Pages

Seorang yang Pernah Membakar Lilin-Lilin Kami

 Seorang yang Pernah Membakar Lilin-Lilin Kami

Pagi itu datang dengan biasa saja. Angin berhembus lembut dari arah selatan, melewati genting-genting tua yang sudah sering mendengar nama disebut tanpa harus memanggil. Kopi di gelas masih beruap, dan orang-orang sibuk membetulkan kerah baju batik mereka. Tapi kami tahu, pagi itu akan berisi sesuatu yang tak akan biasa. Karena yang datang bukan orang sembarangan. Yang datang adalah orang yang pernah menyalakan nyala kecil di kepala kami—dan membiarkannya tumbuh menjadi lentera. 


Namanya Dr. Moh. Amak Burhanuddin. Kini beliau menjabat sebagai Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam di Kanwil Kemenag Jawa Timur. Tapi bagi kami, beliau bukan hanya itu. Ia adalah api pertama yang menyalakan kayu-kayu basah kami, saat literasi di tempat ini hanyalah angan di jendela, kabur dan sering kabur pula.

Beliau pernah menjadi Kepala Kemenag Kabupaten Banyuwangi. Saat itu, literasi belum menjadi kata yang sering dilafalkan. Menulis berita kegiatan hanyalah hobi anak-anak jurnalistik sekolah, bukan kerja para guru atau pejabat di KUA. Tapi entah bagaimana, kehadiran beliau mengubah banyak hal.

Pagi itu, dalam kesederhanaan yang senyap, saya memberanikan diri untuk memberikan tiga buku. Dua karya saya sendiri, dan satu karya bersama para guru Madrasah Ibtidaiyah Banyuwangi. Rasanya seperti menyerahkan bunga dari pekarangan sendiri kepada orang yang dahulu menanam benihnya. Aneh. Ada gugup yang tak perlu, tapi ada juga rasa haru yang tak bisa dielakkan.

Saya selalu percaya, bahwa memberi buku kepada orang yang pernah menyalakan semangat kita, adalah cara terbaik untuk berkata: “Terima kasih telah membuat kami percaya bahwa menulis bukan sekadar kegiatan, tapi jalan sunyi menuju makna.”

Karena sejak itu, kami berubah. Kami tak lagi menyimpan kegiatan dalam laci, atau hanya di folder laptop yang jarang dibuka. Kami menulisnya. Mewartakannya. Membagikannya ke publik. Supaya orang lain tahu, bahwa di madrasah-madrasah ini, di kantor-kantor kecil ini, ada kegiatan yang berarti. Ada dedikasi. Ada kehidupan yang pantas disiarkan.

Menulis berita, bagi kami, bukan lagi urusan administrasi. Ia telah menjelma menjadi kesaksian. Karena berita tidak bisa dihapus. Ia lahir dari waktu dan akan terus membawa waktu di tubuhnya. Tak seperti foto yang sering berdusta tentang kapan ia diambil. Berita mencatat tanggal, jam, bahkan detik. Dan dari sana, kehadiran kita akan selalu bisa ditemukan kembali.

Beliau, Dr. Amak Burhanuddin, bukan hanya memberi motivasi. Ia memberi arah. Memberi contoh bahwa di tengah kesibukan sebagai kepala kantor, ia bisa menyelesaikan studi doktoralnya. Dan lucunya, penerus beliau juga menyelesaikan program doktor saat bertugas di Banyuwangi. Seolah ada sesuatu di kota ini yang membuat orang ingin belajar lebih dalam, menulis lebih jauh, dan mengakar lebih kuat.

Saya sering berpikir, mungkin tanah ini mengandung sesuatu yang menyuburkan ilmu. Atau mungkin, udara di sini membawa bisik-bisik dari masa lalu. Dari zaman di mana sastra bukan sekadar milik penyair. Karena sejarah mencatat, di tahun 60-an, syair legendaris Sholawat Badar ditulis di kota ini oleh K.H. Ali Manshur, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kemenag Banyuwangi.

Jadi kalau hari ini para kepala kantor, para kepala seksi, para guru madrasah di Banyuwangi menulis puisi, merangkai berita, menyusun buku antologi, atau sekadar menorehkan kisah kegiatan ke dalam catatan publik, itu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Kita hanya sedang membuka kembali jejak yang sudah lebih dulu ditorehkan oleh mereka yang mendahului.

Sastra, di lingkungan Kementerian Agama, bukan barang baru. Ia telah lama ada. Mungkin tersembunyi di balik rapat-rapat serius, mungkin tertidur di laci-laci penuh berkas. Tapi ia selalu menunggu untuk dibangunkan. Dan ketika seseorang datang, mengetuk, dan berkata: “Ayo kita mulai menulis,” maka pintu-pintu itu pun terbuka.

Saya selalu suka membayangkan bahwa buku-buku yang hari ini saya serahkan kepada beliau, akan beliau letakkan di rak kecil di rumahnya. Atau mungkin akan beliau baca diam-diam di sela perjalanan dinasnya. Dan mungkin, suatu saat nanti, ia akan tersenyum sendiri lalu berkata, “Mereka tetap menulis. Api itu tak padam.”

Dan saya akan terus menulis. Karena saya tahu, setiap kalimat yang terbit adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang yang pernah percaya pada saya, bahkan sebelum saya sendiri percaya.


Ketegangan Warnai Malam Ucapan Selamat Pelantikan Pengurus PGRI Banyuwangi

Banyuwangi, (Warta Blambangan)  Suasana di Kantor Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Banyuwangi, Jalan Ahmad Yani, sedikit memanas pada Sabtu malam. Setelah siang harinya berlangsung pelantikan kepengurusan PGRI versi Ahmad Sodiq, malam harinya muncul ketegangan terkait pemasangan banner ucapan selamat dari pengurus PGRI yang masih mengacu pada Surat Keputusan (SK) sebelumnya, dengan ketua Sudarman.

Peristiwa ini terjadi di lantai atas kantor PGRI. Banner ucapan selamat kepada pengurus baru yang baru saja dilantik pada siang harinya, tertutup oleh banner kegiatan yang dipasang oleh tim pengurus PGRI di bawah kepemimpinan Sudarman. Hal ini menimbulkan ketegangan, karena dua orang dari pihak pengurus baru datang dan menyatakan keberatan atas pemasangan banner tersebut. 


Mereka menilai bahwa penutupan banner pelantikan yang baru berlangsung beberapa jam sebelumnya merupakan bentuk tidak menghormati proses pelantikan dan pengakuan pengurus yang sah. Namun, menurut pihak pengurus lama, pemasangan banner malam itu murni sebagai ucapan selamat dan bagian dari kegiatan internal organisasi.

“Saya terbuka dan bersedia mengundurkan diri secara terhormat apabila memang terbukti bersalah dalam menjalankan roda organisasi,” ujar Sudarman dengan nada tenang kepada media yang hadir. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat konfrontatif dan selalu mengedepankan musyawarah mufakat dalam menyikapi dinamika internal PGRI.

“Namun hingga malam ini, seluruh pengurus yang selama ini bersama saya tetap solid dan mendukung saya untuk menuntaskan masa jabatan hingga 2029 sesuai SK yang masih berlaku,” tambah Sudarman. 


Meskipun sempat terjadi ketegangan, situasi malam itu tidak berkembang menjadi insiden fisik. Kedua belah pihak memilih untuk menahan diri, dan sejumlah tokoh pendidikan yang hadir turut mengimbau agar perbedaan pandangan diselesaikan secara organisasi dan sesuai mekanisme yang ada.

Peristiwa ini menjadi sorotan di tengah dinamika internal PGRI Kabupaten Banyuwangi. Sebagian guru berharap agar kedua belah pihak dapat menempuh jalan damai dan menomorsatukan kepentingan pendidikan di atas ego kelompok.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Ahmad Sodiq selaku pengurus baru terkait insiden malam itu. Namun, sejumlah sumber menyebut bahwa komunikasi antar pihak masih terus diupayakan demi menjaga marwah organisasi guru terbesar di tanah air ini.

Jalur Cinta yang Tak Bisa Terulang

 *Jalur Cinta yang Tak Bisa Terulang*



Sore itu selepas kerja aku membawva cinta dalam kardus kecil. Ia mengeong pelan, seperti tahu bahwa ia akan diserahkan kepada tangan lain yang lebih lembut daripada tanganku: tangan anak perempuanku, belahan jiwaku, amanah terbesar dalam hidupku.

Dia, anakku, kini berada di semester terakhir kuliahnya. Usianya telah menginjak dewasa, tapi dalam benakku, ia masih bocah kecil yang dulu sering memelukku saat takut petir, tidak dapat tidur sebelum kupeluk erat-erat, Kulitnya bersih seperti lembaran pagi pertama di musim semi. Wajahnya membawa cahaya, dan setiap kali ia tersenyum, dunia seperti menunduk hormat. Sebagai ayah, aku tahu: kelak ia akan pergi. Bukan karena ia tidak cinta, tapi karena cinta yang lain akan menjemputnya, dan aku harus rela berdiri di tepi peron kehidupannya, melambaikan tangan kepada kereta yang tak lagi kutumpangi.

Tapi malam ini aku masih punya alasan untuk mendekap sebentar waktu bersamanya. Kucing kecil ini, kesayangannya, harus aku antarkan. Dan cinta seorang ayah, tak pernah bertanya "kenapa" atau "kenapa harus aku". Ia hanya berjalan, bahkan ketika jalannya gerimis, bahkan ketika tubuh lelah dan jarak jauh. Aku tak bisa membawa kucing ini naik kereta, kereta tidak menerima binatang piaraan. Maka aku memilih motor. Setia seperti rindu, motor tua itu kupacu menembus jalanan yang mula-mula hanya dipeluk gerimis, namun perlahan dibalut hujan. Gerimis itu seperti kesedihan kecil yang datang tanpa alasan. Tapi hujan, ia seperti air mata yang telah menumpuk dan tak sanggup ditahan. Dan malam itu, aku diguyur oleh keduanya oleh hujan dan oleh kenangan.

Aku membayangkan makan malam di alun-alun. Duduk berdua, membicarakan hal-hal remeh yang tidak akan pernah aku anggap remeh. Tapi hujan membuat semuanya harus ditunda. Begitulah hidup: ia tak pernah selesai sesuai rencana, tapi tetap harus dijalani. Aku tiba di tempat anakku pukul setengah delapan malam. Hanya ada waktu satu setengah jam sebelum kereta membawaku kembali ke Banyuwangi. Dan dalam waktu yang sempit itu, tidak ada yang bisa kulakukan kecuali menatap wajah cantik anakku, dan mendengar suaranya seperti doa yang dibacakan pelan-pelan. Kami menuju stasiun. Ia mengantarku, berjalan di sampingku, seperti dulu ia berjalan menggandeng tanganku saat belum tahu arah mata angin. Tapi kini ia tahu ke mana ia melangkah. Dan aku hanya bisa berharap, langkahnya selalu baik, selalu disertai langit yang cerah.

Stasiun ramai tapi sunyi. Orang-orang saling menunggu, saling meninggalkan. Di sana, kereta ekonomi jurusan Malang–Banyuwangi telah bersiap. Dari manapun penumpang naik, harga tiketnya sama. Seperti hidup, yang kadang tidak adil dalam logikanya, tapi adil dalam ketetapannya. Aku teringat: bahkan jika aku naik dari Jember, biayanya sama dengan yang naik dari Malang. Begitulah hidup memperlakukan kita, kadang kita merasa terlambat datang, tapi tetap harus membayar utuh. Dan kita tidak punya pilihan selain menerima, atau turun dari perjalanan.

Kereta itu indah. Ia punya jalur sendiri. Tak ada yang bisa melintasi selain dirinya sendiri .Jika ada yang menghalangi, ia akan melindas. Tak peduli siapa. Karena kereta diciptakan bukan untuk berhenti demi hal-hal kecil. Ia berjalan teguh, dengan tujuan yang pasti. Dan siapa pun yang mencoba menghentikannya, akan ditinggal, atau terluka. Dan aku berpikir, begitulah cinta seorang ayah. Ia berjalan di jalurnya sendiri. Ia tak bisa dihentikan oleh lelah, oleh jarak, bahkan oleh perpisahan. Cinta itu tidak menuntut dibalas. Ia hanya ingin anaknya bahagia, meski harus melambaikan tangan di balik kaca gerbong.

Aku naik ke kereta, sementara anakku berdiri di luar. Hujan masih menetes dari sayap stasiun, seakan langit pun ikut bersedih karena waktu kami terlalu singkat. Tapi aku tersenyum, dan ia tersenyum.

"Jaga kucingnya baik-baik," kataku.

"Selalu," jawabnya.

Kereta pun melaju. Aku tak menoleh lagi. Karena aku tahu, kenangan tak butuh ditatap dua kali untuk hidup selamanya. Ia akan tinggal di rel hati, berjalan pelan, dan suatu hari, akan berhenti di stasiun rindu yang sama, ketika semua telah tua, dan cinta telah mengendap jadi doa yang tak pernah habis.

Dan malam itu, aku tahu satu hal: seorang ayah tidak pernah benar-benar pulang. Ia hanya berpindah, dari rumah ke dalam hati anaknya.

Stasiun Jember, 14-07-2025

Ngelukat di Banyuwangi

 *Ngelukat*

Saya tidak sedang ingin menulis tentang budaya. Tapi setiap kali kata “ngelukat” muncul, saya teringat air. Dan air adalah hal paling jujur di dunia ini. Di kalangan masyarakat Osing Banyuwangi, ngelukat berarti menyucikan diri. Konon berasal dari ajaran Hindu. Tapi saya tidak tertarik dari mana asalnya. Saya lebih tertarik pada bagaimana sebuah tradisi bisa tetap hidup meski tak ada yang benar-benar mengerti maknanya secara utuh.

Saya pernah diajak ngelukat. Diajak begitu saja. Tidak ada upacara. Tidak ada bendera. Tidak ada juru foto. Hanya saya, tubuh saya, dan seember air pancuran pegunungan yang dinginnya terasa seperti sisa kutukan dari masa lalu. Saya tidak tahu apakah air itu suci, tapi saya percaya air tidak pernah punya niat buruk. Saya diam, lalu menyiramkan air ke kepala. Seperti orang yang ingin memaafkan diri sendiri, padahal tahu tidak semua bisa dimaafkan.

Ngelukat, di Banyuwangi, katanya bagian dari warisan budaya Osing. Tapi Banyuwangi itu sendiri adalah perpaduan yang terlalu jujur antara nuansa Islam, Hindu, dan entah apa lagi. Di satu sisi orang membaca shalawat dalam irama Gembrung yang menggetarkan, di sisi lain ada yang duduk di bawah pohon tua, membisikkan doa dalam bahasa Osing atau jawa. Semuanya hidup bersama. Tidak bertengkar. Tidak merasa paling benar. Kadang saya iri pada ketenteraman seperti itu. 

Dalam dunia yang begitu ingin semua dijelaskan, ngelukat adalah pengecualian. Ia tidak butuh kata. Tidak butuh dalil. Bahkan tidak butuh tujuan. Ia hanya berlangsung, seperti angin laut yang tak pernah minta difoto tapi tetap membuat orang merasa damai. Kadang saya berpikir, jangan-jangan ngelukat bukan tentang membersihkan dosa. Tapi tentang menerima bahwa kita tidak akan pernah benar-benar bersih. Dan itu tidak apa-apa.

Di Banyuwangi Ethno Carnival tahun ini, ngelukat dijadikan tema. Orang-orang berdandan. Kostum dibuat dari ide tentang rahim, air ketuban, masa kecil, remaja, dewasa, dan seterusnya. Semua tampak megah. Semua tampak bermakna.

Saya tidak ingin mengecilkan itu. Tapi saya tahu, ngelukat tidak butuh perayaan. Ia hanya butuh kesepian. Ia hanya butuh satu orang yang mau berkata dalam hati: “Saya capek jadi orang yang terus berpura-pura.” Dan air akan datang. Tanpa janji. Tanpa pamit. Tradisi ini tidak butuh panggung. Tapi saya maklum kalau pemerintah perlu membuat tema, perlu mengangkat budaya. Saya tidak sinis. Saya hanya tidak yakin tradisi semacam ini bisa dijelaskan melalui tata rias dan koreografi.

Karena ngelukat sejatinya bukan milik siapa-siapa. Ia milik orang yang pernah seperti ingin bunuh diri tapi kemudian berubah pikiran setelah menyiram muka dengan air pancuran jam tiga pagi. Ia milik perempuan tua yang mencuci kaki anaknya sebelum berangkat kerja. Ia milik siapa saja yang masih percaya bahwa air bukan sekadar basah, tapi mengandung sesuatu yang lebih dalam dari luka.

Saya pernah merasakan air zam-zam di Mekah. Rasanya biasa saja. Tapi saya menangis waktu meminumnya. Bukan karena keajaibannya. Tapi karena saya teringat air itu didapatkan dengan penuh doa dan perjuangan, saya juga teringat pancuran di dusun Bayu, tempat saya pertama kali diajak ngelukat oleh seorang lelaki yang sudah tidak ada.ia bilang: “Air itu tidak menghapus dosa. Tapi bisa mengingatkan kita bahwa kita masih bisa mulai lagi.”

Sejak itu, saya percaya bahwa air bukan benda mati. Air punya cara sendiri untuk berbicara. Ia menyusup ke pori-pori tubuh dan menyampaikan pesan tanpa suara. Kadang pesan itu hanya satu: “Tenanglah sebentar. Kamu tidak harus selalu baik.”

Saya tahu manusia tidak akan pernah sepenuhnya bersih. Bahkan setelah mandi tujuh kali. Bahkan setelah ngelukat di tujuh sumur berbeda. Tapi mungkin kita tidak diminta untuk benar-benar bersih. Kita hanya diminta untuk tidak menyerah.

Dan ngelukat, dalam bentuknya yang paling sunyi, adalah cara untuk tidak menyerah. Cara untuk berkata kepada diri sendiri: “Aku tidak baik. Tapi aku ingin mencoba jadi baik, setidaknya hari ini.”

Saya tidak tahu apakah itu disebut spiritualitas. Tapi saya tahu itu manusiawi. Dan dalam dunia yang terlalu ribut ini, menjadi manusia yang jujur kepada dirinya sendiri sudah lebih dari cukup. 


Kalau kamu ke Banyuwangi, jangan cari tempat ngelukat yang paling ramai. Carilah yang paling sepi. Yang tidak punya plakat. Tidak masuk Instagram. Tidak ada tiket masuk. Datangi pancuran itu. Duduklah. Dengarkan airnya. Jangan bicara. Jangan berharap apa-apa. Lalu basuh wajahmu.

Dan biarkan air berbicara.

Banyuwangi Siap Gelar Sekolah Rakyat: MoU antara Mensos dan Bupati Tandai Implementasi Tahap Awal

JAKARTA (Warta Blambangan) Kabupaten Banyuwangi secara resmi memenuhi seluruh indikator kelayakan sebagai lokasi pelaksanaan Sekolah Rakyat rintisan, sebuah program strategis nasional yang diinisiasi oleh Presiden Republik Indonesia dalam rangka pengentasan kemiskinan ekstrem dan pemerataan akses pendidikan. Kelayakan ini ditetapkan setelah hasil asesmen menyeluruh oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PU), dan ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Menteri Sosial Dr. (H.C.) Saifullah Yusuf dan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, pada Kamis (10/7/2025) di Gedung Aneka Bhakti, Kementerian Sosial RI, Jakarta.

Program Sekolah Rakyat merupakan bagian integral dari Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Optimalisasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrem, yang menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini dirancang untuk menjawab persoalan ketimpangan pendidikan dengan pendekatan terstruktur, berbasis komunitas, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat rentan secara ekonomi dan geografis.

Menteri Sosial, yang akrab disapa Gus Ipul, menjelaskan bahwa Banyuwangi termasuk dalam 63 kabupaten/kota yang akan memulai operasional Sekolah Rakyat rintisan secara serentak pada 14 Juli 2025. Kabupaten ini dinyatakan siap dari tiga dimensi utama: infrastruktur pendidikan, kesiapan peserta didik, serta ketersediaan tenaga pendidik dan kependidikan yang terstandar.

“Dari hasil asesmen teknis Kementerian PU, Banyuwangi memenuhi indikator kelayakan sebagai daerah pelaksana Sekolah Rakyat rintisan. Infrastruktur eksisting yang adaptif serta komitmen pemerintah daerah menjadi pertimbangan utama,” terang Gus Ipul dalam konferensi pers usai penandatanganan.

Terdapat dua kategori utama dalam klasifikasi Sekolah Rakyat: rintisan dan permanen. Sekolah Rakyat rintisan menggunakan fasilitas gedung yang telah diverifikasi kelayakannya, baik yang berasal dari aset Kementerian Sosial, lembaga negara lain, maupun usulan dari pemerintah daerah, institusi pendidikan tinggi, atau mitra masyarakat sipil.

Adapun Sekolah Rakyat permanen dirancang sebagai institusi pendidikan jangka panjang yang akan mulai dibangun pada September 2025. Fasilitas ini diproyeksikan memiliki kapasitas 1.000 siswa per sekolah, mencakup jenjang pendidikan dasar hingga menengah (SD-SMA), dan dilengkapi fasilitas asrama, laboratorium, ruang gizi, serta sistem pengajaran berbasis digital terintegrasi.

Gus Ipul menambahkan bahwa implementasi tahap pertama Sekolah Rakyat rintisan akan melibatkan:

  • 9.755 siswa dari keluarga miskin atau rentan miskin
  • 1.554 guru tetap dan sukarelawan profesional
  • 3.390 tenaga pendidik pendukung, termasuk konselor dan pengasuh asrama

Kebutuhan logistik pendidikan, termasuk modul pembelajaran, alat peraga, perangkat TIK, dan sarana penunjang lain telah menjalani proses simulasi distribusi dan siap disalurkan ke seluruh titik pelaksanaan.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah menyiapkan infrastruktur fisik untuk mendukung pelaksanaan program ini. Gedung eks Balai Diklat PNS di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, telah direnovasi secara menyeluruh oleh Kementerian PUPR untuk difungsikan sebagai sekolah berasrama.

“Pemilihan lokasi berbasis pertimbangan teknis dan efisiensi. Bangunan tersebut memiliki konfigurasi ruang dan sistem sanitasi yang kompatibel untuk fungsi pendidikan dan pemondokan,” ujar Ipuk.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga telah mengalokasikan sumber daya manusia pendukung, termasuk guru dan tenaga kependidikan dari kalangan ASN dan PPPK. Nama-nama pendidik yang memenuhi kualifikasi telah dikirim ke Kementerian Sosial untuk proses verifikasi dan penugasan.

Penandatanganan MoU ini tidak hanya menjadi simbol sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, tetapi juga menjadi langkah awal dalam penguatan struktur pendidikan nasional berbasis komunitas. Sekolah Rakyat diharapkan menjadi model ekosistem pendidikan transformatif yang menjangkau kelompok marginal dan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) di bidang pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan pengurangan ketimpangan.

Dalam konteks akademik, program ini dapat dibaca sebagai implementasi pendidikan afirmatif dengan pendekatan intersektoral, di mana variabel pendidikan, sosial-ekonomi, dan pembangunan infrastruktur dipadukan dalam sebuah kerangka kebijakan terpadu. 


Program Sekolah Rakyat Banyuwangi akan mulai berjalan efektif 14 Juli 2025, dengan evaluasi tahap awal dijadwalkan pada akhir September sebagai dasar perluasan dan penguatan model pada 2026. (*)

Putri Indonesia Hadir, Banyuwangi Menyulam Mimpi dalam Ethno Carnival

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Angin musim kemarau membawa kabar dari timur. Sebuah perhelatan budaya akan digelar kembali di bumi yang diberkahi matahari pagi pertama: Banyuwangi. Sabtu, 12 Juli 2025, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) kembali melangkah di jalan raya kota, menyulam mitos dan warisan menjadi busana, gerak, dan rupa yang memukau. Tahun ini, BEC bukan sekadar arak-arakan kostum megah—ia adalah nyanyian tentang akar dan angin, tentang tubuh yang dilahirkan oleh tradisi.

Dalam helatan yang masuk kalender Karisma Event Nusantara (KEN) ini, satu nama yang kini memancarkan cahaya dari pentas dunia akan turut hadir: Firsta Yufi Amarta Putri. Putri Indonesia 2025 yang juga menyandang gelar Miss Supranational Asia dan Oceania 2025, akan berjalan di antara gemuruh tepuk tangan, menyapa tanah kelahirannya—sebuah panggung tempat jati diri ditenun kembali.v


Firsta bukan hanya membawa mahkota; ia membawa cerita. Cerita tentang anak muda Indonesia yang lahir dari pergelangan kampung, namun menatap cakrawala dunia. Dan kini, ia pulang. Bukan untuk sekadar menampakkan wajah, tetapi untuk menyambung nyawa perayaan yang telah melampaui batas seni dan pariwisata—sebuah perayaan jiwa.

“Yang membedakan BEC dari karnaval lain,” ujar Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dalam sapanya, “adalah keberanian dan kekayaan narasi. Setiap tema bukan sekadar estetika, melainkan refleksi dari nadi masyarakat Banyuwangi sendiri.”

Tahun ini, BEC mengangkat tema “Ngelukat”—sebuah filosofi lokal yang menggambarkan pembersihan diri, siklus hidup, dan keutuhan spiritual manusia. Dari kandungan ke pelaminan, dari tangisan pertama hingga janji di pelaminan, setiap kostum yang melenggang di aspal kota adalah tafsir dari perjalanan manusia yang disandingkan dengan ritual adat yang masih hidup.

BEC bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah kitab terbuka, yang setiap lembarnya ditulis oleh petani, perajin, ibu, dalang, pemuda, dan seluruh masyarakat Banyuwangi yang mencintai akar budaya mereka sendiri. BEC adalah orkestra tubuh, di mana para peraga bukan hanya model, tapi utusan zaman yang menyuarakan bahwa modernitas tak mesti menanggalkan tradisi.

Tak hanya karnaval yang akan menghiasi akhir pekan. Banyuwangi juga menghadirkan Sekarkijang Creative Fest 2025, sejak Kamis hingga Sabtu (10-13 Juli 2025), di Taman Blambangan—jantung kota yang kini menjadi altar inovasi. Dalam helatan ini, puluhan UMKM menyajikan hasil kreativitas mereka: dari batik yang dicelup oleh tangan ibu-ibu pengrajin, kopi yang disangrai dengan doa dan dedikasi, hingga kerajinan kulit yang bercerita tentang ketekunan dan waktu.

Bank Indonesia Perwakilan Jember turut mendukung gerakan ini. Bukan hanya pameran, Sekarkijang Creative Fest juga diramaikan seminar nasional bertajuk “UMKM Go Export”, talk show, bazar kuliner, hingga senam aerobik bersama yang menyatukan raga dan semangat.

Dalam empat hari itu, Banyuwangi tak sekadar menjadi panggung. Ia menjadi taman bagi ide, rumah bagi warisan, dan jendela bagi dunia untuk menyaksikan Indonesia dari sisi yang paling otentik—dari akar, dari rakyatnya sendiri.

Firsta, BEC, dan Sekarkijang hanyalah bagian dari narasi besar Banyuwangi: bahwa modern bukan berarti melupakan. Bahwa kemajuan bukan berarti menghapus jejak. Bahwa menjadi Indonesia, adalah menyambung yang purba dengan yang kini. Dan dari ujung timur Jawa, sebuah suara kembali menggema: “Kami ada. Kami hidup. Kami berkarya.”

Banyuwangi bukan hanya destinasi. Ia adalah narasi. Ia adalah puisi yang dibaca di tengah riuh, tapi menggema sampai ke senyap hati para penontonnya.

Temu Pendidik Nusantara XII di Banyuwangi: Integrasi Isu Perubahan Iklim dalam Pembangunan Iklim Pendidikan yang Inklusif dan Berkelanjutan

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Sebanyak 885 tenaga pendidik dari berbagai wilayah di Indonesia berpartisipasi dalam kegiatan Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII, yang diselenggarakan di Kabupaten Banyuwangi selama tiga hari, 8–10 Juli 2025. Agenda nasional ini mengusung tema strategis “Iklim Pendidikan dan Pendidikan Iklim”, dengan tujuan mendiskusikan relasi timbal balik antara pembangunan iklim pendidikan yang sehat dan peran dunia pendidikan dalam merespons perubahan iklim global. 


Acara yang dibuka langsung oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, tersebut merupakan forum kolaboratif antarpendidik untuk berbagi praktik baik (best practices), serta memperkuat kapasitas institusional sektor pendidikan dalam menghadapi tantangan lingkungan hidup kontemporer.

Dalam sambutannya, Bupati Ipuk menekankan urgensi tema tersebut, mengingat perubahan iklim tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga sosial dan pendidikan. “Kita perlu membangun sistem pendidikan yang adil, sehat, dan inklusif, sekaligus menumbuhkan kesadaran ekologis pada peserta didik,” ujar Ipuk.

Lebih lanjut, Ipuk mencontohkan berbagai inisiatif daerah yang telah diimplementasikan di Banyuwangi, seperti program Sekolah Asuh Sungai, yang menanamkan tanggung jawab ekologis kepada siswa dalam menjaga ekosistem sungai di sekitar tempat tinggal dan sekolah. “Saat ini, 65 dari 68 sub-daerah aliran sungai di Banyuwangi telah terjangkau oleh program ini,” jelasnya.

Di samping itu, terdapat pula inovasi Sekolah Asuh Siaga Bencana yang menitikberatkan pada pendidikan kebencanaan, serta program Sekolah Asuh Sister Say (Sistem Terpadu Ternak Ikan dan Sayur), yang mengintegrasikan edukasi ketahanan pangan dengan prinsip ekologi dalam lingkungan sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi, Suratno, menyatakan bahwa TPN XII diikuti oleh berbagai jenjang tenaga pendidik, mulai dari guru Taman Kanak-Kanak hingga pengawas SMA/SMK. “Peserta tidak hanya berasal dari Banyuwangi, tetapi juga dari kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Jember,” terangnya.

Selama pelaksanaan, TPN XII menyelenggarakan beragam agenda peningkatan kapasitas tenaga pendidik. Di antaranya adalah talkshow pendidikan, pameran karya dan inovasi, kelas pengembangan guru dan kepemimpinan sekolah, diskusi kelompok terfokus (FGD), hingga debat pendidikan.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber yang kompeten dalam bidang pendidikan nasional, seperti Abu Khaer (Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Jawa Timur), Al Badrotus Tsaniyah (Perwakilan Balai Besar Penjamin Mutu Pendidikan), serta Marsaria Primadona (Ketua Kampus Guru Cikal Jakarta).

Menurut Suratno, forum semacam ini memiliki signifikansi besar dalam membangun jejaring antarpendidik yang inovatif. “Pertukaran gagasan dan pengalaman antar guru akan memperkaya ekosistem pendidikan nasional dan mendorong replikasi praktik baik di berbagai satuan pendidikan,” pungkasnya.

Dengan integrasi pendekatan ekologis ke dalam sistem pendidikan, TPN XII tidak hanya memperkuat daya saing pendidikan Indonesia, tetapi juga memperlihatkan kontribusi nyata sektor pendidikan dalam menghadapi krisis iklim secara sistemik dan berkelanjutan.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger