Pages

Penyuluh Agama Islam Dilatih Media Digital dan Pembuatan Film Pendek: Dakwah Tak Lagi di Mimbar Saja

 


BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kamis siang itu, aula Ma’had MTsN 1 Banyuwangi berubah menjadi ruang belajar yang tak biasa. Di dalamnya, puluhan penyuluh agama Islam dari berbagai KUA Kecamatan duduk bersisian dengan laptop dan gawai di depan mereka. Tidak ada kitab tebal yang dibuka atau lembaran-lembaran teks dakwah yang dibagikan seperti biasanya. Kali ini, yang mereka pelajari adalah bagaimana menyampaikan pesan agama melalui layar — bukan mimbar. 


Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar Pelatihan Media Digital dan Pembuatan Film Pendek, sebuah program yang dirancang untuk membekali para penyuluh agama dengan keterampilan komunikasi digital. Tujuannya sederhana tapi revolusioner: dakwah harus ikut bermigrasi, dari corong masjid ke layar ponsel.

Adalah Nur Ahmadi Indartono yang menjadi narasumber utama dalam pelatihan ini. Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM) Banyuwangi dan sekaligus anggota Dewan Kesenian Blambangan ini datang tak hanya membawa teori, tetapi juga pengalaman artistik dan ide-ide segar. Di hadapan para penyuluh, ia memutar potongan film pendek garapannya yang memuat pesan toleransi dan moderasi beragama.

“Penyuluh agama sekarang ini harus berpikir sebagai kreator. Dakwah itu tidak hanya ceramah. Dakwah bisa jadi film pendek, bisa jadi konten TikTok, bisa jadi infografis. Audiens kita sudah berubah, maka cara menyapanya juga harus berubah,” kata Nur Ahmadi yang disambut anggukan setuju peserta.

Bukan sekadar teori, para peserta diajak praktik langsung membuat skenario film, merancang adegan, hingga menyusun storyboard sederhana. Beberapa peserta tampak antusias mendiskusikan ide film bertema kehidupan desa, isu sosial keagamaan, hingga kisah-kisah inspiratif dari lapangan dakwah mereka sendiri.

Kepala Seksi Bimas Islam, H. Mastur, membuka acara dengan nada optimisme. Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa pelatihan ini adalah bagian dari langkah strategis menghadapi perubahan zaman.

“Kita ingin setiap KUA punya tim kreator. Jadi ketika ada kegiatan, tidak hanya ditulis dalam laporan, tapi juga bisa didokumentasikan dalam bentuk video yang informatif dan inspiratif,” ujar Mastur.

Ia menambahkan bahwa penyuluhan keagamaan akan lebih efektif jika dibungkus dalam format yang digemari generasi muda. “Film pendek itu bisa menyentuh lebih dalam. Anak-anak muda sekarang lebih banyak melihat layar daripada mendengar ceramah. Maka kita harus hadir di layar mereka,” imbuhnya.

Pelatihan ini menjadi bagian dari arus besar transformasi digital yang diusung Kementerian Agama. Di tengah masyarakat yang makin terhubung lewat internet dan media sosial, penyuluh agama kini didorong untuk menjadi content creator—pencipta narasi keagamaan yang inklusif, moderat, dan menarik.

Bagi para peserta, pelatihan ini menjadi momen penting yang membuka perspektif baru. Seorang penyuluh dari Kecamatan Pesanggaran, misalnya, mengaku sudah lama ingin membuat video kisah mualaf binaannya, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. “Sekarang saya jadi punya bayangan. Ternyata tidak serumit yang saya pikir,” katanya.

Saat pelatihan usai menjelang sore, sebagian peserta masih terlihat berdiskusi kecil sambil mencatat ide-ide baru. Dari balik pintu aula yang mulai ditutup, terdengar potongan percakapan: tentang kamera, tentang pengambilan gambar, dan tentang pesan-pesan agama yang lebih mengena jika dikisahkan dalam bentuk cerita.

Di era digital ini, penyuluh agama tidak lagi hanya berdiri di mimbar. Mereka kini bersiap menulis skenario, menyusun gambar, dan menyuarakan pesan damai dari balik kamera — menyapa umat melalui cahaya layar.

Preservasi Jalan Nasional Alas Gumitir: Jalur Gumitir Ditutup Total Selama Dua Bulan Demi Keselamatan dan Keandalan Infrastruktur

Banyuwangii (Warta Blambangan) Dalam rangka menjaga kesinambungan fungsi dan keamanan infrastruktur jalan nasional, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali akan melaksanakan penutupan total ruas Jalur Gumitir (KM 233+500) selama dua bulan, terhitung mulai Kamis, 24 Juli 2025 pukul 00.00 WIB hingga Rabu, 24 September 2025 pukul 24.00 WIB. Penutupan ini merupakan bagian dari kegiatan Preservasi Jalan Nasional yang berlokasi di kawasan Alas Gumitir, Kabupaten Jember.

Kegiatan preservasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas, keamanan, dan keberlanjutan jalur strategis nasional yang menghubungkan wilayah timur dan barat Jawa Timur. Jalur Gumitir merupakan koridor vital yang dilalui ribuan kendaraan setiap harinya, sehingga pemeliharaan berkala dengan pendekatan teknis yang komprehensif menjadi sangat krusial. 


Adapun ruang lingkup pekerjaan yang akan dilakukan meliputi:

  1. Penanganan longsor di beberapa titik rawan pergerakan tanah, sebagai respons terhadap tingginya kerentanan geologis kawasan pegunungan Alas Gumitir.

  2. Perkuatan lereng dengan menggunakan metode bored pile pada 55 titik, dengan total panjang mencapai 115 meter. Metode ini dipilih karena terbukti efektif dalam menstabilisasi struktur tanah di lereng curam yang memiliki potensi longsor tinggi.

  3. Perbaikan geometri jalan, termasuk penyesuaian elevasi dan perataan lintasan, guna meningkatkan keselamatan berkendara, memperbaiki visibilitas pandangan, serta mendukung efisiensi arus lalu lintas.

Keputusan penutupan total ini tidak diambil secara sembarangan. Mengingat medan sempit dan kontur ekstrem Jalur Gumitir, pelaksanaan pekerjaan yang melibatkan alat berat dalam skala besar sangat berisiko apabila dilakukan bersamaan dengan lalu lintas umum. Oleh karena itu, penutupan penuh dipandang sebagai opsi paling aman dan rasional, demi melindungi keselamatan pengguna jalan maupun tenaga teknis di lapangan.

BBPJN Jawa Timur–Bali juga telah menyiapkan rute alternatif serta informasi pengalihan arus lalu lintas yang dapat diakses melalui infografis resmi dan kanal media sosial BBPJN. Koordinasi dengan instansi terkait, seperti Dinas Perhubungan dan kepolisian, terus dilakukan guna memastikan kelancaran arus lalu lintas selama masa pekerjaan berlangsung. 


Masyarakat pengguna jalan diimbau untuk merencanakan perjalanan lebih awal, mengikuti petunjuk pengalihan arus, serta mengutamakan keselamatan dalam berkendara. Selain itu, BBPJN juga memohon doa dan dukungan publik agar proses preservasi berjalan lancar, tepat waktu, dan memberi manfaat jangka panjang bagi konektivitas wilayah dan perekonomian regional.

Melalui program ini, BBPJN Jawa Timur–Bali menegaskan komitmennya untuk terus MenyambungNegeri, membangun jaringan jalan yang tangguh, aman, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

#

Seorang yang Pernah Membakar Lilin-Lilin Kami

 Seorang yang Pernah Membakar Lilin-Lilin Kami

Pagi itu datang dengan biasa saja. Angin berhembus lembut dari arah selatan, melewati genting-genting tua yang sudah sering mendengar nama disebut tanpa harus memanggil. Kopi di gelas masih beruap, dan orang-orang sibuk membetulkan kerah baju batik mereka. Tapi kami tahu, pagi itu akan berisi sesuatu yang tak akan biasa. Karena yang datang bukan orang sembarangan. Yang datang adalah orang yang pernah menyalakan nyala kecil di kepala kami—dan membiarkannya tumbuh menjadi lentera. 


Namanya Dr. Moh. Amak Burhanuddin. Kini beliau menjabat sebagai Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam di Kanwil Kemenag Jawa Timur. Tapi bagi kami, beliau bukan hanya itu. Ia adalah api pertama yang menyalakan kayu-kayu basah kami, saat literasi di tempat ini hanyalah angan di jendela, kabur dan sering kabur pula.

Beliau pernah menjadi Kepala Kemenag Kabupaten Banyuwangi. Saat itu, literasi belum menjadi kata yang sering dilafalkan. Menulis berita kegiatan hanyalah hobi anak-anak jurnalistik sekolah, bukan kerja para guru atau pejabat di KUA. Tapi entah bagaimana, kehadiran beliau mengubah banyak hal.

Pagi itu, dalam kesederhanaan yang senyap, saya memberanikan diri untuk memberikan tiga buku. Dua karya saya sendiri, dan satu karya bersama para guru Madrasah Ibtidaiyah Banyuwangi. Rasanya seperti menyerahkan bunga dari pekarangan sendiri kepada orang yang dahulu menanam benihnya. Aneh. Ada gugup yang tak perlu, tapi ada juga rasa haru yang tak bisa dielakkan.

Saya selalu percaya, bahwa memberi buku kepada orang yang pernah menyalakan semangat kita, adalah cara terbaik untuk berkata: “Terima kasih telah membuat kami percaya bahwa menulis bukan sekadar kegiatan, tapi jalan sunyi menuju makna.”

Karena sejak itu, kami berubah. Kami tak lagi menyimpan kegiatan dalam laci, atau hanya di folder laptop yang jarang dibuka. Kami menulisnya. Mewartakannya. Membagikannya ke publik. Supaya orang lain tahu, bahwa di madrasah-madrasah ini, di kantor-kantor kecil ini, ada kegiatan yang berarti. Ada dedikasi. Ada kehidupan yang pantas disiarkan.

Menulis berita, bagi kami, bukan lagi urusan administrasi. Ia telah menjelma menjadi kesaksian. Karena berita tidak bisa dihapus. Ia lahir dari waktu dan akan terus membawa waktu di tubuhnya. Tak seperti foto yang sering berdusta tentang kapan ia diambil. Berita mencatat tanggal, jam, bahkan detik. Dan dari sana, kehadiran kita akan selalu bisa ditemukan kembali.

Beliau, Dr. Amak Burhanuddin, bukan hanya memberi motivasi. Ia memberi arah. Memberi contoh bahwa di tengah kesibukan sebagai kepala kantor, ia bisa menyelesaikan studi doktoralnya. Dan lucunya, penerus beliau juga menyelesaikan program doktor saat bertugas di Banyuwangi. Seolah ada sesuatu di kota ini yang membuat orang ingin belajar lebih dalam, menulis lebih jauh, dan mengakar lebih kuat.

Saya sering berpikir, mungkin tanah ini mengandung sesuatu yang menyuburkan ilmu. Atau mungkin, udara di sini membawa bisik-bisik dari masa lalu. Dari zaman di mana sastra bukan sekadar milik penyair. Karena sejarah mencatat, di tahun 60-an, syair legendaris Sholawat Badar ditulis di kota ini oleh K.H. Ali Manshur, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kemenag Banyuwangi.

Jadi kalau hari ini para kepala kantor, para kepala seksi, para guru madrasah di Banyuwangi menulis puisi, merangkai berita, menyusun buku antologi, atau sekadar menorehkan kisah kegiatan ke dalam catatan publik, itu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Kita hanya sedang membuka kembali jejak yang sudah lebih dulu ditorehkan oleh mereka yang mendahului.

Sastra, di lingkungan Kementerian Agama, bukan barang baru. Ia telah lama ada. Mungkin tersembunyi di balik rapat-rapat serius, mungkin tertidur di laci-laci penuh berkas. Tapi ia selalu menunggu untuk dibangunkan. Dan ketika seseorang datang, mengetuk, dan berkata: “Ayo kita mulai menulis,” maka pintu-pintu itu pun terbuka.

Saya selalu suka membayangkan bahwa buku-buku yang hari ini saya serahkan kepada beliau, akan beliau letakkan di rak kecil di rumahnya. Atau mungkin akan beliau baca diam-diam di sela perjalanan dinasnya. Dan mungkin, suatu saat nanti, ia akan tersenyum sendiri lalu berkata, “Mereka tetap menulis. Api itu tak padam.”

Dan saya akan terus menulis. Karena saya tahu, setiap kalimat yang terbit adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang yang pernah percaya pada saya, bahkan sebelum saya sendiri percaya.


Ketegangan Warnai Malam Ucapan Selamat Pelantikan Pengurus PGRI Banyuwangi

Banyuwangi, (Warta Blambangan)  Suasana di Kantor Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Banyuwangi, Jalan Ahmad Yani, sedikit memanas pada Sabtu malam. Setelah siang harinya berlangsung pelantikan kepengurusan PGRI versi Ahmad Sodiq, malam harinya muncul ketegangan terkait pemasangan banner ucapan selamat dari pengurus PGRI yang masih mengacu pada Surat Keputusan (SK) sebelumnya, dengan ketua Sudarman.

Peristiwa ini terjadi di lantai atas kantor PGRI. Banner ucapan selamat kepada pengurus baru yang baru saja dilantik pada siang harinya, tertutup oleh banner kegiatan yang dipasang oleh tim pengurus PGRI di bawah kepemimpinan Sudarman. Hal ini menimbulkan ketegangan, karena dua orang dari pihak pengurus baru datang dan menyatakan keberatan atas pemasangan banner tersebut. 


Mereka menilai bahwa penutupan banner pelantikan yang baru berlangsung beberapa jam sebelumnya merupakan bentuk tidak menghormati proses pelantikan dan pengakuan pengurus yang sah. Namun, menurut pihak pengurus lama, pemasangan banner malam itu murni sebagai ucapan selamat dan bagian dari kegiatan internal organisasi.

“Saya terbuka dan bersedia mengundurkan diri secara terhormat apabila memang terbukti bersalah dalam menjalankan roda organisasi,” ujar Sudarman dengan nada tenang kepada media yang hadir. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat konfrontatif dan selalu mengedepankan musyawarah mufakat dalam menyikapi dinamika internal PGRI.

“Namun hingga malam ini, seluruh pengurus yang selama ini bersama saya tetap solid dan mendukung saya untuk menuntaskan masa jabatan hingga 2029 sesuai SK yang masih berlaku,” tambah Sudarman. 


Meskipun sempat terjadi ketegangan, situasi malam itu tidak berkembang menjadi insiden fisik. Kedua belah pihak memilih untuk menahan diri, dan sejumlah tokoh pendidikan yang hadir turut mengimbau agar perbedaan pandangan diselesaikan secara organisasi dan sesuai mekanisme yang ada.

Peristiwa ini menjadi sorotan di tengah dinamika internal PGRI Kabupaten Banyuwangi. Sebagian guru berharap agar kedua belah pihak dapat menempuh jalan damai dan menomorsatukan kepentingan pendidikan di atas ego kelompok.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Ahmad Sodiq selaku pengurus baru terkait insiden malam itu. Namun, sejumlah sumber menyebut bahwa komunikasi antar pihak masih terus diupayakan demi menjaga marwah organisasi guru terbesar di tanah air ini.

Jalur Cinta yang Tak Bisa Terulang

 *Jalur Cinta yang Tak Bisa Terulang*



Sore itu selepas kerja aku membawva cinta dalam kardus kecil. Ia mengeong pelan, seperti tahu bahwa ia akan diserahkan kepada tangan lain yang lebih lembut daripada tanganku: tangan anak perempuanku, belahan jiwaku, amanah terbesar dalam hidupku.

Dia, anakku, kini berada di semester terakhir kuliahnya. Usianya telah menginjak dewasa, tapi dalam benakku, ia masih bocah kecil yang dulu sering memelukku saat takut petir, tidak dapat tidur sebelum kupeluk erat-erat, Kulitnya bersih seperti lembaran pagi pertama di musim semi. Wajahnya membawa cahaya, dan setiap kali ia tersenyum, dunia seperti menunduk hormat. Sebagai ayah, aku tahu: kelak ia akan pergi. Bukan karena ia tidak cinta, tapi karena cinta yang lain akan menjemputnya, dan aku harus rela berdiri di tepi peron kehidupannya, melambaikan tangan kepada kereta yang tak lagi kutumpangi.

Tapi malam ini aku masih punya alasan untuk mendekap sebentar waktu bersamanya. Kucing kecil ini, kesayangannya, harus aku antarkan. Dan cinta seorang ayah, tak pernah bertanya "kenapa" atau "kenapa harus aku". Ia hanya berjalan, bahkan ketika jalannya gerimis, bahkan ketika tubuh lelah dan jarak jauh. Aku tak bisa membawa kucing ini naik kereta, kereta tidak menerima binatang piaraan. Maka aku memilih motor. Setia seperti rindu, motor tua itu kupacu menembus jalanan yang mula-mula hanya dipeluk gerimis, namun perlahan dibalut hujan. Gerimis itu seperti kesedihan kecil yang datang tanpa alasan. Tapi hujan, ia seperti air mata yang telah menumpuk dan tak sanggup ditahan. Dan malam itu, aku diguyur oleh keduanya oleh hujan dan oleh kenangan.

Aku membayangkan makan malam di alun-alun. Duduk berdua, membicarakan hal-hal remeh yang tidak akan pernah aku anggap remeh. Tapi hujan membuat semuanya harus ditunda. Begitulah hidup: ia tak pernah selesai sesuai rencana, tapi tetap harus dijalani. Aku tiba di tempat anakku pukul setengah delapan malam. Hanya ada waktu satu setengah jam sebelum kereta membawaku kembali ke Banyuwangi. Dan dalam waktu yang sempit itu, tidak ada yang bisa kulakukan kecuali menatap wajah cantik anakku, dan mendengar suaranya seperti doa yang dibacakan pelan-pelan. Kami menuju stasiun. Ia mengantarku, berjalan di sampingku, seperti dulu ia berjalan menggandeng tanganku saat belum tahu arah mata angin. Tapi kini ia tahu ke mana ia melangkah. Dan aku hanya bisa berharap, langkahnya selalu baik, selalu disertai langit yang cerah.

Stasiun ramai tapi sunyi. Orang-orang saling menunggu, saling meninggalkan. Di sana, kereta ekonomi jurusan Malang–Banyuwangi telah bersiap. Dari manapun penumpang naik, harga tiketnya sama. Seperti hidup, yang kadang tidak adil dalam logikanya, tapi adil dalam ketetapannya. Aku teringat: bahkan jika aku naik dari Jember, biayanya sama dengan yang naik dari Malang. Begitulah hidup memperlakukan kita, kadang kita merasa terlambat datang, tapi tetap harus membayar utuh. Dan kita tidak punya pilihan selain menerima, atau turun dari perjalanan.

Kereta itu indah. Ia punya jalur sendiri. Tak ada yang bisa melintasi selain dirinya sendiri .Jika ada yang menghalangi, ia akan melindas. Tak peduli siapa. Karena kereta diciptakan bukan untuk berhenti demi hal-hal kecil. Ia berjalan teguh, dengan tujuan yang pasti. Dan siapa pun yang mencoba menghentikannya, akan ditinggal, atau terluka. Dan aku berpikir, begitulah cinta seorang ayah. Ia berjalan di jalurnya sendiri. Ia tak bisa dihentikan oleh lelah, oleh jarak, bahkan oleh perpisahan. Cinta itu tidak menuntut dibalas. Ia hanya ingin anaknya bahagia, meski harus melambaikan tangan di balik kaca gerbong.

Aku naik ke kereta, sementara anakku berdiri di luar. Hujan masih menetes dari sayap stasiun, seakan langit pun ikut bersedih karena waktu kami terlalu singkat. Tapi aku tersenyum, dan ia tersenyum.

"Jaga kucingnya baik-baik," kataku.

"Selalu," jawabnya.

Kereta pun melaju. Aku tak menoleh lagi. Karena aku tahu, kenangan tak butuh ditatap dua kali untuk hidup selamanya. Ia akan tinggal di rel hati, berjalan pelan, dan suatu hari, akan berhenti di stasiun rindu yang sama, ketika semua telah tua, dan cinta telah mengendap jadi doa yang tak pernah habis.

Dan malam itu, aku tahu satu hal: seorang ayah tidak pernah benar-benar pulang. Ia hanya berpindah, dari rumah ke dalam hati anaknya.

Stasiun Jember, 14-07-2025

Ngelukat di Banyuwangi

 *Ngelukat*

Saya tidak sedang ingin menulis tentang budaya. Tapi setiap kali kata “ngelukat” muncul, saya teringat air. Dan air adalah hal paling jujur di dunia ini. Di kalangan masyarakat Osing Banyuwangi, ngelukat berarti menyucikan diri. Konon berasal dari ajaran Hindu. Tapi saya tidak tertarik dari mana asalnya. Saya lebih tertarik pada bagaimana sebuah tradisi bisa tetap hidup meski tak ada yang benar-benar mengerti maknanya secara utuh.

Saya pernah diajak ngelukat. Diajak begitu saja. Tidak ada upacara. Tidak ada bendera. Tidak ada juru foto. Hanya saya, tubuh saya, dan seember air pancuran pegunungan yang dinginnya terasa seperti sisa kutukan dari masa lalu. Saya tidak tahu apakah air itu suci, tapi saya percaya air tidak pernah punya niat buruk. Saya diam, lalu menyiramkan air ke kepala. Seperti orang yang ingin memaafkan diri sendiri, padahal tahu tidak semua bisa dimaafkan.

Ngelukat, di Banyuwangi, katanya bagian dari warisan budaya Osing. Tapi Banyuwangi itu sendiri adalah perpaduan yang terlalu jujur antara nuansa Islam, Hindu, dan entah apa lagi. Di satu sisi orang membaca shalawat dalam irama Gembrung yang menggetarkan, di sisi lain ada yang duduk di bawah pohon tua, membisikkan doa dalam bahasa Osing atau jawa. Semuanya hidup bersama. Tidak bertengkar. Tidak merasa paling benar. Kadang saya iri pada ketenteraman seperti itu. 

Dalam dunia yang begitu ingin semua dijelaskan, ngelukat adalah pengecualian. Ia tidak butuh kata. Tidak butuh dalil. Bahkan tidak butuh tujuan. Ia hanya berlangsung, seperti angin laut yang tak pernah minta difoto tapi tetap membuat orang merasa damai. Kadang saya berpikir, jangan-jangan ngelukat bukan tentang membersihkan dosa. Tapi tentang menerima bahwa kita tidak akan pernah benar-benar bersih. Dan itu tidak apa-apa.

Di Banyuwangi Ethno Carnival tahun ini, ngelukat dijadikan tema. Orang-orang berdandan. Kostum dibuat dari ide tentang rahim, air ketuban, masa kecil, remaja, dewasa, dan seterusnya. Semua tampak megah. Semua tampak bermakna.

Saya tidak ingin mengecilkan itu. Tapi saya tahu, ngelukat tidak butuh perayaan. Ia hanya butuh kesepian. Ia hanya butuh satu orang yang mau berkata dalam hati: “Saya capek jadi orang yang terus berpura-pura.” Dan air akan datang. Tanpa janji. Tanpa pamit. Tradisi ini tidak butuh panggung. Tapi saya maklum kalau pemerintah perlu membuat tema, perlu mengangkat budaya. Saya tidak sinis. Saya hanya tidak yakin tradisi semacam ini bisa dijelaskan melalui tata rias dan koreografi.

Karena ngelukat sejatinya bukan milik siapa-siapa. Ia milik orang yang pernah seperti ingin bunuh diri tapi kemudian berubah pikiran setelah menyiram muka dengan air pancuran jam tiga pagi. Ia milik perempuan tua yang mencuci kaki anaknya sebelum berangkat kerja. Ia milik siapa saja yang masih percaya bahwa air bukan sekadar basah, tapi mengandung sesuatu yang lebih dalam dari luka.

Saya pernah merasakan air zam-zam di Mekah. Rasanya biasa saja. Tapi saya menangis waktu meminumnya. Bukan karena keajaibannya. Tapi karena saya teringat air itu didapatkan dengan penuh doa dan perjuangan, saya juga teringat pancuran di dusun Bayu, tempat saya pertama kali diajak ngelukat oleh seorang lelaki yang sudah tidak ada.ia bilang: “Air itu tidak menghapus dosa. Tapi bisa mengingatkan kita bahwa kita masih bisa mulai lagi.”

Sejak itu, saya percaya bahwa air bukan benda mati. Air punya cara sendiri untuk berbicara. Ia menyusup ke pori-pori tubuh dan menyampaikan pesan tanpa suara. Kadang pesan itu hanya satu: “Tenanglah sebentar. Kamu tidak harus selalu baik.”

Saya tahu manusia tidak akan pernah sepenuhnya bersih. Bahkan setelah mandi tujuh kali. Bahkan setelah ngelukat di tujuh sumur berbeda. Tapi mungkin kita tidak diminta untuk benar-benar bersih. Kita hanya diminta untuk tidak menyerah.

Dan ngelukat, dalam bentuknya yang paling sunyi, adalah cara untuk tidak menyerah. Cara untuk berkata kepada diri sendiri: “Aku tidak baik. Tapi aku ingin mencoba jadi baik, setidaknya hari ini.”

Saya tidak tahu apakah itu disebut spiritualitas. Tapi saya tahu itu manusiawi. Dan dalam dunia yang terlalu ribut ini, menjadi manusia yang jujur kepada dirinya sendiri sudah lebih dari cukup. 


Kalau kamu ke Banyuwangi, jangan cari tempat ngelukat yang paling ramai. Carilah yang paling sepi. Yang tidak punya plakat. Tidak masuk Instagram. Tidak ada tiket masuk. Datangi pancuran itu. Duduklah. Dengarkan airnya. Jangan bicara. Jangan berharap apa-apa. Lalu basuh wajahmu.

Dan biarkan air berbicara.

Banyuwangi Siap Gelar Sekolah Rakyat: MoU antara Mensos dan Bupati Tandai Implementasi Tahap Awal

JAKARTA (Warta Blambangan) Kabupaten Banyuwangi secara resmi memenuhi seluruh indikator kelayakan sebagai lokasi pelaksanaan Sekolah Rakyat rintisan, sebuah program strategis nasional yang diinisiasi oleh Presiden Republik Indonesia dalam rangka pengentasan kemiskinan ekstrem dan pemerataan akses pendidikan. Kelayakan ini ditetapkan setelah hasil asesmen menyeluruh oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PU), dan ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Menteri Sosial Dr. (H.C.) Saifullah Yusuf dan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, pada Kamis (10/7/2025) di Gedung Aneka Bhakti, Kementerian Sosial RI, Jakarta.

Program Sekolah Rakyat merupakan bagian integral dari Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrem, yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini dirancang untuk menjawab persoalan ketimpangan pendidikan dengan pendekatan terstruktur, berbasis komunitas, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat rentan secara ekonomi dan geografis.

Menteri Sosial, yang akrab disapa Gus Ipul, menjelaskan bahwa Banyuwangi termasuk dalam 63 kabupaten/kota yang akan memulai operasional Sekolah Rakyat rintisan secara serentak pada 14 Juli 2025. Kabupaten ini dinyatakan siap dari tiga dimensi utama: infrastruktur pendidikan, kesiapan peserta didik, serta ketersediaan tenaga pendidik dan kependidikan yang terstandar.

“Dari hasil asesmen teknis Kementerian PU, Banyuwangi memenuhi indikator kelayakan sebagai daerah pelaksana Sekolah Rakyat rintisan. Infrastruktur eksisting yang adaptif serta komitmen pemerintah daerah menjadi pertimbangan utama,” terang Gus Ipul dalam konferensi pers usai penandatanganan.

Terdapat dua kategori utama dalam klasifikasi Sekolah Rakyat: rintisan dan permanen. Sekolah Rakyat rintisan menggunakan fasilitas gedung yang telah diverifikasi kelayakannya, baik yang berasal dari aset Kementerian Sosial, lembaga negara lain, maupun usulan dari pemerintah daerah, institusi pendidikan tinggi, atau mitra masyarakat sipil.

Adapun Sekolah Rakyat permanen dirancang sebagai institusi pendidikan jangka panjang yang akan mulai dibangun pada September 2025. Fasilitas ini diproyeksikan memiliki kapasitas 1.000 siswa per sekolah, mencakup jenjang pendidikan dasar hingga menengah (SD-SMA), dan dilengkapi fasilitas asrama, laboratorium, ruang gizi, serta sistem pengajaran berbasis digital terintegrasi.

Gus Ipul menambahkan bahwa implementasi tahap pertama Sekolah Rakyat rintisan akan melibatkan:

  • 9.755 siswa dari keluarga miskin atau rentan miskin
  • 1.554 guru tetap dan sukarelawan profesional
  • 3.390 tenaga pendidik pendukung, termasuk konselor dan pengasuh asrama

Kebutuhan logistik pendidikan, termasuk modul pembelajaran, alat peraga, perangkat TIK, dan sarana penunjang lain telah menjalani proses simulasi distribusi dan siap disalurkan ke seluruh titik pelaksanaan.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah menyiapkan infrastruktur fisik untuk mendukung pelaksanaan program ini. Gedung eks Balai Diklat PNS di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, telah direnovasi secara menyeluruh oleh Kementerian PUPR untuk difungsikan sebagai sekolah berasrama.

“Pemilihan lokasi berbasis pertimbangan teknis dan efisiensi. Bangunan tersebut memiliki konfigurasi ruang dan sistem sanitasi yang kompatibel untuk fungsi pendidikan dan pemondokan,” ujar Ipuk.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga telah mengalokasikan sumber daya manusia pendukung, termasuk guru dan tenaga kependidikan dari kalangan ASN dan PPPK. Nama-nama pendidik yang memenuhi kualifikasi telah dikirim ke Kementerian Sosial untuk proses verifikasi dan penugasan.

Penandatanganan MoU ini tidak hanya menjadi simbol sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, tetapi juga menjadi langkah awal dalam penguatan struktur pendidikan nasional berbasis komunitas. Sekolah Rakyat diharapkan menjadi model ekosistem pendidikan transformatif yang menjangkau kelompok marginal dan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) di bidang pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan pengurangan ketimpangan.

Dalam konteks akademik, program ini dapat dibaca sebagai implementasi pendidikan afirmatif dengan pendekatan intersektoral, di mana variabel pendidikan, sosial-ekonomi, dan pembangunan infrastruktur dipadukan dalam sebuah kerangka kebijakan terpadu. 


Program Sekolah Rakyat Banyuwangi akan mulai berjalan efektif 14 Juli 2025, dengan evaluasi tahap awal dijadwalkan pada akhir September sebagai dasar perluasan dan penguatan model pada 2026. (*)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger