Pages

Lentera Sastra di Pameran Sehari Bersama Dikmas

 Lentera Sastra di Pameran Sehari Bersama Dikmas



Terminal Literasi Pegawai Kementerian Agama (Lentera Sastra) membuka stand khusus dalam memperingati Hari Aksara Internasional (HAI) Kabupaten Banyuwangi yang dilaksanakan di parkir timur Hotel El Royal Banyuwangi Yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi sejak Jumat (29/10) hingga Sabtu (30/10).

Dalam acara yang juga diikuti PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) se-kabupaten Banyuwangi dengan tema Sehari bersama Dikmas tersebut Lentera Sastra memamerkan buku buku karya siswa madrasah, guru dan ASN Kemenag Kab Banyuwangi. "Lentera Sastra menupakan komunitas literasi bagi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang kehadirannya bukan hanya untuk warga Kementerian Agama saja, namun juga melakukan pendampingan literasi bagi warga belajar PKMM" ungkap Syafaat selaku Ketua Lentera Sastra.

Beberapa PKBM antusias


dengan kehadiran Lentera Sastra dan sangat berterima kasih karena juga sangat membantu warga belajar PKBM terutama Paket C yang sebagian besar merupakan bekas anak putus sekolah dan mereka yang sudah berkeluarga. "Kami yakin bahwa WB dari PKBM akan menjadi penulis handal yang tidak kalah dengan mereka yang belajar disekolah formal" ungkap Sunaryo, Direktur PKBM At Taubah yang juga berprofesi sebagai pengacara.

Begitu juga dengan yang disampaikan Matifatil Munawaroh, Direktur PKBM Cahaya Ilmu Kecamatan Muncar,  "WB kami sebagian besar adalah buruh psbrik dan pelaku UMKM, mereka sangat terbantu dengan pelatihan literasi digital yang juga dipandu oleh pengurus Lentera Sastra' ungkapnya.

Lontar Yusuf

 Fatah Yasin Noor

*Lontar Yusuf* 


Pagi tadi aku sedih

Setelah menyimak seorang pakar

Mengulik Lontar Yusuf

Yang ternyata penuh narasi

Masih menjadi misteri

Karena suka samadi

Yang tak sekadar narasi

Tapi mengandung kearifan hidup

Nenek moyang kita di dekat sini

Disini, di tanah Blambangan ini

Menyebut Sang Kekasih 

Lewat tembang yang merayap

Mengetuk hati insani 


Hidup ratusan tahun yang lalu

Sayup-sayup terdengar lagi walau

Tidak asli lagi

Bahasanya tak kita kenali 

Tapi rasanya tak tertandingi 


Di latar belakang itu aku tahu

Ada tangan kuasa yang mengubah

Perlahan berubah sekaligus

tak berubah

Ketika nenekku menulis surat

Dengan hurup Pegon

Di selembar kertas buram

Mengasapi relung hati

Tak diajarkan di sekolah lagi

Tak disadari berganti hurup latin  

Tiba-tiba bicara revolusi industri

Jauh lebih kuat dari

ketakutanku pada hantu-hantu 


Rabu Pungkasan, 6 Oktober 2021

29 Safar 1443 H

KH. Ali Mansur, Kepala Kantor Kemenag Kab. Banyuwangi Penggubah Shalawat Badar

 

KH. Ali Mansur, Kepala Kantor Kemenag Kab. Banyuwangi Penggubah Shalawat Badar

Oleh : Syafaat


Raden Muchamad (RM) Ali Mansur, lahir di Jember, Jawa Timut pada 4 Ramadhan 1340 H atau 23 Maret 1921 M. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Manshur bin KH. M. Shiddiq Jember dengan Shofiyah binti KH. Basyar dari Tuban, KH. Ali bin Manshur termasuk dalam keluarga besar as-Shiddiqi. Kakeknya yang bernama KH. M. Shiddiq (Jember), adalah seorang ulama yang menurunkan ulama-ulama besar seperti KH. A. QusyairiKH. Ahmad ShiddiqKH. Mahfuzh Shiddiq, KH. A. Hamid Wijaya, KH. Abdul Hamid (Mbah Hamid Pasuruan), KH. Yusuf Muhammad, dan lain sebagainya. Beliau masih keturunan Mbah Sambu Lasem (Pangeran sayyid M. Syihabuddin Digdoningrat) bin sayyid M. Hasyim bin Sayyid Abdurrahman Basyaiban (Sultan Mangkunegara III). Dari jalur kakek, nasab Kiai Ali Manshur menyambung ke Pangeran Sayyid M Shihabuddin Digdoningrat atau Mbah Sambu Lasem bin Sayyid M Hasyim bin Sayyid Abdurrahman Basyaiban atau Sultan Mangkunegara III. Karena itulah KH Abruddahman Wahid alias Gus Dur menyebut Kiai Ali Manshur dengan habib, panggilan khusus untuk keturunan Rasulullah

Masa kecil KH M. Ali Mansur dihabiskan di Tuban. Setelah tamat belajar di MI Makam Agung Tuban, beliau mondok di beberapa pesantren besar, antara Pesantren Termas Pacitan,Pesantren di Lasem (asuhan Mbah Makshum), lalu Pesantren Lirboyo Kediri hingga Pesantren Tebuireng Jombang. Di Lirboyo ini, beliau kelihatan bakatnya dalam penguasaan ilmu ‘arudh dan qowafi (dasar-dasar ilmu membuat syair berbahasa arab).

Setelah menamatkan pendidikannya di beberapa pesantren dan AMS (setingkat SMA), KH. Ali mansur pada tahun 1945 nmenjadi guru Madrasah Salafiah,kemudian menjadi anggota Dewan Pimpinan Pemuda, Wakil Ketua GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), Kepala Staf Umum Barisan Sabil Komandan DPM Instruksi Pertahanan Rakyat6, anggota DPRDS Kabupaten Tuban dan pembentuk pasukan mujahidin, dan menjadi kepala staf penerangan MPHS Jawa Timur

Mengutip dari konstituante.net, sejak tahun 1950 beliat menjadi Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Kementerian Agama, beberapa jabatan yang pernah di embannya di Jawa Timur antara lain : menjadi klerk Kepala (Pemegang Kas) KAD Besuki, yang dijabatnya selama lenih kurang satu sahun, pada tahun 1951 sampai 1952 menjadi Propandis kl I Kantor Penerangan Agama Provinsi Jawa Timur.

Pada tahun 1952 hingga tahun 1954 beliau dipindahkan dan menjabat sebaga Kepala KUA ( Kantor Urusan Agama) di Kabupaten Sumba Provinsi nusa Tenggara. Beliau juga masih aktif di organisasi menjadi konsul NU Nusa Tenggara yang dijabat sejak tahun 1954 hingga tahun 1956. Di jajaran Kementerian Agama, pda kurun waktu tersebut beliau manjabat sebagai Kepala Bahagian Politik dan Aliran Agama pada Kantor Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara, kemudian pindah ke Provinsi Jawa timur dalam jabatan yang sama.

Sejak Tanggal 9 November 1956 bersama beberapa ulama seperti KH. As’ad Samsul Arifin dari Sukorejo Banyuputih Situbondo serta KH. Harun dari Tukangkayu Banyuwangi, beliau diangkat sebagai annggota konstutuante mewakili Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara yang dijabat hingga dibubarkannya Dewan konstituante oleh Presiden Soekarno pada tanggal 5 juli 1959. Dewan Konstituante hasil pemilu 1955 dilantik presiden Sukarno di Bandung, 10 November 1956 dengan tugas utama menyusun konstitusi baru bagi Republik Indonesia. Sebelumnya di Indonesia diberlakukan UUD 1945 (1945-1949), Konstitusi RIS 1949 (1949-1950), lalu UUD Sementara yang sejak 1950. Selama sidang Konstituante, hampir semua materi pokok sebenarnya berhasil diselesaikan melalui musyawarah. Semua kubu menyetujui bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bendera Merah Putih, Bahasa Nasional Indonesia, Lagu kebangsaan Indonesia Raya, Lembaga-Iembaga kenegaraan, Azas dasar hukum lain-lain. Namun, ketika membicarakan Dasar Negara (4 November 1959) perbedaan tajam muncul dalam tiga konfigurasi usulan ideologi : Islam, Pancasila, dan Sosial Ekonomi. Kubu Islam didukung Masyumi (112 suara), NU (91), PSII (16), Perti (7) dan 4 partai kecil dengan total 230 suara. Kubu Pancasila didukung PNI (116), PKI dan faksi Republik Proklamasi (80), Parkindo (16), Partai Katolik (10), PSI (10), IPKI (8) dan beberapa partai kecil lain, dengan total 273 suara. Sementara kubu Sosial Ekonomi yang ingin mengembangkan sosialisme hanya didukung Partai Buruh (5), Partai Murba (4), dan Acoma/ Angkatan Comunis Muda (1).

Setelah dibubarkannya konstituante, KH. Ali Mansur kembali masuk ke jajaran Kementerian Agama dan menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, yang saat itu berkantor di Masjid Baiturrahman Banyuwangi,hingga akhirnya pindah ke Jalan jaksa Agung Suprapto yang sekarang bagunannya telah di bongkar dan ditempati gedung KUA Kecamatan Banyuwangi.

Disamping menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. KH. Ali Mansur juga menjabat sebagai Ketua PCNU (Pimpinan Cabang nahdlatul Ulama) Banyuwangi, yang pada masanya pergolakan politik di ujung timur pulau jawa ini tak ubahnya sebagaimana perpolitikan di tanahair pada waktu itu, kekuatan PKI dengan ideologi komunisnya nyaris menguasai semua sendi sosial politik di masyarakat, begitu juga dengan seni dan Budaya.

Dalam berbagai rapat umum yang dilakukan PKI selalu menggunakan seni dan budaya lokal serta lagu-lagu yang sudah merakyat, seperti gandrung dan lain-lain, karenanya nahdlatul Ulama pada saat itu juga sepakat menggunakan seni tari berupa seni Hadrah Kuntulan untuk menarik simpati masyarakat di Kabupaten Banyuwangi, terutama di acara acara pengajian dan lain-lain. Penggunaan seni hadrah kuntuan ini tadinya juga terjadi tari8k ulur dikalangan ulama Banyuwangi, hal ini dikarnakan adanya perempuan yang ikut menari dalam atraksi tersebut yang dianggap dapat mengundang maksiat, tetapi dengan berbagai pertimbangan maka tari kuntulan ini dapat diterima.  

  Pada tahun 60-an merupakan masa gegap gempita perpolitikan di Indonesia, pergolakan politik ditingkat atas tersebut juga berdampak pada politik di Kabupaten Banyuwagi, perbedaan ideologi politik antara NU dan Pki pada akhirnya juga menjadi akar persaingan yang ketat, kedua belah kubu menggunakan berbagai cara untuk mempengaruhi massa, begitupun dengan penggunaan seni dan budaya.

Partai komunis Indonesia menggunakan lagu genjer genjer yang digubah oleh Muhammad Arif yang juga pencipta lagu dari Banyuwangi, lagu yang diciptakan pada masa penjajahan jepang tersebut sedikit diubah lirikknya yang disesuaikan dengan kepentingan mereka, sehingga pada masa itu lagu genjer genjer identik dengan Paartai Komunis.

Kaum santri (modernis maupun tradisionalis) hakekatnya memang memiliki tujuan bersama pada otentisitas Islam, meskipun dengan Era rejim Nasasom, posisi politik PKI berada di atas angin, baik akibat jumlah pendukungnya yang terus meningkat, maupun karena trend dukungan penguasa yang juga membesar. Namun realitas itu ternyata tidak meruntuhkan, tetapi sebaliknya justru memperkuat, mentalitas kaum Santri. Bahkan, berbekal pentahbisan dari para ulama habaib untuk menjadikan Shalawat Badar sebagai sarana pembangun militansi kaum

Era rejim Nasasom, posisi politik PKI berada di atas angin, baik akibat jumlah pendukungnya yang terus meningkat, maupun karena trend dukungan penguasa yang juga membesar. Namun realitas itu ternyata tidak meruntuhkan, tetapi sebaliknya justru memperkuat, mentalitas kaum Santri. Bahkan, berbekal pentahbisan dari para ulama habaib untuk menjadikan Shalawat Badar sebagai sarana pembangun militansi kaum Santri, hasilnya adalah : kepercayaan diri kaum Santri langsung terakumulasi dalam menghadapi berbagai agitasi dari simpatisan PKI.

Dalam pentas politik nasional PKI sebenarnya sering melontarkan propaganda sebagai tidak anti agama, bersahabat, dan menghormati kebebasan beragama. Mereka hanya membela rakyat untuk melawan kapitalisme – imperialisme. Untuk membuktikan klaim ini PKI bahkan melibatkan beberapa tokoh Islam dalam organisasi, seperti K.H. Misbah dan K.H. Ahmad Dasuki Siroj. Namun, terutama pada level lokal nyatanya PKI melalui berbagai underbownya tetap memusuhi agama di banyak lini, seperti: (1). Lekra melakukan penghinaan agama. Mereka melabeli Santri dengan nuansa menghina, sebagai: Kaum Sarungan atau Kaum Bancik. Bancik adalah batu berjajar untuk pijakan dari tempat wudlu ke masjid atau ke gotakan (kamar) Santri di pesantren. Lekra berhasil menguasai berbagai kesenian rakyat, seperti Ludruk, Ketoprak, Reyog dan lain-lain. Badan Koordinasi Ketoprak Seluruh Indonesia (Bakoksi) yang berafiliasi ke Lekra, berkeliling memainkan lakon menghina agama dan tokoh agama, seperti: Matine Gusti Allah: Matinya Tuhan”, “Gusti Allah Manten: Tuhan Kawin”, Malaikat Kimpol : Malaikat Bersenggama”, Gusti Allah ngunduh Mantu : Tuhan Menjemput Menantu”. (2). Pemuda Rakyat dan Gerwani melakukan kekerasan terhadap tokoh-tokoh agama, seperti banyak terjadi di Jawa Timur. Pesantren Lirboyo Kediri misalnya, selalu dalam tekanan penduduk Lirboyo yang banyak menjadi pendudukung PKI. (3). Barisan Tani Indonesia (BTI) melakukan penyerobotan tanah. Kelambanan pemerintah dalam melaksanakan UU Pokok Agraria (UUPA) yang sudah disahkan tahun 1960, dimanfaatkan pendukung PKI untuk menjalankan agendanya sendiri guna mencari simpati massa. Mereka melakukan aksi sepihak dengan dalih melaksanakan landreform seperti diamanatkan UUPA, dengan sasaran utama tanah erfpacht (tanah milik negara), tanah desa, dan tanah milik tuan tanah yang tinggal di luar daerah tersebut (absentee landlord).

Dikisahkan dalam berbagai media bahwa Shalawat Badar tercipta untuk mengimbangi lagi Genjer-genjer yang digunakan PKI untuk menggalang massa, KH. Mas Mansur yang kebetulan berdinas sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, sebuah daerah yang kaya akan seni dan budaya, menginspirasi beliau yang juga genar dengan sastra, membuat karya seni sastra yang dapat digunakan bukan hanya mengumpulkan massa, tetapi menjadi penyemangat dalam perjuangan. Beliau teringat tentang alunan Shalawat Al barjanzi yang kelahirannya juga sebagai penyemangat umat Islam dalam menghadapi perang salib. Maka Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi itu terinspirasi dengan semangat Mujahid Badar yang dengan jumlah yang tidak seimbang, tetapi dapat mengalahkan prajurit kafir Quraish.

Pada malam hari KH Ali Mansur bermimpi melihat para prajurit bersorban hijau yang diyakini setelah ditanyakan kepada Habib Hadi Al-Haddar sebagai prajurit mujahid dalam perang badar, yakni perang terbesar yang pernah dialami umat Islam di zaman Nabi Muhammad SAW, karena dalam perang ini Mujahid Islam hanya berjumpah 300 orang, harus menghadapi Prajurit Kafir Quraish sejumlah 1.000 orang dengan persenjataan yang lebih lengkap, namun pada akhirnya kaum Muslimin dapat mengalahkannya. Pada malam ketika KH. Ali Mansur bermimpi tentang prajurit Muslim dalam perang Badar, Isteri Beliau juga bermimpi ditemui Rasulullah SAW.

Lebih mengherankan lagi pada keesokan harinya banyak tetangga di rumah kontrakan beliau di Kelurahan Tukangkayu yang datang sambil membawa beras, daging, dan barang barang lain sebagaimana barang yang dibawa ketika orang melakukan hajatan, para tetangga tersebut memasaknya dan merasa bahwa KH Ali Mansur akan kedatangan banyak tamu. Dan benar saja, menjelang matahari terbit, serombongan Habib berjubah putih hijai yang dipimpin Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi dari Kwitang Jakarta datang, Habib Ali merupakan habib yang sangat dihormati oleh keluarganya,  dan KH Ali Mansur bersyukur “Alhamdulillah”, dan setelah berbincang agak lama, terutama membahas issu politik saat itu, terutama perkembangan PKI yang terus ndodro (Istilah Bung Karno), Habib Ali Al-Habsyi menanyakan topik lainyang tanpa diduga oleh Kh Ali, “Ya Akhi, mana syair yang ente buat kemarin?” tanyanya

“tolong anda bacakan dan lagukan di hadapan kami” ungkat Habib Ali al_Habsyi kemudian, tentu saja Kyai Ali mansur kaget, sebab ternyata Habib Ali tahu apa yang dikerjakannya semalam, segera saja Kh Ali mansur Shiddiq mengambil kertas yang berisi catatan syair Shalawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya dihadapan rombongan Habib Ali al-Habsyi. Dan sejak itulah Shalawat Badar dijadikan sebagai syair menyemangat dalam menghadapi pengaruh komunis di Indonesia.

Peran KH (RM) Ali Mansur Shiddiq bukan hanya menggubah Shalawat badar saja, tetapi juga sangat berperan dalam kancah perpolitikan lokal di Kabupaten Banyuwangi, hal ini dilakukan dengan mengingat peran beliau yang bukan hanya menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, tetapi juga sebagai Ketua Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama yang saat itu juga merupakan Partai Polirtik.

Uji Vakidasi Naskah Kuno di Bali

 Bali Sudah, Kapan Banyuwangi 



Tidak bisa disangkal. Bali identik dengan Hindu. Karena umat Hindu menjadi mayoritas di Pulau Dewata. 

Sama juga dengan Makkah-Madinah. Haramain (dua kota suci) itu bukan hanya penduduknya mayoritas muslim. Melainkan menjadi tempat lahir-tumbuh-berkembangnya Islam.

Kembali ke Bali. Dalam hal literasi, orang mengenal tradisi naskah di sana hanyalah tradisi lontar bernuansa Hindu. 

Itu tidak salah. Memang begitu faktanya. Namun, belakangan, para peneliti ternyata juga menemukan sejumlah naskah keislaman di Bali. Itu menjadi keunikan sendiri bagi pulau surga wisatawan itu. Sebab, tradisi naskah Hindu dan tradisi naskah Islam bisa saling berdampingan. Hidup bersama. Sama-sama menjadi bagian dari sejarah masyarakat Bali. Sejak lama. 

Sekitar seabad lalu, para sarjana telah menyinggung keberadaan naskah-naskah keislaman di Bali. Theodore G. Pigeaud (1967) mengatakan, naskah keislaman di Bali muncul berbarengan kemunculan komunitas masyarakat muslim di tetangga Banyuwangi tersebut. Terutama di bagian utara dan barat Bali. Komunitas itu terbentuk dari relasi dagang dan politik. 

Komunitas muslim aktif menerjemahkan teks-teks keislaman. Ketika itu. Sejarah tradisional Islam termasuk yang mereka terjemahkan ke dalam teks-teks kesastraan dalam bahasa Jawa dan Bali. Maka ada sejumlah teks berbahasa Jawa dan Bali yang dipengaruhi ajaran Islam. Seperti Krama Selam. Prosa Jawa-Bali. Mengandung ajaran teologi dan mistisisme Islam. Lalu, ada juga Tuwan Smeru. Puisi-puisi spekluatif dan didaktis Jawa-Bali tentang Islam. 

Informasi itu saya peroleh dalam forum ilmiah. Di salah satu aula Hotel Aston Banyuwangi. Pada 21 September 2021. Dalam uji validasi Penyusunan Katalog Naskah Keislaman di Bali. Katalog itu disusun oleh tim peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang. Tidak tanggung-tanggung. Timnya ada delapan peneliti. 

Tentu saja saya senang menjadi bagian dari kegiatan fullday itu. Selain bertemu langsung dengan para peneliti, juga bisa mendengarkan pembahasan dari sejumlah narasumber. Juga para pemilik/ahli waris pemilik naskah. Baik dari Bali maupun Banyuwangi. Hadir juga kalangan kampus dan mereka yang peduli pada naskah kuno. Seperti Drs Suhalik dari Lembaga Masyasrakat Adat Osing dan Barurrohim (Ayung NN) dari Komunitas Pegon Banyuwangi.

Penyusunan Katalog Naskah Keislaman di Bali (KNKB) merupakan pengembangan kegiatan sebelumnya. Pada 2019, peneliti Balai Litbang Agama Semarang telah menginventarisasi dan melakukan digitalisasi naskah-naskah keislaman di Bali. Datanya diambil di kampung-kampung Islam dan sejumlah lembaga. Yang tersebar  Kota Denpasar, Kabupaten Karangasem, Kabupaten Tabanan, Kabupaten Buleleng, dan Kabupaten Jembrana.

Sejak menerima materi (empat buku), saya langsung tertarik pada foto naskah yang menjadi cover buku KNKB. Berupa halaman kitab yang dibuka. Tulisan Arab pegonnya warna hitam. Dalam bingkai warna-warni: hijau-merah-kuning-cokelat-putih. Warna kertas daluangnya sudah mangkak, sudut-sudutnya sudah bores. Dimakan usia.

Secara umum, naskah berkode digitalisasi AQD-17/BALAR-BALI/05/2019 itu cukup baik. Sampul naskah dari kertas daluang agak tebal. Dijilid menggunakan jahitan benang. Naskahnya terdiri dari 15 kuras. Ditulis menggunakan tinta lokal warna hitam dan merah. Dari kolofon (lihat KBBI), tidak diperoleh informasi judul naskah, nama pengarang dan penyalin/penulis, dan juga tahun penulisan/penyalinan naskah.

Tapi, itu naskah sangat penting. Merupakan satu dari 17 naskah kuno aset bangsa. Yang berhasil diselamatkan pihak Bea Cukai Indonesia. Ditengarai naskah itu akan dijual ke luar Indonesia. Kini, naskah tersebut disimpan di Balai Arkeologi Bali.

Peneliti juga menemukan data mengejutkan. Ternyata naskah keislaman di Bali ada yang berbentuk lontar. Ada beberapa yang disebutkan di dalam buku KNKB. Seperti yang tersimpan di Masjid An Nur, Sanglah, Denpasar. Bukan hanya satu. Tapi 11 naskah lontar. Ditulis dengan tinta warna hitam. Oleh orang Bali I Nyoman Degeng. Menggunakan aksara Bali. 

Subjek teman naskah dalam buku KNKB cukup lengkap. Meliputi Alquran dan ilmu terkait, hadis dan ilmu terkait, aqaid dan ilmu kalam, fikih, akhlak dan tasawuf, sosial dan budaya, filsafat dan perkembangannya, aliran dan sekte, sejarah, Islam, modernisasi, dan Islam umum.

Menarik yang disampaikan Moch. Ali. Narasumber dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga. Dia mengatakan, naskah Islam bisa diklasifikasi menjadi dua genre utama: genre kitabi dan genre non-kitabi.

Genre kitabi disebut juga sastra kitab. Merepresentasikan berbagai bidang ilmu keislaman. Misal, tasawuf, fikih, tafsir, dlsb. sedangkan genre non-kitabi merepresentasikan sirah dan tarikh lokal. ”Misal, kitab Hikayat Sri Rama dan kitab Hikayat Muhammad Hanafiyah,” kata Ali. Jelas sekali, naskah-naskah keislaman yang ditembukan di Bali bergenre kitabi dan non-kitabi. 

Wa badu. Balai Litbang Agama Semarang begitu intens melakukan penelitian naskah keislaman di Bali. Pertanyaanya besarnya, kenapa Banyuwangi hanya dilewati (bahkan dilompati menggunakan pesawat). Kapan mereka akan meneliti naskah keislaman di Bumi Blambangan. Yang, sebenarnya, tidak kalah banyak jumlahnya. Dibanding Bali. 

Harus diakui, Bali memang lebih seksi. Dalam konteks basis keagamaan. Sebab, selama ini orang tahunya Bali ya Hindu. Ketika di Bali ditemukan manuskrip keislaman, itu sesuatu banget. Seperti jurnalis yang menemukan rudal dalam perut kian hiu. Hahaha....

Tapi, nilai naskah keislaman di kota the Sunrise of Java tidak kalah tinggi. Sejumlah sumber menyebut, Kerajaan Blambangan sebagai kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa. Pasti, di masa-masa menjelang runtuhnya kejaraan Hindu di Jawa itu banyak berserakan naskah-naskah keislaman. Sebagaimana halnya di beberapa tempat lain. 

Ketika membumbungkan harapan agar Balai Litbang Agama Semarang melirik Banyuwangi, Kang Syafaat (Bimas Islam) Kemenag Banyuwangi mengatakan kepada saya—di sela-sela acara. Dia dan tim Kemenag akan menyusun dan menerbitkan buku berisi para kiai hebat di Banyuwangi. Kelak, bila buku tersebut sudah terbit, akan memperkaya literasi di Kota Gandrung. Terutama literasi tentang keislaman. Yang saat ini terasa masih belum bergeliat. Melengkapi gerakan Komunitas Pegon Banyuwangi. (Budayawan, Penulis Banyuwangi)  


Uji Validasi Pengembangan Bidang Lektur dan Khazanah Keagamaan.

 Uji Validasi Pengembangan Bidang Lektur dan Khazanah Keagamaan.


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Drs. H.Slamet, M.H.I. membuka kegiatan Penyusunan katalog naskah keagamaan di Bali oleh Balai Litbang Agama Semarang, Selasa (21/9/2021) di Hotel  Aston Banyuwangi.

Panitia Pelaksana kegiatan Agus Iswanto menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari penelitian yang telah dilakukan, baik di Bali, Madura maupun di Banyuwangi. 

Dalam uji Validasi tersebut  menghadirkan berbagai peserta, baik dari akademisi, penggiat budaya hingga jurnalis terkemuka. Baik dari Bali, Jember maupun Banyuwangi.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi berterima kasih terhadap Balitbang Semarang yang telah melaksanakan kegiatan di Banyuwangi. "Di Banyuwangi masih banyak naskah kuno yang layak untuk diteili" ungkapnya.

Lebih lanjut H.Slamet menyampaikan bahwa di Banyuwangi pernah berdiri Kerajaan besar bernama Blambangan.

Yang lebih membanggakan bahwa Penggubah Shalawat Badar adalah KH. Ali Mansur yang merupakan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada tahun sekitar tahun enam puluhan.

"Sebuah kebanggaan bagi insan Kementerian Agama  dalam bidang sastra yang perlu dilanjutkan' ungkapnya.

Sebagai Narasumber dalam kegiatan tersebut, Jumari, S.Pd., M.Pd, Ketua STAI Denpasar, Moh. Ali, MA., Min dari Unair, Prof. Dr. I Nengah  Duija dari Manasaa serta Dr. Eko Suwargono, M.Hum dari Unej.

Buku yang telah diterbitkan Litbang Semarang terkait Naskah kuno, dikupas tuntas oleh Narasumber dan dikritisi oleh peserta.

Shalawat Badar Gubahan Kepala kankemenag Kab. Banyuwangi

 

Shalawat Badar Gubahan Kepala kankemenag Kab. Banyuwangi

Oleh : Syafaat

Menggunakan seni dan budaya untuk mempengaruhi masyarakat merupakan hal yang lazim digunakan, dengan mengingat seni dan budaya tersebut mengakar kuat di masyarakat, terlebih sebelum berkembangnya alat tehnologi seperti saat ini, seni budaya dan pertunjukan lebih sering dilakukan ditengah masyarakat. Dengan pertunjukan seni budaya tersebut di masyarakat menjadi daya tarik massa untuk berkumpul, tidak jarang seni dan budaya mengandung beberapa satire, baik lirik maupun gerakan yang dilakukannya. Sindiran dalam seni sering dilakukan dan kadangkala yang disindir tidak merasa, namun dapat menimbulkan dampat yang luar biasa.


Dalam konsep Ilmu Sosiologi dalam perubahan, bahwa tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa dalam sosial bermasyarakat selalu ada perubahan yang disesuaikan dengan pola pikir dan budaya yang berkembang di masyarakat, terlebih pada masyarakat majemuk yang terdiri dari banyak suku dan agama yang hidup pada satu tempat yang sama. Akulturasi budaya akan lebih cepat terjadi pada kondisi masyarakat yang demikian.

Kabupaten Banyuwangi yang berda di ujung timur Pulau Jawa, dihuni oleh banyak etnis dan memeluk berbagai macam agama yang berbeda, kedekatannya dengan masyarakat Bali dengan berbagai perbedaan seni dan budaya melahirkan berbagai seni dan budaya yang khas yang berbeda dengan seni dan budaya yang ada di Pulau Jawa pada umumnya dan juga di Pulau Bali, serta beberapa budaya dari etnis lain yang hidup disini, meskipun seni dan budaya yang sama yang hidup di pulau Jawa maupun Bali dan beberapa seni dari tanah leluhur beberapa etnis ini juga masih dibawa dan berkembang di bekas kerajaan Blambangan ini.

Banyak lagu karya seniman Banyuwangi yang dikenal hingga ke manca negara sejak dulu kala, sebut saja lagu Genjer-genjer karya Muhammad Arif yang digubah sekitar tahun 1942 ketika penjajahan Jepang, lagu ini juga sempat dinyanyikan beberapa penyanyi terkenalo pada zamannya seperti Bing Slamet maupun Lilis Suryani. Lagu dari gubahan lagu anak anak “Tong Alak Gentak”. Lagu Gubahan Panabuh Angklung asal Banyuwangi ini tadinya merupakan kritik sosial kondisi masyarakat pada saat itu yang serba kekurangan pada masa penjajahan Jepang.

Lagu sederhana sarat makna ini pada akhirnya dilarang oleh pemerintah karena, setiap mengumpulkan massa, Partai komunis Indonesia (PKI) yang melakukan pemberontakan kedua pada tahun 1965 menggunakan lagu tersebut untuk menarik masa, meskipun dalam syair lagu genjer-genjer yang ditulis tahun 1965 tidak ada kaitan dengan PKI, maka lagu inipun terkena dampak pelarangan dinyanyikan sejak orde baru. Beruntung hanya lagu genjer-genjer yang dilarang, bisa dibayangkan jika penggunaan Palu dan Arit juga dilarang dengan alasan lambang “palu arit” digunakan oleh PKI.

Dalam pertarungan politik untuk saling mempengaruhi masyarakat, Umat Islam terutama warga Nahdlatul Ulama juga menggunakan seni dan budaya, salah satu seni yang digunakan adalah tari kuntulan yang menggunakan alat musik utama berupa rebana dengan nyanyian bernuansa Islam dan lantunan Shalawat. Karena Partai Komunis menggunakan lagu genjer-genjer, warga Nahdhiyin saat itu belum mempunyai syair yang khas hingga KH Ali Mansur menggubah sebuah syair yang dikenal dengan Shalawat Badar.

Raden Muchamad (RM) Ali Mansur, Kelahiran Jember 23 Maret 1921 yang sejak tahun 1960 menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, terinspirasi dari sebuah kitab yang berjudul mandzumah Ahl al-Badar al-Musamma Jaliyyat al-Kadar fi Fahail Ahl al-Badar karya al-Imam as-Sayyid Ja’far al-Barzanji, sehingga beliau menulis Sebuah karya sastra yang dikenall dengan Shalawat badar.

Kabupaten Banyuwangi yang dulu merupakan wilayah Kerajaan Blambangan dikenal dengan berbagai seni dan budaya yang berkembang dengan baik, akulturasi budaya dari berbagai macam etnis dan agama tersebut melahirkan berbagai macam tradisi dan budaya yang khas yang tidak ditemukan di daerah lain. Hal inilah yang menjadi salah satu pemantik bagi KH Ali Mansur yang memanggemar akan seni dan sastra menuliskan sebuah syair dalam bahasa arab. Dalam pertarungan politik, ketika lawan politik menggunakan media, maka harus dilawan dengan media, begitupun ketika lawan politik menggunakan seni dan budaya untuk mempengaruhi massa, maka dengan lantunan seni dan budayalah seharusnya untuk melawannya.

Shalawat badar merupakan salah satu gubahan sastra terbaik dari Kementerian Agama, karenanya tidak mengherankan jika beberapa Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi juga bergelut didunia sastra. Raden Muchamad (RM) Ali Mansur (nama sebagaimana tercantum dalam data anggota konstutuante) tidak dapat dilepaskan dari peran beliau sebagai salah satu Pegawai Negeri dilingkungan kementerian Agama, Karier beliau pada kementerian Agama, dari mulai jadi Guru Madrasah di Tuban, menjadi Kepala KUA diwilayah Kabupaten Sumba, Kepala Bahagian Politik dan aliran agama pada Kantor Agama Propinsi Nusa Tenggara hingga menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi ketika menggubah Shalawat badar pada tahun 1962.

Perang Badar merupakan perang besar yang terjadi di zaman nabi, dalam perang ini Rasulullah memimpin langsung aksi penyerangan yang hanya melibatkan sekitar 313 orang muslim, 8 pedang, 6 baju perang, 70 ekor unta, dan 2 ekor kuda. Sedangkan kaum Quraisy memiliki 1.000 orang, 600 persenjataan lengkap, 700 unta, dan 300 kuda. Namun, semangat jihad dan ketaatan kepada para pemimpin yang memberikan semangat juang bagi mereka sehingga Allah meridloi bagi kemenangan prajurid badar.

Semangat dalam perang inilah yang digambarkan dari syair Shalawat Badar yang mempu menggugah semangat jihat umat Islam melawan faham komunis yang saat itu ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara komunis dibawah kekuasaan mereka

 

Penulis adalah ASN kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Gali Potensi Siswa, Kemenag Banyuwangi Gelar Pentas PAI

 

Gali Potensi Siswa, Kemenag Banyuwangi Gelar Pentas PAI


Untuk mempersiapkan duta terbaiknya pada even Pentas PAI se Jawa Timur, Kemenag Banyuwangi Mulai Senin, 13-14 Spetember 2021 menyelenggarakan Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam ke 5 Tingkat Kabupaten Banyuwangi. Dalam kesempatan tersebut.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi H.Slamet berharap dengan kegiatan yang dilaksanakan secara berjenjang baik secara online maupun offline dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk terus mengembangkan diri dalam pendidikan agama.

 Kepala Seksi PAIS Kemenag Banyuwangi Dimyati menyampaikan, bahwa acara ini merupakan seleksi tingkat Kabupaten untuk mewakili lomba serupa di tingkat provinsi.

“Kita menyeleksi calon peserta yang sebelumnya sudah diseleksi di tingkat Kecamatan untuk mewakili Kabupaten Banyuwangi di tingkat Provinsi,” ungkapnya

Lebih lanjut Kasi PAIS menyampaikan bahwa untuk Tingkat Provinsi akan dilaksanakan secara virtual. Cabang yang diseleksi hingga hari Selasa adalah MTQ, MHQ, LPP, jenjang SD/SMP Adzan dan Iqomah, menyanyi jenjang TK, LC2P, Kaligrafi serta Karya Tulis Cerita Islam. Dalam Karya Tulis Ceris yang diikuti peserta dari SMA dan SMK tersebut setiap peserta harus membuat Ceris minimal 80 halaman.

Sementara Kepala Kemenag Banyuwangi Slamet dalam arahannya, mengatakan, bahwa Pentas PAI ini penting dilaksanakan sebagai wahana bagi anak didik untuk mewujudkan bakat dan potensi yang dimiliki, terutama dalam bidang seni.

“Ajang ini juga untuk memberi ruang kepada siswa siswi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu dirinya juga mengklarifikasi adanya informasi liar yang dihembuskan oleh orang yang tidak bertanggungjawab, mengenai adanya ajaran radikalisme di kalangan pelajar. “Tidak benar agama mengajarkan radikalisme,” tegasnya.

Dirinya berharap, duta Pentas PAI Kemenag Banyuwangi bisa berbicara di tingkat provinsi, bahkan di tingkat nasional. (syaf/yasin)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger