Pages

Kolaborasi Puisi Dalam Tari

Banyuwangi (Warta Blambangan) Pramoe Soekarno dari teater Mas Prams melakukan evaluasi terhadap latihan tari yang dilakukan anak-anak Madrasah di kampus 2 MIN 1 Banyuwangi, Sabtu (15/04/2023) dalam persiapan lounching buku Sulur Kembang Sri Tanjung yang akan menampilkan Sastrawan terkemuka di bumi The Sunrise of Java.



Didampingi Nazil Osing dan Vieva, anak-anak begitu bersemangat mendapatkan arahan dari tokoh teater Banyuwangi tersebut. Karena sangatlah jarang mereka mendapatkan bimbingan dari orang yang benar-benar ahli dibidangnya.
"arahan dari Mas Prams menjadi motivator bagi anak-anak untuk lebih giat berlatih" kata Vieva.
Nazil menyampaikan bahwa sangat sulit memadukan tari dan baca puisi.
"Kita yang harus mengikuti gerak mereka" ungkapnya.

Selain Mas Prams, Vieva dan Nazil yang membacakan parade puisi dalam tari, Ketua Lentera Sastra Syafaat dan Dosen Untag Banyuwangi Muttafaqur Rohmah juga membacakan puisi dalam Parade ini.

Syafaat berharap dengan latihan rutin ini kemampuan anak-anak untuk beradaptasi dengan orang orang dewasa semakin baik. (Syaf)

Walikota Bandung Kena OTT

Bandung, (Warta Blambangan)– Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Bandung, Jawa Barat, pada Jumat 14 April 2023. Salah satu yang diamankan dalam OTT tersebut yakni, Wali Kota Bandung, Yana Mulyana (YM)



“Betul, KPK pada Jumat, telah melakukan kegiatan tangkap tangan terhadap beberapa orang yang sedang melakukan tindak pidana korupsi,” kata Kabag Pemberitaan KPK, Ali Fikri saat dikonfirmasi Sabtu (15/4/2023).

Terkait dengan program Bandung Smart City dan pengadaan CCTV dan jaringan internet di Kota Bandung. Namun, kami menemukan ada dugaan korupsi di sana,” ujar Ali Fikri soal OTT KPK itu.
Menurut dia, ada transaksi berupa pemberian dan penerimaan uang terkait pengadaan unit CCTV dan internet dalam program Bandung Smart City tersebut.
Menurut dia, ada transaksi berupa pemberian dan penerimaan uang terkait pengadaan unit CCTV dan internet dalam program Bandung Smart City tersebut.
Dia mengatakan selain menangkap Wali Kota Bandung Yana Mulyana, tim KPK meringkus sejumlah pejabat di Dinas Perhubungan. KPK juga menangkap pihak swasta dalam OTT tersebut.

Ali mengungkap, pihak-pihak yang ditangkap itu telah berada di KPK untuk diperiksa lebih lanjut. Total ada 9 orang yang dibawa ke KPK.

“Sudah berada di Gedung Merah Putih KPK untuk segera diminta keterangan tim karena KPK hanya memiliki waktu 1×24 jam untuk menentukan sikap,” tutur Ali. (Tim).

Silaturahim ISNU Cabang Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) cabang Banyuwangi mengadakan buka bersama dan silaturahim di Sing Osing Cafe & Resto Singojuruh Jumat (14/04/2023)



Sejumlah intelektual muda dari Akademisi hadir dalam silaturahim tersebut, baik pengurus maupun anggota ISNU, seperti Dr. Ana Aniati dari IAI Ibrahimy, Dr. Nur Anim Jauhariyah dari IAIDA Blokagung, Irfan Hidayat, S.H.  M.H dari Untag Banyuwangi, Zaenal Aris Masruchi  S.H.I, M.H., M.Pd., M.M dan lain-lain,  juga nampak Hadir Ketua Lentera Sastra Syafaat  S H., M.H.I, nampak juga beberapa Pengacara dan para aktifis yang sering muncul di media.


Acara semakin seru ketika digelar dialog yang diikuti oleh para tokoh Nahdlatul Ulama yang di gadang-gadang sebagai Candidat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Banyuwangi, Yakni Drs. Guntur, M.Pd dan K. Sunandi, S.Pd.I., M.Pd.
Dalam dialog yang di moderatori Fathan tersebut dimulai padangan pembading dari akademisi, Fajar Isnaini yang menyampaikan banyak sejarah dalam perjuangan
“Kum intelektual muda berharap kedepan PCNU bisa Menjadi penengah dalam momentum apapun,” Kata Fajar
Lebih lanjut Fajar menganggap hal ini penting dengan mengingat PCNU adalah pengurus tertinggi di kabupaten atau kota yang harus dapat mengayomi seluruh banom di bawahnya.


Sunandi menyampaikan bahwa dirinya bersama Guntur mengaku siap maju dalam prosen pencalonan ketua PCNU Banyuwangi yang rencananya akan digelar setelah hari raya Idul Fitri, dengan mengusung gerakan “Arah Baru” PC-NU Banyuwangi.


Ketua ISNU Banyuwangi Abdul Azis menyampaikan bahwa Silaturahim ini merupakan kegiatan rutin yang digelar ISNU Cabang Banyuwangi untuk mempererat silarurahim di bulan Ramadhan. (Dlil)

Kemenag Kab. Banyuwangi Ikuti Diskusi Kebhinekaan di Rumah Kebangsaan

Banyuwangi *Warta Blambangan) Apresiasi disampaikan K.H. Ir. Wahyudi, S.H., M.H. kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr Moh Amak Burhanudin yang hadir dalam acara yang dilaksanakan di Rumah Kebangsaan yang terletak di Kelurahan Karangrejo Kabupaten Banyuwangi, Rabu malam (12/04/2023), dihadiri berbagai elemen masyarakat seperti, Yos Sumiatna dari Gereja Katolik  Maria, Ratu Damai, AKBP (Purn) Bagio, Tokoh Agama Buddha, Tjahyadi Sugiarto, Tokoh Konghuchu, Eko Wahyu Widayat, Ketua Walubi, Romo Suryo dan beberapa tokoh Agama lainnya, juga Tokoh Budaya Fatah Yasin Nor, Ketua paguyuban Joko Tole KH. IKROM Hamdan, Ketua Lentera Sastra Syafaat, Sanggar MP 45 Aguk Wahyu Nuryadi, Dr. Moh. Hayya dari UBI dan beberapa tokoh lainnya.



Dalam acara diskusi Kebhinekaan dengan judul Kondusivitas Idhul Fitri; tanggung jawab siapa?,  dalam diskusi dengan moderator Hakim Saud, S.H. tersebut Wahyudi menyampaikan bahwa sangat jarang pejabat ditingkat Kabupaten yang mau diskusi berlama-lama dengan masyarakat seperti Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.


Sementara itu Subag Hukum Polresta Banyuwangi Dr. Aditya Sanjaya menyampaikan harapannya agar dalam Idhul Fitri berjalan kondusif.

"arus lalu lintas akan semakin padat, karenanya diharapkan masyarakat lebih berhati-hati dalam berkendara" ungkapnya. 

Begitupun yang disampaikan AKP Bambang SP,  Wakasad Binmas , berharap Banyuwangi yang dihuni banyak etnik dan banyak agama ini tetap kondusif dalam berbagai acara.



Dalam kesempatan tersebut semua tokoh agama menyampaikan pendapat dan gagasannya tentang Kebhinekaan dan Moderasi Beragama.


Amak menyampaikan bahwa Kementerian Agama sebagai instansi yang mempunyai tugas dibidang keagamaan selalu menekankan tentang kerukunan antar umat beragama.


Mengutip sambutan MenteriAgama dalam buku moderasi beragam, Amak menyampaikan bahwa "Moderasi harus dipahami sebagai komitmen bersama  untuk menjaga keseimbangan yang paripurna, di mana  setiap warga masyarakat, apa pun suku, etnis, budaya,  agama, dan pilihan politiknya harus mau saling mendengarkan satu sama lain, serta saling belajar melatih kemampuan  mengelola dan mengatasi perbedaan" 

Amak yang hadir bersama Kepala MAN, MTsN dan Pengawas Madrasah menyampaikan bahwa diskusi bersama beberapa elemen masyarakat seperti ini sangat baik untuk saling memahami perbedaan.

"Program penguatan moderasi beragama sehingga beribadah dapat dijalankan sesuai dengan keyakinan dengan menerapkan 4 konsep, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, adaptif budaya lokal" kata Amak.


Syafaat menyampaikan bahwa dialog malam ramadhan tersebut sangat istimewa, dengan mengingat peserta bukan hanya dari tokoh agama saja, melainkan juga Tokoh seni dan budaya.

"dengan berkumpulnya tokoh seni, budaya dan agama ini akan menciptakan harmoni yang kuat di Bumi Blambangan" kata Syafaat.


Ketua Walubi Eka Wahyu Hidayat mengaku belum pernah mengalami gesekan dengan rekan antar umat beragama. Umat Buddha yang minoritas justru merasa terayomi.


Pendeta Herman mengaku tidak asing tentang puasa Ramadhan. Karena ibunya Katolik sedangkan ia Kristen namun bapak serta adik - adiknya penganut muslim.


"Setiap Natal dikunjungi tetangga muslim. Jika mudik Lebaran Idul Fitri maka ganti warga Katolik dan Kristen yang menjaga rumah - rumah umat muslim yang pada mudik," paparnya. (Syaf)

Moderasi Seni dan Budaya di Banyuwangi : Keragaman yang Membawa Kesatuan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Beberapa perwakilan kaum seni di Kabupaten Banyuwangi mengadakan diskusi moderasi tentang seni dan budaya pada Rabu (13/04/2023) di Rumah Kebangsaan Karangrejo, di sela berlangsungnya diskusi Komunitas Kebangsaan Banyuwangi .  Para perwakilan tersebut antara lain Adi Wibowo, Pemusik Jalanan dan Tokoh Kristen Kelurahan Karangrejo,  Andre Waluyo, Founder Aplikasi Gata dan Bisnis Link,  Tokoh Katolik dari Kelurahan Tamanbaru yang juga pemerhati seni dan budaya serta aktivis Desa Wisata dan pendamping UMKM Banyuwangi, Fatah Yasin Nor dari Dewan Kesenian Belambangan, Mas Prams serta Syafaat dari Komunitas Lentera Sastra Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.



Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh semangat dan dihadiri oleh para peserta yang menyukai seni dan budaya Banyuwangi.  Sambil menikmati kopi Lego (Lereg Gombengsari) milik Hariyono, para peserta diskusi menyampaikan bahwa meskipun memiliki latar belakang agama dan keyakinan yang berbeda, mereka memiliki kesamaan untuk mengembangkan seni dan budaya di Bumi Blambangan.

"Sebagian besar dari kita menganut agama karena mengikuti agama orang tua kita masing-masing," kata Syafaat.


Para seniman dan aktivis seni tersebut akan tampil dalam acara Lounching Sulur Kembang Sri Tanjung yang akan dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2023 di Pendopo Kabupaten Banyuwangi.

"Mas Adi Wibowo akan mengiringi kami dalam pembacaan puisi.",  kata Aguk Wahyu Nuryadi dari Sanggar Merah Putih 45 yang juga hadir dalam diskusi tersebut.


Dalam era globalisasi dan kemajuan teknologi,  keanekarragaman budaya dan seni menjadi semakin penting untuk dipertahankan. Diskusi moderasi tersebut menjadi bukti bahwa meskipun berbeda-beda, keragaman budaya dan seni dapat menjadi jembatan untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.(Syaf)

Kampung Moderasi Beragama

 Kampung Moderasi Beragama

Oleh : Syafaat



12 tidaklah harus 3 X 4, bisa jadi 4 X 3 atau 2 X 6 atau juga 1 X 12 dan sebaliknya, karena angka perkalian merupakan proses yang tidak harus sama, yang terpenting adalah hasilnya akan sama. Logika ini sering digunakan untuk menggambarkan tentang sebuah ajaran agama bahwa untuk mencapai sebuah tujuan dapat dilakukan dengan cara yang berbeda. Meskipun logika tersebut juga dapat terbantahkan dengan mengingat bahwa dalam beberapa permasalahan, 3 X 4 tidak selalu sama dengan 4 X 3 apalagi dengan 2 X 6 meskipun hasil ahir akan sama yakni 12. Karena urutan yang salah dalam proses menyusun angka dapat berakibat fatal. Jika ada angka 4 + 4 + 4  itu artinya sama dengan 3 X 4 dan bukan 3 X 4. Seringkali kita enemukan hal yang rumit yang terlihat sederhana, ataupun sebaliknya bahwa kita dapat menyelesaikan masalah rumit dengan pikiran sederhana.

Dalam membaca bidang jika kita menemukan angka 3 X 4 itu artinya lebar 3 dan panjang 4. Dalam resep obat 3 X 4 artinya obat tersebut diminum 3 kali masing-masing 4 tablet. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sekilas nampak sama jika dikalikan, namun ternyata ada sebuah perbedaan serius dari deretan angka tersebut yang sekilas hasilnya sama. Kita tidak dapat memaksakan untuk menggunakan urutan yang sama meskipun dengan keyakinan hasilnya akan sama, kita harus melihat dalam kontek apa permasalahan tersebut muncul, karena setiap kebenaran selalu ada dalil pembenar, atau setidak tidaknya pembenaran untuk dirinya sendiri.

Kita tidak dapat memaksakan sebuah persamaan dalam perbedaan, begitupun sebaliknya, bahwa tidak perlu harus mengadakan perbedaan dalam persamaan, karena perbedaan merupakan sebuah kodrat alami, karena kita dapat menikmati perbedaan dalam bingkai harmoni, dan ketika kita dalam sebuah persamaan, tidak perlu mencederai dengan sebuah perbedaan yang dipaksakan, karena kesamaan juga sangat dibutuhkan dalam merajut harmoni. Perbedaan tidak membuat kita tersekat, namun akan membentuk sebuah persamaan harmoni yang kuat.

Indonesia tercipta dari berbagai macam etnik dengan berbagai macam budaya yang terus tumbuh dan berkembang, ditambah dengan berbagai macam agama dan kepercayaan yang dianutnya, yang sangat rentan terjadi gesekan jika tidak didasari dengan pemahaman yang sama.  Perkembangan keaneragaman budaya maupun Bahasa dan Dialeg Bahasa yang ada di masyarakat merupakan sebuah keniscayaan yang telah ada sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kampung Moderasi Beragama merupakan suatu istilah yang menggambarkan suatu daerah atau tempat dalam wilayah tertentu (dalam lingkup RT, RW, atau kelurahan/Desa) yang masyarakatnya terdiri atas beberapa perbedaan terutama dari aspek kepercayaan, keyakinan, agama, ras atau lainnya dengan penuh kesadaran menerima perbedaan yang ada karena pemahaman terhadap keagamaannya yang moderat dengan sepenuh hati untuk dapat memberikan kemaslahatan diri, lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara  sehingga tercipta kerukunan, toleransi, kerukunan, dan harmonis.

Terbentuknya Kampung Moderasi Beragama sebagai bentuk model kampung yang mengutamakan kolaborasi lintas unsur, lembaga dan lapisan masyarakat dengan tujuan memperkuat kehidupan masyarakat yang yang harmonis dalam keragaman, dengan mengingat bahwa dalam praktiknya, menjaga keseimbangan beragama dan bernegara ini bukan perkara mudah. Tidak jarang salah satunya terlalu menonjol dan berlebihan mengungguli yang lain, sehingga muncul gesekan. Untuk mewujudkan keseimbangan beragama dan bernegara itu, setidaknya ada 3 (tiga) misi besar yang harus diemban oleh setiap umat beragama. Ketiga misi ini menghadapi tantangan tersendiri yang harus diselesaikan bersamaga komitmen kebangsaan di sisi lain. 

Dalam praktiknya, menjaga keseimbangan beragama dan bernegara ini bukan perkara mudah. Tidak jarang salah satunya terlalu menonjol dan berlebihan mengungguli yang lain, sehingga muncul gesekan. Untuk mewujudkan keseimbangan beragama dan bernegara itu, setidaknya ada 3 (tiga) misi besar yang harus diemban oleh setiap umat beragama. Ketiga misi ini menghadapi tantangan tersendiri yang harus diselesaikan bersama. Pertama, setiap umat beragama harus berupaya memperkuat pemahaman dan pengamalan esensi ajaran agama dalam kehidupan masyarakat, Kedua setiap umat beragama harus dapat mengelola keragaman tafsir keagamaan, perbedaan penafsiran erupakan hal yang basa, namun ketika penafsirat tersebut diklaim sebagai kebenaran tunggal dengan menyalahkan penasiran lainnya, akan berpotensi konflik. Ketiga bahwa setiap umat beragama memiliki kewajiban dan komitmen untuk menjaga rasa keindonesiaan dengan senantiasa memperuat rasa persatuan dan kesatuan. 

Rintisan Kampung Moderasi Beragama yang akan dibentuk disetiap Kecamatan akan mengambarkan berbagai macam ragam moderasi, dengan mengingat tidak setiap kecamatan dihuni oleh warga dengan etnik maupun agama yang berbeda. Moderasi beragama dengan melibatkan umat antar agama bagi sebuah kampung yang dihuni oleh lebih dari satu penganut agama, namun bisa jadi dalam Kampung Moderasi Beragama menggambarkan sebuah masyarakat dengan agama yang sama atau mungkin organisasi masyarakat keagamaan yang sama, karena dalam persamaanpun bisa jadi ada perbedaan yang harus dihormati, meskipun bukan sebuah prinsip.

Dalam moderasi bukan berarti adanya pembiaran terhadap tindakan yang tidak sesuai dengan norma agama atau ajaran yang diangga menyimpang dari ajaran agama, namun bagaimana masyarakat mensikapi tindakan tersebut dengan tindakan yang sesuai dengan koridor hukum yang berlaku. Pembinaan terhadap penganut agama dapat dilakukan oleh pemerintah dan masing-masing pemuka agama dengan cara santun dan bijaksana.

*Ketua Lentera Sastra Kemenag Kab. Banyuwangi


Revitalisasi Bahasa Osing yang Hampir Terlupa

Banyuwangi (Warta Blambangan) Badan pengemban⁷gan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek mengundanghadirkan berbagai elemen untuk mengawali kegiatan revitalisasi bahasa osing, di Aula Minakjinggo Pemkab,Selasa (23/03/23).



Kegiatan diskusi yang selanjutnya di sambut baik oleh Kepala Dinas Pendidikan, KKG, MKKS, MGMP SMP Bahasa Osing, 7 maestro sastra using serta KOPPAT, Lentera Sastra dan DKB. Agenda penting ada penandatanganan kerjasama dan dukungan revitalisasi Bahasa Osing. 

"Momentum hari ini merupakan angin semilir kiling yang harapannya mendorong parapihak untuk mengajarkan ke sekolah dan nguri-nguri jatidiri bangsa.Ndak sekedar wacana atau rapat di dinas!" tegas Ketua MGMP Bahasa Osing SMP.


Pada acara pembukaan,  Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Banyuwangi, Drs.Dwi Yanto, MM, Kepala Dinas Pendidikan  Suratno, S.Pd,M.Pd serta Kepala pusat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jawa Timur.

Pada rangkaian pembukaan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Dr. Umi Kulsum, M.Hum menyampaikan bahwa diskusi ini menghasilkan pra modul yang sangat bermanfaat bagi pengembangan Bahasa osing di Banyuwangi.


"Untuk pengembangan Bahasa Using, BBJT telah memilih 7 orang maestro di Banyuwangi yang dipersiapkan untuk terlibat langsung dan berdialog dengan para guru yang akan menyebarkan pengetahuan Bahasa osing,” Kata Umi Kulsum.

Selanjutnya Melalui saluran virtual, Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra Drs. Imam Budi Utomo menyampaikan  bahwa " Kegiatan ini diharapkan lebih banyak para penulis berbahasa daerah. Jangan sampai bahasa daerah mengalami kepunahan" 


Mewakili Bupati Banyuwangi, Dwi Yanto  menyampaikan, "Saat ini Kementerian Agama telah menerbitkan Al-Quran terjemah Bahasa osing.

"Para maestro yang hadir saat ini adalah para ahli dibidangnya yang akan mengajarkan Bahasa Osing di Sekolah," ungkapnya.

"Kedepan akan ada pelatihan 60 guru SD dan SMP untuk selanjutnya menjadi fasilitator bahasa osing yang selanjutnya wajib mendiseminasikan kepada kelompok atau guru lain." Ujar Bapak Imam. 


Adapun 7 maestro yang telah terpilih yaitu, 1. Wiwin Indiarti (Nembang/Mocoan Lontar), 2. Antariksawan Yusuf (Baca-tulis Using), 3. Abdullah Fauzi (Cerpen Using), 4. Slamet Penyet (Mendongeng), 5. Nany Asiyani (Pidato Basa Using), 6. Eko Budi Setianto (Puisi Using), 7. Ali Kenthus (Stand up Komedi Using).

Revitalisasi ini akan  dilakukan secara berkelanjutan dan dimonitoring secara berkala

Salah satu peserta Syafaat dari komunitas Lentera Sastra menyampaikan bahwa banyak cara yang dapat dilakukan untuk melestarikan Bahasa Daerah, seperti menulis dan membaca puisi, menyanyi, menulis cerpen maupun novel Bahasa Daerah dan lain-lain, pelestarian Bahasa Osing bukan berarti meng-osing-kan seluruh warga Banyuwangi yang dihuni berbagai macam etnik yang mempunyai bahasa daerah sendiri, Suku Osing yang berjumlah 20 % dari penduduk di Kabupaten Banyuwangi mempunyai ciri khas tersendiri.

"kita jangan memaksakan kesamaan atas perbedaan atau memaksakan adanya perbedaan dari suatu yang sama" kata Syafaat.

Bahasa Osing yang hidup dan berkembang di ujung timur Pulau Jawa harus dijaga dari kepunahan, dengan cara diajarkan di sekolah formal. (Yeti/Syaf)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger