menjual tapai sambil mengajak ngobrol dengan logat Osing yang tak bisa mereka pahami, tapi senyumnya menulari siapa saja. Tentang anak-anak yang berlari mengejar iring-iringan sepeda, lalu pulang membawa cita-cita: suatu hari nanti, aku ingin jadi pembalap. Atau pemandu wisata. Atau kepala desa yang bisa mempercantik desanya agar dilirik dunia.

Inilah Banyuwangi. Inilah Tour de Ijen. Sebuah mimpi yang digayuh perlahan, dengan cara yang kadang tak dimengerti orang-orang yang terburu-buru. Tapi rakyat Banyuwangi tahu: tak ada jalan pintas untuk menjadi tuan rumah yang baik. Harus ada persiapan. Harus ada dedikasi. Harus ada kerendahan hati untuk belajar dan kesungguhan untuk bangkit. Dan Banyuwangi sedang berjalan ke sana. Dengan sepeda. Dengan doa. Dengan harapan.

Negeri Terisolasi dalam Antrean: Catatan dari Banyuwangi yang Tertahan

 Negeri dalam Antrean: Catatan dari Banyuwangi yang Tertahan

Oleh : Syafaat


Bayangkan begini: kau bangun pagi di Banyuwangi, ingin mengirim keripik tempe ke Denpasar, lalu mengecek peta Google. Jalur Gumitir merah pekat. Jalur Situbondo lebih merah lagi. Kapal penyeberangan di Ketapang mengantre sampai Alas Baluran, 55 kilometer dari pelabuhan. Di titik ini, kita bisa mengatakan bahwa Banyuwangi tidak sedang baik-baik saja. Ia nyaris seperti kota yang diisolasi. Bukan karena wabah, bukan karena kerusuhan, tapi karena jalan dan kapal.

Jalur Gumitir ditutup sejakdua puluh empat Juli. Ada perbaikan jalan. Katanya butuh waktu dua bulan. Itu bukan waktu sebentar bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada kelancaran arus barang dan jasa. Gumitir bukan sekadar jalan raya yang membelah pegunungan. Ia adalah urat nadi. Di sanalah barang-barang dari Surabaya, Jember, dan sekitarnya mengalir menuju Banyuwangi dan Bali. Ketika nadi itu terputus, tubuh pun limbung.

Jalur utara via Situbondo sebenarnya bisa jadi alternatif. Tapi, mari kita bicara fakta: jalur utara lebih jauh, lebih padat, lebih panas. Tak banyak orang memilihnya jika tak terpaksa. Lebih-lebih sekarang, ketika kapal penyeberangan dari Ketapang ke Gilimanuk sedang dalam mode "hemat armada". Hanya lima kapal yang beroperasi. Lima kapal untuk ribuan kendaraan per hari. Kau tahu apa yang terjadi? Kemacetan panjang. Bahkan beberapa hari lalu, kemacetan menembus Alas Baluran. Hutan itu menjadi garasi dadakan. 


Saya tidak tahu siapa yang bisa tidur nyenyak dengan peta merah darah seperti itu. Saya juga tidak tahu siapa yang diuntungkan dalam situasi ini. Tapi saya tahu siapa yang dirugikan: semua orang. Ya, semua. Petani di Kalibaru, pedagang di Rogojampi, sopir ekspedisi dari Lumajang, hingga pengusaha keramik di Bali. Semua terkena dampaknya. Ekonomi tidak mengenal batas administratif. Banyuwangi mungkin punya bupati, Bali punya gubernur, tapi pasar tak punya bendera.

Sayur-mayur dari Banyuwangi—untungnya—masih diberi prioritas. Truk-truk berisi kol, wortel, dan bayam tetap bisa menyeberang. Tapi itu tidak cukup. Ada ikan asap yang terhambat. Ada sepatu kulit dari Jember yang ditunda pengirimannya. Bahkan, mobil pribadi pun harus antre berjam-jam demi bisa naik kapal. Beberapa orang memilih putar balik dan menginap. Beberapa lainnya menggerutu di pinggir jalan sambil menyeduh kopi sachet yang mulai terasa pahit. Kita mungkin bisa memuji pemerintah karena memberi prioritas pada bahan pangan. Tapi kita juga punya hak untuk bertanya: mengapa hanya lima kapal? Mengapa perbaikan jalan Gumitir tidak bisa dikerjakan dengan sistem buka-tutup? Mengapa tidak disiapkan rute darurat yang bisa membantu kendaraan ringan? Apakah harus menunggu semuanya macet dulu baru menyadari bahwa satu jalur punya efek domino sampai ke dapur rumah tangga?

Dalam cerita-cerita masa lalu, jalur Gumitir adalah lorong waktu. Ia bukan hanya penghubung Jawa dan Bali, tapi juga pembuka jalan bagi wisata, budaya, dan logistik. Orang datang ke Banyuwangi lewat situ. Orang pulang dari Bali juga lewat situ. Ketika Gumitir tertutup, seolah-olah pulau ini kehilangan separuh denyutnya.

Namun, di tengah keterpurukan ini, Banyuwangi seperti punya ketahanan batin yang tak mudah luntur. Tour de Banyuwangi Ijen—balap sepeda internasional—tetap digelar. Ratusan pembalap asing tiba lewat udara, lewat laut, lewat rute apa pun yang masih mungkin. Jalan boleh tertutup, tapi semangat menyambut tamu dunia tidak ikut ditutup. Itulah Banyuwangi. Ia seperti perempuan tua yang kehilangan perhiasannya, tapi tetap menyambut tamu dengan senyuman. Ia tak bisa mengantar tamu sampai pintu, tapi ia tetap menyeduhkan kopi.

Pertanyaannya sekarang: sampai kapan kondisi seperti ini berlangsung? Sampai kapan daerah perbatasan antara Jawa dan Bali ini dibiarkan menunggu dengan napas tersengal? Apakah kita harus terus berharap pada cuaca, pada kapal, pada proyek jalan yang tak pernah selesai tepat waktu?

Saya tidak sedang ingin menyalahkan siapa-siapa. Saya hanya ingin mencatat, bahwa dalam peta merah ini, kita semua adalah titik-titik yang sedang mengantre untuk menemukan jalan keluar. Banyuwangi tidak terisolasi. Ia hanya sedang diuji. Tapi ujian yang terlalu lama bisa membuat orang kelelahan. Dan saya kira, kelelahan kolektif seperti ini bukan hal yang bisa dibiarkan. Sebab dari kelelahan lahirlah ketidakpercayaan. Dan ketika orang tak lagi percaya bahwa mereka bisa sampai ke tujuan, mereka akan berhenti mencoba.

Seorang lelaki tua duduk di emperan SPBU yang kosong. Tangki-tangki besar menganga seperti mulut raksasa yang kelaparan. Ia memandangi sepeda motornya yang tak bisa bergerak, seperti manusia yang kehilangan tulang punggungnya. Bahan Bakar Minyak tak lebih dari cairan hitam pekat, tetapi ia menyambung urat nadi bangsa ini. Lalu, seseorang dari kejauhan bertanya dengan getir, “Kenapa kita tak siap saat sesuatu yang paling sederhana menjadi langka?” Kita hidup di sebuah negeri yang tergesa-gesa. Bangun tidur langsung menyalakan mesin. Anak-anak pun tak lagi mengenal suara rantai sepeda. Mereka tahu bunyi starter motor lebih dulu sebelum tahu caranya menyeimbangkan diri di pedal. Negeri ini menjadikan BBM sebagai dewa kecil dalam rumah tangga. Tanpa BBM, tak ada pergerakan. Dan tanpa pergerakan, seolah-olah hidup tak berjalan.

Ketika Jalur Gumitir ditutup, orang-orang baru sadar bahwa negeri ini tidak punya rencana cadangan. Padahal, itu hanya satu ruas jalan yang menghubungkan Banyuwangi dan Jember. Tapi dampaknya menyebar seperti bau bensin yang tumpah: meruap, menusuk, dan tak bisa diabaikan.

Empat hari saja jalur itu tak bisa dilewati, dan Jember mulai kehabisan nafas. Truk-truk tak bisa menyeberang. Pengiriman BBM tersendat. Stok di SPBU menyusut lebih cepat daripada baterai ponsel yang tak pernah dicas. Sekolah lumpuh. ASN mulai bekerja dari rumah. Dan kita—dengan segala kebiasaan urban kita—mulai bertanya: apakah ini tanda zaman kiamat versi modern?

Lucunya, kelangkaan BBM di Jember justru lahir dari keterisolasian Banyuwangi. Karena kapal Pertamina bersandar di dermaga Banyuwangi, dan dari sanalah bensin mengalir ke berbagai kabupaten tetangga. Maka, ironi pun terjadi. Ketika Banyuwangi seolah-olah menjadi provinsi kecil yang terisolasi, dampaknya justru dirasakan paling keras oleh yang di luar sana. Seperti seseorang yang memutuskan diam, dan diamnya justru membuat gaduh dunia.

Bukankah selama ini kita menganggap Banyuwangi hanya semacam halaman belakang dari Jawa Timur? Tempat orang singgah sejenak sebelum menyeberang ke Bali. Tapi kini, halaman belakang itu ternyata menyimpan saklar utama. Sekali dipadamkan, separuh rumah ikut gelap. Kita bisa menertawakan ini, tentu saja. Tapi itu tawa getir. Sebab, kita hidup dalam sistem yang menjadikan satu komoditas sebagai penentu segalanya. BBM tidak hanya menyulut mesin, tapi juga menyulut kecemasan, ketergantungan, bahkan kekacauan sosial.

Anak-anak yang biasanya naik ojek ke sekolah, tiba-tiba harus belajar daring. Bukan karena pandemi, tapi karena bensin habis. Lalu muncul tanya yang menyakitkan: kenapa mereka tak terbiasa naik sepeda? Karena kita sudah lama percaya bahwa sepeda adalah simbol kemiskinan. Dan kemiskinan adalah aib yang harus dibakar dengan bensin. Kini, ketika bensin langka, kita tak hanya kehilangan mobilitas, tapi juga kehilangan kepercayaan diri.

Mungkin, ini pelajaran yang terlambat datang. Bahwa kita terlalu mengandalkan satu jalur, satu jenis energi, satu cara hidup. Kita terlalu percaya bahwa modernitas adalah soal kecepatan. Bahwa teknologi adalah mesin, dan mesin adalah kendaraan. Padahal, dulu sekali, manusia bisa berjalan kaki puluhan kilometer, membawa buku di punggung, dan tetap menjadi orang cerdas. Tapi kini, seorang anak tak bisa ke sekolah hanya karena motornya tak bisa hidup. Dan seorang ibu tak bisa memasak karena harga gas melonjak. Dan seorang sopir truk mogok di pinggir jalan, memandangi truknya seperti perahu yang kehilangan angin.

Negeri ini terlalu rapuh untuk bergantung pada satu hal. Terlalu besar untuk disandarkan pada satu dermaga. Dan terlalu penting untuk dijadikan eksperimen logistik. Kita membutuhkan lebih dari sekadar aspal dan bensin. Kita butuh daya tahan. Kita butuh kesiapan mental untuk kembali ke cara-cara sederhana saat dunia modern kolaps.

Barangkali sudah waktunya kita mengenal ulang kata “hemat.” Mengenal ulang sepeda. Mengenal ulang berjalan kaki. Mengenal ulang sekolah sebagai tempat bukan hanya untuk belajar, tapi juga untuk bertemu dan berdiskusi, walau tanpa sinyal internet. Karena jika tidak, suatu saat nanti kita akan menjadi bangsa yang bisa kerja dari mana saja, tapi tidak tahu lagi ke mana harus melangkah. Kita akan menjadi bangsa yang bisa mengisi formulir online, tapi tak bisa mengisi hati anak-anak dengan pengalaman yang bermakna. Kita akan menjadi bangsa yang berjalan cepat, tapi tak tahu ke mana. Dan semua itu dimulai dari cairan hitam bernama BBM. Ketika ia hilang, semua menjadi lumpuh. Dan kita pun terpaksa duduk di emperan, menunggu sesuatu yang kita sendiri tidak tahu: apakah truk Pertamina akan tiba, atau hidup kita akan mulai dipertanyakan ulang.

Setiap jalan menuju Banyuwangi adalah cerita. Sebagian panjang, sebagian pendek. Sebagian lancar seperti doa yang diaminkan malaikat, sebagian terjal seperti hati yang patah dan belum selesai disembuhkan. Tapi semuanya menuju ke satu tempat yang sama—sebuah wilayah di ujung timur Pulau Jawa, tempat matahari lebih dulu menyapa sebelum ke kota-kota lainnya.

Ada jalan darat. Roda empat. Roda enam. Bahkan roda seribu. Semuanya menggelinding dengan beban dan harapan. Lewat Gumitir, yang melengkung seperti alis perempuan yang sedang mengerutkan dahi. Di sanalah jalan bersandar pada tubuh gunung, menghirup kabut, dan kadang memanggul longsor. Jalur itu ditutup sekarang. Diperbaiki karena luka yang dalam. Gumitir sedang istirahat, seperti seseorang yang tak lagi kuat berdiri setelah bertahun-tahun menopang lalu lintas kesibukan.

Tapi manusia selalu mencari cara. Ketika jalur darat luka, rel kereta api tetap setia mengantar. Tak pernah mengeluh. Tak pernah membunyikan klakson. Ia hanya berjalan di jalurnya sendiri, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan nasib. Kereta api ini tidak terburu-buru, tapi juga tidak lamban. Ia tahu persis kapan harus tiba.

Masih ada jalur laut. Dan Banyuwangi tidak pernah pelit urusan laut. Ada laut selatan, dengan ombak yang berdiri seperti tiang-tiang doa. Ombak yang menggulung tubuh peselancar dan kadang menggulung perahu nelayan. Laut itu seperti lelaki yang tidak bisa ditebak: tenang di permukaan, bergolak di dalam. Tapi Banyuwangi juga punya laut yang kalem seperti perempuan yang menutup wajahnya dengan selendang tipis. Laut itu disebut Laut Meneng. Dulu pelabuhannya bernama Pelabuhan Meneng, kini ia punya nama baru: Tanjung Wangi. Di situlah kapal-kapal besar berlabuh tanpa takut kandas, karena Selat Bali tidak pernah menyimpan pasir. Ia hanya menyimpan kedalaman.

Jalur laut ini seperti persahabatan lama. Tidak selalu ramai, tapi selalu ada saat dibutuhkan. Melalui jalur inilah barang-barang dikirim. Termasuk BBM, bahan yang bisa menghidupkan atau menghentikan peradaban, tergantung apakah ia ada atau tidak. Maka laut tidak hanya membawa ikan, tapi juga kehidupan.

Dan ketika darat dan laut belum cukup, langit dibuka. Di Banyuwangi sudah ada bandara. Bukan bandara yang besar dan bising. Tapi bandara yang bersih, wangi, dan tahu caranya menyambut orang dengan senyum. Pesawat datang dan pergi seperti burung-burung yang tidak pernah lupa jalan pulang. Dulu, orang harus naik mobil dari Jember untuk mencapai bandara. Sekarang, kereta api yang mengantar. Bandara ini tidak hanya untuk orang Banyuwangi. Tapi juga untuk orang Jember, Bondowoso, Situbondo, bahkan Bali yang ingin berbalik arah.

Tapi infrastruktur tidak hanya bicara tentang jalur. Ia bicara tentang perasaan. Ketika satu jalur tertutup, yang lain harus membuka diri. Ketika Gumitir ditutup, kereta api menjadi harapan. Ketika mobil tidak bisa lewat, kapal jadi pilihan. Ketika semuanya macet, pesawat datang seperti malaikat. Dan ketika semuanya berjalan lambat, orang-orang baru sadar bahwa perjalanan bukan hanya tentang sampai, tapi tentang bagaimana kita berjalan.

Banyuwangi memang seperti itu. Ia tidak bisa didatangi dengan satu cara. Seperti cinta, ia harus dicari dengan berbagai jalan. Kadang lewat hutan. Kadang lewat laut. Kadang lewat langit. Tapi selalu ada jalannya. Dan mungkin, di antara semua jalur itu, yang paling penting bukanlah aspal, rel, dermaga, atau landasan pacu. Tapi niat. Karena orang yang sudah berniat, akan menemukan jalan bahkan ketika jalur Gumitir longsor.

Banyuwangi itu kaya. Bahkan mungkin terlalu kaya untuk tidak diperhitungkan. Lihatlah tanahnya, subur seperti hati yang tidak pernah putus asa. Apa pun yang ditanam, tumbuh. Apa pun yang dijala, tertangkap. Apa pun yang digali, keluar emas. Iya, emas. Bukan perak, bukan batu bata, bukan mimpi. Tapi emas, yang kalau orang lain bicara, nadanya bisa berubah. Kaya, bukan berarti tidak butuh. Dan inilah kisah dari sebuah tanah yang diberkahi tapi tetap menggantungkan hidupnya pada dunia luar.

Orang-orang luar mungkin melihat Banyuwangi sebagai daerah yang bisa hidup sendiri. Ada laut, ada gunung, ada sawah, ada ladang, bahkan ada bandara. Bahkan dalam satu hari, kamu bisa melihat matahari terbit dari Pulau Merah dan tenggelam di balik Ijen. Bisa menyelam di Bangsring lalu sore harinya sudah sampai di perkebunan teh di Kalibaru. Tapi apa iya, kemegahan alam itu cukup untuk mencukupi seluruh denyut nadi kehidupan? Buah naga di sini manis. Buahnya besar-besar, warnanya cantik, rasanya menyegarkan, seperti janji yang datang di musim kemarau. Tapi buah naga tidak bisa hidup lebih dari beberapa hari di keranjang. Ia butuh keluar, menempuh perjalanan, masuk ke pasar-pasar di luar Banyuwangi. Kalau tidak, buah naga yang manis itu jadi basi di lumbung. Beberapa tahun lalu, truk-truk tak bisa keluar kota. Jalanan tertutup. Buah naga yang tadinya ditunggu-tunggu berubah jadi beban. Ia jatuh ke tanah, membusuk, dimakan kambing, bahkan jadi pupuk untuk pohonnya sendiri.

Laut di Banyuwangi tidak pernah pelit. Laut ini penuh, bahkan lebih dari cukup. Setiap pagi, perahu-perahu kecil menjemput rezeki. Pelabuhan Muncar jadi saksi. Pabrik-pabrik ikan berdiri, menyala, berbau asin. Tapi mereka juga punya batas. Ketika hasil tangkapan melimpah dan jalur distribusi terhenti, maka ikan bukan lagi rezeki, tapi dilema. Ikan-ikan tidak bisa menunggu. Mereka tidak bisa antri di gudang. Mereka harus diolah, dikeringkan, dipindang, diasapkan, diasinkan—kalau tidak, mereka busuk. Dan kalau tak lagi berguna, dijadikan tepung. Ikan yang tadinya makanan berubah jadi bubuk.

Banyuwangi itu kaya. Tapi tetap manusia. Dan manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Ada jeruk, ada kopi, ada cengkeh, ada beras. Tapi tidak semua bisa ditanam di tanah ini. Beberapa kebutuhan tetap harus didatangkan dari luar. Garam dari Madura. Barang-barang elektronik dari Surabaya. Obat-obatan dari Jakarta. Alat-alat berat dari Jepang. Kita hidup dalam sistem yang saling memeluk. Seperti tubuh manusia. Mata tidak bisa menggantikan perut. Kaki tidak bisa menggantikan paru-paru. Banyuwangi bisa kaya, bisa mandiri, bisa memproduksi banyak hal. Tapi tidak semua. Dan di situlah pentingnya jalur keluar masuk: jalan, rel, pelabuhan, bandara. Karena tanah yang paling subur pun tetap butuh benih. Karena laut yang paling kaya pun tetap butuh dermaga. Dan karena manusia seberkecukupan apa pun tetap butuh manusia lainnya untuk hidup.

Begitulah Banyuwangi. Kaya, tapi tidak bisa hidup sendirian.

Baku Hantam di Tanjakan Jelun! Etape Dua Tour de Banyuwangi Ijen 2025 Penuh Drama, Aiman Cahyadi Menggila, Italia Kuasai Panggung!

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Etape dua Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) 2025, Selasa (29/7), berubah menjadi arena perang strategi, adu nyali, dan pertarungan level dewa sepanjang 158,8 kilometer. Lintasan dari Taman Nasional Alas Purwo hingga Kantor Bupati Banyuwangi bukan hanya memeras keringat, tapi juga menyajikan duel panas yang membuat penonton tak bisa berkedip!v


Drama dimulai sejak kilometer ke-7. Aiman Cahyadi, sang jagoan dari Timnas Indonesia yang kini membela Terengganu Malaysia, langsung tancap gas. Tanpa aba-aba, ia melakukan breakaway—manuver berani yang mengundang decak kagum. Yang mengejutkan, pembalap Jepang Honda Haruhi dari tim VC Fukuoka tak membiarkannya sendirian. Keduanya bak duo samurai di atas aspal, saling memimpin dan saling menekan, memisahkan diri dari peleton hingga menciptakan gap waktu nyaris 5 menit!

Selama lebih dari 100 kilometer, Aiman dan Honda bermain api dengan kecepatan tinggi dan konsistensi luar biasa. Aiman bahkan menyapu bersih tiga intermediate sprint—di Temurejo (34,5 km), Maron (78,5 km), dan Lincing (113,4 km)—membuktikan bahwa darah merah putih belum habis daya dobraknya!

Namun, balapan sejati selalu punya tikungan tak terduga. Di tanjakan berpaving legendaris kawasan Jelun (129,4 km)—yang disebut-sebut sebagai ‘tangga neraka TdBI’—kekuatan mereka mulai runtuh. Sang peloton mengejar bagaikan badai, dan akhirnya menelan duo pelari depan tersebut hanya beberapa kilometer sebelum puncak tanjakan.

Tapi pertarungan belum usai. Saat semua mata tertuju ke puncak KOM (King of Mountain), pembalap Italia Nicolo Petiti dari Swatt Club Italia melesat bak rudal darat dan menaklukkan tanjakan Jelun dengan gagah perkasa.

“Saya sudah berusaha mati-matian hari ini. Tapi 30 kilometer terakhir benar-benar seperti mimpi buruk. Saya tetap bangga dengan performa saya,” ujar Aiman, penuh semangat meski harapannya diremukkan di kaki Jelun.

Dan puncak dari drama ini? Adu sprint maut menjelang garis finish di Kantor Bupati Banyuwangi! Delapan belas pembalap dalam satu peleton terakhir saling sikut, saling pepet, dan akhirnya—bak film laga Italia—Fransesco Carolo dari Swatt Club Italia muncul sebagai pemenang dengan catatan waktu 3 jam 46 menit 41 detik. Di belakangnya, pembalap Aljazair Youcef Reguigui (Madar Pro Cycling) dan pembalap Spanyol Benjami Prades Reverte (VC Fukuoka) saling menguntit ketat untuk podium dua dan tiga.

Namun panggung utama tak melulu milik para penakluk etape. Raja sejati klasemen umum (Individual General Classification) Jeroen Meijers dari Belanda—yang membela Victoria Sports Cycling Filipina—masih mempertahankan Yellow Jersey (Ijen Sulfur Jersey) dan Green Jersey (Blue Fire Jersey) berkat keunggulan waktu yang ia kantongi sejak Etape Pertama.

“Etape ini luar biasa sulit. Tapi saya sudah antisipasi dari awal dan mencoba tidak panik saat tertinggal. Finish di tiga besar adalah bonus. Saya akan pertahankan jersey ini sampai akhir,” ujar Meijers dengan mata tajam penuh ambisi.

Tak hanya itu, Swatt Club Italia kini menjadi raksasa baru di klasemen tim, menguasai Stage Team Classification berkat performa stabil dan agresif pembalap-pembalapnya di dua etape awal.

Dan kejutan datang dari anak negeri! Pembalap muda Muhammad Syelhan Nurrahmat dari ASC Monster Indonesia berhasil merangsek ke posisi 10 besar, mengangkat nama Merah Putih di antara deretan nama asing, dan dengan gagah merebut Banyuwangi Reborn Jersey sebagai Best Indonesian Rider.

Etape dua TdBI 2025 telah berakhir, tapi tensi dan drama belum usai. Masih ada dua etape tersisa, dan para pembalap tahu: setiap kilometer di Banyuwangi adalah ladang ujian, dan setiap tikungan bisa mengubah takdir.

Besok, pertarungan kembali berlanjut. Bersiaplah. Banyuwangi belum selesai. TdBI masih menyala! 🔥🚴‍♂️🇮🇩

(*)

Al-Hikam, Kopi, dan Malam yang Tak Pernah Selesai

 Al-Hikam, Kopi, dan Malam yang Tak Pernah Selesai

Setiap Senin malam Selasa, dua pekan sekali, saya ikut duduk di masjid tanpa dinding. Angin masuk dari mana-mana. Tidak ada yang bisa menolaknya. Seperti hidup, kadang ia datang tanpa aba-aba. Di Masjid Cheng Ho, kami menunggu suara yang pelan dan dalam. Suara Gus Kholiq. Seorang kiai muda yang tutur katanya tidak ingin menguasai, hanya ingin tinggal sebentar di dalam dada kita. 


Saya tidak datang karena merasa hampa. Saya datang karena saya lelah. Itu saja. Dan saya merasa lelah adalah alasan yang paling jujur untuk bertemu Tuhan.

Gus Kholiq membaca Al-Hikam seperti sedang membuka surat yang tertunda. Seperti ayah yang mengeluarkan sepucuk kertas dari laci lama dan membacakannya untuk anaknya yang sudah lama dewasa tapi masih sering menangis dalam tidur.

Malam-malam itu, saya belajar bahwa Tuhan tidak terburu-buru. Ia tidak menginginkan kita sempurna. Ia hanya ingin kita hadir. Duduk. Menyimak. Lalu pulang dengan dada yang sedikit lebih ringan.

Di pengajian itu, tidak ada yang sibuk ingin terlihat lebih saleh. Tidak ada yang berlomba menjawab pertanyaan. Kami hanya mendengar. Kadang tertawa. Kadang diam cukup lama. Seperti baru saja menyadari betapa kosongnya hidup yang selama ini terlalu penuh.

Saya menyukai masjid ini karena ia tidak memaksa siapa pun menjadi siapa-siapa. Seorang mantan pejabat duduk di pojok, bersedekap seperti siapa saja. Dan mungkin itulah hikmah yang paling besar: menjadi siapa saja.

Al-Hikam bukan kitab yang menjanjikan kesuksesan. Ia bukan modul motivasi. Ia tidak menyuruh kita kuat, tapi memberi izin untuk hancur. Karena dari kehancuranlah, kita benar-benar mengenal arti pulang.

Ada malam ketika Gus Kholil membacakan:

“Jangan kamu berduka karena kehilangan sesuatu dari dunia. Karena apa yang luput darimu, tak pernah ditakdirkan menjadi milikmu.”

Saya diam. Kalimat itu seperti tangan yang meraba luka yang sudah lama tidak disentuh. Pelan. Tidak menyembuhkan. Tapi membuat kita tahu: luka itu masih ada. Dan tidak apa-apa. Setelah pengajian, kami makan bersama. Kadang lauknya tempe, kadang tahu, kadang tewel, kerupuk, kadang hanya bayam yang direbus dan sambal yang seadanya. Tapi entah mengapa, rasanya seperti makan di surga yang tidak terlalu sibuk mencatat dosa. Kadang Kami juga menyeruput kopi. Bukan kopi mahal. Hanya kopi dari rumah-rumah yang tahu bahwa cinta tidak perlu dikemas dalam kardus bermerek. Di tangga masjid itu, kami mengobrol. Tentang cucu. Tentang kenangan. Tentang hidup yang kadang terasa seperti cerita lama yang tidak selesai.

Saya tidak tahu apakah semua yang duduk di sana sedang lelah. Tapi saya tahu kami semua sedang mencari arah pulang. Dan Al-Hikam adalah penunjuk arah yang tidak pernah membentak. Ia hanya menunggu. Kadang bertahun-tahun. Kadang sepanjang hidup. Malam itu, Gus Kholiq dengan kalimat bertanya, “Gus, kenapa kita sudah salat, sudah sedekah, tapi hidup masih berat?”

Gus Kholiq tersenyum. Seperti sudah sering mendapat pertanyaan serupa dari dirinya sendiri. Lalu ia membaca satu hikmah:

“Keinginanmu agar Allah memberi apa yang kamu mau, itu tanda kamu belum benar-benar mengenal-Nya.”

Kami terdiam. Diam yang tidak canggung. Diam yang terasa seperti peluk yang tidak terlihat. Dan saya teringat doa-doa saya yang cerewet. Yang panjang. Yang kadang terdengar seperti daftar belanjaan. Saya sadar malam itu: saya terlalu sering menyuruh Tuhan, bukan memanggil-Nya.

Orang-orang bilang: pengajian bisa ditonton dari rumah. Ada siaran langsungnya di YouTube, di channel Radar Banyuwangi. Tapi saya tahu, itu tidak sama. Karena suara yang membasuh hati tidak bisa disiarkan. Ia harus dialami. Seperti mencium aroma kopi dari balik kaca, tapi tidak meminumnya. Saya ingin tetap datang. Karena kehadiran itu bukan sekadar fisik. Tapi tentang getar sajadah. Tentang suara air wudu. Tentang senyum yang tidak punya nama.

Kami manusia pelupa. Sudah diingatkan, lupa lagi. Dan mungkin itulah alasan mengapa pengajian seperti ini tidak boleh berhenti. Ia bukan sekolah. Ia bukan seminar. Ia hanya ruang di mana kita boleh menjadi lemah dan tidak merasa bersalah. Kalau nanti saya tidak bisa datang, saya mungkin akan menontonnya dari rumah. Tapi saya tahu, saya tidak akan merasakan angin itu. Tidak akan mendengar suara tewel yang dituang ke piring. Tidak akan melihat mata Gus Kholiq yang seperti menahan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Dan malam-malam tanpa itu, akan terasa sunyi. Hidup, ternyata, bukan tentang menang. Tapi tentang kembali. Dan Al-Hikam tidak pernah mengajarkan cara memenangkan dunia. Ia hanya menunjukkan jalan pulang. Pelan-pelan. Tanpa desakan. Karena barangkali, kita memang tidak pernah benar-benar pergi. Kita hanya lupa arah.

Saya masih belum selesai dengan diri saya sendiri. Tapi saya ingin terus duduk di sana. Di bawah suara yang tidak ingin menggurui. Di antara orang-orang yang diam-diam sedang sembuh. Dan kalau nanti saya benar-benar sembuh, saya ingin tetap duduk di sana. Bukan karena saya butuh. Tapi karena saya ingin menemani mereka yang masih lelah. Karena bukankah itu yang diajarkan Al-Hikam: tidak menjadi yang paling suci, tapi menjadi tempat pulang yang paling sunyi.

Cheng ho, 28-07-2025

Meledak! Pembalap Belanda Jeroen Meijers Rebut Juara Etape Pertama Tour de Banyuwangi Ijen 2025

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Persaingan super ketat langsung membakar hari pertama Tour de Banyuwangi Ijen (TdBI) 2025! Etape pembuka yang digelar Senin (28/7/2025) menghadirkan drama penuh adrenalin di sepanjang 125 kilometer dari Pasar Pesanggaran hingga finis megah di Kantor Bupati Banyuwangi. Dan akhirnya, ledakan kemenangan datang dari pembalap asal Belanda, Jeroen Meijers, yang tampil superior! 


Rider tangguh dari tim Victoria Sports Pro Cycling Filipina ini sukses merebut juara etape pertama dengan catatan waktu 2 jam 38 menit 23 detik. Tak hanya itu, Meijers juga langsung menyabet dua gelar bergengsi: Yellow Jersey (Ijen Sulfur Jersey) sebagai pemimpin klasemen waktu dan Green Jersey (Blue Fire Jersey) untuk sprinter terbaik. Langsung dua trofi di hari pertama? Luar biasa!

Etape pertama ini terbilang flat alias datar, tapi jangan remehkan tantangannya. Hujan di awal race mengguyur lintasan, memaksa 99 pembalap dari 20 tim internasional ekstra hati-hati—namun justru membuat balapan makin liar! Peloton sempat pecah, sprint demi sprint meletup. Jalur basah justru jadi pemicu aksi heroik.

Dramatis! Breakaway Meijers Pecah Dominasi Peloton

Di kilometer 33, empat pembalap coba memecah peleton dan membentuk breakaway. Terry Yudha Kusuma dari Jakarta Pro Cycling Team bahkan sempat mencicipi manisnya intermediate sprint pertama di Plampang Rejo. Namun kekuatan peleton tak terbendung—mereka berhasil ditangkap kembali.

Namun, dua kilometer kemudian: boom! Meijers memutuskan menyerang sendirian. Bagaikan badai, ia melesat ke depan dan mengunci intermediate sprint kedua dan ketiga di Benculuk dan Temuguruh. Meijers tidak hanya cepat, tapi juga cerdas membaca momen—ia tahu persis kapan harus go full throttle.

"Ini hari yang sempurna buat saya. Saya tahu banyak yang menargetkan etape ini, jadi saya harus agresif sejak awal. Dan strategi tim bekerja sangat baik," ujar Meijers usai race dengan senyum tak lepas dari wajahnya.

Sprint Sengit hingga Detik Terakhir

Meski Meijers memimpin sejak intermediate kedua, tekanan di belakangnya luar biasa. Pembalap Spanyol Benjami Prades dari VC Fukuoka Jepang dan Oliver Knudsen dari Swatt Club Italia terus menguntit ketat. Mereka finis di posisi dua dan tiga dengan waktu nyaris identik: 2:38:23.

Namun Meijers terlalu kokoh untuk digoyahkan. Dengan keunggulan strategi dan ketahanan di 10 km terakhir, ia berhasil menjaga jarak hingga menyentuh garis finis lebih dulu. Penonton yang memadati area Kantor Bupati Banyuwangi pun bersorak membahana, menyambut kemenangan bersejarah.

Terry Yudha Kusuma Banggakan Merah Putih

Meski tak finis di podium utama, Terry Yudha Kusuma tampil heroik dengan meraih gelar Best Indonesian Rider dan mengenakan Banyuwangi Reborn Jersey. Ia juga menyebut bahwa Etape 1 ini adalah kunci bagi pembalap sprinter sepertinya sebelum masuk etape-etape berat.

“Saya tahu besok ada lintasan gravel yang lebih menantang, jadi saya sudah siap all-out di sana. Hari ini saya hanya ingin mengamankan posisi dan mencoba sprint awal. Breakaway Meijers sangat kuat, dia memang pantas menang,” kata Terry.

Hasil Lengkap Etape 1 Tour de Banyuwangi Ijen 2025

STAGE INDIVIDUAL CLASSIFICATION

  1. 72 – Jeroen Meijers (Victoria Sports Pro Cycling) – 2:38:23
  2. 61 – Benjami Prades (VC Fukuoka) – 2:38:23
  3. 185 – Oliver Knudsen (Swatt Club) – 2:38:23

GENERAL CLASSIFICATION (Ijen Sulfur Jersey)

  1. 72 – Jeroen Meijers – 2:38:07
  2. 61 – Benjami Prades – 2:38:17
  3. 185 – Oliver Knudsen – 2:38:19

Best Indonesian Rider (Banyuwangi Reborn Jersey)

  1. 101 – Terry Yudha Kusuma – 2:41:29
  2. 191 – Raihan Maulidan Muhammad – 2:41:30
  3. 171 – Van Aert Bernard Benyamin – 2:41:32

Best Sprinter Classification (Blue Fire Jersey)

  1. 72 – Jeroen Meijers
  2. 61 – Benjami Prades
  3. 185 – Oliver Knudsen

Hari pertama TdBI 2025 sukses menyulut semangat dan antusiasme luar biasa, bukan hanya bagi peserta, tapi juga masyarakat Banyuwangi. Ini baru permulaan—masih ada tiga etape lagi, termasuk tanjakan legendaris Gunung Ijen yang disebut-sebut sebagai “neraka vertikal” bagi para pembalap. Siapakah yang bertahan? Siapa pula yang akan gugur?

Yang jelas, Meijers telah mengukir namanya sebagai raja pembuka TdBI 2025. Dan semua mata kini tertuju ke Etape 2. Tunggu ledakan selanjutnya! 💥🚴‍♂️🌋


*) Redaksi TdBI 2025 - Lensa Balap Banyuwangi

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger