Pages

Ketika Seorang Jamaah ke Madinah Sendirian

 Ketika Seorang Jamaah ke Madinah Sendirian


Idealnya sebuah kelompok akan berangkat bersama kemanapun, terutama jika membutuhkan surat khusus dalam perjalanannya, seperti perjalanan ke luar negeri, karena identitas ke luar negeri adalah paspor dan visa. Namun bisa jadi seseorang karena sebuah sebab terpisah dengan kelompok dan melakukan perjalanan sendiri, mungkin karena sakit atau terpisah dan tidak dapat menemukan kelompoknya. 


Di Saudi Arabia sudah ada kereta cepat yang dapat kita gunakan untuk perjalanan jauh, seperti kereta cepat Makkah - Madinah yang dapat ditempuh 2,5 jam, padahal jika perjalanan bus bisa sampai 6 jam. Seandainya jamaah haji dapat fasilitas kereta cepat, mungkin tidak terlalu capek dalam perjalanan Makkah - Madinah, namun sampai saat ini perjalanan masih menggunakan bus.

Mungkin rasanya seperti dalam film ketika kita menikmati perjalanan menggunakan kereta cepat, dan bisa jadi banyak jamaah haji yang ingin merasakannya.

Sehari sebelum berangkat ke Madinah, ada Ketua Rombongan yang menyampaikan jika ada satu jamaahnya yang berangkat ke Madinah untuk menjenguk istrinya yang menjadi jamaah haji khusus dan tidak kembali ke Makkah karena sakit, padahal paspor masih berada di Maktab.

Jamaah ini membeli tiket dengan menggunakan copy paspor, menyusul istrinya yang sudah berada di Madinah, dan pada awalnya tidak terjadi masalah yang cukup berarti.

Persoalan dapat muncul ketika nanti berangkat ke Madinah, karena akan di cek keberadaan jamaah yang disesuaikan dengan paspor di setiap bus.

Idealnya setiap jamaah dan paspor jumlahnya sesuai, karena sebelum masuk Kota Madinah akan ada cek poin di setiap bus, dan yang bertanggung jawab adalah kru bus.

Saya harus datang ke Kantor Masyarik untuk menyampaikan permasalahan tersebut, saya tidak ingin ada masalah ketika berangkat ke Madinah,  ternyata sangatlah ribet ketika ada permasalahan tersebut, ada beberapa surat dan pernyataan yang harus di tanda tangani dengan segala resikonya.

Bersyukur semua berjalan lancar, karena info jamaah sebelumnya butuh waktu hingga seminggu dan harus menghadap beberapa pihak untuk menyelesaikannya, saya hanya yakin bahwa jika kita memudahkan urusan orang lain, urusan kita juga akan di mudahkan.

Menjalin hubungan baik dengan pihak maktab sangat membantu ketika kita terkena masalah, sebab segala administrasi kita dan keperluan perhajian ditangani oleh pihak maktab, selain juga PPIH Arab Saudi yang berada di Daker maupun Sektor.


Makkah, 26/06/2024


Empat petugas Kloter ngawal satu jamaah

 Empat petugas Kloter ngawal satu jamaah Dan Jamaahnya Hilang 


Terdengar aneh tetapi nyata, meskipun pada akhirnya ketemu juga, namun sempat membuat kami bingung ketika jamaah haji yang baru menginjakkan kaki di Masjidil Haram belum ditemukan, dan jamaah tersebut melakukan thawaf bersama empat orang tim kloter yang melakukan thawaf di barisan paling akhir.

Ritual awal yang dilakukan jamaah ketika pertama kali ke kota Makkah adalah melakukan umrah bagi yang melaksanakan haji Tamattu (Umroh dulu kemudian haji) atau Thawaf Qudum (thawaf kedatangan) bagi yang Haji Ifrot, pelaksanaan kegiatan ini untuk pertama kalinya dipandu oleh petugas PPIH Saudi Arabia, dengan mengingat hal ini merupakan pertama kalinya dilakukan jamaah haji dan bersama-sama, sehingga jika tidak diatur, dikhawatirkan terjadi masalah. Begitupun dengan jamaah haji yang memakai kursi roda juga harus diperhitungkan, dan akan dibantu oleh Satgas lansia yang berada di tiap-tiap sektor yang akan membantu dari mulai keluar dari hotel hingga terminal jiyat yang dekat dengan Masjidil Haram. 

Sudah saya perhitungkan untuk membawa semua jamaah haji melakukan umrah malam hari setelah shalat isya, kami sampaikan Makkah jam dua siang, terlalu resiko jika pertama kali umrah dilakukan sore hari, udara masih terasa panas, jamaah juga belum terbiasa dengan cuaca ekstrim meskipun kita hidup di garis khatulistiwa, jika di Indonesia ketika ditengah terik kita merasakan angin spoy, sedangkan di Saudi Arabia di musim panas, setelah sholat magribpun suhu masih empat puluh, karenanya lebih aman dan nyaman ke Masjidil Haram setelah isya.


Di terminal sudah ada petugas yang mengarahkan dan membantu, terutama bagi jamaah lansia, beberapa jamaah minta pengarahan sebelum rombongan mereka menuju Haram, saya menyampaikan tentang thawaf dan bagaimana kembali ke terminal, karena dalam Bimbingan Manasik Haji hanya disampaikan materi Ibadah, dan jarang disampaikan kondisi Masjidil Haram yang jika salah jalan akan berakibat tersesat.

Jamaah haji yang masih sehat melakukan thawaf secara rombongan, sedangkan yang lansia dan atau memakai kursi roda menggunakan jasa pendorong dengan rompi khusus, ada petugas yang membantu negosiasi harga wajar agar jamaah haji tidak membayar terlalu mahal.

Saya dan tim kloter berangkat dari terminal menuju masjid paling belakang, ada satu jamaah haji yang bersama kami, dia mendampingi Jamaah yang memakai kursi roda yang telah di dorong oleh pekerja, kita tak mampu mengikutinya, mereka seakan berlari mendorong jamaah melakukan thawaf dan Sai.

Saya mendahului empat tim kloter dengan menitipkan satu jamaah bersamanya, saya ingin thawaf dan Sai sendiri agar lebih cepat dan berada di terminal kembali sebelum jamaah datang, saya thawaf di lantai bawah, dekat dengan Ka'bah, Sai pun juga setengah berlari, sesegera mungkin kembali ke Terminal, dan ketika sampai di terminal, ternyata jamaah haji yang Thawaf dan Sai nya memakai jasa pendorong yang sepertinya orang Afrika sudah duluan sampai, padahal mereka Thawaf di lantai atas yang sekali putaran sekitar satu kilometer. 

Saya menunggui jamaah haji yang pakai kursi roda di Terminal hingga beberapa menit lamanya, ada petugas Dalgas (Pengendali Petugas) yang membantu jamaah dibawa ke hotel. Saya harus tetap menunggu jamaah, termasuk jamaah haji pendamping yang yang Thawaf bersama empat tim Kloter.

Beberapa saat kemudian empat tim Kloter sampai di terminal dan ketika saya tanya dimana satu jamaah haji yang bersama nya, ternyata satu jamaah tersebut tidak ditemukannya, saya juga sempat terkejut, 

Kok bisa satu jamaah dikawal empat orang tidak ditemukan.

Itulah kenyataannya dan kamipun harus mencari dimana jamaah haji ini berada.


Makkah, 28/06/2024.


Diskusi Pojok KJJT di Warung NKRI Bahas Peran Pers dalam Menjaga Kondusifitas Pemilu

BANYUWANGI – (Warta Blambangan) Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT) wilayah Banyuwangi menggelar Diskusi Pojok KJJT dengan tema “Peran Pers Dalam Pemilu: Untuk Menjaga Transparansi, Keadilan, dan Integritas, Bukan Menjadi Humas atau Tokoh Politik”, pada Kamis (08/08/2024).

Acara yang digelar di Warung NKRI Bakesbangpol Kabupaten Banyuwangi ini, dihadiri oleh rekan-rekan wartawan dari berbagai media, praktisi pers, penulis, sastrawan, serta perwakilan Humas TNI-Polri.


Dalam sambutannya, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Banyuwangi, Drs. R. Agus Mulyono, M.S,i., menyampaikan apresiasi atas inisiatif KJJT mengadakan diskusi ini sebagai wadah silaturahmi antara wartawan dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

"Kami berharap forum ini dapat menambah wawasan umum serta jurnalistik, demi menjaga kondusivitas wilayah dengan tetap mengedepankan integritas dan profesionalisme sesuai dengan UU Pers," ujar Agus Mulyono.

Ketua KJJT Banyuwangi, Ricky Sulivan, menegaskan bahwa peran media adalah menyampaikan informasi yang netral dan tidak memihak. 

“Media tidak boleh menjadi humas pasangan calon kepala daerah atau menjadi anggota partai politik tertentu. Kita harus menjaga independensi dan integritas dalam penulisan berita,” kata Ricky.

Setyo Bekti, SH. MH., perwakilan dari Humas Polresta Banyuwangi, menyampaikan, kegiatan diskusi seperti ini diharapkan dapat memperkuat sinergitas antara kepolisian dan media demi Banyuwangi yang kondusif.

"Saya berharap pertemuan seperti ini digelar secara rutin, untuk menambah wawasan tentang jurnalistik," terang Setyo.

Sementara Pegiat literasi, Maulana Affandi, SS., menyoroti pentingnya menjaga netralitas dan independensi media dalam peliputan berita pemilu. 

“Media harus mengatur suhu pemberitaan agar tidak terlalu panas atau terlalu dingin, bisa mengatur diksi dalam sebuah penulisan berita” jelasnya

Acara yang berlangsung selama tiga jam dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Jurnalis seperti Ari Bagus, Mbah Joni Cobra, Husein, Yahya Umar, secara bergantian mengajukan pertanyaan yang membuat diskusi semakin menarik, salah satunya membahas pentingnya uji kompetensi wartawan dan verifikasi media oleh Dewan Pers.

Sementara, M. Husein, dari kalangan penulis buku lebih menekankan pentingnya media dalam mengedukasi masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak benar.

H. Syafaat, Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, mengingatkan para jurnalis untuk berhati-hati dalam memilih kata dan mengkritik dengan cara yang santun, demi membangun Banyuwangi yang lebih maju.

Acara ini ditutup dengan pesan dari Maulana mengenai pentingnya pemilihan diksi dalam penulisan berita, agar tidak menimbulkan persepsi yang salah. Ia mengutip kata-kata John F. Kennedy: “Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya; jika politik itu bengkok, sastra akan meluruskannya.”

Hasil dari diskusi ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan peran penting Pers dalam menjaga transparansi, keadilan, dan integritas dalam pemilu mendatang, serta mampu menjaga suhu politik agar tidak panas maupun tidak dingin.


_(Sumber: Humas KJJT Wilayah Banyuwangi)_

Thawaf Pakai Mobil Golf

 Thawaf Pakai Mobil Golf 





Dalam manasik haji, tidak banyak yang menyampaikan bagaimana jika melakukan thawaf, yakni mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali dari kiri ke kanan dimulai dari Hajar Aswad dengan menggunakan mobil atau kendaraan lainnya, kalau Thawaf dengan berjalan kaki, kita tahu dengan tepat kita sudah sampai dimana? Apakah sampai makom Ibrahim ataukah Rukun Yamani.

Perkembangan zaman mengakibatkan perkembangan alat transparansi yang semakin canggih, tidak hanya unta dan kuda, peralatan semakin canggih dan tanpa suara, untuk thawaf bisa menggunakan mobil golf dengan kecepatan satu kali putaran di lantai atas 2,25 menit.

Banyak jamaah lansia yang melaksanakan thawaf ifadah menggunakan mobil golf, tarifnya lebih murah dibandingkan dengan di dorong menggunakan kursi roda, jamaah juga masih dapat melihat Ka'bah ketika menggunakan mobil golf di lantai tiga, namun jika di roof top, Ka'bah tidak terlihat.

Menjadi tugas tim kloter untuk memfasilitasi jamaah terutama lansia dan resiko tinggi untuk melakukan thawaf menggunakan mobil golf, karena naik mobil golf thawaf tidak semudah naik bus shalawat, perlu membeli tiket yang pada saat tertentu lumayan panjang antriannya.

Sebagai ketua kloter, saya juga berkewajiban untuk mengkonfirmasi jamaah haji yang ingin melaksanakan thawaf dengan menggunakan fasilitas mobil golf, menyiapkan pendamping bagi mereka yang memakai kursi roda yang diambilkan dari jamaah haji yang masih muda serta menyiapkan jadwal keberangkatan, karena jika waktunya tidak tepat, bisa jadi bersamaan dengan waktu shalat, sehingga tidak dapat masuk ke lantai dua atau empat, tempat pembelian karcis.

Ada tiga puluh jamaah haji yang akan melaksanakan thawaf dan Sai menggunakan mobil golf, kami telah menyiapkan tim agar semua baik-baik saja, kita berangkat bersama pagi setelah sarapan, para lansia ini sebagian besar sarapan dengan bubur yang disediakan PPIH, mereka request melalui ketua rombongan masing-masing, dan layanan ramah lansia dibidang konsumsi ini sangat membantu, karena dengan demikian makanan yang mereka terima mudah di cerna, apalagi buburnya lumayan enak.

Ada layanan bus shalawat khusus lansia ketika kita request ke petugas, sehingga bus yang kita tumpangi tidak berdesakan dengan jamaah lainnya, kami berangkat bersama dalam satu bus, para lansia yang butuh pendampingan juga kita siapkan oleh tim Kloter dibantu jamaah, hanya satu tim kesehatan yang kita tinggal di hotel bersama jamaah haji lainnya, kita tidak berani membawa semua tim kloter dalam misi ini, sebab ada beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi dengan jamaah haji yang berada di hotel, sehingga kita selalu berbagi dalam setiap tugas.

Saya selalu membawa botol semprot berisi air zamzam yang fungsinya bukan hanya menyemprotkan air ke wajah menghindari dehidrasi, namun juga dapat diminum bahkan dalam kondisi tertentu saya gunakan untuk berwudlu.

Ketika di puncak panas, sorban gajah oling yang biasa saya pakai saya basahi dengan air zamzam, saya gunakan untuk menutupi kepala, karena panas di Saudi Arabia berbeda dengan di Indonesia, panas bukan hanya berasal dari sinar matahari secara langsung, tetapi dari udara sekitar yang menerpa, karenanya menutupi kepala dan sebagian wajah seperti pada umumnya pakaian timur tengah merupakan cara logis untuk mengatasinya.

Mungkin saya satu-satunya yang menggunakan sorban gajah oling, sebuah kain segi empat yang sebenarnya merupakan kain udeng dengan motif batik khas Banyuwangi, dengan menggunakan sorban tersebut para jamaah lebih cepat mengenali, karena ada ciri khas yang berbeda dengan petugas haji lainnya, sorban juga multifungsi, kadangkala juga saya gunakan untuk sajadah ketika mau sholat.

Saya turun dari bus shalawat paling duluan, para jamaah lansia saya serahkan kepada tim kloter lainnya, karena saya harus mengambil antrian agar jamaah haji tidak terlalu lama di antrian, bagi saya yang biasa jalan kaki sejak kecil, jarak satu atau dua kilometer bukanlah masalah, ketika di Madrasah Ibtidaiyah, dulu juga satu kilometer saya tempuh dengan berjalan kaki, begitupun ketika membantu orang tua ke sawah yang jaraknya lebih dari satu kilometer juga ditempuh dengan jalan kaki, kadangkala juga membawa beban panenan yang beratnya lebih dari lima puluh kilogram, karenanya tidak kaget ketika jadi petugas haji kemana-mana harus berjalan kaki.

Antrian membeli tiket Golf Cart lumayan ramai, apalagi loket tiket di lantai dua yang mobilnya di lantai tiga, jamaah dapat memandang Ka'bah secara langsung, dan ini berbeda dengan ketika mobil di lantai atas atau di dorong dengan menggunakan kursi roda, bisa jadi selama menjalankan ibadah haji jamaah tersebut tidak pernah melihat Ka'bah secara langsung, saya sengaja antri dilantai dua agar jamaah dapat melihat Ka'bah, saya merasa kasihan jika ada jamaah haji yang ketika melaksanakan ibadah haji tidak melihat Ka'bah, meskipun hajinya juga dianggap sah, namun tingkat kematangannya berbeda.

Antrian masih lama, jamaah haji yang saya bawa sudah datang, dan saya tempatkan di tempat khusus, sedangkan saya masih setia antri menunggu, hingga dokter Kloter kami datang, saya suruh menempati tempat antrian saya dan untuk selanjutnya saya mengantar beberapa jamaah haji yang ingin Thawaf di lantai dasar, dekat dengan Ka'bah.

Pagi itu di lantai dasar tidak terlalu ramai, sehingga jamaah haji yang saya antar dengan mudah mendekati Ka'bah, saya hanya mengantar sampai awal Thawaf, menyampaikan bagaimana cara thawaf dan memberikan sebuah tasbih berisi tujuh butir anak tasbih agar mudah menghitung jumlah putaran.

Saya kembali ke atas karena jamaah sudah mendapatkan tiket, dan bersiap-siap untuk melaksanakan Thawaf, dan oleh petugas diarahkan untuk menggunakan mobil golf di lantai atas atau roof top.

Dalam situasi seperti ini yang dibutuhkan adalah negosiasi dengan polisi penjaga pintu menuju mobil golf, saya minta jamaah untuk tenang, karena jika harus ke roof top, para jamaah tua tersebut tidak dapat melihat Ka'bah, sehingga kita perlu komunikasi dengan para polisi penjaga yang suaranya lantang dan terlihat galak.

Segalak apapun dia juga manusia, segagah apapun dia tetap seorang laki-laki, dan saya sadar bahwa negosiasi akan sulit dilakukan jika yang menyampaikan juga laki-laki, apalagi laki-laki yang pinter banget Bahasa Arab.

Saya minta dokter Kloter berwajah manis yang juga bisa Bahasa Arab untuk komunikasi, dibantu dengan seorang jamaah haji yang mendampingi orang tuanya yang juga bisa Bahasa Arab karena lama bekerja di Saudi Arabia, saya kebagian menyampaikan kepada kedua juru loby tentang spa yang harus disampaikan, dan berdoa semoga semuanya lancar, dan benar juga yang saya prediksi, sang polisi tidak lagi terlihat galak ketika berhadapan dengan orang cantik khas Indonesia dan murah senyum, kita diperbolehkan menuju lantai tiga untuk melakukan thawaf dan Sai menggunakan mobil golf.

Saya memberikan arahan kepada jamaah bagaimana cara Thawaf dan Sai menggunakan mobil, karena hanya ada tanda lampu hijau tempat di mulainya Thawaf, tidak ada tanda yang sejajar dengan makom Ibrahim dan Rukun Yamani, sedangkan waktu satu putaran tidak sampai tiga menit, karenanya doa yang dibaca hanya yang pendek saja yang mereka bisa, sopir mobil golf juga faham dengan aturan Thawaf, mereka juga kadang menuntun jamaah haji berdoa sepanjang perjalanan, memberikan kode ketika sampai sejajar dengan lampu hijau atau Hajar Aswad, sehingga jamaah faham dengan apa yang harus dilakukan.


Makkah, 26/06)2024

Hajinya Orang Tidak Bisa Baca Al-Qur'an

 Hajinya Orang Tidak Bisa Baca Al-Qur'an 


Tidak ada sarat orang berangkat haji harus bisa baca Al-Qur'an, meskipun juga agak aneh jika ada orang yang agamanya karena warisan, tidak memahami agama yang telah lama dianut oleh orang tuanya, faktanya tidak sedikit orang Islam yang tidak dapat membaca Al-Qur'an, mereka hafal bacaan-bacaan shalat dan beberapa doa, dia belajar bukan dengan cara membaca, tetapi dengan cara menghafalkannya, biasanya orang seperti ini shalatnya sering dilakukan di Masjid dan dia sebagai makmum, mengikuti gerakan Imam begitu saja. 


Hal yang sering ditakutkan oleh orang yang berangkat haji adalah ketika pulang diminta doa oleh para peziarah dengan menggunakan Bahasa Arab, beberapa jamaah haji yang bisa membaca dengan cara membaca tulisan doa di handphone, ada juga yang menggunakan bahasa Indonesia, serta campuran. Biasanya yang dibaca adalah doa yang sama dibaca pada saat thawaf putaran keempat, ada juga yang hanya membaca doa sapu jagat.

Ada satu jamaah yang ketika melaksanakan ibadah haji selalu minta saya kawal, dia merasa nggak memahami masalah agama, bahkan pada saat pertama keluar Masjidil Haram usai jamaah shalat, dia berbisik bertanya, "pak ketika selesai shalat fardhu, kita shalat lagi yang hanya berdiri itu shalat apa?."

Saya menjelaskan tentang shalat jenazah, yakni menshalati orang yang sudah meninggal, berikut bacaan-bacaannya, termasuk bacaan doa dalam shalat tersebut, begitupun dengan thawaf dan Sai. Dia selalu mengikuti tepat di sampingku, saya hanya menyampaikan apa yang harus dilakukan, bacaan doa yang dia hafal selama menjalankan ritual thawaf dan Sai, saya tidak mengajarkan doa-doa dalam Bahasa Arab, karena saya tidak yakin orang ini langsung hafal bacaan-bacaannya, karena haji merupakan ibadah fisik, bahkan ketika thawaf dan Sai tidak membaca apa-apa juga sah dan tidak mengurangi nilai ibadah, bisa jadi jamaah haji yang tidak hafal bacaan-bacaan dalam ritual haji ini yang pertama mendapatkan predikat haji mabrur.

Saya menyampaikan kepada jamaah haji yang tidak dapat membaca Al-Qur'an ini tentang apa yang harus dilakukan selama ritual haji maupun umrah, karena saya tidak yakin dapat membersamai terus selama ritual haji maupun umrah, dia nampak memperlihatkan semua yang saya sampaikan, terutama tempat-tempat untuk memanjatkan doa, dan inti dari doa yang disampaikan, baik doa dalam bahasa Indonesia maupun doa dalam bahasa daerah, karena Tuhan mengerti dan mengabulkan doa dengan semua bahasa makhluknya.

Pada suatu malam jamaah ini mengajak saya makan malam di sebuah warung makanan orang Bangladesh, ada menu berbagai ikan laut yang bisa dipesan, dia bercerita bahwa setelah mengikuti saya cara Thawaf dan Sai yang menurutnya tidak ribet, tidak perlu membaca bacaan-bacaan Bahasa Arab, sehingga dia beberapa kali sudah melakukan umrah, dan saya diajak makan malam sebagai ungkapan rasa syukur karena selama musim haji telah melakukan umrah tujuh kali, dan dia merasa penyakit reumatik yang diderita tidak terasa lagi.

Saya merasakan aura keikhlasan dari jamaah haji ini, dan saya menepis kekhawatiran saya ketika mengajarkan bagaimana cara berhaji, semoga saya tetap ikhlas meskipun di traktir makan malam.

Sambil menunggu makanan siap disajikan, kita ngobrol ngalor-ngidul yang sesekali juga membahas masalah haji, jamaah ini merasa bersyukur karena meskipun ekonominya tidak terlalu kaya, namun dapat menjalankan rukun Islam kelima, dan dia juga sangat bersyukur karena ketemu dengan saya dan menjelaskan tentang haji yang tidak ribet seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Dalam hati saya juga mbatin, gimana saya mau mengajari bacaan doa dalam bahasa Arab jika saya sendiri juga tidak hafal.


Makkah, Juni 2024.


Ngopi Bareng Akhmad Sruji Bakhtiar

Ngopi Bareng Akhmad Sruji Bakhtiar 


Lidah kita sepakat jika kopi itu rasanya pahit, meskipun pahitnya beda tergantung jenis kopi dan roastingnya, serta bagaimana barista menyuguhkannya, menyeduh kopi asal-asalan juga nggak masalah, asal pas takaran dan siapa yang kita ajak ngopi, barista biasanya menakar kopi sebelum digiling, menuang air panas sembilan puluh derajat dengan takaran satu dibanding dua, berbeda dengan kopi kemasan yang cukup digunting dan dicampur dengan air panas, begitu saja dan langsung disajikan, asal gesahnya nyambung sampai habis kopinya juga masih betah berlama-lama.

Gesah sambil ngopi dengan teman baru, atau setidaknya dengan orang yang jarang bertemu terlihat asyik, terlebih dengan tema yang menarik, sesekali nyruput kopi yang kadang kliru nyruput gelas milik orang lain, dan untuk urusan kopi hal ini tidak terlalu bermasalah, begitu juga dengan yang kita lakukan ketika mengikuti Bimtek (Bimbingan Teknis) petugas haji Embarkasi Surabaya, yang tahun 2024 dengan jumlah petugas PPIH Kloter terbanyak yakni 530 peserta, meskipun ketika break siang hari ada acara ngopi, namun dimalam hari ketika acara resmi usai, beberapa peserta asyik ngopy sambil gesah di lorong, baik ngopy dari ngambil yang disediakan panitia maupun mbikin sendiri dari kopi yang digiling dan bukan di gunting.

Suasana Bimtek tak pernah ada matinya, terlebih Ketua kelas yang ditunjuk sangat pandai membawa suasana, ketika sedang sepi, perawakannya kecil, namun idenya luar biasa dan rnengayomi. 


Pernah ketua kelas ini memberikan trik bagi peserta apel pagi yang sampai lapangan peserta apel banyak yang sudah siap, biasanya peserta yang datang belakangan mendapatkan surprise sorak dari peserta apel lainnya, dan biasanya jika yang lambat peserta perempuan, soraknya lebih lama hingga membuat pipi peserta kemerahan tanpa make up.

Saya berempat dalam satu kamar, pernah suatu pagi saya ketiduran setelah sholat subuh, baru mau akan mandi ketika teman-teman berangkat apel, dan saya terakhir datang ke halaman apel gara-gara semalam terlalu asyik ngopy bareng. Setelah apel, teman sekamar saya bercerita jika tadi sebelum apel dia di soraki teman-teman karena datang beberapa menit sebelum apel di mulai, dia sepertinya sangat malu dengan perlakuan itu, dan sayapun bercerita bahwa meskipun saya keluar dari kamar mengikuti apel yang terakhir, tetapi saya nggak mendapat sorak seperti yang lain.

Ternyata ngopi bareng dapat memunculkan ide-ide kreatif, terlebih dikemas dengan acara tidak formal ditempat santai yang juga terlihat tidak formal, ide-ide mengalir seperti kita menikmati kopi tanpa gula yang ketika kita menikmati akan terasa nikmatnya kopi, dan bukan manisnya gula, dan begitupun dengan trik yang saya gunakan ketika mengikuti apel dan hadir beberapa detik sebelum apel dimulai tanpa harus dapat surprise sorak. Para akhirnya trik yang saya gunakan bersama beberapa teman yang sering datang apel mendekati dimulai, disampaikan oleh sang Ketua kelas setelah apel, dan saya hanya senyum-senyum saja mendengarkannya, sang ketua kelas sangatlah bijak, karena bisa jadi peserta apel yang dalam satu kamar dihuni banyak peserta tersebut antri ke kamar mandi, terlebih bagi perempuan yang biasanya relatif lama, dan kita tidak usah membahas kenapa kok lama mandinya, mereka tidak terlambat apel saja sudah untung, namun bisa jadi masalah ketika ratusan peserta apel hadir bersamaan beberapa detik sebelum apel di mulai, dan bagi yang hadir sesaat sebelum apel dimulai melalui pintu utama, bisa dipastikan akan mendapatkan aplaus rame-rame seperti artis mau naik pentas, berbeda dengan melalui pintu samping yang tidak terlalu terlihat, dan langsung masuk barusan, apesnya barisan kelompok kami berada tepat di depan pintu utama.

Yang disampaikan Akhmad Sruji Bakhtiar, sang Ketua Kelas ada benarnya, karena bagi peserta yang datang mendekati apel dimulai melalui pintu utama bisa mengganggu persiapan apel, dan itu harus dihindari.

Saya pertama bertemu Akhmad Sruji Bakhtiar beberapa hari sebelum tes PPIH Kloter, kami sempat ngobrol lama di depan kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, ketika beliau bersama rombongan silaturahmi,  dibawah payung besar sambil ngopi, saya menjadi pendengar yang baik dari para pejabat yang sedang ngobrol sambil sesekali mencatat apa yang mereka obrolkan menjadi bahan berita media, orangnya supel meski dengan yang baru dikenalnya, dan itu sangat saya rasakan yang hanya sebagai pegawai bawahan.

Ketika saya di seksi Pendidikan Madrasah, saya juga pernah bertemu dengannya yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bidang.

Bimtek PPIH Kloter selain kelas besar dengan peserta seluruh petugas kloter, juga dibagi dalam beberapa kelas kecil, dan kebetulan sang ketua kelas yang bergelar doktor juga tergabung dengan jelas saya, kelas jadi hidup dan rasanya sepuluh hari terasa singkat ketika kita hanyut terbawa materi, sesekali diselingi dengan joke segar dari para peserta yang menurut beberapa teman tidak didapatkan di kelas lain, sang ketua kelas sangat lihai membawa suasana kelas, meskipun sedari pagi tanpa istirahat, kantuk pun juga nggak berani menyapa, kalah dengan kegembiraan suasana seperti nggak ada yang punya hutang.

Saya lebih banyak diam, karena jika berbicara saya takut jika ketahuan saya nggak banyak pengetahuan, karena semakin sering saya mengikuti diskusi, semakin saya sadar jika kegiatan itu banyak memberikan kita pengalaman berharga.

Beberapa kali saya berkesempatan ngobrol dengan pak ketua kelas, secara tak sengaja ada yang mengucapkan, Kak Bakhtiar, sampeyan itu cocoknya jadi Kakanwil saja.y

Saya dua kali menjadi petugas haji, suasana Bimtek saat ini sangatlah berbeda, padahal materinya juga tidak jauh berbeda, suasana kekeluargaan saat ini sangatlah terasa, keakraban itu sangat penting karena kita akan membentuk tim kerja di negeri asing, tanpa harus membunuh kejenuhan, komunikasi terus terjaga untuk saling memberikan informasi, karena pengetahuan dan berbagi pengalaman bukan hanya didapatkan dari acara formal, tetapi juga diluar ruangan dengan siapapun yang kita anggap lebih berpengalaman.



Asrama haji Surabaya, 01/03/2024


Man Nahnu Lima Menggahar Cintamani Banyuwangi'

 Man Nahnu Lima

Menggahar Cintamani Banyuwangi' 


Bukunya tidak terlalu tebal, cenderung dengan bahasa ringan namun isinya mantap dan bukan tulisan yang benar-benar baru, hanya kumpulan tulisan yang telah di muat di harian cetak pagi yang dipimpinnya, namun beberapa dosen bergelar doktor dan beberapa pejabat ikut hadir dalam bedah buku yang diadakan di auditorium Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, bahkan Ipuk Fiedtisndani dengan seabrek agenda kegiatan pun juga menyempatkan hadir, walaupun saya melihat sedikit guratan lelah di wajah cantik istri Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ini. 


Saya telah lama mengenal Samsudin Adlawi (Kang Sam) bukan hanya sebagai Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi, namun juga seorang budayawan dan sastrawan dengan seabrek tulisan yang pada saatnya nanti akan dikenang oleh para pembacanya, beberapa kali saya tandem mengisi acara sastra, dan saya meskipun juga pengisi acara juga menyimak paparan yang disampaikan penulis aktif yang bijaksana dan inspiratif, selalu ada ide cemerlang setiap menyampaikan materi, sayapun beberapa kali menerima kritikan dari sang penulis yang telah menerbitkan banyak buku ini.

Saya menghadiri launching dan bedah buku Man Nahnu jilid lima dengan mengambil judul dari salah satu tulisan yang ada di buku tersebut "Menggahar Cintamani Banyuwangi', saya tadinya tidak faham dengan makna dari judul tersebut, meskipun saya juga pernah membaca hampir semua isi buku di rublik harian pagi Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Bahasa sastra nampak dari ulasan dari isi buku tersebut, kita terpancing untuk membacanya ketika kita baca judul menggelitik dari Man Nahnu yang terbit sepekan sekali, selalu diawali dengan bahasa yang membuat pembacanya terus membaca paragraf demi paragraf tanpa melewatkannya, bahkan tidak jenuh jika harus membacanya secara berulang.

Bukan hanya penulisnya yang hebat, buku ini juga dibedah oleh orang-orang hebat di bidangnya, ada Sugihartoyo, Ketua Perpenas 17 Agustus 1945, seorang akademisi yang saya kenal ketika menyampaikan materi kuliah filsafat, ada yang menarik dari ulasan Pak Gik (panggilan akrab Sugihartoyo) bahwa ilmu yang paling tinggi yang dapat diraih manusia adalah kesabaran dan disiplin atau Istiqomah, dan Kang Sam telah mencapai keduanya.

Tulisan Kang Sam meskipun nylekit, mampu menyampaikan kritik dengan bahasa menggelitik, sehingga hanya tersenyum bagi mereka yang merasa tercubit.

Tulisan Man Nahnu selain mengulas kejadian di Banyuwangi, juga menyampaikan kritik sosial yang tajam, namun dibalut dengan bahasa santun, kritik yang dilontarkan ibarat bola bekel, semakin keras terbanting, semakin pantulannya, kita tunggu tulisan-tulisan berikutnya agar dijadikan referensi bagi para petinggi negeri.

Selain Pak Gik, Wakil Ketua Dewan Ahli PC ISNU Kabupaten Banyuwangi bergelar doktor yang juga dosen IAI Ibrahimy Genteng Kurniyatul Faizah serta Ketua DKB Banyuwangi Hasan Basri juga menjadi pembedah buku.

Kang Sam pernah menjabat sebagai Ketua BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) dan Juga DKB (Dewan Kesenian Belambangan) Banyuwangi, saat inipun masih aktif di beberapa organisasi, selain di DKB juga merupakan salah satu Ketua MUI Kabupaten Banyuwangi, karenanya sosoknya tidak dapat diabaikan begitu saja, sayapun mendapat WhatsApp khusus dari pengurus ISNU Kabupaten Banyuwangi agar sedapatnya hadir dalam bedah buku tersebut, sebuah kesempatan langka yang tidak boleh di sia-siakan, bertemu dengan penulis hebat, dibedah oleh orang hebat dan dihadiri oleh orang-orang hebat yang memenuhi ruang auditorium, acara ini bukan sekedar launching dan bedah buku, tetapi juga menjadi ajang refleksi diri, terutama dalam memahami dan menghargai karya sastra yang mampu memberikan pandangan kritis, namun tetap santun, saya berharap akan lahir penulis-penulis muda Banyuwangi dengan karya tulis yang dapat dijadikan referensi berharga.


Syafaat : Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi 



 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger