Pages

Lansia SUB-58 Thawaf Ifadah pakai Golf Cart


Makkah (Warta Blambangan) Jamaah haji lansia kloter SUB-58 melaksanakan Thawaf Ifadah menggunakan golf cart dengan membeli tiket yang disediakan di lantai 2 Masjidil Haram, Kamis (20/06/2025) dengan didampingi Ketua Kloter SUB-58 Syafaat dan Tim Kesehatan Deny Fitria Agustin, mereka rela antri sejak setelah sholat magrib berjamaah di Masjidil Haram.

Cara ini digunakan karena relatif lebih murah dibandingkan dengan menggunakan jasa dorong kursi roda untuk Thawaf dan Sai yang pada Thawaf Ifadah mencapai harga 600 real lebih.

Syafaat menyampaikan bahwa jamaah lansia dibagi dalam dua tim, yakni tim pertama berangkat sejumlah 14 orang yang diperuntukkan bagi jamaah lansia tanpa kursi roda, sedangkan tim kedua bagi jamaah haji yang menggunakan kursi roda pada malam Sabtu mendatang.


"jamaah haji yang dapat melaksanakan Thawaf Ifadah mandiri sebagian sudah selesai, terutama yang Nafar Awal, sedangkan untuk Nafar Tsani bersamaan dengan tim pertama lansia" kata Syafaat.

Pembagian tim ini dimaksudkan agar jamaah haji terlayani secara maksimal, dan petugas kloter dapat berbagi, sehingga hotel tidak kosong dengan petugas.

Perlu diketahui bahwa disamping layanan golf cart, juga ada layanan Thawaf menggunakan scuter yang dapat digunakan untuk dua orang.

Mina oh Mina

 Mina oh Mina 



Sejak di tanah air, gambaran tenda Mina yang paling banyak menyita pikiran, hal ini diakibatkan berita tentang di tutupnya Mina Jadid dan bertambahnya jamaah haji Indonesia yang diberangkatkan. Saya selalu menyampaikan ke jamaah haji sebelum keberangkatan, tentang kondisi yang harus kita hadapi, tentang kesabaran yang harus kita luaskan ketika tempat berteduh semakin sempit, karena meskipun semakin sempit, semakin banyak yang menginginkannya, bahkan yang tahun ini berangkat adalah mereka yang sudah antri selama 14 tahun, dan itu bukan waktu yang sebentar untuk sebuah penantian, yang semakin lama semakin bertambah lama dan semakin banyak yang menginginkannya.

Kepusingan bertambah ketika dihadapkan pada kenyataan yang tidak seperti biasanya yang melakukan survei lokasi sebelum pelaksanaan Armuzna. Memang beberapa hari sebelum puncak haji, kita diminta ke Masyarik untuk bersama-sama berkunjung ke Armuzna, melihat lokasi mabid yang akan kita gunakan, hanya berlima kita berangkat, dan seperti biasanya Ning Wida juga turut serta, karena dia penanggung jawab kesehatan jamaah, dokter cantik ini sangat nyaman diajak komunikasi, bahkan meskipun ada tiga tenaga kesehatan, beberapa jamaah fanatik minta diperiksa oleh sang dokter, secara detail juga ada yang mengirim foto bagian tubuh yang sakit untuk dianalisa secara khusus. 

Kita bersama delapan petugas kloter lainnnya diangkut bus menuju Arafah, masing-masing kita juga membawa kartu nusuk sebagai password masuk Arafah, penjagaan memang sangat ketat, Ning Wida di dekatku bibirnya nampak mengucapkan sesuatu, yang saya yakin dia tidak sedang membaca mantra, atau menyampaikan lagu cinta, mungkin dia sedang berdzikir atau membaca kitab suci, sementara saya masih dalam debaran tidak pasti, terutama ketika bus memasuki wilayah depan Universitas Umul Quro yang berada di jalan menuju Arafah. 


Di jalan banyak bertebaran polisi, beberapa jalur juga banyak yang di tutup, bus yang kami tumpangi mengarah pada jalur yang diarahkan oleh para polisi, dan kita tidak tahu menuju kemana, karena kita adalah tamu yang yakin akan diperlakukan secara istimewa. Benar saja dugaan kami, karena sudah lama tak sampai juga, berputar-putar menikmati perjalanan bus, sepanjang perjalanan banyak pohon kurma yang mulai memamerkan ranum buahnya. Bagi kita itu merupakan pemandangan luar biasa karena jarang ditemukan di Indonesia pohon kurma yang menampakkan buahnya.

Hari itu kita tidak pernah sampai Arafah, apalagi Mina, bus yang kita tumpangi kembali ke Masyarik Office, Ning Wida yang duduk tepat di sampingku nampak menyelesaikan bacaannya, dan baru bertanya kenapa kok kembali ke Masyarik. Saya diam saja karena juga tidak mengetahuinya, dan baru mengerti setelah ada penyampaian dari Mbak Hana, pemandu Bus berkebangsaan Saudi Arabia yang bisa Bahasa Indonesia, menyampaikan bahwa kita tidak dapat masuk Arafah karena ketatnya penjagaan polisi yang tanpa kompromi.

Bisa dibayangkan betapa beratnya beban pikiran meskipun dikirimkan denah peta Mina yang kami mendapatkan dua tenda di sekitar masjid Quwaid yang berada di Mina, gambaran saya mungkin yang manis-manis saja seperti wajah Ning Wida, pikiran positif muncul bahwa kita bisa memanfaatkan Masjid untuk aktivitas ibadah yang kita lakukan, meski belum tahu bersama sebenarnya luas tenda Mina yang kita terima, saya hanya membaginya berdasarkan perbedaan jenis kelamin jamaah, untuk tenda yang lebih luas kita berikan kepada jamaah perempuan, dan sisanya untuk jamaah laki-laki, toh jamaah laki-laki dapat tidur diluar tenda sambil merokok dan ngopi-ngopi.

Kedatangan kami ke Mina setelah perjalanan dari Muzdalifah pada awalnya lancar-lancar saja, terlebih Ning Wida sangat berani dan cekatan membantu menata jamaah, tubuhnya yang mungil tak membuatnya diam menunggu, inisiatif selalu muncul yang itu sangat membantu pikiranku yang kadang juga lelah seperti orang lain.

Saya ke Masjid setelah jamaah haji menikmati tenda,   merebahkan diri setelah menunaikan sholat duha, banyak jamaah berbagai negara dalam Masjid, udara sangat nyaman didalamnya, setidaknya rebahan yang saya lakukan dapat menghilangkan penat yang sejak semalam terpendam.

Nasib tak seindah prediksi, Masjid Quwaid yang tadinya saya anggap dapat kita manfaatkan untuk mengurangi kepadatan jamaah dalam tenda, ternyata membuat masalah selalu ada, dan ini saya dapati ketika saya selesai melontar jumroh kubro atau tertulis di dinding sisi kanan Big Jamarat, saya bersama petugas Kloter yang berangkat setelah sebagian jamaah pulang, memilih ke Jamarat lewat terowongan yang menuju lantai tiga jamarat, kemudian setelah melontar jumroh Aqobah, kita ke lantai dasar, melihat gemerlap pertokoan sekitar Jamarat. 

Menikmati pemandangan lantai dasar Jamarat sangat mengasikkan, nampak orang-orang sedang antri memesan Al-Baik, ayam goreng dengan rasa khas yang hanya ada di Saudi, saya sengaja akan pulang melalui jalur bawah agar ada suasana berbeda, terlebih teman petugas kloter yang baru pertama kali bertugas, sehingga tidak hanya jalur terowongan saja yang mereka ketahui untuk menuju Jamarat dari tenda Mina.

Saya sedikit kaget sampai tenda Mina, beberapa kasur spon sisa digelar dalam tenda sebagian diambil oleh orang luar, mereka bisa masuk melalui pintu darurat menuju masjid yang dibuka sendiri oleh jamaah haji Indonesia agar mudah menuju masjid, mereka tidak sadar bahwa perbuatannya mengakibatkan orang luar masuk wilayah perkemahan yang seharusnya hanya untuk penghuni maktab.


Ketua Kloter SUB-58 Ulang Tahun

 


Makkah (Warta Blambangan)  Ketua kloter SUB-58 berulang tahun, jamaah haji menyampaikan lagu ulang tahun berbahasa arab, Senin (17/06/2024), mereka tahu ketua kloternya ulang tahun karena ada pemberitahuan otomatis tentang ulang tahun,

Dihubungi media ini, ketua kloter SUB-58 juga kaget dengan ultah yang diterimanya, kesibukannya melayani jamaah membuat dia lupa jika sedang berulang tahun, terlebih pada maktab 26 banyak dimasuki jamaah haji dari jamaah haji dari negara lain.

"kita sejak dinihari sibuk untuk mengeluarkan jamaah haji dari negara lain yang memanfaatkan fasilitas toilet karena maktab kita gandeng dengan masjid" kata Syafaat.

Ditanya tentang yang dilakukan jamaahnya pada hari ulang tahunnya, Syafaat merasa terharu.


"jamaah sangat kompak, ketika saya mengeluarkan orang asing, mereka kompak membantu" kata Syafaat.

Kondisi panas di Mina mengakibatkan jamaah harus ekstra menjaga kesehatan yang dimiliki, petugas Kloter juga harus bekerja ekstra, terlebih ada beberapa jamaah haji yang tersesat setelah Jumroh Aqobah.

" setiap ada jamaah yang tersesat, maka yang dihubungi adalah ketua kloter, karena ketika scan barcode haji, maka akan keluar nomor WA ketua kloter" kata Syafaat

Meningalnya Petugas Haji Indonesia

 Makkah (Warta Blambangan)MENINGGALNYA Ibu Suswati binti Sholeh Plered, salah satu petugas haji Indonesia menyisakan keprihatinan mendalam bagi sesama petugas haji.



Mungkin saya adalah orang pertama yang menyampaikan berita duka ini kepada suami Almarhumah, KH. M. Jadul Maula, pengasuh Pesantren Kalioapa Yogyakarta.


Info pertama kali saya dapat, justru dari ujung telpon istri saya di Surabaya. Dia menelpon sambil menangis keras dan memberi khabar dari Khadijah sepupunya, yang kebetulan adalah teman satu kamar Almarhumah selama bertugas melayani jamaah haji di Makkah Sektor 7.


Istri saya bercerita bahwa Mba Sus (demikian panggilan akrab Almarhumah) barusan meninggal setelah pingsan usai lontar jumroh Aqobah. Saya diminta Khadijah untuk menghubungi suaminya, karena HP Almarhumah ber-password.


Untungnya, saya menyimpan nomor Kiai Jadul yang pernah singgah di rumah saya bersama Almarhumah Mba Sus, usai menghadiri pengukuhan guru besar UINSA Zumrotul Mukaffa, teman sesama alumni pesantren Tambakberas.


Jujur, saya menyesal, mengapa saya menjadi orang pertama yang memberi khabar duka itu. Di ujung HP terdengar jelas isakan tangis keluarga Almarhumah.


Saya ikut shock, membayangkan bagaimana kalau saya berada di posisi seorang suami yang mendengar istrinya wafat di luar dugaan. Pantas saja, istri saya menangis histeris ketika menyampaikan sahabat satu pondoknya itu wafat.


Setelah memberi kabar sedih itu, saya tetap mencari tahu bagaimana kondisi terkini Mba Sus. Ketika itu, saya berharap Mba Sus hanya pingsan panjang karena kelelahan.


Ternyata berita wafat itu benar 100 persen. Ibu Novia yang membersamai Almarhumah ketika lontar jumroh di Jamarat (tempat lontar jumroh) dari Maktab 52 menegaskan bahwa temannya, ibu Fikri sedang membawa jenazah Almarhumah ke Rumah Sakit. Ibu Heni Faizah (PHU Tangerang Selatan) pun membalas chat saya : “Waalaikum salam. Maaf pak, saya belum bisa kasih info karena masih di jalan ke rumah sakit. Terjebak macet total”.


Pupus sudah harapan, ternyata Mba Sus benar-benar wafat bi husnil khatimah. Ya, Almarhumah wafat setelah sempurna lontar jumroh Aqobah, sebuah laku ibadah haji yang kemudian membolehkan pelakunya untuk tahalul awal. Bagi jemaah laki sudah boleh ganti kostum berjahit, dan kembali boleh memakai wewangian tubuh atau pakaian dan seterusnya bagi jemaah haji.


Almarhumah tuntas sempurna menunaikan ritual haji setelah wuquf di padang Arofah, bersambung mabit di Muzdalifah, lanjut ke Mina untuk lontar jumroh. Saatnya, Almarhumah menggunakan aroma wanginya langsung di syurga. Tidak ada balasna dari haji mabrur, kecuali dimasukkannya ke syurga (Alhadits).


Kesaksian bahwa Almarhumah layak mendapatkan surga karena kebaikannya, saya baca dari Wapri Khadijah, orang terdekatnya selama bertugas di Makkah:

“Saya seminggu ini kerja intens dengan bu Sus di sektor 7, bagian konsumsi. Dari hari pertama saya sudah membatin bahwa beliau ini orangnya baik hati sekali.

Saya bersaksi Ibu Suswati orang yang baik.”


Kesaksian istri saya pun disampaikan melalui status WA-nya: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un..

salah satu sahabat terbaik kami, Mba Suswati sholeh (ketua pondok 1989-1991) wafat bi husnil khatimah baru saja usai jamarat di Mina – Makkah.


Saya bersaksi, selama berteman di Tambakberas Jombang sampai dengan keberangkatan beliau tugas ke tanah suci, beliau orang baik, dan pasti di tempatkan bersama orang-orang yang baik, kekasih kekasih Allah SWT, dan Rasulullah SAW di syurga. الفاتحه

Sebagai petugas haji tentu saya punya akses untuk memburu informasi bagaimana kronologis wafatnya Mba Sus. Apalagi di jam yang sama, saya pun sedang berada di Jamarat, mendampingi jemaah Kloter 95 Embarkasih Surabaya.


Menurut informasi ibu Novia, Mba Sus juga berangkat sama persis dengan jam keberangkatan saya ke jamarat, pukul 06.00 waktu Makkah.


Dugaan saya pertama adalah Mba Sus sangat kelelahan. Malam sebelum berangkat ke jamarat, semua jemaah haji baru selesai melakukan perjalanan malam nan melelahkan.


Mereka bergerak mulai Maghrib diantar mabit ke Muzdalifah. Tepat di atas jam duabelas malam, mereka dijemput Bus untuk bergeser ke Mina. Kloter saya tiba di Mina menjelang adzan Shubuh.


Setelah itu, banyak jemaah ingin mensegerakan sempurna haji dengan melontar Jumroh. Maka terjadilah volume kepadatan manusia menuju Jamarat. Apalagi mereka pada belum sarapan. Kalaupun sarapan, paling hanya roti atau kue atau buah, sisa dari Wuquf Arofah.


Kedua, Mba Sus pasti mengalami stres berat menghadapi medan perjalanan berputar putar karena rekayasa lalu lintas menghindari penumpukan jemaah oleh polisi setempat.


Jam pagi seperti itu ternyata dimanfaatkan sama oleh seluruh jemaah haji dunia demi menghindari panas terik siang. Apalagi bagi Petugas, tentu lebih lincah bergerak jika sudah bertahallul, atau tuntas berhaji tahap pertama.


Ketiga, sikap arogansi polisi di Mina membuat stres jemaah makin meningkat. Bayangkan, beberapa kali saya dapati jemaah haji yang kelelahan di pinggir jalan diobrak untuk segera berjalan.

Pewarta: Syarif Thiyib


Khutbah Wukuf 1445 H


Makkah (Warna Blambangan) Dalam khutbah wukuf yang disampaikan KH. Muhammad Musyaffa, Sabtu (15/06/2024) di Arafah menyampaikan tentang pentingnya bersyukur atas segala nikmat yang luar biasa diberikan kepada jamaah haji Indonesia yang dapat menghadiri panggilan untuk pergi ke Baitullah, karena jutaan orang yang menginginkan dapat menunaikan ibadah haji, namun belum diberikan kesempatan untuknya, karenanya bagi yang diberikan kesempatan harap secara bersungguh-sungguh untuk menunaikan ibadah haji agar sempurna.

"kita dapat berada di Arofah di musim haji ini tidak lain merupakan doa dan perjuangan kedua orang tua kita" khotib dalam Khutbahnya.

Setelah khutbah wukuf dilanjutkan dengan sholat Dzuhur dan Ashar jamak qosor, kemudian dilanjutkan dengan doa dan istighosah.

Setelah ritual khutbah, ketua kloter SUB-58 Syafaat mempersilahkan jamaah untuk berdoa sendiri-sendiri sesuai dengan keinginannya.

"'Arofah saat wukuf merupakan salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa, silahkan isi kegiatan hingga Maghrib dengan dzikir dan doa" kata Syafaat.

Lebih lanjut Syafaat menyampaikan bahwa sekitar pukul 22:00 WAS jamaah akan berpindah ke Muzdalifah untuk mabid dan kemudian menuju Mina.

Syafaat menghimbau agar jamaah tidak keluar dari tenda Arafah hingga menjelang Shalat Maghrib.

Jamaah Haji yang Dirawat di RSAS Sudah Kembali ke Arofah


Makkah (Warta Blambangan)J amaah haji Kabupaten Banyuwangi yang tergabung dalam kloter SUB-58 telah sampai di Arafah, Jumat (14/06/2024), jamaah haji yang sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Arafah Abdul Hamid yang sebelumnya menjalani operasi jantung (pasang 3 ring) juga telah berada di tenda bersama jamaah haji lainnya.

Ketua kloter SUB-58 Syafaat menyampaikan bahwa sebelumnya telah ada komunikasi dengan Petugas Kesehatan PPIH Arab Saudi tentang penanganan pasca operasi.

"kita komunikasikan antara Tim Kesehatan Kloter dengan Tim Kesehatan PPIH Arab Saudi bagi jamaah yang sakit" kata Syafaat.

Lebih lanjut Syafaat menyampaikan bahwa ketika Abdul Hamid berada di King Abdullah Medical City sebelum operasi, petugas kloter bersama Ketua Rombongan sempat menjenguk yang bersangkutan, menjelaskan proses ibadah haji bagi yang menjalani operasi di rumah sakit.

Meninggal di Rumah Tuhan

 Meninggal di Rumah Tuhan 


Adzan subuh sudah tak terdengar, orang-orang sedang sembahyang di Mushola, sebentar lagi mereka harus berkemas menuju Arafah, pagi ini mereka mendapatkan makanan siap saji untuk dimakan siang atau sore hari, pagi ini jamaah banyak yang berbelanja untuk sarapan pagi, di depan hotel seperti pasar tumpah. Banyak makanan khas Indonesia dijual disini, meskipun tak senikmat di kampung sendiri.


Saya masih melihat lihat situasi, jalanan penuh sesak bus-bus yang akan mengangkut jamaah menuju Arafah, orang jualan masih setia menunggu, begitupun dengan jamaah yang berburu sarapan.

Saya sedang melihat kentang rebus yang dijual lima real untuk empat butir atau sekitar enam ribu rupiah untuk satu butirnya, harga yang cukup mahal untuk ukuran orang Indonesia, belum sempat tawar menawar harga, Handphone berdering tanda ada pesan masuk, yang ternyata dari Ning Wida, dokter kloter SUB-58 berparas manis yang biasanya hanya telpon ketika ada masalah yang sangat penting.

Kukira Ning Wida mau nitip sarapan kesukaannya, namun suaranya nampak tidak seperti biasanya yang lembut, hanya beberapa kata saja yang disampaikan, bahwa ada jamaah lantai lima yang meninggal.

Tanpa menawar harga, saya memilih empat kentang rebus dan membayar dengan uang pas lalu bergegas ke lantai lima, ke kamar jamaah haji yang dikabarkan meninggal.

Beberapa jamaah sudah berkumpul di kamar, Isak tangis istri yang ditinggal mati suaminya masih jelas terlihat, padahal beberapa menit sebelumnya masih baik baik saja, masih mengikuti shalat subuh berjamaah, segera ingin berkemas menuju Arafah.

Saya kenal dengan pasangan suami istri ini, kebetulan rumahnya satu kelurahan dengan tempat tinggal saya saat ini, beberapa jamaah yang berkumpul saya minta ke lorong hotel untuk membaca tahlil dipimpin pimpinan KBIHU, saya butuh kamar itu tidak terlalu banyak jamaah agar saya bisa berbincang dengan istri Almarhum.

Saya pertama bertemu dengan pasangan ini di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, ketika keduanya melakukan biometrik, saya berbincang dengan keduanya, tentang penyakit jantung yang diderita suaminya, tentang keluarga dan banyak hal yang kami bincangkan.

Bukan sebuah hal yang ringan ketika kita harus berpisah dengan orang-orang yang kita cintai, meskipun itu sebuah keniscayaan, saya harus menghibur dan memberikan semangat kepada ibu yang ditinggal mati suaminya, karena sebentar lagi kita harus bergeser ke Arofah untuk kesempurnaan haji, saya melepas gelang jamaah dan memasangkan ke tangan istrinya, karena saya yakin keduanya akan bersatu kembali di surga.


Makkah, 14/06/2024.


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger